Anda di halaman 1dari 13

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pajak Daerah

Chintia Ratna Nastiti


Dr.Susilo, SE., MS.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Email : Chintia.ratna@yahoo.co.id
A. Pendahuluan
Sejak pemerintah pusat mengeluarkan peraturan baru yaitu adanya surat ketetapan MPR No
XV/MPR/1998 tentang pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya nasional yang berkeadilan serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka Negara kesatuan republik Indonesia yang
menetapkan bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas,
nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara seimbang. Dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan pemerintah daerah wajib berusaha mencukupi belanja rutin
dengan pendapatan daerah sendiri, dengan diwujudkan dengan peraturan tersebut, pembagian dan pemanfaatan
sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan peradilan keuangan pusat dan daerah. Dimana
pemerintah daerah dan masyarakat harus bisa berperan aktif dalam mengelola potensi dan sumber daya daerah
guna meningkatkan kemajuan dan pembangunan daerah. Dalam hal ini pemerintah pusat memberikan
kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus rumah-tangganya sendiri dalam ikatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini
pemerintah pusat memberikan kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus rumahtangganya
sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundangundangan
yang berlaku. Dengan adanya laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah diperlukan
sumber pembiayaan dalam melaksanakan kegiatan rumah-tangga daerah maka sumber-sumber tersebut di
dapat dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pemerintah daerah juga harus mengedepankan pengeluaran
atau pembiayaan daerah yang khususnya dari pajak daerah, karena pajak daerah tersebut merupakan salah satu
sumber Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Dalam UU No 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan pungutan uang daerah yaitu di mana pajak
hiburan, pajak reklame, dan pajak parkir merupakan bagian dari pajak daerah dan merupakan salah satu
sumber pendapatan daerah guna membiayai penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan kabupaten
Madiun. Adapun permasalahan dalam pemungutan pajak daerah yaitu belum tergalinya potensi Pendapatan
Asli Daerah (PAD) terutama pajak daerah akibat diberlakukannya undang-undang nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah secara maksimal, kurangnya kesadaran wajib pajak
dalam membayar kewajiban pajak sehingga perlunya peningkatan pengelolaan administrasi pendapatan
berbasis teknologi informasi, masih terbatasnya sumber daya aparatur (Petugas Pemungut) khususnya untuk
menjangkau objek pajak di wilayah terpencil seperti perlunya pendataan wajib pajak secara berkala yang belum
terdaftar) dan jumlah petugas pemungut PNS hanya ada 10 orang, belum tergalinya wisata di wilayah terpencil
yaitu widas, kare(taman bunga) jumlah petugas pemungut PNS ada 10 orang , potensi pendapatan dari bagi
hasil pajak pusat maupun propinsi sangat kecil sehingga penerimaan masih mengandalkan hasil pemerataan,
ketergantungan pendapatan daerah dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi masih cukup tinggi,
lahan kabupaten madiun sebagian besar daerah pertanian yang hasilnya bisa diambil musim tertentu seperti musim
hujan karena daerah kabupaten Madiun adalah daerah tandus dan daerah pegunungan, dan penduduk kabupaten
Madiun sebagian besar berpenghasilan dari bercocok tanam.
Program-program yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi permasalah tersebut yaitu dapat
dilakukan dengan cara mendorong peningkatan kinerja pemerintah daerah sehingga dapat menjalankan tugas
pemerintahan daerah secara tertib dan profesional melalui peningkatan kualitas SDM dan pengembangan etika
moral petugas pemerintah, perbaikan ruang partisipasi publik sebagai upaya meningkatkan hubungan antar bagian,
peningkatan pendapatan asli daerah untuk meningkatkan penerimaan daerah, meningkatkan peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul:
“penyelidikan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pajak Daerah” (Studi kasus di Bappeda Kabupaten Madiun).
Sehingga, pokok masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh PDRB, Inflasi (kemerosotan nilai uang), Jumlah Penduduk secara menyeluruh terhadap
pajak daerah di
Kabupaten Madiun ?
2. Bagaimana pengaruh PDRB, Inflasi (kemerosostan nilai uang), Jumlah Penduduk secara bersama-sama terhadap
pajak daerah di
Kabupaten Madiun ?
B. Kajian Pustaka
Pengertian Otonomi Daerah (peraturan daerah)
Otonomi (peraturan) daerah menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah bahwa
wewenang Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang diserahkan oleh
Pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan pendapat
masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah Otonom, sebagai sebutan umum bagi
Provinsi, Kabupaten dan Kota, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan Otonomi Daerah
Menurut Syarif Hidayat dalam Halim (2004, 23) tujuan otonomi (peraturan) daerah dibedakan dalam dua sisi
kepentingan yaitu kepentingan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dari kepentingan Pemerintah
Pusat tujuan utamanya adalah pendidikan politik, pelatihan kepemimpinan, menciptakan keseimbangan politik
dan mewujudkan kebebasan sistem pemerintahan di daerah. Sedangkan dilihat dari kepentingan
Pemerintah Daerah terdapat tiga tujuan :
1. Untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai political equality, artinya melalui otonomi daerah
diharapkan akan lebih membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai
aktivitas politik ditingkat local atau daerah.
2. Untuk menciptakan local accountability, artinya dengan otonomi akan meningkatkan kemampuan
pemerintah daerah dalam memperhatikan hak-hak masyarakat.
3. Untuk mewujudkan local responsiveness, dengan otonomi akan meningkatkan kecepatan
pembangunan social dan ekonomi.
Sementara itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 bahwa tujuan pemberian otonomi
daerah berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan
kehidupan system keadilan, dan pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan
Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Definisi APBD dan Ruang Lingkupnya
Pengertian APBD
Menurut Mardiasmo (2005:61) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan alat kebijakan
yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai alat kebijakan, biaya daerah menduduki posisi
menengah dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas. Anggaran daerah digunakan sebagai alat
untuk menentukan besar pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan
pembangunan.
Tujuan APBD
Menurut Ericson Damanik (2015) tujuan APBD:
a. Membantu pemerintah daerah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan hubungan antar bagian dalam
lingkungan pemerintah daerah.
b. Membantu menciptakan ketepatan dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui
proses berurutan
c. Memungkinkan pemerintah daerah memenuhi prioritas belanja
d. Meningkatkan transparansi dan pertanggung jawaban pemerintah daerah kepada DPRD dan masyarakat
luas.
Prinsip penyusunan APBD
Menurut Mustopadidjaya (1997:8) kegiatan Penyusunan Anggaran Pemerintah Daerah (APBD)
meliputi perencanaan pendapatan dan pengeluaran. Pada sisi pendapatan dilakukan penilaian
penerimaan daerah yang mungkin dicapai pada tahun yang akan datang, begitu juga dengan
pemikiran pengeluaran rutin, termasuk belanja pegawai dan lain sebagainya. Atas dasar pemikiran
penerimaan dan pengeluaran rutin tersebut diketahui, besar tabungan pemerintah, dengan
demikian besarnya dana untuk mencapai berbagai sasaran dapat diperhitungkan.
Prinsip-prinsip dasar (azas) yang berlaku di bidang pengelolaan Anggaran Daerah yang berlaku
juga dalam pengelolaan Anggaran Negara / Daerah sebagaimana bunyi penjelasan dalam Undang
Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara, yaitu :
1. Kesatuan : Azas ini menghendaki agar semua Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah
disajikan dalam satu dokumen anggaran.
2. Universalitas (umum): Azas ini mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan secara utuh
dalam dokumen anggaran.
3. Tahunan : Azas ini membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun tertentu
4. Spesialitas (khusus) : Azas ini mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara jelas
peruntukannya.
5. Akrual (terperinci) : Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani untuk pengeluaran
yang seharusnya dibayar, atau menguntungkan anggaran untuk penerimaan yang seharusnya
diterima, walaupun sebenarnya belum dibayar atau belum diterima pada kas
6. Kas : Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani pada saat terjadi
pengeluaran/ penerimaan uang dari/ ke Kas Daerah.
Definisi PAD dan Ruang Lingkupnya
Pengertian PAD
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pusat dan Daerah Pasal 1 angka 18 bahwa “Pendapatan asli daerah, selanjutnya disebut PAD
adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan”
Menurut Warsito (2001:128) “ Pendapatan asli daerah (PAD) adalah pendapatan yang bersumber
dan dipungut sendiri oleh pemerintah daerah. Sumber PAD terdiri dari: pajak daerah, pungutan
daerah, keuntungan dari badan usaha milik daerah (BUMD), dan pendapatan asli daerah lainnya yang
sah”.
Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah
Menurut Undang-undang No. 34 Tahun 2004 (RI, 2004) tentang Perimbangan Keuangan Negara
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah membagi Pendapatan Asli Daerah ke dalam 3
bagian yaitu :
1. Pendapatan Asli Daerah antara lain ke :
a. Pajak Daerah
b. Retribusi Daerah
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
d. Lain-lain PAD yang sah
2. Dana Perimbangan yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepala
daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
3. Lain-lain pendapatan daerah.
Definisi Pajak Daerah dan Ruang Lingkupnya
Definisi Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang No 28 Tahun 2009, Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada
daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-
Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Mardiasmo dalam buku Perpajakan (2003) dalam bukunya “Perpajakan” menyatakan
bahwa Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut daerah berdasarkan peraturan pajak yang
ditetapkan oleh daerah untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah tersebut.
Dasar Hukum Pajak Daerah
1. Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi daerah,yang
diundangkan di Jakarta dan mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu 23 Mei 1997.
2. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18
tahun1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi daerah, yang diundangkan di Jakarta dan mulai
berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu 20 Desember 2000
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1997 tentang Pajak Daerah, yang diundangkan di
Jakarta dan mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu 4 Juli 1997
4. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, yang diundangkan di
Jakarta dan mulai berlaku pada tanggal yang diundangkan, yaitu 13 September 2001
5. Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Dalam Negeri, Keputusan Menteri Keuangan,
Peraturan Daerah Provinsi, dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota di bidang Pajak Daerah.
Jenis Pajak Daerah
Pajak daerah meliputi Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota.
Pajak Provinsi terdiri dari :
a. Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang
digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau
peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi
tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat
besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor, dan tidak melekat secara
tetap serta kendaraan bermotor yang dijalankan di air. Pemungutan Pajak Kendaraan
Bermotor di dasarkan pada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 3-
8.
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan
bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang
terjadi karena jual beli, tukar-menukar, hibah (pemeberian secara suka rela), warisan, atau pemasukan ke dalam
badan usaha.
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) adalah pajak atas penggunaan bahan bakar
kendaraan bermotor. Bahan bakar kendaraan bermotor adalah semua jenis bahan bakar cair
atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor. Pengenaan PBBKB tidak terbatas ada
pada seluruh daerah provinsi yang ada di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kewenangan
yang diberikan kepada pemerintah provinsi untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu
jenis pajak provinsi. Karena itu untuk dapat dipungut pada suatu daerah provinsi maka
pemerintah daerah harus terlebih dahulu mengeluarkan Peraturan Daerah tentang PBBKB yang
akan menjadi dasar hokum penggunaan dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan
pemungutan PBBKB di daerah provinsi yang bersangkutan.
d. Pajak Air Permukaan
Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan atau pemanfaatan air permukaan.
Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, tidak termasuk air laut,
baik yang berada di laut maupun di darat. Pajak air permukaan semula bernama Pajak
Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (PPPABTAP)
berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. Hanya saja berdasarkan Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009, PPPABTAP dipecah menjadi dua jenis pajak, yaitu Pajak Air
Permukaan dan Pajak Air Bawah Tanah, dimana pajak air permukaan dimasukkan sebagai
pajak provinsi sedangkan pajak air bawah tanah ditetapkan menjadi pajak kabupaten/kota.
e. Pajak Rokok
Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh pemerintah pusat.
Pajak Kabupaten/Kota, meliputi :
a. Pajak Hotel
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 20 dan 21, Pajak Hotel
adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa
penginapan/ peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang
mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah
penginapan dan sejenisnya serta rumah kos yang dengan jumlahnya lebih dari 10 kamar.
b. Pajak Restoran
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 22 dan 23, Pajak
Restoran adalah pajak atas pelayanan yang diesdikan oleh restoran. Restoran adalah fasilitas
penyedia makanan dan minuman dengan dipungut bayaran, yang mencangkup juga rumah
makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya dengan katering.
c. Pajak Hiburan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 24 dan 25, Pajak
Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua jenis tontonan,
pertunjukkan, permainan, dan keramaian yang dinikmati dengan dipungut biaya.
d. Pajak Reklame
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 26 dan 27, Pajak
Reklame adalah pajak atas penylenggaraan reklame. Reklame adalah benda, alat, perbuatan,
media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan,
menganjurkan, mempromosikan, atau menarik perhatian umum terhadap bartang atau jasa
yang dapat dinikmati oleh umum.
e. Pajak Penerangan Jalan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 28, Pajak Penerangan
Jalan (PPJ) adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun
diperoleh dari sumber lain. Penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik untuk
menerangi jalan umum yang rekeningnya di bayar oleh pemerintah daerah.
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Buatan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 29 dan 30, Pajak
Mineral Bukan Logam dan Buatan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan
logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan atau permukaan bumi untuk
dimanfaatkan. Mineral bukan logam dan batuan adalah mineral bukan logam dan buatan
sebagaimana dimaksud di dalam perundang-undangan di bidang mineral dan batu bara. Pajak
Mineral Bukan Logam dan Buatan merupakan pengganti dari Pajak Pengambilan Bahan
Galian Golongan C yang semula diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 dan
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000.
g. Pajak Parkir
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 31 dan 32, Pajak Parkir
adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan
berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Parkir aadalah keadaan tidak bergerak
suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.
h. Pajak Air Tanah
Pajak air tanah adalah pajak atas pengambilan atau pemanfaatan air tanah. Air tanah adalah
air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Pajak Air Tanah
semula bernama Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Tanah dan Air Permukaan
(PPPABTAP) berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 dan merupakan jenis
pajak provinsi. Hanya saja berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, PPPABTAP
dipecah menjadi dua jenis pajak, yaitu, Pajak Air Permukaan dan Pajak Air Tanah. Di mana
Pajak Air Permukaan di masukkan sebagai pajak provinsi sedangkan Pajak Air Tanah
ditetapkan menjadi pajak Kabupaten/Kota.
i. Pajak Sarang Burung Walet
Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan pengusahaan sarang
burung wallet. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu collocalia
fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi. Pajak Sarang
Burung Walet merupakan jenis pajak kabupaten/kota yang baru ditetapkan berdasrkan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
j. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan
bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan dimanfaatakan oleh orang pribadi atau badan, kecuali
kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
Bumi adalah permukaan bumi yang meliputitanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah
kabupaten/kota. Sedangkan bangunan adalah susunan teknik yang ditanam atau ditempelkan
secara tetap pada tanah atau perairan pedalaman atau laut. PBB Perdesaan dan Perkotaan
merupakan jenis pajak kabupaten/kota yang baru diterapkan berdasarkan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009.
k. Bea Peroleh Hak Atas Tanah dan Bangunan
Bea Peroleh Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak atas perolehan hak atas
tanah atau bangunan. Perolehan hak atas tanah atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa
hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah atau bangunan olehorang pribadi
atau badan. Maksud dari hak atas tanah dan bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak
pengelolaan, beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang di
bidang pertahanan dan bangunan. BPHTB merupakan jenis pajak kabupaten/kota yang baru
diterapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
Suatu daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak di atas dapat tidak dipungut jika
potensinya kurang memadai dan disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan oleh
Peraturan Daerah.
C. Model Penelitian
Pendekatan Penelitian dan Metode pengeumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian . Metode kuantitatif merupakan
metode-metode dapat diartikan dengan meneliti jumlah penduduk atau sampel tertentu, pengumpulan data
menggunakan peralatan penelitian, analisis data menggunakan uji statistik, dengan tujuan untuk
menguji pendapat yang telah ditetapkan lebih jauh lagi penelitian ini menggunakan
menggunakan pendekatan jumlah penggambaran. Penelitian deskriptif (penggambaran) merupakan pencarian
kebenaran berupa pengaruh-pengaruh dalam suatu kejadian dengan pandangan yang tepat. Jenis data yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah data data sekunder. Data sekunder diperoleh dari data
yang ada, baik buku literatur maupun dari sumber-sumber lain. Data sekunder tersebut dalam
bentuk pajak daerah dari tahun 1993-2014, PDRB dari tahun 1993-2014, Inflasi (kemerosotan nilai uang) dari tahun
1993-2014, dan jumlah penduduk dari tahun 1993-2014. Dalam penelitian ini menggunakan metode
dokumentasi yaitu pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan mempelajari buku-buku
yang diterbitkan oleh Pemerintahan Kabupaten Madiun, Dinas Pendapatn Daerah, Badan Pusat
Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Madiun, serta buku-buku yang
memiliki keterkaitan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yang diperoleh melalui
perpustakaan dan download internet.
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif (penjumlahan), yang akan
dilakukan dengan menggunakan model ekonometrika untuk mencerminkan hasil dari pembahasan
yang dinyatakan dalam angka. Maka analisis yang digunakan adalah analisis regresi Ordinary
Least Square (OLS) dengan rincian model sebagai berikut:
PJKD = + PDRB + INF + JPDDK + ei
Keterangan :
PJKD = Pajak Daerah (dalam satuan rupiah)
PDRB = Produk Domestik regional Bruto(dalam satuan jutaan rupiah)
INF = Inflasi (dalam satuan persen)
JPDDK = Jumlah Penduduk (dalam satuan jiwa pertahun)
= Konstanta
1, 1, 1 = Koefisien Regresi dari variabel yang digunakan
ei = Variabel Pengganggu
Uji Estimasi Data
Digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentase sumbangan variabel bebas terhadap
variabl terikat. Ketika nilai R² adalah mendekati 1 maka terdapat hubungan yang kuat dan erat
antara variabel terikat dengan variabel bebasnya dan hasil tersebut dianggap hasil penelitian yang
baik
1. Uji Simultan (Uji F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara keseluruhan
secara statistik terhadap variabel dependennya. Kriteria (α = 0,05):
Jika Sig. > α, maka Ho diterima
Jika Sig. < α, maka Ha ditolak
2. Uji Parsial (Uji T)
Untuk melihat adanya pengaruh dari tiap-tiap variabel bebas (parsial) terhadap variabel
terikat dengan asumsi variabel bebas lainnya sementara dianggap konstan maka dapat
digunakan uji t. Kriteria (α = 0,05):
Jika Sig. > α, maka Ho diterima
Jika Sig. < α, maka Ha ditolak
3. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Autokerelasi
Autokorelasi merupakan keadaan dimana terdapat korelasi antara variabel gangguan
pada periode tertentu dengan variabel pada periode lain dengan kata lain dalam
penelitian tersebut variabel gangguannya adalah tidak random. Dalam penelitian ini
untuk mengetahui adanya hubungan autokorelasi yang terjadi dalam model regresi akan
dilihat dengan uji Durbin-Watson.
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah antara tiap variabel bebas
terdapat hubungan secara linier dalam persamaan regresi yang digunakan. Dalam
penelitian ini untuk menguji adanya multikolinearitas akan dilakukan dengan
membandingkan nilai R² hasil regresi antara variabel terikat dengan variabel bebas
dengan R² yang didapat dari hasil regresi antar variabel bebasnya.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk mengetahui a ketidaksamaan varian (macam) dari residual (gangguan) suatu pengamatan
ke pengamatan yang lain. Heteroskedastisitas terjadi apabila dalam variabel gangguan tidak
mempunyai macam yang sama untuk semua hasil peninjauan. heteroskedastisitas adalah
melalui uji Glejser yakni dengan melakukan regresi antara residual absolute (ıUı) dengan
semua variabel bebasnya di dalam penelitian. Jika nilai kemungkinan hasil urutan
antara ıUı dengan tiap-tiap variabel bebas adalah lebih besar dari 0,05 berarti tidak ada
variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap residual kuadratnya.
d. Uji Normalitas Data
Jika dalam model tertanda adanya kewajaran, maka dalam model nilai distribusi (penyaluran)
residual/gangguan dari hasil perkiraan tersalur secara wajar. Dalam penelitian ini
digunakan metode non parametrik kolmograf- smirnov. Dengan ketentuan jika nilai
Asymp.sig dari model regresi adalah < 0,1 maka dalam model tersebut memiliki residual
yang terdistribusi secara tidak normal. Demikian sebaliknya.
D. Hasil dan Pembahasan
Gambaran Objek Penelitian
Obyek penelitian dalam penulisan ini meliputi pola pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten
Madiun dan hubungan pajak daerah yang dipenngaruhi oleh PDRB,inflasi (penurunan nilai uang) dan jumlah
penduduk. Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran
tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan
pembangunan daerah. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu
APBD maka analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan
keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 tahun sebelumnya. Dalam hubungannya dengan RPJM
Daerah, APBD merupakan perjanjian politik penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk mendanai
langkah pembangunan pada satuan program dan kegiatan selama kurun waktu 5 tahun. Hubungan
antara dokumen perencanaan strategik dengan anggaran, dapat dilihat dalam gambar 4.1 sebagai
berikut :
Gambar 4.1 : Kerangka Hubungan Antara Kebijakan Keuangan Daerah / APBD Dengan
RKPD dan Visi, Misi, Strategi RPJMD
Sumber: BAPPEDA Kabupaten Madiun
Arah kebijakan keuangan daerah Kabupaten Madiun mengandung makna bahwa:
a. Pendapatan Daerah diperoleh dari berbagai sumber pendapatan sesuai ketentuan yang
berlaku;
b. Belanja Daerah digunakan sepenuhnya untuk mendukung kebijakan dan prioritas strategis
jangka menengah 5 tahunan;
c. Pembiayaan Daerah merupakan semua penerimaan yang perlu dibayar kembali atau pengeluaran
yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun
anggaran berikutnya.
Gambar 4.2 : Realisasi APBD Kabupaten Madiun Tahun 2008-2012
Sumber: DISPENDA Kabupaten. Madiun,2012
Kinerja pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat sangat ditentukan kondisi
kemampuan atau kapasitas keuangan Kabupaten Madiun. Secara umum perkembangan APBD
2008-2012 menunjukkan kecenderungan meningkat, baik pendapatan maupun belanja sehingga
mengalami peningkatan surplus, dengan peningkatan surplus tertinggi pada tahun 2010. Kekurangan
belanja terjadi pada tahun 2008 dan 2009, yaitu pada tahun 2008 dengan pendapatan sebesar Rp.
655.006.788.742,49 sementara belanja mencapai Rp.661.944.333.869,57 sehingga terjadi kekurangan
sebesar Rp. 6.937.545.127,08. Sedangkan pada tahun 2009 dengan pendapatan sebesar Rp.
706.349.934.777,21 untuk belanja mencapai Rp.710.714.084.954,28 sehingga APBD Kabupaten
Madiun terdapat defisit sebesar Rp. 4.364.150.177,07. Kondisi ini menunjukkan masih perlunya
upaya peningkatan pendapatan daerah untuk meningkatkan kemandirian daerah. Sumber-sumber
penerimaan daerah menurut Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 terdiri dari Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
Hasil Regresi Linear
1. Uji Asumsi Klasik
Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.7
Tabel 4.7 : Hasil Uji Normalitas
Sumber: Data primer diolah
Dari hasil perhitungan didapat nilai sig.sebesar 0.313(dapat dilihat pada Tabel 4.2) atau lebih
besar dari 0.05; maka ketentuan H0 diterima yaitu bahwa asumsi normalitas terpenuhi.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
22
.0000231
3594288804
.205
.205
-.158
.962
.313
N
Mean
Std. Dev iat ion
Normal Parametersa,b
Absolute
Positive
Negativ e
Most Extreme
Dif f erences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz
ed Residual
Test distribution a. is Normal.
b. Calculated f rom data.
2. Uji Autokorelasi
Dari tabel Durbin-Watson untuk n = 22 dan k = 3 (adalah banyaknya variabel bebas)
diketahui nilai du sebesar 1.664 dan 4-du sebesar 2.336. Hasil uji autokorelasi dapat dilihat
pada Tabel 4.8
Tabel 4.8 : Hasil Uji Autokorelasi
Sumber: Data primer diolah
Dari Tabel 4.8 diketahui nilai uji Durbin Watson sebesar 1,931 yang terletak antara 1.664 dan
2.336, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi tidak terdapat autokorelasi telah terpenuhi.
3. Uji Multikolinearitas
Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat pada Tabel 4.9
Berdasarkan Tabel 4.9, berikut hasil pengujian dari masing-masing variabel bebas:
Tolerance untuk PDRB adalah 0,873
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Observed Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
Expected Cum Prob
Dependent Variable: Y
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
1.931
Model
1
Durbin-
Watson
.873 1.146
.831 1.204
.788 1.270
X1
X2
X3
Model
1
Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Tolerance untuk Inflasiadalah 0,831
Tolerance untuk Jumlah Penduduk adalah 0,788
Pada hasil pengujian didapat bahwa keseluruhan nilai tolerance > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas.
Uji multikolinearitas dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan nilai VIF (Variance
Inflation Faktor) dengan angka 10. Jika nilai VIF > 10 maka terjadi multikolinearitas. Berikut
hasil pengujian masing-masing variabel bebas :
VIF untuk PDRB adalah 1,146
VIF untuk Inflasi adalah 1,204
VIF untuk Jumlah Pendudukadalah 1,270
Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar
variabel bebas. Dengan demikian uji asumsi tidak adanya multikolinearitas dapat terpenuhi.
4. Uji Heterokedastisitas
Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada Gambar 4.3
Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatterplot menyebar dan tidak
membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan
bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat
gejala heterokedastisitas.
5. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi ini digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh antara variabel bebas,
yaitu PDRB(X1), Inflasi(X2), Jumlah Penduduk (X3)terhadap variabel terikat yaitu Pajak
Daerah(Y).
Tabel 4.10 : Persamaan Regresi
Berdasarkan pada Tabel 4.10 didapatkan persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 0,455 X1 – 0,303X2+ 0,390X3
Dari persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
Pajak Daerah akan meningkat sebesar 0,455 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X 1
(PDRB). Jadi apabila PDRBmengalami peningkatan 1 satuan, maka Pajak Daerah akan
meningkat sebesar 0,455satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
Pajak Daerah akan menurun sebesar 0.303 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X 2
(Inflasi), Jadi apabila Inflasimengalami peningkatan 1 satuan, maka Pajak
Daerahakanmenurun sebesar 0.303 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap
konstan.
Pajak Daerah akan meningkat sebesar 0,390 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X3
(Jumlah Penduduk), Jadi apabila Inflasi mengalami peningkatan 1 satuan, maka Pajak Daerah
akan meningkat sebesar 0,390 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
Berdasarkan interpretasi di atas, dapat diketahui bahwa PDRB, dan Jumlah Penduduk
berpengaruh positif terhadap Pajak Daerah. Dengan kata lain, apabila bahwa PDRB,dan
Jumlah Pendudukmeningkat maka akan diikuti peningkatan Pajak Daerah.
6. Koefisien Determinasi (R2)
Untuk mengetahui besar kontribusi variabel bebas (PDRB(X1), Inflasi(X2), dan Jumlah
Penduduk (X3) terhadap variabel terikat (Pajak Daerah) digunakan nilai R2, nilai R2 seperti
dalam Tabel 4.11 dibawah ini:
-174730768714 6E+010 -2.759 .013
2633.200 759.380 .455 3.468 .003
-130386476.628 6E+007 -.303 -2.250 .037
272547366.975 1E+008 .390 2.824 .011
(Constant)
X1
X2
X3
Model
1
B Std. Error
Unstandardized Coef f icients
Beta
Standardized
Coef f icients
t Sig.
Tabel 4.11
Koefisien Korelasi dan Determinasi
Sumber : Data primer diolah
Koefisien determinasi digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh atau kontribusi
variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari analisis pada Tabel 4.11 diperoleh hasil R
2
(koefisien determinasi) sebesar 0,730. Artinya bahwa 73,0% variabel Pajak Daerah akan
dipengaruhi oleh variabel bebasnya, yaitu PDRB(X1), Inflasi(X2), dan Jumlah
Penduduk(X3).Sedangkan sisanya 27% variabel Pajak Daerah akan dipengaruhi oleh
variabel-variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Selain koefisien determinasi juga didapat koefisien korelasi yang menunjukkan besarnya
hubungan antara variabel bebas yaitu PDRB, Inflasi, dan Jumlah Penduduk dengan
variabel Pajak Daerah,nilai R (koefisien korelasi) sebesar 0.854, nilai korelasi ini
menunjukkan bahwa hubungan antara variabel bebas yaitu PDRB(X1), Inflasi (X2), dan
Jumlah Penduduk(X3)dengan Pajak Daerah termasuk dalam kategori sangat kuat karena
berada pada selang 0,8 – 1,0.
7. Uji F
Tabel 4.12
Uji F/Serempak
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 4.12 nilai F hitung sebesar 16,194. Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db
regresi = 3 : db residual =18) adalah sebesar 3,160. Karena F hitung > F tabel yaitu
16,194>3,160atau nilai sig F (0,000) <α = 0.05 maka model analisis regresi adalah signifikan.
Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat
(Pajak Daerah) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh variabel bebas (PDRB(X 1),
Inflasi(X2), dan Jumlah Penduduk (X3).
.854 .730 .685
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
ANOVAb
732213349895249000000.000 3 244071116631749900000 16.194 .000a
271297152122522100000.000 18 15072064006806780000.0
1003510502017772000000.0 21
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant a. ), X3, X1, X2
b. Dependent Variable: Y
8. Uji t
Tabel 4.13
Hasil Uji t / Parsial
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 4.13 diperoleh hasil sebagai berikut :
t test antara X1 (PDRB) dengan Y (Pajak Daerah) menunjukkan t hitung = 3,468.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 18) adalah sebesar 2,101. Karena t hitung > t
tabel yaitu3,468>2,101atau nilai sig t (0,003) <α = 0.05 maka pengaruh X 1 (PDRB)
terhadap Pajak Daerah adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1diterima
sehingga dapat disimpulkan bahwa Pajak Daerah dapat dipengaruhi secara signifikan
oleh PDRBatau dengan meningkatkan PDRB maka Pajak Daerah akan mengalami
peningkatan secara nyata.
t test antara X2 (Inflasi) dengan Y (Pajak Daerah) menunjukkan t hitung = 2,250.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 18) adalah sebesar 2,101. Karena t hitung > t
tabel yaitu3,468 >2,101atau nilai sig t (0,037) <α = 0.05 maka pengaruh X 2 (Inflasi)
terhadap Pajak Daerahadalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1
diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Pajak Daerah dapat dipengaruhi secara
signifikan oleh Inflasi atau dengan meningkatkan Inflasi maka Pajak Daerah akan
mengalami peningkatan secara nyata.
t test antara X3 (Jumlah Penduduk) dengan Y (Pajak Daerah) menunjukkan t hitung =
2,824. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 18) adalah sebesar 2,101. Karena t
hitung > t tabel yaitu2,824 >2,101atau nilai sig t (0,011) <α = 0.05 maka pengaruh X 3
(Jumlah Penduduk) terhadap Pajak Daerahadalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini
berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Pajak Daerahdapat
dipengaruhi secarasignifikan oleh Jumlah Penduduk atau dengan meningkatkan Jumlah
Penduduk maka Pajak Daerah akan mengalami peningkatan secara nyata.
Dari hasil keseluruhan dapat disimpulkan bahwa variabel bebas mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap Pajak Daerah secara simultan dan parsial. Dan dari
sini dapat diketahui bahwa ketiga variabel bebas tersebut yang paling dominan
pengaruhnya terhadap Pajak Daerah adalah PDRB karena memiliki nilai koefisien beta
dan t hitung paling besar.
-174730768714 6E+010 -2.759 .013
2633.200 759.380 .455 3.468 .003
-130386476.628 6E+007 -.303 -2.250 .037
272547366.975 1E+008 .390 2.824 .011
(Constant)
X1
X2
X3
Model
1
B Std. Error
Unstandardized Coef f icients
Beta
Standardized
Coef f icients
t Sig.
Hasil Penelitian
Berdasarkan koefisien regresi linear berganda dalam persamaanya dapat di jelaskan pengaruh
setiap variabel indepnden pada variabel dependen. Dapat disimpulkan bahwa variabel Pajak
daerah dipengaruhi oleh variabel PDRB, inflasi, jumlah penduduk dengan persamaan regresi
sebagai berikut :
1. Nilai koefisien regresi 0,455 menunjukkan jika variabel independen yaitu PDRB semakin
tinggi, maka dapat meningkatkan variabel dependen Y yaitu pajak daerah, dapat diartikan adanya
peningkatan pada PDRB maka dapat mempengaruhi kenaikan pada pajak daerah.
2. Nilai koefisien regresi 0,303 menunjukkan jika variabel independen X2 yaitu inflasi semakin
tinggi, maka dapat meningkatkan variabel dependen Y yaitu pajak daerah, dapat diartikan
adanya peningkatan pada inflasi maka dapat mempengaruhi kenaikan pada pajak daerah.
3. Nilai koefisien regresi 0.390 menunjukkan jika variabel independen X3 yaitu jumlah penduduk
semakin tinggi, maka dapat meningkatkan variabel dependen Y yaitu pajak daerah, dapat
diartikan adanya peningkatan pada jumlah penduduk maka dapat mempengaruhi kenaikan
pada pajak daerah.
Pembahasan
1. Pengaruh Variabel PDRB (X1) Terhadap Pajak daerah (Y)
Dari hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan oleh penulis, dapat dilihat bahwa
nilai parameter atau koefisien regresi 1 dari PDRB adalah
0.455 dengan nilai sig yaitu 0,003 menunjukkan bahwa variabel PDRB meningkat 1
satuan (dalam arti meningkat satu tahun), maka pajak daerah akan meningkat sebesar Rp 4550
(rupiah) dengan asumsi variabel bebas yang lain tetap. Koefisien dari variabel PDRB bertanda
(+) yang berarti bahwa variabel PDRB mempunyai pengaruh positif terhadap pajak daerah .
Ketika terjadi penambahan PDRB maka dapat disimpulkan semakin tinggi nilai PDRB suatu
daerah, semakin besar pula potensi pajak daerah tersebut . Disamping itu semakin tinggi
pendapatan seseorang, maka akan semakin tinggi pula kemampuan seseorang untuk membayar
pajak (ability to pay) berbagai pungutan,seperti pajak yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Dari hasil penjelasan analisis di atas sesuai dengan penelitian dari Kristiana Advina Helti
(Jurnal Ilmiah, 2010) tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pajak Daerah Serta
Tingkat Efisiensi dsn Efektivitas Dalam Pemungutan “ dimana dalam penelitian ini PDRB
berpengaruh positif terhadap pajak daerah sektoral di Kabupaten Karanganyar.
2. Pengaruh Variabel Inflasi (X2 ) Terhadap Pajak Daerah (Y)
Dari hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan, dihasilkan nilai parameter atau
koefisien regresi 2 dari inflasi adalah -0,303 dengan nilai sig 0,37 bahwa setiap variabel
inflasi meningkat 1 satuan (dalam arti meningkat satu tahun), maka pajak daerah akan
meningkat sebesar Rp 3030 (rupiah) dengan asumsi variabel bebas yang lain tetap. Koefisien
dari variabel inflasi ini adalah bertanda (+) yang mempunyai arti bahwa variabel inflasi
mempunyai pengaruh positif terhadap pajak daerah. Inflasi menyebabkan berkurangnya daya
beli masyarakat dan menyebabkan peningkatan biaya perusahaan. Peningkatan biaya produksi
akan menyebabkan keuntungan yang diperoleh perusahaan berkurang. Oleh karena
berkurangnya keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka penerimaan pajak yang dipungut
pemerintah terhadap perusahaan tersebut menjadi semakin menurun. Disini dapat ditarik
kesimpulan bahwa laju inflasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah, dimana
bila laju inflasi meningkat, maka penerimaan pajak daerah akan menurun (Nopirin,Ph.D,
1987). Hasil ini juga sesuai analisis di atas sesuai dengan penelitian dari Kristiana Advina
Pajak Daerah = 0,455 X1(PDRB) – 0,303X2(Inflasi)+ 0,390X3(Jumlah
Penduduk)
Helti (Jurnal Ilmiah, 2010) tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pajak
Daerah Serta Tingkat Efisiensi dsn Efektivitas Dalam Pemungutan “ dimana dalam penelitian
ini inflasi berpengaruh positif terhadap pajak daerah sektoral di Kabupaten Karanganyar.
3. Pengaruh Variabel Jumlah Penduduk (X3) Terhadap Pajak Daerah (Y)
Dari hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan, dihasilkan nilai parameter atau
koefisien regresi 3 dari jumlah penduduk adalah 0,390 dengan nilai sig 0,011 menunjukkan
bahwa setiap variabel lama kerja meningkat 1 satuan (dalam arti meningkat satu tahun), maka
pajak daerah akan meningkat sebesar Rp 3900 (rupiah), dengan asumsi variabel bebas yang
lain tetap. Koefisien dari variabel jumlah penduduk ini adalah bertanda (+) yang mempunyai
arti bahwa variabel jumlah penduduk mempunyai pengaruh yang positif. Menurut teori
Hansen mengenai stagnasi (seculer stagnation) yang menyatakan bahwa bertambahnya
jumlah penduduk justru akan menciptakan atau memperbesar permintaan agregatif terutama
investasi. Penduduk tidak selalu menjadi penghambat pembangunan ekonomi suatu daerah.
Jika tingkat perkembangan penduduk tinggi maka untuk menghasilkan dan menyerap hasil
produksi yang dihasilkan akan tinggi pula. Berarti tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi
akan disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi. Berdasarkan uraian diatas pertumbuhan
jumlah penduduk akan berpengaruh terhadap banyaknya wajib pajak guna membayar pajak
daerah.
Hasil ini juga sesuai analisis di atas sesuai dengan penelitian dari Kristiana Advina Helti
(Jurnal Ilmiah, 2010) tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pajak Daerah
Serta Tingkat Efisiensi dsn Efektivitas Dalam Pemungutan “ dimana dalam penelitian ini
jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap pajak daerah sektoral di Kabupaten
Karanganyar.
E. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan apa sajakah yang mempunyai pengaruh pada
Pajak Daerah. Dalam penelitian ini perbedaan bebas yang digunakan adalah perbedaan PDRB
(X1) inflasi atau kemerosotan nilai uang (X2),dan Jumlah Penduduk (X3)sedangkan perbedaan terikat yang
digunakan adalah Pajak Daerah(Y).
Berdasarkan pada penghitungan penyelidikan berurutan yang terletak pada garis lurus berganda, dapat diketahui
1. Pengaruh secara simultan (bersama-sama) tiap perbedaan bebas terhadap Pajak Daerah
dilakukan dengan pengujian F-test. Dari hasil analisis regresi linier (penyelidikan berurutan) berganda diperoleh
variable (perbedaan) bebas mempunyai pengaruh yang teratur secara bersama-sama terhadap Pajak Daerah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengujian terhadap pendapat yang menyatakan bahwa
adanya pengaruh secara bersama-sama (simultan) variable (perbedaan) bebas terhadap variable (perbedaan) Pajak
Daerah dapat diterima.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara individu (parsial) variabel bebas (PDRB (X 1)Inflasi (penurunan nilai uang)
(X2), dan Jumlah Penduduk (X3) terhadap Pajak Daerah dilakukan dengan pengujian t-test.
Berdasarkan pada hasil uji didapatkan bahwa terdapat tiga variable (perbedaan) yang mempunyai
pengaruh yang teratur terhadap Pajak Daerah yaitu PDRB, kemerosotan nilai uang, dan Jumlah Penduduk.
3. Berdasarkan pada hasil uji t didapatkan bahwa variable (perbedaan) PDRB mempunyai nilai t hitung dan
Suku bilangan beta yang paling besar. Sehingga variable (perbedaan) PDRB mempunyai pengaruh yang
paling kuat dibandingkan dengan perbedaan yang lainnya maka variable (perbedaan) PDRB mempunyai
pengaruh yang menonjol terhadap Pajak Daerah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat
bermanfaat bagi perusahaan maupun bagi pihak-pihak lain. Adapun saran yang diberikan, antara
lain:
1. Diharapkan pihak perusahaan dapat mempertahankan serta meningkatkan kualitas dari PDRB,
karena variabel PDRB mempunyai pengaruh yang menonjol dalam mempengaruhi Pajak
Daerah, diantaranya yaitu dengan meningkatkan kualitas SDM dari pihak petugas negara
maupun dari pihak wajib pajak itu sendiri, sehingga Pajak Daerah akan meningkat.
2. Mengingat variable (perbedaan) bebas dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting dalam
mempengaruhi Pajak Daerah diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai tujuan bagi
peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini dengan mempertimbangkan
variabel-variabel lain yang merupakan variabel lain diluar variabel yang sudah masuk dalam
penelitian ini.