Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

INTEGRITAS ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

Disusun Oleh Kelompok 6 :

Shinta Prima Dewi 21117110

Sici Safitri 21117111

Siti Jamilah 21117112

DOSEN PEMBIMBING : Dr. ANTONI, M.Hum

STIKes MUHAMMADIYAH PALEMBANG

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Azza Wa Jalla, atas luasnya limpahan

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.

Shalawat dan salam tidak luput kami kirimkan atas qudwah kita Rasulullah Muhammad

Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabatnya serta ummatnya yang senantiasa iltizam diatas

kebenaran hingga akhir zaman.

Penulisan makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah “AIK” pada

Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Muhammadiyah Gorontalo. Selain

itu, makalah ini tidak hanya sekedar wacana, namun dapat menjadi wahana dalam menjaga

dan mengamalkan ajaran agama Islam.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini penuh

keterbatasan dan masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, saran yang konstruktif

merupakan bagian yang tak terpisahkan dan senantiasa penulis harapkan demi

penyempurnaan makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit kesulitan yang penulis temui, namun

berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat terselesaikan dengan

baik. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amin Ya Rabbil

Alamin.

Billahi Fiisabilil Haq Fastabiqul Khaerat.

Wasssalamu ‘alaikum wr. wb


Palembang, 25 september 2019

Penyusun
DAFTAR ISI //

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

A. Hakikat Ayat-Ayat Allah


1. Pengertian ayat qauliyah dan kauniyah
2. Fungsi Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah
B. Kesatuan Antara Ayat Qauliyah Dan Kauniyah
C. Interkoneksitas Dalam Memahami Ayat Qauliyah Dan Kauniyah
1. Hati sebagai pusat tubuh
2. Sperma
3. Bulan sebagai cahaya dan matahari sebagai pelita
4. Hukum gravitasi
5. Perhitungan waktu akherat sehari sama dengan 1000 tahun
atau sehari sama dengan 50.000 tahun
6. Al-Qur‟an menyebutkan bahwa alam semesta ini bermula
dan berasal dari asap/gas
7. Bentuk alam semesta

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari


ajaran agama Islam, sebab kata islam itu sendiri, dari kata dasar aslama yang artinya
“tunduk patuh”, mempunyai makna “tunduk patuh kepada kehendak atau ketentuan
Allah”.

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan


pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji
dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari
sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai
pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

B. Rumusan Masalah
a. Untuk mengetahui hakikat-hakikat ayat Allah?
b. Untuk mengetahui kesatuan antara Ayat Qauliyah dan Kauniyah?
c. Untuk mengetahui interkoneksitas dalam memahami ayat Qauliyah dan
Kauniyah?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai syarat penilaian mata
kuliah Agama dan untuk mengetahui seberapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam
Islam, serta diharapkan dapat memberi manfaat dan dapat dipahami oleh pembaca.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Ayat-Ayat Allah


Allah dalam menampakan keberadaan-Nya berbeda dengan makhluk-Nya.
Allah tidaklah menampakan wujud dzat-Nya pada kita saat di dunia ini. Namun,
meskipun wujud dzat-Nya tidak Ia tampakan, kita sebagai hamba-Nya harus meyakini
tentang kebenaran adanya, karena Allah memang benar-benar ada. Lalu bagaimana
kita dapat meyakini kebenaran ada-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya? Dan bagiamana
cara kita mengenal-Nya?
1. Pengertian ayat qauliyah dan kauniyah
Allah telah memberikan bukti-bukti keberadaan-Nya kepada kita melalui ayat-
ayat yang Allah ciptakan. Ayat-ayat yang Allah ciptakan itu ada yang melalui
perantara malaikat jibril (ayat qauliyah) dan ada yang tanpa melalui malaikat
jibril (ayat kauniyah).
a. Ayat Qauliyah
Ayat qauliyah merupakan ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-
kitab-Nya.1 Ayat qualiyah ini diturunkan melalui perantara malaikat
jibril. Ayat-ayat qauliyah ini mencangkup berbagi aspek termasuk cara
mengenal Allah, cara beribadah kepada-Nya, cara bersosialisi, cara
bagaimana seharusnya bertindak terhadap alam dan berbagai aspek
lainnya.
b. Ayat Kauniyah
Ayat kauniyah merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah yang berupa
segala bentuk ciptaan-Nya yang ada di alam semesta dan segala isinya.
Mulai dari yang berukuran paling kecil sampai yang paling besar
bahkan diri kita sendiri merupakan ayat kauniyah. Segala peristiwa,
fenoma, kejadian, dan segala yang terjadi di alam semesta ini
merupakan ayat-ayat kauniyah.
2. Fungsi Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah
Gelar jagad raya yang demikian hebat serta serba teratur ini pasti ada
penciptanya, penalaran otak yang primitif pun dengan mudah dapat
membenarkannya. Tetapi bahwa sang pencipta tersebut berwujud berhala atau
dewa atau tuhan yang direkayasa berbentuk manusia misalnya, maka
persoalannya tidak lagi sesederhana pemikiran otak primitif tadi. Sebab ada
juga otak orang-orang modern yang percaya akan tahayul tentang berhala atau
dewa yang beranak pinak. Persoalan tidak lagi sesederhana yang kita
bayangkan justru karena dalam sistem keimanan islam adanya kepercayaan
berhala tersebut akan memasuki wilayah paling berbahaya dan dosa tak
terampunkan, yakni dosa musyrik (mempersekutukan Allah).
Sebagai kitab agama yang berdimensi seluruh aspek kehidupan dunia
dan akhirat maka ayat-ayat Al-Qur‟an lebih mengedepankan dimensi rohani
yang bermuara kepada pengakuan kebesaran Allah. Artinya bahwa masalah-
masalah keduniaan (termasuk gelar jagad raya) tidak akan memiliki arti sama
sekali apabila tidak mampu menyentuh rasa keagamaan kita yang benar dan
hakiki, dalam arti apabila pemahaman keduniaan itu justru menjauhkan kita
dari Allah dan agama islam karena kemusyrikan, pemujaan akal dan ilmu
pengetahuan/teknologi atau kesombongan.
Sehingga seharusnya karunia akal dan kebebasaan yang hakekatnya tak
terlepas dari bimbingan dan rahmad Allah serta sangat terbatas dibandingkan
dengan gelar semesta ini tidak menyebabkan manusia lupa diri. Itulah
karakteristik tampilan ayat-ayat Al-Qur‟an, yakni bahwa penyampaian
berbagai tampilan duniawi adalah bertujuan untuk memperoleh hikmah atau
rahasia-rahasia tersirat dari Al-Qur‟an besar (ayat kauniyah) yakni alam
semesta, dibalik yang tersurat dalam ayat-ayat Al-Qur‟an kecil (ayat qauliyah)
yang selama ini sudah kita kenal. Oleh karena itu sistematika Al-Qur‟an
dengan 114 surat dan 6.236 ayat yang ada di dalamnya juga dapat bercampur
dan berisi masalah kehidupan umat manusia secara acak berdasarkan urgensi
ajaran akhlak, hukum dan tauhid sehingga penyampaian masalah-masalah
dunia lebih merupakan tamsil untuk mencapai ajaran akhlak, hukum dan
pengakuan terhadap kebesaran Allah yang dimaksud.
Tetapi sebaliknya umat manusia wajib bersyukur diberi kesempatan
oleh Allah untuk mencicipi hidup di dunia. Sebab berbeda dengan kehidupan
akhirat maka dengan hidup di dunia yang dibekali pula oleh Allah dengan akal
dan kebebasan azazi maka umat manusia dapat mengaktualisasikan dirinya
dalam kehidupannya di dunia. Pesan-pesan dan tamsil yang disampaikan oleh
Allah dalam Al-Qur‟an misalnya dapat diserap dan dikembangkan oleh umat
manusia kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi sedangkan di
sisi lain dapat pula diserap hal-hal yang lebih filosofis bahkan lebih hakiki.
Dari pesan-pesan Al-Qur‟an dimaksud misalnya dapat ditransenderkan oleh
manusia dari hal-hal yang bersifat duniawi (syari‟ah) menjadi hal-hal yang
lebih bersifat hakekat dan bahkan makrifat dalam mencari pendekatan kepada
Allah.
Tetapi apabila kita mampu menangkap secara harfiah dan ilmiah atas
pesan dan tamsil Al-Qur‟an barangkali sudah sangat memadai dalam
peningkatan kualitas hidup sekaligus lebih memantapkan pengenalan terhadap
Allah.
Dalam banyak ayatnya, kitab suci Al-Qur‟an mengajak orang arif,
orang yang berfikir, dan orang yang waspada/ingat untuk merenungkan secara
mendalam, dunia ini dan keajaiban-keajaiban dan bahkan untuk merenungkan
peristiwa-peristiwa alamiah wajar dan sebab-sebabnya agar dapat mengetahui
pengetahuan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Yang Maha Arif dan
Pencipta Yang Maha Pengasih. Ayat-ayat ini sebagian besar dimaksudkan
untuk menyadarkan manusia dan menarik perhatian manusia pada isu-isu yang
muncul setelah eksistensi penciptaan seperti tak bersekutu, pengetahuan dan
kekuasaan tak terbatas, kearifan ,kemurahan hati, dan sifat-sifat lain,
khususnya kekuasaan untuk membangkitkan kembali manusia dari
kematiaannya, kemudian memberi manusia kehidupan abadi dan selama
kehidupan inilah manusia akan mendapat pahala atau hukuman selaras dengan
kehidupan yang dijalaninnya di bumi.
Namun, dalam semua ayat Al-Qur‟an ini, untuk dapat menyadari
realitas-realitas metafisika, manusia diminta untuk memperhatikan dengan
seksama segala sesuatu di dunia dan untuk membuat kesimpulan tentang
tanda-tanda ini melalui penerapan presepsi-presespsi batiniah intuitif dan
penilaian sehingga dengan demikian manusia memperoleh pengetahuan yang
bermanfaat dan andal tentang dunia di luar panca indra.
Jika seluruh alam semesta dan setiap bagiannya, dari atom sampai
galaksi dan dari mineral sampai manusia, merupakan tanda-tanda jelas yang
menunjukkan, kearifan, kekuasaan, berkehendak, keesaan, pengasih, dan sifat-
sifat lain pencipta alam semesta, apakah tidak berarti bahwa alam semesta ini
juga merupakan suatu bukti yang jelas dan tidak terbantahkan tentang
eksistensi pencipta itu sendiri?
Jika jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah “Ya”, harus kita
simpulkan bahwa meskipun Al-Qur‟an tidak mengemukakan argumen-
argumen terus terang untuk membuktikan eksistensi Allah karena atmosfer
intelektual masyarakat pada zaman itu, tetapi Al-Qur‟an menggunakan suatu
metode yang dapat pula bermanfaat untuk meneliti eksistensi Tuhan dan untuk
mendapatkan pengetahuan yang jelas dan pasti tentang isu fundamental
eksistensi-Nya. Yang menjadi sandaran argumen-argumen Al-Qur‟an ini
adalah bahwa setiap ciptaan yang kita jumpai di dunia ini membutuhkan, pada
akhirnya , satu pencipta yang mandiri yang memiliki kearifan dan kemampuan
untuk menciptakan sedemikian banyak makhluk yang berbeda. Kebutuhan dan
kebergantungan fitri segenap makhluk ini dengan jelas menunjukan sangat
perlunya eksistensi wujud Maha Mandiri, dan kefanaan segenap makhluk ini
menunjukan sangat perlunya eksistensi suatu realitas yang mandiri dan tidak
berubah, realitas yang menjadi dasar bagi mereka, Barangkali, ayat 15 sampai
17 surat Fathir berkaitan dengan kebutuhan kompleks manusia akan Allah dan
kesimpualan yang harus dibuat darinya:

“Hai manusia,kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah yang Maha
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki niscahya
Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan
kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah”
B. Kesatuan antara Ayat Qauliyah dan Kauniyah
Antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah mempunyai kaitan yang erat sekali
karena memang satu sama lain adalah satu kesatuan. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa ayat-ayat kauniyah berupa ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan
Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Secara umum cara
memahami ayat qauliyah adalah dengan cara didengar dan dibaca, sedangkan ayat
kauniyah dengan cara dilihat. Ayat kauniyah sebagai pembuktian kebenaran dari ayat
qauliyah, sedangkan ayat qauliyah merupakan isyarat bagi manusia agar meneliti ayat
kauniyah. Ayat kauniyah dan ayat qauliyah memiliki hubungan yang sangat erat
karena kedua-duanya berasal dari Allah, dijamin kemutlakannya dan kedua-duanya
tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainya.7 Kalau kita memperhatikan
ayat qauliyah yakni Al-Qur‟an, kita akan mendapati banyak perintah dan anjuran
untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah
tersebut adalah firman Allah dalam Q.S. Adz-Dzariyat [51] ayat : 20-21

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan
(juga) pada dirimu sendiri, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain
adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada
di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing.

Jadi, kewajiban kita terhadap ayat kauniyah adalah tafakkur, yakni memperhatikan,
merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Allah SWT. Berfirman dalam Q.S.
Al-„Alaq [30] ayat : 1-5
“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari „alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu


sifat orang-orang yang berakal (ulul albab yaitu orang yang menggunakan pikiran,
akal, dan nalar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakan hati
untuk menggunakan dan mengarahkan ilmu pengetahuan tersebut pada tujuan
peningkatan akidah, ketekunan beribadah dan ketinggian akhlak yang mulia8). Seperti
dalam Q.S. Ali „Imran [3] : 190 – 191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia;
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
C. Interkoneksitas dalam Memahami Ayat Qauliyah dan Kauniyah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ayat qauliyah secara singkat
dapat diartikan sebagai ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan ayat-ayat
Kauniyah merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) yang terdapat di alam yang dapat
menunjukkan kebenaran keberadaan-Nya. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami
bahwa ayat qauliyah dan kauniyah tersebut memiliki suatu interkoneksitas
(keterkaitan), yaitu ayat-ayat kauniyah mampu membuktikan kebenaran dari ayat-ayat
qauliyah.
Pembuktian kebenaran ayat-ayat qauliyah oleh ayat-ayat kauniyah antara lain dapat dapat
dicontohkan sebagai berikut :
1. Hati sebagai pusat tubuh
Nabi Muhammad Saw bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh
manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh
manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”(HR.
Bukhari-Muslim)
Hati dalam hadis ini memiliki dua buah makna, yaitu :
a. Hati dalam pengertian sebenarnya
Hati atau jantung apabila telah terserang penyakit, maka hati
atau jantung tersebut akan rusak dan akhirnya akan merusak seluruh
tubuh yang lain. Hal ini dibuktikan dalam bidang medis oleh Ibnu An-
Nafis dengan menemukan sirkulasi darah kecil pada abad ke-7 H (abad
ke-13 M).
Pada penemuannya, Ibnu An-Nafis menunjukkan bahwa
jantung berfungsi untuk memompa darah yang merupakan salah satu
mekanisme sirkulasi darah. Darah berfungsi untuk membawa zat-zat
makanan dan O2 ke seluruh sel hidup di dalam tubuh. Maka jika
jantung rusak akan mengganggu kinerja dari sel tubuh yang
membutuhkan zat-zat makanan dan O2 dari darah yang dipompa oleh
jantung.
c. Hati dalam pengertian tidak sebenarnya (maknawi)
Hati secara maknawi bukanlah merupakan sebuah organ vital
yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Akan tetapi, lebih
sebagai sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, nalar, pemikiran,
pemahaman, keyakinan, pilar-pilar akhlak, dan rambu-rambu
perilaku.10 Apabila pusat emosi, nalar, pemikiran, pemahaman,
keyakinan, dan pilar-pilar moral serta rambu-rambu etika baik, maka
akan baik pula hakikat diri manusia sebagai makhluk yang mengetahui
dan memahami. Sebaliknya, jika ia bobrok, maka semuanya menjadi
bobrok.
2. Sperma
Nabi Muhammad Saw bersabda : “(Manusia diciptakan) dari segala
yang diciptakan dari sperma laki-laki dan ovum perempuan.(HR. Imam
Ahmad)

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Mu‟minun [23] : 12-14

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati


(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang
Paling Baik.”
Sebelum adanya ilmu pengetahuan yang meneliti tentang embriologi,
dari ayat di atas sudah dijelaskan bahwa asal mula manusia berasal dari sari
pati tanah, dan sari pati tanah inilah dijadikan air mani yang merupakan
awal/syarat terbentuknya manusia. Berdasarkan fakta ilmiah Sejarah sperma
ditemukan pertama kali oleh peneliti asal Belanda bernama Anthonie van
Leeuwenhoek pada tahun 1677.

Leeuwenhoek berhasil menggambarkan struktur sel sperma mirip


aslinya. Struktur sel sperma terdiri dari kepala, leher, dan ekor. Pada kepala,
layaknya tentara hendak berperang, sel sperma dibekali helm akrosom, lapisan
pelindung luar yang akan membantu sperma saat menembus membran sel
telur. Kebutuhan energi dipasok dari mitokondria, di bagian badan ekor yang
berfungsi sebagai depot bahan bakar selama perjalanan. Bagian penting
lainnya adalah ekor, yang memungkinkan sperma melakukan manuver saat
berenang menuju sel telur. Dari awal sperma sudah dibekali sebagai „pejuang‟
sempurna. Tidak ada akrosom, maka mustahil sperma bisa menembus
membran sel telur. Ada mitokondria tetapi tidak ada ekor, mustahil sperma
bisa sampai ke sel telur, begitu juga sebaliknya.

Dan diantara jutaan sperma yang keluar bersamaan, hanya terdapat


kurang dari 500 sperma yang merupakan intisarinya, kemudian dari 500 itu
hanya ada 1 yang mampu menembus ovum lalu terjadilah pembuahan dan
terbentuklah calon manusia. Maha Suci Allah, pencipta alam beserta detilnya
dengan segala kehendak dan kuasa-Nya.

3. Bulan sebagai cahaya dan matahari sebagai pelita


Ketika orang masih menganggap masing-masing matahari dan bulan
sebagai sumber cahaya maka Al-Qur‟an telah memberikan teka-teki bahwa
matahari bersinar dan bulan bercahaya12, seperti yang terdapat dalam QS.
Yunus [10] : 5
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,
supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak
menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Serta dalam QS. Nuh [71]: 16

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan


matahari sebagai pelita?”

Secara empiris, matahari selalu tampak bundar dan kehadirannya


menyebabkan siang yang terang benderang. Berbeda dengan bulan yang tak
selalu bundar, tetapi berevolusi dari melengkung dan condong yang makin
tebal, separuh lingkaran, separuh lingkaran lebih sampai ketika bundar penuh
yang dikenal sebagai „bulan purnama‟.

Dan sekitar tahun 500-428 SM Anaksagoras, seorang peneliti asal


yunani mengemukakan bahwa “bulan tidak bersinar karena cahayanya sendiri,
melainkan memantulkan cahaya matahari”.14Penelitian Anaksagoras inilah
yang membuat sebuah terobosan atau pelopor dalam bidang astronomi, yang
hingga saat ini benar-benar terbukti bahwa matahari memiliki energi dan
mampu memancarkan cahayanya sendiri sedangkan bulan tidak dapat
memancarkan cahayanya sendiri melainkan hanya memantulkan cahaya yang
berasal dari matahari.

4. Hukum gravitasi
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2] : 74
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras
lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-
sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu
keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur
jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari
apa yang kamu kerjakan.”

Bukankah dari ayat tersebut yang menerangkan bahwa batu yang


meluncur jatuh menyiratkan adanya gaya gravitasi?

Jauh setelah turun-nya ayat tersebut Tentang gravitasi pernah


dituliskan oleh Sir Isaac Newton dalam bukunya yang dipublikasikan pada
tahun 1687, yaitu Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. Karya ini
menjelaskan tentang hukum gravitasi dan tiga asas (hukum) pergerakan, yang
mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam selama tiga abad ke
depan dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern.

Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel


yang mempunyai massa di alam semesta. Gravitasi matahari mengakibatkan
benda-benda langit berada pada orbit masing-masing dalam mengitari
matahari. Sebagai contoh, bumi yang memiliki massa yang sangat besar
menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda di
sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-benda yang ada di bumi.
Gravitasi adalah kekuatan yang membuat suatu benda selalu bergerak jatuh ke
bawah Meluncur jatuhnya batu itu juga merupakan akibat dari gaya gravitasi.

5. Perhitungan waktu akherat sehari sama dengan 1000 tahun atau sehari sama
dengan 50.000 tahun .
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma'aarij[70] : 4
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari
yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa waktu yang


ditempuh malaikat-malaikat untuk menghadap Allah hanya dengan jarak
waktu satu hari atau sekitar lima puluh ribu tahun waktu kita di bumi. Dari
penjelasan ini tersirat sebuah pertanyaan, seberapa cepatkah malaikat untuk
menghadap kepada Allah?

Dan jauh setelah turunnya ayat tersebut, pada tahun 1905 Albert
Einstein mencetuskan tentang teori relativitas dalam tulisannya yang berjudul
On The Electrodynamics of Moving Bodies di Annalen der Physik 17 dan
menunjukkan bahwa :

a. massa itu ekivalen energi dan dapat digambarkan dengan rumus E =


mc2, serta menunjukkan tentang
b. Adanya kecepatan cahaya (c), dan kecepatan cahaya itu besarnya tetap
(c = konstan).

Dari penemuan Albert Einstein ini bukankah sudah membuktikan tentang ayat-
ayat di atas, bahwa dengan kecepatan cahaya yang perbandingan jarak waktu
satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun waktu kita di bumilah, malaikat-
malaikat menghadap Allah SWT. Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya.

6. Al-Qur‟an menyebutkan bahwa alam semesta ini bermula dan berasal dari
asap/gas (QS. Fussilat [41] : 11)
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan
asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu
keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya
menjawab: "Kami datang dengan suka hati".”

Selanjutnya menggumpal bagaikan gulungan kertas (QS. Al-Anbiya [21] : 104)

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran


kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami
akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya
Kamilah yang akan melaksanakannya.”

Selanjutnya dipisahkan bumi dengan benda angkasa lainnya (QS. Al-Anbiya[21] :


30)

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Tentu dengan peristiwa ledakan panas yang tiada tara, mengingat masa
material yang demikian besar. Bukankah hal ini merupakan cara Allah untuk
menyampaikan teori tentang Big Bang (Ledakan Besar)16, yang menyatakan
bahwa pada awalnya alam semesta merupakan satu titik yang mengalami
pengembangan hingga pada akhirnya titik tersebut mengalami dentuman
dahsyat sehingga terpisah dan membentuk alam semesta ini.
7. Bentuk alam semesta
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur‟an Surat Qaaf [50] : 20

“Dan kami tiup di dalam terompet. Itulah hari yang dijanjikan.”

Dari semua kitab tafsir, tiupan sangkakala (terompet) pada kedua ayat di atas
selalu diartikan sebagai peristiwa di hari kiamat.17Jika kita cermati ayat Al-
Qur‟an di atas, bahwa tiupan tersebut terjadi “di dalam” terompet

.Mengapa di dalam terompet? Apakah mungkin ayat-ayat Al-


Qur‟an ini mempunyai arti bahwa bentuk alam semesta ini berbentuk
sangkakala/terompet.

Bentuk terompet alam semesta ini dibuktikan secara ilmiah oleh Frank
Steiner, seorang ilmuan University of Ulm Germany. Dia mengamati pola
titik-titik panas dan dingin radiasi microwave kosmik, yang bisa
menggambarkan bentuk alam semesta 380.000 tahun setelah Big Bang. Projek
Wilkinson Microwave Anisotropy Probe dari NASA membuat peta titik-titik
tadi secara mendetail pada 2003. Hasilnya ialah pola itu cenderung memudar,
yakni tidak ada titik panas dan dingin yang tampak melebihi jarak rentang 60º.
Ini menyimpulkan bahwa ketika mengembang, alam semesta terulur panjang.
Sempit di awal dan kemudian semakin lebar seperti corong. Mirip seperti
bentuk terompet pada abad pertengahan.
Jadi, itulah makna firman Allah ( ) yang artinya “kami tiup di dalam terompet”,
yakni kelak di tiupkan getaran dahsyat yang mematikan “di dalam” alam
semeta yang berbentuk terompet tadi.

Interkoneksitas dalam memahami ayat-ayat ini, yaitu sebagai


pembuktian bahwa pernyataan tentang ilmu pengetahuan dalam Al-Qur‟an
dan hadits sudah ada sebelum terkuaknya ilmu pengetahuan itu sendiri oleh
manusia, hal itu menunjukan bahwa keterangan dalam Al-Qur‟an dan hadits
adalah benar, dan menunjukan pula bahwa pasti ada zat yang maha hebat yang
mampu menciptakan suatu karya yang begitu menakjubkan itu yaitu Tuhan
semesta alam, Allah SWT, karena tidak mungkin seorang manusia bahkan
kumpulan manusia yang cendikia yang sangat banyak jumlahnya sekali pun
mampu menciptakannya. serta Al-Qur‟an dan hadits itu merupakan petunjuk
bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan karena di dalamnya
telah disediakan signal-signal ilmu pengetahuan dan di dalamnya juga terdapat
perintah untuk menggali ilmu pengetahuan dan juga pastilah Al-Qur‟an dan
hadits itu adalah pedoman hidup di dunia.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Allah telah memberikan bukti-bukti keberadaan-Nya kepada kita melalui ayat-
ayat yang Allah ciptakan. Ayat-ayat yang Allah ciptakan itu ada yang melalui
perantara malaikat jibril (ayat qauliyah) dan ada yang tanpa melalui perantara
malaikat jibril (ayat kauniyah). Ayat qauliyah merupakan ayat yang terdapat pada Al-
Qur‟an dan Ayat kauniyah merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah yang berupa
segala bentuk ciptaan-Nya yang ada di alam semesta dan segala isinya. Ayat-ayat
tersebut antara lain bertujuan untuk membuktikan kebenaran keberadaan Allah,
kebesaran-Nya, tak bersekutu, serta pengetahuan dan kekuasaan-Nya yang tak
terbatas.
Selain terdapat banyak ayat qauliyah yang mengajak manusia untuk
merenungkan secara mendalam tentang ayat kauniyah untuk dapat mengetahui
pengetahuan Allah., Sebenarnya ayat qauliyah dan ayat kauniyah juga memiliki sudut
interkoneksitas lainnya yaitu ayat kauniyah mampu membuktian secara ilmiah
maupun secara nyata langsung hal-hal alamiah yang terdapat pada ayat qauliyah,
sehingga dengan pembuktian tersebut maka, akan lebih meyakinkan kembali tentang
kebenaran dan betapa menakjubkannya ayat-ayat qauliyah dan selanjutnya akan lebih
memperkokoh rasa keimanan kita kepada Allah SWT.

B. Saran
Allah telah memberikan signal-signal pengetahuan alamiah dalam ayat-ayat
qauliyah-Nya. Dan diantara signal-signal tesebut ada yang sudah dapat diketahui oleh
manusia dan ada yang belum dapat diketahui oleh manusia, dan semestinya kita dapat
mempelajari tentang pengetahuan tersebut dan bahkan mungkin dapat menguak
signal-signal yang belum diketahui oleh manusia itu. Karena terdapat banyak ayat
dalam Al-Qur‟an maupun hadits yang memerintahkan kita untuk menggali
pengetahuan Allah tersebut.
Setelah mengetahui betapa menakjubkannya alam semesta beserta isinya
semestinya hal tersebut dapat mengantarkan kita kepada rasa keiman yang lebih tinggi
kepada sang penciptanya, Allah SWT., dan jangan sampai justru pemahaman tersebut
membuat kita hanya terlena kepada hal-hal yang menakjubkan tesebut dan melupakan
siapa yang sebenarnya dapat menciptakan hal menakjubkan tersebut hingga
mengantarkan kepada kemusyrikan karena pemujaan akal dan pengetahuan. Karena
alam semesta ini sebenarnya merupakan suatu tanda kebenaran adanya Allah,
kebesaran-Nya, pengetahuan dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, tiada sekutu bagi-
Nya yang mampu memenyaingi-Nya dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Adityas, Nicholas. 2012. Sejak Awal Kita Telah Ditentukan Sebagai Pemenang,
(http://nicholasadityas.blogspot.com/2012/07/sejak-awal-kita-telah-ditentukan.html,
diakses 10 Oktober 2014)

An-Najjar, Zaghlul. 2006. Pembuktian Sains Dalam Sunah, Buku 1. Amzah : Jakarta

Beheshsti, Muhammad Husaini. 2003. Metafisika Al-Quran, Menangkap Intisari Tauhid.


Arasy Mizan : Bandung

Irawan, Muhammad Bagus. 2014. Bulan Dalam Al Qur‟an, (http://green.


kompasiana.com/iklim/2012/05/28/bulan-dalam-al-quran-460420. html, diakses 04
Oktober 2014)

Nata, Abuddin, 2002. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy). PT.
Raja Grafindo Persada : Jakarta

Pranggono, Bambang. 2006. Mukjizat Sains Dalam Al-Qur‟an Menggali Inspirasi Ilmiah.
Ide Islami : Bandung

Ranusemito, Machmud. 2000. Memahami Peta Kandungan Al Qur‟an, Cetakan Pertama.


Hikmah Mahligai Pilihan : Tangerang

Rezalatica, 2010. Materi Agama Iman Kepada Qada Dan Qadar, (http://bujang-
anakbaik.blogspot.com/2010/10/materi-agama-iman-kepada-qada-dan-qadar.html
diakses pada 4 Desember 2014)

Wikipedia, 2014. Issac Newton, (http://id.wikipedia.org/wiki/Isaac_Newton, diakses pada


28 November 2014)

Wospakrik, Hans J. 2005. Dari Atomos Hingga Quark, Cetakan Pertama. Universitas
Atma Jaya : Jakarta

Yantigobel, 2011. Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah, (https://yantigobel.


wordpress.com/tag/ayat-qauliyah/.html, diakses pada 28 septemer 2014)