Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Pelayanan seorang dokter yang kompeten dan bermutu sangatlah dibutuhkan bagi
masyarakat,karena dokter merupakan tempat mereka untuk berkonsultasi dan juga mengobati
keluhan-keluhan yang mereka rasakan.Selain itu dokter yang kompeten dan bermutu akan
menjadi prioritas utama bagi mereka dalam memilih tempat yang tepat untuk mereka
berkosultasi dan juga mengobati keluhan-keluhan yang mereka rasakan karena di zaman
globalisasi ini masih banyak dokter yang tidak mementingkan kebutuhan yang diinginkan pasien.
Oleh karena itu kita sebagai dokter keluarga dan dokter komunitas hendaknya selalu memikirkan
semua kebutuhan yang diinginkan pasien dengan memberikan pelayanan yang senyaman
mungkin terhadap pasien yang kita hadapi.

Salah satu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah pelayanan kuratif yang
salah satunya adalah Ilmu Kedokteran Kerja ,Ilmu ini sama seperti ilmu kedokteran lainnya,
hanya saja ilmu ini lebih menjurus kepada potensi dan faktor resiko dari pekerjaan yang dapat
mengakibatkan penyakit akibat kerja,serta dibutuhkan improfisasi dalam melakukan kedokteran
kerja.
Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
yang merupakan instrumen yang digunakan untuk memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan
hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Karena perlindungan tersebut
merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan kepada karyawannya. K3 tersebut
dibuat untuk mendatangkan manfaat, yaitu mengurangi,mencegah dan menghilangkan adanya
penyakit akibat kerja.
Hasil studi Depkes tentang profil masalah kesehatan di Indonesia tahun 2005
menunjukkan bahwa sekitar 40,5 % penyakit yang diderita pekerja berhubungan dengan
pekerjaannya. Gangguan kesehatan yang dialami pekerja, menurut studi yang dilakukan tehadap
9.482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia, umumnya berupa penyakit musculoskeletal
(16%), kardiovaskuler (8 %), gangguan syaraf (6 %), gangguan pernapasan (3 %), dan gangguan
THT (1,5 %).
1. KESEHATAN KERJA

Ilmu kesehatan kerja menekankan pada hubungan dua arah antara pekerjaan dan kesehatan.
Hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana efek lingkungan kerja terhadap kesehatan para
pekerja serta pengaruh derajat kesehatan pekerja terhadap kemampuan untuk menyelesaikan
tugas/pekerjaannya. Hal yang utama dalam ilmu kesehatan kerja adalah penekanan bahwa
pencegahan terjadinya sakit jauh lebih baik dibanding usaha untuk menyembuhkannya.
Jadi secara umum, kesehatan kerja bertujuan, agar pekerja /masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun sosial, dengan
mengutamakan usaha-usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap penyakit/
gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja.
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya
sendiri maupun masyarakat disekelilingnya. Penyerasian tersebut baik secara fisik maupun psikis
dalam hal cara/ metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua
lapangan kerja setinggi- tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan
oleh keadaan/ kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari
kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh factor- factor yang membahayakan
kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan
produktif. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan suatu prakondisi yang menguntungkan bagi
masyarakat pekerja tersebut. Prakondisi inilah yang disebut sebagai determinan kesehatan kerja
yang meliputi beban kerja, kapasitas kerja dan lingkungan kerja.
Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta
kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik. Beban kerja meliputi beban fisik, beban mental, maupun beban social. Akibat
beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan
seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

2. PENYAKIT AKIBAT KERJA

Penyakit akibat kerja dapat timbul selama dan setelah bekerja di suatu
perusahaan/industri. Etiologi penyakit akibat kerja dapat disebabkan oleh lima penyebab utama
yaitu manusia, manejemen, material, mesin dan medan.
Faktor penyebab penyakit ini ada 5 macam, yakni: fisik, kimia, infeksi, fisiologis, dan
mental-psikologis. Akibat yang ditimbulkan dari faktor penyebab ini adalah penyakit akibat kerja
antara lain: pneumokoniosis, kelainan pendengaran, dermatosis, kanker kulit, infeksi, dan lain-
lain. Sedangkan upaya untuk mencegah penyakit akibat kerja ada bermacam-macam, yakni:
substitusi, ventilasi umum, ventilasi keluar setempat, isolasi, pakaian pelindung, pemeriksaan
kesehatan, penerangan, dan pendidikan kesehatan.
Penyakit akibat kerja bukan saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi
pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh,
merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Untuk
mendeteksi penyakit akibat kerja, seorang dokter perlu mengambil tahu tentang beberapa hal
yang berkaitan dengan riwayat pekerjaan seseorang pasien dimana dokter perlu memeriksa
tempat, cara dan syarat-syarat kerja. Pengobatan untuk penyakit akibat kerja, perlu menekankan
kepada penyebab penyakit tersebut dan dapat diberikan kepada pasien terapi bersifat kausal dan
disertai terapi simptomatis seperlunya.
Penyakit akibat kerja dapat dicegah dengan 3 cara yaitu pencegahan primer, sekunder dan
tertier.
 Pencegahan primer merupakan pencegahan yang dilakukan dengan menyingkirkan
penyebab penyakit atau kerusakan dengan cara mengontrol bahaya baru, mengontrol bahaya
yang diketahui, mengontrol pajanan, identifikasi kerentanan pekerja,mengontrol mesin,
melakukan kontrol administratif dan memakai alat pelindung diri.
 Pencegahan sekunder adalah dengan mendeteksi penyakit pada stadium awal sebelum
pekerja menunjukkan gejala yang membuatnya berobat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
skrining penyakit.
 Pencegahan tertier adalah suatu upaya meminimalkan penyakit yang telah dmiliki oleh
seseorang individu. Didalam pencegahan ini telah termasuk tindakan kuratif dan
rehabilitatif.