Anda di halaman 1dari 15

1

ISLAM DAN PERADABAN DI JAZIRAH GORONTALO DALAM PERSPEKTIF


SEJARAH

Oleh :H.Muhammad Bahar Akkase Teng

(Dosen Filsafat, Sejarah dan Arab Melayu pada jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Hasanuddin Hp: 08124246613. Email : baharakkase@gmail.com.

ABSTRAK

Makalah ini membahas mengenai perkembangan Islam dan peradaban di Jazirah Gorontalo dalam
perspektif Sejarah. Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu
kota tua di Sulawesi yang berbudaya, selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Islam masuk di
Gorontalo diperkirakan pada tahun 1300-an, namun perkembangannya baru diketahui pada tahun 1490-an
tepatnya pada saat Mesjid Sultan Amai didirikan yang kemudian menjadi pusat awal perkembangan
agama Islam di Gorontalo.
Makalah ini menggunakan kajian pustaka. Data dikumpulkan dengan cara melakukan penelusuran
literatur dan dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan melalui pembacaan dan penyimakan selanjutnya
dibahas dan dianalisis untuk menggambarkan perkembangan Islam dan peradaban di Jazirah Gorontalo
secara deskriptif.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Sultan Amai Mengajarkan masyarakat Gorontalo cara bercocok tanam,
berdagang, membangun pemerintahan dan tentunya berdakwah ke seluruh penjuru negeri. Untuk
menguatkan pengakuan akan keIslaman di Gorontalo dan untuk mempermudah umat Muslim
menjalankan kewajibannya, maka Sultan Amai membangun sebuah mesjid. Beberapa peninggalan
sejarah yang masih dapat dilihat di Mesjid ini ialah Al-Quran Tua dengan tulisan tangan, Buku Me’raji
tulisan tangan dalam bahasa Gorontalo degan huruf Arab Gundul, Makam Sultan Amai tepat dibawah
Mighrab, makam para ulama pada era tahun 1425-1495, Bedug tua terbuat dari pohon Randu dan sumur
tua yang tak pernah kekeringan dengan diameter lingkaran tengah berukuran sama dengan sumur zam-
zam. Masjid ini disebut Hunto asal dari Kota Gorontalo.

Kata Kunci : Islam, Peradaban, Adat dan Sejarah Gorontalo

ABSTRACT
2

ISLAM AND CIVILIZATION IN JAZIRAH GORONTALO


(IN PERSPECTIVE HISTORY)
By : H.Muhammad Bahar Akkase Teng. Lecturer; Philosophy, History and Culture in the
Department of history science, Faculty of Humanities of Hasanuddin University Hp: 08124246613.
Email : baharakkase@gmail.com

This paper discusses the development of Islam and civilization in Gorontalo Peninsula in the perspective
of history. Gorontalo peninsula was formed more than 400 years ago and is one of the old city on
Sulawesi cultured, in addition to Makassar, Pare-pare and Manado. Islam arrived in Gorontalo estimated
in the 1300s, but the new development is known in the 1490s precisely at the time of Sultan Mosque
Amai was established which later became the center of early development of Islam in Gorontalo.
This paper uses literature review. Data were collected by conducting literature searches and
documentation. Data has been collected through the reading and study are further discussed and analyzed
to describe the development of Islam and civilization in Gorontalo Peninsula descriptively.
The results of the study show that the Sultan Amay Teach people of Gorontalo cultivation, trade, building
administration and of course preaching to the rest of the country. To strengthen the Islamic recognition in
Gorontalo and to facilitate Muslims to perform its obligations, then the Sultan Amai build a mosque.
Some historical relics can still be seen in this mosque is the Koran Old handwritten, Books Me'raji
handwritten in Gorontalo in Arabic Halak, Tomb of Sultan Amay just below Mighrab, the tomb of the
scholars in the era of 1425-1495, old drum made out of a tree Randu and old wells that never dry diameter
center circle of the same size with the well of Zam Zam. The mosque is called Hunto origin of the city of
Gorontalo.

Keywords: Islam, Civilization, History Indigenous and Gorontalo


3

Pendahuuan
Islam merupakan agama yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan yang
dibawah oleh para pedagang Arab yang hendak datang ke Indonesia untuk berdagang. Islam
masuk di Indonesia diperkirakan pada abad ke-13 namun ada beberapa sumber lain yang
menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia jauh sebelum abad ke-13 tepatnya pada abad ke-7,
namun tidak ada sumber yang cukup untuk membuktikan bahwa Islam masuk pada abad ke-7.

Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 600 tahun lalu dan merupakan salah satu kota
tua di Sulawesi yang berbudaya, selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Budaya
Gorontalo diyakini sudah berkembang sejak berabad-abad lamanya. Namun puncak dari
perkembangan itu dimulai sejak tahun 1385 masehi, dimana pada masa itu 17 kerajaan kecil

bersepakat membentuk sebuah serikat kerajaan . Sejalan dengan ini, Gorontalo pada saat itu

menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur seperti Ternate, dan
Bone.

Islam masuk di Gorontalo itu diperkirakan pada tahun 1300-an, namun perkembangannya
baru diketahui pada tahun 1490-an tepatnya pada saat Mesjid Sultan Amai didirikan sekaligus
mesjid ini menjadi tempat pusat awal perkembangan agama Islam di Gorontalo. Sejarah
perkembangan Islam di Gorontalo tidak dapat dipisahkan dari peran Sultan Amai yang
merupakan tokoh penyiar agama Islam pertama di Gorontalo. 1 Mesjid Sultan Amai, merupakan
salah satu peradaban Islam yang ada di Provensi Gorontalo.

Gorontalo Dalam Sejarah

Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian utara. Daerah ini punya
jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan dalam kerajaan Islam.
Sebelum berdiri kerajaan Islam, di Gorontalo ada banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hingga pada
1385, sejumlah 17 kerajaan kecil tersebut sepakat membentuk sebuah serikat kerajaan.

1
Islam merupakan agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat gorontalo namun yang harus diperhatikan apakah dengan
menjadikan islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat Gorontalo mampu menjadikan kota ini sebagai kota yang beradab,
damai, tentram, atau bahkan dikota ini masih sering terjadi kekacauan yang jauh dari harapan damai. Selain itu, dengan berkembangnya teknologi
seperti saat ini apakah memberikan pengaruh kepada masyarakat terhadap kecintaannya kepada Allah SWT.
4

Diangkatlah Maharaja Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan Kerajaan
Hulondalo.2

Sebelum masa penjajahan dan kolonial, keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-
kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu
tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut Pohalaa.3 Dengan hukum adat itu maka
Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang
paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak
dikenal.

Gorontalo atau Hulontalo merupakan kerajaan yang selalu disandingkan dengan kerajaan
–kerajaan tua lainnya yang pernah ada di daerah ini, seperti kerajaan Wedda, letaknya berada di
kaki gunung Tilongkabila, dengan raja pertama di bawah kekuasaan Buniaguguto, dan kerajaan
tua lainnya adalah kerajaan Limutu (Limboto), pusat pemerintahannya terletak di Lintalo. Raja
yang pertama Ratu Buibungale4

Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
Hulontalangio, nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo. Berasal dari: a)
Hua Lolontalango yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang. b) Hulontalangi
yang artinya lebih mulia. c) Hulua Lo Tola yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus. d)
Pongolatalo atau Puhulatalo yang artinya tempat menunggu. e) Gunung Telu yang artinya tiga
buah gunung. f) Hunto suatu tempat yang senantiasa digenangi air.

Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata
hulondalo hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda
karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi
Gorontalo. Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang
asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan

2
Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo. Hulondalo berasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-
langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air. Orang Belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin
menjadi Gorontalo.
3
Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohalaa : Pohalaa Gorontalo, Pohalaa Limboto, Pohalaa Suwawa, Pohalaa
Boalemo, dan Pohalaa Atinggola.
4
Mattulada. 1990.”Sawerigading Folktole Sulawesi” Jakarta, Depdikbud, proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Hlm 566.
5

kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah Rechtatreeks Bestur .
Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa
dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu : Onder Afdeling Kwandang, Onder Afdeling Boalemo,
Onder Afdeling Gorontalo. Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
Distrik Kwandang, Distrik Limboto, Distrik Bone, Distrik Gorontalo, dan Distrik Boalemo. Pada
tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu : Afdeling Gorontalo, Afdeling
Boalemo, dan Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani


Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942.5 Selama kurang lebih dua tahun
yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan
patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi
bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone
dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis
menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara). Kedudukan Kota
Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya
di pinggiran sungai Bolango.6

Dengan letaknya yang strategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta
penyebaran agama Islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan
menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling
Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala
dan Bolaang Mongondow.7

5
Hari Kemerdekaan Gorontalo yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal
saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi
bagian dari Indonesia. Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang
untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja sebagaimana pernah
didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur
6
Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi
Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai
Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba .
7
www.gorontalofamily.org
6

Islam di Gorontalo

Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian utara. Daerah ini punya
jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan dalam kerajaan Islam.
Sebelum berdiri kerajaan Islam, di Gorontalo ada banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hingga pada
1385, sejumlah 17 kerajaan kecil tersebut sepakat membentuk sebuah serikat kerajaan.
Diangkatlah Maharaja Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan Kerajaan
Hulondalo.8
Nilai budaya yang dianut adalah yang berbasiskan pandangan harmoni dengan
mengambil pelajaran yang ditunjukkan oleh alam. Ini berarti penduduknya menganut
kepercayaan animisme. Kemudian, Islam mulai masuk ke Gorontalo.9 Islam kala itu masuk
melalui jalur perkawinan. Raja Amai menikahi putri dari kerajaan Palasa, bernama Owutango.
Kerajaan Palasa ini berada di Teluk Tomini dan rajanya sudah Islam. Sang putri sendiri punya
hubungan keluarga dengan pihak kerajaan di Ternate, yang telah lebih dahulu mengenal Islam.
Dari sini bisa terlihat, pihak kerajaan memahami Islam dan ingin menjalankan kerajaan sesuai
tuntunan Islam. "Karena Islam, maka bentuk kerajaannya pun menjadi kesultanan,"

Pendapat di atas berbeda dengan ungkapan bahwa “ bentuk kerajaan tetap bisa
dipertahankan meski rajanya telah Islam” 10
Dalam bentuk pemerintahan dulu, ia menjelaskan,
dikenal bentuk kerajaan yang bersifat tradisional. Mulai abad ke-13, ketika Islam mulai masuk
nusantara, maka dikenallah sistem pemerintah yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu kesultanan.
Meski demikian, masih ada yang tetap menggunakan nama kerajaan, namun jabatan
pemimpinnya disebut dengan sultan. Salah satunya, ia mencontohkan adalah kerajaan di Aceh,
namanya tetap kerajaan, namun pemimpinnya bergelar sultan. Hal yang sama terjadi juga di
Gorontalo, dalam ungkapan.
"Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri
Amai sendiri yang bernama putri raja Palasa. Awalnya, saat Raja Amai ingin
meminangnya, sang putri yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun
mengajukan beberapa persyaratan. Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus

8
Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo. Hulondalo berasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-
langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air. Orang Belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin
menjadi Gorontalo.
9
Peneliti sejarah sosial dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menjelaskan mengenai masa-masa ketika Islam masuk ke
Gorontalo. "'Sekitar 1525, Islam mulai masuk dalam wilayah kerajaan ini. Islam dibawa oleh sang raja saat itu, Raja Amai," ujarnya kepada
Republika, pekan lalu.
10
diungkapkan oleh guru besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, Prof Dien Majid
7

diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan dalam masyarakat Gorontalo harus
bersumber dari Alquran. Dua syarat itu diterima oleh Amai. Di sinilah awal Islam
menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo," 11

Proses Islamisasi di Gorontalo

Islam masuk lewat jalur perkawaninan. Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di
Sulawesi bagian utara. Daerah ini punya jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk
kepemimpinan dalam kerajaan Islam.
Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri Amai
sendiri yang bernama putri raja Palasa.Awalnya, saat Raja Amai ingin meminangnya, sang putri
yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan.
Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan
dalam masyarakat Gorontalo harus bersumber dari Alquran. "Dua syarat itu diterima oleh Amai.
Di sinilah awal Islam menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo," Islam kala itu masuk melalui
jalur perkawinan. Raja Amai menikahi putri dari kerajaan Palasa, bernama Owutango. Kerajaan
Palasa ini berada di Teluk Tomini dan rajanya sudah Islam. Sang putri sendiri punya hubungan
keluarga dengan pihak kerajaan di Ternate, yang telah lebih dahulu mengenal Islam.
Sebelum menikah, Raja Amai mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amai dengan
terang-terangan mengumumkan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian
meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. Pada pesta tersebut Raja
Amai meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah
adat. Saat pendeklarasian sumpah tersebut, adalah hari terakhir rakyat Gorontalo memakan babi.
Usai proses sumpah adat, Raja Amai kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam
dengan membaca dua kalimat syahadat. Ia sendiri kemudian mengganti gelarnya dengan gelar
raja Islam, yaitu sultan.
Sultan Amai sendiri memeluk Islam setelah menikah di Moutong. Ditemani lima raja-raja
(olongiya) dari Moutong Sultan Amai kemudian kembali ke Gorontalo setelah mem’beat’ secara
besar-besaran penduduk di Moutong (1489). Setelah tiba di Gorontalo Sultan Amai tidak hanya
menyiarkan Agama Islam di Negeri Gorontalo, namun juga dengan di temani lima olongiya
Sultan Amai Mengajarkan masyarakat Gorontalo cara bercocok tanam, berdagang, membangun

11
Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Mohammad Karmin Baruadi, juga menjelaskan sejarah kerajaan
Gorontalo dalam tulisannya yang berjudul Sendi Adat Dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam Dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo.
8

12
pemerintahan dan tentunya berdakwah ke seluruh penjuru negeri. Untuk menguatkan
pengakuan akan ke Islaman di Gorontalo dan untuk mempermudah umat muslim menjalankan
kewajibannya, maka Sultan Amai membangun sebuah mesjid. Prinsip hidup baru ini, mudah
diterima oleh masyarakat Gorontalo saat itu, yang tidak tersentuh oleh Hindu-Buddha.
Masyarakat merasakan tidak ada pertentangan antara adat dan Islam, namun justru memperkuat
dan membimbing pelaksanaannya.
Pada 1550, Sultan Amai digantikan oleh putera mahkotanya, Matolodula Kiki. Sultan
kedua kesultanan Gorontalo ini menyempurnakan konsep kerajaan Islam yang dirintis oleh
ayahnya. Ia pun melahirkan rumusan
adati hula-hula'a to sara'a dan sara'a hula-hula'a to adati, yang artinya adat bersendi
syarak, syarak bersendi adat. Islam dan adat, saling melengkapi.

Islam resmi menjadi agama kerajaan ketika kesultanan Gorontalo ada di bawah pemerintahan
Sultan Eyato. Konsepnya pun berubah, mirip dengan prinsip masyarakat Minangkabau, adat
bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Di bawah kepimpinannnya, Kesultanan Gorontalo
mencapai puncak kejayaan.
Bagi masyarakat Uduluwo limo lo Pohalaqa Gorontalo (serikat kerajaan di bawah dua
kerajaan Gorontalo dan Limboto), syarak kitabullah dipahami bahwa hukum dan aturan-aturan
yang berlaku bersumber dari kitab suci Alquran dan hadis Rasulullah SAW.
Beberapa perubahan Pada masa itu, beberapa perubahan dilakukan, menjadi lebih Islami.
Sistem pemerintahannya kini didasarkan pada ilmu akidah atau pokok-pokok keyakinan dalam
ajaran Islam. Dalam ilmu akidah tersebut diajarkan dua puluh sifat Allah SWT, untuk itu Eyato
mewajibkan sifat-sifat itu menjadi sifat dan sikap semua aparat kerajaan mulai dari pejabat
tertinggi sampai dengan jabatan terendah. Sumpah-sumpah dan adat istiadat yang dipakai,
bersumber pada Islam.
Penerapan sistem budaya Islam pada sikap dan perilaku pejabat tersebut telah mengawali
pemantapan karakteristik budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Eyato sendiri
awalnya memang seorang ahli agama dan cendekiawan. Sebelum menjadi raja, Eyato merupakan
seorang hatibida'a yang tergolong ulama pada masa itu.

12
Teng, Muhammad Bahar Akkase, 2014 “ Islam dan Peradaban di Sulawei Dala Perspektif Sejarah” Makalah (paeper) yang
dipresentasekan pada Seminar Internasional dengan tema ”Melayu dalam berbagai Perspektif di Nusantara ” yang dilaksanakan pada hari Rabu
dan Kamis, 26 – 27 Nopember 2014 oleh Devisi Kajian Melayu, Puslitbang, Dinamika Masyarakat, Budaya Dan Humaniora Lembanga
Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Hasanuddin. Hal. 13-14
9

Peradaban Islam di Gorontalo

Peninggalan sejarah yang masih dapat diliat ialah Al-Quran Tua dengan tulisan tangan,
Buku Me’raji tulisan tangan dalam bahasa gorontalo degan huruf arab gundul, Makam Sultan
Amai tepat dibawah Mighrab, makam para ulama masa tahun 1425-1495.

Sultan Amai mungkin merupakan nama yang tidak asing bagi warga Gorontalo, beliau
adalah Pembawa ajaran agama Islam pertama kali di Gorontalo, menurut sejarah sosok Sultan
Amai adalah orang yang santun dan ramah, sebagai seorang sultan beliau pun adalah orang
sangat di hargai oleh masyarakatnya.13

Masjid ini disebut Hunto asal dari Kota Gorontalo Hohuntonga yang berarti tempat
berkumpul. Sampai saat ini mesjid ini banyak di kunjungi warga masyrakat yang sekedar
berziarah atau mengenang masa – masa pemerintahan Sultan Amai dengan beberapa artefak
sejarah di dalamnya.

Masjid Sultan Amai begitu di namakan mesjid ini, sesuai dengan nama Sultan Amai
sendiri sebagai penyebar ajaran agama Islam di Gorontalo, mesjid ini kemudian di daulat
menjadi mesjid pertama di Gorontalo14. Mesjid yang di bangun sekitar tahun 1495 M oleh Sultan
Amai yang memerintah di Kerajaan Gorontalo pada tahun 1472-1550 M. Masjid ini dibangun
dengan arsitektur yang unik, sebagaimana terlihat pada sudut-sudut bangunan. Luas bangunan
induk 12 x 12 meter, yang kemudiann diperluas dengan penambahan pada ruang depan dengan
ukuran 5 x 12 meter dan bagian utara ditambah 8 x 12 meter. Luas keaslian Mesjid 144 meter
persegi tapi sekarang sudah lebih besar. Ukuran aslinya itu merupakan wilayah pusatnya dan
masih tetap asli sampai sekarang. Dilakukan perbaikan dikarenakan sudah rusak dan dipercantik
kembali tanpa menghilangkan keasliannya. Area Mesjid yang telah diperlebar diantaranya
dibagian depan dan sebelah kanan Mesjid yang dijadikan ruang shalat wanita. Serta ada
13
Sedikit cerita tentang Pendakwah dari Negeri Serambi Madinah, Sang Sultan yang berperangai lembut ini lahir di Gorontalo dan
berdarah asli Gorontalo, pada awalnya Sultan Amay hanyalah rakyat biasa yang gemar merantau sampai kenegeri Ternate, di kisahkan bahwa
orang tua Sultan Amay sendiri adalah penganut ajaran Animisme karena pada waktu itu ajaran Islam belum masuk di negeri Gorontalo.
14
H Syamsuri Kaluku yang biasa di sapa Pak Haji oleh masyarakat sekitar merupakan satu diantara jemaah yang mengetahui betul
cerita berdirinya Mesjid tua itu. Ia mengisahkan dan mengungkapkan beberapa sejarah Mesjid Sultan Amay yang menjadi tempat pusat awal
perkembangan agama Islam."Islam sebenarnya sudah masuk di Gorontalo semenjak 1300an Masehi, hanya saja perkembangannya nanti pada
tahun 1490an tepatnya pada saat Mesjid ini berdiri," ujar Pak Haji mengawali kisah cerita Mesjid tua pada tribungorontalo.com, Minggu (24/7)
Pembangunan Mesjid pun dilakukan di Gorontalo. Mesjid tersebut kemudian diberi nama Hunto Sultan Amay. Hunto singkatan dari Ilohuntungo
berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam ketika itu.
10

penambahan bangunan yang hingga kini dalam proses pembangunan di lantai dua. Rencananya
lantai dua juga untuk wanita. Saat ini bentuk dan ukuran Mesjid Hunto Sultan Amai telah
dipugar dan diperbesar tanpa menghilangkan keasliannya. Diantaranya mimbar yang biasa
digunakan untuk berkhotbah dan tiang-tiang Mesjid yang masih kokoh berdiri serta ornamen-
ornamen beraksen kaligrafi Arab.

Hunto Sultan Amai merupakan Mesjid tertua di Gorontalo. Mesjid ini berdiri pada tahun
899 Hijriah bertepatan 1495 Masehi. Dibalik tiang-tiangnya yang kokoh Mesjid ini memiliki
kisah sejarah yang unik dan menarik untuk diketahui. Sebelum Mesjid tersebut berdiri, wilayah
yang kini telah menjadi Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo dipimpin
oleh Raja Amai seorang pemimpin muda, ganteng, dan masih lajang. Raja dan para pengikutnya
saat itu menganut kepercayaan animisme. Patung, pohon, dan hal-hal yang dianggap mistik
merupakan sesembahan masyarakat saat itu.

Syekh Syarif Abdul Aziz ahli agama Islam dari Arab Saudi didatangkan langsung oleh
Raja Amai untuk menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan sampai saat ini masih
terbukti sebagian besar masyarakat Gorontalo menganut kepercayaan agama Islam atas upaya
dari Raja Amai.

Adapula bedug yang terbuat dari pohon Randu , dan kulit kambing yang sudah mulai
menipis dengan kondisi telah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga saat ini.
Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya asli dan
telah berumur lebih dari 600 tahun..

Peninggalan asli lainnya adalah dan sumur tua yang tak pernah kekeringan dengan
diameter lingkaran tengah berukuran sama dengan sumur zam-zam. Sumur tua yang hingga kini
masih digunakan oleh jemaah dan masyarakat sekitar. Posisinya terletak di samping kiri mesjid,
berdekatan dengan tempat wudhu. Sumur tua tersebut terbuat dari kapur dan putih telur Maleo
dengan diameter lebih dari satu meter dan ketinggian mencapai tujuh meter.
Kondisi cuaca Gorontalo yang sering dilanda musim panas berkepanjangan tidak mempengaruhi
kondisi airnya yang terus melimpah dan jernih. Masyarakat setempat pun meyakini air sumur tua
Mesjid Hunto Sultan Amay keramat dan sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.
11

Tidak hanya air sumur tua, Mesjid ini pun diyakini keramat sehingga banyak yang datang
berkunjung dan berziarah. Tepat di mihrab berbatasan dengan tempat posisi Imam berdiri
merupakan makam Sultan Amai. Ada batasnya dan sudah diatur antara kuburan Sultan Amay
dan tempat posisi Imam berdiri biar tidak terkesan kita menyembah beliau (Raja
Amai).

Lokasi mimbar tersebut sering mengeluarkan aroma yang harum alami tanpa pewangi
buatan. Sedangkan dibagian belakang Mesjid merupakan kuburan tua termasuk Syekh-Syekh
zaman dulu yang turut serta menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Bentuk keramat lain
biasanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang datang dari kalangan peziarah. Biasanya
dilihat dari tingkat keimanannya masing-masing, semakin tinggi imannya maka semakin tinggi
pula ujiannya.

Berdasarkan pengalaman yang terjadi terdengar suara orang menangis di mimbar, ada
yang melihat banyak orang lagi shalat tetapi sebenarnya tidak ada seorangpun didalam Mesjid.
Bahkan ketika shalat sendiri tiba-tiba ada suara dari belakang membalas kata amin atau salam.

Simpulan

Islam masuk di Indonesia diperkirakan pada abad ke-13 melalui jalur perdagangan
orang-orang Arab dan India Gujarat.

Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 600 tahun lalu dan merupakan salah satu kota
tua di Sulawesi yang berbudaya. Budaya Gorontalo diyakini sudah berkembang sejak berabad-
abad lamanya. Namun puncak dari perkembangan itu dimulai sejak tahun 1385 masehi, dimana

.
pada masa itu 17 kerajaan kecil bersepakat membentuk sebuah serikat kerajaan Sejalan dengan

ini, Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia
Timur seperti Ternate, dan Bone.

Islam masuk di Gorontalo itu diperkirakan pada tahun 1300-an, namun perkembangannya
baru diketahui pada tahun 1490-an tepatnya pada saat Mesjid Sultan Amai didirikan sekaligus
mesjid ini menjadi tempat pusat awal perkembangan agama Islam di Gorontalo. Islam masuk
lewat jalur perkawaninan. Gorontalo adalah provinsi baru yang letaknya di Sulawesi bagian
12

utara. Daerah ini punya jejak zaman kepemimpinan di masa dulu, termasuk kepemimpinan
dalam kerajaan Islam.
Tokoh yang sangat berperan dengan pemikirannya yang religius Islami adalah istri Amai
sendiri yang bernama putri raja Palasa.Awalnya, saat Raja Amai ingin meminangnya, sang putri
yang berasal dari kerajaan Islam di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan.
Pertama, Sultan Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan, dan yang kedua adat kebiasaan
dalam masyarakat Gorontalo harus bersumber dari Alquran. "Dua syarat itu diterima oleh Amai.

Sebelum masa penjajahan dan kolonial, keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-
kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu
tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut Pohalaa. Dengan hukum adat itu maka
Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia

Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
Hulontalangio, nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo. Berasal dari: a)
Hua Lolontalango yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang. b) Hulontalangi
yang artinya lebih mulia. c) Hulua Lo Tola yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus. d)
Pongolatalo atau Puhulatalo yang artinya tempat menunggu. e) Gunung Telu yang artinya tiga
buah gunung. f) Hunto suatu tempat yang senantiasa digenangi air.

Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang
asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan
kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah Rechtatreeks Bestur .
Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa
dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu : Onder Afdeling Kwandang, Onder Afdeling Boalemo,
Onder Afdeling Gorontalo. Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
Distrik Kwandang, Distrik Limboto, Distrik Bone, Distrik Gorontalo, dan Distrik Boalemo. Pada
tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu : Afdeling Gorontalo, Afdeling
Boalemo, dan Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani


Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun
13

yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Gorontalo
menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk
Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Peninggalan sejarah yang masih dapat diliat ialah Al-Quran Tua dengan tulisan tangan,
Buku Me’raji tulisan tangan dalam bahasa gorontalo degan huruf arab gundul, Makam Sultan
Amai tepat dibawah Mighrab, makam para ulama masa tahun 1425-1495.

Masjid Sultan Amai begitu di namakan mesjid ini, sesuai dengan nama Sultan Amai
sendiri sebagai penyebar ajaran agama Islam di Gorontalo, mesjid ini kemudian di daulat
menjadi mesjid pertama di Gorontalo. Mesjid yang di bangun sekitar tahun 1495 M oleh Sultan
Amai yang memerintah di Kerajaan Gorontalo pada tahun 1472-1550 M. Masjid ini dibangun
dengan arsitektur yang unik,

Syekh Syarif Abdul Aziz ahli agama Islam dari Arab Saudi didatangkan langsung oleh
Raja Amai untuk menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan sampai saat ini masih
terbukti sebagian besar masyarakat Gorontalo menganut kepercayaan agama Islam atas upaya
dari Raja Amai.

Adapula bedug yang terbuat dari pohon Randu, dan kulit kambing yang sudah mulai
menipis dengan kondisi telah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga saat ini.
Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya asli dan
telah berumur lebih dari 600 tahun. Peninggalan asli lainnya adalah dan sumur tua yang tak
pernah kekeringan dengan diameter lingkaran tengah berukuran sama dengan sumur zam-zam.
Masyarakat setempat pun meyakini air sumur tua Mesjid Hunto Sultan Amai keramat dan sering
digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Mesjid ini pun diyakini keramat sehingga banyak
yang datang berkunjung dan berziarah. Tepat di mihrab berbatasan dengan tempat posisi Imam
berdiri merupakan makam Sultan Amai. Lokasi mimbar tersebut sering mengeluarkan aroma
yang harum alami tanpa pewangi buatan. Sedangkan dibagian belakang Mesjid merupakan
kuburan tua termasuk Syekh-Syekh zaman dulu yang turut serta menyebarkan agama Islam di
Gorontalo. Bentuk keramat lain biasanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang datang
14

dari kalangan peziarah. Biasanya dilihat dari tingkat keimanannya masing-masing, semakin
tinggi imannya maka semakin tinggi pula ujiannya.

Daftara Pustaka
Creswell, W.J. (2010). Reseach Design Qualitative and Quantitative Approach.Penerjemah
Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daulima, F. (2004). Aspek-Aspek Budaya Masyarakat Gorontalo.Banthayo Pobo’ide Limboto:


Fitrah

Eddy. (2009). “Kontinuitas Sejarah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional dalam Pembinaan
Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Jurnal IPS. “vol” 17, (32), 1-6.

Geertz, C. (1992). Tafsir Kebudayaan (Refleksi Budaya).KANISIUS: Yogyakarta.

Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohalaa : Pohalaa Gorontalo, Pohalaa Limboto, Pohalaa
Suwawa, Pohalaa Boalemo, dan Pohalaa Atinggola.

Hakam, A.K. (2007). Bunga Rampai Pendidikan Nilai. Bandung: Univ. Pendidikan Indonesia.

Keontjaraningrat. (1985). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Kuntowijoyo. (2006). Budaya dan Masyarakat (Edisi Paripurna).Yogyakarta:Tiara Wacana.

Lickona, T. (1992). Educating For Character How Our Schools Can Teach Respect and
Responsibility. New York-Toronto-London-Sydney-Auckland: Bantam Books.

Mattulada. 1990.”Sawerigading Folktole Sulawesi” Jakarta, Depdikbud, proyek Penelitian dan


Pengkajian Kebudayaan Nusantara

Miles, M dan Huberman, A.M. (2007). 77Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 14 No. 1, April
2013 Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Mohammad, F. et al.(2005). Menggagas Masa Depan Gorontalo. Yogyakarta: HPMIG Press.

Nur. S.R. 1979. “ Beberapa Aspek Hukum Adat Tata Negara Kerajaan Gorontalo Pada Masa
Pemerintahan Eato 1673-1679” Ujung Pandang Universitas Hasanuddin.

Nur. S.R. 1996. “ Islam dan Etos Kerja Masyarakat Gorontalo” Dalam kumpulan karangan Ruh
Islam dalam Budaya Bangsa” Jakarta Yayasan Festival Istiqlal.

Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa


Tahun 2010-2025.
15

Polontalo. 1998. “Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Gorontalo” Makalah Sekolah
Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Gorontalo.

Pujileksono, S. (2009). Antropologi (Edisi Revisi). Malang: UMM Press.

Sartini. (2004). “Menggali Kearifan Lokal”. Jurnal Filsafat, Jilid 37, ( 2)

Syam, F. (2009). Renungan BJ. Habibie Membangun Peradaban Indonesia.


Jakarta: Gema Insani.

Teng, Muhammad Bahar Akkase, 2014 “ Islam dan Peradaban di Sulawei Dala Perspektif
Sejarah” Makalah (paeper) yang dipresentasekan pada Seminar Internasional
dengan tema ”Melayu dalam berbagai Perspektif di Nusantara ” yang
dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 26 – 27 Nopember 2014 oleh Devisi
Kajian Melayu, Puslitbang, Dinamika Masyarakat, Budaya Dan Humaniora
Lembanga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Hasanuddin

Wulansari, D.C. (2009). Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Rafika Aditama.

Yayasan 23 Januari 1942. (1982). Perjuangan Rakyat di Daerah Gorontalo Menentang


Kolonialisme dan Mempertahankan Negara Proklamasi. Jakarta: Gobel Dharma
Nusantara. Tesis dan Jurnal