Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas yang berkepanjangan, ditopang dengan
bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus
multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus, dan Peyer’s
patch. Beberapa terminologi lain yang erat kaitannya adalah demam paratifoid dan demam enterik.
Demam paratifoid secara patologik maupun klinis adalah sama dengan demam tifoid namun
biasanya lebih ringan, penyakit ini biasanya disebabkan oleh spesies Salmonella enteriditis,
sedangkan demam enterik dipakai baik pada demam tifoid maupun demam paratifoid.
Istilah typhoid berasal dari kata Yunani typhos. Terminologi ini dipakai pada penderita
yang mengalami demam disertai kesadaran yang terganggu. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi,
kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar
higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam tifoid di seluruh
dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian tiap tahunnya. Demam tifoid merupakan
penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Anak merupakan yang
paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa.
Di hampir semua daerah endemik, insidensi demam tifoid banyak terjadi pada anak usia 5-19
tahun.

1
BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

Gambar 1. Puskesmas Bara-baraya

A. LETAK DAN DEMOGRAFI PUSKESMAS BARA-BARAYA

Puskemas Bara-baraya merupakan salah satu puskesmas penyedia fasilitas Rawat Inap
dan merupakan satu dari tiga puskesmas yang berada di wilayah Kecamatan
Makassar Kota Makassar. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Makassar, yaitu di
Kelurahan Bara-baraya tepatnya di jalan Abu Bakar Lambogo No. 141 Makassar.
Wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya yang mencakup 6 Kelurahan dari 14 Kelurahan
dalam wilayah Kecamatan Makassar.
Luas Wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya di Kecamatan Makassar yang meliputi
Kelurahan Bara-baraya, Kelurahan Bara-baraya Timur, Kelurahan BaraBaraya Utara,
Kelurahan Bara-baraya Selatan, Kelurahan Lariangbangi, dan Keluarahan Barana. Luas
masing-masing kelurahan yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya dapat
dilihat di tabel berikut :

2
Tabel 1. Wilayah Kerja Puskesmas Bara-baraya

Luas wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya secara keseluruhan adalah 0,98 km2
atau sekitar 43,5 % dari luas Kecamatan Makassar yang seluruhnya seluas 2,25 km 2.
Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Bara-baraya adalah :

1) Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Tamamaung.


2) Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Kelurahan Maccini.
3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Rappocini.
4) Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Maradekaya dan Pisang Utara.
Jumlah penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas
Barabaraya berdasarkan wilayah kelurahan disertai sejumlah RW dan RT masing-
masing kelurahan terlihat pada tabel berikut ini.

3
Tabel 2. Jumlah RW, RT dan KK
Di Wilayah Kerja Puskesmas Bara-baraya

B. KEADAAN LINGKUNGAN
Puskesmas Bara-baraya terletak di daerah perkembangan kota dengan lingkungan
pemukiman yang padat. Terdapat beberapa daerah yang masih kumuh terutama daerah
pinggiran. Sebagian wilayahnya merupakan datarn rendah, sehingga memungkin
terjadinya banjir.

C. VISI DAN MISI PUSKESMAS BARA-BARAYA

1. Visi Puskesmas Bara-baraya

Menjadi puskesmas dengan pelayanan terbaik di Sulawesi Selatan, lima terbaik di


Indonesia Timur dan 10 terbaik di Indonesia. 2. Misi Puskesmas Bara-baraya
a. Meningkatkan sarana dan prasarana.

b. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam pelaksanaan pelayanan


kesehatan secara berkelanjutan.
c. Mengembangkan jenis layanan dan mutu pelayanan kesehatan.

d. Meningkatkan sistem informasi dan manajemen puskesmas.

e. Mengembangkan kemitraan.

f. Meningkatkan upaya kemandirian masyarakat.

Tujuh Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas Bara-baraya adalah sebagai berikut :

a) Upaya promisi kesehatan


4
b) Upaya Kesehatan Lingkungan
c) Upaya Pencegahan dan Pemberantasan penyakit

d) Upaya Pengobatan

e) Upaya kesehatan keluarga/kesehatan ibu&anak/keluarga berencana.

f) Upaya perbaikan gizi masyarakat

g) Upaya usaha kesehatan sekolah (UKS)/ Usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS)/ Usaha
Kesehatan gigi Masayarakat (UKGM)

D. UPAYA KESEHATAN
a) Ketenagaan

Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Bara-baraya


adalah 39 orang masing-masing yang akan dirincikan sebagai berikut.

Tabel 3. Distribusi Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja


Puskesmas Bara baraya
No. Jenis Jumlah

1. Dokter Umum 4
2
2. Dokter Gigi
11
3. Penyelanggara Keperawatan
10
4. Penyelenggara Kebidanan
1
5. Apoteker
1
6. Asisten Apoteker 2

7. Tata Usaha 2
1
8. Perawat Gigi
2
9. Penyelenggara Gizi 1
10. Pelaksanaan Laboratorium 1
1

5
11. Pelaksana sanitasi

12. Rekam Medik

13. Juru Masak


Jumlah 39

Puskesmas Bara-baraya adalah Puskesmas Plus yang merupakan


puskesmas yang melayani selama 24 jam (Rawat Inap), maka tenaga perawat
merupakan tenaga terbanyak dengan jumlah 11 orang dan juga tenaga bidan
sebanyak 10 orang.

b) Pelaksanaan Kegiatan

1 Poliklinik (Health Care and Effective Communication With Patients)

Merupakan pelayanan yang bersifat pribadi (Private Goods)


dalam bentuk rawat jalan dengan tujuan utama menyembuhkan
penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan tanpa mengabaikan
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
2 Kamar Obat

Setelah pasien mendapatkan resep obat dari dokter, pasien


dapat langsung mengambil obat di kamar obat/apotek.

3 Pelayanan Imunisasi

Kegiatan imunisasi di Puskesmas melayani balita, ibu hamil, dan


wanita yang ingin menikah (Imunisasi Tetanus Toksoid).
4 Keluarga Berencana (KB)

Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk konseling dan cara


penggunaan bermacam-macam alat kontrasepsi yang tersedia di
Puskesmas.
5 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

6
Kegiatan ini berupa pelayanan kesehatan yang ditujukan pada
ibu hamil (Antenatal Care) berupa penimbangan BB, Pengukuran TB,
LLA, dan Pemeriksaan Leopold.
6 Perawatan Umum

Terdapat kamar perawatan rawat inap, setiap pasien difollow up


secara rutin setiap hari oleh dokter umum yang bertugas dan dibantu oleh
perawat.
7 Perawatan Persalinan

Jika seorang ibu hamil melahirkan di puskesmas, disediakan


perawatan persalinan untuk dipantau perkembangannya.
8 Laboratorium
Fasilitas laboratorium yang tersedia adalah, Pemeriksaan Darah
Rutin (Hb, Leukosit, LED, Hematokrit, Trombosit), DDR, Widal, GDS,
Urin rutin, Plano Test.

9 Puskesmas Keliling

Kegiatan Puskesmas keliling ini, dirangkaikan dengan kegiatan


posyandu, imunisasi, pengobatan gratis. Pasien yang datang berupa balita,
anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
10 Penyuluhan (Promosi Kesehatan)

Penyuluhan kesehatan dilakukan dibeberapa Sekolah yang berada


di wilayah kerja Puskesmas, serta di Posyandu.
11 Unit Gawat Darurat ( UGD)

Selama 24 jam Puskesmas Bara-baraya membuka pelayan


UGD, yang melayani kasus emergency yang trauma maupun yang non
trauma ataupun non emergency.

7
E. Alur Pelayanan Puskesmas Bara-baraya

Gambar 2. Alur Pelayanan Puskesmas Bara-


baraya

8
BAB III

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
A. Nama Penderita : An. Sitti Syifa
a. Umur : 10 tahun
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Pendidikan : SD
d. Alamat : JL BETE BETE NO 37 C RW 001
e. Masuk PKM :
f. Keluar PKM :
g. No. Kartu : 0000945684224

B. PEMERIKSAAN
1. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Demam


Anamnesis Terpimpin :
Pasien datang ke Puskesmas dengan keluhan demam lebih 7 hari. Demam
dirasakan terutama sore hari, naik perlahan, kadang disertai menggigil (hari pertama dan
kedua) Demam disertai mual, muntah sebanyak 2 kali, pusing dan nafsu makan
berkurang. Demam tidak disertai pilek dan batuk. Pasien juga tidak mengeluh bab cair.
Bab berwarna merah atau kehitaman disangkal. buang air kecil seperti biasa.
Pasien sebelumnya sudah mengkonsumsi obat warung (namanya tidak diketahui)
Demam dirasakan berkurang, tetapi demam kembali terjadi jika obat dihentikan.
Riwayat pengobatan : Tidak pernah berobat
Riwayat penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga dalam satu
rumah yang mengalami gejala yang sama
Riwayat kontak dengan penderita : tidak ada kontak dengan penderita

9
B. Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : composmentis
Tanda vital :
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 98 x/menit, regular, isi cukup
RR : 24 x / menit
Suhu : 38,6 °C
Pemeriksaan status generalis :
Kepala : tidak tampak kelainan
Mata : mata cekung (-), konjungtiva anemis (-),sclera ikterik (-)
THT : faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1, lidah tampak kotor,
tremor (+)
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thorax : bentuk normal.
Paru :
Inspeksi : dalam keadaan statis simetris, dalam keadaan dinamis tidak ada
ketinggalan gerak.
Palpasi : stem fremitus paru kanan sama dengan paru kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru, batas paru normal
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi (-)
Jantung :
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1,S2 tunggal, regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen : bentuk datar, nyeri tekan epigastrium (+), turgor baik (<3 detik),
bising usus normal tidak meningkat
Inspeksi : datar
Palpasi : nyeri tekan epigastrium (+), hepar dan lien tidak teraba, turgor
baik
Perkusi : timpani
10
Auskultasi : bising usus normal (3x/menit)
Ekstremitas : akral hangat, petekie (-), CR <2 detik

Anggota Gerak:

Tungkai Atas Tungkai Bawah

Kanan Kiri Kanan Kiri

Akral hangat + + + +

Edema - - - -

Pucat - - - -

Pembengkakan Sendi - - - -

Tremor halus - - - -

Kekuatan motoric 5 5 5 5

Sensorik N N N N

3. Diagnosa Banding

 Demam Tifoid 

 Demam Dengue 

 Malaria 

4. Pemeriksaan Penunjang
 Lekosit : 10.000
 Trombosit : 188.500
 Widal test :
O : 1/320
H : (-)

5. Diagnosis Kerja

Demam Tifoid

11
6. Rencana Terapi
 Tirah baring 
 Diit lunak 
 IVFD Ringer Lactat 16 tpm 
 Paracetamol Tab 500 mg, 3 x 1 tablet
 Amocixilin sirup 3 x 2 cth
 Vitamin C Tab 2 x 1

7. Prognosis
Bonam

8. KIE

a. Mengkonsumsi makanan yang dianjurkan pada pasien ini adalah makanan yang
cukup mengandung cairan, tinggi kalori dan tinggi protein serta rendah serat. 

b. Menjaga kebersihan makanan, mengurangi kebiasaan makan dan minum di luar
rumah yang kebersihannya diragukan dan membiasakan mencuci tangan dengan
sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku 

c. Edukasi kepada keluarga atau orang yang kontak dengan pasien diberikan
penjelasan mengenai rute tranmisi, gejala-gejala, dan cuci tangan yang efektif,
terutama sekali setelah BAB dan BAK, dan sebelum menyiapkan makanan atau
makan. 










12

V
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi Demam Tifoid


Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan
oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan, ditopang dengan
bakteremia tanpa keterlibatan struktur endothelial atau endokardial dan invasi bakteri
sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuclear dari hati, limpa, kelenjar limfe
usus dan Payer’r. patch
B. Infectious Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak membentuk
spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri
ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan
debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 –20 menit,
pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.

Gambar 1. Salmonella typhi. A schematic diagram of a single Salmonella typhi


cell showing the locations of the H (flagellar), 0 (somatic), and Vi (K envelope)
antigens.11

13
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu:11, 12
1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.
2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan
pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.

C. Epidemiologi Demam Tifoid

1. Distribusi dan Frekuensi


a. Orang
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada perbedaan
yang nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan. Insiden pasien demam
tifoid dengan usia 12 –30 tahun 70 –80 %, usia 31 –40 tahun 10 –20 %, usia > 40
tahun 5 –10 %. Menurut penelitian Simanjuntak, C.H, dkk (1989) di Paseh, Jawa
Barat terdapat 77 % penderita demam tifoid pada umur 3 –19 tahun dan tertinggi
pada umur 10 -15 tahun dengan insiden rate 687,9 per 100.000 penduduk. Insiden
rate pada umur 0 –3 tahun sebesar 263 per 100.000 penduduk.13, 14

14
b. Tempat dan Waktu
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, insiden rate
demam tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000 penduduk dan di Asia Tenggara
110 per 100.000 penduduk.6 Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan
sepanjang tahun, di Jakarta Utara pada tahun 2001, insiden rate demam tifoid
680 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 1.426 per
100.000 penduduk. 13, 14

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Determinan)


a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. Terjadinya
penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang
tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar
bersama dengan tinja atau urine. Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari
seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada bayinya. Penelitian yang
dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control , mengatakan
bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid
pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar
(OR=3,65) dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum
makan beresiko terkena penyakit demam tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan
dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan (OR=2,7).12, 15
b. Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah kuman
yang dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 –109 kuman yang tertelan
melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Semakin besar jumlah
Salmonella thypi yang tertelan, maka semakin pendek masa inkubasi penyakit
demam tifoid. 12, 15
c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di
daerah tropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai
dengan

15
standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat
terjadinya penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk,
sumber air minum dan standart hygiene industri pengolahan makanan yang masih

rendah.12,15
Berdasarkan hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan
desain case control, mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang,
mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang higiene perorangan yang baik (OR=20,8) dan kualitas
air minum yang tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali lebih besar terkena
penyakit demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya tidak
tercemar berat coliform (OR=6,4).12,15
D. Sumber Penularan (Reservoir)
Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia melalui
makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau urin dari penderita tifoid. 12,15

Gambar 2. Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke


manusia12

16
Ada dua sumber penularan Salmonella typhi, yaitu : 12, 15
1. Penderita Demam Tifoid
Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang selalu mengeluarkan
mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang menderita sakit maupun
yang sedang dalam penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya
masih mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
2. Karier Demam Tifoid.
Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa disertai
gejala klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh setelah 2 –3 bulan masih
dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini disebut karier
pasca penyembuhan. Pada demam tifoid sumber infeksi dari karier kronis adalah
kandung empedu dan ginjal (infeksi kronis, batu atau kelainan anatomi). Oleh karena
itu apabila terapi medika-mentosa dengan obat anti tifoid gagal, harus dilakukan
operasi untuk menghilangkan batu atau memperbaiki kelainan anatominya. Karier
dapat dibagi dalam beberapa jenis.
3. Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah
menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur
penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti pada penyakit poliomyelitis,
hepatitis B dan meningococcus.
4. Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam masa tunas, tetapi
telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/ sebagai sumber penularan,
seperti pada penyakit cacar air, campak dan pada virus hepatitis.3
5. Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru sembuh dari
penyakit menulat tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut
untuk masa tertentu, yang masa penularannya kemungkinan hanya sampai tiga bulan
umpamanya kelompok salmonella, hepatitis B dan pada dipteri.
6. Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama seperti pada
penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.

17
E. Patogenesis
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia melalui
makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral
mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M
dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit
oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di
dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke
kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang
terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia
pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh
terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan
kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai
tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit
kepala dan sakit perut.6

Gambar 3. Patofisiologi Demam Tifoid6

18
F. Gejala Klinis
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Pada anak periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari dengan rata-
rata antara 10-14 hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan
dan tidak memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat.
Variasi gejala ini disebabkan faktor galur Salmonela, status nutrisi, dan imunologik pejamu
serta lama sakit dirumahnya.11,12,15
Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala
klinis yang biasa ditemukan, yaitu : 11,12,15

1. Demam

Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada era
pemakaian antibiotik belum seperti pada saat ini,penampilan demam pada kasus demam
tifoid emiliki istilah khusus yaitu step-ladder temperature chart yang ditandai dengan
demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik
tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi pada minggu
ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus infeksi seperti
kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap. Banyak orang tua pasien
demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi pada saat sore dan malam hari
dibandingkan dengan pagi harinya.11, 12, 15

2. Ganguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya
kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Anak di
Indonesia lebih banyak dijumpai hepatomegali dibandingkan spenomegali. Biasanya
didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.11, 12, 15

19
3. Gangguan kesadaran
Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala
system saraf pusat. Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. 11, 12, 15
Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1-5
mm, seringkali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas, dan punggung pada
orang dengan kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia. Ruam
ini muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari. Bronchitis banyak dijumpai
pada demam tifoid sehingga buku ajar lama bahkan menganggap sebagai bagian dari
penyakit demam tifoid. Bradikardi relative jarang dijumpai pada anak.11,12, 15

4. Gambaran darah tepi


Anemia normokromik normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi
pada sumsum tulang. Jumlah leukosit rendah, namun jarang dibawah 3.000/µl 3. Apabila terjadi
abses piogenik maka jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20.000-25.000/ µl3.
Trombositopenia sering dijumpai,kadang-kadang berlangsung beberapa minggu.11, 12,15

G. Diagnosis
1. Diagnosis klinik
Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat, karena gejala klinis yang khas pada
demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada
penyakit lain. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena pada
penyakit dengan demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan diagnosis
demam tifoid. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa demam,
gangguan gastrointestinal, dan mungkin disertai perubahan atau gangguan kesadaran,
dengan kriteria ini maka seorang klinisi dapat membuat diagnosis tersangka demam
tifoid.16
2. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman
Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi S.typhi dari darah. Metode diagnosis
mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90% penderita yang
tidak diobati, kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Hasil ini menurun

20
drastis setelah pemakaian obat antibiotika, dimana hasil positip menjadi 40%. Meskipun demikian
kultur sum-sum tulang tetap memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positip. Pada minggu-
minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun, tetapi kultur urin meningkat yaitu 85% dan 25%
berturut-turut positip pada minggu ke-3 dan ke-4. Pada Biakan yang dilakukan pada urin dan feses
kemungkinan keberhasilan lebih kecil. Organisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3
bulan dari 90% penderita dan kira-kira 3% penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi
dalam tinjanya untuk jangka waktu yang lama.16

3. Diagnosis serologi

Uji Widal
Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin
yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita demam tifoid, pada
orang yang pernah tertular Salmonella typhi dan pada orang yang pernah mendapatkan vaksin
demam tifoid. Antigen yang digunakan pada uij Widal adalah suspensi Salmonella typhi yang
sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji Widal adalah untuk menentukan
adanya aglutinin dalam serum penderita yang diduga menderita demam tifoid. Dari ketiga
aglutinin (aglutinin O, H, dan Vi), hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk
diagnosis. Semakin tinggi titer aglutininnya, semakin besar pula kemungkinan didiagnosis
sebagai penderita demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer aglutinin akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit 5 hari. Peningkatan titer
aglutinin empat kali lipat selama 2 sampai 3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid.
Interpretasi hasil uji Widal adalah sebagai berikut: 16
 Titer O yang tinggi ( > 160) menunjukkan adanya infeksi akut 

 Titer H yang tinggi ( > 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah
menderita infeksi 

 Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier. 

Beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal antara lain : 16


1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Penderita

21
 Keadaan umum gizi penderita: Gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
 Waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit : Aglutinin baru dijumpai dalam
darah setelah penderita mengalami sakit selama satu minggu dan mencapai puncaknya
pada minggu kelima atau keenam sakit. 

 Pengobatan dini dengan antibiotic: Pemberian antibiotik dengan obat antimikroba
dapat menghambat pembentukan antibodi. 

 Penyakit-penyakit tertentu : Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid
tidak terjadi pembentukan antibodi, misalnya pada penderita leukemia dan karsinoma
lanjut. 

 Pemakaian obat imunosupresif atau kortikosteroid dapat menghambat
pembentukan antibodi. 

 Vaksinasi : Pada orang yang divaksinasi demam tifoid, titer aglutinin O dan H
meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan
titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh karena itu titer
aglutinin H pada seseorang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik. 

 Infeksi klinis atau subklinis oleh Salmonella sebelumnya: Keadaan ini dapat
menyebabkan uji Widal positif, walaupun titer aglutininnya rendah. Di daerah endemik
demam tifoid dapat dijumpai aglutinin pada orang-orang yang sehat. 

2. Faktor-faktor teknis
a. Aglutinasi silang
Karena beberapa spesies Salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, maka
reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat juga menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies
lain. Oleh karena itu spesies Salmonella penyebab infeksi tidak dapat ditentukan dengan
uji widal.
b. Konsentrasi suspensi antigen
Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada uji widal akan mempengaruhi hasilnya.
c. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen. Daya aglutinasi suspensi antigen
dari strain salmonella setempat lebih baik daripada suspensi antigen dari strain lain.
Uji Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
a. Uji ELISA untuk melacak antibodi terhadap antigen Salmonella typhi
belakangan ini mulai dipakai. Prinsip dasar uji ELISA yang dipakai umumnya
uji ELISA tidak langsung. Antibodi yang dilacak dengan uji ELISA ini
22
tergantung dari jenis antigen yang dipakai. 16
b. Uji ELISA untuk melacak Salmonella typhi

Deteksi antigen spesifik dari Salmonella typhi dalam spesimen klinik (darah
atau urine) secara teoritis dapat menegakkan diagnosis demam tifoid secara dini
dan cepat. Uji ELISA yang sering dipakai untuk melacak adanya antigen
Salmonella typhi dalam spesimen klinis, yaitu double antibody sandwich
ELISA. 16
H. Diagnosis banding
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis
dapat menjadi diagnosis bandingnya yaitu influenza, gastroenteritis, bronchitis, dan
bronkopneumonia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular
seperti tuberculosis, infeksi jamur sistemik, bruselosis, shigelosis dan malaria juga perlu
dipikirkan. Pada demam tifoid yang berat, sepsis, leukemia, limfoma, dan penyakit
Hodgkin dapat sebagai diagnosis banding.11, 12

I. Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu : 6
1) Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita
mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila
terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.6
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu
ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid
dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah

23
kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar keseluruh perut. Tanda perforasi
lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun, bahkan sampai syok. 6

2) Komplikasi Ekstraintestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis,
trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler
diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis
d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
f. Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer,
psikosis, dan sindrom katatonia.

J. Tatalaksana
Non Medika Mentosa
a) Tirah baring
Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat membantu. Pasien harus
diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai pemulihan.2,3,8,11
b) Nutrisi
Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) rendah serat adalah yang
paling membantu dalam memenuhi nutrisi penderita namun tidak memperburuk
kondisi usus. Sebaiknya rendah selulosa (rendah serat) untuk mencegah perdarahan
dan perforasi. Diet untuk penderita demam tifoid, basanya diklasifikasikan atas diet
cair, bubur lunak, tim, dan nasi biasa.
c) Cairan
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral.
Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi,
penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan
kalori yang optimal. Kebutuhan kalori anak pada infus setara dengan kebutuhan
cairan rumatannya.
24
d) Kompres hangat
Mekanisme tubuh terhadap kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu
tubuh yaitu dengan pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan
sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka
terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal yang
memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur
oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh
hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini
menyebabkan pembuangan/ kehilangan energi/ panas melalui kulit meningkat
(berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai
keadaan normal kembali. Hal ini sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Aden
(2010) bahwa tubuh memiliki pusat pengaturan suhu(thermoregulator) di
hipotalamus. Jika suhu tubuh meningkat, maka pusat pengaturan suhu berusaha
menurunkannya begitu juga sebaliknya.11,12,15

Medika Mentosa

a) Simptomatik
Panas yang merupakan gejala utama pada tifoid dapat diberi antipiretik. Bila mungkin
peroral sebaiknya diberikan yang paling aman dalam hal ini adalah Paracetamol dengan
dosis 10 mg/kg/kali minum, sedapat mungkin untuk menghindari aspirin dan turunannya
karena mempunyai efek mengiritasi saluran cerna dengan keadaan saluran cerna yang
masih rentan kemungkinan untuk diperberat keadaannya sangatlah mungkin. Bila tidak
mampu intake peroral dapat diberikan via parenteral, obat yang masih dianjurkan adalah
yang mengandung Methamizole Na yaitu antrain atau Novalgin. 11, 12, 15
b) Antibiotik
Antibiotik yang sering diberikan adalah : 11, 12, 15
 Chloramphenicol, merupakan antibiotik pilihan pertama untuk infeksi tifoid fever
terutama di Indonesia. Dosis yang diberikan untuk anak- anak 50-100 mg/kg/hari
dibagi menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena biasanya cukup 50 mg/kg/hari.
Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7 hari setelah demam turun. Pemberian Intra
Muskuler tidak dianjurkan oleh karena hidrolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan
tempat suntikan terasa nyeri. 

25
Pada kasus malnutrisi atau didapatkan infeksi sekunder pengobatan diperpanjang sampai
21 hari. Kelemahan dari antibiotik jenis ini adalah mudahnya terjadi relaps atau kambuh,
dan carier.

 Cotrimoxazole, merupakan gabungan dari 2 jenis antibiotika trimetoprim dan


sulfametoxazole dengan perbandingan 1:5. Dosis Trimetoprim 10 mg/kg/hari dan
Sulfametoxzazole 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis. Untuk pemberian secara syrup
dosis yang diberikan untuk anak 4-5 mg/kg/kali minum sehari diberi 2 kali selama 2
minggu. Efek samping dari pemberian antibiotika golongan ini adalah terjadinya
gangguan sistem hematologi seperti Anemia megaloblastik, Leukopenia, dan
granulositopenia. Dan pada beberapa Negara antibiotika golongan ini sudah dilaporkan
resisten. 

 Ampicillin dan Amoxicillin, memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan
dengan chloramphenicol dan cotrimoxazole. Namun untuk anak-anak golongan obat ini
cenderung lebih aman dan cukup efektif. Dosis yang diberikan untuk anak 100-200
mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis selama 2 minggu. Penurunan demam biasanya lebih
lama dibandingkan dengan terapi chloramphenicol. 

 Sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone, Cefotaxim, Cefixime), merupakan pilihan
ketiga namun efektifitasnya setara atau bahkan lebih dari Chloramphenicol dan
Cotrimoxazole serta lebih sensitive terhadap Salmonella typhi. Ceftriaxone merupakan
prototipnya dengan dosis 50-100 mg/kg/hari IVdibagi dalam 1-2 dosis (maksimal 4
gram/hari) selama 5-7 hari. Atau dapat diberikan cefotaxim 150-200 mg/kg/hari dibagi
dalam 3-4 dosis. Bila mampu untuk sediaan Per oral dapat diberikan Cefixime 10-15
mg/kg/hari selama 10 hari. 

Pada demam tifoid berat kasus berat seperti delirium, stupor, koma sampai syok
dapat diberikan kortikosteroid IV (dexametasone) 3 mg/kg dalam 30 menit untuk dosis
awal, dilanjutkan 1 mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam. 11, 12, 15
Untuk demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang- kadang diperlukan
tranfusi darah. Sedangkan yang sudah terjadi perforasi harus segera dilakukan laparotomi
disertai penambahan antibiotika metronidazol.11, 12, 15



26
K. Pencegahan Demam Tifoid
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat
agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer
dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain
Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu :
6

a. Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum
selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi
pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik .
Lama proteksi 5 tahun.
b. Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K
vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol
preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 –12 tahun 0,25 ml dan anak 1 –5
tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping
adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan.
Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.
c. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara
intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif,
hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun.
Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang
yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas
laboratorium/mikrobiologi kesehatan. Mengkonsumsi makanan sehat agar
meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan untuk
menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya cuci tangan yang
benar dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman berupa
menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian
makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan,
dan perbaikan sanitasi lingkungan.
Pencegahan sekunder dapat berupa : 6
a. Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha surveilans
demam tifoid.

27
b. Perawatan umum dan nutrisi

Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di rumah sakit
atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan.Penderita yang dirawat harus
tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi, terutama perdarahan dan
perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat total. Bila penyakit membaik, maka
dilakukan mobilisasi secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita.
Nutrisi pada penderita demam tifoid dengan pemberian cairan dan diet. Penderita harus
mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral. Cairan parenteral
diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi penurunan kesadaran serta
yang sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal.
Sedangkan diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya rendah
serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita tifoid biasanya
diklasifikasikan atas : diet cair, bubur lunak, tim dan nasi biasa.
c. Pemberian anti mikroba (antibiotik)

Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat. Kloramfenikol
masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga. Kekurangannya adalah
jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup sering menimbulkan karier dan
relaps. Kloramfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil, terutama pada
trimester III karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati dalam
kandungan. Oleh karena itu obat yang paling aman diberikan pada wanita hamil adalah
ampisilin atau amoksilin.

L. Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia,
keadaan kesehatan sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Di negara
maju, dengan terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Di
negara berkembang, angka mortalitasnya >10%, biasanya karena
keterlambatan diagnosis, perawatan, dan pengobatan. Munculnya
komplikasi, seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat,

28
meningitis, endokarditis, dan pneumonia, mengakibatkan morbiditas dan
mortalitas yang tinggi. 12, 15
Relaps dapat timbul beberapa kali. Ind bulan setelah infeksi umumnya menjadi
karier kronis. Resiko menjadi karier pada anak - anak rendah dan meningkat sesuai
usia. Karier kronik terjadi pada 1-5% dari seluruh pasien demam tifoid.12, 15

29
BAB IV
PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-


faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma
hidup sehat yang diperkenalkan oleh H. L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor
genetik (keturunan), perilaku (gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan
(sosial ekonomi, fisik, politik) dan faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan
kualitasnya). Berikut akan dijelaskan kondisi penyakit yang dialami pasien
berdasarkan paradigma hidup sehat Blum.

Faktor Biologis
Keadaan malnutrisi, gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat
besi dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan
terhadap penyakit termasuk Demam tifoid. Daya tahan tubuh pasien dalam kondisi
yang tidak baik karena pasien kelelahan akibat waktu untuk belajar yang mencapai
lebih dari 7 jam dalam sehari. Kondisi ini juga ditambah dengan pasien yang setelah
pulang sekolah langsung bermain dengan teman temannya. Asupan nutrisi pasien juga
kurang karena pasien sering lupa untuk mengkonsumsi makanan akibat aktivitas yang
sangat padat.

Faktor Perilaku
1. Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Sabun setelah Buang Air Besar dan
sebelum Makan
Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri atau virus
patogen dari tubuh, feses atau sumber lain ke makanan. Oleh karenanya kebersihan
tangan dengan mencuci tangan perlu mendapat prioritas tinggi, walaupun hal
tersebut sering disepelekan. Cuci tangan yang baik adalah dengan membilas tangan
pada air yang mengalir dan menggunakan sabun atau cairan antiseptik. Pada pasien

30
dan keluarganya, kebiasaan mencuci tangan ini sudah diterapkan, terutama cuci
tangan dengan sabun setelah buang air besar, namun biasanya sebelum makan
keluarga pasien hanya mencuci tangan dengan air yang mengalir tanpa
menggunakan sabun. Hal ini menjadi salah satu faktor resiko terjadinya penularan
infeksi Salmonella thypi, karena kurangnya higienitas tangan pasien.

2. Kebiasaan Makan di Luar Rumah


Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar Salmonella
thyphi, maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman
yang mereka konsumsi. Penularan tifus dapat terjadi dimana saja dan kapan saja,
biasanya terjadi melalui konsumsi makanan di luar rumah atau di tempat-tempat
umum, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih. Dapat juga
disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh seorang penderita tifus laten
(tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak.
Pasien sering jajan di luar rumah, sekalipun saat pasien berada di
sekolahnya. Sehingga menurut penulis, sangat besar kemungkinannya kebiasaan
makan pasien ini menjadi salah satu faktor resiko terjadinya demam Tifoid pada
pasien

3. Kebiasaan Mencuci Bahan Makanan Mentah yang Akan Dimakan Langsung


Penularan tifoid dapat terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang
berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayuran mentah yang dipupuk dengan
kotoran. Bahan mentah yang hendak dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu
misalnya sayuran untuk lalapan, hendaknya dicuci bersih dibawah air mengalir
untuk mencegah resiko kontaminasi bahan makanan oleh Salmonella typhi.
Pasien dan keluarganya sering mengkosumsi lalapan sayur, hampir setiap
minggu keluarga pasien mengkonsumsi lalapan sayur dengan sambal mentah.
Menurut pasien sayuran dan bahan untuk membuat sambal, terlebih dahulu pasien
cuci pada air yang mengalir. Jadi konsumsi makanan mentah ini masih memiliki

31
kemungkinan kecil untuk menjadi faktor resiko kontaminasi makanan oleh
Salmonella typhi, mengingat sumber air bersih pasien belum dapat dikatakan aman
dari resiko pencemaran.

4. Kebiasaan Membersihkan Peralatan Makan dan Minum pada Rumah


Tangga
Permukaan alat yang digunakan untuk menyimpan makanan harus dijaga
agar selalu bersih untuk menghindari kontaminasi makanan dari Salmonella typhi,
sehingga peralatan makan dan minum harus dicuci dengan sabun agar menjadi
bersih.
Pasien selama ini selalu mencuci peralatan makannya dengan sabun, namun
terkadang peralatan makan pasien sering dibiarkan bertumpuk dalam keadaan kotor
hingga lebih dari sehari. Hal ini menjadi salah satu faktor resiko penyebab
kontaminasi Salmonella typhi.

5. Kebiasaan Menyimpan Makanan


Makanan yang telah siap saji namun tidak langsung dimakan seharusnya
disimpan pada tempat penyimpanan makanan terolah yang bersih dan dalam
keadaan tertutup untuk melindung makanan dari serangga (lalat). Pada rumah
pasien, makanan siap saji hanya diletakkan dimeja atau lantai tanpa ditutup
menggunakan tudung saji ataupun penutup lainnya. Hal ini memperbesar
kemungkinan hinggapnya lalat pada makanan dan menyebabkan kontaminasi
Salmonella typhi.

6. Kebiasaan Memasak Air yang Akan Diminum


Salmonella typhi dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku,
peka terhadap proses klorinasi dan pasteurisasi pada suhu 63°C. Organisme ini juga
mampu bertahan beberapa minggu di dalam air, es, debu, sampah kering dan
pakaian, mampu bertahan di sampah mentah selama satu minggu dan dapat

32
bertahan dan berkembang biak dalam susu, daging, telur atau produknya tanpa
merubah warna atau bentuknya. Oleh sebab itu memasak air yang akan diminum
merupakan salah satu upaya penting untuk mencegah kolonisasi Salmonella typhi
pada air yang akan diminum.
Pasien menjelaskan bahwa air yang dikonsumsi pasien berasal dari sumur
gali di rumah pasien dan terlebih dahulu dimasak hingga mendidih sebelum
dikonsumsi sebagai air minum.

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dianggap cukup berperan dalam proses penyebaran infeksi
salmonella typhi, terutama hal yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan.

1. Sarana air bersih

Sarana air bersih merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan
dengan kejadian demam tifoid. Prinsip penularan demam tifoid adalah melalui
fekal-oral. Kuman berasal dari tinja atau urin penderita atau bahkan carrier
(pembawa penyakit yang tidak sakit) yang masuk ke dalam tubuh melalui air
dan makanan. Pemakaian air minum yang tercemar kuman secara massal sering
bertanggung jawab terhadap terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB). Di daerah
endemik, air yang tercemar merupakan penyebab utama penularan penyakit
demam tifoid.
Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air
bersih bagi penghuni rumah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, sehingga perlu diperhatikan dalam pendirian sarana air bersih.
Apabila sarana air bersih dibuat memenuhi syarat teknis kesehatan diharapkan
tidak ada lagi pencemaran terhadap air bersih, maka kualitas air yang diperoleh
menjadi baik. Keluarga pasien menggunakan sarana air bersih berupa sumur
gali. Persyaratan kesehatan sarana air bersih untuk sumur gali adalah jarak

33
sumur gali dari sumber pencemar minimal 11 meter, lantai harus kedap air,
tidak retak atau bocor, mudah dibersihkan, tidak tergenang air, tinggi bibir
sumur minimal 80 cm dari lantai, dibuat dari bahan yang kuat dan kedap air,
dibuat tutup yang mudah dibuat. Sumur gali yang terdapat di rumah pasien
merupakan sumur gali yang belum memenuhi persyaratan kesehatan sarana air
bersih, karena sumur gali yang terdapat pada rumah pasien memiliki tinggi bibir
sumur kurang dari 80 cm (tinggi bibir sumur gali 70 cm), jarak sumur gali dari
sumber pencemar kurang dari 11 meter (jarak ke sumber pencemar 7 meter),
dan sumur gali pasien tidak memiliki penutup. Sementara untuk konstruksi
sumur gali, keluarga pasien memiliki sumur dengan kontruksi yang baik, kedap
air, lantai tidak tergenang air dan tidak ada dinding sumur yang retak atau rusak.
Pada daerah di sekitar sumber air bersih pasien tidak ada sumber
pencemar lain seperti tempat pembuangan sampah dan limbah yang
memungkinkan pencemaran air sumur di rumah pasien.

2. Jamban
Jamban sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Tidak mencemari sumber air bersih (jarak antara sumber air bersih dengan
lubang penampungan minimal 10 meter).
b. Tidak berbau.
c. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
d. Tidak mencemari tanah disekitarnya.
e. Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
f. Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
g. Penerangan dan ventilasi yang cukup.
h. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
i. Tersedia air, sabun dan alat pembersih.

34
Pada rumah pasien terdapat jamban model leher angsa yang terdapat di dalam
rumah serta tertutup atap. Jamban di rumah pasien telah memenuhi persyaratan
diatas, kecuali dalam hal mencemari sumber air bersih, karena tempat
penampungan jamban pasien berjarak 7 meter dari sumur gali yang ada di rumah
pasien. Kemungkinan proses penyebaran fekal-oral penyakit tifoid di rumah pasien
yang diperantarai oleh lalat sangat kecil, karena jamban pasien selalu bersih dan
rutin dibersihkan setiap seminggu sekali.

3. Hewan penyebar infeksi (Vektor infeksi)


Berbagai hama dan hewan peliharaan dapat menjadi vektor pembawa penyakit
tifoid, Lalat, semut, kecoa, dan hama serangga lain dapat memindahkan organisme
dari sumber yang tercemar organisme patogen ke dalam makanan. Penularan
penyakit tifoid adalah melalui tinja penderita. Tinja penderita yang dihinggapi
kecoak, lalat atau semut, siap disebarkan ke mana saja kecoak, lalat atau semut itu
pergi. Kalau merayap di piring, pada makanan, kue, sayuran dan lain-lain, bisa
menular kepada orang lain, yang menggunakan piring atau memakan makanan-
makanan tersebut.
Pada kediaman pasien tidak ditemukan adanya inokulasi serangga seperti
kecoak dan lalat. Kondisi jamban pasien juga bersih tidak didapati serangga yang
dapat menjadi vector penularan tifoid. Sehingga dianggap bahwa masalah vecto

35
36