Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Kelainan refraksi mata atau refraksi anomali adalah keadaan dimana bayangan tegas
tidak dibentuk pada retina tetapi di bagian depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak
pada satu titik yang tajam. Kelainan refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia, dan
astigmatisma. Kelainan refraksi lain yang diakibatkan oleh faktor degeneratif adalah presbiop
(Ilyas, 2012).
Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit
mata. Kasus kelainan refraksi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Jumlah pasien yang
menderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% dari populasi atau sekitar 55 juta jiwa
(Handayani et al, 2011).
World Health Organization (WHO), 2009 menyatakan terdapat 45 juta orang yang
mengalami buta di seluruh dunia, dan 135 juta dengan low vision. Setiap tahun tidak kurang
dari 7 juta orang mengalami kebutaan, setiap 5 menit sekali ada satu penduduk bumi menjadi
buta dan setiap 12 menit sekali terdapat satu anak mengalami kebutaan. Sekitar 90 % penderita
kebutaan dan gangguan penglihatan ini hidup di negara-negara miskin dan terbelakang.
Prevalensi kebutaan tersebut disebabkan salah satunya adalah kelainan refraksi yang tidak
terkoreksi, di dunia pada tahun 2007 diperkirakan bahwa sekitar 2,3 juta orang di dunia
mengalami kelainan refraksi (Ali dkk, 2007).
Presbiopia merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan fleksibilitasnya
sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk
gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan
makin meningkatnya umur.
Astigmatisma adalah suatu keadaan kelainan refraksi dimana sinar yang sejajar tidak
dibiaskan dengan kekuatan yang sama pada seluruh bidang pembiasan sehingga fokus pada
retina tidak pada satu titik. Ada dua jenis astigmatisma, yaitu astigmatisma regular dan
astigmatisma irregular. Berdasarkan letak fokusnya terhadap retina, astigmatisma regular dapat
di klasifikasikan sebagai berikut : (1) Simple astigmatism, (2) Compound astigmatism, (3)
Mixed astigmatism. Astigmatisma hipermetrop simplek merupakan suatu bentuk astigmatisme
reguler dimana titik fokus dari daya bias terkuat berada tepat pada retina, sedangkan titik fokus
dari daya bias terlemah berada di belakang retina. (Ilyas, 2012).