Anda di halaman 1dari 6

5 pendekatan dalam pengawasan

1. Pendekatan Klasik
Dalam pendekatan klasik penagawasan di dasarkan pada ide dan pikiran
“ekonomi yang rasional” serta pandangan ilmiah. Disini sistem pengawasan ditekankan
pada formalisasi tujuan dan tugas tugas manajemen (Flippo 1966), pendekatan ini
didasarkan pada konsep “Scientific Management” yang diperkenankan oleh Taylor
dahulu dimana manajer mengharapkan kepatuhan, menggunakan kekuasaan untuk
mengarahkan dan memberikan perintah serta memonitornya melalui saluran informasi
dan struktur yang resmi. Dari informasi ini diketahui di penyimpangan, dan dari
penyimpangan dikoreksi dan di berikan sanksi kepada mereka yang melakukannya.
Pendekatan klasik ini menggunakan sistem mekanis dan penerapan prinsip dan
peraturan yang kaku. Peraturan yang ada atau tujuan yang telah ditetapkan dipaksakan
untuk dipatuhi tanpa diberi hak untuk mempermasalahkannya. Kesalahan dan
kelemahannya di usahakan diidentifikasi dan berikan sanksi bagi mereka yang terbukti
melakukannya. Disimpilin dan kepatuhan buta sangat di harapkan. Sehingga sistem ini
biasanya dibentuk unit khusus yang melakukan identifikasi dan memonitor pelaksaan
peraturan dan kapatuhan terhadapnya.
Parker dan Lewis (1995) mengidentifkasi 5 komponen model klasik ini.
1. pengawasan didasarkan pada “Authority”
2. pengawasan didasarkan pada “disiplin”
3. pengawasan didasarkan pada fungsi “koordinasi”
4. pengawasan didasarkan pada fungsi “informasi”
5. pengawasan didasarkan pada identifikasi “penyimpangan”

Pendekatan ini merupakan pendekatan awal sewaktu manusia mengenal sistem


pengawasan. Biasanya sistem ini dilaksanakan pada organisasi dimana mereka yang
diawasi belum memiliki skill dan moralitas yang baik.
2. Pendekatan stuktural
Pendekatan struktural ini masih menggunakan berbagai komponen klasik namun
bedanya adalah bahwa pendekatan ini membagi-bagi fungsi manajemen atas berbagai
fungsi yaitu fungsi perencanaan, penggorganisasian, perintah, koordinasi, dan
pengawasan sebagai bagaimana dikemukakan oleh Fayol (1949). Pendekatan ini
mengguankan struktur sebagai alat untuk melakukan pengawasan.
Dalam pendekatan ini pimpinan yang bertanggungjawab mencapai tujuan
berbagai fungsi dan membuat struktir organisasi. Fungsi pengawasan dilakukan melalui
struktur yang sudah ada berdasarkan fungsi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pelaksanaan fungsi pengawasan mengalir melalui struktur organisasi mulai dari atas
atau pusat keseluruhan struktur, kepada mereka yang berhasil melaksanakan fungsi
dengan baik diberikan penghargaan dan yang tidak melaksanakan fungsi dengan benar
diberikan hukuman.
Pendekatan struktural ini hampir sama dengan pendekatan klasik, namun disini
struktur organisasi perusahaan dijadikan sebagai alur dan media pengawasan. Di
Indonesia misalnya pendekatan yang banyak dipakai adalah model klasik dan model
struktur ini. Penggunaan birokrasi, peraturan, hukum dan perundangan-undangan,
budgeting dan akuntasi, serta teknik auditing secara umum masih menggunakan
pendekatan klasik dan struktur ini.
3. Pendekatan Kekuasaan atau Power
Pendekatan klasik strukur diatas sebenarnya juga mengakui adanya kekuasaan
atau authority. Karena dalam struktur mengalit authority atau kekuasaan yang
merupakan dasar pimpinan melakukan pengawasan. Kekuasan yang dimiliki ini
digunakan untuk mempengaruhi dan memaksakan agar orang lain mengikuti keinginan
pimpinan.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka Mintzberg (1983) memperkenalkan
pendekatan power dalam pengawasan. Karena powerlah yang dapat mempengaruhi
orang lain untuk berperilaku sesuai dengan kienginan kita. Namun Mintzberg menilai
bahwa power ini bukan saja pada internal organisasi tetapi juga diluar organiasai.
Menurut Mintzberg, power atau kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk dapat
mempengaruhi hasil-hasil perusahaan. Kekuasaan memberi hak kepada seseorang
untuk mengarahkan orang lain sesuai tujuan yang dibebankan kepadanya. Kekuasaan ini
bisa karena jabatan atau kualitas pribadi seseorang.
Berdasarkan pendekatan ini maka banyak para ahli mencari dasar-dasar
kekuasaan itu. Misalnya Weber menyebutkan 3 sumber kekuasaan yaitu: (1) rasional-
resmi, (2) tradisional, (3) kharisma.
Sedangkan French dan Raven (1959) mengemukakan 6 sumber kekuasaan: (1) reward,
(2) coercive, (3) expert, (4) legitimate, (5) referent, dan (6) integration of power.
4. Pendekatan Sistem
Dalam pendekatan sistem maka pengawasan dianggap sebagai salah satu sistem
dari general sistem yang ada. Sistem adalah suatu set bagian-bagian yang Saling
berhungan memiliki ketergantungan yang satu dengan lainnya. Semua kegiatan
dianggap merupakan satu kegiatan dan terpadu bukan merupakan hal yang terpisah
atau bebas dari yang lainnya. Olehnya karena maka dalam pendekatan sistem ini kita
harus memahami hubungan antara elemen yang satu dengan elemen yang lain dan
bagaimana ia berhubungan (Tiller, 1963).
Pendekatan ini sebenarnya didasarkan pada teori “General System” yang
dikembangkan Ludwing von Bertalanffy, K.E Boulding, R.W. Gerard dan A Rapoprt.
Mulanya ini adalah konsep bidang ilmu alam yang diterapkan dalam ilmu sosial. Sistem
ini dibagi dalam 2 jenis yaitu: Sistem terbuka dan Sistem tertutup.
Pada jenis sistem tertutup sistem yang ada dianggap tidak menyesuaikan diri
dengan kekuatan atau faktor luar dia hanya beradaptasi dengan faktor internal.
Sebaliknya sistem terbuka sistem itu dianggap memilik subsistem yang terbuka yang
tergantung pada pengaruh lingkungan ekstrenal. Sistem berusaha mencapai titik
ekuilibrium jika ia sudah beradaptasi dengan unsur internal dan ekstrenal. Dalam hal ini
sistem ini dianggap dinamis karena interaksi antara kegiatan, orang, dan lingkungan.
5. Pendekatan Human Relation
Dalam model ini pengawasan dilihat dari segi manusianya dala, hal ini yang
diperhatikan adalah hubungan antar manusia. Ilmu manajemen dan organisasi pada
awalnya memberikan perhatian terhadap kemampuan `non-human` untuk mencapai
tujuan organisasi. Teori birokrasi yang dikemukakan oleh Weber sebenarnya merupakan
upaya “dehumanisasi” peran individu manusia. Karena pada zamannya sikap feodalis
dan paternalis sangat dominan. Peran individu sangat besar sehingga muncul dikator
dan eksploitasi antara manusia sangat menonjol, sehingga muncul ide birokkratisasi dan
depersinalisasi.
Namun ternyata konsep ini tidak selamanya benar karena kemajuan sosial dan
mutu sumber daya manusia, menghendaki semakin meningkatnya penghargaan kepada
nilai dan kemampuan manusia. Manusia tidak lagi seperti yang digambarkan oleh
McGregor dalam manusia type A atau teori type X tetapi sudah memiliki sifat seperti
dalam type B atau teori Y. Organisasi tidak bisa lagi menbabsikan unsur-unsur halus dari
sifat positif dari manusia.
Menurut McGregor, Asumsi dari manusia Type X dan Type Y adalah sebagai
berikut:
Asumsi Teori X Asumsi Teori Y
 Manusia tidak suka bekerja dan akan  Secara alamiah, manusia bukan tidak
mencoba menghindari. suka bekerja. Bekerja adalah sifat
alamiah manusia sebagai bagian
hidupnya.
 Manusia tidak mempunyai pekerjaan  Manusia secara internal mempunyai
sehingga manajer harus mengawasi, motivasi untuk mencapai tujuan
mengarahkan, memaksa dan dimana ia komitmen.
mengancam pegawai agar mereka
bekerja kearah tujuan organisasi.
 Manusia lebih menyukai diarahkan,  Manusia komit pada tujuan yang
menghindari tanggung jawab, dan ingin dianggapnya dengan pencapainnya ia
keamanan, dan kurang memiliki ambisi. menerima penghargaan.
 Manusia memiliki kemampuan
berinovasi dalam memecahkan
masalah organisasi.
 Manusia sebenarnya pintar tetapi
dalam sebagian besar lingkungan
organisasi potensi mereka kurang
dimanfaatkan secara maksimal.

Hal ini sejalan dengan teori Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan
manusia itu dinamis tidak statis. Pada saat kebutuhan satunya terpenuhi maka ia akan
meminta kebutuhan lain yang meningkat. Menurut Maslow (1954) ada lima tangga
kebutuhan manusia:

1. Kebutuhan fisik
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
4. Harga diri
5. Pengembangan diri
Kebutuhan manusia menurut Maslow naik dinamis, jika kebutuhan pertama
dipenuhi maka muncul kebutuhan berikutnya sampai pada kebutuhan teratas yaitu
pengembangan diri. Menurut Maslow manajemen, organisasi, maupun sistem
pengawasan harus dapat melihat hierarki kebutuhan ini agar fungsi manajemen atau
fungsi pengawasan dapat dijalankan secara sukses.
Implikasi pendekatan ini dalam sistem pengawasan adalah dalam mendesain dan
melaksanakan pengawasan maka faktor manusia harus difikirkan. Perlu diingat bahwa
pelaksanaan konsep ini harus memperhatikan budaya dan kualitas karyawan yang
diawasi. Tidak semua konsep yang bisa sukses diterapkan disuatu negara, organisasi,
atau perusahaan misalnya secara otomatis sukses diterapkan dinegara, budaya, dan
perusahaan lain yang berbeda.