Anda di halaman 1dari 9

1

PENGARUH TERAPI BERMAIN MEWARNAI GAMBAR TERHADAP TINGKAT


KECEMASAN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH SAAT TINDAKAN INJEKSI DI
RUANG ANAK RSUD BREBES
Ana Aunul Atqia 1) Agus Budianto, M.Kep2) Ikawati Setyaningrum, M.Kep3)
1)
Prodi Sarjana Keperawatan dan Ners STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal, Indonesia
2),3)
Dosen STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi

Email : anaaunulatqia@gmail.com

Abstract
Anak yang dirawat di rumah sakit banyak yang mengalami kecemasan. Kecemasan pada anak
tersebut disebabkan saat tindakan injeksi. Kecemasan pada anak ditandai dengan reaksi menolak,
anak takut terhadap pengobatan yang diberikan, anak sering menangis dan tidak kooperatif pada
petugas kesehatan. Untuk itu, diberikan terapi bermain mewarnai gambar, dimana bermain dapat
menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stress dan ketegangan dapat
dihindarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain mewarnai gambar
terhadap tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah saat tindakan injeksi di ruang anak RSUD
Brebes. Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia prasekolah yang berumur 5 dan 6 tahun
sebanyak 24 anak. Desain penelitian ini yang digunakan yaitu Quasi Eksperimental (Posttest-Only
Non Equivalen Control Grup). Hasil uji Mann whitney pada tingkat kesalahan 5% (ρ – 0.05) di
peroleh ρ value = 0.011 < 0.05) yang berarti Ha diterima dan artinya ada pengaruh terapi bermain
mewarnai gambar terhadap tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah saat tindakan injeksi di
ruang anak RSUD Brebes, Bagi Perawat diharapkan lebih meningkatkan dalam menerapkan
kegiatan terapi bermain menggunakan terapi mewarnai gambar.
Kata Kunci : Terapi Bermain Mewarnai Gambar, Kecemasan, Kecemasan Saat Injeksi

Abstract
Children hospitalized many are experience anxiety. Anxiety in children is caused current injection
action. Anxiety in children is characterized by the reaction of rejecting, children afraid of the
treatment given, the child often cries and uncooperative on health workers. For that, given play
therapy coloring image, where play can make the child more happy and comfortable so that the
stress and tension can be avoided. This study aims to determine the effect of play therapy coloring
image against anxiety levels on preschool aged children in the room when the injection action
RSUD Brebes. The sample in this study is preschool age as much as 24 Children. The study design
used is Quasi Experimental (Posttest-Only Non-Equivalent Control Group).. Results Mann
whitneyPair Test an error rate of 5% (ρ – 0.05) was obtained ρ value = 0.011 < 0.05), which means
Ha accepted and it means there is an affect of playing candles therapy to the level of anxiety on
children of preschool age in room RSUD Brebes, nurses are expected to further improve their
activities in playing therapy using image coloring therapy.
Keywords : Play Therapy coloring image, Anxiety, Anxiety When Injection
2

PENDAHULUAN terhadap tindakan perawatan (Supartini,


Hospitalisasi adalah suatu proses oleh suatu 2012).
alasan yang berencana dan darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal dirumah Kecemasan yang dialami anak hospitalisasi
sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai dapat menimbulkan dampak diantaranya
pemulangannya kembali ke rumah, selama proses penyembuhan anak dapat terhambat,
proses tersebut anak dapat mengalami menurunya semangat untuk sembuh dan tidak
kejadian berupa pengalaman yang sangat
kooperatifnya anak terhadap tindakan
traumatik dan penuh dengan stress (Supartini,
perawatan (Supartini, 2012).
2012). Anak yang sakit dan harus dirawat
dirumah sakit akan mengalami masa sulit
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang
karena tidak dapat melakukan kebiasaan
dilakukan oleh Junaidi (2013) menunjukan
seperti biasanya. Lingkungan dan orang-orang
bahwa terapi bermain merupakan terapi untuk
asing, perawat dan berbagai prosedur yang
mengobati anak yang sedang sakit dalam
dijalani oleh anak merupakan sumber utama
stres, kecewa dan cemas, terutama untuk anak respon penerimaan pemberian obat injeksi.

yang pertama kali dirawat di rumah sakit Dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa

(Elfira, 2011). respon penerimaan anak pada saat


penyuntikan yang diberikan terapi bermain
Di Indonesia jumlah kunjungan pasien anak memiliki respon penerimaan positif yakni
untuk rawat inap di rumah sakit tahun 2010 sebanyak 13 anak (86,7%) dan yang
adalah 1.699.934 sedangkan tahun 2011 memberikan respon penerimaan negatif yakni
sejumlah 1.204.612 dan hampir semua anak sebanyak 2 anak (13,3%) sedangkan pada
usia prasekolah yang di rawat di rumah sakit kelompok kontrol yang memberikan respon
mengalami kecemasan terutama saat
penerimaan positif sebanyak anak 1 (6,7%)
dilakukan injeksi (Bina upaya kesehatan,
dan yang memberikan respon negatif
kemenkes RI, 2012). Kecemasan yang
sebanyak 14 anak (93,3%) sehingga dapat
dialami hospitalisasi dapat menimbulkan
diartikan bahwa ada pengaruh terapi bermain
dampak diantaranya proses penyembuhan
terhadap respon penerimaan pemberian obat
anak dapat terhambat, menurunnya semangat
injeksi pada anak pra sekolah di rumah sakit
untuk sembuh dan tidak kooperatifnya anak
dimana anak yang diberikan terapi bermain
2

lebih bagus penerimaanya dibanding dengan terapi bermain yang khusus dilakukan oleh
anak yang tidak diberikan terapi bermain. petugas kesehatan, terapi bermain hanya
dilakukan oleh Mahasiswa keperawatan yang
Mewarnai gambar adalah salah satu cara yang melakukan praktik dan hasil dari terapi
tepat untuk mengurangi kecemasaan saat bermain yang dilakukan mahasiswa tersebut
diberikan injeksi kepada anak pra sekolah berhasil menurunkan tingkat kecemasan anak
yang mengalami hospitalisasi dengan cara saat di injeksi. Berdasarkan uraian, peneliti
Mewarnai merupakan salah satu permainan tertarik untuk mengetahui apakah ada
yang memberikan kesempatan anak untuk pengaruh terapi bermain mewarnai gambar
bebas berekspresi dan sangat terapeutik. Anak terhadap tingkat kecemasan pada anak usia
dapat mengekspresikan perasaannya dengan prasekolah saat tindakan injeksi yang di rawat
cara mewarnai gambar, ini berarti mewarnai di rumah sakit?
gambar bagi anak merupakan suatu cara untuk
berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata METODE PENELITIAN
dengan mewarnai gambar juga dapat Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif,
memberikan rasa senang karena pada Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan
dasarnya anak usia prasekolah sudah sangat
metode posttest-only non equivalent control
aktif dan imajenatif selain itu anak masih
group metode ini diberikan pada dua
tetap dapat melanjutkan perkembangan
kelompok satu eksperimen satu kontrol.
kemampuan motorik halus dengan mewarnai desain penelitian Quasi eksperemental yang
meskipun masih menjalani perawatan bertujuan menguji hubungan sebab akibat
dirumah sakit (Fricilia, 2013). populasi dalam penelitian ini yaitu anak usia
prasekolah di RSUD Brebes. Sampel yang

Survey pendahuluan yang dilakukan oleh digunakan sebanyak 24 anak, teknik

peneliti di dapatkan anak usia 5 dan 6 pengambilan sampel Accidental Sampling,

mengalami kecemasan saat pemberian obat cara pengambilan data menggunakan


observasi anak pra sekolah.
injeksi yang dapat ditunjukan dengan reaksi
mereka yaitu takut terhadap pengobatan yang
diberikan, reaksi menolak, takut, anak sering
menangis dan tidak kooperatif pada petugas
kesehatan. Di rumah sakit belum ada program
3

HASIL PENELITIAN Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat

Tabel 1. Distribusi Berdasarkan Usia Anak Kecemasan anak prasekolah Berdasarkan

Prasekolah Diruang anak RSUD Brebes pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol di Ruang

Kelompok Eksperimen Anak RSUD Brebes tahun 2019 (n=12)


Tingka Kelompok
Usia Mean Median Min Max kecemasan
Kelompok eksperimen
Kontrol
Eksperimen 5,50 5,50 5 6 anak Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase
Kontrol 5,50 5,50 5 6 Tidak ada
9 75,0 2 16.7
cemas
Ringan 1 8,3 0 0
Berdasarkan tabel 1 mengenai karakteristik
Sedang 1 8,3 1 8.3
responden berdasarkan usia anak pada Berat 1 8,3 3 25.0
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Panik 0 0 6 50.0

menunjukan bahwa nilai rata-rata responden Total 12 100.0 12 100.0

5.50 dan usia termuda adalah 5 tahun dan Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa
yang paling tua 6 tahun. tingkat kecemasan anak pada kelompok
eksperimen yang tidak mengalami kecemasan
Tabel 2. Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin setelah dilakukan terapi bermain mewarnai
Anak Diruang anak RSUD Brebes Tahun 2019 gambar saat injeksi sebanyak sembilan
(n=12) responden 75% yang mengalami kecemasan
Jenis Kelompok
kelamin Eksperimen
Kelompok Kontrol ringan sebanyak 1 responden (8.3%), yang
anak Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase mengalami kecemasan sedang sebanyak 1
Laki-laki 5 41.7 5 41,7
Perempuan 7 58.3 7 58,3 responden (8.3%) dan yang mengalami
Total 12 100.0 12 100.0
kecemasan sangat berat/panik yaitu tidak ada,
Berdasarkan tabel 2 hasil penelitian dari 24 sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak
didapatkan bahwa pada kelompok eksperimen dilakukan terapi bermain mewarnai gambar
yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 5 saat injeksi, yang tidak mengalami kecemasan
responden (41.7%) dan yang berjenis kelamin sebanyak 2 responden (16.7%), yang
perempuan sejumlah 7 responden (58.3%), mengalami kecemasan ringan tidak ada, yang
sedangkan pada kelompok kontrol responden mengalami kecemasan berat sebanyak 3
yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 5 responden (25%), dan yang mengalami
responden (41.7%) dan yang berjumlah kecemasan sangat berat/panik sebanyak 6
kelamin perempuan sejumlah 7 responden responden (50%).
(58.3%). Data tersebut menunjukan bahwa
responden yang berjenis kelamin terbesar
adalah perempuan.
4

Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Data antara Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
Kelompok Eksperimen dan Kontrol Di Ruang bahwa Anak usia 5 tahun (50.0%), anak usia
Anak RSUD Brebes 6 tahun (50.0%). Hasil penelitian ini sejalan
Variabel Sig dengan hermi (2012) didapatkan hasil anak
Usia 1,000
usia 5 tahun (50%) dan anak usia 6 tahun
Jenis kelamin 1,000
(40%). Anak usia prasekolah dalam
Berdasarkan tabel 4 diatas menujukan bahwa
penelitian ini yaitu anak usia 3-6 tahun. Hal
responden yang mengalami kecemasan pada
ini sejalan dengan pernyataan oleh
kelompok eksperimen dan pada kelompok
Stuart&Laraia (2010) bahwa anak yang
kontrol memiliki nilai signifikasi homogenitas
usianya lebih muda mempunyai penguasaan
usia 1,000 dan jenis kelamin 1,000, dari data
ego yang belum matang dan belum mampu
diatas dapat disimpulkan bahwa kelompok
menyelesaikan masalah sesuai realita,
eksperimen dan kontrol memiliki varians yang
sehingga lebih mudah mengalami kecemasan
sama atau memiliki homogen karena nilai
dibandingkan anak yang berusia lebih tua
signifikasi > 0,05.
Stuart GW&Sundeen (2011). Pernyataan
lainnya oleh Sacharin (2009) bahwa semakin
Tabel 5. Distribusi Pengaruh Terapi Bermain
muda usia anak maka akan semakin sulit
Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat
Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah Saat bagian aku untuk dapat menyesuaikan diri

Tindakan Injeksi Di Ruang Anak RSUD terhadap lingkungan yang baru dikenalnya

Brebes Tahun 2019. seperti pengalaman dirawat di rumah sakit


Kecemasan Hockenbery (2009).
Terapi Tidak Cemas Cemas Cemas P-
Panik Total
cemas ringan sedang berat Value
Kontrol 2 0 1 3 6 12
0,001 PEMBAHASAN
Intervensi 9 1 1 1 0 12
Total 11 1 2 4 6 24
Berdasarkan tabel 1 mengenai karakteristik
anak prasekolah berdasarkan umur dan jenis
Berdasarkan tabel 5 hasil penelitian dari 24
kelamin di ruang anak RSUD Brebes tahun
responden menunjukan bahwa didapatkan uji
2019 didapatkan bahwa anak usia 5 tahun
dengan menggunakan tingkat kesalahan 5% p-
(50.0%), anak usia 6 tahun (50.0%). Hasil
vaule 0,05 diperoleh p-value = 0,011 sehingga
penelitian ini sejalan dengan hermi (2012)
p-value yaitu (0.011< 0.05) yang berarti data
didapatkan hasil anak usia 5 tahun (50%) dan
tersebut Ha diterima dan Ho ditolak, jadi
anak usia 6 tahun (40%). Anak usia
didapatkan bahwa ada pengaruh terapi bermain
prasekolah dalam penelitian ini yaitu anak
mewarnai gambar terhadap tingkat kecemasan
usia 3-6 tahun. Hal ini sejalan dengan
pada anak usia prasekolah saat tindakan injeksi
pernyataan oleh Stuart&Laraia (2005) bahwa
di ruang anak RSUD Brebes.
anak yang usianya lebih muda mempunyai
5

penguasaan ego yang belum matang dan menunjukan bahwa jenis kelamin responden
belum mampu menyelesaikan masalah sesuai mayoritas perempuan dengan jumlah 14 anak
realita, sehingga lebih mudah mengalami dan anak laki- sebanyak 10 anak. Anak
kecemasan dibandingkan anak yang berusia perempuan yang menjalani hospitalisasi akan
lebih tua Stuart GW&Sundeen (2011). memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi
Pernyataan lainnya oleh Sacharin Rosa (2009) dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini

bahwa semakin muda usia anak maka akan kemungkinan karena pengaruh

semakin sulit bagian aku untuk dapat hormonestrogen yang apabila berinteraksi

menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang dengan serotonin akan memicu timbulnya
kecemasan Apriliawati (2011).
baru dikenalnya seperti pengalaman dirawat
di rumah sakit Hockenbery (2009).

Berdasarkan tabel 3 mengenai tingkat


Berdasarkan hasil pengukuran kecemasan
kecemasan anak prasekolah sebelum diberi
pada kelompok control maupun kelompok
terapi bermain mewarnai gambar saat akan
eksperimen yang dilakukan peneliti
tindakan injeksi didapatkan hasil bahwa pada
menggunakan kuesioner Preschool Anxiety
kelompok kontrol yang tidak dilakukan terapi
Scale-Revised (2010) di dapatkan bahwa anak
bermain mewarnai gambar saat injeksi dengan
usia 5 tahun memiliki skor kecemasan yang
distribusi frekuensi mendapatkan hasil, yang
lebih tinggi dibandingkan anak yang berusia 6
mengalami kecemasan berat/ panik sebanyak 6
tahun. Anak usia prasekolah mengalami
anak (50,0%) ditandai dengan anak serng
kecemasan akibat perpisahan selama
menangis dengan volume keras saat akan
menjalani hospitalisasi karena kemampuan
dilakuka injeksi, dan wajah terlihat tegang.
kognitif yang masih terbatas untuk memahami
Penelitia ini sejalan dengan penelitian yang di
arti hospitalisasi (Hockenbery, 2009).
lakukan Devi (2017) terdapat 11 anak yang
mengalami kecemasan berat (54,4%), dan
Berdasarkan tabel 2 mengenai jenis kelamin menurut Andin (2013) didapatkan penerimaan
anak di ruang anak RSUD Brebes Tahun 2019 negatif yakni sebanyak 13 anak (86.7%).
didapatkan bahwa sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan sebanyak 58,3% Hal ini didukung oleh Muscary (2010), anak
dan 41,7% laki-laki. Penelitian ini sejalan yang dikatakan tidak mengalami cemas apabila
dengan penelitian Ayib (2015) yang anak tersebut kooperatif terhadap perawat,
menyatakan bahwa sebagian besar responden tidak menangis, ada ekspresi tertentu atau
berjenis kelamin perempuan (60%). senyum saat perawat menghampiri anak
tersebut. Anak yang mengalami cemas ringan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah di apabila anak tersebut sesekali meringis atau
lakukan oleh peneliti di RSUD Brebes cemberut, sesekali mengeluh, timbulnya
6

perasaan berdebar-debar, banyak berbicara dan saat anak mengalami hospitalisasi, hal tersebut
bertanya perasaan relatif masih terasa aman mempengaruhi sehingga anak yang
dan tetap tenang, penampilan juga tetap tenang hospitalisasi sebagian besar dalam cemas berat.
dan suara tidak tinggi, dalam kondisi cemas
ringan umumnya individu masih dapat Berdasarkan tabel 5 mengenai hasil uji Mann
mengenal tempat, orang dan waktu. Dikatakan whitney nilai hitung p = 0.001 lebih kecil dari
cemas sedang dapat ditunjukkan dengan nilai α = 0.05. Dari analisis tersebut dapat
adanya mulut kering, sering cemberut kadang diartikan bahwa Ha diterima atau ada pengaruh
sesekali merengek seperti mau nangis, badan terapi bermain mewarnai gambar terhadap
bergetar, ekspresi wajah ketakutan, sering tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah
mengeluh atau tidak mampu rileks, meremas- saat tindakan injeksi.
remas tangan, posisi badan sering berubah-
ubah, dan banyak bicara dengan volume agak Berdasarkan hasil penelitian pada 24
keras. Apabila anak yang mengalami cemas responden menunjukan bahwa tingkat
berat ditandai dengan nafas pendek, tercekik, kecemasan anak dengan distribusi frekuensi
pusing, sering menangis atau mudah menangis, mendapat hasil terbesar pada kelompok kontrol
rasa tertekan, rasa nyeri dada, kondisi motorik yang tidak dilakukan terapi bermain mewarnai
berkurang, menyalahkan orang lain, cepat gambar saat injeksi yaitu responden yang
tersinggung, volume suara keras dan sukar mengalami kecemasan sangat berat/panik
dimengeri serta perilaku diluar kesadaran, berjumlah enam responden yang ditandai
dapat juga menutup mata dan tidak mau dengan responden kehilangan kontrol, timbul
melihat lingkungan, serta wajah tampak marah menangis kencang dan berontak saat
tegang. Sedangkan anak yang mengalami dilakukan injeksi, sedangkan pada kelompok
panik dapat ditandai dengan kehilangan eksperimen yang dilakukan terapi bermain
kontrol secara total, mulai timbul marah, mewarnai gambar saat injeksi yaitu responden
menangis, menarik diri, berlari, tingkah laku yang tidak mengalami cemas berjumlah
dapat sangat aktif atau sangat diam, tidak sembilan responden yang ditandai dengan
mampu mengenal lingkungan (tempat) dirinya, responden tersebut senang saat diterapi
waktu maupun orang, menangis kencang, bermain menggunakan terapi mewarnai
wajah pucat dan dingin, tidak mampu gambar, ada ekspresi senyum, kooperatif dan
mengenal stimulus-stimulus. tidak menangis saat dilakukan injeksi. Pada
kelompok eksperimen yang diberi terapi
Peneliti berpendapat bahwa kecemasan anak bermain mewarnai gambar tetapi ada satu yang
sebelum diberikan terapi bermain mewarnai mengalami kecemasan berat dikarenakan
gambar, sebagian besar anak tidak mau responden masih belum sepenuhnya
ditinggak orang tuanya, anak takut, dan tidak beradaptasi dengan lingkungan dan kebiasaan
mau berpisah dengan orang yang terdekat pada dirumah sakit, responden tersebut masih
7

berumur 5thn dan tidak kooperatif dengan bahwa sangat penting penerapan terapi
perawat. bermain pada anak usia pra sekolah selama
dirawat di rumah sakit.
Hal ini berarti bahwa dalam skor tingkat
kecemasan anak pada kelompok yang KESIMPULAN
diberikan perlakuan lebih memberikan respon Ada pengaruh terapi bermain mewarnai
penerimaan positif dibanding dengan tidak gambar terhadap tingkat kecemasan pada anak
diberikan perlakuan dalam artian tidak usia prasekolah saat tindakan injeksi di ruang
diberikan terapi bermain mewarnai gambar anak RSUD Brebes Pv 0,001.
saat penyuntikan. Namun dalam tingkat
kemaknaan yang diperoleh dari hasil olah data SARAN
SPSS dalam kelompok tidak berpasangan Institusi Rumah Sakit
memberikan pengaruh terapi bermain saat Dari pihak rumah sakit khususnya tenaga
penyuntikan terhadap respon penerimaan anak. perawat untuk mempertimbangkan
Keberhasilan pemberian terapi bermain saat pelaksanaan diterapkannya kegiatan terapi
penyuntikan selama menjalani perawatan bermain menggunakan mewarnai gambar yang
dipengaruhi oleh permainan yang disediakan sesuai keinginan atau imajinasi anak dan dapat
peneliti berupa jenis permainan yang sesuai dijadikan alternatif sebagai bagian dari proses
dengan tingkat tumbuh kembang anak, keperawatan untuk meminimalkan rasa takut
sehingga anak tertarik dengan permainan yang terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri saat
diberikan rasa tertarik anak terhadap dilakukan tindakan pemberian obat injeksi.
penerimaan akan menimbulkan rasa senang
selama menjalani perawawatan. Institusi Pendidikan
Dapat meningkatkan mutuasuhan keperawatan
Bedasarkan hasil penelitian dan pendapat- khususnya keperawatan anak agar benar-benar
pendapat di atas, maka peneliti berpendapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak
bahwa ada pengaruh terapi bermain mewarnai dan bagi orang tau hendaknya menyadari
gambar terhadap tingkat kecemasan pada anak pentingnya bermain bagi anak selama dirumah
usia pra sekolah saat tindakan injeksi diruang sakit dan ikut terlibat dalam pemberian terapi
anak RSUD Brebes bahwa anak prasekolah bermain.
yang diberikan terapi bermain mewarnai Peneliti Selanjutnya
gambar lebih baik penerimaannya dari pada Bagi penelitian keperawatan diharapkan dapat
tidak diberikan terapi bermain mewarnai dilakukan penelitian lanjutan mengenai
gambar, selain itu dapat pula meningkatkan pengaruh terapi bermain mewarnai gambar
asuhan keperawatan khususnya pada dengan menggunakan responden yang
keperawatan anak sehingga menurut peneliti jumlahnya lebih besar.
8

DAFTAR PUSTAKA liberary stikes nani hasanudin-junaidi-


203-artikel.
Apriliawati. (2011). Pengaruh Terapi Bermain
Muscary, M. E. (2010). Panduan Belajar :
Terhadap Hospitalisasi pada Anak.
Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.
Jurnal Universitas Indonesia. http: //
Sacharin Rosa (2009) Prinsip Perawatan
digital_20280209.
Pedriatic Ed.2.Jakarta :EGC
Ayib (2015). Buku Saku Keperawatan
Stuart&Laraia (2010). Buku Saku
Pediatric. Jakarta : EGC.
Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC
Devi (2017) Manajemen Stres Cemas dan
Supartini, Y. (2012). Buku Ajar Konsep Dasar
Depresi. Jakarta : Balai Penerbit
Keperawatan Anak Jakarta: EGC.
FKUL.
Elfira E. (2011). Pengaruh Terapi Bermain
Dengan Tehnik Bercerita Terhadap
Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada
Anak Pra Sekolah Di Ruang Perawatan
Anak Di Rsup H. Adam Malik Medan.
Skripsi.
Fricilia, (2013). Pengaruh Terapi Bermain
Terhadap Respon Penerimaan
Pemberian Obat Injeksi Pada Anak Pra
Sekolah.Jakarta : EGC.
Sundeen. (2011). Buku Saku Keperawatan
Jiwa . Jakarta : EGC
Hermi (2012). Manajemen Stres Cemas dan
Depresi . Jakarta : Balai Penerbit
FKUI
Hockenbery (2009). Wong Nursring Care of
infant and Children . Eight Edition ,
Mosby : Evolve elsevier.
Junaidi. (2013). Pengaruh Terapi Bermain
Terhadap Respon Penerimaan
Pemberian Obat Injeksi Pada Anak Pra
Sekolah. Jurnal Skripsi Politeknik
Kesehatan Kemenkes Makasar. http// e-