Anda di halaman 1dari 50

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.

Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia lima puluhan, lima puluh persen

individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luasnya vena yang

terkena. Kehamilan diketahui mengawali atau memperberat adanya hemoroid.

(Smeltzer, 2012).

Di Amerika Serikat, hemoroid adalah penyakit yang cukup banyak

terjadi, dimana pasien dengan umur 45 tahun yang didiagnosis hemoroid

mencapai 1.294 per 100.000 jiwa (Everheart, 2014). Sebuah penelitian yang

dilakukan di Iran menunjukkan sebanyak 48 persen dari pasien yang

menjalani prosedur sigmoidoskopi dengan keluhan perdarahan anorektal

memperlihatkan adanya hemoroid (Nikpour dan Asgari, 2008). Hemoroid

penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Sepuluh

juta orang di Indonesia menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari

4%. Umur rata-rata penderita hemoroid antara 45-65 tahun. Laki-laki dan

perempuan merupakan resiko yang sama. Rumah Sakit Cipto Mangun

Kusumo, Jakarta tahun 2005 sekitar 39,6% mengalami hemoroid

sedangkan di Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang pada tahun 2008

terdapat 252 kasus hemoroid (Irawad, 2009).

52
53

Pada umumnya klien hemoroid tidak mengetahui pentingnya makanan

tinggi serat dan kebiasaan BAB yang tidak teratur sering mengejan saat BAB.

Penyebab hemoroid antara lain kongesti, peningkatan tekanan intra

abdominal misal karena adanya fibroma uteri, konstipasi, kehamilan,

tumorrectum, pekerjaan yang terlalu lama duduk, penyakit hati kronik serta

pengaruh hiprtensi portal yang bisa mengakibatkan terjadinya aliran balik

karena peningkatan vena portal dan sistemik.(smeltzer,2012). Probosuseno

tahun 2009 juga menjelaskan, semua orang dapat terkena wasir. Namun yang

paling sering adalah multipara (pernah melahirkan anak lebih dari sekali).

Insidensinya sekitar 5-35 % dari masyarakat umum dan terutama yang

berusia lebih dari 25 tahun, dan jarang terjadi di bawah usia 20 tahun kecuali

wanita hamil.

Kesehatan dalam masyarakat sangatlah penting dalam kehidupan.

Petugas kesehatan diharapkan menjadi sarana informasi dan sebagai

pelayanan yang baik. Kadang masyarakat tidak sadar dalam kehidupan sehari

hari yang tidak benar misalnya posisi buang air besar yang salah dan makan

makanan yang kurang serat merupakan salah satu penyebab dari

hemoroid (Irawad, 2009).

Hemoroid sering dianggap sebagai penyakit tumor anorectal yang

tidak berbahaya walapun diagnosa tersebut merupakan contoh namun sering

tidak tepat. Hemoroid merupakan penyakit yang cukup sering terjadi

walaupun patogenesisnya belum sepenuhnya dipahami tetapi peranan

kerusakan penyangga pembuluh darah hipertrofi sfingter anus dan beberapa

faktor pemburuk yang menyebabkan peningkatan tekanan intrarektum


54

mempunyai kontribusi untuk terjadinya hemoroid. Lingkaran setan berupa

protrusi pleksus hemorroid yang akan meningkatkan tekanan sfinkterani

kemudian menambah kongesti aliran darah dan menambah

besar hemoroid (Djumhana, 2013).

Tanda dan gejala dari hemoroid adalah perdarahan yang berwarana

merah terang saat defekasi, nyeri akibat inflamasi dan edema yang

disebabkan oleh trombosis (hemoroid eskternal) dan rasa gatal pada daerah

anus (Darmawan dan Rahayuningsih, 2010). Nyeri adalah pengalaman

sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan

yang aktual dan potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk

mencari bantuan perawatan kesehatan (Smeltzer dan Bare 2012). Nyeri dibagi

menjadi dua, yaitu nyeri akut dan kronis. Nyeri akut adalah nyeri seketika

yang biasanya datangnya tiba-tiba dan bisanya berkurang sejalan terjadinya

penyembuhan (Judha, 2012), menurut Nanda (2009) memiliki

awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan

akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung kurang 6 bulan.

Adapun alasan pasien post hemoroiddektomi bisa terjadi nyeri akut karena

adanya rangsangan mekanik atau kimia pada daerah kulit diujung-ujung

syaraf bebas yang disebut nosireseptor (Judha, 2012).

Sebagai seorang perawat dalam upaya-upaya mencegah hemoroid

yaitu secara promotif, menginformasikan dan menjelaskan tentang keadaan

penyakit hemoroid yang dialami, dan pencegahan meliputi diit yang harus

dipatuhi yaitu setiap hari konsumsi makanan yang berserat agar saat BAB

tidak mengedan terlalu keras, olahraga yang teratur, serta kontrol secara
55

teratur. Secara Preventif yaitu melakukan perawatan terhadap diri sendiri

seperti genetalia tetap bersih sehingga terhindar dari terinfeksi penyakit,

melakukan latihan gerakan fisik untuk memenuhi kebutuhan gerak sehat dan

dapat melancarkan sirkulasi/ peredaran darah perifer. Secara kuratif atau

mengatasi keadaan klien yang mengalami hemoroid dengan nyeri akut yaitu

melaksanakan distraksi relaksasi, menganjurkan klien untuk melakukan

latihan atau melakukan mobilisasi, perawat melakukan perawatan luka

dengan menjaga keseterilan alat, mempercepat penyembuhan luka, sirkulasi

darah atau aliran darah dapat mengalir dengan lancar dan mengembalikan

fungsi klien semaksimal mungkin.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul Asuhan Keperawatan gangguan sistem pencernaan hemoroid

pada Nn. N di Ruang Bedah Kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

1.2. Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi dengan Asuhan Keperawatan

sistem pencernaan hemoroid pada Nn.N di ruang bedah kecelakaan RSUD

Genteng tahun 2017.

1.3. Rumusan masalah

Bagaimanakah asuhan Keperawatan sistem pencernaan hemoroid

pada Nn. N di ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

1.4. Tujuan
56

1.4.1 Tujuan umum

Melaksanakan asuhan keperawatan sistem pencernaan hemoroid pada Nn. N

di ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

1.4.2 Tujuan khusus

1) Untuk memberikan arahan dan panduan ketika proses pengambilan data

pada klien yang mengalami hemoroid diruang bedah kecelakaan RSUD

Genteng tahun 2017.

2) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami hemoroid

di ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

3) Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami hemoroid

di ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

4) Menyusun perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami

hemoroid di ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

5) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami

hemoroid diruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

6) Melakukan evaluasi keperawatan pada klien yang mengalami hemoroid di

ruang bedah kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

1.5. Manfaat

1.5.1. Teoritis
57

Memberikan kontribusi dan pengembangan ilmu keperawatan

sebagai lahan referensi dalam melakukan asuhan keperawatan. Dan

diharapkan dapat mengembangkan wawasan secara keilmuan mengenai

asuhan keperawatan klien yang mengalami hemoroid di ruang bedah

kecelakaan RSUD Genteng tahun 2017.

1.5.2. Praktis

a) Manfaat bagi perawat

Manfaat bagi perawat bermanfaat dalam memberikan asuhan keperawatan

yang tepat untuk menangani masalah hemoroid

b) Manfaat bagi Pelayanan kesehatan

Bagi pelayanan kesehatan memberikan manfaat dalam meningkatkan

mutu layanan kesehatan secara maksimal dan dapat menjadi masukan pada

perawat ruangan dalam mengelola klien dengan hemoroid

c) Manfaat bagi klien

Bagi klien dapat mendapatkan asuhan keperawatan yang optimal dan

konfrehensif mengenai penyakit yang dialami dan kondisi seperti apa yang

harus dilakukan saat pasien dirumah sakit dan ketika pulang.

d) Manfaat bagi Institusi

Bagi institusi sebagai wacana atau informasi untuk meningkatkan dan

mengembangkan mutu pembelajaran ilmu keperawatan medikal bedah

khususnya pada Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami

hemoroid

e) Manfaat Bagi Penulis


58

Sebagai dasar melakukan Asuhan Keperawatan serta menambah wawasan

dan menaikkan kemampuan penulis sebagai perawat dalam memberikan

Asuhan Keperawatan terhadap pasien khususnya hemoroid.


59

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di

daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Di bawah atau diluar

linea dentate pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) disebut

hemoroid eksterna. Sedangkan diatas atau di dalam linea dentate, pelebaran

vena yang berada di bawah mukosa (submukosa) disebut hemoroid interna

(Sudoyo, 2008).

Hemoroid adalah vena-vena yang berdilatasi, membengkak di lapisan

rektum (Potter, 2006). Hemoroid adalah Suatu pelebaran dari vena-vena

didalam pleksus Hemoroidalis (Muttaqin, 2011). Hemoroid adalah pelebaran

pembuluh darah vena hemoroidalis dengan penonjolan membrane mukosa

yang melapisi daerah anus dan rectum (Nugroho, 2011). Hemoroid (wasir)

merupakan dilatasi karena varises pada pleksus venosus di submukosa anal

dan parianal (Mitchell, 2007).

Hemoroid adalah kumpulan dari pelebaran satu segmen atau lebih vena

hemoroidalis di daerah anorektal. Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena

hemoroidalis, tetapi bersifat lebih kompleks yakni melibatkan beberapa unsur

berupa pembuluh darah, jaringan lunak dan otot di sekitar anorektal (Felix,

2008).
60

2.2 Anatomi dan Fisiologi

2.2.1 Anatomi

Bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rektum

dan membentang dari kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian

luar tubuh). Satu inci terakhir dari rektum disebut sebagai kanalis ani

dan dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus. Panjang

rektum dan kanalis ani adalah sekitar 15cm.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan

berdasarkan pada suplai darah yang diterima. Arteria mesenterika

superior mendarahi belahan kanan (sekum, kolon asendens, dan

duapertiga proksimal kolon transversum) dan arteria mesenterika

inferior mendarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum,

kolon asendens, kolon sigmoid dan bagian proksimal rektum). Suplai

darah tambahan ke rectum berasal dari arteri hemoroidalis media dan

inferior yang dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta

abdominalis.
61

2.1.2 Fisiologi

Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah

melalui vena mesenterika superior, vena mesenterika inferior, dan vena

hemoroidalis superior (bagian sistem portal yang mengalirkan darah ke

hati). Vena hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke

vena iliaka sehingga merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat

anastomosis antara vena hemoroidalis superior, media, dan inverior,

sehingga tekanan portal yang meningkat dapat menyebabkan

terjadinya aliran balik ke dalam vena dan mengakibatkan hemoroid.

Terdapat dua jenis peristaltik propulsive : (1) kontraksi lamban dan

tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan,

menyumbat beberapa haustra; dan (2) peistaltik massa, merupakan kontraksi

yang melibatkan segmen kolon.

Gerakan peristaltik ini menggerakkan massa feses ke depan,

akhirnya merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali
62

sehari dan dirangang oleh reflek gastrokolik setelah makan, terutama setelah

makan yang pertama kali dimakan pada hari itu. Propulasi feses ke dalam

rektum menyebabkan terjadinya distensi dinding rektum dan merangsang

refleks defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan

interna. Sfingter interna dikendalikan oleh sistem saraf otonom, sedangkan

sfingter eksterna dikendalikan oleh sistem saraf voluntary. Refleks defekasi

terintegrasi pada medula spinalis segmen sakral kedua dan keempat. Serabut

parasimpatis mencapai rektum melalui saraf splangnikus panggul dan

menyebabkan terjadinya kontraksi rektum dan relaksasi sfingter interna.

Pada waktu rektum yang teregang berkontraksi, otot levator ani berelaksasi,

sehingga menyebabkan sudut dan anulus anorektal menghilang.

Otot sfingter interna dan eksterna berelaksasi pada waktu anus

tertarik keatas melebihi tinggi masa feses. Defekasi dipercepat dengan

tekanan intraabdomen yang meningkat akibat kontraksi voluntar otot dada

dengan glotis yang tertutup, dan kontraksi otot abdomen secara terus-

menerus (maneuver dan peregangan valsalva). Defekasi dapat dihambat

oleh kontraksi voluntar otot sfinfter eksterna dan levator ani. Dinding

rektum secara bertahap menjadi relaks, dan keinginan defekasi menghilang.

Rektum dan anus merupakan lokasi sebagian penyakit yang sering

ditemukan pada manusia.

Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan rektum

saat terjadi peristaltik masa. Bila defekasi tidak sempurna, rektum menjadi

relaks dan keinginan defekasi menghilang. Air 11 tetap terus diabsorpsi dari

massa feses, sehingga feses menjadi keras, dan menyebabkan lebih sukarnya
63

defekasi selanjutnya. Bila massa feses yang keras ini terkumpul disatu

tempat dan tidak dapat dikeluarkan, maka disebut sebagai impaksi feses.

Tekanan pada feses yang berlebihan menyebabkan timbulnya kongesti vena

hemoroidalis interna dan eksterna, dan hal ini merupakan salah satu

penyebab hemoroid (vena varikosa rektum), (Price, 2009).

2.2 Etiologi

Faktor risiko terjadinya hemoroid antara lain faktor mengedan pada

buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak

memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban sambil membaca,

merokok), peningkatan tekanan intra abdomen, karena tumor (tumor usus,

tumor abdomen), kehamilan (disebabkan tekanan janin pada abdomen dan

perubahan hormonal), usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare

akut yang berlebihan, hubungan seks peranal, kurang minum air, kurang

makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/imobilisasi

(Sudoyo, 2006).

Faktor penyebab hemoroid dapat terjadi karena kebiasaan buang

air besar tidak tentu dan setiap kali berak mengedan terlalu keras, terlalu

lama duduk sepanjang tahun, infeksi, kehamilan dapat merupakan faktor-

faktor penyebab hemoroid. (Oswari, 2013) Faktor predisposisi terjadinya

hemoroid adalah herediter, anatomi, makanan, pekerjaan, psikis, dan

senilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis

(kelainan sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intraabdominal),


64

fisiologis dan radang. Umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri

sendiri tetapi saling berkaitan (Mansjoer, 2010).

2.3 Klasifikasi

1. Hemorroid interna:

1) Berasal dari plexus vena hemnhoidalis superior dan medius

2) Terletak diatas linea dentate atau 2/3 atas dari saluran anus.

3) Permukaannya mukosa (epitel thorax)

4) Tiga posisi utama: jam 3, jam 7, jam 11

2. Hemorroid externa:

1) Berasal dari plexus hemorroidalis inferior

2) Terletak 1/3 bawah saluran anus

3) Permukaannya kulit (epitel gepeng/squamous)

(Kurniadi, 2012)

2.4 Patofisiologi

Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh

gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Telah diajukan beberapa

faktor etiologi yaitu konstipasi, diare, sering mengejan, kongesti pelvis

pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroid uteri, dan tumor rektum.

Penyakit hati kronis yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan

hemoroid, karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke sistem

portal. Selain itu sistem portal tidak mempunyai katup, sehingga mudah

terjadi aliran balik.


65

Hemoroid dapat dibedakan atas hemoroid eksterna dan interna.

Hemoroid eksterna di bedakan sebagai bentuk akut dan kronis. Bentuk akut

berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya

merupakan suatu hematoma, walaupun disebut sebagai hemoroid trombosis

eksternal akut. Bentuk ini sering terasa sangat nyeri dan gatal karena ujung-

ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Kadang-kadang perlu

membuang trombus dengan anestesi lokal, atau dapat diobati dengan

“kompres duduk” panas dan analgesik. Hemoroid eksterna kronis atau skin

tag biasanya merupakan sekuele dari hematom akut. Hemoroid ini berupa

satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan ikat dan sedikit

pembuluh darah (Price, 2009).

Hemoroid interna dibagi berdasarkan gambaran klinis atas : derajat 1, bila

terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar kanal anus, hanya dapat

dilihat dengan anorektoskop. Derajat 2, pembesaran hemoroid yang prolaps dan

menghilang atau masuk sendiri ke dalam anus secara spontan. Derajat 3,

pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan

bantuan dorongan jari. Derajat 4, prolaps hemoroid yang permanen. Rentan dan

cenderung untuk mengalami thrombosis dan infark (Sudoyo, 2006).


66

2.5 Pathway

Terlampir

2.6 Komplikasi

Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdarahan,

thrombosis, dan strangulasi. Hemoroid strangulasi adalah hemoroid yang

prolaps dengan suplai darah dihalangi oleh sfingter ani, (Price, 2009).

Komplikasi hemoroid antara lain :

1. Luka dengan tanda rasa sakit yang hebat sehingga pasien takut

mengejan dan takut berak. Karena itu, tinja makin keras dan makin

memperberat luka di anus.

2. Infeksi pada daerah luka sampai terjadi nanah dan fistula (saluran tak

normal) dari selaput lendir usus/anus.

3. Perdarahan akibat luka, bahkan sampai terjadi anemia.

4. Jepitan, benjolan keluar dari anus dan terjepit oleh otot lingkar dubur

sehingga tidak bisa masuk lagi. Sehingga, tonjolan menjadi merah,

makin sakit, dan besar. Dan jika tidak cepat-cepat ditangani dapat

busuk, (Dermawan, 2010).

2.7 Manifestasi Klinis

Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri, dan sering

menyebabkan perdarahan berwarna merah terang pada saat defekasi.


67

Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri hebat akibat inflamasi dan

edema yang disebabkan oleh thrombosis. Thrombosis adalah pembekuan

darah dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut

dan nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai

hemoroid ini membesar dan menimbulkan perdarahan atau prolaps

(Smeltzer, 2010).

2.8 Penatalaksanaan

Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan

hygiene personal yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama

defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah dan sekam mungkin

satusatunya tindakan yang diperlukan; bila tindakan ini gagal, laksatif yang

berfungsi mengabsorpsi air saat melewati usus dapat membantu.Rendam

duduk dengan salep, dan supositoria yang mengandung anestesi, astringen

(witch hazel) dan tirah baring adalah tindakan yang memungkinkan

pembesaran berkurang.

Terdapat berbagai tipe tindakan nonoperatif untuk hemoroid.

Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, dan terapi laser adalah teknik

terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang

mendasarinya.Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid

berukuran kecil dan berdarah. Prosedur ini membantu mencegah prolaps.

Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid

dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai

timbul nekrosis. Meskipun hal ini relatif kurang menimbulkan nyeri,

prosedur ini tidak digunakan dengan luas karena menyebabkan keluarnya


68

rabas yang berbau sangat menyengat dan luka yang ditimbulkan lama

sembuhnya.

Metode pengobatan hemoroid tidak efektif untuk vena trombosis

luas, yang harus diatasi dengan bedah lebih luas. Hemoroidektomi atau

eksisi bedah, dapat dilakukan untuk mengangkat semua jaringan sisa yang

terlibat dalam proses ini. Selama pembedahan, sfingter rektal biasanya

didilatasi secara digital dan hemoroid diangkat dengan klem dan kauter

atau dengan ligasi dan kemudian dieksisi. Setelah prosedur operatif selesai,

selang kecil dimasukkan melalui sfingter untuk memungkinkan keluarnya

flatus dan darah; penempatan Gelfoan atau kasa Oxygel dapat diberikan

diatas luka kanal (Smeltzer, 2010).

2.9 Pemeriksaan Penunjang

Anal canal dan rektum diperiksa dengan menggunakan anoskopi

dan sigmoidoskopi. Anoskopi dilakukan untuk menilai mukosa rektal dan

mengevaluasi tingkat pembesaran hemoroid (Halverson, 2007). Side-

viewing pada anoskopi merupakan instrumen yang optimal dan tepat untuk

mengevaluasi hemoroid. Allonso-Coello dan Castillejo (2003) dalam

Kaidar-Person, Person, dan Wexner (2007) menyatakan bahwa ketika

dibandingkan dengan sigmodoskopi fleksibel, anoskopi mendeteksi dengan

presentasi lebih tinggi terhadap lesi di daerah anorektal.

Gejala hemoroid biasanya bersamaan dengan inflamasi pada anal

canal dengan derajat berbeda. Dengan menggunakan sigmoidoskopi, anus

dan rektum dapat dievaluasi untuk kondisi lain sebagai diagnosa banding
69

untuk perdarahan rektal dan rasa tak nyaman seperti pada fisura anal dan

fistula, kolitis, polip rektal, dan kanker. Pemeriksaan dengan menggunakan

barium enema X-ray atau kolonoskopi harus dilakukan pada pasien dengan

umur di atas 50 tahun dan pada pasien dengan perdarahan menetap setelah

dilakukan pengobatan terhadap hemoroid (Canan, 2002).

2.10 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

2.9.1 Pengkajian Keperawatan

A. Identitas Klien

Nama, tempat tanggal lahir, umur (Pada usia 50-an, 50%

individu mengalami berbagai tipe hemorroid berdasarkan

luasnya vena yang terkena ),jenis kelamin, agama, suku /

kebangsaan, pekerjaan dan pedidikan. Penanggung jawab

meliputi: nama, alamat, hubungan dengan klien.

B. Pola persepsi kesehatan

Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien, apa

upaya dan dimana klien mendapat pertolongan kesehatan, lalu

apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun.

C. Aktivitas /istirahat

Kaji kemampuan beraktifitas baik sebelum sakit maupun

sekarang. Adakah keluhan klien saat bernafas, jantung

berdebar, nyeri dada dan badan lemas. Tanyakan kebiasaan

tidur klien sehari-hari. Apakah klien suka duduk terlalu lama.

D. Eliminasi
70

Kaji frekuensi, pola berkemih klien bagaimana, karakteristik

apakah ada kesulitan saat BAK ataupun BAB serta apa klien

memakai alat bantu eliminasi. Apakah ada kebiasaan mengejan

terlalu keras, konstipasi

E. Makanan dan Cairan

Apakah klien mengeluh anoreksia, mual, muntah, penurunan

berat badan, sering haus dan banyak makan, apakah ada

kebiasaan mengonsumsi makanan yang rendah serat, kurang

minum.

F. Pernafasan

Apakah ada keluhan klien batuk dengan tanpa sputum.

G. Integritas Ego

Apakah klien stress ataupun ansietas (takut).

H. Integumen

Apakah kulit kering, gatal, dan kaji ulkus kulit.

2.11 Diagnosa keperawatan

1) Diagnosa pre operasi

1. Nyeri akut berhubungan dengan vena menegang dan ruptur vena.

2. Ketidakefektifan perfusi jaringan periper berhubungan dengan

anemia.

3. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstuksi anatomik

2) Diagnosa pre operasi

1. Ansietas berhubungan dengan perasaan tidak adekuat


71

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan

informasi tentang hemoroidektomi

3. Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan pendarahan

3) Diagnosa post operasi

1. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi, diskontinuitas jaringan

2. Intoleransi aktivitas berhungan dengan penurunan kapasitas

fisiologis

3. Difisiensi/ kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang

informasi tentang penyakitnya

2.12 Rencana Asuhan Keperawatan

DiAGNOSA TUJUAN DAN


KEPERAWATAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL
1. Nyeri akut Setelah diberikan NIC Label : Pain NIC Label : Pain
berhubungan asuhan keperawatan Management Management
dengan luka asuhan keperawatan
insisi, selama …x 2 jam, 1. Kaji secara 1. Untuk mengetahui
diskontinuitas nyeri yang komprehensip tingkat nyeri pasien
jaringan dirasakan klien terhadap nyeri 2. Untuk mengetahui
berkurang dengan termasuk tingkat
criteria hasil : lokasi, ketidaknyamanan
karakteristik, dirasakan oleh
NOC label : Pain durasi, pasien
Control frekuensi, 3. Untuk mengalihkan
kualitas, perhatian pasien dari
 Klien intensitas rasa nyeri
melaporkan nyeri dan 4. Untuk mengetahui
nyeri faktor apakah nyeri yang
berkurang presipitasi dirasakan klien
 Klien dapat 2. Observasi berpengaruh
mengenal reaksi terhadap yang
lamanya ketidaknyama lainnya
(onset) nyeri n secara 5. Untuk mengurangi
 Klien dapat nonverbal factor yang dapat
menggamba 3. Gunakan memperburuk nyeri
rkan faktor strategi yang dirasakan klien
penyebab komunikasi 6. untuk mengetahui
72

 Klien dapat terapeutik apakah terjadi


menggunaka untuk pengurangan rasa
n teknik non mengungkapk nyeri atau nyeri
farmakologi an yang dirasakan klien
s pengalaman bertambah.
 Klien nyeri dan 7. Pemberian “health
menggunaka penerimaan education” dapat
n analgesic klien terhadap mengurangi tingkat
sesuai respon nyeri kecemasan dan
instruksi 4. Tentukan membantu klien
pengaruh dalam membentuk
Pain Level pengalaman mekanisme koping
nyeri terhadap terhadap rasa nyer
 Klien kualitas 8. Untuk mengurangi
melaporkan hidup( napsu tingkat
nyeri makan, tidur, ketidaknyamanan
berkurang aktivitas,moo yang dirasakan
 Klien tidak d, hubungan klien.
tampak sosial) 9. Agar nyeri yang
mengeluh 5. Tentukan dirasakan klien tidak
dan faktor yang bertambah.
menangis dapat 10. Agar klien mampu
 Ekspresi memperburuk menggunakan
wajah klien nyeriLakukan teknik
tidak evaluasi nonfarmakologi
menunjukka dengan klien dalam
n nyeri dan tim memanagement
 Klien tidak kesehatan lain nyeri yang
gelisah tentang dirasakan.
ukuran 11. Pemberian analgetik
pengontrolan dapat mengurangi
nyeri yang rasa nyeri pasien
telah
dilakukan
6. Berikan
informasi
tentang nyeri
termasuk
penyebab
nyeri, berapa
lama nyeri
akan hilang,
antisipasi
terhadap
ketidaknyama
nan dari
prosedur
7. Control
73

lingkungan
yang dapat
mempengaruh
i respon
ketidaknyama
nan klien(
suhu ruangan,
cahaya dan
suara)
8. Hilangkan
faktor
presipitasi
yang dapat
meningkatkan
pengalaman
nyeri klien(
ketakutan,
kurang
pengetahuan)
9. Ajarkan cara
penggunaan
terapi non
farmakologi
(distraksi,
guide
imagery,relak
sasi)
10. Kolaborasi
pemberian
analgesic

2. Intoleransi Setelah dilakukan Activity Therapy Activity Therapy


intervensi selama 3
aktivitas x24 jam diharapkan 1. Kolaborasi 1. Mengkaji setiap
kondisi klien stabil dengan tim aspek klien terhadap
berhungan saat aktivitas kesehatan lain terapi latihan yang
dengan KH: untuk dierencanakan.
dengan merencanakan 2. Aktivitas yang
Activity Tolerance , monitoring teralau berat dan
penurunan program tidak sesuai dengan
 Saturasi O2 aktivitasi kondisi klian dapat
kapasitas saat klien. memperburuk
aktivitas 2. Bantu klien toleransi terhadap
fisiologis dalam batas memilih latihan.
normal (95- aktivitas yang 3. Melatih kekuatan
100%) sesuai dengan dan irama jantung
 Nadi saat selama aktivitas.
74

aktivitas kondisi. 4. Mengetahui setiap


dalam batas perkembangan yang
normal (60- 3. Bantu klien muncul segera
100x/mnt) untuk setelah terapi
 RR saat melakukan aktivitas.
aktivitas aktivitas/latiha 5. EKG memberikan
dalam batas n fisik secara gambaran yang
normal (12- teratur. akurat mengenai
20x/mnt) 4. Monitor status konduksi jantung
 Tekanan emosional, selama istirahat
darah fisik dan maupun aktivitas.
systole saat social serta 6. Pemberian obat
aktivitas spiritual klien antihipertensi
dalam batas terhadap digunakan untuk
normal latihan/aktivit mengembalikan TD
(100- as. klien dbn, obat
120mmHg) 5. Monitor hasil digitalis untuk
 Tekanan pemeriksaan mengkoreksi
darah EKG klien kegagalan kontraksi
diastole saat saat istirahat jantung pada
aktivitas dan aktivitas gambaran EKG,
dalam batas (bila diuretic dan
normal (60- memungkinka vasodilator
80mmHg) n dengan tes digunakan untuk
 Hasil EKG toleransi mengeluarkan
dalam batas latihan). kelebihan cairan.
normal 6. Kolaborasi
pemberian Energy Management
Fatigue Level obat
antihipertensi, 8. Mencegah
 Tidak obat-obatan penggunaan energy
nampak digitalis, yang berlebihan
kelelahan diuretic dan karena dapat
 Tidak vasodilator. menimbulkan
nampak lesu kelelahan.
 Tidak ada Energy Management 9. Memudahkan klien
penurunan untuk mengenali
nafsu makan 1. Tentukan kelelahan dan waktu
 Tidak ada pembatasan untuk istirahat.
sakit kepala aktivitas fisik 10. Mengetahui sumber
 Kualitas pada klien asupan energy klien.
tidur dan 2. Tentukan 11. Mengetahui etiologi
istirahat persepsi klien kelelahan, apakah
dalam batas dan perawat mungkin efek
normal mengenai samping obat atau
kelelahan. tidak.
3. Tentukan 12. Mengidentifikasi
penyebab pencetus klelahan.
75

kelelahan 13. Menyamakan


(perawatan, persepsi perawat-
nyeri, klien mengenai
pengobatan) tanda-tanda
4. Monitor efek kelelahan dan
dari menentukan kapan
pengobatan aktivitas klien
klien. dihentikan.
5. Monitor 14. Mencegah
intake nutrisi timbulnya sesak
yang adekuat akibat aktivitas fisik
sebagai yang terlalu berat.
sumber 15. Mengetahui
energy. efektifitas terapi O2
6. Anjurkan terhadap keluhan
klien dan sesak selama
keluarga aktivitas.
untuk 16. Menciptakan
mengenali lingkungan yang
tanda dan kondusif untuk klien
gejala beristirahat.
kelelahan saat 17. Menciptakan
aktivitas. lingkungan yang
7. Anjurkan kondusif untuk klien
klien untuk beristirahat.
membatasi 18. Memfasilitasi waktu
aktivitas yang istirahat klien untuk
cukup berat memperbaiki
seperti kondisi klien.
berjalan jauh,
berlari,
mengangkat
beban berat,
dll.
8. Monitor
respon terapi
oksigen klien.

9. Batasi stimuli
lingkungan
untuk
relaksasi
klien.
10. Batasi jumlah
pengunjung.
76

3. Difisiensi/ Setelah dilakukan NIC 1. Mengetahui tingkat


intervensi selama 3 Teaching : Disease pengetahuan klien
kurang x24 jam diharapkan Proses 2. Meningkatkan
pengetahuan klien 1. Berikan pengetahuan klien
pengetahuan meningkat dengan penilaian tentang patofisiologi /
KH: tentang tingkat perjalanan
berhubungan pengetahuan penyakitnya
Kriteria Hasil : pasien tentang 3. Meningkatkan
dengan kurang 1. Pasien dan proses penyakit pengetahuan klien
keluarga yang spesifik tentang tanda dan
informasi menyatakan 2. Jelaskan gejala
pemahaman patofisiologi 4. Meningkatkan
tentang tentang dari penyakit pengetahuan klien
penyakit, dan bagaimana tentang penyebab
penyakitnya kondisi, hal ini penyakitnya
prognosis, dan berhubungan 5. Meningkatkan
program dengan anatomi pengetahuan klien
pengobatan dan fisiologi, dengan komunikasi
2. Pasien dan dengan cara terapeutik yang dapat
keluarga yang tepat. dimengerti klien
mampu 3. Gambarkan 6. Menghindari jaminan
melaksakan tanda dan kosong dan bersikap
prosedur yang gejala yang jujur serta rasional
dijelaskan biasa muncul tentang penyakit yang
secara benar pada penyakit, diderita klien
3. Pasien dan dengan cara 7. Meningkatkan
keluarga yang tepat pengetahuan klien
mampu 4. Identifikasi tentang perkembangan
menjelaskan kemungkinan / prognosa
kembali apa penyebab, penyakitnya
yang dijelaskan dengan cara 8. Meningkatkan
perawat/tim yang tepat pengetahuan klien
kesehatan 5. Sediakan tentang perawatan
lainnya informasi pada mandiri atau
pasien tentang kebiasaan hidup agar
kondisi, dengan penyakitnya tidak
cara yang tepat kambuh lagi
6. Hindari 9. Mengarahkan klin dan
jaminan yang keluarga dalam
kosong pemilihan terapi yang
7. Sediakan bagi terbaik untuk klien
keluarga atau 10. untuk mengeksplorasi
SO informasi atau mendapatkan
tentang second opinion
kemajuan dengan cara yang
pasien dengan tepat atau
cara yang tepat diindikasikan
8. Diskusikan 11. pilihan terapi atau
77

perubahan gaya penanganan yang


hidup yang paling tepat sesuai
mungkin persetujuan klien
diperlukan 12. pasien mengenal tanda
untuk dan gejala untuk
mencegah melaporkan pada
komplikasi pemberi perawatan
dimasa yang kesehatan, dengan
akan datang cara yang tepat
dan ata proses
pengontrolan
penyakit
9. Diskusikan
pilihan terapi
atau
penanganan
10. Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau
mendapatkan
second opinion
dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
11. Rujuk pasien
pada grup atau
agensi di
komunitas
local, dengan
cara yang tepat
12. Intruksikan
pasien
mengenal tanda
dan gejala
untuk
melaporkan
pada pemberi
perawatan
kesehatan,
dengan cara
yang tepat
78

2.13 Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan.

Kegiatan evaluasi iniadalah membandingkan hasil yang telah dicapai

setelah implementasi keperawatandengan tujuan yang diharapkan dalam

perencanaan. Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh

mana tujuantercapai:

1.Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal

yangditetapkan di tujuan.

2.Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik

yangditentukan dalam pernyataan tujuan.

3.Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku

yangdiharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

Evaluasi keperawatan adalah mengukir keberhasilan dari rencana dan

pelaksanaan tindakan perawatan yang dilakukan dalam memenuhi

kebutuhan pasien.Dalam pendokumentasiannya dilakukan melalui

pendekatan SOAP.

S = Respon Subyektif klien terhadap tindakan.

O = Respon Obyektif klien terhadap tindakan.

A =Analisa data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan masalah.

P = Perencanaan atau tindakan.


79

BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1.1 Pengkajian

1) Identitas Klien

Identitas Klien
Nama Nn. N
Umur 19 Thn
Jenis kelamin Perempuan
Agama Islam
Suku/bangsa Jawa / indonesia
Pendidikan SMA
Alamat Muncar
Pekerjaan Pelajar
Status perkawinan Lajang
Tanggal MRS 23 – 10 – 2017 (10:00)
Tanggal pengkajian 24 – 10 – 2017 ( 12:00)
Diagnosa medis Haemorhoid
No. Register 394678

Identitas penanggung
jawab
Nama Ny. R
Umur 45 thn
Jenis kelamin perempuan
Agama Islam
Pekerjaan Wiraswasta
Pendidikan SMA
Status perkawinan Menikah
Suku / bangsa Jawa / Indonesia
Alamat Muncar
80

2) Riwayat Penyakit

Riwayat Keterangan
Penyakit
Keluhan MRS Ada benjolan kecil di bagian duburnya

Keluhan utama Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di


area duburnya, lemas, kakinya susah digerakkan.

Riwayat penyakit Px mengatakan sebelumnya ada benjolan kecil pada


sekarang area duburnya sejak 1 tahun lalu, masih bisa BAB
tapi agak susah. Karena keluhan tersebut akhirnya
klien periksa ke poli bedah pada tanggal 23 – 10 –
2017 pukul 09:00 kemudian klien dibawa ke RBK
untuk menjalani rawat inap dan perencanaan tindakan
operasi hemoroidektomi. Saat pengkajian pada
tanggal 24 – 10 – 2017 jam 12:00 WIB klien
mengatakan nyeri pada luka bekas operasi pada area
duburnya, nyeri seperti tertusuk – tusuk jarum, skala
nyeri 4 (nyeri sedang), nyeri dirasakan timbul terus –
menerus, memberat saat bergerak, berkurang saat
klien istirahat. Klien merasa lemas, kakinya susah
digerakkan. Klien sering bertanya tentang
penyakitnya.

Riwayat penyakit Klien mengatakan ada benjolan kecil pada area


dahulu duburnya sejak 1 tahun lalu.
Klien pernah menjalani operasi di RSUD Genteng
karena penyakit amandel 3 bulan lalu.
Klien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat
penyakit menular seperti TBC, Hepatitis ataupun
penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes
mellitus, asma.
.
Riwayat Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang
kesehatan memiliki riwayat penyakit seperti yang dideritanya
Keluarga saat ini, juga tidak ada yang memiliki riwayat
penyakit menular ataupun penyakit keturunan.
81

Psikologis - klien tampak cemas dengan keadaan penyakitnya,


sering bertanya tentang prognosis penyakitnya.

Sosial - Klien dapat berkomunikasi dengan keluarga,


perawat dan tim kesehatan lain terbukti klien dapat
mengungkapkan keluhannya

Spiritual - Klien beragama islam.dan sering terlihat sedang


berdoa di atas tempat tidur serta di rumah px sering
mengikuti kegiatan muslimatan yg di adakan 1
minggu skali.

3) Perubahan Pola Kesehatan

Riwayat Kesehatan Keterangan


Pola Nutrisi: Sebelum sakit:
Klien mengatakan makan 3x sehari dengan porsi
sedang menggunakan nasi, sayur, lauk pauk dan
porsi dihabiskan, minum air putih sebanyak 5-8
gelas dalam sehari.

Saat sakit:
Klien makan 3x sehari dengan diit TKTP, porsi
dihabiskan
dan minum air putih sebanyak 5-8 gelas dalam
sehari.
Pola Eliminasi:
Buang Air Besar sebelum sakit:
(BAB) Klien mengatakan BAB 1x sehari di setiap pagi
hari dengan konsistensi BAB lembek, warna
kecoklatan, dan bau khas.

saat sakit:
klien belum BAB
Buang Air Kecil Sebelum sakit:
(BAK) Klien mengatakan BAK 5-7x sehari±
11/2 liter dengan konsistensi warna kuning jernih,
tidak ada keluhan saat BAK.

Saat sakit:
Klien BAK secara spontan 5 x sehari ± 1 liter
dengan konsistensi BAK warna jernih
kekuningan.
82

Pola istirahat tidur Sebelum sakit:


Klien mengatakan tidur di siang hari 2 jam pada
jam 13.00- 15.00 dan tidur di malam hari 7 jam
pada jam 21.00 – 04.00, dan tidur tidak merasa
terganggu.

Saat sakit:
Klien mengatakan tidur siang 1 jam pada jam
13.00 – 14.00 dan tidur malam 8 jam pada jam
21.00 – 05.00, tidur sering terbangun dan tidur
merasa terganggu dikarenakan ruangan yang
ramai dan nyeri pada luka bekas operasi.

Pola kebersihan diri Sebelum sakit:


Klien mengatakan mandi 2-3x sehari dengan
menggunakan sabun, shampo dan gosok gigi.
Klien ganti baju 2x sehari

Saat sakit:
Klien hanya di seka 2x sehari dengan
menggunakan air bersih. Klien ganti baju 1x/ hari

Pola aktivitas, latihan Sebelum sakit


dan bermain Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas
secara mandiri, jogging setiap pagi

Saat sakit
Klien dalam aktivitasnya dibantu sebagian oleh
keluarga dan perawat. Klien tampak hanya bisa
berbaring di tempat tidur karena merasakan nyeri
pada luka bekas operasi

4) Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum k/u lemah


kesadaran compos mentis
GCS 4 5 6
Terpasang inf. Cairan RL 20 tpm
Terpasang tampon dan ditutup dengan
kasa steril pada luka bekas operasi
Observasi Kteterangan
83

Suhu 36,6 C
Nadi 88 x/menit
Tekana darah 100/60 MmHg
Respirasi rate 21 x/menit
GCS 4, 5, 6.
BB 50 kg

Pemeriksaan
fisik
1. Kepala dan Inspeksi:
rambut - rambut hitam dan panjang
- penyebaran rambut merata
- rambut terlihat bersih
- rambut terlihat kering
- bentuk kepala simetris
- tidak terlihat adanya lesi di kepala
- klien tampak cemas dan bingung
- ekspresi wajah menyeringai

Palpasi:
- tidak terdapat benjolan yang abnormal di
kepala
- tidak ada nyeri tekan di daerah kepala.
2. Hidung Inspeksi:
- Bentuk hidung terlihat simetris
- Warna kulit hidung sama dengan kulit
sekitar
- Tidak terlihat adanya lesi
- Tdk ada polip

Palpasi:
- Tidak teraba benjolan yang abnormal
- Tidak ada nyeri tekan

3. Telinga Inspeksi:
- Bentuk telinga terlihat simetris
- Tidak terlihat adanya serumen
- Tidak terlihat adanya lesi

Palpasi:
- Tidak ada benjolan yang abnormal
- Tdk ada nyeri tekan

4. mata Inspeksi:
- Bentuk mata terlihat simetris
- Sklera terlihat putih
84

- Konjungtiva terlihat merahmuda


- Tidak terlihat adanya katarak.
- Tdk tmpak odem
- Palpebra tdk sembab

Palpasi:
- Tidak teraba benjolan abnormal

5.mulut, gigi, Inspeksi:


lidah, tonsil - Bentuk mulut simetris
dan pharing: - Lidah terlihat bersih
- Gigi terlihat bersih
- Tidak terjadi pendarahan di daerah
mulut
- Mukosa lembab
- Tdk ada lesi
- Tdk ada stomatitis
- Tonsil terlihat merah muda ( tdk
terdapat tanda- tanda infeksi)

Palpasi:
- Tidak ada benjolan di daerah mulut

6. Leher dan Inspeksi:


tenggorokan - Warna kulit leher sama dengan kulit
sekitar (sawo matang)
- Tidak terdapat lesi di daerah leher
- Bentuk simetris

Palpasi:
- Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
- Tidak ada nyeri tekan
- tdk teraba benjolan abnormal
7. Dada/Thorak
Pemeriksaan Inspeksi :
- bentuk simetris
- tdk tampak adanya luka.

- Ekspansi dada simetris


- Tidak terlihat adanya otot bantu
pernapasan
85

Palpasi
- Tidak terdapat benjolan abnormal
- Tidak terdapat nyeri tekan

paru Perkusi:
- sinestra:
- ICS 1-2 terdengar sonor
- ICS 3-5 terdengar sonor
- ICS 6-8 terdengar tympani
- Dekstra:
- ICS 1-4 terdengar sonor
- ICS 5-8 terdengar pekak

Auskultasi
- Tidak terdengar suara abnormal seperti
ronchi, whezing

Inspeksi:
Pemeriksaan - Warna kulit dada sama seperti warna
jantung kulit sekitar (sawo matang)
- Iktus kordis tidak terlihat di ICS ke 5
midklavikula sinistra.
- Tidak terlihat adanya lesi di dada
- Tdk tmpak benjolan abnormal

Palpasi:
- Ictuscordis teraba di bagian kiri di
bawah putting susu di ICS 5
midclavicula sinestra
- Tidak terdapat benjolan Abnormal di
daerah dada
- Tidak ada nyeri tekan

Perkusi:
- pekak
- Jantung terletak di ICS 3-5 midklavikula
sinestra

Auskultasi:
Bunyi jantung 1 dan 2 terdengar tunggal

8.pemeriksaan Inspeksi:
payudara - Payudara kiri dan kanan simetris
- Warna terlihat hitam pd areola
- Tdk ada pembesaran abnormal
86

- Tdk ada luka

Palpasi:
- Tdk ada nyeri tekan
- Tdk teraba benjolan abnormal

9. Pemeriksaan Inspeksi:
abdomen - Warna kulit sama dengan kulit sekitar
- Perut tidak terlihat asietas (pembesaran
abdomen)
- Tidak terlihat adanya lesi

Auskultasi:
- Bising usus terdengar 14x/ menit

Palpasi:
- Tidak ada nyeri tekan
- Tidak ada benjolan/lesi

Perkusi:
- Kuadran kanan atas: redup’
- Kuadran kiri atas: tympani
- Kuadran kanan bawah: tympani
- Kuadran kiri bawah: tympani

10. Ekstrimitas,
kuku dan
kekuatan otot

Ekstermitas : Ekstermitas Atas:


Inspeksi:
- Tangan sebelah kanan terpasang infus
dengan cairan RL
Palpasi:
- Tidak ada nyeri tekan di kedua tangan
- CRT < 2 detik
- akral teraba dingin

Ekstermitas Bawah:
Inspeksi:
Warna kulit sama dengan kulit sekitar
(sawo matang)
Palpasi:
- Turgor kulit elastis < 2dtk
- Tidak ada nyeri tekan di kedua kaki
87

Kekuatan otot 5 5

3 3

10. Genetalian Genetalia


dan anus - Tdk ada lesi
- tdk ada kemerahan
- tdk ada tanda-tanda infeksi

Anus
- Ada luka bekas operasi
hemoroidektomi
- Anus ditutup tampon steril
- Tampak luka ditutup kasa steril;
panjang ±6cm, lebar±4cm
- Tidak ada perdarahan, tidak ada pus
- Luka bersih dan kering.

Pemeriksaan neurologi Keterangan


GCS 456
Kesadaran Komposmentis

5) Hasil Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Keterngan
Pemeriksaan darah Lab
(23-10-2017, jam 11.20)

Hematologi
Hemoglobin 12,4 g/dl ( 11-16)
Leukosit 7000 103 /uL
PCV 37 ( 37-54)
Trombosit 309.000 (150.000 – 400.000)
88

Bleeding time 1–3


Cloting time 7

PENATALAKSANAAN
Injeksi injeksi cefotaxim 3x1 amp,
inj. Iv ketorolac 3x 1 amp
inj. Iv ranitidin 3 x 1 amp
Cairan infuse RL 20 tpm

Perawatan luka 1x/ hari.

Harapan klien Klien dan keluarga berharap agar luka


operasinya cepat sembuh dan
penyakitnya tidak kambuh lagi
89

Genogram

Nn.N

Keterangan :

= Laki-Laki = Tinggal dalam satu rumah

= Perempuan = Perempuan meninggal

= Garis Keturuna = Laki-Laki meninggal

= Garis perkawinan = Klien perempuan


90

3.1.2 Analisa Data

DATA ETIOLOGI MASALAH


1)
DS: Kongesti vena Nyeri akut
klien mengatakan
nyeri pada luka
bekas operasi di Hemorhoid
area duburnya,
nyeri seperti Hemoroidektomi
tertusuk – tusuk
jarum, nyeri Luka insisi
dirasakan terus –
menerus, Diskontinuitas jaringan
memberat saat
bergerak, Pelepasan mediator
berkurang saat nyeri
klien istirahat.
Merangsang reseptor
DO: nyeri
K/ULemah
TTV Dihantar serabut tipe
TD : 100/60 âÓ dan serabut tipe c
mmHg
N: 88 x/m Medulla spinalis
RR : 21 x/m
S : 36,6 C Sistem aktivasi
- Klien tampak retikuler
menyeringai
- Skala nyeri 4 ( Hipotalamus (otak)
nyeri sedang)
Persepsi nyeri

Nyeri akut

Kongesti vena
2) Intoleransi aktivitas
DS:
Klien mengatakan Hemorhoid
kakinya tidak bisa
91

bergerak dan Hemoroidektomi


badan terasa lemas
DO: Luka insisi
K/U lemah
1. Klien tampak Diskontinuitas jaringan
bedrest
2. ADL s dibantu Pelepasan mediator
sebagian nyeri
3. Miring kanan
kiri (-) Persepsi nyeri
Kekuatan otot
5 5 Menurunnya kapasitas
3 3 fisiologis

Kelemahan otot

Keletihan

Intoleransi aktivitas

3) Kongesti vena Kurangnya


DS: pengetahuan
Klien mengatakan
kenapa kakinya Hemorhoid
susah digerakkan
DO: Hemoroidektomi
- k/u lemah
- klien tampak Luka insisi
cemas
- klien tampak Diskontinuitas jaringan
bingung
- klien sering Efek anasthesi
bertanya
tentang Kurangnyanya pajanan
keadaan informasi
penyakitnya
Khawatir, bingung

Kurangnya
pengetahuan
92

3.1.3 Diagnosis Keperawatan

Nama pasien :

No.register :

TANGGAL DIGNOSA TANGGAL TANDA


MUNCUL KEPERAWATAN TERATASI TANGAN
24 – 10 – 2017 Nyeri akut berhubungan dengan 25 – 10 2017
luka insisi, diskontinuitas
jaringan
Intoleransi aktivitas 25- 10- 2017
berhubungan dengan
menurunnya kapasitas fisiologis

Kurangnya pengetahuan 25 – 10 - 2017


berhubungan dengan kurangnya
pajanan informasi/pengetahuan
kepada klien
93

3.1.4 Perencanaan Keperawatan

Diagnosis Intervensi (NIC) Rasional


keperawatan
(tujuan, kriteria
hasil)
1) Nyeri akut
berhubungan 1. monitor tanda – 1. Perubahan tekan
dengan luka tanda vital darah, frekuensi
insisi, 2. kaji secara jantung, frekuensi
diskontinuitas komprehensif pernapasan
jaringan terhadap nyeri menandakan
termasuk lokasi, tingkat nyeri
Tujuan : karakteristik, 2. Untuk mengetahui
durasi, frekuensi, tingkat nyeri
Setelah dilakukan kualitas, intensitas pasien
tindakan nyeri. 3. Untuk mengetahui
keperawatan selama 3. Observasi reaksi tingkat
1 x 7 jam, ketidaknyamanan ketidaknyamanan
diharapkan nyeri secara nonverbal dirasakan oleh
hilang 4. Berikan informasi pasien
tentang nyeri 4. Pemberian HE
Kriteria hasil: termasuk dapat mngurangi
1. Ekspresi wajah penyebab nyeri, tingkat kecemasan
rileks berapa lama nyeri dan membantu
2. Skala nyeri 0 yang akan hilang, klien dalam
3. Klien tidak antisipasi dari membentuk
gelisah ketidaknyamanan mekanisme
4. Klien dapat dari prosedur koping terhadap
mengenal 5. Ajarkan cara rasa nyeri.
lamanya nyeri penggunaan terapi 5. Agar klien
5. Klien dapat non farmakologi menggunakan
menggunakan (distraksi dan teknik
teknik distraksi relaksasi) nonfarmakologis
relaksasi 6. Kolaborasi dalam
6. tanda-tanda vital pemberian managemen nyeri
dalam batas analgetik yang dirasakan
normal: Ketorolac 3 x 6. Pemberian
TD:100/70- 1amp analgetik dapat
120/80 MmHg mngurangi rasa
N: 80-100 x/menit nyeri pasien.
S: 36,5 – 37,5 oC
RR: 16-20 x/menit
94

2)
Intoleransi aktivitas 1. monitor tanda – 1. tanda – tanda vital
berhubungan dengan tanda vital dalam rentang
penurunan kapasitas 2. bantu klien yang tidak normal
fisiologis memilih aktivitas menandakan
yang sesuai kondisi pasien
Setelah dilakukan 3. tentukan sedang mengalami
tindakan selama 1 x pembatasan penurunan
7 jam, diharapkan aktivitas fisik kapasitas
kondisi klien stabil pada klien fisiologisnya
saat aktivitas dengan 4. tentukan 2. Aktivitas yang
kriteria hasil: penyebab teralau berat dan
kelelahan tidak sesuai
1. Tidak tampak lesu (perawatan, dengan kondisi
dan kelelahan nyeri, klian dapat
2. Melakukan pengobatan) memperburuk
aktivitas ADL s 5. monitor intake toleransi terhadap
secara mandiri nutrisi yang latihan
3. Tidak ada adekuat sebagai 3. Mencegah
penurunan napsu sumber energi penggunaan
makan 6. batasi jumlah energy yang
4. Tidak nyeri pengunjung berlebihan karena
kepala saat dapat
aktivitas menimbulkan
7. tanda-tanda vital kelelahan
dalam batas 4. Memudahkan
normal: klien untuk
TD:100/70- mengenali
120/80 MmHg kelelahan dan
N: 80-100 x/menit waktu untuk
S: 36,5 – 37,5 oC istirahat.
RR: 16-20 x/menit 5. Mengetahui
sumber asupan
energy klien.
6. Memfasilitasi
waktu istirahat
klien untuk
memperbaiki
kondisi klien.
3)
Kurangnya 1. Berikan penilaian 1. Mengetahui
pengetahuan tentang tingkat tingkat
berhubungan dengan pengetahuan pengetahuan
kurangnya pajanan pasien tentang pasien
informasi/pengetahu proses penyakit 2. Klien mengetahui
an kepada klien yang spesifik proses
tentang penyakitnya. 2. Jelaskan penyakitnya
patofisiologi dari 3. Meningkatkan
95

Setelah dilakukan penyakit dan pengetahuan


tindakan selama 3 x bagaimana hal ini pasien tentang
24 jam, diharapkan berhubungan penyakitnya
klien menunjukkan dengan anatomi 4. Pasien mengetahui
terjadi peningkatan dan fisiologi, tentang penyebab
pengetahuan dengan cara yang dari penyakitnya
kriteria hasil: tepat.
1. Pasien atau 3. Gambarkan tanda
keluarga dapat dan gejala yang
menyebutkan biasa muncul pada
kembali penyakit, dengan
pengertian, cara yang tepat
penyebab, 4. Identifikasi
prognosis dan kemungkinan
pengobatan penyebab, dengan
penyakit cara yang tepat
hemoroid
2. Pasien dan
keluarga mampu
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatan lainnya
3. Pasien dan
keluarga mampu
melaksakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
70

Diagnosa 24– 10 – 2017 25 – 10 – 2017


Keperawatan
1. Nyeri akut Implementasi Implementasi
berhubungan
dengan luka 12.00 1. monitor tanda – 07.30 1. Kolaborasi
insisi, tanda vital pemberian
diskontinuitas H/ TD : 100/ 60 analgetik
jaringan mmHg, N : 85 Ketorolac 3 x
x/m, RR: 21x/m, 1amp
S: 36,5 C H/ injeksi
ketorolac 1
2. kaji secara amp/iv
12.15 komprehensif
terhadap nyeri
termasuk lokasi, 08.00 2. monitor tanda –
karakteristik, tanda vital
durasi, H/ TD : 110/
frekuensi, 70 mmHg, N :
kualitas, 82 x/m, RR:
intensitas nyeri. 19x/m, S: 36,8
H/ klien C
mengatakan
nyeri pada luka 3. kaji secara
bekas operasi di 09.00 komprehensif
area duburnya, terhadap nyeri
skala nyeri 4, termasuk
nyeri seperti lokasi,
tertusuk – tusuk karakteristik,
jarum, nyeri durasi,
dirasakan terus – frekuensi,
12.30 menerus, kualitas,
memberat saat intensitas
bergerak, nyeri.
berkurang saat H/ klien
klien istirahat mengatakan
nyeri pada
3.Observasi reaksi luka bekas
ketidaknyamanan operasi di area
secara nonverbal duburnya
H/ ekspresi wajah sudah
klien berkurang,
menyeringai. skala nyeri 0-
1.
4.Berikan informasi
tentang nyeri 09.05 3.Observasi reaksi
termasuk ketidaknyamana
penyebab nyeri, n secara
berapa lama nonverbal
71

nyeri yang akan H/ ekspresi wajah


hilang, antisipasi klien rileks.
dari
ketidaknyamana
n dari prosedur
H/ klien memahami
tentang
informasi yang
telah diberikan
oleh perawat
mengenai
penyebab nyeri
karena
hemoroidektomi
dan lamanya
nyeri.

5. Ajarkan cara
penggunaan
terapi non
farmakologi
(distraksi dan
relaksasi)
H/ klien mampu
melakukan
distraksi dengan
cara berbincang
– bincang
dengan
neneknya dan
relaksasi seperti
napas dalam

2. Intoleransi 12.00 1. monitor tanda – 08.00 1. monitor tanda


aktivitas tanda vital – tanda vital
berhubungan TD : 100/ 60 TD : 110/ 70
dengan mmHg, N : 85 mmHg, N :
penurunan x/m, RR: 82 x/m, RR:
kapasitas 21x/m, S: 36,5 19x/m, S:
fisiologis C 36,8 C

2. batasi jumlah 08.05 2. batasi jumlah


12.30 pengunjung pengunjung
H/ klien H/ klien
instirahat, hanya
hanya ditemani ditemani
neneknya. neneknya.
72

3. bantu klien 3. bantu klien


12.40 memilih 09.00 memilih
aktivitas yang aktivitas yang
sesuai sesuai
H/ klien H/ klien
bersedia bedrest sudah bisa
sesuai yang berjalan,
dianjurkan duduk
perawat, tidak Kekuatan otot
memakai 5 5
bantal, 09.10 5 5
13.00 Kekuatan otot
5 5
3 3
4. monitor
4. tentukan intake nutrisi
pembatasan yang adekuat
aktivitas fisik sebagai
pada klien sumber energi
H/ klien belum H/ klien
bisa miring makan diit
kanan / kiri, dari rumah
13.15 klien belum sakit, porsi
boleh memakai dihabiskan
bantal.
5. tentukan
penyebab
kelelahan
(perawatan,
nyeri,
pengobatan)
H/ klien
mengalami
intoleransi
aktivitas karena
13.17 merasakan nyeri
post op
hemoroidektomi

6. monitor intake
nutrisi yang
adekuat sebagai
sumber energi
H/ klien masih
puasa sesuai
yang dianjurkan
oleh perawat
73

3. Kurangnya 13.35 1. Berikan 1. Berikan


pengetahuan penilaian penilaian
berhubungan tentang tingkat tentang
dengan pengetahuan tingkat
kurangnya pasien tentang pengetahuan
pajanan proses penyakit pasien tentang
informasi/penge yang spesifik proses
tahuan kepada H/ klien tampak penyakit yang
klien tentang cemas, klien spesifik
penyakitnya. massih sering H/ klien
bertanya. tampak
13.42 2. Jelaskan tenang.
patofisiologi dari
penyakit dan 2. Gambarkan
bagaimana hal ini tanda dan
berhubungan gejala yang
dengan anatomi biasa muncul
dan fisiologi, pada penyakit,
dengan cara yang dengan cara
tepat. yang tepat
H/ klien dan H/ klien dan
keluarga keluarga
mengetahui mengetahui
proses penyakit dan mampu
hemoroid menjelaskan
kembali tanda
3. Gambarkan tanda dan gejala
13.50 dan gejala yang penyakit
biasa muncul hemoroid
pada penyakit,
dengan cara yang
tepat
H/ klien dan
keluarga
mengetahui tanda
dan gejala
penyakit
hemoroid
74

3.1.5 Evaluasi
Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3
(24 – 10-2017, (25 – 10 –
jam 14.00) 2017, jam
10.00)
1. Nyeri akut S : klien S : klien
berhubungan mengatakan nyeri mengatakan
dengan luka pada luka bekas nyeri pada luka
insisi, operasi di area bekas operasi di
diskontinuita duburnya, nyeri area duburnya
s jaringan seperti tertusuk – hilang.
tusuk jarum, nyeri
dirasakan terus – DO:
menerus, K/U baik
memberat saat
TTV
bergerak, TD : 11/70
berkurang saat
mmHg
klien istirahat. N: 82 x/m
RR : 19 x/m
O: S : 36,8 C
K/ULemah - Ekspresi
TTV klien
TD : 100/60 tampak
mmHg rileks
N: 88 x/m - Skala nyeri
RR : 21 x/m 0
S : 36,6 C
- Klien tampak
menyeringai A : masalah
- Skala nyeri 4 telah teratasi
( nyeri
sedang) P : hentikan
intervensi (
A. : masalah klien KRS
belum teratasi 12.00)

P : lanjutkan
intervensi
(1,2,3,6)

2. Intoleransi S: S:
aktivitas Klien mengatakan Klien
berhubungan kakinya tidak bisa mengatakan
dengan bergerak dan sudah mampu
penurunan badan terasa melakukan
kapasitas lemas aktivitas secara
fisiologis mandiri
75

O:
K/U lemah O:
 Klien K/U baik
tampak  Mobilisasi
bedrest (+)
 ADL s  ADLs
dibantu dilakukan
sebagian secara
 Miring mandiri
kanan kiri (-)  Kekuatan
 Kekuatan otot
otot 5 5
5 5 5 5
3 3

A: masalah belum A: masalah


teratasi telah teratasi

P: lanjutkan P: hentikan
intervensi (1,2,6) intervensi
(klien KRS
12.00)

Anda mungkin juga menyukai