Anda di halaman 1dari 97

WUJUD ZAT &

KESETIMBANGAN FASE
FARMASI FISIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PENDAHULUAN
Wujud zat dialam :
 Gas
 Cair
 Padat
 Cair-padat (mesofase/kristal cair)
•Istilah perubahan wujud :
 Pelelehan
 Pembekuan
 Penyubliman iodium, kamfor
 Penguapan
 pengembunan
WUJUD GAS

3
SIFAT GAS

Partikel bergerak bebas dan acak


Kecepatan tertentu
Partikel bertumbukan satu sama lain dan juga wadah

menghasilkan tekanan
•Tekanan : dyne/cm2
•Volume : liter/cm3
HUKUM GAS IDEAL
Hukum Boyle : volume dan tekanan dari massa gas
pada T konstan

P = 1/V PV=K
•Hukum Gay-Lussac&Charles : V dan T konstan
berbanding lurus dg P.

P=T P = KT
•Persamaan digabungkan menjadi:

P 1V1 = P2V2 = K
T1 T2
• Harga konstanta disebut konstanta gas ideal (R), shg persamaan
menjadi :

P V = RT
• Utk gas sebanyak n mol :
Persaman gas ideal
PV = nRT (Hk Boyle-Gay Lussac&Charles)
bContoh Soal :

1. Dalam penentuan spiritus etil nitrit, gas oksida nitrat yg dibebaskan


dikumpulkan pada wadah kaca dg volume 50,0 ml pd temperatur 30oC dan
tekanan 750 mm Hg. Berapakah volumenya pada 0oC dan 760 mm Hg?
(gas dianggap bersifat ideal)
2. Dalam penentuan spiritus etil nitrit, gas oksida nitrat yg dibebaskan
dikumpulkan pada wadah kaca dg volume 20,0 ml pd temperatur 40oC dan
tekanan 730 mm Hg. Berapakah volumenya pada 0oC dan 760 mm Hg?
(gas dianggap bersifat ideal)
Harga konstata gas ideal (R) dpt dihitung berdasar fakta V satu mol gas
STP (0OC dan 1 atm) adl 22,4 L sehingga :
PV = nRT
1 atm x 22,4 L = 1 mol x R x 273oK
R = 0,08205 L atm/mol derajat
•Satuan R dpt dirubah dlm satuan energi dg menganti tekanan dyne/
cm2 (1 atm = 1,0133 x 106 dyne/cm2) dan vol dlm cm3 (22,4 L = 22,4cm3)
maka :
RT = PV
T
= (1,0133 x 106) x22,4
273
= 8,314 x 107 erg/mol derajat
= 8,314 joule/mol derajat
( 1 joule = 107 erg)
R juga dapat dinyatakan dalam kal/mol derajat, dg
menggunakan 1 kal = 4,184 joule
R = 8,314 joule/mol derajat
4,184 joule/kal
= 1,987 kal/mol derajat
•Satuan R harus sesuai dg kasusnya. Dalam hukum gas
biasanya liter atm/mol derajat. Dalam termodinamika
biasanya kal/mol derajat atau joule/mol derajat.
Contoh Soal

1. Berapakah volume 3 mol gas ideal pada 20oC dan tekanan


780 mm Hg?
Berat Molekul

BM cairan mudah menguap dpt diprediksi dg persamaan gas ideal

Metode Regnault dan Victor Meyer


•Jml mol gas n diganti g/M
•g : berat gas (g)
•M : berat molekul

P V = g/M.RT
Contoh Soal :

1. 0,05 g cairan mudah menguap ditempatkan dlm ruangan 100ml. Pada


suhu 110oC semua cairan menguap dan memberikan tekanan 1 atm.
Berapa BM senyawa tsb?
2. Kloroform sebanyak 0,01 g ditempatkan dlm Erlenmeyer 50ml. Pada
suhu 70oC cairan menguap danmemberikan tekanan 1 atm. Berapa BM
kloroform tsb?
Teori Kinetika Molekular

Teori yg dikembangkan utk mempelajari sifat gas


Teori ini berlaku utk gas ideal. Diasumsikan :
 Gas terdiri dr partikel yg disebut molekul, volume molekul gas
diabaikan thd vol ruang
 Molekul gas tdk saling berinteraksi
 Gerakan partikel gas ramdom energi kinetik E =3/2RT
 Molekul menunjukkan elastisitas sempurna
•Dari asumsi tsb diturunkan persamaan :

P V = 1/3nmµ2 µ2 = 3PV
nm
•n: jml partikel m: massa 1 partikel
Karena PV = RT dan nm = M (Berat Molekul), maka persamaan
menjadi : 2
µ = RT
M
Karena M:V adalah d, maka persamaan menjadi :
µ2 = 3P
d
µ adl akar kecepatan rata-rata kuadrat, parameter yg menunjukkan
gerakan partikel dan energi kinetiknya.
µ makin besar mk energi kinetik makin besar
Contoh Soal

1. Berapakah kecepatan rata-rata kuadrat dari zat X (BM 16) pada suhu 20oC R: 8,
314x107?
Persamaan Van Der
Waals
• Gas non ideal (gas nyata) memberikan penyimpangan dari gas
ideal.
• Gas nyata terbentuk dgn volume tertentu yg cenderung tarik-
menarik
• Persamaan van der waals adl persamaan gas nyata :
01
(P+a/V2)(V-b) = RT
• Untuk n mol menjadi :

(P+na2/V2)(V-nb) = RT 03
• a/V2 : internal pressure
• b: exluded volume
WUJUD CAIR

18
Pencairan Gas
Jika Gas didingingkan,gas tsb kehilangan sebagian energy kinetiknya dan
kecepatan molekul pun turun.

Utk meningkatkan interaksi antar partikel gas dpt dilakukan :


 Penurunan suhu gas berkurang energi kinetiknya
 Peningkatan tekanan mendekatkan jarak antar partikel
•Penurunan suhu dpt dilakukan :
 Disimpan pd suhu dingin
 Ekspansi (memuai) adiabatis utk gas ideal
 Efek Joule thomson utk gas non ideal
•Perubahan gas menjadi cair dg peningkatan tekanan diaplikasikan pd
pembuatan sediaan aerosol dg propelan.
Aerosol

Propelan merupakan pembawa yg berwujud gas dlm suhu normal


dan tekanan normal, cair pd suhu rendah atau tekanan tinggi.
Produksi aerosol :
 Pada suhu rendah tekanan normal
 Pada suhu normal tekanan tinggi

menungkinkan propelan berada dlm wujud cair dlm kemasan


bertekanan tinggi.
•Jika digunakan propelan menjadi gas, meyembur sambil
membawa obat.
Persamaan Clausius-
Clapeyron
 Cairan dibiarkan maka molekul cairan akan berubah menjadi gas,
semakin lama kecepatan semakin lambat.
 Partikel gas mengalami pengembunan, semakin lama kecepatan
semakin cepat tetapi tidak akan melebihi kecepatan penguapan.
 Pd saat kecepatan pengembunan sama dg kecepatan penguapan
kesetimbangan antara fase cair dg fase uapnya.
 Tekanan yg diberikan uap cairan pd kondisi itu: tek uap
kesetimbangan atau tek uap jenuh (P).
Persamaan Clausius-Clapeyron menggambarkan hub tsb :

01 02
Log P2 = ∆Hv(T2 – T1) Log P2 = ∆Hv 1 + konstanta
P1 2,303RT2T1 R T

∆Hv : panas penguapan molar


P : tekanan uap
T : temperatur
Contoh
1.
Soal
Tekanan uap air pd suhu 100oC adl 1 atm, panas penguapan molar
9720 kal/mol. Berapa tekanan uap pada suhu 90oC!
2. Tekanan uap air pd suhu 100oC adl 1 atm, panas penguapan molar
9720 kal/mol. Berapa tekanan uap pada suhu 150oC!
Titik Didih
 Titik didih : temperatur dimana tekanan uap cairan sama
dg tekanan atmosfir.
 Pd kondisi mendidih panas yg diberikan digunakan utk
mengubah cairan menjadi gas, shg suhu cairan tdk naik.
 Panas penguapan laten : panas yg diperlukan utk
mengubah 1 gram cairan mjd gas pd kondisi mendidih.
 Jk cairan diruang tertutup rapat, berapapun suhunya
tekanan uap tdk akan sama dg tekanan atmosfer karena
Pruang = Puap+ Pgas
WUJUD PADAT

25
Pendahuluan
• Wujud gas partikel bergerak cepat dan
acak
• Wujud cair partikel bergerak walaupun lbh
lambat
• Wujud padat partikel penyusun dianggap
diam kuatnya ikatan antar partikel
penyusun.
• Padatan diklasifikasikan menjadi 2 :
1. Padatan amorf (Kristal amorf)
2. Padatan kristal (kristal kristalin)
Padatan
Amorf
 Padatan amorf tdk mempunyai bentuk kristal tertentu

 Section Break
Titik leleh tdk tentu.
Energi ikat/kisi rendah shg kelarutan tinggi.
This text can be replaced with your own text.
 Obat dlm bentuk amorf bioavailabilitas lebih baik.
 Contoh : novobiosin amorf lbh cepat diabsorbsi dari pada
novobiosin kristal.
Padatan Kristal
• Padatan kristal mempunyai bentuk tertentu yg teratur
• Bagian terkecil penyusun padatan yg masih mempunyai
sifat dr padatan unit sel.
01 tetragonal (urea), heksagonal
• Contoh unit sel : kubik (NaCl),
(iodoform), rombik/ortorombik (iodine), monoklin (sukrosa),
triklin (asam borak)
Titik Leleh dan panas
Peleburan
• Titik beku : temperatur dimana cairan berubah menjadi padatan.
• Panas peleburan : panas yg diabsorbsi ketika 1 gram padatan
meleleh.
• Titik lebur : suhu dimana terjadi kesetimbangan antara padatan
dan cairan, dipengaruhi oleh tekanan atmosfer sesuai
persamaan Clapeyron :

∆T = T V1 – V2
• ∆Hf : panas yg diperlukan∆P ∆Hf u melebur
oleh 1 mol padatan
• ∆T/∆P : perubahan TL krn perubahan tekanan
• T : TL pd tekanan 1 atm
• V1 : vol molar liquid V2 : vol molar solid
• Semakin tinggi TL atau panas peleburan molar, semakin kecil
kelarutan.
• Hubungan TL dg kelarutan :
• TL menunjukan gaya antraksi antara molekul penyusun padatan,
makin besar TL gaya atraksi semakin kuat
• Meleleh : ikanatn antara molekul banyak yg purus
• Melarut : ikatan antara molekul putus membentuk ikatan baru dg
solven mk kelarutan akan meningkat dg penurunan TL
Contoh Soal
1. Pada suhu 273oK, ∆Hf 1440 kal/mol, vol molar air 25 dan vol molar es 27
cm3/mol. berapa ∆T/∆P! (semua satua dirubah ke cgs: ∆Hf 4,187x107,
∆T/∆P 1,0133x106 dyne/cm2 atm.
2. Berapakah titik beku air pada tekanan 2 atm jika titik beku pada 1 atm
273,16oK, ∆Hf 144 kal/mol, densitas air 0,9988g/ml, es 0,9168 g/mol,
berat molekulnya 18 g/ml?
3. Berapakah titik beku air pada tekanan 4 atm jika titik beku pada 1 atm
273,16oK, ∆Hf 144 kal/mol, densitas air 0,9988g/ml, es 0,9168 g/ml,
berat molekulnya 18 g/mol?
Polimor

Senyawa organik maupun senyawa anorganik yang memiliki minimal
dua bentuk kristal yang berbeda dalam bentuk padatnya disebut
bentuk polimorfisme.
Struktur kimia sama dapat membentuk padatan kristal yang berbeda,
masing – masing bentuk disebut polimorf.
Bentuk polimorfisme pd umunya dibedakan atas dua golongan yaitu:
1. Bentuk stabil kristal
2. Bentuk meta stabil amorf
Polimorf yang berbeda titik leleh dan kelarutan berbeda,
bioavailabilitas berbeda, difraksi sinar-x.
Polimorf yang metastabil akan memberikan kelarutan yang lebih tinggi
Difraksi sinar-X merupakan teknik yg digunakan utk menganalisis padatan
kristalin. Sinar-X merupakan radiasi gel elektromagnetik dengan panjang gel
sekitar 1 Å, berada di antara panjang gel sinar gama dan sinar uv.
Untuk mengetahui btk polimorfi :
1. Disolusi, pengamata terhadap bentuk amorf yang memiliki
kecepatan disolusi lebih besar.
2. Difraksi sinar X, setiap bentuk kristal memiliki susunan kisi kristal
yang berbeda dan perbedaan tersebut akan tampak dalam
perbedaan spektra sinar X.
3. Analisa inframerah, adanya perbedaan pada penyusunan kristal
akan berpengaruh terhadap energi ikatan molekul sehingga akan
berpengaruh pula terhadap spektra inframerahnya.
4. Differential Scanning Colorimetry and Differenstial thermal
analysis.
WUJUD MESOFASE

35
Pendahuluan
• Wujud mesofase adl peralihan antara wujud padat dg wujud cair
kristal cair.
• Cair : gerakan molekul bebas dan dapat berputar pada 3 sumbunya
• Padat : molekul tidak bergerak
• Mesofase : bergerak dan berputar tapi terbatas
• Berdasar gerakan mesofase ada 2 tipe :
1. SMEKTIK, gerakan molekul dua arah, berputar pada satu sumbu
2. NEMATIK, gerakan molekul tiga arah, berputar pada 1 sumbu.

36
A. Nematik B. Smektik
Bagaimana bisa terbentuk?
1. Kristal cair thermotropik, pemanasan padatan, ex:
pemanasan kholesterol benzoat pd 145oC, menjadi cair
pada 179oC
2. Kristal cair liotropik, penambahan solven dalam padatan
tertentu, ex: campuran trietanolamin dan asam oleat.
Alami dalam tubuh: Jaringan otak, pembuluh darah, usus,
syaraf.
KESETIMBANGAN FASE

39
Pendahuluan
• Fase : bagian dr sistem yg dg jelas secara fisik terpisah dari
bagian yg lain.
• Jika fase telah mengalami kesetimbangan, besaran-
besaran dlm sistem tsb berada dlm keasaan kosntan.

40
FASE

Padat Cair Gas

Kesetimbangan
(berisi komponen dengan jumlah ttt)

Variabel
(temperatur, tekanan, konsentrasi)
Aturan Fase J.W. GIBBS

F=C–P+2

F = juml derajat kebebasan (degree of Freedom)


C = juml komponen (Components)
P = juml fase yang ada (Phase)
Aturan Fase :
• Berguna untuk menghubungkan pengaruh dari
jumlah terkecil variabel bebas pada berbagai fase,
yang dapat berada dalam sistem kesetimbangan
yang berisi komponen dalam jumlah tertentu.
Contoh - contoh
• Air membentuk kesetimbangan dengan uapnya
• Campuran air dan alkohol membentuk kesetimbangan
dengan uapnya
• Campuran air dan eter membentuk kesetimbangan dengan
uapnya

44
Contoh-Contoh
• Air membentuk kesetimbangan dg uapnya.
 Satu C : air
 Dua P : air cair dan uap air
 F = 1-2+2 = 1
 Variabel : satu besaran
• Kesetimbangan camp air dan etanol dg uapnya
 Dua C : air dan etanol
 Dua P : cair (camp air&etanol) dan uap (air&etanol)
 F  2-22  2
 Variabel : dua besaran
• Kesetimbangan campuran air dan eter dengan uapnya
 Dua C : air dan eter
 Tiga P : cairan air yg jenuh dg eter, eter yg jenuh dg air dan uap (air&eter)
 F = 2-3+2 = 1
 Variabel : 1

46
Sistem satu komponen
Diagram fase air
B A Pada daerah padat
murni/cairan murni/uap
Tekanan murni (1 fase), F = 2
uap CAIR
(sistem bivarian)
PADAT
(mmHg)
Pada sepanjang garis (2
4,58 fase), F =1 (sistem
O univarian)
UAP
C Pada titik triple (O) (3
fase), F = 0 (sistem
0,0098 Suhu (OC) invarian)

OA : Kurva tekanan Uap OB : Kurva titik leleh OC : Kurva Sublimasi

47
• Pada keadaan padat, cair, atau uap saja :
F=C–P+2
= 1 – 1 + 2 = 2 ( T dan P )
 untuk menetapkan sistem sempurna

• Pada kurva OC, OA, OB :


F=1–2+2=1
 hanya 1 kondisi yg diperlukan untuk
menggambarkan sistem

• Pada titik triple :


F = 1 – 3 + 2 = 0 (tidak ada variabel)
Sistem Terkondensasi :
• Sistem di mana fase uap diabaikan dan hanya
fase padat dan atau fase cair yang
diperhitungkan.

• Mis : sistem 2 komponen  F maks 3 (T, P dan


C)  model 3 dimensi. Jika fase uap diabaikan
 F  2  gambar planar  dianggap bekerja
pada tekanan konstan 1 atm.
Sistem 2 Komponen
A. Berisi Fase Cair
Contoh : fenol – air
trietilamin – air
nikotin - air

B. Berisi Fase Cair – Padatan


Contoh : salol – timol
salol – kamfer
lidokain - prilokain
Diagram Sistem Fenol-Air
 Aplikasi : sediaan cair 1 fase tunggal?

 Temp. larutan kritik (temp. konsolut maksimum) :


temp. maksimum di mana tdp 2 fase dalam
kesetimbangan.

 Garis bc  tie line


berat fase A  panjang dc
berat fase B panjang bd

 Fase konjugat : fase yang terpisah dalam sistem


kesetimbangan dengan komposisi yang tetap.

51
Gb. 2: Diagram komposisi-temp untuk sistem tdr dr air & fenol
80

Fase satu cairan


70
h Kaya akan air (A)
66,80
Kaya akan fenol (B)
60
Temperatur (0C)
50 a b d e f c

40
Fase dua cairan
30 11% 63%
fenol fenol i
g
20

0 20 40 60 80 10 0
Fenol dalam air (% berat)
Fase konjugat : fase yang terpisah dalam
sistem kesetimbangan dengan komposisi
yang tetap.

Pada suhu 500C (kstb)


11% fenol

FASE A 89% air


(kaya akan air)

FASE B 63% fenol


(kaya akan fenol)
37% air
Contoh : pada tabung d
• Sistem tdr dari 24% fenol & 76% air
• Fase A = 63-24 = 39 = 3
Fase B 24-11 13 1

Jika tdp 100 g sistem cair dlm kstb :


Fase A = ¾ x 100 = 75 g 8,25 g fenol
66,75 g air
Fase B = ¼ x 100 = 25 g 15,75 g fenol
9,25 g air
10 0

80

Dua fase

Temperatur (0C)
60

40

20

Satu fase
0

0 20 40 60 80 10 0

Trietilamin dalam air (% berat)

Gb. 3: Diagram fase untuk sistem trietilamin-air yg


memperlihatkan titik konsolut minimum
240

Satu fase
200

16 0 Dua fase

Temperatur (0C)
12 0 Dua fase

80

40

Satu fase
0

0 20 40 60 80 10 0

Gb. 4: Sistem nikotin-air yg memperlihatkan titik


konsolut maksimum & minimum
Diagram sistem salol-
timol
 Pada titik eutektik (130C)  tjd kstb
antara : cair
padat salol
padat timol
F=2–3+1=0
 Aplikasi :
sediaan serbuk kering, bgmn komposisinya?
Sed transdermal  me kelarutan  me
absorpsi
Gb.5: Diagram fase untuk sistem timol-salol
60
6
Titik leleh 0
timol murni
50 Titik leleh
y x 5
salol murni 0
Satu fase cair
40 (i) 4
0

Temperatur (0C)
Temperatur (0C) Padatan
30 timol+
3
x1 cairan (iii) 0
Padatan Titik
salol+ eutektik a1 b1
20
x2 2
cairan (ii) a2 b2
x3 0
a3 b3
13
10
x4 1
a4 b4 0
Padatan salol + padatan timol (iv)
0

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 10 0

Timol dalam salol (%berat)


 Titik x1 pada 250C a1 : fase cair
(53% timol dlm salol)
b1 : fase timol murni
a1 = 100-60 = 40 = 5,71
b1 60 – 53 7 1

 Titik x4 pada 100C a4 : fase salol murni


b4 : fase timol murni
a4 = 100-60 = 40 = 0,66
b4 60 – 0 60 1
Dispersi Padat
• Campuran satu komponen dalam komponen
lain  campuran kristal

• Suatu fase padat yg berisi 2 komponen yaitu zat


terlarut padat dilarutkan dalam pelarut padat 
larutan padat

• Bagi obat yg sukar larut dalam pembawa yang


mudah larut  meningkatkan kelarutan dan
bioavailabilitas
Contoh camp eutektik
Testosteron – mentol 400C
Kolesterol – mentol 400C
Mentol, camphor, fenol thymol, dan / kloral hidrat
~250C
Lidocain –prilocain ~250C
Sistem 3 Komponen
• F=C–P+2
= 3 – 1 + 2 = 4 ( T, P, 2 konsentrasi)
 sistem tdk terkondensasi
Untuk sistem terkondensasi ( T & P konstan)  F  2
 dapat dipakai diagram satu bidang dengan kertas grafik
koordinat segitiga.
Aturan Diagram Segitiga:
1. Sudut segitiga menunj. berat 100% dari satu
komponen dan 0% kedua komponen yg lain.
2. Tiga garis yg menghubungkan 3 sudut menunj.
campuran 2 komponen
3. Daerah dlm segitiga menunj. campuran 3
komponen. Contoh : titik X
4. Apabila titik sudut dihubungkan garis di
depannya  titik-titik pd garis tsb menunj.
perbandingan konstan 2 komp, komponen
yang satu berubah. Contoh : garis CD

5. Setiap garis yang sejajar dg salah satu sisi


menunj. Sistem terner di mana perbandingan
salah satu komponen tetap, 2 komponen lain
bervariasi. Contoh : garis HI
Gb.6: Diagram segitiga untuk sistem 3 komponen.

i
100%
Bh
H
D gY

fF

a n n a ik

Ke C
an
na
Z

B
Ke
e

ik
X
G
d
J E
c
I
100% b
Kenaik
100%
A an A C
a
Sistem Terner dg Sepasang Cairan
Tercampur Sebagian
• Air & benzen  2 fase (tercamp sebag.)
• Alkohol & air ; alkohol & benzen 
bercampur sempurna
• Jika benzen dan air diberi alkohol yg cukup
 1 fase cair tunggal (camp. air, benzen, &
alkohol)
• Konsentrasi alkohol  kelarutan
sempurna pada camp. Membentuk 1 fase (
di luar kurva binodal )
B

Satu fase cair

Dua fase cair e


i
f g h

A a b j c C

Gb.7 : Sistem tiga cairan, satu pasang di antaranya


bercampur sebagian
B

temperatur
t3

t2

t1 A C

Gb.8: Perubahan kurva binodal dengan perubahan


temperatur.
B B B

+DT +DT
-DT -DT

A C A C A C

Gb.9: Pengaruh perubahan temperatur pada kurva binodal


pada suatu sistem dengan 2 pasang cairan bercampur
sebagian.
B B B

+DT +DT
y
-DT -DT

D
x z

A C A C A C

Gb.10: Pengaruh perubahan temperatur pada kurva binodal


pada suatu sistem dengan 3 pasang cairan bercampur
sebagian.

Pada daerah D  F  0 (kondisi isothermal)


ANALISIS PANAS

YAITU : metode untuk penandaan sifat


perubahan fisis dan kimia karena perubahan
suhu (T) pada sampel bahan.

TIPE ANALISIS PANAS :


DSC : Differential Scanning Calorimetry
DTA : Differential Thermal Analysis
TGA : Thermal Gravimetry Analysis
TMA : Thermal Mechanic Analysis
Kegunaan:
Banyak digunakan dalam penelitian dan
pengawasan mutu obat :
• Karakterisasi & identifikasi bahan
• Penentuan kemurnian
• Polimorfisme
• Kelarutan dan kadar kelembaban
• Stabilitas obat
• Kompatibilitas dengan eksipien
Prinsip : pemanasan sampel di bawah kondisi
terkontrol dan diamati perubahan fisika dan kimia
yang terjadi.
Sifat-sifat yang diukur :
 Titik leleh
 Kapasitas panas
 Panas reaksi
 Kinetika penguraian
 Perubahan sifat rheologi

Dari bahan biokimia, farmasi, makanan &


pertanian
DSC
• Sampel & pembanding dalam wadah terpisah 
temp tiap wadah dinaikkan/ diturunkan dengan
kecepatan ttt.
• Contoh : asam benzoat. Saat mencapai tl (122,
40C)  temp konstan hingga semua mencair.
Perbedaan input panas sampel dan pembanding
(indium) dicatat  grafik dH/dt vs temp rata-
rata.
• Sensitivitas : 0,1 mkal/det
• Range temp : -175 s/d 7250C
5

4
Fusion peak
3

Heat flow rate (kal/dt)


2

1 DHf
Endoterm
0

-1
Eksoterm

-2

-3

-4

20 40 60 80 10 0 12 0 14 0 16 0 18 0 200 220 0C

Gb.11: Thermogram suatu senyawa obat. Transisi


endotermik (absorpsi panas) ditunjukkan dengan arah ke
atas, dan transisi eksotermik (pelepasan panas)
ditunjukkan dengan arah ke bawah.
• DSC banyak digunakan untuk identifikasi dan uji
kemurnian, selain itu mengukur kapasitas panas,
panas peleburan, fase diagram untuk studi
polimorfi, mengetahui kinetika dekomposisi
padatan, standarisasi proses liofilisasi, deteksi
perubahan kristal dan eutektik.

sampel pembanding

Sensor panas platinum

Pemanas individual
DTA
• Sampel dan pembanding dipanaskan dengan
sumber panas biasa, tidak sendiri2 spt pada DSC.
Termokopel ditempatkan bersentuhan dengan
sampel dan pembanding untuk memonitor
perbedaan temp sampel dan pembanding saat
dipanaskan pada kec konstan. Perbedaan temp
diplot vs waktu  thermogram

• Kelemahan : DT tgt pada resistan aliran panas (R)


 R tgt pada : temp, sifat sampel, packing zat dlm
wadah  tidak bisa langsung mengukur energi
pelelehan, sublimasi dan dekomposisi  kualitatif
& semikuantitatif
termokopel

sampe pembandin
l g
Pemanas biasa
TGA
• Perubahan berat thd temperatur
• Neraca hampa udara
• Kepekaan : 0,1 mg
• Tekanan : 10-4 mm – 1 atm
• Contoh :
perubahan berat dalam garam hidrat
kalsium oksalat (Simons & Newkirk)
Mengetahui sifat jaringan tulang
dihubungkan dg struktur gigi (Civjan)
Stabilitas obat & kinetika penguraian
TMA
• Perubahan sifat mekanik thd temperatur
• Kegunaan : mengukur pengembangan
bahan dlm sifat viskoelastis atau
penyusutan sbg fungsi panas/temp.
• Perubahan fisik  isyarat listrik 
pencatat
• T  -1500C s/d 7000C
• Humphries  dg TMA mempelajari sifat
mekanik & viskoelastis /kelenturan
rambut & stratum korneum kulit.
i
100%
Bh

a
f
n B naik

Ke
nC
na
Ke
e

ika
d
c
100% b
Kenaika
100%
A nA C
SOAL - SOAL

1. 1. Dibuat suatu campuran mengandung 21%


b/b fenol dalam air (lihat gb. 2) dan dibiarkan
mencapai kstb pada temp 300C. Dua fase cair
yg terpisah mengandung masing-masing 7%
dan 70% fenol. Jika berat total campuran
adalah 135 g, hitung :
a. Hitung berat tiap fase pd kstb !
b. Berat air (gram) dalam tiap fase !
2. X dan Y adalah 2 cairan yang bercampur
sebagian. Campuran berikut (% b/b)
semuanya membentuk 2 fase cair di bawah,
dan 1 fase cair di atas temperatur yang
disebutkan.
X(%) Y(%) t(0C) X(%) Y(%) t(0C)
20 80 10 60 40 38

30 70 22 70 30 32

40 60 34 80 20 22

50 50 39 90 10 10
• Plot data tsb pada kertas grafik dan jelaskan
perubahan fase yg terjadi jika X
ditambahkan ke Y secara kontinyu pada
temp : a. 250C
b. 450C
50

40

Temperatur (0C)
30

20

10

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

X dlm Y (% b/b)
3. Lihat soal no.2
Jika dibuat campuran mengandung X (20g)
dan Y (30 g) dan dibiarkan mencapai
kstb pada 220C :
a. Bgmn komposisi tiap fase yang ada?
b. Berapa berat tiap fase?
4. Lihat grafik soal no.2.
10 g campuran mengandung berat X dan Y yg
sama pada 500C didinginkan hingga 100C.
a. Pada temp brp tampak perubahan fase?
b. Pada 100C, brp Y yg harus ditambahkan
agar terbentuk fase tunggal?
c. Pada 100C, brp X yg harus ditambahkan
agar terbentuk fase tunggal?
5. Plot data berikut pada diagram
segitiga untuk suatu campuran dari 3
cairan. Area yg dibatasi oleh kurva
binodal mengandung 2 fase cair
pada kstb, sedangkan area di luar
kurva binodal mengandung 1 fase
cair.
A B (%b/ C (%b/ A (%b/ B (%b/ C (%b/
(%b/b) b) b) b) b) b)
84 11 5 32 39 29

78 12 10 26 48 26

70 14 16 22 55 23

63 16 21 17 65 18

55 19 26 14 75 11

45 25 30 12 81 7

40 30 30 9 89 2
i
100%
Bh

a
f
n B naik

Ke
nC
na
Ke
e

ika
d
c
100% b
Kenaika
100%
A nA C
Saat suatu sistem yg mengandung A(45g),
B(40g) & C(15g) dibuat dan dibiarkan
mencapai kstb, analisis dari satu fase
memberikan data sbb: A(84%b/b),
B(11%b/b), C(5%b/b).
a. Bagaimana komposisi fase konjugatnya?
b. Berapa berat tiap-tiap fase, jika berat
total komponen adalah 100g ?
6. Dengan data soal (5) anda diminta
membuat formulasi 5 g larutan fase
tunggal mengandung 50%b/b B dan 36%
b/b C, yang harus dilarutkan ad 100 g
dengan A sesaat sebelum dipakai.
a. Jelaskan perubahan fase yang
teramati saat A ditambahkan sedikit
demi sedikit !
b. Bgmn komposisi akhir sistem tsb ?
7. Berdasarkan data soal (5), suatu sistem
mengandung A(45g), B(40g) dan C(15g)
dibuat dan dibiarkan mencapai kstb.
a. Berapa banyak camp yg mengandung
30% C dan 45% A dibutuhkan untuk
membuat campuran fase tunggal ?
b. Bgmn komposisinya?
c. Jika sekarang ditambahkan B secara
bertahap dalam fase tsb, berapa B yg
harus ditambahkan sampai terbtk 1 fase
tunggal ? Bgmn komposisinya ?
d. Jika sekarang ditambahkan A secara
bertahap dalam fase tsb, berapa A yg
harus ditambahkan sampai terbtk 1 fase
tunggal ? Bgmn komposisinya ?

Catt: saat anda menambahkan secara


bertahap komponen ttt, atau camp
komponen, anda membuat sistem yg
berada dalam garis linier menuju titik di
mana camp yg ditambahkan berada 
jika ditambahkan A secara kontinyu pada
sembarang campuran, maka akan berakhir
pada titik A pada diagram.
50

40

Temperatur (0C)
30

20

10

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

X dlm Y (% b/b)
.B
.
.
.
.
.
.
A . C
.
1. 70 gr timol dicampur dg 30 gr salol dan dibiarkan
mencapai kesetimbangan pd suhu 30oC.
a. Berapa fase yg terbentuk
b. Berapa bobot (tiap) fase

97

Anda mungkin juga menyukai