Anda di halaman 1dari 1

Ajaran Filosofis Sunan Gunung Jati

Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin; Ajaran Filosofis Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah salah satu dari wali songo. Beliau dikenal
sebagai wali yang punya kepemimpinan dan ketauladan panutan dalam bertindak dan
berperilaku.
Salah satu ajaran filosofis Sunan Gunung Jati yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat
saat ini adalah "Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin".
Pertama, ingsun titip tajug. Intinya, selalu memelihara tajug atau tempat ibadah. Masyarakat
diimbau selalu dekat dengan masjid atau rumah ibadah dan jangan pernah meremehkannya
sedikitpun. Apalagi melupakannya. Karena rumah ibadah bisa menjadi "jalan terang" dalam
menjalani kehidupan.
Kedua, ingsun titip fakir miskin. Intinya, tiap manusia harus tetap peduli dan mau membantu
sesama khususnya fakir miskin. Karena fakir miskin adalah simbol kesinergian hubungan antara
sesama manusia (hablum minannas).
Falsafah hidup Sunan Gunung Jati lainnya yang patut menjadi acuan masyarakat sekarang adalah
landasan hidup yang bertumpa pada “Ma Lima:. Ma Lima adalah falsafah Jawa yang berisi
ajaran tentang lima larangan yang harus dihindari dalam hidup. Lima larangan dalam “Ma Lima”
adalah:
1. Madat yaitu menghisap candu, termasuk melakukan bisnis dan kegiatan usaha narkoba.
2. Madon yaitu melacur atau bermain perempuan, termasuk selingkuh.
3. Mabuk yaitu mabuk minuman keras, termasuk terlalu mabuk akan dunia.
4. Main yaitu berjudi
5. Maling yaitu perbuatan mencuri, termasuk korupsi yang merupakan mencuri uang rakyat.

Lima perilaku di atas adalah perilaku jahat. Apabila lima larangan tersebut dilakukan maka akan
membawa hidup menjadi sial dan mengakibatkan kerugian diri dan masyarakat atau orang lain.
Selain falsafah hidup, Sunan Gunung Jati dikenal sebagai figure yang punya kemampuan
manajerial yang luar biasa. Beliau tidak mengenal lelah untuk melakukan perjalanan dakwah
yang dibarengi dengan kemampuannya mendialogkan universalitas Islam dengan nilai-nilai
budaya lokal. Itulah kunci sukses dari Sunan Gunung Jati.
Hebatnya lagi, jalan politiknya sebagai raja bukan untuk memperkuat kedudukan dengan ambisi-
ambisi pribadi demi meraih kuasa duniawi, tetapi semata-mata sebagai sebuah jalan agar Islam
semakin kuat kedudukannya di bumi Nusantara dengan strategi hikmah, mau'izhah hasanah atau
keteladanan untuk masyarakat umum serta mujdalah atau dialog untuk kalangan intelek yang
dibarengi keikhlasan yang sangat tinggi.
Jika direnungkan, mungkin falsafah kehidupan itulah yang kian lama kian ditinggalkan
banyak orang. Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin; selalu dekat dengan masjid atau rumah
ibadah dan selalu dekat dan peduli dengan fakir miskin.Pun “Ma Lima”; tidak madat, tidak
melacur, tidak mabuk, tidak main judi, dan tidak maling alias mencuri.
Maka kini saatnya, masyarakat di era milenial perlu meresapi kembali falsafah hidup yang
diajarkan dalam filosofi Sunan Gunung Jati. Tentu, untuk kebaikan di dunia maupun
akhirat.
Karena hakikatnya "wong urip iku mung mampir ngombe". Bahwa orang hidup itu hanyalah
istirahat sejenak untuk minum. #SunanGunungJati #FalsafahHidup