Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN

PENATAAN SISTEM MODEL MPKP

DISUSUN OLEH:

1. ROBIATUL ADAWIYAH
2. WANDA PUTRID
3. I KOMANG ARI W
4. NI KADEK DWI AYU
5. DEVI SUSILAWATI
6. NI NYOMAN JANRIAS
7. SOFIYAH A
8. SATRIONO HADI
9. RAHMATU
ALBAR AGUSMAN

KELOMPOK III

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM

2018

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
hidayahNya, sehingga laporan dengan judul : laporan penataan sistem model mpkp
dapat terselesaikan. Laporan ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat untu
memenuhi kompetensi mata ajar Managemen Keperawatan.

Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan


bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih
kepada pembimbing akademik

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengaharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun, demi penyempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi
perkembangan Ilmu Keperawatan dan pembaca lainnya.

Mataram, 29 Oktober 2018

(KELOMPOK III)

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................i

DAFTAR ISI .........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................1

A. Latar belakang ............................................................................................................1

B. Tujuan ........................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................5

A. Aplikasi dan restra MPKP ....................................................................................... 5

B. Modelkeperawatan asuhan keperawatan professional ............................................ 6

C. Menejemen peran struktur MPKP .......................................................................... 7

BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 36

A. KESIMPULAN ....................................................................................................... 36

B. SARAN .................................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

manajemen strategi menurut Fred R. David Manajemen strategi adalah seni


dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan
lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan.

Manajemen keperawatan di Indonesia perlu mendapatkan prioritas utama

dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan

profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan

pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi

di Indonesia (Nursalam, 2002).

A. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah melakukan tugas manajemen Keperawatan yang

ditekankan menggunakan manajemen keperawatan diharapakan

mahasiswa mampu“melakukan penataan sistem model mpkp

2. Tujuan khusus

Setelah melaksanakan management ditekankan menggunakan keterampilan

manajemen keperawatan

a. Mengidentifikasi masalah penataan system MPKP

BAB II

4
TINJAUAN TEORI

A. Aplikasi dan Renstra MAKP


1. Pengertian Manajemen strategi
a. Pengertian manajemen strategi menurut Fred R. David
Manajemen strategi adalah seni dan ilmu untuk memformulasi,
mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang
memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan.
b. Pengertian manajemen strategi menurut Michael A. Hitt& R. Duane Ireland &
Robert E. Hoslisson (1997,XV)
Manajemen strategis adalah proses untuk membantu organisasi dalam
mengidentifikasi apa yang ingin mereka capai, dan bagaimana seharusnya
mereka mencapai hasil yang bernilai.
Besarnya peranan manajemen strategis semakin banyak diakui pada masa-
masa ini dibanding masa-masa sebelumnya. Dalam perekonomian global yang
memungkinkan pergerakan barang dan jasa secara bebas diantara berbagai
negara, perusahaan- perusahaan terus ditantang untuk semakin kompetitif.
Banyak dariperusahaan yang telah meningkatkan tingkat kompetisinya ini
menawarkan produk kepada konsumen dengan nilai yang lebih tinggi, dan hal
ini sering menghasilkan laba diatas rata-rata.
c. Pengertian manajemen strategi menurut Michael Polter
Manajemen strategi adalah sesuatu yang membuat perusahaan secara
keseluruhan
Berjumlah lebih dari bagian-bagian dengan demikian ada unsure sinergi di
dalamnya.
d. Pengertian manajemenstrategimenurut H. Igor Ansoff
Manajemen strategi adalah analisis yang logis tentang bagaimana perusahaan
dapat beradaptasi terhadap lingkungan baik yang berupa ancaman maupun
kesempatan dalam berbagai aktivitasnya.

B. Penataan Sistem Model Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)


1. Pengertian Sistem MAKP
Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan keempat
unsur : standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan, dan sistem MAKP.
5
Definisi tersebut berdasrkan prinsip-prinsip nilai yang diyakini dan akan
menentukan kualitas produksi atau jasa layanan keperawatan. Jika perawat tidak
memiliki nilai-nilai tersebut sebagai sesuatu pengambilan keputusan yang
independen, maka tujuan pelayanan kesehatan atau keperawatan dalam memenuhi
kepuasan klien tidak akan dapat terwujud (Nursalam, 2002).
2. Metode Pengelolaan Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional
Ada beberapa metode sistim pemberian asuhan keperawatan kepada pasien.
Dari beberapa metode yang ada, maka institusi pelayanan perlu
mempertimbangkan kesesuaian metode tersebut untuk diterapkan. Sehingga perlu
diantisipasi “ jangan merubah suatu system justru merubah permasahannya” (Kurt
Lewin, 1951 dikutip oleh Marquis & Huston, 1998). Dasar pertimbangan
penerapan metode system pemberian asuhan keperawatan adalah:
1. Filosofi Institusi (Visi dan Misi Institusi).
2. Ekononis (cost effective).
3. Menambah kepuasan pasien, keluarga, dan masyarakat.
4. Menambah kepuasan kerja perawat karena dapat melaksanakan perannya
dengan baik.
5. Dapat diterapkannya proses keprawatan.
6. Terlaksannya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim kesehatan
lainnya.

3. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)


Keberhasilan suatu asuhan keperawatan kepada klien sangat ditentukan oleh
pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan professional. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan dan tuntutan
perkembangan IPTEK, maka metode sistem pemeberian asuhan keperawatan harus
efektif dan efisien.
1. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Asuhan Keperawatan (Makp)
Mclaughin, Thomas, dan Barterm (1995), mengidentifikasi 8 model
pemberian asuhan keperawatan, tetapi model yang umum digunakan di Rumah
Sakit adalah: Asuhan Keperawatan Total; Keperawatan Tim; Keperawatan
Primer. Tetapi setiap unit keperawatan mempunyai riwayat dlam menseleksi
model dalam pengelolaan asuhan keperawatan berdasarkan kesesuaian antara
ktenagaan, sarana dan prasarana, dan policy rumah sakit. Karena setiap
6
perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu dipertimbangkan
6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuahan
keperawatan (Marquis & Huston, 1998: 143).
a) Sesuai Visi dan Misi Institusi
b) Dasar utama penentuan model pemberian asuhan keperawatan harus
didasarkan pada visi dan misi rumah sakit.
c) Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam asuhan keperawatan
Proses keperawatan merupakan unsur penting terhadap
kesinambungan asuhan keperawatan kepada pasien. Keberhasilan
dalam asuhan keperawatan sangat ditentukan oleh pendekatan
proses keperawatan.
d) Efisien dan efektif penggunaan biaya
Setiap suatu perubahan, harus selalu mempertimbangkan biaya dan
efektifitas dalam kelancaran pelaksanaannya.Bagaimanapun
baiknya suatu model, tanpa ditunjang oleh biaya memadai, maka
tidak akan didapatkan hasil yang sempurna.
Terpenuhinya kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
e) Tujuan akhir asuhan keperawatan adalah kepuasan pelanggan atau
pasien terhadap asuhan yang diberikan oleh perawat. Oleh karena
itu, model yang baik adalah model asuhan keperawatan yang dapat
menunjang terhadap kepuasan pelanggan.
f) Kepuasan kinerja perawat
g) Kelancaran pelaksanaan suatu model sangat ditenyukan oleh
motivasi dan motivasi perawat. Oleh karena itu model yang dipilih
harus dapat meningkatkan kepuasan perawat bukan justru
menambah beban kerja dan frustasi dalam pelaksanaannya.
h) Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim
kesehatan lainnya.Komunikasi secara professional sesuai lingkup
tanggung jawab merupakan dasar pertimbangna menentukan model.
Model asuhan keperawatan diharapkan akan dapat meningkatkan
hubungan interpersonal yang baik antara perawat dan tenaga
kesehatan lainnya.

2. Jenis Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)


7
Tabel 1 : Jenis Model Asuhan Keperawatan Menurut Grant & Massey (1997)
dan Marquis & Huston (1998)
Penanggung
Model Deskripsi
Jawab

Fungsional  Berdasarkan orientasi tugas dari Perawat yang


(bukan filosofi keperawatan. bertugas pada
model  Perawat melaksanakan tugas tindakan tertentu
MAKP) (tindakan) tertentu berdasarkan
jadwal kegiatan yang ada.
 Metode fungsional dilaksanakan
oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai
pilihan utama pada saat perang
dunia kedua. Pada saat itu, karena
masih terbatasnya jumlah dan
kemampuan perawat, maka setiap
perawat hanya melakukan 1-2 jenis
intervensi keperawatan pada
semua pasien di bangsal.
Kasus  Berdasasarkan pendekatan holistik Manajer
dari filosofi keperawatan keperawatan
 Perawat bertanggung jawab
terhadap asuhan dan observasi
tertentu
 Rasio 1 : 1 (pasien:perawat).
Setiap pasien dilimpahkan kepada
semua perawat yang melayani
seluruh kebutuhannya pada saat
mereka dinas. Perawat akan
dirawat oleh perawat yang berbeda
untuk setiap sif dan tidak ada
jaminan bahwa pasien akan

8
dirawat oleh orang yang sama pada
hari berikutnya. Metode penugasan
kasus biasanya diterapkan satu
pasien satu perawat. Umumnya
dilaksanakan untuk perawat privat
atau khusus seperti isolasi,
intensive care.
Tim  Berdasarkan pada kelompok Ketua Tim
filosofi keperawatan
 Enam – tujuh perawat profesional
dan perawat pelaksana bekerja
sebagai satu tim, disupervisi oleh
ketua tim.
Metode ini menggunakan tim
terdiri atas anggota yang berbeda-
beda dalam memberikan asuhan
keperawatan terhadap kelompok
pasien. Perawat ruangan dibagi
menjadi 2 – 3 tim/grup yang terdiri
atas tenaga profesional, tehnikal,
dan pembantu dalam satu
kelompok kecil yang saling
membantu.

Primer  Berdasarkan pada tindakan yang Perawat primer


konperehensif dari filosofi (PP)
keperawatan.
 Perawat bertanggungjawab
terhadap semua aspek asuhan
keperawatan
Metode penugasan dimana satu
orang perawat bertanggung jawab
penuh selama 24 jam terhadap

9
asuhan keperawatan pasien mulai
dari masuk sampai keluar rumah
sakit. Mendorong praktik
kemandirian perawat, ada
kejelasan antara pembuat rencana
asuhan dan pelaksana. Metode
primer ini ditandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus-menerus
antara pasien dan perawat yang
untuk merencanakan, melakukan
dan koordinasi asuhan
keperawatan selama pasien
dirawat.

Berikut ini merupakan penjabaran secara rinci tentang metode asuhan keperawatan
profesional. Ada lima metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang sudah
ada dan akan terus dikembangkan dimasa depan dalam menghadapi tren pelayanan
keperawatan.
a) Fungsional (Bukan Model MAKP)
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat
itu, masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat, maka setiap perawat
hanya melakukan satu atau dua jenis intervensi keperawatan saja (misalnya,
merawat luka) kepada semua pasien di bangsal.

Kepala Ruangan

Perawat Perawat Perawat Kebutuhan


Pengobatan Merawat Luka Instrumen Dasar

Pasien/pasien

10
Gambar 2 : Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Fungsional (Marquis &
Huston, 1998 : 138)
Kelebihan :
1) Manajemen klasik yang menekan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan
pengawasan yang baik;
2) Sangat baik untuk dirumah sakit yang kekurangan tenaga;
3) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan
perawatan pasien diserahkan perawat junior dan atau belum berpengalaman.
Kelemahan :
1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat;
2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses
keperawatan;
3) Persepsi perawat cenderung pada tindakan keperawatan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.
a. MAKP Tim
Metode ini menggunakan tim terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap kelompok pasien. Perawat ruangan dibagi
menjadi 2 – 3 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional, tehnikal, dan pembantu
dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.

Kelebihan :
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan menyeluruh;
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan;
3) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan
memberikan kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan : komunikasi antaranggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit dilaksanakan
pada waktu-waktu sibuk.
Konsep metode tim :
 Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan
berbagai tehnik kepemimpinan;

11
 Pentingnya komunikasi efektif agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin;
 Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim;
 Peran kepala ruangan penting dalam model tim, tim ini akan berhasil bila
didukung oleh kepala ruangan.
Tanggung jawab anggota tim :
1) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya;
2) Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim;
3) Memberikan laporan.
Tanggung jawab ketua tim :
1) Membuat perencanaan;
2) Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi;
3) Mengenal dan mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan
pasien;
4) Mengembangkan kemampuan anggota;
5) Menyelenggarakan konferensi.
Tanggung jawab kepala ruangan :
1) Perencanaan :
 Menunjuk ketua tim yang akan bertugas diruangan masing-masing;
 Mengikuti serah terima pasien pada sif sebelumnya;
 Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien : gawat, transisi dan
persiapan pulang, bersama ketua tim;
 Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas dan
kebutuhan pasien bersama ketua tim, mengatur penugasan/penjadwalan;
 Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan;
 Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisologi, tindakan
medis yang dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan
dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
 Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan, termasuk kegiatan
membimbing pelaksanaan dan asuhan,membimbing penerapan dan proses
keperawatan dan menilai asuhan keperawatan, mengadakan diskusi untuk
pemecah masalah, serta memberikan informasi kepada pasien atau keluarga
yang baru masuk.

12
 Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
 Membantu membimbing peserta didik keperawatan.
 Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
2) Pengorganisasian :
 Merumuskan metode penugasan yang di gunakan.
 Merumuskan tujuan metode penugasan.
 Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas.
 Membuat rentang kendali, kepala ruangan membawahi 2 ketua tim, dan ketua
tim membawahi 2-3 perawat.
 Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan : membuat proses dinas,
mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lain-lain.
 Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
 Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek.
 Mendelegasikan tugas, saat kepala ruangan tidak berada di tempat kepada
ketua tim.
 Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.
 Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya.
 Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
3) Pengarahan:
 Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.
 Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik.
 Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan,dan sikap.
 Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan
askep pasien.
 Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
 Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan
tugasnya.
 Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
4) Pengawasan:
 Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua
tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang di berikan kepada
pasien.
 Melalui supervisi:

13
1. Pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi, mengamati
sendiri, atau melalui laporan langsung secara lisan, dan memperbaiki
pengawasan kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga.
2. Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir ketua ti;
membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat
selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (
didokumentasikan ), mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan
tugas.
3. Evaluasi ;
4. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana
keperawatan yang telah di susun bersama ketua tim.
5. Audit keperawatan.

Gambar 3 : Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan “Team Nursing”


(Marquis & Huston, 1998 : 138)

b. MAKP Primer.
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh
selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai
keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara
pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini di tandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus- menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan
untuk merencanakan, melakukan,dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien
dirawat.

14
Tim Medis Kepala Ruangan Sarana RS

PPI PPI
PA 1 PA 1
PA 2 PA 2

Pasien Pasien

Gambar 4 : Bagan pengembangan MAKP Primer di Ruang Bedah


MataKelas I & I; Bedah G; dan Ruang Jantung RSUD
Dr. Soetomo Surabaya

Dokter Kepala Ruangan Sarana RS

Perawat Primer

Pasien/Klien
15
Gambar 5 : Diagram Sistem Asuhan Keperawatan Primer
(Marquis & Huston, 1998 : 138)
Kelebihan:
1) Bersifat kontinuitas dan komprehensip;
2) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan
memungkinkan pengembangan diri;
3) Keuntungan antara lain terhadap pasien,perawat, dokter dan rumah sakit
(Gillies,1989).
Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa di manusiawikan karna
terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu, asuhan yang diberikan bermutu
tinggi, dan tercapai pelayanan secara efektif terhadap pengobatan, dukungan,
proteksi, informasi dan advokasi. Dokter juga merasakan kepuasan dengan model
primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu
diperbarui dan komprehensif.
Kelemahannya adalah hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif,self direction,
kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinis, penuh
pertimbangan, serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu.
Konsep dasar metode primer:
a. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat.
b. Ada otonomi.
c. Ketertiban pasien dan keluarga.
Tugas perawat primer:
a. Mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
b. Membuat tujuan dan rencana keperawatan.
c. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dines.

16
d. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh
disiplin lain atau perawat lain.
e. Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
f. Menerima dan menyesuaikan rencana.
g. Menyiapkan penyuluhan untuk pulang.
h. Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial di
masyarakat.
i. Membuat jadwal perjanjian klinis.
j. Mengadakan kunjungan rumah.
Peran kepala ruang/bangsal dalam metode primer :
a. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer.
b. Orientasi dan merencanakan karyawan baru.
c. Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten.
d. Evaluasi kerja.
e. Merencanakan/menyelenggarakan pengembangan staf.
f. Membuat 1-2 pasien untuk model agar dapat mengenal hambatan yang terjadi.
Ketenangan metode primer:
a. Setiap perawat primer adalah perawat bed side atau berada didekat pasien
b. Beban kasus pasien 4 – 6 orang untuk satu perawat primer.
c. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
d. Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun non profesional
sebagai perawat asisten

c. MAKP Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia
dinas. Perawat akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap sif dan tidak
ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya.
Metode penugasan kasus biasanya diterapkan satu pasien satu perawat. Umumnya
dilaksanakan untuk perawat privat atau khusus seperti isolasi, intensive care.
Kelebihannya :
a. Perawat lebih memahami per kasus;
b. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah;
Kekurangannya :
17
a. Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab;
b. Perlu tenaga kerja yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
sama.

Kepala Ruangan

Staf Perawat Staf Perawat Staf Perawat

Pasien/klien Pasien/klien Pasien/klien

Gambar 6 : Sistem Asuhan Keperawatan “Case Method Nursing”


(Marquis & Huston, 1998:136)

d. Modifikasi MAKP Tim-Primer


Model MAKP Tim dan Primer digunakan secara kombinasi dari kedua sistem.
Menurut Ratna S. Sudarsono (2000) penerapan sistem model MAKP ini didasarkan
pada beberapa alasan :
1) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer harus
mempunyai latar belakang pendidikan S-1 Keperawatan atau setara.
2) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena banyak tanggung jawab
asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada bagian tim.
3) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer, karena
saat ini perawat yang ada di RS sebagian adalah lulusan D-3, bimbingan tentang
asuhan keperawatan diberikan oleh perawat primer/ketua tim.
Contoh (dikutip dari Ratna S. Sudarsono, 2002)
Model MAKP ini ruangan memerlukan 26 perawat. Dengan menggunakan
model modifikasi keperawatan primer ini diperlukan 4 orang perawat primer (PP)
dengan kualitas Ners, disamping seorang kepala ruangan yang juga Ners. Perawat
pelaksana (PA) 21 orang, kualifikasi pendidikan perawat pelaksana terdiri atas
lulusan D-3 Keperawatan 3 orang, dan SPK 18 orang. Pengelompokan tim setiap sif
dapat dilihat pada gambar 7
18
Kepala Ruangan

PP I PP II PP III PP IV

PA PA PA PA

PA PA PA PA

PA PA PA PA

7-8 pasien 7-8 pasien 7-8 pasien 7-8 pasien

Gambar 7 : Metode Tim Primer (Modifikasi)

C. Manajemen Peran Sruktur MPKP


Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen dalam suatu
organisasi.Pada pengertian struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja
dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda
diintegrasikan atau dikoordinasikan. Struktur organiosasi juga menunjukkan
spesialisasi pekerjaan.
Struktur organisasi Ruang MPKP menggunakan sistem penugasan Tim-primer
keperawatan. Ruang MPKP dipimpin oleh Kepala Ruangan yang membawahi dua atau
lebih Ketua Tim. Ketua Tim berperan sebagai perawat primer membawahi beberapa
Perawat Pelaksana yang memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh kepada
sekelompok pasien.
1. Kepala ruangan
Tanggung jawab kepala ruangan :
a. Kebenaran dan ketepatan rencana kebutuhan tenaga keperawatan
b. Kebenaran dan ketepatan program pengembangan pelayanan keperawatan

19
c. Keobyektifan dan kebenaran penilayan kinerja tenaga keperawatan.
d. Kelancaran kegiatan orientasi perawat baru
e. Kebenaran dan ketepatan protap/ sop pelayanan keperawatan
f. Kebenaran dan ketepatan kebutuhan dan penggunaan alat
g. Kebenaran dan ketepatan pelaksana program bimbingan siswa/mahasiswa
institusi pendidika keperawatan
Wewenang kepala ruangan
a. Memintah informasi dan pengarah kepada atasan
b. Memberi petunjuk dan bimbingan pelaksanaan tugas staf keperawatan.
c. Mengawasi,mengendalikan dan menilai pendaya gunaan tenaga keperawatan.
d. Menandatangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi wewenang
kepala ruangan.
e. Menghadiri rapat bekala dengan kepala instalasi/kasi/kepala rumah sakit
untukkelancaran pelancaran pelaksanaan pelayanan keperawatan.
Tugas kepala ruangan
Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan diruangan rawat
yang berada diwilaya tabggung jawabnya
a. Melaksanaan fungsi perencanaan (PI) meliputi:
1) Menyusun kerja rencana kepala ruangan
2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuaan pelayanan keperawatan diruang
rawat yang bersangkutan
3) Merencanakan jumlah jenis peralatan perawatan yang diperlukan sesuai
kebutuhan,
4) Menyusun rencana kebutuhan tenaga dari segi jumlah maupun kualifikasi
untuk diruangan rawat,kordinasi dengan kepala instansi.
5) Merencanakan dan menentukan jenis kegiatan/ asuhan keperawatan yang akan
diselanggarakan sesuai kebutuhan
6) Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanaan (P2)
a) Mengatur dan menkordinasikan seluruh kegiatan pelayanan ruang
rawat,melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruangan
rawatnya.
b) Menyusun jadwal dan mengatur daftar dinas tenaga perawat.
c) Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan pengawasn
meliputi: penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertip ruang
20
inap,fasilitas yang ada dan cra penggunaannya dan kegiatan rutin sehari-
hari
d) Membimbing tenaga perawat untuk melakukan pelayanan/asuhan
keperawatan yang sesuai ketentuan.
e) Mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu-waktu dengan staf
keperawatan dan petugas lain yang berfungsi diruangan rawatnya.
f) Melaksanakan orientasi tenaga perawat yang baru atau tenaga lain yang
akan bekerja diruang rawat.
g) Memberikan kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti
kegiatan ilmiah/penataran dengan kordinasikepala instansi/kasi
keperawatan/kepala bidang keperawatan.
h) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesua kebutuhan
berdasarkan ketentuan atau kebijakan rumah sakit
i) Mengatur dan mengkordinasi pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan
siap pakai
j) Mendampingi fisite dokter dan mencatat instuksi dokter khususnya bila
ada perubahan pengobatan pasien
k) Mengelompokan pasien dan mengatur penempatan diruangan rawat
menurut tingkat kegawatan,infeksi,/non infeksi untuk kelancaran
pemberian asuhan keperawatan.
l) Memberi mutifasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan
lingkungan ruang rawat.
m) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien rawat inap.
n) Menyimpan semua berkas catatan medik pasien dalam masa perawatan
diruangan rawatnya dan selanjutnyamengambilkan ke MR
o) Membuat laporan harian mengenai pelaksanaan kegiatan asuhan
keperawatan sertakegiatan lain diruah rawat.
p) Membimbing mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya
sebagai lahan peraktek
q) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien atau keluarganya sesuai
kebutuhan dasar dalam batas wewenangnya
r) Melakukan serah terima pasien dan lain-lain pada saat pergantian dinas.
Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian meliputi:

21
a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah
ditentukan.
b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk
memperoleh pengalaman beajar sesuai tujuan program bimbingan yang
ditentukan.
c) Melakukan penilayaan kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawa
tanggung jawabnya.
d) Menguasai pengendalian dan menilai pendayagunaantenaga
perawat,peralatan perawat, serta obat-obat secara efektif dan efesien.
e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang
berlaku secara mandiri atau dengan tim pengendali mutu asuhan
keperawatan.
2. Perawat primer (PP)
a. Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprensif
b. Membuat tujuan dan rencanakeperawatan
c. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama praktek bila diperlukan
d. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh
disiplin ilmu lain maupun perawat lain
e. Mengevaluasikan keberhasilan asuhan keperawatan
f. Melakukan rujukan kepada pekerja sosial,kontak dengan lembaga sosial
dimasyarakat.
g. Membuat jadwal perjanjian klinik.
h. Mengadakan kunjungan rumah bila perlu

3. Perawat assuite (PA)


Tanggung jawab perawat pelaksana
a. Kebenaran dan ketetapan dalammemberikan asuhan keperawatan sesuai
standar
b. Kebenaran dan ketetapan dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan
keperawatan/kegiatan lain yang dilakukan.
Wewenang perawat pelaksana

22
a. Meminta informasi dan petunjuk pada atasan
b. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien/keluarga pasien sesuai
kemampuan dan batasan kewenangan
Tugas pokok perawat pelaksana:
a. Memelihara kebersihan ruang rawat dan lingkungannya.
b. Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
c. Memelihara perelatan keperawatan dan medis agar selalu dalam keadaan siap
pakai.
d. Melakukan pengkajian keperawatan dan menentukan diagnosa keperawatan.
e. Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya.
f. Melakukan tindakan perawat kepada pasien sesuai kebutuhan dan batas
kemampuannya antara lain:
1) Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai progranm pengobatan
2) Memberi penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya sesuai
penyakitnya.
3) Melatih /membantu pasien untuk latihan gerak
4) Melakukan tindakangarurat kepada pasien antara lain: panas
tinggi,kolaps,perdarahan,keracunan,henti napas dan henti jantung, sesuai
dengan protap yang berlaku.selanjutnya segera melaporkan tindakan yang
telah dilakukan kepada dokter ruang rawat/dokter jaga.
g. Melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan sesuai batas kemampuannya.
h. Menobservasi kondisi pasien,selanjutnya melakukan tindakan yang tepat
berdasakan hasil observasi tersebut sesuai batasan kemampuannya.
i. Berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan
upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan
j. Melaksanakan tugas pagi,soreh,malam danlibur secara bergiliran sesuai jadwal
dinas
k. Mangikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh kepala ruangan rawat.
l. Melaksanakan sistem pencatatan dan melaporkan asuhan keperawatan yang
tepat dan benar sesuai standar asuhan keperawatan.
m. Melaksanakan serat terima tugas kepada petugas pengganti secara lisan
maupun tulisan pada saat penggantian dinas.

4. CCM ( CLINICAL CARE MANEGER)


23
a. Membimbing Pp Dan Pa Tentang Implementasi Mpkp (Ronde)
b. Memberi Masukan Saat Diskusi Kasus Pada Pp Dan Pa
c. Bekerja Sama Dengan Kepala Ruangan
d. Mengevaluasi Pendidikan Kesehatan Yang Dilakukan Pp
e. Mengevaluasi Implementasi MPKP

b. Tingkat spesifikasi MPKP


Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk model praktek
keperawatan profesional (MPKP), yang pada awalnya dikembangkan oleh
Sudarsono (2000) di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan beberapa rumah sakit
umum lain. Menurut Sudarsono (2000), MPKP dikembangkan beberapa jenis
sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu:
1. Model praktek Keperawatan Profesional III
Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional
dan ada yang sudah doktor, sehingga praktik keperawatan
berdasarkan evidence based. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian
keperawatan, khususnya penelitian klinis.
2. Model Praktek Keperawatan Profesional II
Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan
spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di
ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan
penelitian keperawatan.
3. Model Praktek Keperawatan Profesional I
Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan, metode
pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Metode yang
digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan
metode tim yang disebut tim primer.
4. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal pengembangan
yang akan menuju profesional I.

c. Macam Metode Penugasan Dalam Keperawatan


1. Metode TIM

24
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok
perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya.
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin
kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam
mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan
pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam
menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim
yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau
asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-
beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
a) Ketuatim
b) Pelakaana perawatan
c) Pembantu perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih
baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.

Kelebihan metode tim:


a) Saling memberi pengalaman antar sesama tim.
b) Pasien dilayani secara komfrehesif
c) Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
d) Tercipta kerja sama yang baik .
e) Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
f) Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman
dan efektif.

Kekurangan metode tim:


a) Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi
tanggung jawabnya.
b) Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim
ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan

25
koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas
terhambat.
c) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung
atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
d) Akontabilitas dalam tim kabur.

2. Metode fungsional.
Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan
kepada pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Metode ini
dibagi menjadi beberapa bagian dan tenaga ditugaskan pada bagian tersebut
secara umum, sebagai berikut :
a. Kepala Ruangan, tugasnya :
Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan pasein,
membuat penugasan, melakulan supervisi, menerima instruksi dokter.
b. Perawat staf, tugasnya :
1) Melakukan askep langsung pada pasien
2) Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga
keperawatan
c. Perawat Pelaksana, tugasnya :
Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang, pasein
dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan
membantu tindakan sederhana (ADL).
d. Pembantu Perawat, tugasnya :
Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi,
menbenahi tempat tidur, dan membagikan alat tenun bersih.
e. Tenaga Admionistrasi ruangan, tugasnya :
Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi, mengerjakan
pekerjaan administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan pulang,
membuat duplikat rostertena ruangan, membuat permintaan lab untuk obat-
obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan.

Kerugian metode fungsional:


a. Pasien mendapat banyak perawat
b. Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan
26
c. Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan.
d. Pelayanan terputus-putus
e. Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai
Kelebihan dari metode fungsional :
a. Sederhana
b. Efisien.
Contoh metode fungsional
Perawat A tugas menyutik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan
klien.Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk
semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab
dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien
serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.

3. Metode Perawatan Primer


Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus
menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan,
melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.
Tugas perawat primer adalah :
a. Menerima pasien
b. Mengkaji kebutuhan
c. Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi
d. Mengkoordinasi pelayanan
e. Menerima dan menyesuaikan rencana
f. menyiapkan penyuluhan pulang
Konsep dasar :
a. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
b. Ada otonomi
c. Ada keterlibatan pasien dan keluarganya
Ketenagaan:
a. Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
b. Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat
c. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
d. Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai
asisten.
27
Kepala bangsal :
a. Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer
b. Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
c. Menyusun jadwal dinas
d. Memberi penugasan pada perawat asisten.
Kelebihan dari metode perawat primer:
a. Mendorong kemandirian perawat.
b. Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
c. Berkomunikasi langsung dengan Dokter
d. Perawatan adalah perawatan komfrehensif
e. Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
f. Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
g. Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan
keperawatan.
Kelemahan dari metode perawat primer:
a. Perlu kualitas dan
b. kuantitas tenaga perawat,
c. Hanya dapat dilakukan oleh perawat professional
d. Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.

4. Metode penugasan pasien/metode kasus


Yaitu pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu
atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga
selama periode waktu tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan
bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan
tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf perawat
ditugaskan oleh kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada
pasien yang ditugaskan contohnya di ruang isolasi dan ICU.
Kekurangan metode kasus:
a. Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas
sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh
b. Membutuhkan banyak tenaga.
c. Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin
yang sederhana terlewatkan.
28
d. Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung
jawab klien bertugas.
Kelebihan metode kasus:
a. Kebutuhan pasien terpenuhi.
b. Pasien merasa puas.
c. Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.
d. Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.

29
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

manajemen strategi menurut Fred R. David Manajemen strategi adalah seni


dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan
lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan.

Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan keempat


unsur : standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan, dan sistem MAKP.

Ada beberapa metode sistim pemberian asuhan keperawatan kepada pasien.


Dari beberapa metode yang ada, maka institusi pelayanan perlu mempertimbangkan
kesesuaian metode tersebut untuk diterapkan. Sehingga perlu diantisipasi “ jangan
merubah suatu system justru merubah permasahannya”.

model asuhan keperawatan profesional (makp) Keberhasilan suatu asuhan


keperawatan kepada klien sangat ditentukan oleh pemilihan metode pemberian asuhan
keperawatan professional. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat
akan pelayanan keperawatan dan tuntutan perkembangan IPTEK, maka metode sistem
pemeberian asuhan keperawatan harus efektif dan efisien.

30
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 1995. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit.Jakarta:Departemen Kesehatan RI.


Grant, A.B, dan V.H.Massey.1999.Nursing Leadership, Management, and Reseaech.
Pennsylvania:Springhouse Corporation.
Marquis, B.L., J. Carol, dan C.J. Huston. 1998. Management Decision Makingfor Nurses.
New York: Philadelphia.
Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Penerbit Salemba Medika: Jakarta.

31