Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO, kematian maternal berjumlah 25% disebabkan oleh
perdarahan pasca persalinan dan 16-17% disebabkan oleh retensio plasenta
(Harmia, 2010). Data WHO 2008 juga menjelaskan dua pertiga kematian
ibu akibat perdarahan tersebut adalah dari jenis retensio plasenta, dilaporkan
bahwa 15-20% kematian ibu karena retensio plasenta. Menurut laporan-
laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang antara 5%
sampai 15%. Dari angka tersebut di peroleh gambaran retensio plasenta
menduduki peringkat ketiga (16-17%) setelah urutan pertama atonia uteri
(50-60%) dan yang kedua sisa plasenta 23-24%.
Berdasarkan Survey Penduduk antar Sensus (SUPAS) tahun 2015 AKI di
Indonesia yaitu sebanyak 305 per 100.000 kelahiran hidup. AKI menurut
Profil Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2015 untuk wilayah Jawa Barat
sejumlah 823 kematian, selain itu dinyatakan juga bahwa penyumbang
terbesar terbesar kematian ibu di Jawa Barat adalah Kota Bogor dimana
terjadi 63 kasus pada tahun 2015. Penyebab kematian ibu di Indonesia
terbesar terjadi karena hipertensi dan pre eklamsi berat (PEB) (27,1%),
infeksi (7,3%), partus lama (1,8%), abortus 0,0%), perdarahan (30,3%) dan
penyebab lainnya (40,8%). Perdarahan dapat terjadi pada saat kehamilan
muda, kehamilan lanjut, persalinan maupun pasca persalinan. Perdarahan
pada sat persalinan dapat terjadi karena koagulopati (kegagalan pembekuan
darah) dan rupture uteri. Pada pasca persalinan dapat terjadi karena atonia
uteri, robekan serviks, vagina, dan perineum, sisa plasenta, perdarahan
pasca persalinan tertunda (sekunder), dan juga dapat terjadi karena retensio
plasenta.
Angka Kematian Ibu di Jawa Barat masih tergolong tinggi dibandingkan
dengan Provinsi lainnya di Indonesia. Dari data Dinas Kesehatan Jawa Barat
tahun 2012 menunjukkan AKI di Jawa Barat sebesar 109 per 100.000

1
kelahiran hidup (Dinkes Jawa Barat, 2012). Berdasarkan catatan Dinas
Kesehatan Kabupaten Bogor jumlah AKI di Kabupaten Bogor mencapai 71
jiwa selama tahun 2014. Penyebab langsung kematian ibu 90% terjadi saat
persalinan dan segera setelah persalinan. Penyebab langsung kematian ibu
adalah 40% akibat perdarahan (Dinkes Kab. Bogor, 2014).
Yang paling dikenal sebagai 3 klasik kematian ibu disamping infeksi dan
preeklamsia adalah perdarahan. Perdarahan pasca persalinan adalah
perdarahan yang berasal dari tempat implantasi plasenta (sisa plasenta),
atonia uteri dan robekan pada jalan lahir. Sifat perdarahan ini bisa banyak,
bergumpal-gumpal dan bisa sampai menyebabkan syok karena darah terus
merembes sedikit demi sedikit tanpa henti.
Berdasarkan penyebabnya, perdarahan disebabkan oleh Retensio
Plasenta dengan frekuensi (16-17%) dan penyebab yang lainnya yaitu
Atonia Uteri dengan frekuensi (50-60%), laserasi jalan lahir dengan
frekuensi (23-24%), pembekuan darah dengan frekuensi (0,5-0,8%)
(Prawirohardjo, 2014).
Menurut data yang kami peroleh dari Puskesmas Tegal Gundil, pada
tahun 2015-2018 tercatat 26 kasus retensio plasenta dari 528 ibu bersalin
yang tercatat. Pada tahun 2015 terdapat 3 kasus dari 67 ibu bersalin, 2016 4
kasus dari 106 ibu bersalin, 2017 13 kasus dari 159 ibu bersalin, dan 2018
terdapat 16 kasus dari 196 ibu bersalin yang tercatat. Berdasarkan data
tersebut kami simpulkan bahwa kasus Retensio Plasenta di RSUD Ciawi
Kabupaten Bogor angka kejadiannya meningkat dari tahun 2015-2018.
Dengan kejadian yang terus meningkat, maka kami tertarik untuk
mengangkat kasus tentang retensio plasenta.

2
B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan komperhensif pada Ny.E 35 tahun dengan Retensio
Plasenta di RSUD Ciawi ?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi persyaratan penyelesaian tugas akhir di RSUD Ciawi
tahun 2019.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui definisi dan klasifikasi dari Retensio Plasenta.
b. Untuk mengetahui etiologi dan patofisiologi dari Retensio Plasenta.
c. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari Retensio Plasenta.
d. Untuk mengetahui penanganan dan penatalaksanaan dari Retensio
Plasenta.

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa: Untuk menambah wawasan dan pengalaman penulis
dalam melakukan presentasi kasus tentang Retensio Plasenta.
2. Bagi Lahan Praktek: Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu
kebijakan dan pelaksanaan program di RSUD Ciawi dalam menyusun
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Retensio Plasenta.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. FISIOLOGI PERSALINAN
1. Pengertian persalinan
Persalinan normal merupakan suatu proses pengeluaran bayi
dengan usia kehamilan yang cukup, letak memanjang atau sejajar
sumbu badan ibu, presentasi belakang kepala, keseimbangan diameter
kepala bayi dan panggul ibu, serta dengan tenaga ibu sendiri. Hampir
semua persalinan normal, hanya sebagian saja (12-15%) merupakan
persalinan patologis (Saifuddin, 2010).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup umur kehamilannya dan dapat hidup diluar
kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau
dengan kekuatan ibu sendiri (Sulistyawati, 2012).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam,
tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawirohardjo,
2014).

2. Teori persalinan
Peningkatan kadar prostaglandin, oksitoksin, dan progesteron
diduga berperan dalam permulaan awalan persalinan. Kadarnya
meningkat secara progresif dan mencapai puncak saat kelahiran kepala
dan setelah kelahiran plasenta.
Sebab terjadinya proses persalinan belum diketahui secara pasti,
sehingga timbul beberapa teori yang berkaitan dengan mulainya
terjadinya his, yaitu :

4
a. Penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sedangkan
estrogen meninggikan keregangan otot-otot rahim. Selama
kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan
estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar
progesterone menurun sehingga menimbulkan his.
b. Teori oksitosin
Pada akhir kehamilan, kadar oksitosin bertambah. Oleh karena itu,
timbul kontraksi otot-otot rahim.
c. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang di hasilkan oleh desidua diduga menjadi salah
satu sebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukan
bahwa prostaglandin E atau F yang diberikan secara intravena dan
ekstraamnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur
kehamilan. Hal ini juga di dukung dengan kadar prostaglandin yang
tinggi, baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu hamil
sebelum melahirkan atau selama persalinan (Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran, 2014).

3. Tanda Terjadinya persalinan


a. Terjadinya his persalinan
Karakter dari his persalinan :
1) Punggung terasa sakit menjalar ke perut
2) Sifat his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar
3) Terjadi perubahan pada serviks
4) Jika pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan
maka kekuatannya bertambah.
b. Pengeluaran lendir bercampur darah
Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada serviks yang
menimbulkan pendataran dan pembukaan serviks sehingga

5
menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis servikalis
terlepas yang akan menyebabkan terjadinya perdarahan karena
kapiler pembuluh darah pecah.
c. Pengeluaran cairan ketuban (Sulistyawati, 2012).

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan


Beberapa faktor yang berperan didalam sebuah proses persalinan
meliputi:
a. Power (Kekuatan)
Kekuatan atau tenaga yang mendorong janin keluar. Kekuatan
tersebut meliputi kontraksi dan tenaga meneran.
b. Passanger (Penumpang)
Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta. Hal-hal
yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran kepala janin,
persentasi, letak, sikap dan posisi janin, sedangkan yang perlu
diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan luasnya.
c. Passage (Jalan lahir)
Jalan lahir terbagi menjadi 2: jalan lahir keras dan jalan lahir lunak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari jalan keras adalah ukuran dan
bentuk tulang panggul sedangkan pada jalan lahir lunak adalah
segmen bawah uterus yang dapat meregang serviks, otot dasar
panggul, vagina dan inroitus vagina (Sulistyawati, 2012).

5. Tahap Persalinan
a. Kala I (Kala pembukaan)
Kala pembukaan berlangsung antara pembukaan 0-10 cm dalam
proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu :
1) Fase laten
a) Berawal sejak adanya kontraksi yang menyebabkan penipisan
dan pembukaan secara bertahap.
b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.

6
c) Pada umumnya, fase laten berlangsung antara 6 hingga 8 jam.
2) Fase aktif
a) Frekuensi dan lama uterus akan meningkat secara bertahap dan
kontraksi dianggap adekuat atau memadai jika terjadi lebih
dari tiga kali dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama
40 detik atau lebih.
b) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan 10 cm
(lengkap), akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per
jam (primigravida) atau 2 cm untuk multipara.
b. Kala II (Kala Pengeluaran Bayi)
Kala II ini dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi.
Kala II biasanya akan berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1
jam pada multigravida. Pada tahap ini kontraksi akan semakin kuat
dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50-100 detik. Tanda pasti
kala II ditentukan melalui pemeriksaan dalam yaitu pembukaan
serviks telah lengkap dan terlihatnya bagian kepala bayi melalui
introitus vagina. Tanda dan gejala kala II adalah :
1) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
2) Ibu merasakan adanya tekanan pada anus.
3) Perineum menonjol.
4) Vulva dan sfingter ani membuka.
5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.
c. Kala III (Kala Pelepasan Plasenta)
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta. Proses
ini berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Pada kala III persalinan,
otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume
rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini
menyebabkan berkurangnya ukuran tempat pelekatan plasenta.
Karena tempat pelekatan semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta
tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal, dan kemudian
lepas dari dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan turun ke bagian

7
bawah uterus atau ke dalam vagina. Tanda-tanda terlepasnya
plasenta yaitu uterus menjadi berbentuk bulat, tali pusat bertambah
panjang dan terjadinya semburan darah secara tiba-tiba.
d. Kala IV (Kala Pengawasan)
Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam post partum.
Pada kala IV dilakukan observasi terhadap pendarahan pasca
persalinan yang paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Tingkat kesadaran pasien
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu dan
pernafasan.
3) Kontraksi uterus
4) Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika
jumlahnya tidak melebihi 400-500 cc (Sulistyawati, 2012).

B. RETENSIO PLASENTA
1. Definisi
Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi
waktu setengah jam. Keadaan ini dapat di ikuti perdarahan yang
banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang lepas sehingga
memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera (Prawirohardjo,
2014).
Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama
setengah jam setelah persalinan bayi dapat terjadi retensio plasenta
berulang (habitual retension) oleh karena itu plasenta harus dikeluarkan
karena dapat menimbulkan bahaya perdarahan (Saifuddin, 2010).
Retensio plasenta adalah bila plasenta tidak lepas atau keluar lebih
dari 30 menit setelah persalinan. Dalam melakukan pengeluaran
plasenta secara manual perlu diperhatikan tekniknya sehingga tidak
menimbulkan komplikasi seperti perforasi dinding uterus, bahaya
infeksi dan dapat terjadi inversio uteri (Maryunani, 2013).

8
2. Klasifikasi
a. Sebab Fungsional
1) His yang kurang kuat
2) Plasenta sulit lepas karena tempat implantasinya kurang
menguntungkan seperti di sudut tuba
3) Lingkaran kontriksi yang menebal
(Prawirohardjo, 2015)
b. Sebab patologi anatomi
Berdasarkan tempat implantasinya retensio plasenta di klasifikasikan
menjadi lima bagian :
1) Plasenta adhesiva adalah kontraksi uterus kurang kuat untuk
melepaskan plasenta.
2) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga
memasuki lapisan miometrium yang menembus lebih dalam
tetapi belum menembus serosa.
3) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga
mencapai atau memasuki miometrium, dimana villi khorialis
tumbuh lebih dalam dan menembus sampai ke miometrium.
4) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa di uterus,
yang menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.
5) Plasenta inkarserata adalah tertahanya plasenta di kavum uteri
disebabkan oleh kontraksi ostium uteri (Maryunani, 2013).
3. Etiologi
Adapun faktor penyebab dari retensio plasenta adalah:
1. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif kala tiga
bisa disebabkan oleh implantasi yang kuat antara plasenta dan
uterus.
2. Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa,
pernah kuret yang berulang dan multiparitas.

9
3. Bila sebagian kecil dari plasenta masih tertinggal dalam uterus
disebut rest plasenta dan dapat menimbulkan perdarahan postpartum
primer atau lebih sering perdarahan postpartum sekunder.
(Maryunani, 2013)

4. Patofisiologi
Segera setelah anak lahir, uterus berhenti kontraksi namun secara
perlahan progresif uterus mengecil, yang disebut retraksi, pada masa
retraksi itu lembek namun serabut-serabutnya secara perlahan
memendek kembali. Peristiwa retraksi menyebabkan pembuluh darah
yang berjalan di celah-celah serabut otot-otot polos rahim terjepit oleh
serabut otot rahim itu sendiri. Bila serabut ketuban belum terlepas,
plasenta belum lepas seluruhnya dan bekuan darah dalam rongga rahim
bisa menghalangi proses retraksi yang normal dan menyebabkan
banyak darah hilang.
Proses kala tiga didahului dengan tahap pelepasan/separasi plasenta
akan ditandai oleh perdarahan pervaginam (cara pelepasan duncan) atau
plasenta sudah lepas sebagian tetapi tidak keluar pervaginam (cara
pelepasan schultze) sampai akhirnya ekspulsi plasenta lahir.
Sebagian plasenta yang sudah lepas dapat menimbulkan perdarahan
yang cukup banyak (perdarahan kala tiga) dan harus di antisipasi
dengan segera melakukan plasenta manual, meskipun kala uri belum
lewat setengah jam (Prawirohardjo, 2015).

5. Tanda dan Gejala


Tanda-tanda gejala yang selalu ada yaitu plasenta belum lahir
setelah 30 menit, perdarahan segera dan kontraksi uterus baik. Biasanya
di jumpai pada kala tiga dengan gejala nyeri yang hebat, perdarahan
yang banyak sampai dan bisa sampai syok. Apalagi bila plasenta masih
melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi
strangulasi dan nekrosis. Gejala yang kadang-kadang timbul :

10
a. Tali Pusat putus akibat kontraksi berlebihan
b. Inversio uteri akibat tarikan
c. Perdarahan lanjutan (Prawirohardjo, 2015).

6. Karakteristik Ibu Bersalin dengan Retensio Plasenta


karakteristik ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah :
a. Umur
Umur adalah indeks yang menempatkan individu dalam urutan atau
lamanya seorang hidup dari lahir sampai mengalami retensio
plasenta. Faktor yang mempengaruhi tingginya kematian ibu adalah
umur, masih banyaknya terjadi perkawinan dan persalinan diluar
kurun waktu reproduksi yang sehat adalah umur 20-30 tahun. Pada
Usia muda resiko kematian maternal tiga kali lebih tinggi pada
kelompok umur kurang dari 20 tahun dan kelompok umur lebih dari
35 tahun (Mochtar, 2010).
Tingginya Angka Kematian Ibu pada usia muda disebabkan belum
matangnya organ reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan
kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin.
(Manuaba, 2010).
b. Paritas
Paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian lebih tinggi, lebih
tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal. Salah satu faktor yang
mempengaruhi terjadinya retensio plasenta adalah sering dijumpai
pada multipara dan grande multipara. Multipara adalah seorang ibu
yang pernah melahirkan bayi lebih dari satu kali, sedangkan grande
multipara adalah seorang ibu yang pernah melahirkan bayi 4 kali
atau lebih, hidup atau mati (Prawirohardjo, 2014).
c. Interval Kelahiran Anak
Usaha pengaturan jarak kelahiran akan membawa dampak positif
terhadap kesehatan ibu dan janin. Interval kelahiran adalah selang
waktu antara dua persalinan. Perdarahan postpartum karena retensio

11
plasenta biasanya sering terjadi pada ibu dengan interval kelahiran
pendek (<2 tahun), seringnya ibu melahirkan dan dekatnya jarak
kelahiran mengakibatkan terjadinya perdarahan karena kontraksi
rahim yang lemah (Prawirohardjo, 2014).

7. Penanganan
Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah anak lahir, harus
di usahakan untuk mengeluarkannya, dapat dicoba dulu dengan Manual
Plasenta. Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari
tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari
kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan
manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung
kedalam kavum uteri. sebaiknya setelah 30 menit plasenta belum lepas
dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi perdarahan
yang banyak, plasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera.
Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk
melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi manual plasenta tidaklah
sukar, tetapi harus dipikirkan bagaimana persiapan agar tindakan
tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita. (JNPK-KR, 2014)

8. Penatalaksanaan
1) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang keadaan ibu.
2) Buat persetujuan tindakan medis.
3) Pasang infus RL.
4) Lakukan anastesi verbal.
5) Lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh.
6) Ganti sarung tangan steril sebelah kanan.
7) Jepit tali pusat dengan klem kurang lebih 10-15 cm dari vulva.
8) Labia mayora dibuka dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan
dimasukan secara obstetric ke dalam vagina dengan menelusuri tali
pusat bagian bawah.

12
9) Tangan kanan menahan fundus untuk mencegah kolporeksis
(robekan melintang pada bagian atas vagina ).
10) Tangan kanan dengan posisi obstetric menuju ke ostium uteri dan
terus kelokasi plasenta; menyusuri tali pusat agar tidak salah jalan.
11) Agar tali pusat mudah diraba, mintalah bantuan asissten untuk
meregangkan tali pusat.
12) Setelah tangan kanan mencapai ostium uteri, minta asisten untuk
memegang klem dan tangan kiri penolong menahan fundus uteri.
13) Sambil menahan fundus uteri, masukan tangan ke dalam kavum
uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.
14) Buka tangan secara obstetric menjadi seperti memberi salam
dimana ibu jari merapat kepangkal jari telunjuk.
15) Tentukan implantasi plasenta, secara perlahan-lahan cari sisi
plasenta yang telah lepas. Catatan : jika plasenta sejajar dengan
endometrium jangan lakukan manual plasenta.
16) Selipkan ujung jari diantara plasenta dan dinding uterus, dengan
punggung tangan menghadap dinding uterus.
17) Mulai melakukan pengikisan dengan sisi ulna hingga plasnta lepas,
tangan kiri mengikuti gerakan tangan kanan yang sedang mengikis
plasenta untuk menghindari terjadinya perforasi.
18) Pinggirkan plasenta dan lakukan eksplorasi untuk memastikan
tidak adanya bagian plasenta yang masih melekat.
19) Tangan kiri pindah ke supra simpisis untuk menahan uterus pada
saat plasenta dikeluarkan.
20) Setelah 2/3 bagian plasenta terlepas, tangan kiri membantu tangan
kanan untuk mengeluarkan plasenta lalu putar plasenta searah
jarum jam.
21) Pastikan plasenta keluar lengkap dan tidak ada yang tersisa (jika
plasenta tidak dapat dilepaskan secara manual, segera rujuk
kerumah sakit).
22) Letakan plasenta ke tempat yang telah disediakan.

13
23) Lakukan masase uterus selama 15 detik.
24) Nilai kontraksi uterus dan jumlah darah yang keluar.
25) Masukan sampah habis pakai pada tempatnya.
26) Dekontaminasi alat di larutan klorin 0,5%
27) Cuci tangan dan observasi kala IV
28) Pendokumentasian
(JNPK-KR, 2014)

14
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN ANC


Pada Ny. E usia 35 tahun G2P1A0 Hamil 41 minggu 4 hari
Di RSUD CIAWI

Hari/tanggal : Rabu,27 Februrai 2019


Jam : 11.30 WIB
Ruang : Ponek

A. Data Subyektif
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. E / Tn. D
Umur : 35 tahun / 36 tahun
Suku : Sunda / Sunda
Agama : Islam / Islam
Pendidikan : SMP / SMP
Pekerjaan : Ibu rumah tangga / Petani
Alamat : Kp. Bojong honje 04/03 Desa Gunung Geulis
2. Keluhan Utama
Ibu mengeluh mulas mulas sejak pukul 03.00 WIB tanggal 27
februari 2019, belum keluar air-air, sudah keluar lendir bercampur
darah
3. Riwayat Menstruasi
- HPHT : 06 Mei 2018 - Lamanya Haid : 6 hari
- Menarche : 14 tahun - Siklus Haid : 28 hari
- Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut/hari

4. Riwayat Obstetri yang Lalu

15
Umur Anak
No Jenis Tempat Penolong Penyulit KB
sekarang JK BB PB H/M
Paraji
tidak 49
1 14 thn Normal di rumah dan P 2.300 gr Hidup Suntik
ada cm
Bidan

5. Riwayat Kehamilan Sekarang : Normal


- Taksiran persalinan : 13 februari 2019
- Antenatalcare : bidan
- Jumlah kunjungan : 9 kali

6. Riwayat Kesehatan/Penyakit yang Diderita sekarang /Dahulu :


Hipertensi : tidak ada TBC : tida ada
Diabetes : tidak ada Malaria : tidak ada
Asma : tidak ada Hepatitis : tidak ada
Penyakit Kelamin : tidak ada Alergi Obat : tidak ada

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
- Keadaan Umum : Baik - Kesadaran : Compos Mentis
- Tekanan Darah : 110/80mmHg - Nadi : 80x/menit
- Respirasi : 20x/menit - Suhu : 36.5°Celcius
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : bersih, tidak ada benjolan.
b. Muka : tidak ada oedema, tidak pucat dan tidak ada cloasma
gravidarum.
c. Mata : Conjungtiva merah muda, sklera putih
d. Hidung : Bersih, tidak ada polip
e. Telinga : Simetris, bersih
f. Mulut : Gigi tidak ada Caries, tidak ada pembesaran tonsil, tidak
ada stomatitis
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid/limfe, tidak ada
pembesaran vena jugularis dan getah bening

16
h. Payudara : Simetris, tidak ada benjolan/nyeri tekan, putting
menonjol, sudah keluar colostrum.
i. Abdomen : - Inspeksi : Tidak ada luka bekas operasi, linea nigra
terlihat, tidak ada striae gravidarum.
- Palpasi : 1) Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX,
teraba bagian bulat lunak
tidak melenting (bokong)
2) Leopold II : Bagian kanan ibu teraba
bagian keras memanjang.
3) Leopold III: Teraba bagian bulat, keras,
melenting (kepala).
4) Leopold IV: 2/5, divergent
- Auskultasi : DJJ 148x/mnt
TFU 32cm, TBJ : 32-11x155= 3,255 gram
His 3x10’ (40”)
j. Ekstremitas :
- Atas : tidak ada odema, tidak pucat
- Bawah : tidak ada odema, tidak ada varises, refleks patella +/+.
k. Genetalia : v/v ada varises, ada bloodshow, portio tebal ,
pembukaan 3 cm, ketuban utuh, molase tidak ada,
posisi uuk kanan depan, penurunan hodge I.
l. Anus : tidak ada hemoroid

- Pemeriksaan Penunjang
- Hb : - - HIV :-
- Protein Urin :- - HbsAg : -
- Leukosit :-
- Trombosit :-

17
C. ASSESMENT
G2P1A0 Hamil 41 minggu 4 hari , inpartu kala I fase aktif, janin tunggal
hidup.

D. PLANNING
1. Melakukan informed consent pada keluarga ; keluarga sudah
menandatangani persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan.
2. Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu baik yaitu TD
: 110/80mmHg, nadi 80x/menit, respirasi 20xmenit, suhu 36.5°C. Ibu
sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan mengetahui kondisi
kesehatannya.
3. Melakukan pemeriksaan dengan CTG, CTG sudah terpasang dan hasil
terlampir
4. Melakukan pemasangan infus, infus sudah terpasang
5. Melakukan pengambilan sample darah untuk cek laboratorium, sudah
dilakukan dan menunggu hasil lab
6. Menganjurkan ibu dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan
hidrasi; ibu dan keluarga mengerti
7. Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan relaksasi dengan menarik nafas
panjang saat ada kontraksi; ibu bersedia.
8. Konsul dokter,Advice dr.Jonas.SpOG ; rencana persalinan pervaginam
dan observasi kemajuan persalinan di VK
9. Menawarkan pendamping persalinan pada ibu ; ibu memilih suaminya.
10. Melakukan pendokumentasian soap dan observasi TTV,DJJ, His,; hasil
terlampir
11. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu akan dipindahkan ke ruang
bersalin; ibu dan keluarga bersedia
12. Memindahkan ibu ke ruang bersalin/VK, ibu sudah dipindahkan.

18
ASUHAN KEBIDANAN INC
Pada Ny. E usia 35 tahun G2P1A0 Hamil 41 minggu 4 hari
Di RSUD CIAWI

Hari/tanggal : Rabu, 27 Februari 2019


Jam : 14.35 wib
Ruang : VK/Bersalin

A. Data Subjektif
1. Identitas Ibu Pasien
Nama : Ny. E Tn. D
Umur : 35 tahun 36 tahun
Suku : Sunda Sunda
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Petani
Alamat : kp. Bojong honje 04/03 desa gunung geulis
2. Keluhan Utama
Ibu merasakan mulasnya semakin sering, mulas sejak pukul 03.00 WIB
tanggal 27 februari 2019, belum keluar air-air, sudah keluar lendir
bercampur darah.
3. Riwayat Menstruasi
- HPHT : 06 Mei 2018 - Lamanya Haid : 6 hari
- Menarche : 14 tahun - Siklus Haid : 28 hari
- Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut setiap hari.
4. Riwayat Obstetri yang Lalu
Umur Anak
No Jenis Tempat Penolong Penyulit KB
sekarang JK BB PB H/M
Paraji
tidak 49
1 14 thn Normal di rumah dan P 2.300 gr Hidup Suntik
ada cm
Bidan

19
5. Riwayat Kehamilan Sekarang : Normal
- Taksiran persalinan : 13 februari 2019
- Antenatalcare : bidan
- Jumlah kunjungan : 9 kali
6. Riwayat Kesehatan/Penyakit yang Diderita sekarang /Dahulu :
Hipertensi : tidak ada TBC : tida ada
Diabetes : tidak ada Malaria : tidak ada
Asma : tidak ada Hepatitis : tidak ada
Penyakit Kelamin : tidak ada Alergi Obat : tidak ada
7. Riwayat Sosial Ekonomi
 Riwayat KB : Suntik 3 bulan, lamanya 12 tahun
 Penggunaan jaminan kesehatan : BPJS pemerintah
 Dukungan keluarga : Baik
 Pengambilan keputusan : Suami dan keluarga
8. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi : Makan terakhir jam 12.30 WIB dan minum 1
Gelas teh.
b. Pola eliminasi : BAB terakhir pukul 06.00 WIB, BAK sering
c. Pola Istirahat : Tidak bisa tidur sejak semalam karena nyeri
kontraksi.
d. Pola Aktivitas : Lebih banyak berbaring karena nyeri kontraksi.

B. DATA OBEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
- Keadaan Umum : Baik - Kesadaran : Compos Mentis
- Tekanan Darah : 120/90mmHg - Nadi : 84x/menit
- Respirasi : 20x/menit - Suhu : 36.5°Celcius
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : bersih, tidak ada benjolan.
b. Muka : tidak ada oedema, tidak pucat dan tidak ada cloasma
gravidarum.

20
c. Mata : Conjungtiva merah muda, sklera putih
d. Hidung : Bersih, tidak ada polip
e. Telinga : Simetris, bersih
f. Mulut : Gigi tidak ada Caries, tidak ada pembesaran tonsil, tidak
ada stomatitis
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid/limfe, tidak ada
pembesaran vena jugularis dan getah bening
h. Payudara : Simetris, tidak ada benjolan/nyeri tekan, putting
menonjol, sudah keluar colostrum.
i. Abdomen : - Inspeksi : Tidak ada luka bekas operasi, linea nigra
terlihat, tidak ada striae gravidarum.
- Palpasi : 1) Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX,
teraba bagian bulat lunak
tidak melenting (bokong)
2) Leopold II : Bagian kanan ibu teraba
bagian keras memanjang.
3) Leopold III : Teraba bagian bulat, keras,
melenting (kepala).
4) Leopold IV : 2/5, divergent
- Auskultasi : DJJ 145x/mnt
TFU 32cm, TBJ : 32-11x155= 3,255 gram
His 3x10’ (40”)
j. Ekstremitas :
- Atas : tidak ada odema, tidak pucat
- Bawah : tidak ada odema, tidak ada varises, refleks patella +/+.
k. Genetalia : v/v ada varises, ada bloodshow, portio tebal lunak,
pembukaan 7cm, ketuban utuh, molase tidak ada, posisi
uuk kanan depan, penurunan hodge II.
l. Anus : tidak ada hemoroid

21
3. Pemeriksaan Penunjang
- Hb : 11,5 mgDL - HIV : Nr (-)
- Protein Urin : Negative - HbsAg : Nr (-)
- Leukosit : 8.450 U/L
- Trombosit : 210.0000 U/L

C. ASSESMENT
G2P1A0 Hamil 41 minggu 4 hari , inpartu kala I fase aktif, janin tunggal
hidup.

D. PLANNING
1) Melakukan informed consent pada keluarga ; keluarga sudah
menandatangani persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan.
2) Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu baik yaitu TD
: 120/90mmHg, nadi 84x/menit, respirasi 20xmenit, suhu 36.5°C. Ibu
sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan mengetahui kondisi
kesehatannya.
3) Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi; ibu
mengerti
4) Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAB atau BAK; ibu mengerti.
5) Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan relaksasi dengan menarik nafas
panjang saat ada kontraksi; ibu bersedia.
6) Menawarkan pendamping persalinan pada ibu ; ibu memilih suaminya.
7) Mempersiapkan partus set, perlengkapan ibu dan bayi; sudah di
persiapkan.
8) Merencanakan pemeriksaan dalam 4 jam mendatang atau jika ada
tanda-tanda persalinan kala II
9) Melakukan pendokumentasian soap dan observasi DJJ, His, Nadi setiap
30 menit; terlampir di partograf.

22
DATA PERKEMBANGAN
Hari/tanggal : Rabu, 27 Februari 2019 Jam : 16.10 WIB
Ruangan : Mawar / VK
Hari/Tgl
Catatan Perkembangan
Jam
16.10 S: Ibu merasakan mulesnya semakin sering dan adanya dorongan
WIB ingin meneran
O: - adanya tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka
- KU: sedang Kes: CM TD: 120/70mmHg
N: 85x/mnt S: 36.60C R: 22x/mnt
4. His: 5x10’(45”) DJJ: 137x/mnt
5. VT: v/v ada varises, ada bloodshow, portio tidak teraba,
pembukan lengkap, ketuban pecah spontan jernih jam 16.00
WIB, posisi uuk kanan depan, penurunan hodge IV, tidak ada
molase.
A: Inpartu kala II
P: - Memberitahu ibu hasil pemeriksaan; ibu mengerti
6. Mendekatkan partus set; dilakukan
7. Mengajarkan ibu cara meneran yang baik dan benar; ibu
mengerti
8. Menawarkan posisi yang nyaman sesuai dengan keinginan
ibu ; ibu memilih posisi berbaring dan litotomi
9. Memimpin ibu untuk meneran bila ada his dan istirahat untuk
minum bila his hilang; ibu mengerti
16.25 - Bayi lahir spontan, tidak ada lilitan tali pusat, menangis kuat,
WIB kulit kemerahan, pergerakan aktif, JK: perempuan, A/S 8/9.
- Mengecek janin kedua; janin tunggal.
- Memberitahu ibu akan disuntikan oksitosin, ibu bersedia
- Menyuntikan oksitosin 10 iu di paha kanan secara IM, kontraksi
bertambah
- Melakukan jepit potong tali pusat, tali pusat sudah di klem

23
S : ibu merasakan mulas
O : KU: sedang, kandung kemih tidak terpalpasi,
kes : cm, kontraksi baik
v/v tali pusat tidak memanjang, ada semburan darah sedikit
A: Inpartu Kala III
P: - Mengecek tanda pelepasan plasenta dan melakukan PTT; tidak
ada tanda pelepasan plasenta
16.40 - Setelah 15 menit plasenta belum lahir, mulai menyuntikan oksitosin
WIB dosis ke 2 10 IU di paha kiri
- Melakukan PTT lagi dengan teknik dorsocranial, tidak ada tanda-
tanda pelepasan plasenta
- Melakukan tindakan katetherisasi, katetherisasi sudah di lakukan dan
kandung kemih kosong
- Setelah 30 menit plasenta belum lahir, informed consent secara
16.55
verbal pada ibu/suami untuk melakukan manual plasenta, ibu setuju
WIB

S: ibu masih merasakan mulas


O: ku : baik, kontraksi baik, kes : cm
TFU: sepusat, perdarahan + 500cc
Kandung kemih: kosong
v/v ada semburan darah sedikit, tali pusat tidak memanjang
A: Inpartu kala III dengan Retensio Plasenta
P: - memberitahu hasil pemeriksaan bahwa perlu dilakukan tidakan
manual plasenta, ibu setuju
- Ganti infus RL 500ml + drip oksitosin 2 amp; infus sudah
terpasang
- Melakukan tindakan manual plasenta sesuai prosedur; manual
plasenta berhasil
- Plasenta lahir manual; selaput ketuban dan kotiledon tidak
17.05
WIB lengkap (hancur);
- Melakukan massase fundus uteri 15 detik; kontraksi baik

24
- Melakukan eksplorasi sisa plasenta
- Membersihkan sisa stonsel dan cek robekan; ada robekan
perineum grade II tanpa anastesi
- Melakukan hecting tanpa anastesi
- Membersihkan ibu dan merapihkan alat; sudah dilakukan
- Memfasilitasi untuk IMD, bayi sudah diletekan di perut ibu
selama 1 jam
- Observasi Kala IV; hasil terlampir di partograf

S: ibu masih merasa mules


17.20
WIB O: - KU: sedang - Kes: CM - TD: 120/70mmHg
- N: 82x/m - R: 20x/m - S: 36,70C
- TFU : 2 jari dibawah pusat
- Kontraksi baik
- Kandung kemih kosong
A: Inpartu Kala IV
P: - Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan
baik; TD:120/70 mmHg, N:82x/mnt, R:20x/mnt, ibu sudah
mengerti
- Mengajarkan ibu cara massase fundus uteri, ibu mengerti
- Menganjurkan ibu untuk pemenuhan makan dan minum, ibu
bersedia
- Memberikan ibu terapi obat SF, asam mefenamat 500 mgt,
cefadroxil, dan drip oksitosin 10 IU. Sudah diberikan
- Menganjurkan ibu untuk pemenuhan kebutuhan eliminasi
seperti BAB dan BAK; ibu mengerti
- Menganjurkan ibu untuk sesering mungkin menyusui bayinya,
ibu bersedia.
- Observasi keadaan ibu dan bayi
- Dokumentasi soap, hasil terlampir

25
18.25 S : ibu masih merasa mulas dan senang dengan kelahiran bayinya
wib O : KU: baik TD : 120/80mmHg R : 21x/mnt
Kes: CM N : 82x/mnt S: 36.7oc
TFU 2 jari dibawah pusat kontraksi baik
kandung kemih tidak terpalpasi perdarahan 50cc
A : P2A0 Postpartum 2 jam
P: - memberitahu hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik;
TD:120/80 mmHg, N: 80x/mnt, R: 20x/mnt, ibu sudah mengerti
- Menganjurkan ibu untuk makan dan minum, ibu mengerti
- Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini yaitu miring kanan atau kiri
dan belajar untuk duduk, ibu bersedia
- Menganjurkan ibu untuk BAK ke kamar mandi, ibu sudah bisa BAK
ke kamar mandi
- Mengajarkan ibu cara menyusui bayi yang baik dan benar, ibu
mengerti
- Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin, ibu
bersedia
- Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup, ibu tidur saat bayi tidur
- Memberitahu ibu dan keluarga bahwa akan dipindahkan keruang
perawatan yaitu ruang seruni, ibu bersedia
- Mengantarkan ibu dan bayi ke ruang seruni, ibu sudah dipindahkan ke
ruang seruni

26
ASUHAN KEBIDANAN PNC
Pada Ny. E usia 35 tahun P2A0 denganPost Partum 6 jam
Di RSUD CIAWI

Hari/tanggal : Rabu,27 Februrai 2019


Jam : 22.00 WIB
Ruangan : Seruni

A. Data Subjektif
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. E Tn. D
Umur : 35 tahun 36 tahun
Suku : Sunda Sunda
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Petani
Alamat : kp. Bojong honje 04/03 desa gunung geulis
2. Keluhan Utama
Ibu masih merasa nyeri pada luka jahitan
3. Riwayat Menstruasi
- HPHT : 06 Mei 2018 - Lamanya Haid : 6 hari
- Menarche : 14 tahun - Siklus Haid : 28 hari
- Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut setiap hari.
- Riwayat Obstetri yang Lalu
Umur Anak
No Jenis Tempat Penolong Penyulit KB
sekarang JK BB PB H/M
Paraji
tidak 49
1 14 thn Normal di rumah dan P 2.300 gr Hidup Suntik
ada cm
Bidan
retensio 50
2 0 hari Normal di RS Bidan P 3.350 gr Hidup -
plasnta cm

27
- Riwayat Kesehatan/Penyakit yang Diderita sekarang /Dahulu :
Hipertensi : tidak ada TBC : tida ada
Diabetes : tidak ada Malaria : tidak ada
Asma : tidak ada Hepatitis : tidak ada
Penyakit Kelamin : tidak ada Alergi Obat : tidak ada
- Riwayat Sosial Ekonomi
 Riwayat KB : Suntik 3 bulan, lamanya 12 tahun
 Rencana untuk KB : ya
 Jenis KB yang dipilih : suntik 3 bulan
 Penggunaan jaminan kesehatan : BPJS pemerintah
 Dukungan keluarga : Baik
 Pengambilan keputusan : Suami dan keluarga
- Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi : Sudah makan nasi 1 jam yang lalu dan minum
b. Pola eliminasi : ibu sudah BAK dan belum BAB
c. Pola Istirahat : ibu belum bisa tidur
d. Pola Aktivitas : ibu sudah bisa duduk dan ke kamar mandi sendiri

B. DATA OBEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
- Keadaan Umum : Baik - Kesadaran : Compos Mentis
- Tekanan Darah : 120/80 mmHg - Nadi : 84x/menit
- Respirasi : 20x/menit - Suhu : 36.5°Celcius
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : bersih, tidak ada benjolan.
b. Muka : tidak ada oedema, tidak pucat dan tidak ada cloasma
gravidarum.
c. Mata : Conjungtiva merah muda, sklera putih
d. Hidung : Bersih, tidak ada polip
e. Telinga : Simetris, bersih

28
f. Mulut : Gigi tidak ada Caries, tidak ada pembesaran tonsil, tidak
ada stomatitis
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid/limfe, tidak ada
pembesaran vena jugularis dan getah bening
h. Payudara : Simetris, tidak ada benjolan/nyeri tekan, puting
menonjol, ASI sudah keluar sedikit
i. Abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik
j. Ekstremitas : - Atas : tidak ada odema, tidak pucat
- Bawah : tidak ada odema, tidak ada varises, refleks
patella +/+.
k. Genetalia : lochea rubra, perdarahan ±10 cc, luka jahitan masih
tampak basah
l. Anus : tidak ada hemoroid

3. Pemeriksaan Penunjang
- Hb : 11,5 mgDL - HIV : Nr (-)
- Protein Urin : negative - HbsAg : Nr (-)
- Leukosit : 8.450 U/L
- Trombosit : 210.0000 U/L

C. ASSESMENT
P2A0 post partum 6 jam

D. PLANNING
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan keadan ibu, ibu mengetahui
keadaan ibu dalam batas normal.
b. Melakukan rawat gabung ibu dan bayinya, bayi sudah berada didekat
ibu

29
c. Menjelaskan kepada ibu untuk tidak terlalu khawatir terhadap luka
jahitan dan bergerak seperti biasa, ibu mulai mengerti dan belajar lebih
tenang terhadap luka jahitan
d. Menganjurkan ibu untuk banyak makan sayur, memperbanyak
konsumsi putih telur rebus untuk mempercepat pemulihan luka jahitan
dan tidak ada pantangan makanan apapun, ibu mengerti
e. Menganjurkan ibu untuk belajar mobilisasi dini yaitu belajar duduk dan
berjalan, ibu sudah bisa duduk sendiri dan berjalan ke toilet sendiri
secara perlahan
f. Menganjurkan ibu tetap memberikan ASI pada bayi sesering mungkin,
ibu mengerti dan sudah 3x menyusui bayinya
g. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga suhu tubuh bayi dan segera
mengganti pempers saat bayi BAB dan BAK, ibu mengerti untuk selalu
menjaga suhu tubuh bayi
h. Meganjurkan ibu untuk beristirahat saat bayi tidur dan menjelaskan
bahwa kebutuhan istirahat ibu sekitar 8 jam, ibu mengerti dan bersedia
tidur saat bayi tidur
i. Mengejarkan ibu cara personal hygene, ibu mengetahui cara personal
hygne
j. Memberitahu ibu tanda-tanda bahaya masa nifas yaitu penglihatan
kabur, pusing berkepnajangan, lochea berbau, demam tinggi dan
payudara nyeri. Ibu mengerti
k. Memberitahu ibu akan dilakukan USG, ibu bersedia dan hasil USG
tidak ada sisa plasenta
l. Melakukan pendokumentasian soap dan observasi, hasil terlampir

30
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan membahas tentang ketidaksesuaian antara tinjauan teori
terhadap tinjauan kasus yang terjadi pada Ny.’’E” yang merupakan pasien ibu
bersalin dengan retensio plasenta. Pembahasan akan menggunakan tahapan
persalinan dari kala I sampai dengan kala IV. Pembahasan ini dilakukan untuk
mendapatkan suatu pemecahan masalah dan kesimpulan dari tinjauan teori
dengan tinjauan kasus sehingga dapat digunakan sebagai tindak lanjut dalam
penerapan asuhan kebidanan yang efektif dan efisien khususnya pada pasien ibu
bersalin dengan retensio plasenta.
A. KALA I
Menurut teori Sulistyawati (2010) kala I adalah kala pembukaan
berlangsung antara pembukaan 0-10cm. Dalam proses ini terdapat 2 fase,
yaitu fase laten dimana serviks membuka sampai 4 cm dan fase aktif (6jam)
dimana serviks membuka dari 4-10cm. Kontraksi akan lebih kuat dan
sering selama fase aktif. Lamanya kala I pada primigravida berlangsung 12
jam sedangkan pada multigravida berlangsung sekitar 8 jam. Pada kasus ini
sesuai dengan teori dimana kala I multigravida berlangsung sekitar 6 jam
dimulai dari ibu merasa mulas dari jam 01:00 WIB. Menurut Manuaba
(2010) asuhan yang perlu dilakukan pada kala I adalah:
1. Memperhatikan kesabaran klien
2. Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu, respirasi berkala 2-4
jam.
3. Pemeriksaan detak jantung janin setiap ½ jam
4. Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong
5. Memperhatikan keadaan patologis (ketuban pecah sebelum waktunya
atau disertai janin yang menumbung, perubahan denyut jantung janin,
pengeluaran mekonium pada letak kepala, keadaan his yang bersifat
patologis, perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin).

31
6. Pasien tidak diperkenankan untuk mengejan.
Pada kasus ini asuhan kala 1 yang diberikan sesuai dengan teori yang
ada yaitu memberitahu hasil pemeriksaan, menganjurkan ibu untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi, hidrasi, memfasilitasi ibu untuk mobilisasi
ringan dengan menganjurkan ibu berjalan-jalan kecil, menganjurkan ibu
untuk teknik relaksasi dengan menarik nafas panjang saat ada his,
menganjurkan ibu untuk tidak meneran, menganjurkan ibu untuk memenuhi
kebutuhan eliminasi dengan tidak menahan BAK dan BAB, melakukan
observasi kemajuan persalinan dan kesejahteraan janin (DJJ).

B. KALA II
Menurut Prawirohardjo (2014) tanda gejala kala II yaitu :
1. Ibu merasakan keinginan meneran bersamaan dengan adanya kontraksi
2. Ibu meraskan semakin meningkatnya tekanan pada rektum atau vagina
3. Perineum terlihat menonjol
4. Vulva vagina dan anus terlihat membuka
5. Peningkatan pengeluaran lendir darah
Menurut Sulistyawati (2010) kala II adalah kala Pengeluaran Bayi kala
ini dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi, kala II biasanya
akan berlangsung selama 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada
multigravida. Pada tahap ini kontraksi akan semakin kuat dengan interval 2-
3 menit dengan durasi 50-100 detik, ketuban pecah yang ditandai dengan
pengeluaran cairan secara mendadak dan lamanya kala II untuk
primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.
Asuhan normal yamg diberikan pada kala II adalah memberitahu hasil
pemeriksaan, pembukaan lengkap, melakukan amniotomi, mengajarkan ibu
cara teknik meneran yang benar, menolong persalinan sesuai APN, bayi
lahir spontan, mengeringkan bayi, mengecek janin kedua, menyuntikan
oksitoksin 10 IU secara IM dipaha kanan ibu, melakukan jepit-jepit potong
dan mengikat tali pusat pada bayi, dan memfasilitasi IMD.

32
Pada kasus ini benar pasien dipimpin untuk meneran saat ada tanda-
tanda kala II yaitu doran, teknus, perjol,vulka. Kala II pada multigravida,
ini berlansung lebih cepat kurang dari 30 menit yaitu hanya berlangsung 15
menit dimulai dari pembukaan lengkap pada jam 16.10 wib hingga
pengeluaran bayi 16.25 wib dan asuhan yang diberikanpun sesuai dengan
asuhan persalinan normal.

C. KALA III
Berdasarkan teori Sulistyawati (2010), kala III dimulai segera setelah
bayi lahir sampai lahirnya plasenta. Proses ini berlangsung tidak lebih dari
30 menit. Tanda-tanda terlepasnya plasenta yaitu uterus menjadi berbentuk
bulat, tali pusat bertambah panjang dan adanya semburan darah secara tiba-
tiba. Setelah bayi lahir, uterus keras dengan tinggi fundus uterus sepusat,
beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan
plasenta dari dindingnya dengan waktu 6-15 menit setelah bayi lahir rahim
akan mengecil sehingga posisi fundus uteri turun sedikit dibawah pusat
maka tempat pelekatan plasenta juga akan mengecil dan karena pengecilan
ini plasenta akan terlepas. Jadi faktor yang palin penting dalam pelepasan
plasenta ini ialah kontraksi uterus yang baik.
Pada kasus ini proses pelepasan plasenta terjadi lebih dari 30 menit dan
tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta seperti uterus terbentuk bulat, tali
pusat memanjang, dan tidak ada semburan darah secara tiba-tiba. Pada
kasus ini kala III berlangsung lebih lama dari teori lamanya yaitu 40 menit
dari jam 16.25 wib – 17.05 wib karena pasien mengalami retensio plasenta.
Retensio plasenta adalah tidak keluarnya plasenta selama 30 menit setelah
bayi lahir dan tindakan yang dilakukan pada kasus ini yaitu manual
plasenta. Plasenta manual adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri
secara manual. Arti dari manual adalah dengan melakukan tindakan invasi
dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukan langsung
kedalam kavum uteri (Prawirohardjo, 2014).

33
Menurut teori Manuaba (2010) faktor predisposisi dari retensio plasenta
yang dapat terjadi pada tertahannya plasenta atau plasenta tidak lahir selama
durasi >30 menit yakni riwayat retensio plasenta, persalinan premature,
bekas luka operasi uterus, usia diatas 35 tahun dan grandemultipara.
Pada kasus ini usia pasien yaitu 35 tahun dimana itu yang menjadi salah
satu faktor risiko terjadinya retensio plasenta pada persalinan sekarang.
Untuk tindakan manual plasenta yang dilakukan sesuai dengan prosedur dan
untuk memastikan tidak ada sisa plasenta yang tertinggal maka pasien di
rujuk ke RS untuk dilakukan USG. Saat melakukan rujukan pasien di
dampingi oleh bidan sampai tindakan selesai dan hasilnya tidak ada sisa
plasenta yang tertinggal.

D. KALA IV
Menurut Sulistyawati (2010), kala IV dimulai dari lahirnya plasenta
sampai 2 jam postpartum. Pada kala IV dilakukan observasi terhadap
perdarahan pasca persalinan yang paling sering terjadi pada 2 jam pertama.
Pada kala IV dilakukan observasi kesadaran ibu, TTV, TFU, kontraksi
uterus, kandung kemih dan perdarahan.
Asuhan yang diberikan pada kala IV adalah memberitahu hasil
pemeriksaan, mengajarkan ibu dan keluarga masase fundus uteri,
melakukan hecting tanpa anastesi, merapihkan ibu dan tempat persalinan,
melakukan observasi 2 jam postpartum dan dokumentasi.
Pada kasus ini terjadi robekan perenium grade II, dan pemantauan kala
IV dilakukan dengan baik setiap 15 menit di jam pertama dan 30 menit di
jam kedua.

34
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi kami terhadap Ny. E bahwa penyebab dari
Retensio Plasenta yang di alami oleh pasien tersebut adanya pengeluaran
darah tetapi sedikit sehingga menunjukkan bahwa sudah ada bagian plasenta
yang sudah lepas, sedangkan bagian lain masih melekat yaitu karena
implantasi plasenta terlalu kuat dan jonjot korion plasenta memasuki lapisan
miometrium tetapi belum menembus serosa (Plasenta Akreta) dan faktor
resiko dari terjadinya retensio plasenta pada Ny. E ialah karna faktor usia
dan riwayat menggunakan kontrasepsi kb suntik selama 12 tahun.
Pada retensio plasenta, sepanjang plasenta belum terlepas maka tidak
akan menimbulkan perdarahan. Sehingga plasenta yang sudah lepas dapat
menimbulkan peradarahan yang cukup banyak (perdarahan kala III) dan
harus diantisipasi dengan segera melakukan manual plasenta, meskipun kala
uri belum lewat setengah jam. (Prowirohardjo, 2014)
Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri
secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi
tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum
uteri (Manuaba, 2010).

B. Saran
a. Untuk Pembaca : Di harapkan mahasiswa ataupun tenaga kesehatan bisa
lebih memahami dan tahu mengenai retensio plasenta.
b. Untuk Lahan Praktek : Diharapkan tenaga kesehatan bisa lebih
memahami lagi dalam melakukan manual plasenta.

35