Anda di halaman 1dari 7

ACARA I

KALORIMETRI

A. TUJUAN
Tujuan Praktikum Fisika Dasar Acara I ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat menentukan nilai kapasitas panas jenis (c) suatu larutan
tertentu dengan menggunakan asas Black.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Bila dalam suatu sistem terdapat gradient suhu, atau bila dua sistem yang
suhunya berbeda disinggungkan, maka akan terjadi perpindahan energi. Proses
dengan mana transport energi itu berlangsung disebut sebagai perpindahan panas.
Apa yang ada di dalam perpindahan, yang disebut panas (heat; juga disebut
dengan istilah bahang/kalor), tidak dapat diukur atau diamati langsung, tetapi
pengaruhnya dapat diamati dan diukur. Aliran panas, seperti halnya pelaksanaan
kerja (work; juga disebut dengan istilah usaha), adalah suatu proses dengan mana
energi-dalam (internal energy; juga dikenal dengan istilah energy-dakhil) suatu
sistem diubah (Kreith, 1986).

Tiga mekanisme perpindahan panas adalah konduksi, konveksi, dan


radiasi.
1. Konduksi
Perpindahan kalor secara perambatan atau konduksi adalah
perpindahan kalor dari suatu bagian benda padat ke bagian lain dari benda
padat yang sama, atau dari benda padat yang satu ke benda padat yang lain
karena terjadi persinggungan fisik atau menempel tanpa terjadinya
perpindahan molekul-molekul dari benda padat itu sendiri.
2. Konveksi
Perpindahan kalor secara aliran atau konveksi adalah perpindahan
kalor yang dilakukan oleh molekul-molekul suatu fluida (cair atau gas).
Molekul- molekul fluida tersebut dalam gerakannya melayang kesana-
kemari membawa sejumlah kalor. Konveksi adalah perpindahan panas
melalui media gas atau cairan seperti udara di dalam es dan air yang
dipanaskan di dalam ceret. Udara bersinggungan dengan pipa-pipa
Evaporator yang dingin di dalam lemari. Udara mengambil panas, udara
akan merenggang dan menjadi ringan, kemudian mengalir lagi ke atas
sampai udara bersinggungan lagi dengan pipa evaporator (Halaudin, 2005).
3. Radiasi
Perpindahan panas oleh gelombang elektromagnetik seperti cahaya
tampak, infra merah, dan radiasi ultra ungu. Setiap orang merasakan
kehangatan radiasi matahari dan panas yang intens dari pembakaran kayu
atau dari batubara yang membara di perapian. Kebanyakan panas dari benda
yang sangat panas tersebut mencapai tubuh tidak dengan konduksi atau
konveksi melalui udara melainkan dengan radiasi. Perpindahan panas ini
akan terjadi bahkan jika tidak ada media (hampa udara) di antara tubuh dan
sumber panas (Hagh D. Young dan Roger A. Feedman, 2002).

Kalor adalah tenaga yang mengalir dari sebuah benda ke sebuah benda
lain karena adanya perbedaan temperature di antara kedua benda tersebut.
Pemikiran bahwa kalor adalah sesuatu di dalam sebuah benda, seperti yang
dianggap oleh teori kalorik, menentang banyak kenyataan eksperimental.
Hanyalah jika kalor tersebut mengalir, karena adanya perbedaan temperature,
bahwa tenaga tersebut dinamakan tenaga kalor (Resnick, 1985).

Nilai kalor merupakan jumlah energi kalor yang dilepaskan bahan bakar
pada waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia yang ada pada bahan bakar
tersebut. Nilai kalor bahan bakar terdiri dari nilai kalor atas atau highest heating
value (HHV) dan nilai kalor bawah atau lowest heating value (Napitupulu, 2006)

KALOR (HEAT) adalah suatu bentuk energi. Satuan kalor yang sering dipakai
ialah joule, kalori, kilokalori, dan Btu (British Thermal Unit).
1 kalori (kal) = 4,184 J (tepat). 1 kalori adalah jumlah energi dalam bentuk
kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 g air sebanyak 1°C.
1 kilo kalori (kkal) = 1000 kal. Satuan ini sering disebut kalori besar (large
calorie). Para ahli gizi, bila menyebut isi energi makanan, yang dimaksud dengan
istilah ‘kalori’ adalah kilokalori.
1 Britis thermal unit (Btu) = 252 kal. 1 Btu adalah jumlah energi dalam
bentuk kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 lb air sebanyak 1°F.
Setiap kali kali satuan Btu didasarkan sesuatu satuan berat, maka nilai percepatan
gravitasi g haruslah nilai bakunya, yakni 32,17 ft/s2. Dengan demikian 1 Btu
setara dengan 778 ft lb.

KAPASITAS KALOR SPESIFIK (c) zat adalah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu satuan massa (atau berat) zat tersebut sebanyak satu derajat.
Kalau kalor sebanyak ∆Q diperlukan untuk menaikkan suhu zat dengan massa m
(atau berat w) sebanyak ∆T, maka kapasitas kalor spesifik zat itu

∆𝑄 ∆𝑄
𝑐= atau 𝑐=
𝑚∆𝑇 𝑤∆𝑇

Dalam kalorimetri, satuan kapasitas kalor spesifik yang lazim dipakai adalah
kal/g°C dan Btu/lb°F. Satuan SI-nya adalah J/kgK atau kJ/kgK.
Mengingat cara satuan kalori dan satuan Btu didefinisikan, harga numeric c
dalam kal/g°C atau Btu/lb°F adalah sama (kalau g diambil 32,17 ft/s2). Kapasitas
kalor spesifik air adlah 1,00 kal/g°C atau 1 Btu/lb°F.
Setiap zat mempunyai nilai kapasitas kalor spesifik tersendiri, yang berubah
dengan pembahasan suhu, walau tidak banyak. Kebanyakan zat memiliki nilai c
yang lebih kecil daripada air (Frederick J. Bueche, Ph.D., 1994)

KAPASITAS KALOR (atau Nilai Air) benda ialah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu seluruh benda sebanyak satu derajat. Mengingat definisinya,
kapasitas kalor benda dengan massa m (atau berat w) dan kapasitas kalor spesifik
c adalah mc.

KALOR YANG DISERAP (HEAT OF GAINED) (atau yang DILEPAS) benda


bermassa m dengan kapasitas kalor spesifik c, yang mengalami perubahan suhu
∆T (tanpa disertai perubahan fase) adalah:

∆𝑄 = 𝑚𝑐∆𝑇

SOAL-SOAL KALORIMETRI adalah soal-soal tentang pembagian kalor antara


benda-benda panas dan dingin. Karena kekekalan energi berlakulah selalu
persamaan berikut ini:
Jumlah perubahan kalor untuk semua benda = 0 (Frederick J. Bueche. Ph. D.,
1999).

Selama abad ke 18, penemuan kalorimetri dilakukan oleh Joseph Black.


Ia memilih penjelasan bahwa kalor sebagai cairan yang dapat diserap maupun
dilepaskan oleh tubuh dan dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain.
Dia menemukan bahwa panas yang diberikan pada es yang meleleh tidak
mengubah suhunya tapi digunakan untuk fase perubahan padat ke cair. Black
memperkenalkan pertama kali konsep kalor laten. Ini membawanya pada
penelitian kalorimetri pertama (Perozzo et al., 2004).
Bila bagian yang berbeda dari sistem terisolasi berada pada suhu berbeda,
kalor akan mengalir dari bagian yang bersuhu lebih tinggi ke yang bersuhu lebih
rendah. Jika sistem benar-benar terisolasi, tidak ada yang mengalir ke dalam atau
ke luar dari benda tersebut. Kekekalan energi memainkan peran penting; kalor
yang dilepas oleh sebagian sistem sama dengan kalor yang dimasukkan oleh
bagian lain:
Kalor yang dilepas = kalor yang masuk

Yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor, dinamakan


kalorimeter. Salah satu penggunaan kalorimeter yang terpenting adalah
penentuan kalor spesifik zat. Dalam teknik dikenal sebagai “metode campuran”
(Douglas C. Giancoli, 1997).
A calorimeter is a device used to measure the quantity of thermal
energy gained or lost during the chemical reactions. A Joule’s calorimeter
apparatus was used as the basis for forming an adiabatic calorimeter
(Ramalingam, 2012).

C. METODE PENELITIAN
1. Alat
a. Kalorimeter
b. Thermometer
c. Timbangan
d. Pemanas air

2. Bahan
a. Air
b. Larutan garam
c. Larutan kopi
3. Cara kerja
a. Pencampuran air dengan larutan yang dicari nilai kapasitas panas jenisnya
(c)
b. Penentuan nilai dari kapasitas panas jenis (c) air, massa air, dan suhu
awalnya
c. Penentuan massa dan suhu larutan
d. Perlakuan proses pencampuran
e. Pencatatan suhu akhir bila telah stabil
f. Pencarian nilai kapasitas panas jenis (c) larutan berdasarkan Asas Black
g. Pengulangan percobaan di atas untuk mendapatkan data yang akurat