Anda di halaman 1dari 7

1

PENDAHULUAN manusia dipengaruhi oleh dua faktor besar yang


Universal precauntion lebih dikenal di indonesia mempengaruhinya yaitu faktor pengetahuan dan
dengan (Kewaspadaan Standar) merupakan sikap. Perilaku merupakan respon/reaksi seorang
pencegahan infeksi yang telah mengalami individu terhadap stimulus yang berasal dari luar
perjalanan panjang, dimulai sejak dikenalnya maupun dari dalam dirinya (Notoatmodjo,
infeksi nosokomial (infeksi yang ditimbulkan 2010).

dari tindakan medis) yang terus menjadi


ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien Hasil penelitian-penelitian sebelumnya

(Depkes RI, 2010). Sejak tahun 2010 Universal menunjukkan bahwa ada hubungan yang

precaution merupakan bagian dari upaya PPI di bermakna antara pelatihan universal

sarana pelayanan kesehatan, dimana ruang precauntion, pengetahuan, ketersediaan safety

lingkup fasilitas pelayanan kesehatan adalah box, dan pengalaman paparan dengan

rumah sakit, puskesmas, klinik dan praktik kepatuhan perawat terhadap universal

mandiri tenaga kesehatan Pedoman ini bertujuan precauntion dalam tindakan keperawatan (Yang

untuk mencegah transmisi dari berbagai Luo et al., 2010). Pengetahuan merupakan

penyakit yang ditularkan melalui darah di domain yang sangat penting untuk terbentuknya

lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan tindakan seseorang. Pengetahuan ini sangat

(Kementrian Kesehatan 2017). penting untuk terbentuknya pelaksanaan


universal precaution oleh petawat Notoatmodjo

Tindakan universal precauntion meliputi (2010)

tindakan mencuci tangan untuk mencegah


infeksi silang, Penggunaan alat pelindung diri Salah satu Tindakan keperawatan yang sangat

(APD) misalnya masker wajah dan sarung rentan dengan darah dan cairan tubuh adalah

tangan, pengelolaan alat tajam (disediakan tindakan pemasangan infus. Kecelakaan kerja

tempat khusus untuk membuang jarum suntik, yang terjadi pada pemasangan infus dan sering

bekas botol ampul, dan sebagainya), terjadi pada petugas rumah sakit adalah tertusuk

dekontaminasi, sterilisasi, desinfeksi, dan jarum suntik atau lebih dikenal dengan Needle

pengelolaan limbah (Nursalam, 2013). Stick Injury(NSI).

Penerapan universal precaution dalam praktek Dampak dari NSI adalah dapat mengalami

sehari-hari dipengaruhi berbagai faktor, blood borne disease seperti Hepatitis B (HBV),
diantaranya adalah faktor perilaku. Perilaku Hepetitis C (HBC), HIV, dan lainnya. Kejadian
kasus NSI sering tidak dilaporkan terutama
2

pada Negara berkembang seperti Indonesia. ditunjukkan dengan persentase perawat yang
Padahal kemungkinan terjadinya penularan tidak patuh sebesar 57,1%. Indonesia menurut
HIV setelah tertusuk jarum yang terkontaminasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
HIV ialah 4 dari 1000 kejadian NSI. (2011), menunjukkan bahwa sebesar 62,5%
Kemungkinan penularan HBV setelah tertusuk pelaksanaan prosedur cuci tangan secara aseptik
jarum yang terkontaminasi HBV adalah 27–37 sebelum tindakan perawatan invasif oleh
dari 100 kasus NSI. Kemungkinan penularan perawat masih kurang baik. Didukung pula
HCV setelah tertusuk jarum yang dengan penelitian selanjutnya oleh Syahrizal,
terkontaminasi HCV adalah 3–10 dari 100 dkk (2015), diperoleh hasil bahwa mayoritas
kasus NSI (Kementerian Kesehatan, 2010). perawat (80%) tidak benar dalam menerapkan
metode universal precautions pada tindakan
Hasil observasi di RSUD Brebes terhadap pemasangan infus.
beberapa perawat disalah satu bangsal, 3 dari 6
perawat tidak mencuci tangan sebelum
METODE PENELITIAN
melakukan tindakan, tetapi langsung
Jenis penelitian yang digunakan adalah
menggunakan sarung tangan, perawat mencuci
penelitian kuantitatif, karena penelitian ini
tangan hanya setelah melakukan tindakan
disajikan dengan angka-angka yang
injeksi. Saat melakukan pengamatan terhadap
menggunakan desain penelitian korelasional
perawat diruang rawat inap sakura , ada 4 dari 9
atau menghubungkan pengetahuan perawat
perawat kurang memperhatikan prinsip
dengan peneraan universal precauntion dalam
universal precauntion yaitu tidak memakai
tindakan pemasangan infus dengan pendekatan
masker, dengan alasan penyakit yang diderita
cross sectional (waktu bersamaan). Alat
pasien tidak menular dan pada saat melakukan
penelitian menggunakan 2 kuisioner. Kuisioner
observasi peniliti juga menjumpai perawat yang
penggetahuan pengetahuan perawat 15
tidak mengganti sarung tangan setelah
pertanyaan dan kuesioner peneraan universal
melakukan tindakan dari pasien satu ke pasien
precauntion daam pemasangan infus 10
lain.
pertanyaan. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua perawat di ruang rawat inap kelas 2 dan 3
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
RSUD Kabupaten Brebes. Sampel yang
Gabresilassie et al. (2014) di Ethiopia,
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
menunjukkan bahwa masih rendahnya
total sampling dengan jumlah sampel 70 perawat
kepatuhan penerapan universal precauntion rawat inap RSUD Brebes yang meliputi ruang
pada perawat di pelayanan kesehatan, yang flamboyan, anggrek, mawar, dan sakura.
3

(42,9%), dan penerapan kurang baik sebanyak


HASIL PENELITIAN 40 responden (57,1%).
Tabel 1 Distribusi frekuensi pengetahuan
Hasil uji normalitas pada pengetahuan perawat,
perawat tentang universal precauntion di
penerapan prinsip universal precauntion
RSUD Brebes Tahun 2019 (n = 70)
dalam tindakan pemasangan infus didapatkan p
Tingkat Frekuensi Prosenta
Pengetahua (n) se (%) value 0,000<0,05, yang berarti hasil data
n perawat
berdistribusi tidak normal. Sehingga distribusi
Baik 29 41,4
Cukup 32 45,7 data tersebut di Analisa dengan uji chi square.
Kurang 9 12,9
Total 70 100

Tabel 3 Hubungan Pengetahuan Perawat


Hasil penelitaian pengetahuan perawat tentang
Tentang Universal Precauntion Dengan
universal precauntion di RSUD Brebes tahun
Penerapan Prinsip Universal Precauntion
2019 dapat diketahui pada kategori baik
Pada Tindakan Pemasangan Infus di RSUD
sebanyak 29 responden (41.4%), cukup
Brebes Tahun 2019 (n=70)
sebanyak 32 responden (45,7%), dan kurang
Peng Penerapan universal
sebanyak 9 responden (12,9%). etahu recauntion dalam
p
an tindaksn pemasangan
val
pera infus
ue
Tabel 2 Distribusi frekuensi penerapan wat Kurang
Baik
baik
prinsip universal precauntion pada tindakan N % n %
pemasangan infus di RSUD Brebes Tahun Baik 29 41,4 0 0,0 ,00
0
2019 (n= 70) Cuku 1 1,42 31 44,
Temper Frekuensi Prosentase p 2
tantrum (n) %
Kura 0 0,0 9 12,
Penerapan 30 42,9 ng 8
Baik
Penerapan 40 57,1
Kurang Analisa ada hubungan pengetahuan perawat
baik dengan penerapan prinsi universal precauntion
Total 70 100
pada tindakan pemasangan infus di RSUS
Hasil penelitaian tentang penerapan universal Brebes dengan dijuntukan p value 0,000 < 0,05
precauntion pada tindakan pemasan infus di
RSUD Brebes tahun 2019 dapat diketahui pada
kategori penerapan baik sebanyak 30 responden
4

PEMBAHASAN dikemukakan Depkes RI (2013), pendidikan


Pengetahuan perawat tentang universal yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada
precauntion peningkatan kemampuan berpikir, dengan kata
Berdasarkan hasil penelitaian pengetahuan lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi
perawat tentang universal precauntiondi RSUD akan dapat mengambil keputusan yang lebih
Brebes tahun 2019 dapat diketahui pada kategori rasional, umumnya terbuka untuk menerima

baik sebanyak 29 responden (41.4%), cukup perubahan atau hal baru dibandingkan dengan

sebanyak 32 responden (45,7%), dan kurang individu yang berpendidikan lebih rendah

sebanyak 9 responden (12,9%). Maka dapat


Sebanding dengan penelitian yang dilakukan
disimpulkan sebagian besar responden penelitian
suharto dalam Kusumaningtyas (2013)
dengan pengetahuan tentang universal
Pengetahuan perawat dapat dipengaruhi oleh
precauntion pada kategori cukup , yaitu
pendidikan. Pendidikan sangat berpengaruh
sebanyak 32 responden atau (45,7%). Hal ini
terhadap pola pikir individu karena pendidikan
disebabkan karena perawat di RSUD Brebes
diperlukan untuk mendapatkan informasi
belum pernah mendapatkan pelatihan
misalnya hal-hal yang menunjang pengetahuan
keterampilan yang memuat tentang universal
perawat sehingga dapat meingkatkan kualitas
precautions, mereka hanya mendapatkan
pelayanan. Pndidikan dapat mempengaruhi
pengetahuan tentang universal precautions
seseorang termasuk juga perilaku, dengan
hanya sewaktu menjalani pendidikan.
semakin banyak pengetahuan maka semakin
baik juga perilaku seseorang.
Menurut Kartono (2011) salah satu faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah usia.
Hal ini sejalan dengan penelitian Darmawati
Semakin dewasa usia akan berpengaruh terhadap
(2015) di dapatkan tingkat pengetahuan
tingkat pengetahuan yang dimiliki dan
responden disebabkan oleh mudahnya akses
bagaimana cara mendapatkan informasi tersebut.
untuk mendapatkan informasi mengenai apapun.
Faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan
Disamping itu, peneliti juga menyatakan
perawat adalah pendidikan perawat tingkat
terdapat faktor lain yang mempengaruhi tingkat
pendidikan turut menentukan mudah tidaknya
pengetahuan yaitu tingkat paparan informasi,
seseorang menyerap dan memahami
budaya, pengalaman dan sosial ekonomi, selain
pengetahuan yang mereka peroleh, pada
itu faktor lingkungan, dalam hal ini sangat
umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang
berpengaruh pada pengetahuan, informasi yang
maka semakin baik pula pengetahuannya.
disebarkan teman sejawat akan menambah
Kondisi ini sesuai dengan apa yang
5

informasi yang dimiliki oleh perawat mengenai dalam mem berikan pelayanan kesehatan terhad
universal precaution. Selain lingkungan, ap pasien pengidap HIV/AIDS di RS. Dr.
pengalaman kerja yang lebih akan memberikan Sardjito Yogyakarta. Di mana dinyatakan
informasi yang lebih baik dalam melaksanakan bahwa pelaksanaa n prinsip Universal
asuhan maupun dalam pelaksanaan universal Precautions di Indonesia masih kurang,
precaution. berdasarka n hasil penelitian masih belum begitu
maksimal (Putri, 2011).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Sukardi (2014), bahwa pengetahuan sangat Menurut hasil penelitian Purwanto (2009),
mempengaruhi perilaku seseorang. Seseorang beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
yang mempunyai pengetahuan yang baik akan individu dalam penerapan universal precauntion
mengambil keputusan dan bertindak tepat, dalam yaitu faktor internal atau individu seperti
tindakannya. pengetahuan, kemampuan, motivasi, intelegensi,
komunikasi, dan faktor eksternal atau
Penerapan prinsip universal precauntion pada lingkungan seperti pelatihan, pengambilan
tindakan pemasangan infus. keputusan, kelengkapan alat, dan standar
Berdasarkan hasil penelitaian tentang penerapan operasional prosedur.
universal precauntion pada tindakan pemasan
infus di RSUD Brebes tahun 2019 dapat Sebanding dengan penelitian Purwanto (2009),
diketahui pada kategori penerapan baik sebanyak beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
30 responden (42,9%), dan penerapan kurang individu dalam penerapan universal precauntion
baik sebanyak 40 responden (57,1%). Maka yaitu faktor internal atau individu seperti
dapat disimpulkan sebagian besar responden pengetahuan, kemampuan, motivasi, intelegensi,
dengan penerapan universal precauntion komunikasi, dan faktor eksternal atau
mayoritas pada kategori kur ang baik. Kondisi lingkungan seperti pelatihan, pengambilan
ini dapat membahayakan dan meningkatkan keputusan, kelengkapan alat, dan standar
resiko peningkatan kejadin infeksi nosokomial operasional prosedur.
akibat penerapan universal precautions yang
tidak benar tersebut. Berdasarkan hasil kuesioner bahwa sebagian
besar perawat tidak patuh dalam menerapkan
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian prinsip universal precauntion pada SOP
Purwaningtias (2009) tentang penerapan tindakan pemasangan infus, hal tersebut
universal precautions oleh petugas kesehatan ditunjukan Saat per awat melalukan tindakan
invasif sep erti pemasangan infus, menjawab tid
6

ak memakai APD berupa sarung ta ngan, alasan 3. Dosen pembimbing serta penguji STIKes
perawat berdasarkan ha sil kuesioner adalah Bhamada Slawi
karena sudah terb iasa dengan hal tersebut selain 4. RSUD Dr. Suesilo Kabupaten Slawi
I tu dengan memakai sarung tang an dapat 5. RSUD Kabupaten Brebes
membuat perawat kesu litan saat melakukan 6. Sahabat dan teman seperjuangan
fiksasi setelah pemasangan infuse karena bahan
yang digunakan untuk fiksas i dapat lengket
dengan sarung tangann ya, dan Terdapat
DAFTAR PUSTAKA
beberapa perawat y ang menjawab memakai
Departemen Kesehatan RI (2010). Pedoman
sarung tan gan untuk lebih dari 1 pasien pada
pelaksanaan kewaspadaan universal di
saat melakukan tindakan.
pelayanan kesehatan.Jakarta: Depkes

SIMPULAN DAN SARAN RI.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan ada


hubungan pengetahuan perawat dengan Gabresilassie, A., Kumei, A., & Yemane,

penerapan prinspi universal precauntion pada D.2014. Standard Precautions Practice

tindakan pemasagan infus di RSUD Brebes among Health Care Workers in Public
Health Facilities of Mekelle Special

Dsisarankan penelitian lebih lanjut bagi eneliti Zone, Northern Ethiopia. J. Community

selanjutnya mengenai penerapan universal Med Health Educ. 4(3): 1-5

precauntin dalam rakte keperawatan di Rumah


Sakit yang berbeda denfan menambah variable- Kementerian Kesehatan (2017) Permenkes No

variabel lain yang berkaitan dengan universal 27 Tahun 2017 tentang Pedoman

precauntion Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di


Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

UCAPAN TERIMAKASIH Indonesia

Terlakasananya penelitian ini karena bantua


dari banyak pihak, untuk itu peneliti mengucapkan Nursalam. (2013).Manajemen keperawatan :
Aplikasi dalam praktik keperawatan
terimakasih kepada : profesional. (edisi ke-3). Jakarta :
1. Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat Salemba Medika.

dan karunianya.
Notoatmodjo, S. (2010).ilmu perilaku
2. Kedua orangtua dan keluarga atas doa dan kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
motivas yang diberikan.
7

Purwanto, B. Y 2009. Analisis faktor-


faktor yang mempengaruhi perilaku
penggunaan alat pelndung diri. FKM-
UI. Depok

Sukardi (2014). Hubungan karakteristik


responden dengan motivasi
melaksanakan universal precauntion. 7
februari 2015. http/unpad.ac.id.

Syahrizal, I., Karim, D., dan Nauli, F.A. 2015.


Hubungan Pengetahuan Perawat tentang
Universal Precautions dengan Penerapan
Universal Precautions pada Tindakan
Pemasangan Infus. Jurnal Online
Mahasiswa Universitas Riau. 2(1 ): 828-
836