Anda di halaman 1dari 8

Sebagai ilustrasi, bila pendidikan tenaga keperawatan yang ada di wilayah provinsi Jawa Timur

sampai tahun 2007 tercatat ada 73 institusi untuk menjenjang pendidikan tinggi, dan apabila
dalam tiap tahun menerima mahasiswa baru bagi yang terakreditasi A sebanyak 100 siswa dan
terakreditasi B sebanyak 60 siswa. Berarti dalam tiap tahun lulusan yang dihasilkan adalah 7.300
lulusan, dengan asumsi semua institusi D-3 keperawatan dengan akreditasi A. Hal ini khusus
yang ada di provinsi Jawa Timur, belum lagi institusi- institusi kesehatan atau yang belum atau
tidak terdaftar di Departemen kesehatan.

b) Belum mapannya sistem informasi, sehingga jumlah peserta dan lulusan tenaga kesehatan
yang ada sering kurang akurat.
c) Sistem pengajaran dan kurikulum perlu disesuaikan dengan perkembangan yang ada,
baik untuk pemenuhan kebutuhan maupun untuk pengembangan karir yang bersangkutan.
Seharusnya penyesuaian kurikulum didasarkan pada needs assessment.
d) Bervariasinya kedua staf pengajar, baik kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat
diharapkan terjadinya variasi mutu lulusan pada institusi dan jenjang dan pendidikan
yang sama, baik lulusan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
lulusan swasta.
e) Belum mapannya tata hubungan kerja organisasi pendidikan tenaga kesehatan, khususnya
rincian tugas pusdiknes dalam tata hubungan kerja dengan UPT pusat, UPT daerah,
pemda serta swasta.
f) Permasalahan lain yang dihadapi oleh pendidikan, antara lain :
 Duplikasi kurikulum yang disusun oleh unit dan yang disusun oleh pusdiklat.
 Duplikasi sasaran pelatihan, seseorang yang sering mengikuti berbagai macam
pelatihan, sering kemudian dilimpahkan pada tenaga kerja yang kurang tepat.
 Latihan praktik, banyaknya institusi yang muncul menimbulkan terbatasnya
lahan praktik, sehingga pendidikan dan pelatihan diselenggarakan sebatas pada
teori dalam kelas dengan porsi prakikum yang angat terbatas.
 Evaluasi hasil pendidikan dan pelatihan masih lemah, sehingga sulit digunakan
sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan koreksi sistem pendidikan dan
pelatihan tenaga kerja.
3) Penyerapan atau Pemberdyagunaan Tenaga Kesehatan
Penyerapan dan pemberdayagunaan tenaga kesehatan yang melputi; penempatan,
pembinaan, dan pemberdayagunaannya.
Hampir sama dengan permasalahan yang dihadapi dalam perencanaan dan produksi
tenaga kesehatan, dalam pendayagunaan tenaga yang telah diproduksi atau dihasilkan
terdapat berbagai kendala dengan kebijaksanaan yang harus ditempuh selama ini.
Beberapa kebijakan dan kondisi yang memegauhi upaya pendayagunaan tenaga
kesehatan tersebut antara lain sebagai berikut:
a) PP no. 48 tahun 2005 tentang pengangkatan tenaga honorer, maka semua pejabat
pembina kepegawaian dan pejabat lain di lingkungan instansi pemerintah
dilarang mengangkat tenaga honorer atau sejenisnya, kecuali bila ditetapkan
dengan, PP dengan demikian, akan berimplikasi kurang baik lagi pendayagunaan
tenaga PTT pada saat ini dan masa mendatang yang hanya didasarkan pada
keppres No. 37 tahun 1991 tentang pengangkatan dokter PTT dan Keppres No.77
Tahun 1994 tentang pengangkatan bidan PTT.
b) Dicabutnya Undang-undang tentang wajib kerja sarjana, menyebabkan kesulitan
dalam penempatan tenaga kesehatan didaerah
c) Penyerapan tenaga kesehatan sangat terbatas, karena kurangnya jumlah formal
yang tersedia.
d) Pemberian insetif hanya untuk beberapa jenis tenaga strategis menyebabkan
terjadinya kecemburuan sosial diantara tenaga kesehatan lain yang juga bekerja
di daerah terpencil.
e) Permasalahan wajib kerja Departeman kesehatan (one gate policy)
pendayagunaan tenaga kesehatan memungkinkan Departeman kesehatan
mengevaluasi, mengendalikan dan memonitor pendayagunaan tenaga kesehatan
sampai pada tahun 1993. Formasi tersedia 20.000 per tahun, sehingga semua
lulusan terserap sebagai pegawai negri sipil (PNS). Namun, dengan adanya zero
growth policy tahun 1994 yang hanya menyediakan formasi sekitar 5.00.- 8.000
di satu sisi dan meningkatnya lulusan di sisi lain timbul berbagai macam
permasalahan, seperti banyaknya lulusan tenaga kesehatan yang belum terserap.
f) Keterbatasan data (kurang mampunya sistem informasi) serta sebagian besar
fasilitas kesehatan masih didominasi oleh pemerintah, maka penilaian
pendayagunaan pemerataan distribusi tenaga kesehatan masih digunakan tolak
ukur seperti rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk, rasio tenaga kesehatan
per puskesmas, dan lain-lain.
g) Sistem tour of duty belum tampak diterapkan secara konsisten, menyebabkan
rasa was-was lulusan untuk ditetapkan di daerah yang kurang diminati, tanpa
adanya kesempatan untuk pindah ke tempat yang dianggap lebih baik.
h) Pengangkatan tenaga PTT dengan batas waktu 3 tahun menyebabkan tenaga yang
bersangkutan dibayang- bayangi pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga
selama menjalani PTT maka lebih konsentrasi memikirkan nasip pasca PTT
dibandingkan tugas yang sedang dijalani.
i) Permasalahan dan alternatif yang mungkin ditempuh:
 Wajib kerja semakin kurang sejalan dengan moderenisasi budaya, meski
tempat pendidikan disubsidi oleh pemerintah. Perlu dipertimbangkan
pengangkatan tenaga kesehatan melalui pasar tenaga kerja dengan Depkes
sebagai salah-satu pilihan tempat kerja.
 PTT yang dibatasi hanya sekali tidak dapat diperpanjang dapat
berdampak pada counter productive, sehingga perlu dipertimbangkan
perpanjangan kontrak utamanya bagi mereka yang menunjukan kerja
baik. PTT hendaknya didayagunakan sesuai dengan profesinya.
 Kategori yang didayagunakan sebgai PNS seyogyanya adalah petugas
atau pejabat yang berkaitan dengan tugas administratif pemerintah yang
duduk dalam struktur organisasi pemerintah. Dengan demikian, jenis
pendidikan dan pengembangan karier secara konstan diarahkan pada
tugas- tugas administratif. Tidak menutup kemungkinan tenaga PTT
beralih status melalui pendidikan dan pelatihan formal.
4) Alternatif upaya pemberdyaan SDM kesehatan
Dalam rangka mengantisipasi era globalisasi, diperlukan pemikiran dan upaya-
upaya untuk antisipasi ke depan, supaya SDM tenaga kesehatan dapat lebih
didayagunakan, beberapa pemikiran dalam rangka upaya lebih memberdayakan
SDM kesehatan yang dapat ditempuh antara lain sebagai berikut.
a) Dengan pertimbangan masih perlu ditingkatkan kemapanan perencanaan
dan penyusunan kurikulum yang lebih beriorentasi ke masa depan tidak
dapat ditunda lagi. Dalam hal ini pusdiknakes, Pusdiklat, Dikti P&K,
Konsorsium ilmu kedokteran,tersebut yang memungkinkan dapat
dibentuk semacam “task-force” yang khusus menangani itu.
b) Kurikulum yang mengarah pada pemberian substansi yang lebih
memberikan ketrampilan pada peserta didik untuk dapat melakukan
proyeksi-proyeksi atau analisis kecendrungan harus diperkuat. Dengan
demikian peserta didik lebih siap menghadapi perubahan- perubahan yang
terjadi dengan berjalannya waktu.
c) Dengan semakin meningkatkankan tuntutan ketrampilan lulusan untuk
dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan, maka tenaga pendidik
pun perlu dipersiapkan dengan meningkatkan kemampuan dan jenjang
pendidikannya. Dengan demikian, tenaga pendidik paling sedikit
mempunyai jenjang pendidikan satu tingkat diatas lulusan yang
dididiknya.
d) Perlu diperkirakan kemungkinan mendidik tenaga profesional dibidang
kesehatan untuk memenhi kebutuhan negara lain (ekspor tenaga
profesional kesehatan) melalui penerapan kurikulum yang sesuai.
e) Strategi buka tutup keran dalam pendidikan selayaknya perlu diterapkan,
yaitu dengan mempertimbangkan proyeksi kebutuhan tenaga mendatang,
maka apabila satu jenis tenaga telah cukup atau berlebih dari jumlah yang
dibutuhkan, seharusnya instansi pendidikan tersebut untuk sementara
tidak menerima calon peserta didik, sampai dengan saat di mana
ketersedaan tenaga lebih kecil dari kebutuhan.
f) Adanya ketegasan dan kebijakan yang konsisten dengan pihak- pihak
yang berwenang, yaitu Depkes dan Diknas agar tidak memberikan
rekomendasi usulan pendirian lembaga kesehatan baru, kecuali hanya
konversi (perubahan dari pendidikan SPK ke Diploma-3, sebagaimana
telah berjalan pada tahun 1998) mengingat jumlah pendidikan yang
tersedia sudah jauh dari cukup.

Kebijakan zero growth harus diantisipasi dengan tindak lanjut yang lain seperti
peningkatan peran serta swasta. Namun, perlu adanya aturan yang jelas atau prasyarat
tertentu untuk penyelenggaraan suatu institusi, baik milik pemerintah maupun swasta
yang dapat beroprasi, misalnya hanya institusi yang memang layak dapat akreditasi yang
boleh menyenggarakan, tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia harus menguasai
bahasa Indonesia, dan sebagainya. Dengan kata lain, telah ada rambu- rambu yang jelas
untuk penyenggalaraan institusi kesehatan, baik milik pemerintah maupun dan rekuitment
tenaga kesehatan yang bekerja haruslah melalui prosedur yang benar, khususnya tenaga
asing.

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN DAN KEBIJAKAN ERA OTONOMI


DAERAH
Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagaian penting dalam meningkatkan derajad
kesehatan. Dengan adanya sistem kesehatan ini tujuan pembangunan kesehatan dapat
tercapai lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan
bergantung pada berbagai komponen yang ada baik dana, fasilitas penunjang maupun
sumber daya manusia (SDM) yang ada dalam hal ini perawat, dokter, radiologi, ahli
fisioterapi, ahli gizi, dan tim kesehatan lain. Sistem ini akan memberikan kualitas
pelayanan kesehatan yang efektif dengan memperhatikan nilai- nilai budaya yang dianut
oleh komunitas. Perawat dapat memberikan pelayanan keehatan secara langsung pada
masyarakat secara berkualitas. Tiga pengertian yang terkandung dalam sistem pelayanan
kesehatan, yaitu konsep dasar sistem, konsep dasar kesehatan, dan sistem pelayanan
kesehatan.

Konsep Dasar Sistem

Pengertian Sistem

Sistem memiliki banyak pengertian. Beberapa pengertian sistem yang dipandang cukup
penting diantaranya adalah sebagai berikut;

1. Sistem adalah gabungan dari elemen- elemen yang saling berhubungan oleh suatu
proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya
menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
2. Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri atas fungsi- fungsi yang
saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai
keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien.
3. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen yang
berhubungan serta saling memengaruhi dan dengan sadar dipersiapkan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari pengertian diatas, pengertian sistem secara umum dapat dibedakan atas dua
macam, yaitu sebagai berikut.

1. Sistem sebagai suatu wujud


Sistem disebut sebagai suatu wujud (entity) apabila bagian- bagaian yang
terhimpun dalam sistem tersebut membentuk suatu wujud yang ciri- cirinya
dapat dideskripsikan atau digambarkan dengan jelas. Berdasarkan sifat
bagian- bagian yang membentuk sistem, maka sistem sebagai wujud dapat
dibedakan atas dua macam :
a) Sistem sebagai suatu wujud yang konkret. Sifat dari bagian- bagian
yang membentuk sistem adalah konkret dalam arti dapat ditangkap
oleh panca indra. Misalnya suatu mesin, maka yang menjadi bagian-
bagiannya adalah berbagai suku cadang.
b) Sistem sebagai suatu wujud yang abstrak. Sifat dari bagian- bagaian
yang membentuk sistem adalah abstrak, dalam arti tidak dapat
ditangkap oleh panca indra. Misalnya, sistem kebudayaan, maka yang
menjadi bagian- bagiannya adalah berbagai unsur budaya.
2. Sistem sebagai suatu metode
Sistem disebut suatu metode (method) apabila bagian- bagaian yang
terhimpun dalam sistem tersebu membentuk suatu metode yang dapat
digunakan sebagai alat dalam melakukan pekerjaan administrasi. Misalnya
sistem pengawasan, maka yang menjadi bagian- bagian pembentukannya
adalah berbagai peraturan.

Ciri- ciri Sistem

Sesuatu disebut sistem apabila dia memiliki beberapa ciri pokok sistem. Ciri- ciri pokok yang
dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut

Menurut Elias M. Awad (1979)

Sistem bukanlah sesuatu yang berada diruang hampa, melainkan selalu berinteraksi dengan
lingkungan. Bergantung pada pengaruh interaksi dengan lingkungan tersebut, sistem dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu;

1. Sistem bersifat terbuka


Dikatakan terbuka apabila sistem tersebut berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya. Pada sistem yang bersifat terbuka, berbagai pengaruh diterima dari
lingkungan dapat dimanfaatkan oleh sistem. Pemanfaatan seperti ini memang
memnungkinkan, karena di dalam sistem terdapat mekanisme penyesuaian
diri, yang antara lain karena adanya unsur umpan balik (feed back)
2. Sistem bersifat tertutup
Dikatakan tertutup apabila sistem tersebut dalam berinteraksi dengan
lingkungannya tidak memengaruhi.
a) Sistem mempunyai kemempuan untuk mengatur diri sendriri, yang
anatara lain juga disebabkan karena didalam sistem terdapat umpan
balik (feed back).
b) Sistem terbentuk atas dua atau lebih subsistem, dan tiap subsistem
terdiri atas dua atau lebih subsistem lain yang lebih kecil, demikian
seterusnya.
c) Antara satu subsistem dengan subsistem lainnya terdapat hubungan
yang saling tergantung dan memengaruhi. Keluaran subsistem menjadi
masukan bagi subsistem lain yang terdapat dalam subsistem.
d) Sistem mempunyai tujuan atau sasaran yang ingin dicapai,, pada
dasarnya, tercapainya tujuannatau sasaran ini adalah sebagai hasil
kerja dari berbagai subsistem yang terdapat dalam sistem.

Ciri- ciri Sistem Menurut Shode dan Dan Voich Jr (1974)

1. Sistem mempunyai tujuan, karena itu mempunyai perilaku yang ada pada
sistem pada dasarnya bermaksud mencapai tujuan tersebut (purposive
behavior)
2. Sistem, sekalipun terdiri atas berbagai bagaian atau elemen, tetapi secara
keseluruhan merupakan suatu yang bulat dan utuh (wholism) jauh melebihi
kumpulan bagian elemen tersebut.
3. Berbagai bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem saling terkait,
berhubungan serta berinteraksi.
4. Sistem bersifat terbuka dan slalu berinteraksi dengan sistem lain yang lebih
luas, yang biasanya yang disebut dengan lingkungan.
5. Sistem mempunyai kemempuan transformasi,artinya mampu mengubah
sesuatu menjadi susuatu yang lain. Dengan kata lain, sistem mampu
mengubah masukan menjadi keluaran.
6. Sistem mempunyai mekanisme pengendalian, baik dalam rangka menyatukan
berbagai bagian atau elemen, juga dalam rngka megubah masukan menjadi
keluaran.

Dari dua pendapat ahli tersebut tentang ciri- ciri sistem, pada dasarnya tidak banyak berbeda.
Sehingga dapat dengan mudah dipahami. Dan secara sederhana, ciri- ciri tersebut dapat
dibedakan atas empat macam, yaitu:

1. Dalam sistem terdapat bagian atau elemenyang satu sama lain saling berhubungan dan
memengaruhi, yang semuanya membentuk suatu kesatuan, dlaam arti semuanya
berfungsi untuk mencapai tujuan yang sama yang telah ditetapkan.
2. Fungsi yang diperankan masing- masing bagian tau elemen yang membentuk suatu
kesatuan tersebut adalah dalam rangka mengubah masukan menjadi keluaran yang
direncanakan.
3. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, semuanya bekerja sama secara bebasnamun terkait,
dalam arti terdapat mekanisme pengendalan yang mengarahkannya agar tetap berfungsi
sebagaimana yang telah direncanakan.
4. Sekalipun sistem merupakan satu kesatuan yang terpadu, bukan berarti ia tertutup
terhadap lingkungan.

Unsur Sistem

Sistem terbentuk atas bagian atau elemen yang saling berhubungan dan memengaruhi.
Adapun yang dimaksud dengan bagian atau elemen tersebut ialah suatu yang mutlak harus
ditemukan, yang jika tidak demikian, maka tidak ada yang disebut dengan sistem itu sendiri.