Anda di halaman 1dari 19

Mutu Pelayanan Kebidanan

‘Tahap – Tahap Pelaksanaan Jaminan Mutu’

Rina Marlina, S.SiT., MKM.

Disusun Oleh :

Kelompok 11

Kelas 3A

Gina Desti Nurahman 1710630100017

Indah Yasfaullah 1710630100021

PRODI D3 KEBIDANAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa

karena atas rahmat dan petunjuknya sehingga makalah “MUTU LAYANAN

KEBIDANAN” dapat diselesaikan sebagai mana mestinya meskipun dalam

bentuk yang sederhana dan masih terdapat kekurangan yang masih memerlukan

perbaikan seperlunya.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian makalah ini tidak dapat

kami selesaikan tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu patutlah kiranya kami sampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu.

Untuk itu semoga makalah yang Kami buat ini dapat bermanfaat untuk kita

semua yang membaca.

Karawang, 5 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………...i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………..……………………………………..…1

B. Tujuan………………………………………………………………….....2

C. Rumusan Masalah………….……………………………………………..2

BAB II PEMBAHASAN

A. Tahap – Tahap Pelaksanaan Jaminan Mutu………………........….…..….3

B. Cara Menjaga Kelangsungan Jaminan Mutu di Puskesmas……………....6

C. Penilaian Pencatatan Pelaporan…….………………..……………….….12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………...….27

B. Saran………………………………………………………...……………27

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Globalisasi mempertinggi arus kompetisi disegala bidang termasuk

bidang kesehatan dimana bidan terlibat didalamnya. Untuk dapat

mempertahankan eksistensinya, maka setiap organisasi dan semua elemen-

elemen dalam organisasi harus berupaya meningkatkan mutu pelayanannya

secara terus menerus. Kecenderungan masa kini dan masa depan menunjukkan

bahwa masyarakat semakin menyadari pentingnya peningkatan dan

mempertahankan kualitas hidup (quality of life). Oleh karena itu pelayanan

kesehatan yang bermutu semakin dicari untk memperoleh jaminan kepastian

terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya. Semakin tinggi tingkat

pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan untuk mempertahankan

kualitas hidup, maka customer akan semakin kritis dalam menerima produk

jasa, termasuk jasa pelayanan kebidanan, oleh karena itu peningkatan mutu

kinerja setiap bidan perlu dilakukan terus menerus.

Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu

banyak upaya yang dapat dilaksanakan.Upaya tersebut jika dilaksanakan secara

terarah dan terencana ,dalam ilmu administrasi kesehatan dikenal dengan nama

program menjaga mutu pelayanan kesehatan (Quality Assurance Program ).

4
B. Rumusan Masalah

1. Apa saja tahap – tahap pelaksanaan jaminan mutu ?

2. Bagaimana cara menjaga kelangsungan jaminan mutu di puskesmas ?

C. Tujuan

Tujuan dalam pembuatan makalah ini :

1. Agar mahasiswi mengetahui tahap – tahap pelaksanaan jaminan mutu.

2. Agar mahasiswi mengetahui cara menjaga kelangsungan jaminan mutu di

puskesmas.

D. Manfaat

Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :

1. Menambah pengetahuan bagi mahasiswi tentang tahap – tahap pelaksanaan

jaminan mutu.

2. Mahasiswi dapat mengetahui bagaimana cara menjaga kelangsungan

jaminan mutu di puskesmas.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tahap – Tahap Pelaksanaan Jaminan Mutu

1. Tahap Pelaksanaan Analisis Sistem dan Supervisi

Cara pelaksanaan analisis system/supervisi dengan cara Peer Review

(ulas balik kesejawatan). Dengan mengikuti cara perputaran Robin. Pengamatan

tingkat kepatuhan dilakukan oleh sejawat yang sama dari Puskesmas lain

menggunakan instrumen berupa Daftar Tilik (checklist). Daftar Tilik berisi

item-item yang harus dilaksanakan oleh petugas kesehatan dalam memberikan

pelayanan kesehatan. Analisis Sistem merupakan suatu audit atau penilaian

terhadap mutu pelayanan kesehatan, adapun penilaian meliputi beberapa aspek:

a. Kepatuhan terhadap standar

Pengamatan dilakukan untuk menilai kepatuhan petugas terhadap

standar yang ada dalam memberikan pelayanan kesehatan.

1) Daftar Tilik (checklist)

Cara supervisor memeriksa kepatuhan terhadap standar:

a) Ambil secara acak masing-masing 3 Catatan Medik pasien yang

relevan dan telah dilaksanakan pengukuran terhadap standar.

6
b) Periksa Catatan Medik tersebut dan catat hasil temuan pada kolom

yang tersedia.

Kecenderungan dari beberapa petugas kesehatan yang mematuhi

Daftar Tilik artinya melakukan semua yang terdapat di dalam

Daftar Tilik, akan tetapi tidak mematuhi Standar. Contohnya:

petugas kesehatan mungkin telah menanyakan semua pertanyaan

yang menyangkut anamnesis dan melakukan pemeriksaan terhadap

gejala klinik, tetapi salah melakukan klasifikasi/diagnosis atau salah

memberikan pengobatan. Sebagai akibatnya dapat terjadi

persepsi/anggapan yang keliru tentang Jaminan Mutu, yaitu petugas

Puskesmas menganggap Jaminan Mutu adalah Daftar Tilik.

2) Peer Review (Ulas Balik Sejawat)

1) Pengetahuan Petugas Puskesmas

Selain pengamatan, juga akanm dilakukan wawancara oleh

pengamat tentang pengetahuan petugas yang diamati,

menggunakan alat bantu berupa Daftar Tilik.

2) Pengetahuan Pasien

Wawancara juga dilakukan terhadap pasien/pengantar

untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang penyakit atau

pelayanan yang diberikan berhubungan dengan kunjungannya ke

Puskesmas. Wawancara dilakukan setelah pasien selesai

7
mendapatkan pelayanan sewaktu akan meninggalkan Puskesmas

(exit interview) menggunakan instrumen Daftar Tilik.

3) Ketersediaan Sarana (Obat dan Alat)

Dilakukan pengamatan ketersediaan alat dan obat yang

mendukung pelayanan kesehatan yang bersangkutan,

menggunakan instrumen berupa Daftar Tilik. Pengisian Daftar

Tilik cukup dengan memberikan tanda ’v’ pada kotak yang

tersedia sesuai dengan hasil pengamatan dan jawaban.

b. Area Pelayanan yang dilakukan pengamatan

Area Pelayanan Kesehatan Dasar penting adalah: Pelayanan Antenatal,

Batuk dan Kesulitan Bernafas, Imunisasi. Untuk selanjutnya Puskesmas akan

melakukan pengamatan untuk area lainnya sesuai dengan prioritas (kondisi)

setempat.

c. Pelaksana

Empat atau lima petugas kesehatan dalam satu organisasi, biasanya

terdiri dari seorang dokter, bidan, perawat, tenaga gizi dan atau Jurim yang

telah mendapat Pelatihan Analisis Sistem, sehingga mereka terampil dalam

menggunakan Daftar Tilik untuk melakukan pengamatan langsung

terhadap petugas. Pelayanan kesehatan yang sedang dilakukan harus telah

berdasarkan suatu Standar Pelayanan yang telah disepakati.

8
d. Jumlah sampel

Untuk setiap area akan dikumpulkan sejumlah 25 kasus. Ada

kalanya setelah melakukan pengamatan selama 5-6 hari dalam kutrun

waktu dua minggu, tetapi tidak terkumpul 25 kasus, maka pengamatannya

dihentikan, dan data yang akan digunakan cukup dengan jumlah yang

sudah terkumpul saja.

e. Cara melakukan pengumpulan data

a. Pengamatan Langsung

b. Wawancara terhadap petugas Puskesmas yang diamati

c. Wawancara dengan pasien/klien (4) Ketersediaan Peralatan

Essensial

f. Jumlah petugas yang diamati

Tujuan pengamatan ialah menentukan Tingkat Kepatuhan

Puskesmas, maka pengamatan dilakukan terhadap sebanyak mungkin

petugas Puskesmas (jika Petugas Puskesmas lebih dari seorang), kecuali

dokter, kalau dokter hanya seorang saja. Diupayakan melakukan

pengamatan seproposional mungkin dengan jumlah pasien yang diperiksa

oleh petugas kesehatan yang diamati.

9
g. Pengolahan dan analisa

Data yang terkumpul dibuat tabulasi, kemudian dihitung tingkat

kepatuhan/tingkat pengetahuan/tingkat kelengkapan sarana dengan

mempergunakan rumus sebagai berikut: Tingkat kepatuhan = Jumlah Ya

Jumlah (Ya + Tidak)

h. Penyusunan Rencana Kegiatan atau Plan of Action

Organisasi pelayanan kesehatan tetangga yang melakukan

pengamatan, setelah mengolah data akan memberikan umpan balik kepada

unit pelayanan yang diamati. Umpan balik tersebut diberikan pada

Lokakarya di tingkat kabupaten. Setelah menerima umpan balik tersebut,

maka Puskesmas segera membuat suatu Rencana Kegiatan atau Plan of

Action (POA) untuk meningkatkan Tingkat Kepatuhan Petugas terhadap

Standar, tingkat pengetahuan serta tingkat kelengkapan sarana, sehingga

menjadi sekurang-kurangnya 80%. POA tersebut antara lain berisi:

penanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan, pendekatan yang

digunakan untuk meningkatkan kepatuhan dan cara pemantauan kemajuan

pelaksanaan kegiatan.

10
Contoh:

1) Membuat job aid yang dapat dipergunakan sebagai alat Bantu bagi

petugas agar selalu ingat standar pelayanan.

2) Melakukan kalakarya (on the job training) untuk meningkatkan

ketrampuilan dan pengetahuan petugas.

3) Melengkapi sarana yang masih kurang dengan cara realokasi atau

pengaturan.

i. Pemantauan dan Supervisi

Selama organisasi pelayanan melaksanakan rencana kegiatan

(POA) maka diharapkan supervisor kabupaten/kota akan sering

berkunjung ke organisasi pelayanan untuk membantu petugas kesehatan

meningkatkan Tingkat Kepatuhan terhadap Standar.

Selain oleh supervisor kabupaten/kota, maka kepala organisasi

pelayanan juga harus memantau petugas Puskesmas. Ada dua hal yang

harus menjadi perhatian Supervisor, yaitu:

1) Apakah petugas Puskesmas mematuhi Standar ? Apakah semua

kegiatan yang terdapat di dalam Standar dikerjakan ?

2) Apakah petugas Puskesmas melaksanakan Standar dengan benar?

11
Misalnya di dalam Standar menyebutkan harus mengukur tekanan

darah, pengamat akan melihat petugas yang diamati melakukan

pengukurasn tekanan darah secara tepat dan benar.

j. Evaluasi

Tiga sampai enam bulan setelah ulas balik kesejawatan yang

pertama dilakukan lagi ulasbalik kesejawatan yang kedua, dengan cara

dan instrumen yang sama, tetapi cukup dengan mengumpulkan 12

pengamatan. Penyajian data sama dengan ulasbalik kesejawatan yang

pertama.Tingkat kepatuhan/pengetahuan/ketersediaan sarana yang

diperoleh pada peer review pertama (25 kasus) dibandingkan dengan hasil

peer review kedua (12 kasus) dan diharapkan terjadi peningkatan tingkat

kepatuhannya.

2. Tahap Pelaksanaan Pendekatan Tim dalam Pemecahan Masalah

Pendekatan Tim sudah dimulai sejak saat Jaminan Mutu mulai

dilaksanakan. Pendekatan Tim dalam Pemecahan Masalah adalah suatu

pendekatan untuk memecahkan masalah, dalam hal ini adalah masalah mutu

pelayanan (masalah kompleks), yang terjadi di dalam organisasi pelayanan

secara tim dengan mengikuti langkah-langkah dalam siklus pemecahan masalah

(Problem Solving Cycle) dan mempergunakan alat-alat pemecahan masalah

(Quality Improvement Tool) serta berdasarkan data.

12
Istilah masalah kompleks yang ditujukan terhadap masalah Keluaran

yaitu outcome dan output pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien adalah

keluaran, maka masalah tentang kepuasan pasien akan dilihat sebagai mutu

pelayanan. Kompleksitas masalah itu dapat terjadi dalam berbagai bentuk,

antara lain sebagai berikut:

1. Besaran atau magnitude suatu masalah yang kompleks lebih sulit

ditentukan;

2. Penyebab masalah yang kompleks lebih sulit diketahui atau dimengerti;

3. Pengumpulan data harus dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab suatu

masalah yang kompleks;

4. Suatu intervensi khusus diperlukan untuk menghilangkan penyebab

masalahnya;

5. Diperlukan suatu pemantauan khusus terhadap kemajuan pelaksanaan

pemecahan masalah untuk menentukan apakahmasalah kompleks tersebut

telah dapat dipecahkan.

Diharapkan organisasi pelayanan dapat memecahkan masalah mutu dua

atau tiga dalam setahun. Proses pemecahan masalah dilaksanakan dalam waktu

kurang lebih 3 bulan.

Dimana pemecahan masalah tersebut, apabila menurut hasil evaluasi

dinilai berhasil, akan menjadi SOP organisasi pelayanan untuk kegiatan yang

13
bersangkutan. Sehingga dengan ini diharapkan organisasi dapat memberikan

pelayanan berdasarkan SOP dengan mutu yang terjamin serta hasil sesuai

dengan yang diharapkan, baik oleh pengguna, pelaksana maupun pimpinan.

Yang penting adalah nahwa Puskesmas selalu bekerja dalam menemukan dan

memecahkan masalah yang kompleks tanpa henti-hentinya.

B. Cara Menjaga Kelangsungan jaminan Mutu di Puskesmas.

Cara menjaga kelansungan Jaminan Mutu di Puskesmas adalah:

1. Mempertahankan tingkat kepatuhan terhadap standar, dalam arti

profesionalisme petugas dalam memberikan pelayanan tetap memegang

“best practice”.

2. Mengintegrasikan Jaminan mutu ke dalam sistem manajemen Puskesmas

yang telah ada yaitu Perencanaan Tingkat Puskesmas, Lokakarya Mini

Puskesmas dan Penilaian Kinerja Puskersmas dengan cara:

1. Identifikasi masalah melalui Penilaian Kinerja

2. Proses pemecahan masalah melalui PTP

3. Evaluasi dan monitoring melalui Lokakarya Mini Puskesmas.

C. PENILAIAN MUTU PELAYANAN KEBIDANAN

1. Penilaian

Penilaian adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah

keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang

telah ditetapkan. Pada waktu melakukan penilaian haruslah diingat bahwa

14
penilaian dilakukan pada tahap akhir (summative evaluation) sehingga

perhatian hendaknya lebih ditujukan pada unsur keluaran (output) dari

program menjaga mutu. Dalam hal ini merujuk pada mutu pelayanan

kesehatan yang disenggarakan. Untuk dapat melakukan penilaian sumatif ini

perlu memahami standar serta indikator yang digunakan, yakni standar dan

indikator yang merujuk pada mutu pelayanan kesehatan

B. Sistem pencatatan dan pelaporan

1. Sistem pencatatan secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem

pencatatan tradisional dan sistem pencatatan non tradisional

Sistem pencatatan tradisional adalah sistem pencatatan yang memiliki

catatan masing-masing dari setiap profesi atau petugas kesehatan, dimana

dalam sistem ini displin ilmu (dokter,perawat,bidan,epidemiologi,ahli gizi dsb)

mempunyai catatan sendiri-sendiri secara terpisah. Keuntungan dari sistem ini

adalah pencatatan bisa dilakukan dengan lebih sederhana. Kelemahan sistem ini

adalah data kesehatan yang terkumpul kurang menyeluruh, koordinasi antar

tenaga kesehatan tidak ada dan upaya pelayanan kesehatan yang menyeluruh

dan tuntas sulit dilakukan

Sistem pencatatan yang non tradisional adalah pencatatan yang berorientasi

paa masalah (problem orientation record/POR) keuntungan sistem ini adalah

15
kerja sama antar tim lebih baik dan menunjang mutu pelayanan kesehatan

secara menyeluruh

2. Pelaporan

Pelaporan merupakan cara komunikasi petugas kesehatan yang dapat

dilakukan baik secara tertulis maupun lisan tentang hasil dari suatu kegiatan

atau intervensi yang telah dilaksanakan. Laporan lisan : kelemahan :

kemungkinan yang dilaporkan hanyalah hal hal yang baik baik saja dan

bersifat subjektif. Keuntungan : hasil dari intervensi yang telah dilakukan dan

data yang telah terkumpul dapat ditindak lanjuti dalam waktu yang lebih

cepat. Laporan tertulis : kelemahan : memakan waktu dan biaya yang lebih

keuntungan : bisa lebih bersifat objektif dan terperinci serta pelaporan dapat

bersifat positive maupun negative. (Rajab 2009)

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam tahap – tahap pelaksanaan jaminan mutu meliputi :

a) Tahap Pelaksanaan Analisis Sistem dan Supervise

1. Pengamatan kepatuhan

2. Tempat pengamatan

3. Pelaksanaan

4. Jumlah sample

5. Cara pengumpulan data

6. Jumlah petugas yang diamati

7. Pengolahan dan analisa

8. Penyusunan rencana kerja

9. Pemantauan dan supervise

b) Tahap Pelaksanaan Pendekatan Tim dalam Pemecahan Masalah

1. Pemecahan masalah > Alat pemecahan masalah

2. Alat pemecahan masalah > Quality Improvement Tool

Kerangka konsep dalam pelatihan ini sebagian besar mengacu pada

problem solving cycle (Siklus Pemecahan Masalah)

17
Adapun cara untuk menjaga kelangsungan jaminan mutu di puskesmas

1) Mempertahankan tingkat kepatuhan terhadap standar

2) Mengintegrasikan jaminan mutu kedalam sistem manajeman

3) Mempertahankan tingkat kepatuhan terhadap standar

4) Mengintegrasikan jaminan mutu kedalam sistem

B. Saran

Diharapkan bidan sebagai tenaga keshatan profesional perlu

memperhatikan tahapan – tahapan pelaksanaan jaminan mutu dan cara

menjaga kelangsungan jaminan mutu di puskesmas.

18
Daftar Pustaka

Aditama, Asrul. 2000, Mutu Pelayanan Kesehatan: PT. Gramedia. Jakarta.

Azwar, Azrul. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : Pustaka

Sinar Harapan

Nurmawati. 2010. Mutu Pelayanan Kebidanan. Jakarta: TIM.

19

Anda mungkin juga menyukai