Anda di halaman 1dari 5

Tugas Mental Health

Emotional Well-Being

Di sususn
Oleh Kelompok 12

Yahya Muhaimin C021181015


Hasneni C021181002

Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran


Universitas Hasanuddin
Weel being merupakan sesuatu kebutuhan yang terdiri atas kebutuhan-kebutuhan dasar
yang bersifat material maupun bukan Material ( kebendaan ),yang mencakup aspek gizi dan
kesehatan,pengetahuan,dan kekayaan materi.Dalam hal perasaan yang mampu mencapai well
being adalah kumpulan perasaan individu yang berupa perasaan sejahtera seperti perasaan
bahagia,rasa di hormati menghormati,mengakui dan diakui serta perasaan-persaan
sejenisnya.perasaan ini sangat bersifat umum dan sementara yang mungkin pengaruh oleh
kejadian-kejadian sesaat ( Cahyat,Gonner,DKK 2007 ).

Perasaan-perasaan seperti inilah yang di sebut kesejahteraan Subjektif ( Subjective well


being ).Kesejahteraan subjektif ini dapat dilihat dari perasaan dan emosi individu,perasaan ini
dapat bervariasi antara sangat menyenangkan dan tidak menyenangkan yang bisa menyebanbkan
ketidaknyamanan yang merupakan indikasi rendahnya kesejahteraan subjektif individu yang tentu
saja memilki pengaruh juga dengan lingkungan pergaulan atau sosial ( Diener 2009 )

Ketika individu memilki kesejahteraan Subjektif yang tinggi maka akan mengalami
kepuasaan hidup dan mengalami kegembiraan lebih sering,serta jarang mengalami emosi yang
tidak menyenangkan,seperti kesedihan dan kemarahan.Sebaliknya individu di katakan memilki
kesejahteraan subjektif yang rendah maka akan mersa tidak puas dengan hidupnya,mengalami
sedikit afeksi dan kegembiraan,dan lebih sering mengalami emosi negatif seperti
kemarahan,kekecewaan,dan kecemasan.( Utami 2009 )

Goleman dan Cherniss (2001) Emosi dibagi berdasarkan lima aspek yaitu
1. regulasi diri (self regulation),
2. kesadaran diri (self awrness),
3. motivasi diri (self motivation),
4. kepedulian social (social awareness)
5. kemampuan bersosialisasi (social skill).

Ketika regulasi diri (self regulation) dan motivasi diri (self motivation) tinggi maka
individu dapat memperoleh solusi atas permasalahan yang didapatkannya di lingkungan kerja,
ketika kepedulian sosial (social awareness) individu tinggi maka individu dapat mengetahui emosi
orang lain dan memahami apa yang dipikirkan oleh individu lain, ketika individu
mampu bersosialisasi dengan lingkungan kerja maka individu dapat beradaptasi dengan
lingkungan kerja dan merasa nyaman di lingkungan kerja, ketika individu mampu memahami
dirinya sendiri (self awareness) maka individu dapat memahami dirinya sendiri ketika berada
di lingkungan kerja dan sadar akan emosi yang muncul pada dirinya.
Kesejahteraan Emosional (emosional well being) merupakan keadaan emosional yang
meliputi kebahagiaan dan kepuasaan hidup serta keseimbangan antara afek positif dan negative,
dan kebahagiaan yang dirasakan individu dalam kehidupannya. Data diperoleh melalui skala
emotional well being yang disusun berdasarkan aspek-aspek kesejahteraan yaitu efek positif ,efek
negatif,dan keseimbangan efek, serta kepuasan hidup, kebahagian,dan domain kepuasan yang
kemukakan Seligman (2002)

Kesejahteraan yang tinggi atau emosional yang bertenaga terjadi jika seseorang puas dan
bahagia dengan kehudipan mereka, apabila mereka punya emotional well being yang tinggi,
emotional wellbeing merupakan suatu spesifk kesejahteraan subjektif yang meliputi persepsi
terhadap kepuasan hidup dengan mempresentasikan suatu penilaian individu akan hidupnya
(Diener, Suh, Oishi, 1997 dalam Seligman 2002).

Individu yang memiliki emotional well being yang positif akan lebih mudah memaknai
hidup mereka dengan melakukan hal-hal yang berguna dan bermanfaat yang tidak hanya untuk
dirinya sendiri melainkan orang di sekitarnya. Emotional well being merung Seligman (2002)
yaitu kepuasan hidup dengan suatu penilaian individu akan hidupnya dengan meliputi aspek
efektif yaitu efek positif dan efek negatif.

Dalam Emoticional weel being tentu sangat di perlukan bagi individu-individu khususnya
masih berusia remaja,dan pada masa remajalah emosi individu terkadang sangat mempengaruhi
weel being apakah kesejahteraannya meningkat atau malah sebaliknya dan dengan cara meregulasi
emosilah seorang remaja dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.Kebiasaan-kebiasaan yang
dilakukan para remaja untuk memahami dan menghadapi emosi-emosi negatif tersebut dapat
dilakukan dengan cara seperti

1. Memonitor emosi yakni suatu kemampuan untuk menyadari dan memahami keseluruhan
proses yang terjadi dalam diri,seperti perasaan,pikiran,dan latar belakang dari suatu
tindakan yang di ambil.sehingga dalam memahami hal ini emosi-emosi yang bersifat
negatif yang di dalam diri individu tersebut di tahan dan tidak di keluarkan dalam bentuk
negatif pula.
2. Mengevaluasi Emosi adalah suatu kemampuan untuk mengelola dan menyeimbangkan
emosi-emosi yang di alami khususnya emosi yang bersifat negatif,dengan
menyeimbangkan secara konstruktof yang berarti menerima perasaan tersebut apa adanya
dan tidak berusaha menolak.
3. Modifikasi Emosi yakni suatu kemampuan individu untuk mengubah emosi sedemikian
rupa sehingga mampu mengubah emosi tersebut menjadi sebuah motivasi diri.cara ini
dapat digunakan ketika individu berada dalam keadaan putus asa,cemas,dan
marah.kemampuan ini membuat individu mampu menumbuhkan optimisme dalam
hidup,mampu bertahan dalam masalah yang sangat membebani hidup,mampu terus
berjuang ketika menghadapi hambatan yang besar dan tidak mudah putus asa serta
kehilangan harapan. ( Gross 2006 )

Ketika beberapa kemampuan ini sudah di kuasai oleh individu terkhusus pada usia remaja karena
pada masa remaja ini masih sangat labil emosinya sehingga takut nantinya weel being dalam
hidupnya tidak terpenuhi,namun peran orang tua dalam menghadapi anak usia remajanya pula
yang sangat berpengaruh dalam proses well being anaknya.tentunya peran dukungan sangat di
butuhkan anak-anak usia remaja dengan memberikan perhatian dan nasehat yang baik.yang mana
ketika regulasi emosi yang di terapkan dalam emosi anak usia remaja semakin tinggi maka
kesejahteraan subjektif anak tersebut juga akan semakin tinggi sehingga dapat tercapailah yang
namanya Emoticional weel-being.
Daftar pustaka :

Jurnal Quality of School Life dan Emotional Well Being. Diambil dari
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/download/7621/7381

Muh Fitrah Ramadhan, M, F. (2018). Kesejahteraan (Well Being) dan Emosi di Tempat Kerja.
Diambildari.
https://www.researchgate.net/publication/325264569_Kesejahteraan_Well_Being_dan_Emosi_di
_Tempat_Kerja

Cahyat, A., Gonner, C., Haug, M. 2007. Megkaji Kemiskinan dan Kesejahteraan Rumah Tangga:
Sebuah Panduan dengan Contoh dari Kutai Barat, Indonesia. Bogor: Center for International
Foresty Research

Diener. 2009. Flourishing Scale. (online) (diakses tanggal 10 Maret 2019).


http://www.internal.psychology.illinioisedu/~ediener/Document/FS.pdf

Utami, M. 2009. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan dan kesejahteraan subjektif mahasiswa.
Jurnal Psikologi. Vol. 36 No. 2, 144-163
Gross, J., J. 2006. Handbook of Emotion Regulation. New York: Guilford Press