Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM IV

IDENTIFIKASI HAMA, GULMA DAN JENIS PENYAKIT PADA


TANAMAN KARET

Disusun Oleh:
Kelompok 3B:
Ayu Andriani : 1802301029
Bella Krestinawiyati Fituwana : 1802301004
Husnul Khotimah : 1802301066
Hermawan Susanto : 1802301036
Siti Fhatimah : 1802301074

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


POLITEKNIK NEGERI TANAH LAUT
PELAIHARI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi
di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia
selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta
ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton
pada tahun 2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004
mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-
migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk
pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan
Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih
dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85%
merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar
negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara
nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta ton. Jumlah ini
masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan
pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk
perkebunan karet.
Kerusakan dan kematian tanaman merupakan masalah yang sangat
penting dalam budidaya tanaman karet. Kerusakan dan kematian tersebut
umumnya disebabkan oleh gangguan hama maupun penyakit. Berbagai usaha
dilakukan untuk menanggulangi gangguan tersebut. Salah satunya adalah
dengan melakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit.
Hama adalah organisme yang menyebabkan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman terganggu bahkan bisa mematikan tanaman.
Kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama nilainya cukup berarti
ditinjau dari segi ekonomi (Setyamidjaja, 2004).
Gulma adalah salah satu jasad pengganggu tanaman. Gulma merupakan
salah satu faktor penyebab tertekannya pertumbuhan bibit karet dan
menurunnya produksi. Karena gulma menyaingi tanaman dalam penyerapan
unsur hara, air, cahaya matahari dan ruang untuk tumbuh.
Disamping itu ada beberapa jenis gulma mengeluarkan zat alelopati atau zat
penghambat pertumbuhan melalui akar dan daun. Selain itu, kerugian yang
ditimbulkan pada tanaman juga bervariasi tergantung jenis tanaman, umur
tanaman, iklim dan jenis gulma. Masalah gulma akan berbeda pada setiap
umur tanaman juga menyebabkan terjadinya pergeseran dominansi gulma,
pada tanaman dengan persentase penutupan tajuk kecil akan ditemukan jenis
gulma beragam dan sebaliknya pada tanaman dengan persentase penutupan
tajuk lebih besar lebih didominasi gulma yang tahan naungan.
Pada tanaman karet ada beberapa kriteria penyakit yaitu penyakit sangat
penting, penting, agak penting dan kurang penting. Penyakit sangat penting
di antaranya adalah penyakit jamur akar putih (JAP), kering alur sadap,
penyakit gugur daun Corynospora, Colletotrichum, dan Oidium. Penyakit
penting di antaranya adalah jamur akar merah, Mouldy rot, nekrosis kulit, dan
jamur upas. Penyakit agak penting adalah gugur daun Helminthosphorium
dan Phytopthora, kanker bercak dan kanker lump. sedangkan penyakit tidak
penting adalah gugur daun Guignardia, Fusicoccum, Cylindrocladium,
penyakit akar coklat, penyakit akar hitam, dan Botridiplodia sp.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa bisa mengidentifikasi nama,
gulma dan jenis penyakit pada tanaman karet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan salah satu komoditi
perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non
migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu
upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama
dalam bidang teknologi budidayanya (Anwar, 2001). Tanaman karet (Hevea
brasilliensis) telah dikenal orang semenjak abad ke-15 setelah colombus
menemukan Benua Amerika. Tanaman ini termasuk dalam family
Euphorbiaccae (Purseglove, 1984). Dikjim and Wehlburg (1970) menyatakan
bahwa tanaman karet merupakan tanaman tahunan yang bercabang
banyak,berdaun lebar,dan tergolong trifoliolate artinnya mempunyai tiga helai
daun, dan tingginya dapat mencapai 15 sampai 26 meter.

2.2 Klasifikasi dan Morfologi tanaman karet


Menurut Nazaruddin dan Paimin (1998) klasifikasi botani tanaman
karet adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea braziliensis Muell. Arg
Tanaman karet ( Hevea brasilliensis Muell Arg ) adalah tanaman getah-
getahan. Dinamakan demikian karena golongan ini mempunyai jaringan
tanaman yang banyak mengandung getah ( lateks ) dan getah tersebut
mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai (Santosa, 2007). Menurut
Iskandar (1984) bahwa tanaman karet dapat diperbanyak secara generatif
(biji) dan vegetatif. Tetapi perbanyakan dengan biji mempunyai kelemahan
antara sifat keturunan yang dihasilkan tidak sama dengan induk, namun
perbanyakan dengan biji bagi tanaman karet diperlukan untuk penggandaan
batang bawah. Untuk mendapatkan keseragaman dan mempertahan kan sifat
yang baik dari pohon induk, tanaman karet diperbanyak secara vegetatif
(Harahap, 1972). Dari beberapa cara perbanyakan vegetatif dari tanaman
karet yang umum digunakan perkebunan- perkebunan besar di Indonesia
(Iskandar, 1984). Karena memberikan pertumbuhan lebih cepat
dibandingkan dengan bibit yang berasal dari biji (Darjanto,1975).
Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun.
Panjang tangkai daun utama 3-20cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-
10cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang
terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang
dengan ujung meruncing, tepinya rata dan gundul (Anwar, 2001).
Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang
cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman
biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas.
Dibeberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamanya
agak miring kearah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang
dikenal dengan nama lateks (Pujiatno, 2003).
Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar
tunggang. Akar ini mampu dengan bercak-bercak berpola yang khas (Aidi
dan Daslin, 1995). Bunga pada tajuk dengan membentuk mahkota bunga pada
setiap bagian bunga yang tumbuh. Bunga berwarna putih, rontok bila sudah
membuahi, beserta tangkainya. Bunga terdiri dari serbuk sari dan putik
(Maryadi. 2005) menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar.
Sistem perakaran yang bercabang pada setiap akar utamanyA (Santosa,
2007). Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah biji biasanya
ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan
kulit keras.
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Karet
1. Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150
LS dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat
sehingga memulai produksinya juga terlambat (Suhendry, I. 2002). Suhu
yang dibutuhkan untuk tanaman karet 25° C sampai 35 ° C dengan suhu
optimal rata-rata 28° C. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan
intensitas matahari yang cukup antara 5 sampai 7 jam (Santosa. 2007.).
2. Curah Hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm
sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150
HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi
akan berkurang (Radjam, Syam. 2009.).
3. Ketinggi Tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah
dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari
permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet (Nazaruddin dan
F.B. Paimin. 1998.).
4. Angin
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang
kencang dapat mengakibatkan kerusakan tanaman karet yang berasal dari
klon-klon tertentu dalam berbagai jenis tanah, baik pada tanah latosol,
podsolik merah kuning, vulkanis bahkan pada tanah gambut sekalipun
(Maryadi. 2005).
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik
untuk penanaman karet Untuk lahan kering/darat tidak susah dalam
mensiasati penanaman karet, akan tetapi untuk lahan lebak perlu adanya trik-
trik khusus untuk mensiasati hal tersebut. Trik-trik tersebut antara lain dengan
pembuatan petak-petak guludan tanam, jarak tanam dalam barisan agar lebih
diperapat. Metode ini dipakai berguna untuk memecah terpaan angin (Deptan.
2006.).
5. Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya
lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat
kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan
syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah
dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya (Aidi dan Daslin, 1995).
Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet
baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Tanah
vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur,btekstur,
sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya
secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah. Tanah alluvial
biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasenya
kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 – pH 8,0 tetapi tidak sesuai
pada pH < 3,0 dan > pH 8,0.
Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara
lain :
a) Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
b) Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
c) Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
d) Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
e) Reaksi tanah dengan pH 4,5 – pH 6,5
f) Kemiringan tanah < 16% dan
g) Permukaan air tanah < 100 cm (Anwar, 2001).

2.4 Jenis-Jenis Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Karet Beserta
Pengendaliannya
Sebagaimana halnya tanaman perkebunan lainnya, tanaman karet tak
luput dari hama dan penyakit. Gangguan hama dan penyaki ini harus
ditangani dengan baik agar tanaman tumbuh subur dan produktivitasnya
optimal.
Hama yang menyerang tanaman karet pada fase penanaman hingga
produksi diantaranya:
a) Rayap
Rayap yang menjadi hama tanaman karet, terutama spesies
Microtermes inspiratus dan Captotermes curvignathus. Rayap tersebut
menggerogoti bibit karet yang baru ditanam di lahan, dari ujung stum
sampai perakaran, sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat berat.
1. Cara pengendaliannya dapat dengan kultur teknis, mekanis dan kimiawi.
Secara kultur teknis ujung stum sampai sedikit diatas mata dibungkus
plastik agar rayap tidak memakannya.
2. Secara mekanis dengan menancapkan umpan berupa 2 – 3 batang
singkong dengan jarak 20 – 30 cm dari bibit, sehingga rayap lebih suka
memakan umpan tersebut daripada karet.
3. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida
pembasmi rayap
b) Kutu
Kutu tanaman yang menjadi hama bagi tanaman karet adalah
Saissetia nigru, Laccifer greeni chamberlis, Laccifer virgata, Ferrisiana
virgata dan Planococcus citri yang masing- masing memiliki ciri yang
berbeda.
Jika intensitas serangan kutu belum begitu parah pengendalian bisa
dilakukan secara mekanis, yakni mengambil kutu – kutu tersebut
menggunakan pinset dan membakarnya. Namun jika intensitas
serangannya sudah parah , pengendaliannya secara kimiawi dilakukan
dengan cara menyemprotkan insektisida khusus seperti pada seissetia nigru
pemberantasannya menggunakan Albolineum (2%), Laccifer greeni
chamberlis pemberantasan menggunakan kimiawi (Anthio 3
EC=0,15%+Surfaktan Citrowett=0,025%, Albolineum 2%, Formalin
0,5%), dan lain sebagainya.
c) Tungau
Tungau menghisap cairan tanaman menggunakan alat penusuk yang
ada dikepalanya, akibatnya daun yang terserang berbentuk abnormal dan
kerdil. Lama kelamaan daun itu menguning dan akhirnya gugur.
Pengendaliannya juga dapat dilakukan secara mekanis dan kimiawi.
Secara mekanis adalah dengan mengambil tungau dan kemudian
membunuhnya. Sementara itu, secara kimiawi dengan menyemprotkan
insektisida yang diformulasikan khusus untuk tungau.
d) Babi hutan
Babi hutan (Sus verrucosus) adalah hama bagi hampir semua tanaman
perkebunan termasuk karet terutama yang ditanam dekat hutan. Babi hutan
mencari makan malam hari dengan cara mendongkel tanaman karet yang
masih muda menggunakan moncongnya, setelah pohon karet rebah babi
hutan memakan daunnya sampai tandas, bahkan mengerat kulit pohonnya.
Beberapa pengendaliannya, sebagai berikut :
1. Menakut – nakuti
Babi hutan sangat takut dengan bunyi – bunyian yang bising.
Karenanya pada malam hari disarankan membunyikan kentongan atau
kaleng di areal perkebunan, sehingga babi hutan merasa takut datang ke
tempat tersebut. Selain itu dengan cara menggantungkan daging babi hutan
yang telah tertangkap di areal perkebunan karet akan membuat babi hutan
takut datang ketempat tersebut.
2. Menangkap babi hutan
Ada beberapa cara menangkapnya. Paling popular dan sekaligus
dapat menjadi kegiatan olahraga adalah memburunya dengan
menggunakan senjata api atau senjata tajam. Selain itu dapat juga
menggunakan umpan dan lubang jebakan dengan kedalaman 1,5 meter.
3. Meracuni
Ada dua macam racun yang digunakan untuk meracuni babi hutan,
yaitu dengan cara tradisional dan kimia. Racun tradisional menggunakan kulit
kerang halus, air perasan akar tuba, dan ubi parut. Sedangkan racun kimia
yang dapat digunakan antara lain zinkfosfide dan insektisida temik 10 G.
Penyakit adalah gangguan yang terus menerus pada tanaman yang
disebabkan oleh patogen, virus, bakteri dan jasad renik lain. Beberapa
penyakit yang cukup merugikan antara lain:
a) Penyakit Embun Tepung
Penyakit ini umumnya menyerang daun muda. Penyakit ini
disebabkan oleh cendawan Oidium haveae, sehingga sering disebut
penyakit oidium.. gejalanya dapat diketahui dari berubahnya warna daun
menjadi hitam, lemas, keriput, dan berlendir. Dibagian bawah permukaan
daun terdapat bercak – bercak bundar berwarna putih seperti tepung halus
yang merupakan kumpulan hifa dan spora jamur. Upaya yang dilakukan
untuk mengobatinya antara lain;
1. Tidak menanam klon – klon yang peka terhadap penyakit ini
2. Melakukan pengurangan daun, guna menumbuhkan daun lebih awal,
sehingga saat serangan itu datang, daun – daun sudah cukup tua.
3. Menyemprotkan fungisida saat 10% tanaman dikebun membentuk daun
baru.
b) Penyakit Daun Colletotrichum
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrium gloeosporodies
dengan gejala berupa daun muda tampak lemas, berwarna hitam, keriput,
bagian ujung mati, menggulung, dan akhirnya berguguran.
Penyebaran penyakit ini melalui spora yang diterbangkan oleh angin
dan/atau hujan. Penyebaran spora ini umumnya terjadi pada malam hari
terutama saat turun hujan.
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut;
1. Tidak menanam klon yang peka terhadap penyakit ini.
2. Mempercepat pembentukan daun – daun muda dengan pemupukan
intensif, dimulai dari munculnya kuncup sampai daun menjadi hijau.
c) Penyakit Jamur Upas.
Penyakit jamur upas disebabkan oleh cendawan Corticium
Salmonicolor yang memiliki empat tingkat perkembangan, tahap pertama
adalah terbentuknya lapisan tipis berwarna putih dipermukaan kulit,
selanjutnya akan berkembang membentuk sekumpulan benang jamur, pada
tahap ketiga terbentuk lapisan kerak berwarna merah muda, tahap terakhir
adalah terbentuknya lapisan tebal berwarna merah tua.
Penyakit jamur upas menyerang percabangan atau batang tanaman,
sehingga cabang dan tajuk mudah patah. Penyakit ini lebih
banyakmenyerang tanaman muda berumur 3 – 7 tahun. Pemicunya adalah
kelembaban yang tinggi.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Tidak menanam klon – klon yang peka terhadap jamur upas.
2. Jika tanaman karet ditanam di daerah curah hujan tinggi sebaiknya
jarak tanam dibuat lebih renggang.
Sementara itu, pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut.
1. Melumaskan fungisida di bagian yang terserang hingga 30 cm ke atas
dan bawahnya.
2. Jika percabangan sudah terkena serangan lanjut, kulit yang busuk
harus dikupas dan kulit batang yang tersisa dilumasi Calixin MR
dengan dosis yang sesuai.
3. Cabang – cabang yang mati dipotong dan dibakar, bekas potongan
diolesi izal 5%, pemotongan sebaiknya dilakukan pada musim
kemarau saat jamur tidak aktif.
d) Penyakit Bidang Sadapan
Ada beberapa penyakit bidang sadapan, yaitu;
1. Kangker Garis
Cendawan penyebab penyakit tersebut adalah Phytophthora
palmivora. Inveksi cendawan ini menyebabkan kerusakan berupa
benjolan di bekas bidang sadap lama, sehingga mempersulit
penyadapan berikutnya.
Usaha untuk pencegahannya adalah sebagai berikut :
 Tidak menanam klon yang peka terhadap penyakit ini di wilayah
beriklim basah
 Jarak tanam jangan terlalu rapat agar tidak menciptakan
kelembaban yang tinggi.
 Penyadapan jangan terlalu dalam dan tidak terlalu dekat dengan
tanah.
Pengendalian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Mengoleskan fungisida yang sesuai pada atas dan bawah alur
sadap segera setelah dilakukan penyadapan atau paling baik setelah
pemungutan lateks yang belum membeku, setelah itu ditutup dengan
Secony CP 2295 A.
Bagian yang terinfeksi sudah membusuk harus dikorek
seperlunya untuk selanjutnya dilumasi fungisida seperti dijelaskan di
atas.
2. Mouldy Rot
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Ceraticytis fimbriata
dengan benang – benang hifa yang membentuk lapisan berwarna
kelabu dibagian yang terserang.
Pengendaliannya dengan mengoleskan fungisida 5 cm di atas
irisan sadap, sehari setelah penyadapan dan getah belum dilepaskan.
Jika serangannya berat, pengolesan dilakukan satu minggu sekali,
namun jika serangannya ringan, pengolesan dilakukan dua kali
seminggu.
3. Brown Blast
Penyakit ini tidak disebabkan terinfeksi oleh mikroorganisme,
tapi karena penyadapan yang terlalu sering.
Upaya pengendaliannya bisa dilakukan dengan;
 Jangan melakukan penyadapan terlalu sering, dan dianjurkan
mengurangi bahan perangsang lateks.
 Tanaman yang kulitnya tidak dapat disadap lagi sebaiknya tidak
disadap, atau diistirahatkan sampai sembuh.
e) Penyakit Akar putih
Disebut dengan penyakit akar putih karena di akar tanaman yang
terserang terlihat miselia jamur berbentuk bening berwarna putih
menempel kuat dan sulit dilepaskan akar tanaman yang terinfeksi akan
menjadi lunak, membusuk, dan berwarna coklat. Cendawan penyebab
penyakit akar putih ini adalah Rigidoporus lignosus yang membentuk
badan buah seperti topi di akar.
Upaya pencegahannya dengan cara berikut;
1. Membersihkan sisa – sisa tunggul dan akar tanaman lama di areal
perkebunan yang mungkin menjadi penyebab penyakit akar putih.
2. Menanam tanaman penutup tanah yang tepat, terutama family kacang -
kacangan.
3. Hanya menanam bibit karet yang bebas dari penyakit akar putih.
4. Bila areal penanaman merupakan bekas perkebeunan karet yang pernah
terserang penyakit ini, tanaman baru harus dilindungi dengan belerang.
Adapun pengendalian pada tanaman karet yang sudah terkena
penyakit akar putih adalah sebagai berikut :
1. Mengobati tanaman muda yang menunjukkan gejala penyakit tersebut,
dengan cara mengerok miselia jamur yang menempel lalu diolesi ter,
selanjutnya keseluruhan akar yang luka diolesi Izal 5 persen.
2. Membongkar tanaman sakit yang sudah parah, ditandai dengan gugurnya
daun dan membusuknya akar tunggang. Jika akan disulam, bibit yang
digunakan harus berupa stum yang tinggi dan disekitar bibit kembali
ditaburi serbuk belerang sebanyak 100 gram (Setiawan dan Andoko, 2005)
BAB III
METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 23 September 2019, pada
pukul 09.00 – selesai WITA. Bertempat di Kebun Karet sekitar Pooliteknik
Negeri Tanah Laut milik Bapak Pitrus Ngandri.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu kamera handphone dan
alat tulis. Adapun bahan yang digunakan yaitu tanaman karet pada kebun
karet milik Pak Ngandri.

3.3 Prosedur Kerja


1. Dilakukan identifikasi jenis penyakit pada tanaman karet.
2. Dilakukan identifikasi jenis hama yang menyerang tanaman karet.
3. Dilakukan identifikasi jenis gulma pada sekitaran tanaman karet.
4. Dicatat hasil identifikasi pada tabel yang sudah disiapkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Tally Sheet hasil identifikasi jenis penyakit pada tanaman karet

No Nama Pohon Jenis Penyakit Gambar

-Pohon 1, 2, 3, 4 -Gugur daun disebabkan oleh


embun tepung oidium dan
jamur

-Pohon 1, 2, 3, 4, 5 -Gugur daun disebabkan oleh


embun tepung oidium dan
jamur
2

-Pohon 1, 2, 3, 4, 5, -Gugur daun disebabkan oleh


6, 7, 8, 9, 10 embun tepung oidium dan
jamur

3
-Pohon 1, 2, 3, 4, 5, -Gugur daun disebabkan oleh
6, 7, 8,9, 10, 11 embun tepung oidium dan
jamur dan gugur daun “daun
kuning”
4

-Pohon 1, 2, 3, 4, 5, -Gugur daun disebabkan oleh


6, 7, 8, 9, 10, 11, embun tepung oidium dan
12 jamur

-Pohon 1, 2, 3, 4, 6, -Gugur daun disebabkan oleh


7, 8, 9, 10, 11, 12 embun tepung oidium dan
-Pohon 5 jamur
6 -gugur daun “daun kuning”

Tabel 2 Jenis Gulma

No Nama Benalu Nama Latin Gambar

1 Benalu Loranthus
2 Lumut Briyophyta

3 Gulma Crabgrass Digitaria Sanguinalis

Tabel 3 Hama
No Jenis Hama Gejala serangan
1 Ulat Memakan daun sehingga proses fotosintesis tanaman
karet terganggu

4.2 Pembahasan
Karet adalah komoditi ekspor yang cukup potensial. Menyadari akan
hal itu, sudah sepantasnyalah untuk meningkatkan produktifitas usaha tani
karet, utamanya di dalam bidang pengetahuan petani karet agar karet benar-
benar dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan.
Penyakit tumbuhan dapat ditinjau dari dua sudut yaitu sudut biologi dan
sudut ekonomi, demikian juga penyakit tanamannya. Di samping itu untuk
mempelajari Ilmu Penyakit Tumbuhan perlu diketahui beberapa istilah dan
definisi yang penting. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit tumbuhan
dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat.
Kerusakan ini selain disebabkan oleh karena hilangnya hasil ternyata juga
dapat melalui cara lain yaitu menimbulkan gangguan terhadap konsumen
dengan adanya racun yang dihasilkan oleh jamur dalam hasil pertanian
tersebut.
Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh serangan penyakit pada
tanaman karet umumnya lebih besar dibandingkan dengan serangan hama.
Selain karena kerusakan akibat serangan penyakit, kerugian lain adalah
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulanginya. Karenanya,
upaya pencegahan harus mendapat perhatian penuh, serta pengamatan dini
secara terus-menerus sangat penting.
Penyakit pada tanaman karet dengan kerugian besar umumnya
disebabkan oleh cendawan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus
kerugiannya tidak begitu besar. Penyakit tanaman karet menyerang dari
wilayah akar, batang, bidang sadap, hingga daun.
a. Penyakit gugur daun Oidium merupakan penyakit utama pada tanaman
karet, penyakit ini disebut juga penyakit embun tepung, menyebabkan
kerugian di perkebunan karet baik tanaman belum menghasilkan (TBM)
maupun tanaman telah menghasilkan (TM). Selain tanaman belum dan
telah menghasilkan, jamur ini juga menyerang tanaman di persemaian,
pembibitan, dan kebun entres. Penyakit ini biasanya menyerang daun
muda dan daun tua, dimana terbentuk bercak hitam pada tulang daun dan
urat daun. Pada perkembangannya, terbentuk bercak berbentuk bulat,
warna kuning, dan daun gugur.

Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak
dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun
tidak langsung merugikan tanaman budidaya.

a. Crabgrass atau Digitaria sanguinalis, adalah jenis rumput liar yang


termasuk gulma (tanaman pengganggu), batangnya pendek dan tumbuh
merayap/menyebar dengan akar bebas. Crabgrass menyukai sinar
matahari penuh dan temperatur tinggi. Di negara empat musim, crabgrass
mati pada akhir tahun, namun sebelumnya telah menyebarkan ribuan biji
yang akan mulai tumbuh pada musim semi berikutnya. Namun, dengan
pencegahan, pemusnahan, dan perawatan halaman rumput secara tepat,
Anda dapat membebaskan taman Anda dari ‘penyerbu yang dikenal rajin’
ini.
b. Benalu merupakan tanaman pengganggu dari golongan suku
Loranthaceae yang dapat memarasit berbagai macam tanaman, termasuk
karet. Benalu mempunyai klorofil sehingga mengambil bahan anorganik
dari tanaman inang untuk fotosintesis. Penyebaran benalu melalui burung
yang membawa biji benalu sebagai makanannya. Biji benalu terbungkus
oleh daging buah yang berlendir. Burung memakan buahnya dan biji
melekat di paruhnya. Untuk melepaskan biji ini burung menggosok-
gosokkan paruhnya pada cabang-cabang dan biji melekat di sana-sini.
Selain itu biji-biji yang termakan dan masih berlendir juga dapat bersama-
sama kotoran burung jatuh pada cabang-cabang.
c. Lumut merupakan tumbuhan kecil yang memberikan habitat untuk hewan
invertebrata kecil. Sebagian besar lumut bersifat alami dan kecil, sebagai
bagian dari pergantian pertumbuhan alami tanaman. Lumut melapisi
permukaan tanah yang kosong dan mencegahnya tererosi. Lumut tidak
membunuh rumput di halaman Anda, tetapi bisa menggantikan tempatnya
jika rumput Anda mulai mati. Untuk menyingkirkan lumut, Anda perlu
melakukannya secara fisik, atau mungkin menggunakan cara kimiawi
juga.
Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan
dalam kegiatan sehari – hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk
semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya
kepada hewan. Pada identifikasi hama di kebun karet yang diamati, terdapat
satu jenis hama yang ada di area tersebut, yaitu Ulat. Ulat bulu sebenarnya
bukan merupakan hama utama pada tanaman karet, tetapi serangannya juga
dapat menimbulkan kerugian yang besar. Ulat bulu biasanya akan memakan
daun – daun tanaman karet secara rakus sampai habis. Akibatnya adalah
proses fotosintesis pada tanaman tersebut menjadi terganggu.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan salah satu komoditi
perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non
migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu
upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama
dalam bidang teknologi budidayanya (Anwar, 2001).
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengamatan
yaitu berupa adanya penyakit, gulma dan hama pada tanaman karet. Penyakit
yang terdapat pada tanaman karet rata-rata yaitu gugur daun, jamur dan daun
kuning. Gulma yang terdapat pada tanaman karet yaitu benalu, lumut dan
rumput. Hama yang menyerang tanaman karet yaitu berupa ulat bulu.

5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya para praktikan
dapat serius dalam mendengarkan setiap materi yang diberikan asisten agar
pada saat dilapangan praktikan dapat menerapkannya dengan benar dan baik
serta dapat disiplin dalam melaksanakan praktikum sehingga proses
praktikum perkebunan karet ini berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Barus, Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius:


Yogyakarta.

https://hendrichaniago80.wordpress.com/2014/09/03/pengendalian-hama-
penyakit-tanaman-karet-bahan-ajar/

http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/penyakit-gugur-daun-oidium-pada-
tanaman-karet/

http://susantyzs.blogspot.com/2017/10/pengendalian-gulma-pada-tanaman-
karet.html

https://www.academia.edu/35036139/laporan_Pengelolaan_Hama_dan_Peny
akit_Tanaman

Moenandir, Jody. 1988. Pengantar Ilmu Pengendalian Gulma. Rajawali


Press, Jakarta.

Pawirosoemardjo, S; S.D Djudawi. 1991. Pedoman Pengenalan Pengamatan


dan Pengendalian Beberapa Penyakit Penting pada Tanaman Karet.
Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan. Direktorat
Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian

Soepadmo, B. 1984. Penyakit pada Tanaman Karet. Balai Penelitian


Perkebunan Bogor. Naskah I, 1984. Belum Diterbitkan

Soepadmo, B. 1980. Suatu Pemikiran Tentang Pengendalian Penyakit Daun


pada Tanaman Karet. Menara Perkebunan 48:147-154