Anda di halaman 1dari 24

Tugas Kelompok : Dosen Pengampu :

Analisis Laporan Keuangan Dr. Azwir Nazir

An Empirical Evaluation Of Accounting Income Numbers


Journal of Accounting Research Autumn, 1968

Disusun :
Anshori
Hendy Tirta
Novia Kepriyani

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS RIAU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Nikmat-Nya kepada kita,
Sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Analisis Laporan Keuangan yang
membahas tentang An Empirical Evaluation Of Accounting Income Numbers Journal of
Accounting Research Autumn, 1968.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Makalah Analisis Laporan
Keuanganyang dibimbing langsung Dr. Azwir NazirKami menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Azwir Nazir, yang telah mengamanahkan
tugas ini kepada penulis.Semoga makalah ini memberikan informasi bagi semua kalangan
dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
khususnya bagi penulis.

Pekanbaru

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Efisiensi pasar merupakan salah satu topik mendasar yang perlu kita renungi karena
berkaitan langsung dengan relevan atau tidaknya kegiatan untuk berusaha memprediksi
arah harga (timing).Sebagian besar kalangan akademisi berkeyakinan bahwa pasar saham
merupakan pasar yang efisien.Suatu pasar dikatakan efisien apabila harga barang-barang
yang dijual telah menunjukan semua informasi yang ada yaitu harga tidak terlalu mahal
dan tidak terlalu murah.
Pasar dikatakan efisien apabila nilai sekuritas setiap waktu mencerminkan semua
informasi yang tersedia, yang mengakibatkan harga suatu sekuritas berada pada tingkat
keseimbangannya. Harga keseimbangan suatu sekuritas mengakibatkan tidak akan adanya
kesempatan yang diperoleh investor untuk mendapatkan return yang abnormal dari
selisih harga sekuritas saham
.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TEORI EFICIENCY MARKET HIPOTESIS (EMH)


Didalam konsep pasar efisien, perubahan harga suatu sekuritas saham di waktu yang
lalu tidak dapat digunakan dalam memperkirakan perubahan harga di masa yang akan
datang. Perubahan harga saham di dalam pasar efisien mengikuti pola random walk,
dimana penaksiran harga saham tidak dapat dilakukan dengan melihat kepada harga-
harga historis dari saham tersebut, tetapi lebih berdasarkan pada semua informasi yang
tersedia dan muncul dipasar. Informasi yang masuk ke pasar dan berhubungan dengan
suatu sekuritas saham akan mengakibatkan kemungkinan terjadinya pergeseran harga
keseimbangan yang baru. Jika pasar bereaksi dengan cepat dan akurat terhadap suatu
informasi yang masuk dan segera membentuk harga keseimbangan yang baru, maka
kondisi pasar yang seperti ini yang disebut dengan pasar efisien (Hartono, 2013:547).
Teori eficiency market pertama kali ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh
Bachelier pada tahun 1900 yang ingin mengetahui apakah harga saham berfluktuasi
secara acak atau tidak.Pada tahun 1905 Pearson memperkenalkan pola random-walk,
namun pada saat itu dikenal sebagai konsep drunkardwalk. Sayangnya, penelitian
Bachelier dankonsep drunkardwalk milik Pearson diabaikan dan tidak ada studi lebih
lanjut sampai tahun 1930-an. Pada tahun 1953, Kendall pertama kalinya menggunakan
dan memperkenalkan istilah random-walk dalam literatur keuangan (Yalcin,2010). Fama
kemudian membahas beberapa bukti empiris yang mendukung teori random-walk dalam
disertasi doktornya dan mempelopori munculnya teori EMH (Efficiency Market
Hypotesis) pada tahun 1970.Teori EMH yang diperkenalkan Fama menjadi teori yang
cukup populer dan banyak dijadikan sebagai dasar dalam berbagai penelitian mengenai
anomali pasar belakangan ini.

2.2 PENGERTIAN EFISIENSI PASAR (market efficiency)


Belkaoui (2007:139) merangkum beberapa definisi berkaitan dengan efisiensi
pasar (market efficiency) dari para ahli: Fama (1970) mengemukakan bahwa “Dalam
suatu pasar yang efisien harga akan “mencerminkan sepenuhnya” informasi yang tersedia
dan sebagai implikasinya harga akan bereaksi dengan seketika tanpa adanya bias terhadap
informasi baru”.Tandelilin (2010:219) mendefinisikan konsep pasar efisien sebagai
berikut: “Konsep pasar yang efisien lebih ditekankan pada aspek informasi, artinya pasar
yang efisien adalah pasar dimana harga sekuritas yang diperdagangkan telah
mencerminkan semua informasi yang tersedia.” Secara umum, efisiensi pasar
didefinisikan oleh (Beaver, 1989) sebagai hubungan antara harga-harga sekuritas dengan
informasi. Secara detail, efisiensi pasar dapat didefinisikan dalam empat macam definisi
yaitu :
1.1.Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Nilai Intrinsik Sekuritas

Konsep awal dari efisiensi pasar yang berhubungan dengan informasi laporan keuangan
berasal dari praktek analisis sekuritas yang mencoba menemukan sekuritas-sekuritas dengan
harga yang kurang benar. Sekuritas-sekuritas yang dihargai kurang benar merupakan
sekuritas-sekuritas yang harganya menyimpang dari nilai intrinsiknya atau nilai
fundamentalnya. Untuk kontek seperti ini maka efisiensi pasar diukur dari seberapa jauh
harga-harga sekuritas menyimpang dari nilai intrinsiknya. Dengan demikian suatu pasar yang
efisien menurut konsep ini dapat didefinisikan sebagai pasar yang nilai-nilai sekuritasnya
tidak menyimpang dari nilai-nilai intrinsiknya (Beaver, 1989).

1.2.Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Akurasi dari Ekspektasi Harga

Suatu pasar sekuritas dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas “mencerminkan


secara penuh” informasi yang tersedia. Definisi menurut (Fama, 1970) ini menekankan pada
dua aspek, yaitu “fully reflect” dan “information available”. Pengertian dari fully reflect
menunjukkan bahwa harga dari sekuritas secara akurat mencerminkan informasi yang ada.
Pasar dikatakan efisien jika dengan menggunakan informasi yang tersedia (informasi
available), investor-investor secara akurat dapat mengekspektasi harga dari sekuritas
bersangkutan.

Farma sendiri menyadari bahwa definisinya sulit dibuktikan secara empiris, karena
dibutuhkan suatu benchmark yang menunjukkan akurasi dari ekspektasi harga semua
investor. Farma mengusulkan dibutuhkannya suatu model ekuilibrium untuk menentukan
fungsi harga-harga dimasa datang akibat informasi sekarang. Dengan demikian hasil uji
empiris ini menjadi uji gabungan (joint test) antara model ekuilibrium yang digunakan
(misalnya CAPM) dengan efisiensi pasar. Tanpa adanya model ekuilibrium ini, maka
hipotesa pasar efisien tidak dapat diuji.
1.3.Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Distribusi Informasi

Definisi efisiensi pasar sebelumnya hanya menekankan pada akurasi dari harga
ekspektasi, tetapi mengabaikan isu dari penyebaran informasi dan mengasumsikan bahwa
semua investor mempunyai pengharapan yang sama atau kepercayaan yang sama. Definisi
tersebut mempunyai permasalahan, yaitu jika ternyata investor mempunyai ekspektasi yang
berbeda (heterogen), maka akan timbul pertanyaan ekspektasi siapa yang akan digunakan.
Dengan adanya kepercayaan yang berbeda, maka harga sekuritas tidak lagi fully reflect.
Semua informasi yang tersedia disebabkan karena masing-masing investor mempunyai
informasi dan pengharapan atau ekspektasi yang berbeda-beda.

Definisi ini secara implisit mengatakan bahwa jika setiap orang mengamati suatu sistem
imformasi yang menghasilkan imformasi, maka setiap orang dianggap mendapatkan
informasi yang sama.

Definisi dari Beaver ini juga masih menimbulkan masalah dalam hal pengujian pasar
yang efisien tersebut. Untuk menguji pasar yang efisien, maka masih dibutuhkan suatu
ukuran pembanding (benchmark). Benchmark yang digunakan adalah return normal yang
seharusnya diperoleh oleh pelaku pasar. Return hasil dari informasi kemudian dibandingkan
dengan return normal. Jika hasilnya tidak menyimpang berarti pasar sudah efisien dan
sebaliknya jika hasilnya menyimpang, maka pasar dikatakan tidak efisien. Dengan demikian
definisi Beaver ini juga membutuhkan sebuah model untuk menghitung return normal bench
mark tersebut. Model CAPM atau model pasar berdasarkan model indeks tunggal dapat
digunakan untuk menghitung return normal tersebut. Return normal menurut benchmark
kemudian dibandingkan dengan return sesungguhnya hasil dari distribusi informasi yang
diterima oleh investor. Selisih dari return normal dengan return sesungguhnya ini merupakan
return yang tidak normal (abnormal return) atau disebut juga dengan return yang
berkelebihan (excessive return). Dengan demikian untuk pasar yang efisien menurut Beaver,
investor tidak akan menikmati abnormal return atau excessive return.

1.4.Definisi Efisiensi Pasar Didasarkan pada Proses Dinamik

Definisi efisiensi pasar yang didasarkan pada proses dinamik mempertimbangkan


distribusi informasi yang tidak simetris dan menjelaskan bagaimana harga-harga akan
menyesuaikan karena informasi tidak simetris tersebut. Informasi yang tidak simetris atau
asimetrik informasi adalah informasi privat yang hanya dimiliki oleh investor-investor yang
mendapat informasi saja. Asimetrik informasi dapat terjadi di pasar modal atau di pasar yang
lain.

Definisi yang mendasarkan pada proses yang dinamik ini menekankan pada kecepatan
penyebaran informasi yang tidak simetris. Pasar dikatakan efisien jika penyebaran informasi
ini dilakukan secara tepat sehingga informasi menjadi simetris. (Jones, 1995) mendefinisikan
suatu pasar yang efisien adalah pasar yang harga-harga sekuritasnya secara cepat dan penuh
mencerminkan semua informasi yang tersedia terhadap aktiva tersebut.

Ada beberapa penjelasan yang mendasari penyebaran informasi tidak simetris menjadi
informasi yang simetris yaitu :

A. Informasi privat disebarkan ke publik secara resmi melalui pengumuman oleh


perusahaan emiten.
B. Investor yang memiliki informasi privat akan menggunakannya dan setelah itu
mereka akan bersedia untuk menjualnya.
C. Investor yang mendapat informasi secara privat akan melakukan tindakan yang
spekulatif.
D. Dengan teori ekspektasi rasional yang menjelaskan bahwa investor yang tidak
mempunyai informasi privat akan mendapatkan informasi tersebut dengan mengamati
lewat perubahan harga yang terjadi.

Dari berbagai definisi yang ada, konsep pasar efisien sangat berhubungan dengan
ketersediaan informasi.Pasar dikatakan efisien apabila nilai sekuritas setiap waktu
mencerminkan semua informasi yang tersedia, yang mengakibatkan harga suatu sekuritas
berada pada tingkat keseimbangannya. Harga keseimbangan suatu sekuritas
mengakibatkan tidak akan adanya kesempatan yang diperoleh investor untuk
mendapatkan return yang abnormal dari selisih harga sekuritas saham. Hartono
(2013:569) memberikan beberapa ciri-ciri dari pasar efisien sebagai berikut:

1. Investor adalah penerima harga (price takers), yang berarti bahwa sebagai pelaku pasar,
investor seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga dari suatu sekuritas.
2. Informasi tersedia luas kepada semua pelaku pasar pada saat yang bersamaan dan harga
untuk memperoleh informasi tersebut murah.
3. Informasi dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap pengumuman informasi sifatnya
random satu dengan yang lainnya sehingga investor tidak dapat memprediksi kapan
emiten akan mengumumkan informasi yang baru.
4. Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh dan cepat, sehingga
harga sekuritas berubah dengan semestinya mencerminkan informasi tersebut untuk
mencapai keseimbangan yang baru.
Hartono (2013:571) juga memberikan beberapa ciri-ciri dari pasar yang tidak efisien
yaitujika kondisi-kondisi berikut terjadi:

1. Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi harga dari sekuritas.
2. Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak seragam antara pelaku
pasar yang satu dengan yang lainnya terhadap suatu informasi.
3. Informasi yang disebarkan dapat diprediksi dengan baik oleh sebagian dari pelaku-
pelaku.
4. Investor adalah individual-individual yang lugas (naive investor) dan tidak canggih.

2.3 BENTUK-BENTUK EFISIENSI PASAR

Bentuk efisiensi pasar dapat ditinjau dari segi ketersediaan informasinya saja dan juga
dapat dilihat dari kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan
analisis dari informasi yang tersedia. Pasar efisien yang ditinjau dari sudut informasinya saja
disebut dengan efisiensi pasar secara informasi. Sedangkan pasar efisien yang ditinjau dari
sudut kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang
tersedia disebut dengan efisiensi pasar secara keputusan.

1.5.Efisiensi Pasar secara Informasi

Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara harga
sekuritas dengan informasi. (Fama, 1970) menyajikan tiga macam bentuk utama dari efisiensi
pasar berdasarkan tiga macam bentuk dari informasi, yaitu informasi masa lalu, informasi
sekarang yang sedang dipublikasikan dan informasi privat. Ada tiga macam bentuk utama
dari efisiensi pasar tersebut yaitu sebagai berikut:

A. Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)


Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga dari sekuritas
mencerminkan secara penuh informasi masa lalu. Informasi masa lalu ini merupakan
informasi yang sudah terjadi. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini berkaitan dengan
teori langkah acak yang menyatakan bahwa data masa lalu tidak berhubungan dengan
nilai sekarang. Jika pasar efisiensi secara bentuk lemah, maka nilai-nilai masa lalu
dapat tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang. Ini berarti bahwa
untuk pasar yang efisien bentuk lemah, investor tidak dapat menggunakan informasi
masa lalu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal.
B. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
Pasar dikatakan efisien setengah kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh
mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan termasuk laporan-laporan
keuangan perusahaan emiten. Informasi yang dipublikasikan dapat berupa sebagai
berikut ini.
a. Informasi yang dipublikasikan yang hanya mempengaruhi harga sekuritas dari
perusahaan yang mempublikasikan informasi tersebut. Informasi yang
dipublikasikan ini merupakan informasi dalam bentuk pengumuman oleh
perusahaan emiten. Informasi ini umumnya berhubungan dengan peristiwa yang
terjadi di perusahaan emiten. Contoh dari informasi yang dipublikasikan ini
misalnya pengumuman laba, pengumuman pembagian dividen, pengumuman
pengembangan produk baru, pengumuman merjer dan akuisisi, dan
pengumuman pergantian pemimpin perusahaan.
b. Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga sekuritas
sejumlah perusahaan. Informasi yang dipublikasikan ini dapat berupa peraturan
pemerintah atau peraturan dari regulator yang hanya berdampak pada harga-
harga sekuritas perusahaan-perusahaan yang terkena regulasi tersebut. Contoh
dari informasi ini misalnya regulasi untuk meningkatkan kebutuhan cadangan
yang harus dipenuhi oleh semua bank-bank. Informasi ini akan mempengaruhi
secara langsung harga sekuritas tidak hanya sebuah bank saja tetapi, mungkin
semua emiten di dalam industry perbankan.
c. Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga sekuritas
semua perusahaan yang terdaftar di pasar saham. Informasi ini dapat berupa
peraturan pemerintah atau peraturan dari regulator yang berdampak ke semua
perusahaan emiten. Contoh dari regulasi ini adalah peraturan akuntansi untuk
mencantumkan laporan arus kas yang harus dilakukan oleh semua perusahaan.
Regulasi ini akan mempunyai dampak ke harga sekuritas tidak hanya untuk
sebuah perusahaan saja atau perusahaan-perusahaan di suatu industry, tetapi
mungkin berdampak langsung pada semua perusahaan.

Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau group
dari investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk
mendapatkan keuntungan tidak normal dalam jangka waktu yang lama.

C. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)


Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh
mencerminkan semua informasi yang tersedia termasuk informasi yang privat. Jika
pasar efisien dalam bentuk ini, maka tidak ada individual investor atau group dari
investor yang dapat memperoleh keuntungan tidak normal karena mempunyai
informasi privat.

1.2. Efisiensi Pasar secara Keputusan

Pembagian efisiensi pasar oleh Fama ini didasarkan pada ketersediaan informasi,
sehingga efisiensi pasar seperti ini disebut dengan efisiensi pasar secara informasi. Untuk
informasi yang tidak perlu diolah lebih lanjut, seperti misalnya informasi tentang
pengumuman laba perusahaan, pasar akan mencerna informasi tersebut dengan cepat.

Dengan demikian, untuk informasi seperti pengumuman laba, efisiensi pasar tidak
ditentukan dengan seberapa canggih pasar mengolah informasi laba tersebut, tetapi seberapa
luas informasi tersebut tersedia di pasar. Akan tetapi untuk informasi yang masih perlu diolah
lebih lanjut, ketersediaan informasi saja tidak menjamin pasar akan efisien. Sebagai misalnya
adalah informasi pengumuman merjer oleh suatu perusahaan emiten. Pada waktu informasi
ini diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, belum tentu
harga dari sekuritas perusahaan bersangkutan akan mencerminkan informasi tersebut dengan
penuh. Alasannya adalah pelaku pasar harus menginterpretasikan dan menganalisis informasi
merjer tersebut sebagai kabar baik atau kabar buruk.

Tidak semua dari suatu pengumuman merjer merupakan kabar baik atau kabar buruk.
Interpretasi pengumuman merjer sebagai kabar baik atau kabar buruk membutuhkan analisis
yang mendalam untuk memperkirakan seberapa besarnya dampak dari informasi tersebut ke
harga sekuritas yang bersangkutan. Pembagian efisiensi pasar berdasarkan ketersediaan
informasi saja tidaklah cukup. Efisiensi pasar perlu juga dilihat berdasarkan kecanggihan
pelaku pasar dalam mengolah informasi untuk pengambilan keputusan.
Efisiensi pasar secara keputusan juga merupakan efisiensi pasar bentuk setengah kuat
yang didasarkan pada informasi yang didistribusikan. Perbedaanya adalah jika efisiensi pasar
secara informasi hanya mempertimbangkan sebuah faktor saja yaitu ketersediaan informasi
saja, maka efisiensi pasar secara keputusan mempertimbangkan dua buah faktor yaitu
ketersediaan informasi dan kecanggihan pelaku pasar. Karena melibatkan lebih banyak faktor
dalam menentukan pasar yang efisien secara keputusan merupakan efisiensi pasar bentuk
setengah kuat yang lebih tinggi dibandingkan efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara
informasi.

2. ALASAN-ALASAN PASAR YANG EFISIEN DAN TIDAK EFISIEN

Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan pasar menjadi efisien. Pasar efisien dapat
terjadi karena peristiwa-peristiwa sebagai berikut ini:

A. Investor adalah penerima harga, yang berarti bahwa sebagai pelaku pasar, investor
seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga dari suatu sekuritas.

B. Informasi tersedia secara luas kepada semua pelaku pasar pada saat yang bersamaan
dan harga untuk memperoleh informasi tersebut murah. Umumnya pelaku pasar
menerima informasi lewat radio, koran atau media masa lainnya, sehingga informasi
tersebut dapat diterima pada saat yang bersamaan.

C. Informasi yang dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap pengumuman informasi
sifatnya randomsatu dengan yang lainnya. Informasi dihasilkan secara acak (random)
mempunyai arti bahwa investor tidak dapat memprediksi kapan emiten akan
mengumumkan informasi yang baru.

D. Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh dan cepat, sehingga
harga dari sekuritas berubah dengan semestinya mencerminkan informasi tersebut
untuk mencapai keseimbangan yang baru.

Sebaliknya jika kondisi-kondisi tersebut tidak terpenuhi, kemungkinan pasar tidak


efisien dapat terjadi. Dengan demikian, pasar dapat menjadi tidak efisien jika terjadi kondisi-
kondisi berikut :

A. Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi harga dari sekuritas.

B. Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak seragam antara
pelaku pasar yang satu dengan yang lainnya terhadap suatu informasi yang sama.
C. Informasi yang disebarkan dapat diprediksi dengan baik oleh sebagian pelaku-pelaku
pasar.

D. Investor adalah individual-individual yang lugas dan tidak canggih. Untuk pasar yang
tidak efisien, masih banyak investor yang bereaksi terhadap informasi secara lugas,
karena mereka mempunyai kemampuan yang terbatas didalam mengartikan dan
menginterpretasikan informasi yang diterima. Karena mereka tidak canggih, maka
sering kali mereka melakukan keputusan yang salah yang akibatnya sekuritas
bersangkutan dinilai secara tidak tepat.

2.4Teori portofolio modern


Tahun 1952 merupakan tahun yang sangat bermakna untuk para investor.Pada tahun
tersebut, lahir pemikiran yang dipandang sebagai revolusi perilaku investor.Perilaku rasional
dalam berinvestasi yang dikemukakan oleh Harry Markowitz.
Asas pendekatan Markowitz memakai variable keuntungan sebagai proyeksi risiko
investasi.Seperti saham X diharapkan menghasilkan 12% plus minus 4%, dan saham Y
memberikan harapan 12% plus minus 6%. Maka, saham X dianggap lebih berisiko
dibandingkan saham Y pada profit yang sama sebesar 12%. Dengan demikian, saham X
menjadi pilihan terbaik investor.Risiko dibentuk Markowitz berbasis varians.Pembentukan
portfolio pun terjadi jika risiko investor telah ditetapkan.Portfolio tersebut, ada beralaskan
empat kenyataan.
· Pertama, keuntungan yang diharapkan dan risiko merupakan ciri relevan portfolio
investasi.
· Kedua, investor yang rasional akan memilih portfolio efisien.
· Ketiga, secara teoritis terdapat peluang memperoleh portfolio yang berkesan dengan
menganalisis setiap sekuritas berbasis profit harapan, varians profit, dan koefisien korelasi
antar profit tiap sekuritas dalam portfolio.
· Keempat adalah dapat dikembangkannya program komputer yang saat ini memang ada
untuk menunjukan eficient frontier.
Portfolio Markowitz dalam keberadaannya mempunyai kelemahan yang mencakup:
keperluan input data yang banyak, menggunakan data lampau, tidak menyatakan jangka
waktu berlaku perhitungan dibuat, dan perhatian seksama tidak begitu saintifik dari karena
masih mempergunakan pengalaman seorang manajer portfolio.
Teori portofolio modern (MPT) adalah formulasi matematika dari konsep diversifikasi
dalam berinvestasi, dengan tujuan memilih koleksi aset investasi yang telah menurunkan
resiko aset kolektif daripada individu. Bahwa ini mungkin dapat dilihat secara intuitif karena
berbagai jenis aset sering perubahan nilai dengan cara yang berlawanan.. Misalnya, ketika
harga di pasar saham jatuh, harga di pasar obligasi sering meningkatkan, dan sebaliknya.
Kumpulan kedua jenis aset sehingga dapat memiliki risiko secara keseluruhan lebih rendah
daripada secara individu.Tetapi diversifikasi menurunkan resiko bahkan jika kembali aset
tidak berkorelasi negatif-sungguh, bahkan jika mereka berkorelasi positif.
Lebih teknis yang terlihat pada gambar 1, teori portofolio modern, model aset kita
kembali sebagai terdistribusi secara normal (atau lebih umum sebagai eliptik
didistribusikanvariabel acak ), mendefinisikan risiko sebagai standar deviasireturn, dan
model portofolio sebagai kombinasi tertimbang aktiva, supaya pengembalian portofolio
adalah kombinasi tertimbang mengembalikan aset. Dengan menggabungkan aset
pengembalian yang berbeda yang tidak sempurna positif berkorelasi , MPT berusaha untuk
mengurangi total varians dari return portofolio. MPT juga mengasumsikan bahwa investor
rasional dan pasar yang efisien .
MPT yang dikembangkan pada tahun 1950 melalui awal 1970-an dan dianggap sebagai
kemajuan penting dalam pemodelan matematika keuangan. Sejak itu, praktis banyak teoritis
dan kritik telah dilontarkan terhadap itu.Ini termasuk fakta bahwa pengembalian keuangan
tidak mengikuti distribusi Gaussian atau bahkan setiap distribusi simetris, dan bahwa korelasi
antara kelas aktiva tidak tetap tetapi dapat bervariasi tergantung pada peristiwa eksternal
(terutama dalam krisis).

2.5 Return And Risk


Perilaku pasar aggregate yang berhubungan dengan variable akuntansi didasarkan
pada teori mengenai efisiensi pasar modal. Menurut teori ini, pasar untuk surat akan dianggap
tidak efisien dimana (1)harga pasar “sepenuhnya mencerminkan “ seluruh informasi yang
tersedia untuk public dan sebagai implikasinya, (2) harga pasar adalah tidak bias dan dapat
dengan segera merespons informasi baru. Teori ini memiliki artian bahwa secara rata-rata,
pengembalian yang abnormal (kelebihan pengembalian dari ekuilibrium pengembalian yang
diharapkan) yang diperoleh karena menerapkan seperangkat informasi yang ada dan bersama-
sama dengan skema perdagangan manapun adalah nol. Perubahan perangkat informasi ini
akan secara otomatis menghasilkan ekuilibrium baru.
Investor prihatin dengan risiko dan pengembalian, dan bahwa harus diukur untuk
portofolio secara keseluruhan.dengan kata lain, deviasi standar yang sebagai ukuran risiko
portofolio. Kenyataan bahwa varians dari portofolio, yaitu varians dari tertimbang jumlah,
yang melibatkan semua ketentuan kovarian secara rasional dan pendekatan empiris yang
alami .Karena ada dua kriteria – return dan risiko - dengan pendekatan alami untuk
mahasiswa ekonomi adalah untuk membayangkan investor memilih titik dari himpunan
Pareto optimal hasil yang diharapkan, varians dari kembali kombinasi, sekarang dikenal
sebagai perbatasan yang efisien.
Dengan adanya perubahan risiko investasi tersebut maka pengharapan investor untuk
memperoleh return juga akan berubah. Dimana sesuai dengan teori keuangan bahwa ada
hubungan yang positif dan linier antara tingkat risiko dan tingkat return. Atau dengan kata
lain bahwa apabila ada peningkatan risiko akan diikuti oleh tingkat pengharapan return yang
semakin tinggi pula oleh para investor, demikian juga sebaliknya. Sehingga risiko dan
returnadalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Horne dan Wachoviz
(1998:26) mendefinisikan return sebagai:“Return as benefit which related with owner that
includes cash dividend last year which is paid, together with market cost appreciation or
capital gain which is realization in the end of the year”. Menurut Jones (2000:124) “return is
yield dan capital gain (loss)”. (1) Yield, yaitu cash flow yang dibayarkan secara periodik
kepada pemegang saham (dalam bentuk dividen), (2) Capital gain (loss), yaitu selisih antara
harga saham pada saat pembelian dengan harga saham pada saat penjualan. Hal tersebut
diperkuat oleh Corrado dan Jordan (2000:5) yang menyatakan bahwa ”Return from
investment security is cash flow and capital gain/loss”. Berdasarkan pendapat yang telah
dikemukakan, dapat diambil kesimpulan return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari
kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari dividen dan
capital gain/loss.
Dalam berinvestasi, selalu terdapat hal yang tidak dapat dihindari yaitu adanya risiko.
Menurut Reilly et al. (2000:III) risiko dapat diartikan “Risk is the uncertainty that an
investment will earn its expected rate of return” dari pengertian tersebut dinyatakan bahwa
risiko merupakan ketidaktentuan atas investasi yang akan diperoleh terhadap imbal hasil yang
diharapkan. Sedangkan Sharpe (1999) menyatakan “Risk is the think for measuring of actual
return deviation to expected return”. Jones (2000:10) mendefinisikan “Risk is defind as the
change that actual return on an investment will be different from the expected return” .Risiko
merupakan perubahan dimana return aktual dari investasi akan berbeda-beda terhadap imbal
hasil yang diharapkan.

2.6 CAPITAL ASSET PRICING MODEL


Capital Asset Pricing Model (CAPM) ini diperkenalkan oleh Sharpe, Lientner, Treynor
dan Mossin pada tahun 1960-an. Model ini mengasumsikan bahwa pendapatan saham
dipengaruhi oleh satu faktor, yaitu premi risiko pasar dan merupakan model dalam
menentukan harga suatu assets pada kondisi equilibrium. Model ini didasarkan pada adanya
dalil bahwa tingkat pengembalian yang diharapkan dari suatu saham adalah sama dengan
tingkat pengembalian bebas risiko plus premi risiko yang hanya tinggal mencerminkan risiko
yang tersisa setelah dilakukan diversifikasi (Eugene F. Brigham: 2006).
Dalam keadaan equilibrium tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal untuk
suatu saham akan dipengaruhi oleh risiko saham tersebut (Tande Lilin, 2001: 90). Dalam hal
ini risiko yang diperhitungkan adalah risiko sistematis yang diwakili oleh beta, karena risiko
yang tidak sistematik bisa dihilangkan dengan cara diversifikasi. Perhatian mengenai model
keseimbangan ini telah secara menerus dikembangkan. Beberapa diantaranya adalah Sharpe
(1964) dan Treynor (1961) yang mengembangkan formulasi mean-variance. Formulasi ini
kemudian dikembangkan lebih lanjut dan diklarifikasi oleh Lintner (1965), Mossin (1966),
Fama (1968), dan Long (1972). Sebagai tambahan, Treynor (1965), Sharpe (1966), dan
Jensen (1968-1969) telah mengembangkan evaluasi portofolio yang mendasarkan pada Assets
Pricing Model ini. Kelemahan-kelemahan empiris yang terjadi pada model CAPM
mendorong para ahli manajemen keuangan untuk mencari model altertanatif yang
menerangkan hubungan pendapatan dengan risiko saham. Bodie et al. (2005) menjelaskan
bahwa Capital Asset PricingModel (CAPM) merupakan hasil utama dari ekonomi keuangan
modern. Capital Asset Pricing Model (CAPM) memberikan prediksi yang tepat antara
hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian (expected return). Walaupun
Capital Asset Pricing Model belum dapat dibuktikan secara empiris, Capital Asset Pricing
Model sudah luas digunakan karena Capital Asset Pricing Model akurasi yang cukup pada
aplikasi penting.

2.7REVIEW ARTIKEL

JUDUL An Empirical Evaluation Of Accounting Income NumbersRay Ball and


Philip BrownJournal Of Accounting Research, Autumn, 1968
A. Pendahuluan
Di tahun 1968, Ball and Brown memulai suatu tradisi dalam penelitian pasar modal
secara empiris mengenai akuntansi. Mereka merupakan pionir dalam pembuktian
bahwa harga-harga pasar sekuritas perusahaan berespon terhadap isi informasi dari
laporan keuangan. Aspek yang penting dan menarik dalam penelitian ini adalah
bahwa mereka melakukan kalkulasi ulang terhadap return pasar abnormal sekuritas
untuk suatu jendela waktu (window period) yang lebar yang mencakup sebanyak 11
bulan sebelum dan 6 bulan sesudah dari pengumuman akan pendapatan perusahaan
(di bulan 0).
B. Tujuan Utama Penelitian
“Untuk menentukan kegunaan dari angka-angka pendapatan akuntansi dengan
mempelajari isi informasi dan rentang waktu informasi.”

C. Apa Latar Belakangnya?


1. Kegunaan akuntansi dalam praktek telah dievaluasi dengan menggunakan model
dengan cara membandingkan antara praktek yang terjadi dengan praktek yang lebih
disukai yang diimplikasikan dalam model. Kelemahan dalam metode ini adalah
diabaikannya kemampuan prediksi model untuk menyesuaikan diri dengan prilaku
yang diobservasi.
2. Tidaklah cukup mempertahankan suatu pemahaman analitis dengan dasar bahwa
asumsi yang mendasarinya telah mendapat dukungan secara empiris karena:
 Sulit untuk mengetahui apakah suatu teori telah merangkul semua asumsi
relevan yang mendukungnya.
 Sulit untuk menjelaskan akan kemampuan prediktif dari proposisi yang
didasarkan pada asumsi yang tidak dapat diverifikasi (seperti dalam hal
fungsi maksimisasi utilitas).
3. Sulit untuk untuk menyatukan perbedaan antar proposisi yang muncul dengan
mempertimbangkan berbagai aspek yang berbeda dalam dunia.
4. Ada keterbatasan dari suatu pendekatan analitis yang lengkap mengenai
kegunaannya. Sebagai contoh adalah argumentasi mengenai bahwa angka-angka
pendapatan yang tidak dapat didefinisikan secara substantif karena pada prakteknya
akuntan harus berhadapan dengan berbagai situasi baru yang muncul seperti
konsolidasi, sewa menyewa, merger, penelitian dan pengembangan, pajak dan
lainnya. Karena akuntansi tidak dapat memberikan satu kerangka teoritis yang dapat
mencakup semuanya maka dalam prakteknya akan muncul suatu ketidakmiripan
dalam praktek sebagai konsekuensinya yaitu bahwa pendapatan bersih merupakan
suatu agregasi komponen yang tidaklah homogen.
D. Apa Issunya?
1. Adalah fakta bahwa suatu model analitis tidaklah dengan sendirinya menaksir
signifikansi jauhnya pengukuran yang diimplikasikannya oleh karena itu berbahaya
untuk mengambil kesimpulan tanpa adanya suatu pengujian empiris yang lebih jauh
bahwa suatu ketiadaan arti yang substantif mengimplikasikan tidak adanya kegunaan.
2. Intinya adalah mengenai suatu evaluasi mengenai angka-angka pendapatan secara
akuntansi yang membutuhkan kesepakatan sebagaimana keluaran dari dunia nyata
menyatakan pengujian yang tepat mengenai kegunaan. Dan karena pendapatan bersih
merupakan suatu angka yang penting bagi investor maka keluaran yang digunakan
sebagai kriteria prediktif adalah keputusan investasi yang dicerminkan dalam harga-
harga sekuritas. Dalam hal ini baik isi dan penentuan waktu berkaitan dengan angka-
angka pendapatan bersih tahunan yang ada akan dievaluasi karena kegunaan akan
pendapatan bersih dapat saja dirusak karena kekurangan dalam hal isi dan penentuan
waktu.
E. Masalah Utama
1. Apakah Angka Pendapatan secara Akuntansi merupakan angka yang berguna atau
tidak walaupun angka ini tidaklah mempunyai arti yang bersifat substantif (satu arti
mutlak).
F. Proposisi Pasar Modal Yang Diuji
1. Hipotesa Pasar Efisien: Suatu pasar dikatakan efisien apabila tidak seorangpun, baik
investor individu maupun investor institusi, akan mampu memperoleh return tidak
normal (abnormal return), setelah disesuaikan dengan risiko, dengan menggunakan
strategi perdagangan yang ada.
2. Artinya, dalam pasar yang efisien, harga-harga yang terbentuk dipasar merupakan
cerminan dari informasi yang ada ( "stock prices reflect all available information”).
Ekspresi yang lain menyebutkan bahwa dalam pasar yang efisien harga-harga asset
atau sekuritas secara cepat dan utuh mencerminkan informasi yang tersedia tentang
asset atau sekuritas tersebut.
3. Oleh karena itu, dalam pasar yang efisien, suatu informasi disebut berguna jika dapat
menyebabkan investor mengubah keyakinannya dan bertindak. Selanjutnya, tingkat
kegunaan informasi dapat diukur dari seberapa jauh perubahan harga mengikuti suatu
informasi.
4. Pasar modal adalah efisien dan tidak bias adalah bila informasi yang berguna dalam
pembentukan harga asset modal akan mengakibatkan adanya penyesuaian harga aset
karena informasi tersebut dengan cepat dan tanpa memberikan kesempatan
mendapatkan keuntungan abnormal yang lebih jauh.

Maka dapat disimpulkan dalam proposisi ini bahwa harga mencerminkan seluruh informasi
yang ada di pasar.

G. Model Regresi Yang Diuji


1. Perubahan pendapatan yang diharapkan bagi perusahaan j di tahun t:
 ∆Ijt = â1jt + â2jt∆Mjt dimana I merupakan pendapatan perusahaan dan M adalah
rata-rata pendapatan perusahaan lainnya dipasar selain pendapatan perusahaan j serta
∆ adalah perubahan.
2. Perubahan pendapatan yang tidak diharapkan bagi perusahaan j di tahun t:
 Ûjt = ∆Ijt - ∆Îjt dimana ∆ pendapatan yang tidak diharapkan dihitung dari
pendapatan aktual dikurangi dengan ∆ pendapatan yang diharapkan.
3. Reaksi pasar diukur dengan persamaan regresi: [ PRjm – 1] 1= bij + b2ij (Lm - 1) +
Vjm dimana: PRjm adalah merupakan harga relatif bulanan untuk perusahaan j di
bulan m dan L adalah hubungan relatif dari Fisher’s”combination Investment
Performance Index”. Nilai (Lm - 1) adalah estimasi dari nilai rate of return pasar.
H. Isu Ekonometrik Dalam Penelitian
1. Ada pelanggaran terhdap asumsi dalam OLS yaitu:
 Adanya korelasi antara market index of returns dengan residual.
 Hasil prediksi menunjukkan adanya nilai ekspektasi dari Vj pada beberapa bulan
tertentu menunjukkan nilai tidak nol.

I. Data Penelitian
 Ada 3 kelas data yang penting: Isi dari laporan keuangan; tanggal pengumuman
laporan keuangan; dan pergerakan darn harga sekuritas di sekitar tanggal
pengumuman laporan keuangan. Data Isi Laporan Keuangan berisi angka-angka
pendapatan dari tahun 1946 sampai dengan tahun 1966 didapat dari ”Standard
and Poor’s Compustat tapes”.
 Data tanggal pengumuman laporan keuangan didapat dari ”The Wall Street
Journal” yang mempublikasikan 3 macam pengumuman laporan tahunan:
Peramalan akan pendapatan tahunan, Laporan Preliminary, dan Laporan tahunan
lengkap.
 Data harga saham didapat dari data tapes dari Center for Research in Security
Prices (CRSP) di Universitas Chicago.
 Data perusahaan yang diikut sertakan harus memiliki kriteria:
1. Tersedia data earning di compustat tapes dari tahun 1946 – 1966.
2. Tahun fiskal berakhir pada 31 Desember.
3. Data harga saham tersedia di CRSP minimal selama 100 bulan
4. Data tanggal pengumuman tersedia di Wall Street Journal.
 Periode penelitian Fiskal dibatasi dari tahun 1957 sampai dengan tahun 1965, dan
ada 261 perusahaan diikutsertakan dalam penelitian.
J. Hasil-Hasil Pengujian Secara Statistik
1. Pengukuran dan pengujian terhadap Unexpected Income
2. Prediksi perubahan income
3. Perhitungan Unexpected income
 Dari pengujiannya, Ball dan Brown mendapatkan adanya unexpected income, yang
dapat dikelompokan dalam positif unexpected income dan negatif unexpected income.
 Unexpected income yang positif terjadi jika actual income lebih besar dari expected
income, sehingga dapat dikatakan ada berita baik (Good news) bagi investor.
 Sebaliknya, unexpected income yang negatif terjadi jika actual income lebih kecil dari
expected income. Berarti ada berita buruk (Bad news).
4. Perhitungan reaksi pasar
5. Perhitungan stock return residual / unexpected return
 Dari hasil pengujian diketahui bahwa terdapat stock return residual pada bulan
pengumuman income. Hal ini menunjukan ada informasi baru, yang telah
menyebabkan perubahan harga dari yang diekspektasi.
 Stock return residual yang positif, mengindikasikan investor memperoleh berita baik,
yaitu adanya actual income yang lebih besar dari ekpektasi income. Begitu pula
sebaliknya.
K. Kesimpulan Hasil Penelitian
1. Informasi yang terdapat dalam angka pendapatan tahunan berguna pendapatan aktual
berbeda dengan pendapatan yang diharapkan.
2. Ada hubungan antara besaran income forecast errors (kesalahan peramalan
pendapatan) dengan besaran dari abnormal stock price adjusment (penyesuaian harga
saham abnormal).
3. Hubungan antara tanda dari kesalahan peramalan penapatan dan residual dari return
saham akan berlangsung selama kurang lebih 2 bulan setelah bulan pengumuman
dari laporan keuangan.
L. Kesimpulan Berkaitan Dengan Nilai dari Pendapatan Bersih Relatif
Tahunan Dengan Sumber Informasi Lainnya
1. Hasil penelitian membuktikan bahwa informasi yang terdapat dalam angka
pendapatan tahunan berguna karena hal ini berkaitan dengan harga saham.
2. Sekitar 75% dari nilai dari seluruh informasi akan hilang terhapus dan hanya 25%
saja yang akan tetap bernilai/penting untuk diperhitungkan terus.
3. Dari 25% tersebut sekitar separuhnya berhubungan dengan informasi yang terdapat
dalam reported income (pendapatan yang diumumkan).
4. Dari nilai informasi yang terdapat dalam pendapatan yang dilaporkan (reported
income) tidak lebih dari 10 sampai dengan 15 persen yang tidak diantisipasi pada
bulan yang pengumuman dilaksanakan.
5. Nilai informasi yang dibawa oleh angka pendapatan pada waktu diumumkan, secara
rata-rata, hanya 20% dari nilai dari seluruh informasi yang masuk ke pasar pada
bulan yang bersangkutan.
6. Angka pendapatan akuntansi hanya mencakup sekitar separuh dari efek bersih dari
seluruh informasi yang tersedia selama 12 bulan yang mendahului pengumuman
informasi tersebut.
7. Pendapatan bersih hanya berkontribusi sebanyak 20% dari nilai seluruh informasi
pada bulan pengumuman informasi tersebut. Dimana fakta yang perlu diperhatikan
berkaitan hal tersebut adalah:
 Banyak infomasi lainnya yang diumumkan pada bulan yang sama saat pendapatan
diumumkan (misalnya dividen dan item lainnya dalam laporan keuangan).
 85 sampai 90 persen dari efek bersih informasi dari pendapatan tahunan telah
terefleksi dalam harga sekuritas sebelum bulan pengumuman tersebut. Dan,
 Periode dari laporan tahunan telah menjadi sejarah selama 1 sampai satu setengah
bulan.
M. Keterbatasan Dalam Penelitian Ini
1. Asumsi bahwa harga saham didapat dari transaksi yang telah berlangsung secara
simultan pada akhir bulan.
2. Asumsi bahwa tidak terdapat kesalahan dalam data.
3. Sifat diskrit dari pengumuman harga saham.
4. Estimasi regresi dari kesalahan peramalan pendapatan merupakan variabel random,
yang berimplikasi pada beberapa misclassifikations dari kesalahan peramalan
pendapatan ”yang sebenarnya” tidak dapat dihindari.

N. KESIMPULAN AKHIR
1. Dari seluruh informasi akan perusahaan individual maka ada sekitar separuh atau
lebih dari informasi tersebut telah ditangkap oleh pasar pada tahun diterbitkannya
angka pendapatan tersebut.
2. Informasi lainnya yang telah diterbitkan terlebih dahulu telah terlebih dahulu
mempengaruhi pasar. (misalnya interim report).
3. Suatu Mekanisme telah disediakan bagi pendekatan empiris akan suatu kelas terbatas
dari pilihan kontroversial dalam pelaporan eksternal.
O. Isu-Isu Lanjutan Yang Perlu Diteliti Lebih Lanjut
1. Identifikasi akan media yang dapat diantisipasi oleh pasar berkaitan dengan
pendapatan bersih perusahaan.
2. Bagaimana efek dari pengumuman laporan interim dan juga pengumuman dividen.
3. Menentukan biaya penyiapan/pembuatan laporan keuangan tahunan berkaitan
dengan adanya laporan interim yang lebih tepat waktu (timely).
4. Investigasi mengenai hubungan antara besaran (tidak hanya sekedar tanda arah
hubungan) dari perubahan pendapatan yang tidak diharapkan dan penyesuaian harga
saham perusahaan terkait.
P. Komentar
1. Penelitian ini merupakan penelitian yang sangat banyak diacu karena merupakan
salah satu pioneer dalam penelitian akuntansi yang berkaitan dengan pasar modal.
2. Penelitian ini mempunyai implikasi yang penting karena bila informasi yang terdapat
dalam laporan keuangan yang disiapkan oleh akuntansi ternyata tidak memberikan
pengaruh apapun terhadap pengambilan keputusan maka berarti akuntansi sudah
tidak diperlukan lagi didalam dunia.
3. Penelitian ini adalah penelitian yang awal sekali berkaitan dengan informasi
akuntansi.
4. Perlu dilakukan penelitian-penelitian lainnya berkaitan dengan macam-macam
informasi akuntansi lainnya yang dibuat dan disiapkan oleh akuntansi berkaitan
dengan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan baik di dalam ruang lingkup
pasar modal ataupun di luar ruang lingkup pasar modal.
5. Karena penelitian ini belum memasukkan unsur ekpektasi akan informasi maka
penelitian lainnya yang perlu dipertimbangkan juga adalah dengan memasukkan
unsur ekspektasi ke dalam model penelitian berkaitan dengan informasi yang
dikeluarkan oleh perusahaan. Dalam hal ekspektasi ini maka model-model atau
konsep-konsep dalam ekonomi dan teori keuangan yang terbaru dapat diikutsertakan.
6. Dalam akuntansi maka angka merupakan agregasi dari konsep dan metode akuntansi
yang digunakan dalam pembuatan laporan keuangan. Untuk itu perlu
dipertimbangkan juga apakah informasi mengenai konsep dan metode akuntansi
berpengaruh pada ekspektasi mengenai efek dari informasi tersebut pada harga
saham perusahaan.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Riset pasar modal bergantung pada asumsi dasar bahwa pasar ekuitas efisien.Efisiensi
pasar didefinisikan sesuai dengan hipotesis pasar yang efisien (EMH) merupakan pasar yang
menyesuaikan dengan cepat informasi untuk sepenuhnya menyita ke harga saham ketika
informasi dilepaskan (Fama et al., 1969).Terkait teori atau alat uji reaksi pasar modal
terhadap laporan keuangan dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu teori sinyal, event study
dan efisiensi pasar modal.Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan
antara harga sekuritas dengan informasi.Efisiensi pasar modal ada tiga tingkatan yaitu pasar
efisien bentuk lemah, pasar efisien bentuk semi, pasar efisien bentuk kuat.
Banyak penelitian telah menyelidiki reaksi pasar modal terhadap pengumuman laba.
Artinya, ketika sebuah perusahaan mengumumkan laba untuk tahun ini (atau setengah tahun)
apa dampaknya, jika ada, pada harga sahamnya? Dengan anggapan pasar modal bentuk semi-
kuat yang efisien (mereka bereaksi dengan cepat dan dengan cara yang berisi untuk tersedia
untuk umum informasi), gerakan harga saham dianggap menunjukkan bahwa informasi baru
dalam pengumuman laba publik telah dimasukkan ke dalam sekuritas harga melalui kegiatan
investor di pasar. Itu berguna dalam menilai kembali arus kas masa depan entitas. Ball dan
Brown menemukan bahwa sebagian besar informasi yang terkandung dalam pengumuman
laba (85-90%) diantisipasi oleh investor.
DAFTAR PUSTAKA

Subramanyam, K.R; John J.Wild. 2010. Analisis Laporan Keuangan Edisi 10. Penerbit
Salemba Empat.
Munawir, 2004.Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Kelima, Liberty, Yogyakarta.
White, Gerald I, Ashwinpaul Sondhi and Dov Fried, The Analysis and Use Of Finacial
Statements, 311. Edition, John Wiley, 2003.
Brown, Ball, 1968 An Empirical Evaluation Of Accounting Income Numbers Joural of
Accounting Research Autumn