Anda di halaman 1dari 1

Unmet needs Keswa dapat dilihat dari hal-hal seperti prevalensi penderita gangguan jiwa yang tidak

menerima layanan; penderita menerima layanan namun tidak adekuat, kemudian pasien berhenti
berobat ke fasilitas kesehatan sehingga terjadi kekambuhan; dan kebutuhan sosial berdasarkan
pandangan pasien.

Arti need berdasarkan perspektif pasien yang terkait layanan Keswa, meliputi jenis obat yang lebih
nyaman, jenis intervensi khusus yang dibutuhkan ataupun fasilitas kesehatan. Selain itu, terdapat pula
kebutuhan yang tidak terkait dengan layanan Keswa seperti kebutuhan akan pekerjaan, pendidikan,
transportasi, keterampilan kerja dan sebagainya, jelas Menkes.

Berdasarkan hasil penelitian di 6 negara Eropa, kebutuhan layanan kesehatan jiwa yang tidak terpenuhi
di fasilitas kesehatan untuk penderita gangguan depresi mayor (30%); Skizofrenia (40%); Penanggulangan
Napza (30%); serta gangguan jiwa secara umum mencapai 48%. Sementara itu, di negara-negara
berpenghasilan rendah-menengah (termasuk Indonesia), unmet needs mencapai lebih dari 90%.

Berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan jiwa yang dilakukan Kementerian
Kesehatan yaitu Peningkatan pengetahuan kader kesehatan; Peningkatan peran dan kepedulian media
massa; Peningkatan peran dan kepedulian LSM; Pemberdayaan Keluarga Pasien Gangguan Jiwa;
Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan di puskesmas; Koordinasi lintas sektor melalui TPKJM dan
Perpres Penyelenggaraan Terpadu Pembangunan Kesejahteraan Jiwa Masyarakat; Mendukung adanya
Desa Siaga Sehat Jiwa; serta Peningkatan peran UKS.

Sasaran investasi terutama adalah pada sumber daya manusia untuk kesehatan jiwa, baik keluarga,
masyarakat, juga tenaga kesehatan, agar dapat meningkatkan akses layanan keswa; memberikan
pelayanan keswa berkualitas; meningkatkan upaya promosi dan prevensi masalah kesehatan jiwa; dan
memberikan perlindungan HAM penderita gangguan jiwa.

Tujuan dari Investasi tersebut adalah untuk menurunkan beban negara (dan masyarakat) dengan
meningkatnya produktivitas kerja; menurunnya biaya pengobatan; kualitas hidup dan kesehatan yang
lebih baik; meningkatnya kesadaran dan peran serta masyarakat tentang kesehatan jiwa; serta dengan
menurunnya prevalensi gangguan jiwa.