Anda di halaman 1dari 2

A.

Hasil
B. Pembahasan
Berdasarkan data yang diambil di lahan Universitas Negeri Surabaya, dapat
diketahui bahwa pohon mahoni hampir memenuhi lahan yang digunakan untuk
pengambilan sampel. Pada lahan tempat mahoni tumbuh tersebut didapatkan nilai pH
sekitar 6,4 - 6,6 dengan suhu rata-rata 26ºC dan kelembaban 30%. Hal ini sesuai dengan
literatur dimana tanaman pohon mahoni akan tumbuh optimal pada tanah subur,
bersolum dalam dan aeresi pH 6,5 – 7,5 dan suhu rata-rata 11- 36ºC (Hasan, 2017).
Pohon mahoni ini dapat tumbuh dengan baik pada daerah beriklim tropis basah sampai
daerah beriklim musim. Diameter pohon mahoni yang diteliti mencapai 30-53 cm.
Terdapat variasi diameter dari pohon mahoni yang diukur. Pohon mahoni dengan
diameter dibawah 30 cm biasanya telah mencapai umur 10-14 tahun. Sedangkan pohon
mahoni dengan diameter ≥30 cm telah mencapai umur 30 tahun. Diameter pohon
mahoni yang diteliti rata-rata sebesar 30 cm. Hal ini menunjukkan bahwa usia pohon
mahoni pada lahan penelitian sekitar 30 cm.
Ukuran diameter ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia melainkan faktor
lingkungan juga. Menurut Paembonan (2012), kualitas tempat tumbuh menyebabkan
variasi menyeluruh terhadap pertumbuhan dan pembentukan kayu. Lingkungan dengan
kualitas yang baik akan menghasilkan pohon dengan karakter pertumbuhan yang cepat.
Selain kualitas tempat tumbuh, kerapatan tegakan juga dapat mempengaruhi ukuran
diameter pohon. Penanaman dengan kerapatan rendah menghilangkan persaingan
diantara pohon dan semua tegakan hutan terbuka terhadap cahaya matahari (Azzahra,
2018). Oleh karena kondisi lingkungan lahan yang sesuai maka ditemukan populasi
pohon mahoni cukup banyak. Tidak semua plot memiliki kualitas tempat tumbuh yang
sesuai dengan kebutuhan dari pohon mahoni untuk terusberkembang. Hal ini yang
menyebabkan keberagaman ukuran diameter dari pohon mahoni.
Nilai Indeks Nilai Penting (INP) pohon mahoni pada lahan Universitas Negeri
Surabaya tinggi yaitu 300 %. Nilai penting suatu jenis tanaman dapat menggambarkan
tingkat dominasi atau penguasaan, sebaran, dan kerapatan suatu jenis tanaman pada
suatu tempat (Hany dan Suryantom 2014). Berdasarkan nilai INP dapat diketahui jika
pohon mahoni ini memiliki nilai dominansi, sebaran, dan kerapatan yang tinggi. Nilai
dominansi pohon mahoni adalah 100 %, hal ini dapat terjadi karena mahoni termasuk
jenis fast growing (Lamb, 1966). Pada semua plot yang diteliti hanya ditemukan spesies
pohon mahoni saja. Hal ini menunjukkan bahwa pohon mahoni seragam padalahan
tersebut. Pohon mahoni selain mendominasi juga mempunyai nilai kerapatan yang
tinggi yaitu 100 % dengan sebaran yang merata pada seluruh lahan. Secara umum
komposisi penyusun pohon di lahan Universitas Negeri Surabaya adalah didominasi
oleh pohon mahoni. Hal ini dapat terjadi karena kondisi lingkungan lahan sesuai dengan
kebutuhan mahoni meskipun ada beberapa kekurangan yang menyebabkan perbedaan
ukuran diameter pohon. Selain itu, dominasi pohon mahoni dapat terjadi karena pohon
mahoni termasuk tanaman yang menghasilkan senyawa allelopathy (Raharjo, et al.,
2016). Pohon mahoni mengeluarkan senyawa biomolekul (alelokimia) ke
lingkungannya. Senyawa allelopathy yang dihasilkan ini dapat menghambat
pertumbuhan jenis tanaman lain yang tumbuh bersaing dengan tanaman tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Azzahra, Raden Mutia Inayah. 2018. “Analisis Morfologis Mahoni”. Skripsi.


Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin Makassar.
Hany, A., Suryanto, P. 2014. “Dinamika Agroforesty Tegalan di Perbukitan
Menoreh”.Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. Vol. 3,No.2 : 199-128.
Hasan, Husni. 2017. Budidaya Mahoni. Lingkungan Hidup dan Kehutanan :
Banten.
Lamb, F.B. 1996. Mahogany of Tropical America : Its Ecology and
Management. University of Michigan Press: Ann Arbor,MI.
Raharjo, S. Agung Sri et al. 2016. “Potensi Mahoni (Swietenia macrophylla
King) pada Hutan Rakyat Sistem Kaliwo di Malimada Sumba Barat Daya”. Jurnal
Ilmu Lingkungan. Vol. 14, No.1: 1-10.