Anda di halaman 1dari 25

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN 1

PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN


SPESIALISASI AKUNTANSI

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN


2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, akhirnya kami


berhasil menyelesaikan bahan ajar Akuntansi Keuangan Lanjutan I
Bahan ajar ini ditulis untuk memudahkan mahasiswa mempelajari mata kuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan I yang sesuai dengan standar akuntansi yang mengikuti
IFRS. Penulis juga berharap bahan ajar ini akan membantu para pengajar untuk
memberikan materi yang sama terhadap mahasiswa.
Akhir kata, karena materi ini jauh dari sempurna dan karena waktu penyusunan
bahan ajar yang terbatas, sehingga masih banyak materi yang sebenarnya masih
harus dituangkan, kami sangat berharap adanya masukan dari para pembaca.

Tangerang Selatan, Agustus 2017

DAFTAR ISI
Belum dikerjakan, tergantung kepada hasil editan…..
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan standar akuntansi keuangan ke arah konvergensi dengan standar
pelaporan keuangan internasional, membuat kami kesulitan untuk mencari literatur
yang akan digunakan untuk memberikan materi kuliah akuntansi keuangan lanjutan.
Buku Beams yang biasa dijadikan referensi kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan
menggunakan metode ekuitas untuk pencatatan investasi di anak perusahaan,
sedangkan standar akuntansi yang baru menggunakan metode cost atau metode fair
value. Beberapa buku yang lain, sudah mengadopsi IFRS, akan tetapi
pembahasannya tidak sedetail buku Advance Accounting karya Beams dan juga ada
beberapa hal yang tidak diadopsi oleh PSAK.

B. Tujuan
Bahan ajar ini disusun untuk memudahkan para pengajar mata kuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan 1 dalam memberikan materi, memudahkan mahasiswa
memahami mata kuliah ini karena disajikan dalam bahasa Indonesia dan dalam bentuk
yang simple, langsung ke contohnya, serta mengisi kekosongan literature Akuntansi
Keuangan Lanjutan. Untuk lengkapnya, mahasiswa bisa membaca literatur yang
penulis sertakan di dalam daftar pustaka.

C. Ruang Lingkup
Bahan ajar Akuntansi Keuangan Lanjutan 1 berisi materi tentang kombinasi
bisnis, mulai dari pembelian aset neto perusahaan, metode ekuitas untuk investasi
saham, pembelian saham yang berakibat timbulnya kendali, transaksi antar
perusahaan dalam entitas sepengendali, perubahan kepemilikan, perolehan kendali
perusahaan melalui kepemilikan saham tidak langsung dan kepemilikan saham yang
bersifat mutual.
Untuk mempercepat dan memudahkan penyusunan bahan ajar, sebagian
besar data keuangan diambil dari buku Advance Accounting karya Beams,
disesuaikan dengan aturan standar yang baru. Semua contoh laporan keuangan
menggunakan mata uang US$. Hal ini dilakukan agar transaksi tidak terlalu banyak
digit mata uangnya. Demikian juga nama-nama akun yang digunakan banyak
menggunakan bahasa Inggris agar tidak terlalu panjang nama akunnya dan
berkesinambungan dengan mata kuliah akuntansi sebelumnya.
Beberapa materi tidak disajikan secara utuh/lengkap, karena keterbatasan
penulis memahami literatur yang ada dan juga ada beberapa hal yang memang belum
jelas pengaturannya.
Materi ini disusun dari awal Januari 2017 hingga akhir pertengahan 2017,
mengikuti PSAK yang terbit tidak terlalu jauh dari tanggal penyelesaian bahan ajar.
Kalau ada perubahan setelah itu, maka hal tersebut berada di luar jangkauan
penyusun.
BAB 1

KOMBINASI
BISNIS
Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian, tujuan, dan motivasi kombinasi bisnis
2. Menjelaskan strategi dan bentuk kombinasi bisnis
3. Mengaplikasikan pencatatan dengan metode akuisisi untuk kombinasi
bisnis melalui perolehan aset neto suatu perusahaan
4. Mengaplikasikan penyajian dan pengungkapan kombinasi bisnis

A. Pengertian, Tujuan dan Motivasi Kombinasi Bisnis


1. Pengertian Kombinasi Bisnis
Lampiran A PSAK 22 mendefinisikan kombinasi bisnis sebagai suatu transaksi
atau peristiwa lain dimana pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian atas satu
atau lebih suatu bisnis. Transaksi ini kadangkala disebut sebagai “penggabungan
sesungguhnya (true merger)” atau “penggabungan setara (merger of equals)”.
Lampiran B PP05 menyebutkan, pengendalian dapat diperoleh melalui
beberapa cara, yaitu:
a. dengan mengalihkan kas, setara kas, atau aset lain (termasuk aset neto yang
merupakan suatu bisnis;
b. dengan menimbulkan suatu liabilitas;
c. dengan menerbitkan kepentingan ekuitas;
d. dengan memberikan lebih dari satu jenis imbalan;
e. tanpa mengalihkan imbalan, termasuk yang hanya berdasarkan kontrak;
Lampiran B PP05 menyatakan, suatu kombinasi bisnis mungkin dirancang
dengan berbagai cara untuk alasan hukum, perpajakan, atau alasan lain, yang
termasuk tetapi tidak terbatas pada:
a. satu atau lebih bisnis menjadi entitas anak dari pihak pengakuisisi atau aset neto
dari satu atau lebih bisnis secara hukum digabungkan ke pihak pengakuisisi;
b. satu entitas yang bergabung mengalihkan aset netonya atau pemiliknya
mengalihkan kepentingan ekuitasnya kepada entitas lain yang bergabung atau
pemiliknya
c. seluruh entitas yang bergabung mengalihkan aset netonya, atau pemiliknya
mengalihkan kepentingan ekuitasnya kepada suatu entitas yang baru dibentuk
(kadang disebut sebagai roll-up atau put-together); atau
d. sekelompok pemilik sebelumnya dari salah satu entitas kombinasi memperoleh
pengendalian atas entitas kombinasi tersebut.
Dalam Bab 1 ini, pembahasan akan ditekankan kepada kombinasi bisnis
melalui pengalihan aset neto sebuah perusahaan (merger).

2. Idenfikasi Kombinasi Bisnis


Sebelum melakukan kombinasi bisnis, perusahaan harus memastikan bahwa
yang dilakukan merupakan transaksi kombinasi bisnis. PSAK 22 (Penyesuaian 2014)
menyatakan bahwa bisnis adalah suatu rangkaian terpadu dari kegiatan (input-proses-
output) dan aset yang mampu dikelola dengan tujuan memberikan hasil dalam bentuk
dividen, efisiensi biaya atau manfaat ekonomi lainnya secara langsung kepada pemilik
entitas. Misal dalam transaksi pembelian kapal, jika transaksi dimaksudkan sebagai
kombinasi bisnis maka perusahaan harus memastikan bahwa akuisisi kapal beserta
izin dan infrastruktur lainnya (as a business) bukan pembelian kapal sebagai aset
tetap.

3. Tujuan dan Motivasi Kombinasi Bisnis


Tujuan utama operasi perusahaan adalah menghasilkan laba. Dalam upaya
untuk menghasilkan laba dan kekayaan perusahaan yang lebih besar, perusahaan
berupaya untuk terus berkembang dan tumbuh besar. Martani (2017) mengungkapkan
bahwa perkembangan dan pertumbuhan perusahaan dapat terjadi melalui
pertumbuhan organik dan unorganik. Lebih lanjut Martani (2017) mengungkapkan
pertumbuhan organik adalah pertumbuhan perusahaan secara natural akibat
peningkatan skala usaha dan pendirian usaha baru. Sedangkan pertumbuhan
unorganik adalah pertumbuhan perusahaan akibat akuisisi dan pembelian perusahaan
yang sudah berjalan.
Dalam operasi normal perusahaan, pertumbuhan organik akan membutuhkan
waktu yang lebih panjang dibanding pertumbuhan unorganik. Namun demikian,
pertumbuhan organik mempunyai kelebihan karena tidak membutuhkan modal yang
besar dalam waktu singkat. Sebaliknya, pertumbuhan unorganik untuk mengakuisisi
dan/atau membeli perusahaan yang telah berjalan, sebuah perusahaan membutuhkan
modal yang besar dalam waktu singkat. Pembelian perusahaan yang telah berjalan
akan menambah ukuran perusahaan dengan signifikan. Pertambahan ukuran
perusahaan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan yang dapat
berdampak pada return para investor.
Secara umum sebuah perusahaan memngakuisisi dan/atau membeli
perusahaan yang telah berjalan dengan tujuan agar perusahaan tersebut tumbuh dan
berkembang dalam waktu singkat. Selain tujuan tersebut, perusahaan dapat
melakukan penggabungan usaha dengan motivasi yang lebih spesifik, yaitu:
a) Menghemat biaya
Dengan kombinasi bisnis, berbagai biaya bisa dihemat. Di antaranya biaya gaji
berbagai manajer, biaya penelitian produk baru (produk tersebut sudah ada di
perusahaan yang diakuisisi), dan biaya penelitian dan pengembangan.
b) Mengurangi risiko
Membeli perusahaan yang sudah mempunyai berbagai macam produk, dan juga
pasarnya, akan lebih kecil resikonya dibandingkan dengan mengembangkan dan
memasarkan produk baru.
c) Mengurangi penundaan beroperasinya perusahaan
Membeli perusahaan yang sudah mempunyai berbagai macam fasilitas dan sudah
memenuhi berbagai macam aturan pemerintah, akan lebih cepat dibandingkan
dengan mengembangkan sendiri atau mendirikan perusahaan baru.
d) Menghindari pengambilalihan oleh perusahaan lainnya
Salah satu cara untuk menghindari pengambilalihan oleh perusahaan lain adalah
dengan melakukan kombinasi bisnis.
e) Memperoleh aset tidak berwujud
Salah satu alasan untuk melakukan kombinasi bisnis adalah untuk memperoleh
aset tidak berwujud yang dimiliki oleh perusahaan yang diakuisisi seperti hak paten,
hak penambangan, database pelanggan dan lain-lain.
f) Alasan-alasan lain
Ada perusahaan yang punya kebanggaan tersendiri ketika berhasil mengakuisisi
perusahaan-perusahaan lain.
Akuisisi dan/atau pembelian perusahaan yang telah berjalan bukanlah
persoalan yang mudah. Akuisisi perusahaan membutuhkan proses lebih lanjut berupa
peng-sinergi-an perusahaan agar kombinasi antara perusahaan yang baru bergabung
dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Dalam kombinasi bisnis, seringkali
para investor mengharapkan hasil yang lebih besar. Sebagai contoh jika sebelum
bergabung perusahaan A menghasilkan 6 dan perusahaan B menghasilkan 5 maka
setelah dilakukan penggabungan, investor berharap perusahaan akan menghasilkan
tidak hanya 11 namun lebih dari itu.
Dalam proses kombinasi bisnis, pihak pengakuisisi akan mengakui
perusahaan yang diakuisisinya sebesar biaya perolehannya. Biaya perolehan
didapatkan atas dasar hasil kesepakatan antara pihak pengakuisisi dan pihak yang
diakuisisi. Pihak yang mengakuisisi akan mencatat aset dan liabilitas kombinasi bisnis
berdasarkan nilai wajarnya. Proses kombinasi bisnis seringkali menghasilkan
pengakuan nilai wajar aset bersih yang lebih besar sehingga nilai perusahaan akan
meningkat. Peningkatan nilai perusahaan dapat meningkatkan harga saham
perusahaan di pasar modal.
B. Strategi dan Bentuk Kombinasi Bisnis
1. Strategi Kombinasi Bisnis
Kombinasi Bisnis dilakukan untuk memperoleh efisiensi operasi melalui
integrasi secara horizontal atau vertikal atau mendiversifikasikan risiko usaha melalui
konglomerasi.
a. Integrasi horizontal
Integrasi horizontal merupakan kombinasi bisnis yang dilakukan dengan
mengakuisisi atau menggabungkan perusahaan dalam line-business atau pasar
yang sama. Sebagai contoh perusahaan mie instan yang mengakuisisi perusahaan
produsen kecap, saus, atau makanan kecil yang bahan bakunya menggunakan
bahan baku yang sejenis.
b. Integrasi vertikal
Integrasi vertika; adalah kombinasi bisnis yang dilakukan dengan menggabungkan
dua atau lebih perusahaan dengan operasi yang berbeda secara berturut-turut,
tahapan produksi dan/atau distribusi. Dengan kata lain penggabungan usaha
dilakukan antara perusahaan yang memiliki hubungan antara pemasok, pengolah
dan distributor. Sebagai contoh perusahaan kain mengakuisisi perusahaan benang
sehingga terjadi integrasi hulu. Contoh lain jika perusahaan kain mengakuisisi
perusahaan pakaian jadi maka akan terjadi integrasi hilir.
c. Konglomerasi
Konglomerasi merupakan kombinasi bisnis yang dilakukan dengan
menggabungkan perusahaan-perusahaan yang produk dan/atau jasa yang
dihasilkanya, tidak saling berhubungan. Penggabungan perusahaan-perusahaan
tersebut akan menghasilkan perusahaan konglomerasi, yaitu grup usaha dengan
berbagai produk dan/atau jasa yang dihasilkan dan bergerak dalam industri yang
berbeda. Sebagai contoh perusahaan minyak mengakuisisi perusahaan asuransi,
perusahaan otomotif dan bank.

2. Bentuk Kombinasi Bisnis


Bentuk kombinasi bisnis dapat dilihat dari bagaimana bentuk perusahaan
sebelum dan sesudah melakukan penggabungan usaha. Berdasarkan bentuknya,
kombinasi bisnis dapat dibedakan menjadi:
a. Akuisisi (Stock Acquisition)
Akuisis merupakan kombinasi bisnis yang terjadi ketika perusahaan mengakuisisi
perusahaan lain, namun perusahaan yang diakuisisi tetap berdiri hanya
dikendalikan oleh perusahaan pengakuisisi. Pihak pengakuisisi akan bertindak
sebagai entitas holding dan akan menyusun laporan keuangan konsolidasian
dengan menggabungkan seluruh aset dan kewajiban dari semua perusahaan yang
berada di bawah kendalinya.
b. Merger (Statutory Merger)
Merupakan kombinasi bisnis yang terjadi ketika dua perusahaan atau lebih
bergabung, dimana perusahaan yang diakuisisi dibubarkan serta semua aset dan
liabilitasnya diambil alih oleh pihak yang mengakuisisi. Dalam proses merger,
terdapat perusahaan yang dibubarkan dan perusahaan yang lain tetap berdiri.
Perusahaan yang masih berdiri akan menggabungkan aset dan libilitasnya dengan
aset dan liabilitas perusahaan terakuisisi yang dibubarkan.
c. Konsolidasi (Statutory Consolidation)
Merupakan kombinasi bisnis yang terjadi dua atau lebih perusahaan bergabung
dan masing-masing melebur membentuk satu perusahaan baru. Perusahaan baru
tersebut akan mengambil alih semua aset dan liabilitas dari seluruh perusahaan
bergabung yang telah dibubarkan.

Untuk selanjutnya, perbedaan bentuk kombinasi bisnis merger dan konsolidasi, dapat
dilihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1 Bentuk Kombinasi Bisnis Merger dan Konslidasi

A B A A B C
+ +

Merger Konsolidasi
C. Metode Pencatatan
Dalam proses kombinasi bisnis, terdapat dua metode pencatatan yang digunakan,
yaitu:
1. Metode pooling of interest (penyatuan kepentingan)
Dalam metode ini, masing-masing pihak akan menyatukan kepentingan bisnisnya
sehingga tidak diperlukan penilaian ulang atas aset dan liabilitas perusahaan yang
bergabung. Metode ini menggunakan nilai buku aset dan liabilitas perusahaan
yang bergabung sebagai dasar pencatatannya. Dalam kombinasi bisnis secara
umum, aset dan liabilitasnya dinilai pada nilai wajar sehingga metode pooling of
interest tidak diperkenankan untuk digunakan. Metode ini dapat digunakan untuk
kombinasi bisnis entitas sepengendali sebagaimana diatur dalam PSAK 38.
Dalam kombinasi bisnis entitas sepengendali, tidak terjadi perubahan kepemilikan
dari pihak pengendali sehingga dasar nilai buku menjadi lebih tepat.
2. Metode purchase (pembelian/akuisisi)
Metode purchase menggunakan nilai wajar sebagai dasar pencatatannya. Nilai
wajar yang digunakan adalah nilai wajar pada tanggal akuisisi. Hal ini dilakukan
karena kombinasi bisnis merupakan pembentukan entitas baru sehingga perlu
dilakukan penilaian atas aset dan liabilitas perusahaan yang bergabung.
Pencatatan aset dan liabilitas dalam nilai wajar dapat menimbulkan goodwill bagi
perusahaan setelah dilakukan kombinasi bisnis. Metode purchase merupakan
metode yang saat ini berlaku untuk kombinasi bisnis sebagaimana diatur dalam
PSAK 22.

Dalam kombinasi bisnis, PSAK 22 (Penyesuaian 2014) mempersyaratkan


pencatatan transaksi dengan menggunakan metode pembelian atau metode akuisisi.
Penerapan metode akuisisi ini mensyaratkan:
a. Pengidentifikasian pihak pengakuisisi (entitas yang memperoleh pengendalian atas
pihak yang diakuisisi).
b. Penentuan tanggal akuisisi (tanggal pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian
atas pihak yang diakuisisi); pengakuan dan pengukuran aset teridentifikasi yang
diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan nonpengendali pihak yang
diakuisisi (dalam kombinasi bisnis dengan pembelian saham di atas 50%).
c. Pengakuan dan pengukuran asset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang
diambil alih, dan kepentingan nonpengendali pihak yang diakuisisi. Pihak yang
mengakuisisi mencatat asset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang
diambil alih dengan nilai wajar pada tanggal akuisisi.
d. Pengakuan dan pengukuran goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan
diskon.

1. Pengidentifikasian pihak pengakuisisi (entitas yang memperoleh


pengendalian atas pihak yang diakuisisi)
Dalam transaksi kombinasi bisnis harus diidentifkasi pihak yang melakukan
akuisisi. Untuk kombinasi bisnis yang dilakukan dengan cara membeli aset neto (total
aset dikurangi dengan total hutang) perusahaan, pihak pengakuisisi adalah pihak yang
memberikan imbalan berupa kas atau aset lain, atau memberikan imbalan dalam
bentuk efek hutang atau efek ekuitas.
Secara umum pihak pengakuisisi adalah pihak yang membeli atau
mengakuisisi entitas lain. Namun jika pihak pengakuisisi sulit untuk diidentifikasikan,
terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan
pihak pengakuisisi, di antaranya:
a. Pihak pengakuisisi biasanya dari sisi ukuran lebih besar
b. Pihak pengakuisisi yang mengalihkan asset, saham, atau sumber daya untuk
memperoleh kepemilikan bisnis tersebut.

2. Penentuan tanggal akuisisi


Tanggal akuisisi merupakan tanggal pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian
atas pihak yang diakuisisi. Tanggal akuisisi yang digunakan adalah tanggal penutupan
kontrak, yaitu tanggal penandatanganan kontrak di notaris.

3. Pengakuan dan Pengukuran Aset dan Liabilitas


Aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih diukur dengan
menggunakan nilai wajar. Jika akuisisi tidak dilakukan sepenuhnya (kurang dari
100%), maka bagian yang tidak diakuisisi disebut kepentingan non-pengendali (non
controlling interest). Pihak pengakuisisi akan mengakui secara terpisah asset
teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, goodwill (dalam hal akuisisi
menimbulkan goodwill) dan kepentingan non-pengendali dari pihak yang diakuisisi.
Penerapan prinsip dan ketentuan pengakuan oleh pihak pengakuisisi, dapat
menyebabkan pengakuan atas suatu aset dan liabilitas yang sebelumnya tidak diakui
oleh pihak yang diakuisisi dalam laporan keuangannya. Contohnya: merk, paten,
hubungan pelanggan mungkin tidak tercatat dalam laporan keuangan suatu
perusahaan. Akan tetapi ketika perusahaan tersebut diakuisisi, maka aset tersebut
akan dilaporkan dalam laporan keuangan.
Pengukuran aset teridentifikasi dan liabilitas yang diambilalih menggunakan
nilai wajar yang mengacu pada SAK yang mengatur masing-masing aset dan liabilitas
tersebut. Sedangkan pengukuran kepentingan nonpengendali didasarkan pada nilai
wajar atau berdasarkan proporsi aset neto teridentifikasi.

4. Biaya Transaksi
Dalam proses kombinasi bisnis, akan timbul biaya-biaya yang tidak sedikit.
Biaya-biaya yang umum terjadi dalam proses kombinasi bisnis antara lain: biaya
makelar (finder’s fee), advis, hukum, akuntansi, penilaian, dan biaya professional atau
konsultasi lainnya, biaya administrasi umum dan biaya pendaftaran serta penerbitan
efek utang dan efek ekuitas. Biaya-biaya yang terjadi saat akuisisi tersebut diakui
sebagai beban pada periode saat biaya tersebut terjadi atau jasa diterima, kecuali
biaya untuk menerbitkan efek utang dan ekuitas. Jika pihak pengakuisisi menerbitkan
efek sebagai imbalan yang dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis, sesuai dengan
PSAK 55, biaya pendaftaran serta penerbitan efek hutang akan menambah diskon
atas utang atau mengurangi premium (didebetkan ke discount atau premium efek
hutang), sedangkan biaya pendaftaran serta penerbitan efek ekuitas akan mengurangi
(didebetkan) ke agio saham (Share premium).
Jadi dapat disimpulkan, biaya-biaya yang terkait dengan investasi digolongkan
menjadi tiga:
a. Biaya-biaya langsung berupa harga yang dibayarkan kepada pihak yang dibeli
(diakuisisi), diakui sebagai harga perolehan investasi.
b. Biaya langsung lainnya seperti biaya akuntansi, hukum, konsultan, dan biaya-
biaya penemuan.
Perlakuan akuntansinya  dimasukkan dalam beban berjalan pada saat
terjadinya
c. Biaya-biaya langsung seperti biaya pendaftaran dan penerbitan surat-surat
berharga ekuitas dan surat berharga hutang
Perlakuan akuntansinya  mengurangi tambahan modal disetor (additional
paid in capital) dan menambah diskon atau mengurangi premium surat
berharga hutang.

5. Penentuan imbalan yang diberikan


Imbalan dalam kombinasi bisnis dapat berupa kas, asset non kas lainnya, efek
utang dan efek ekuitas yang diterbitkan oleh pihak pengakuisisi. Imbalan yang
diberikan kepada perusahaan yang diakuisisi dihitung sebagai penjumlahan dari nilai
wajar aset yang ditransfer, hutang yang timbul dan efek ekuitas yang diterbitkan oleh
pengakusisi. Imbalan juga termasuk “contingent consideration” sepanjang imbalan
tersebut besar kemungkinan akan terjadi dan jumlahnya dapat diukur.

6. Pengakuan dan pengukuran goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan


diskon
Dalam suatu kombinasi bisnis, ada kalanya imbalan yang diberikan lebih besar
daripada nilai wajar aset neto (aset dikurangi liabilitas) yang diperoleh. Selisih tersebut
diberikan karena pengakuisisi menilai bahwa perusahaan yang diakuisisi mempunyai
berbagai kelebihan (aset) yang tidak bisa diidentifikasi. Aset demikian disebut
goodwill.
Goodwill merupakan asset tak berwujud yang dapat muncul pada saat akuisisi.
Goodwill mencerminkan manfaat ekonomi yang timbul dari asset yang diperoleh
dalam kombinasi bisnis yang tidak dapat diidentifikasikan secara individu sehingga
harus diakui secara terpisah. Goodwill muncul ketika pada saat transaksi, nilai asset
pihak yang diakuisisi telah menunjukkan nilai wajar pada tanggal akuisisi, namun
demikian masih terdapat kelebihan harga beli/nilai wajar imbalan) atas aset bersih
yang dibeli yang tidak dapat diidentifikasikan ke asset yang ada sehingga harus
diidentifikasi ke asset yang baru yaitu goodwill.
Dalam hal imbalan yang diberikan lebih kecil daripada nilai wajar aset neto (aset
dikurangi liabilitas) yang diperoleh, maka akan terdapat goodwill negatif. Goodwill
negatif akan dicatat oleh pengakuisisi sebagai keuntungan pada tahun berjalan.
Perhitungan goodwill didapatkan dari:

Goodwill = Biaya akuisisi (nilai wajar imbalan) – jumlah aset neto


teridentifikasi yang diambil alih
Dalam hal terdapat investasi sebelumnya dan akuisisi kurang dari 100%, maka
goodwill pihak pengakuisisi dapat dihitung sebagai berikut:

Goodwill = (imbalan yang dialihkan +kepentingan ekuitas yang sebelumnya dimiliki


oleh pihak pengakuisisi + kepentingan non pengendali pada pihak yang diakuisisi) –
asset teridentifikasi yang diperoleh dan liablitas yang diambil alih

Goodwill diakui dalam laporan posisi keuangan pihak pengakuisisi. Goodwill


diuji atas penurunan nilai setiap akhir periode pelaporan, terlepas ada atau tidaknya
indikasi penurunan nilai. Dalam hal terjadi penurunan nilai, maka nilai goodwill harus
disesuaikan.

D. Ilustrasi Kombinasi Bisnis dengan pembelian aset neto perusahaan


PT Panorama membeli aset neto dari PT Senja pada tanggal 27 Desember
2016. Dalam kombinasi bisnis tersebut, PT Senja kemudian dibubarkan. Aset
teridentifikasi dan liabilitas PT Senja yang diambil alih pada tanggal tersebut
menunjukkan data sebagai berikut (dalam ribuan):
Nilai Tercatat Nilai wajar
Assets :
Cash Rp 50.000 Rp 50.000
Net Receivables Rp 150.000 Rp 140.000
Inventory Rp 200.000 Rp 250.000
Land Rp 50.000 Rp 100.000
Building-net Rp 300.000 Rp 500.000
Equipment-net Rp 250.000 Rp 350.000
Patent - Rp 50.000
Total assets Rp 1.000.000 Rp 1.440.000
Liabilities :
Account Payable Rp 60.000 Rp 60.000
Notes Payable Rp 150.000 Rp 135.000
Other liabilities Rp 40.000 Rp 45.000
Total liabilities Rp 250.000 Rp 240.000
Net assets Rp 750.000 Rp 1.200.000
1. Pembelian asset neto perusahaan dengan goodwill

PT Panorama memperoleh 100% kepemilikan PT Senja dengan membayar


tunai uang sebesar Rp400.000.000,- dan menerbitkan saham sebanyak 50.000
lembar dengan nilai par Rp10.000,- dengan nilai pasar saham adalah sebesar
Rp20.000,-. Dalam transaksi kombinasi bisnis tersebut, PT Panorama membayar
berbagai biaya untuk akuisisi sebesar Rp9.000.000 dan biaya penerbitan saham
sebesar Rp5.000.000.

Atas akuisisi tersebut, nilai goodwill yang timbul dapat dihitung sebagai berikut:
a. Nilai investasi yang dikeluarkan oleh PT Panorama adalah:
 Pembayaran tunai = Rp 400.000.000,-
 Penerbitan saham = 50.000 x Rp20.000,- Rp1,000.000,000,-
Jumlah Rp1,400,000.000,-
b. Asset neto teridentifikasi yang diperoleh Rp1.200.000.000,-
c. Goodwill Rp 200.000.000,-

Asset neto yang teridentifikasi diperoleh dari nilai wajar asset yang diperoleh dikurangi
dengan liabilitas. Atas transaksi akuisisi tersebut PT Panorama mengakui adanya
goodwill sebesar Rp200.000.000,-. Biaya-biaya lain yang dikeluarkan PT Panorama,
tidak dimasukkan ke dalam nilai investasi, tetapi:
 biaya akuisisi diakui sebagai beban pada periode berjalan
 biaya penerbitan saham dalam rangka akusisi didebit ke Agio Saham

Jurnal yang dibuat PT Panorama atas transaksi akuisisi pada PT Senja tersebut
adalah:
Investment in Senja Rp1.400.000.000
Cash Rp400.000.000
Share Capital Rp500.000.000
Additional Paid-In Capital Rp500.000.000

(Untuk mencatat penerbitan 50.000 lembar saham dan pembayaran Rp400.000.000


tunai untuk kombinasi bisnis dengan PT Senja)
Investment Expense Rp9.000.000
Share premium 5.000.000
Cash Rp 14.000.000

(Untuk mencatat biaya penerbitan 50.000 lembar saham dan biaya-biaya lainnya
dalam rangka kombinasi bisnis dengan PT Senja)

Cash Rp 50.000.000
Net Receivables 140.000.000
Inventories 250.000.000
Land 100.000.000
Buildings 500.000.000
Equipment 350.000.000
Patents 50.000.000
Goodwill 200.000.000
Accounts payable Rp 60.000.000
Notes payable 135.000.000
Other liabilities 45.000.000
Investment in S 1.400.000.000
(Untuk mengalokasikan nilai investasi terhadap aset teridentifikasi dan utang yang
diambil alih dengan menggunakan nilai wajar)

2. Pembelian asset neto dengan diskon atau goodwill negatif


Berdasarkan contoh pada 1.1. di atas, PT Panorama menerbitkan 40.000
lembar saham dengan nilai par Rp10.000,- dan nilai pasar saham adalah Rp20.000,-
dan menyerahkan 10% notes payable senilai Rp200.000.000 untuk memperoleh aset
neto PT Senja. Dalam transaksi tersebut PT Panorama mengeluarkan biaya akuisisi
sebesar Rp9.000.000,- dan biaya penerbitan saham Rp5.000.000,-
Atas akuisisi tersebut, nilai goodwill yang timbul dapat dihitung sebagai berikut:
a. Nilai investasi yang dikeluarkan oleh PT Panorama adalah:
 Penyerahan efek hutang = Rp 200.000.000
 Penerbitan saham = 40.000 x Rp20.000 Rp 800.000,000
Jumlah Rp1.000.000.000
b. Asset neto teridentifikasi yang diperoleh (Rp1.200.000.000)
c. Goodwill negatif (Rp 200.000.000)
Dalam transaksi ini, nilai aset neto teridentifikasi PT Senja yang diperoleh PT
Panorama lebih besar apabila dibandingkan dengan nilai investasi yang dikeluarkan
oleh PT Panorama. Atas transaksi akuisisi tersebut PT Panorama mengakui adanya
goodwill negative sebesar Rp200.000.000 yang akan dicatat sebagai pendapatan
(gain on bargain purchase).

Jurnal yang dibuat PT Panorama atas akuisisi PT Senja tersebut dicatat sebagai
berikut:

Investment in PT Senja Rp1.000.000.000


Notes Payable Rp200.000.000
Common Stock 400.000.000
Share premium 400.000.000

(Untuk mencatat penerbitan 40.000 lembar saham dan penyerahan notes payable
$200,000 untuk kombinasi bisnis dengan PT Senja)

Investment Expense Rp9.000.000


Share premium 5.000.000
Cash Rp14.000.000

(Untuk mencatat biaya penerbitan 50.000 lembar saham dan biaya-biaya lainnya
dalam rangka kombinasi bisnis dengan PT Senja)

Cash Rp 50.000.000
Net Receivables 140.000.000
Inventories 250.000.000
Land 100.000.000
Buildings 500.000.000
Equipment 350.000.000
Patents 50.000.000
Accounts payable Rp 60.000.000
Notes payable 135.000.000
Other liabilities 45.000.000
Investment in PT Senja 1.000.000.000
Gain on Bargain Purchase 200.000.000
(Untuk mengalokasikan nilai investasi terhadap aset teridentifikasi dan utang yang
diambil alih dengan menggunakan nilai wajar.)

3. Merger imbalan berupa kas


PT Pandawa mengakuisisi seluruh aset neto dari PT Sanjaya melalui sebuah merger
pada tanggal 29 Desember 2016. Aset teridentifikasi dan liabilitas PT Sanjaya yang
diambil alih pada tanggal tersebut menunjukkan data sebagai berikut (dalam ribuan):

Nilai Tercatat Nilai wajar


Assets :
Cash Rp 48.000 Rp 48.000
Net Receivables Rp 84.000 Rp 84.000
Inventory Rp 72.000 Rp 120.000
Land Rp 96.000 Rp 144.000
Building and Equipment Rp 744.000 Rp 360.000
Accumulated Depreciation Rp (480.000)
Total assets Rp 564.000 Rp 756.000
Liabilities :
Account Payable Rp 132.000 Rp 132.000
Notes Payable Rp 288.000 Rp 288.000
Common Stock Rp 43.200
Additional Paid In Capital Rp 24.000
Retained Earnings Rp 76.800
Total Liabilities and Equities Rp 564.000

PT Pandawa memperoleh 100% kepemilikan PT Sanjaya dengan membayar


tunai uang sebesar Rp422.400.000. Dalam transaksi kombinasi bisnis tersebut, PT
Pandawa membayar biaya legal untuk akuisisi sebesar Rp20.000.000.
Atas akuisisi tersebut, nilai goodwill yang timbul dapat dihitung sebagai berikut:
Nilai investasi yang dikeluarkan oleh PT Panorama adalah:
Pembayaran tunai Rp422.400.000
Asset neto teridentifikasi yang diperoleh Rp336.000.000
Goodwill Rp 86.400.000

Asset neto yang teridentifikasi diperoleh dari nilai wajar asset yang diperoleh dikurangi
dengan liabilitas. Atas transaksi akuisisi tersebut PT Pandawa mengakui adanya
goodwill sebesar Rp86.400.000,-. Biaya-biaya lain yang dikeluarkan PT Pandawa,
tidak dimasukkan ke dalam nilai investasi, tetapi diakui sebagai beban pada periode
berjalan.

Jurnal yang dibuat PT Pandawa atas transaksi akuisisi pada PT Sanjaya tersebut
adalah:

Investment Expense Rp20.000.000


Cash Rp20.000.000

(Untuk mencatat biaya legal dalam rangka kombinasi bisnis dengan PT


Sanjaya)
Cash Rp 48.000.000
Net Receivables 84.000.000
Inventories 120.000.000
Land 144.000.000
Buildings and Equipment 360.000.000
Goodwill 84.400.000
Accounts payable Rp132.000.000
Notes payable 288.000.000
Cash 422.400.000

(Untuk mencatat akuisisi asset bersih dengan menggunakan nilai wajar)

Atas akuisisi ini, PT Sanjaya sebagai entitas yang dibubarkan akan


menghapusbukukan seluruh asset dan liabilitas yang dimiliki dan menghentikan
operasinya.

E. Penyajian dan Pengungkapan


1. Penyajian
Dalam transaksi kombinasi bisnis, seluruh aset teridentifikasi yang diperoleh
dan liabilitas yang diambil alih dari pihak yang diakuisisi langsung diakui secara
individual oleh pihak pengakuisisi pada tanggal akuisisi. Pengakuan aset neto tersebut
dilakukan pada nilai wajarnya. Dengan demikian aset dan liabilitas pihak yang
diakuisisi termasuk goodwill yang timbul akan digabungkan dengan aset dan liabilitas
pihak pengakuisisi dan disajikan dalam laporan keuangan pihak pengakuisisi.
2. Pengungkapan
PSAK 22 (Penyesuaian 2014) mengatur bahwa pihak pengakuisisi
mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan agar
dapat mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari kombinasi bisnis yang terjadi,
baik selama periode pelaporan berjalan ataupun setelah akhir periode pelaporan tetapi
sebelum tanggal penyelesaian pelaporan.

F. RINGKASAN
1. Kombinasi bisnis adalah suatu transaksi atau peristiwa lain dimana pihak
pengakuisisi memperoleh pengendalian atas satu atau lebih suatu bisnis. Kombinasi
bisnis bisa dilakukan dengan membeli aset neto suatu perusahaan, mengambil alih
hutang, membeli sebagian aset neto perusahaan lain dan bersama-sama membentuk
satu atau lebih bisnis lainnya, atau membeli saham perusahaan di atas 50%.

2. Kombinasi bisnis dilakukan untuk memperoleh efisiensi operasi melalui integrasi


secara horizontal atau vertikal atau mendiversifikasikan risiko usaha melalui
konglomerasi. Bentuknya dapat berupa akuisisi, merger, dan konsolidasi.

3. Metode pencatatan untuk kombinasi bisnis adalah metode pembelian atau metode
akuisisi. Metode ini mensyaratkan pengidentifikasian pihak pengakuisisi, penentuan
tanggal akuisisi, pengakuan dan pengukuran aset teridentifikasi yang diperoleh,
liabilitas yang diambil alih, kepentingan nonpengendali pihak yang diakuisisi, serta
pengakuan dan pengukuran goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan diskon.

4. Perhitungan goodwill didapatkan dari biaya akuisisi – jumlah aset neto teridentifikasi
yang diambil alih. Bila hasil pengurangan tersebut negatif, berarti terdapat Goodwill
negatif dan akan dicatat oleh pengakuisisi sebagai keuntungan pada tahun berjalan.

5. Semua biaya yang terkait dengan akuisisi, kecuali biaya pendaftaran dan penerbitan
efek hutang dan efek ekuitas, dibebankan pada periode berjalan. Biaya pendaftaran
serta penerbitan efek hutang akan menambah diskon atas utang atau mengurangi
premium (didebetkan ke discount atau premium efek hutang), sedangkan biaya
pendaftaran serta penerbitan efek ekuitas akan mengurangi (didebetkan) ke agio
saham (Share premium).

G. LATIHAN
1. Neraca P dan S pada tanggal 31 Desember 2015 tampak sebagai berikut :
P S
Current Asset 130,000 60,000
Land 50,000 100,000
Buildings-net 300,000 100,000
Equipment-net 220,000 240,000
Total assets $700,000 $500,000
Current liabilities 50,000 60,000
Share capital, $10 500,000 200,000
Share premium 50,000 140,000
Retained Earnings 100,000 100,000
Total liabilities + equities $700,000 $500,000

Pada tanggal 2 Januari 2016, P menerbitkan 30,000 lembar sahamnya dengan


nilai wajar $20/lembar untuk membeli asset neto S. S kemudian dibubarkan. Nilai
tercatat aset neto S sama dengan nilai wajarnya kecuali current asset yang memiliki
nilai wajar $100,000. P membayar biaya pendaftaran dan penerbitan saham $15,000
serta biaya kombinasi bisnis lainnya $25,000.

Diminta :
a. Buatlah jurnal yang diperlukan P untuk mencatat transaksi kombinasi bisnisnya
b. Buatlah neraca P sesaat setelah kombinasi bisnis dengan S!

2. Pada tanggal 2 Januari 2016, P membeli aset neto S dengan menerbitkan 100,000
lembar sahamnya dengan nilai wajar $20/lembar dan menyerahkan $500,000 tunai. P
membayar biaya pendaftaran dan penerbitan saham $50,000 serta biaya kombinasi
bisnis lainnya $100,000.
Sesaat sebelum kombinasi bisnis dilakukan, neraca kedua perusahaan tampak
sebagai berikut (dalam ribuan):
P at BV S at BV S at FV
Cash 3,000 240 240
Accounts Receivable-net 1,300 360 360
Notes Receivable-net 1,500 300 300
Inventory 2,500 420 500
Other current assets 700 180 200
Land 2,000 100 200
Building-net 9,000 600 1,200
Equipment-net 10,000 800 600
Total Assets $30,000 $3,000 $3,600
Accounts Payable 1,000 300 300
Mortgage payable, 10% 5,000 700 700
Share capital, $10 par 10,000 1,000
Share premium 8,000 600
Retained Earnings 6,000 400
Total liabilities + equities $30,000 $3,000

Diminta :
a. Buatlah jurnal yang diperlukan P untuk mencatat transaksi kombinasi bisnisnya
b. Buatlah neraca P sesaat setelah kombinasi bisnis dengan S!

3. Pada tanggal 2 Januari 2016, P membeli aset neto S dengan menerbitkan 50,000
lembar sahamnya dengan nilai wajar $20/lembar, menerbitkan obligasi 8% dengan
nilai nominal $1,000,000, dan menyerahkan $500,000 tunai. Pada saat itu tingkat
bunga yang berlaku di pasar 10%, obligasi Jatuh tempo dalam 10 tahun. P membayar
biaya pendaftaran dan penerbitan saham dan penerbitan obligasi masing-masing
$25,000 serta biaya kombinasi bisnis lainnya $100,000.
Sesaat sebelum kombinasi bisnis dilakukan, neraca kedua perusahaan tampak
sebagai berikut (dalam ribuan):
P at BV S at BV S at FV
Cash 3,000 240 240
Accounts Receivable-net 1,300 360 360
Notes Receivable-net 1,500 300 300
Inventory 2,500 420 500
Other current assets 700 180 200
Land 2,000 100 200
Building-net 9,000 600 1,200
Equipment-net 10,000 800 600
Total Assets $30,000 $3,000 $3,600
Accounts Payable 1,000 300 300
Mortgage payable, 10% 5,000 700 700
Share capital, $10 par 10,000 1,000
Share premium 8,000 600
Retained Earnings 6,000 400
Total liabilities + equities $30,000 $3,000

Diminta :
a. Buatlah jurnal yang diperlukan P untuk mencatat transaksi kombinasi bisnisnya
b. Buatlah neraca P sesaat setelah kombinasi bisnis dengan S!