Anda di halaman 1dari 46

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

STRUKTUR ELEKTRONIK MOLEKULAR

OLEH :

Drs. I Wayan Suarsa, M.Si

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2017
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
anugerah-Nya Karya Tulis yang berjudul Struktur Elektronik Molekular ini dapat
terselesaikan.
Karya Tulis ini merupakan pengembangan bahan pengajaran yang memperkaya
materi kuliah Kimia Kuantum.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis ini masih banyak kekurangannya, maka saran
dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan.
Harapan penulis, semoga karya kecil ini dapat bermanfaat.

Denpasar, 22 Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………... ……….. i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ………. ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... ……….. iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………..………….. 1
BAB II MATERI ……………………………………………………………………… 2
1. Energi Disosiasi Molekul Diatomik ………………………………………. 2
2. Pendekatan Born-Oppenheimer …………………………………………… 5
3. Ion Molekul Hidrogen …………………………………………………….. 7
4. Deskripsi Orbital Molekul dari Molekul Hidrogen ……………………….. 15
5. Deskripsi Ikatan Valensi Molekul Hidrogen ……………………………… 17
6. Kalkulasi Akurat pada Molekul Hidrogen ………………………………… 18
7. Konfigurasi Elektron Molekul Diatomik Homonuklir ……………………. 20
8. Struktur Elektronik Molekul Poliatom : Metoda Ikatan Valensi …………. 26
9. Teori Orbital Molekular HÜCKEL ………………………………………. 34

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………. 42


DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... ………… 43

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Dengan mekanika kuantum dimungkinkan untuk memahami sifat ikatan kimia, dapat
meramalkan struktur, dan sifat dari molekul sederhana. Ide mengenai ikatan kovalen kembali
muncul pada tahun 1916, ketika Lewis menggambarkan pasangan elektron bebas antara
atom-atom. Pasangan elektron dimiliki bersama-sama oleh dua atom yang dianggap efektif
dalam melengkapi kestabilan konfigurasi elektron untuk setiap atom. Pendekatan ini hanya
memberikan gambaran kualitatif mengenai ikatan kimia. Sekarang ini, struktur elektronik
molekul sederhana dapat dihitung dengan derajat akurasi yang tinggi dan tingkat energi,
sudut ikatan, jarak ikatan, momen dipol, serta spektranya dapat diramalkan.

Masalah untuk menentukan gerakan elektron-elektron di dalam sembarang atom yang


mempunyai banyak electron adalah tidak mudah sebagaimana masalah dalam atom hydrogen.
Hal ini kebanyakan disebabkan oleh dua alas an sebagai berikut. Alasan pertama adalah
disebabkan oleh interaksi antara elektron-elektron yang tidak membolehkan sebuah perlakuan
terhadap gerak bebas dari seluruh elektron yang ada. Alasan kedua adalah disebabkan oleh
hadirnya momentum sudut dari elektron yang disebut dengan spin elektron yang tidak
mudah untuk ditangani, bahkan untuk sistem dengan dua elektron seperti pada sebuah atom
helium, persamaan gelombangnya tidak dapat dipecahkan secara sederhana dan langsung.
Untuk molekul lebih dari satu elektron, pendekatan harus dikenalkan. Penghitungan
berdasarkan pendekatan sangat bermanfaat dalam memahami struktur molekular, sifat kimia,
dan spektra molekular.

1
BAB II

MATERI

1. Energi Disosiasi Molekul Diatomik


Dalam sub bab ini, akan dibahas energi potensial E (R) sebagai fungsi jarak antar inti
R dari sejumlah molekul diatomik. Dalam Gambar 1, energi nol merupakan energi dari dua
atom yang terpisah pada jarak limit R → ∞. Pada saat inti bersama-sama, pertama kali terjadi
gaya tarik dan kemudian terjadi gaya tolak dimana E (R) minimum terjadi pada R e (jarak
keseimbangan antar inti). Pada jarak tersebut tidak ada gaya tarik maupun gaya tolak.
Kedalaman energi potensial minimum berkenaan dengan energi pada jarak pemisahan
tertentu, yang dinyatakan sebagai energi disosiasi kesetimbangan De atau kedalaman terbaik.
Ini merupakan energi disosiasi yang diperoleh langsung dari penyelesaian persamaan
Schrӧdinger untuk molekul diatomik, tetapi harus hati-hati dalam membedakannya dari
energi disosiasi spektroskopi, Do. Energi disosiasi spektroskopi, Do merupakan energi yang
diperlukan untuk disosiasi molekul ke tingkat vibrasi dasar menjadi dua atom.
Molekul diatomik dapat berada pada salah satu seri level energi vibrasi, dalam level
titik nol yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Energi potensial E (R) molekul diatomik sebagai fungsi jarak antar inti R. Do
adalah energi disosiasi dari tingkat dasar dan sering disebut energi disosiasi
spektroskopi. De adalah energi disosiasi kesetimbangan yang diukur dari energi
potensial minimum.

2
Sesuai dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg, molekul diatomik mempunyai energi
vibrasi sejumlah itu, bahkan pada temperatur nol absolut. Energi disosiasi kesetimbangan De
dan energi disosiasi spektroskopi Do dihubungkan dengan persamaan :

De = Do + 1/2 hω 0 …………………………………………………………… (1)

Dimana ω 0 adalah frekuensi vibrasi tingkat dasar (ground state).

Dua tipe energi disosiasi Do dan De untuk H2+ dan H2 diberikan pada Table 1. Harga
energi disosiasi dalam eV, cm-1 dan kJmol-1 sebab setiap satuan ini merupakan keuntungan
tertentu :

Hubungan antara eV dan cm-1 :

Ee (1 𝑉) (1,6021892 𝑥 10 −19 𝐶)
leV = hc = (6,626176 𝑥 10 −34 𝐽𝑠 ) (2,99792458 𝑥 10 8 𝑚𝑠 −1 ) (100𝑐𝑚 𝑚 −1 )

= 8065,478 cm-1

hubungan antara eV dan kJmol-1 :

1 eV = Ee NA = (1 V) (1,6021892 x 10-19 C) (6,022045 x 10-23 mol-1)/(103 JkJ-1)

= 96, 48455 kJmol-1

Pengukuran spektroskopi pada daerah ultraviolet, tampak, dan inframerah biasanya


dinyatakan dalam term panjang gelombang atau bilangan gelombang. Jadi hasil eksperimen
biasanya dinyatakan dalam cm-1 sebab konversi ke dalam satuan lain meliputi penggunaan
konstanta fisika yang harganya dapat berubah. Hasil perhitungan teoritis sering dinyatakan
dalan elektron volt.

Tabel 1. Energi Disosiasi H2+ (g) dan H2 (g) serta Potensial lonisasi H2(g) dan H(g)

eV cm-1 kJmol-1
H2+
Do 2,65079 21.380 255.760
1
/2 hω 0 0,142 1.147 13.701
De 2,793 22.527 269.481
H2
Do 4,47797 36.117 432.055a
1
/2 hω 0 0,2703 2.180 26.080
De 4,7483 38.297 461.486
IP (H2) 15,4259 124.417 1488.361
IP (H) 13,598396 109.677,6 1312.035
a
Energi disosiasi spektroskopi H2 ini sesuai dengan ΔHoo = 432,074 kJmol-1 dari tabel

3
Sebelum membahas perhitungan mekanika kuantum dari kurva energi potensial H2+
dan H2, harus dibahas dahulu hubungan antara kedua molekul ini dan aspek tertentu dari
kurva energi potensialnya. Kurva energi potensial tingkat dasar dari H2+ dan H2 ditunjukkan
dalam Gambar 2. Dalam gambar ini, energi diukur berkenaan dengan dua proton dan dua
elektron, berjarak tak terhingga satu sama lain. Potensial ionisasi IP (H2) untuk hidrogen
merupakan energi yang diperlukan untuk memindahkan elektron ke jarak tak terbatas dari
H2+.

Jadi level titik nol H2+ dan H2 terpisah dengan 15,4259 eV, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 2.

H2 (g) = H2+ (g) + e- IP (H2) = 15,4259 eV ……………………………………… (2)

Gambar 2. Energi potensial tingkat dasar untuk H2 dan H2+ beserta level vibrasi titik nol.
Energi diukur berkenaan dengan dua proton dan dua elektron pada jarak tak
terbatas.

Kurva energi potensial H2 dan H2+ pada jarak tak terbatas antar inti dipisahkan oleh
potensial ionisasi atom hidrogen pada tingkat dasar. Potensial ionisasi ini telah dihitung :

H(g) = H+(g) + e- IP(H) = 13,598396 eV ……………………………….......... (3)


Yang dapat dilihat dari Gambar 2.

IP(H2) + DO(H2) + IP(H) …………………………………………………….. (4)

4
Karena sulit untuk mengukur Do(H2+), hubungan ini telah digunakan untuk memperoleh
harga yang paling akurat dari besaran ini.

Do(H2+) = Do(H2) + IP(H) – IP(H2) ………………………………………… (5)

= 36.117 cm-1 + (13,598396 eV)(8065,478 cm-1eV-1) – 124.417 cm-1

= 21.377 cm-1

Sekarang kita telah menempatkan kurva energi potensial dalam konteks


pembicaraan mengenai perhitungannya dari mekanika kuantum. Kita ingin memahami
mengapa molekul stabil H2+ terbentuk jika dua proton dan satu elektron dibawa bersama-
sama dan mengapa molekul H2 yang bahkan lebih stabil terbentuk jika dua proton dan dua
elektron dibawa bersama-sama.

2. Pendekatan Born-Oppenheimer

Semua informasi untuk perhitungan molekul dapat diperoleh dengan menyelesaikan


persamaan Schrӧdinger Ĥψ = Eψ.

Operator hamilton Ĥ sangat rumit untuk meloekul, bahkan untuk molekul yang paling
sederhana H2+ . Born dan Oppenheimer menunjukkan suatu pendekatan yang dengan cara
yang sama untuk penyelesaian persamaan Schrӧdinger. Mereka menunjukkan bahwa
walaupun elektron bergerak jauh lebih cepat dari inti yang fungsi dari gelombang
elektroniknya ψelek dapat dihitung dengan inti pada posisi tertentu. Sebagai contoh, untuk ion
molekul hidrogen, inti A dan B terletak pada jarak antar inti R dan fungsi gelombang
elektroniknya ψelek dan energi nilai eigennya E(R) dihitung untuk jarak antar inti.
Perhitungan ini dapat diulang untuk suatu seri jarak antar inti untuk memperoleh energi
potensial E(R) sebagai fungsi R.

Untuk lebih eksak digunakan simbol-simbol. Menurut pendekatan Born-


Oppenheimer, gerakan inti dan elektron dapat dipisahkan sehingga operator Hamilton Ĥ
untuk molekul :

Ĥ = Ĥinti + Ĥelek ……………………………………………………………….. (6)


dimana Ĥinti mengandung term energi kinetik untuk gerakan Ĥinti dan Ĥelek mengandung term
energi kinetik dan potensial untuk gerakan elektron. Dalam pendekatan Born-Oppenheimer,

5
fungsi gelombang molekul ditulis sebagai produk fungsi gelombang 𝛹inti (R) untuk gerakan
inti dan fungsi gelombang 𝛹elek (r,R) untuk geraka elektron pada konfigurasi inti tertentu, R.

Ψ = 𝛹(inti) (R) 𝛹 elek (r,R) ……………………………………………………… (7)

Disini r menyatakan jarak inti-elektron dan elektron-elektron. Energi elektronik molekul E(R)
merupakan fungsi hanya untuk jarak antar-inti R.

Ĥelek Ψelek (r,R) = E(R) Ψelek (r,R) …………………………………………………………. (8)

Untuk ion molekul hidrogen

ħ² 𝑒² 1 1 1
Ĥelek = 2𝑚 ∇²elek - (
4𝜋𝐸˳ 𝑟𝐴
+ 𝑟𝐵 − 𝑅 ) …………………………………………………. (9)

dimana koordinatnya didefinisikan dalam Gambar 3.

Gambar 3. Koordinat dalam H2+. Dua proton diberi label A dan B

Term pertama adalah operator energi kinetik elektron. Term lainnya menyatakan gaya
tarik elektrostatik antara elektron dan inti serta gaya tolak elektrostatik antar inti ( perhatikan
bahwa kita menggunakan m untuk menyatakan massa elektron). Karena jarak antar inti R
konstan dalam perhitungan E(R), maka term gaya tolak inti e2/4𝜋 ∈oR tidak mempengaruhi
fungsi gelombang. Karena itu lebih lazim mengurangi term gaya tolak inti dan Hamilton
elektroniknya, yaitu :

ħ² 𝑒² 1 1
Ĥelek = - 2𝑚 ∇2elek - 4𝜋𝐸ₒ(𝑟𝐴 +𝑟𝐵 ) ………………………………………………….. (10)

dan persamaan Schrӧdinger elektroniknya adalah :

6
Ĥelekᴪ(r,R)=Eel(R) ᴪ(r,R) …………………………………………………… (11)

sehingga:

𝑒²
E(R)= Eel(R)+ 4𝜋𝐸ₒ𝑅 …………………………………………………………… (12)

merupakan energi total ion molekul hidrogen dengan mengabaikan energi translasi, vibrasi,
dan rotasi dari molekul secara keseluruhan, disini digunakan persamaan Schrӧdinger dengan
bentuk persamaan 11, dan jika persamaan 11 telah diselesaikan untuk variasi jarak inti maka
fungsi gelombang untuk gerakan inti dapat dihitung dari persamaan Schrӧdinger hanya untuk
gerakan inti. Fungsi gelombang untuk gerakan inti mengandung informasi mengenai gerakan
vibrasi dan rotasi.

3. Ion Molekul Hidrogen

Persamaan elektronik Schrӧdinger untuk molekul yang paling sederhana yang


diberikan oleh persamaan diatas, dapat diselesaikan dengan tepat. Perhitungan secara detail
tidak diberikan disini, tetapi hanya hasilnya saja. Pada setiap jarak antar inti dihasilkn suatu
seri harga Eel(R) dan karenanya juga E(R). untuk elektronik pada tingkat dasar, H2+
terdisosiasi menjadi proton dan atom hidrogen pada tingkat dasar pada R = ∞. Jadi, Eel(∞) =
-1/2H, seperti ditunjukkan dalam gambar 4. Pada R = 0, Eel(0) = -1/2(2)2 = -2H, sebab ini
merupakan energi dari He+ pada tingkat dasar. Keadaan minimum pada kurva E(R) (energi
elektronik termasuk gaya tolak antar inti) adalah 0, 106 nm. Hal ini sesuai dengan harga
sebenarnya (lihat Tabel 2, Energi disosiasi De diukur dari kedaan minimum kurva energi
potensial yaitu 2, 793 eV (269, 483 kJ mol-1).

Walaupun persamaan elektronik Schrӧdinger dapat diselesaikan secara tepat untuk


+
H2 , tetapi bertambahnya elektron atau inti memerlukan introduksi dari pendekatan. Karena
itu adalah menarik untuk melihat metoda orbital molekul sederhana berlaku untuk H2+.

Pendekaatan orbital molekul untuk H2+ kita mulai dengan ide bahwa dua proton
terpisah jauh, masing-masing mempunyai elektron pada orbital 1s.

Karena itu kita mengasumsikan bahwa pendekatan pertama, fungsi gelombang elektronik
untuk H2+ adalah :

7
ᴪ = C11sA + C21sB …………………………………………………………… (13)

dimana 1sA dan 1sB menyatakan fungsi gelombang 1s ternomalisasi berkenaan dengan proton
A dan B dan konstanta c1 dan c2 dievaluasi dengan metoda variasi. Fungsi gelombang seperti
itu dinyatakan sebagai fungsi LCAO (linear combination of atomic orbitals).

Gambar 4. Energi elektronik tingkat dasar H2+. Energi diplot berkenaan dengan dua proton
dan satu elektron, pada jarak tak terhingga.

Variasi energi E adalah :

⨜ᴪ∗Ĥᴪ𝑑𝜏 ⨜[C₁1sA + C₂1sB]Ĥ[C₁1sA +C₂1sB ] dτ


E= =
⨜ᴪ∗ᴪ𝑑𝜏 ⨜[𝐶₁1𝑠𝐴+𝐶₂1𝑠𝐵]²𝑑𝜏

c 21 H AA + 2 c1 c2 H AB + c 22 H BB
=
c 21 S AA + 2 c1 c2 S AB + c 22 S BB

c 21 H AA + 2 c1 c2 H BB + c 22 H BB
= …………………………………… (14)
c 21 + 2 c1 c2 S + c 22

dimana telah digunakan simbol-simbol berikut :

HAA = ʃ 1sA Ĥ 1sA dτ = ʃ 1sB Ĥ 1sB dτ = HBB ………………………………….. (15)

8
HAB = ʃ 1sA Ĥ 1sB dτ = ʃ 1sB Ĥ 1sAdτ ………………………………………… (16)

SAA = ʃ 1sA 1sA dτ = ʃ 1sB 1sBdτ = SBB = 1 …………………………………... (17)

SAB = ʃ 1sA 1sB dτ = ʃ 1sB 1sA dτ = SBA = S …………………………………… (18)

Integral yang dinyatakan oleh S, dinyatakan sebagai integral overlap. Menurut metode
variasi, harga terbaik c1 dan c2 dalam persamaan di atas yang memberikan harga E terendah.
Persamaan 14 dikalikan dan diturunkan terhadap c1 dan c2 sehingga :

𝜕𝐸 2𝑐1 (𝐻𝐴𝐴 − 𝐸) + 2𝑐2 (𝐻𝐴𝐵 − 𝑆𝐸)


= =0 ……………………………. (19)
𝜕𝐶₁ 𝑐12 + 2𝑐1 𝑐2 𝑆 + 𝑐22

𝜕𝐸 2𝑐1 (𝐻𝐴𝐵 − 𝑆𝐸) + 2𝑐2 (𝐻𝐵𝐵 − 𝐸)


= = 0 …………………………….. (20)
𝜕𝐶₂ 𝑐12 + 2𝑐1 𝑐2 𝑆 + 𝑐22

karena turunan ini sama dengan nol pada energi minimum. Harga c1 dan c2 diperoleh dengan
menyelesaikan dua persamaan berikut :

c1(HAA – E) + c2(HAB – SE) = 0 …………………………………………….. (21)

c1(HAB – SE) + c2(HBB – E) = 0 …………………………………………….. (22)

Penyelesaiannya tidaklah mudah untuk c1 dan c2 dari persamaan bila determinan koefisien c1
dan c2 sama dengan nol.

HAA – E HAB – SE

HAB – SE HBB – E = 0 …………………………………………………(23)

Persamaan ini dinyatakan sebagai determinan sekular sehingga menggunakan penyelesaian


Eɡ dan Eu.

H AA + H AB
Eɡ = …………………………………………………………… (24)
1 + S

H AA − H AB
Eu = ……………………………………………………………. (25)
1 − S

Integral HAA disebut integral Coulomb sebab perbedaan antara HAA dan energi atom hidrogen
tunggal hanyalah interaksi Coulomb dari elektron yang terpusat pada inti A dan B. Karena
interaksi ini adalah gaya tarik, kontribusinya terhadap HAA adalah negatif. Integral HAB
dinyatakan sebagai integral resonansi. Bila persamaan 24 atau 25 disubstitusi kembali ke
persamaan 21 akan diperoleh :
9
c1 = c2 atau c1 = - c2 …………………………………………………….. (26)

Dengan mensubstitusi persamaan tersebut kedalam persamaan 13 dan dengan


menormalisasikannya diperoleh :

1
𝛹𝘨 = [1sA + 1sB] ………………………………………………….. (27)
2 1+𝑆 1/2

1
𝛹𝑢 = [1sA + 1sB] ……………………………………………….. … (28)
2 1−𝑆 1/2

Disebabkan oleh simetri dari H2+ (D∞h) sehingga tidak mengejutkan bahwa orbital dua proton
beratnya sama.

Jadi molekul mempunyai sifat simetri, fungsi gelombang dapat atau tidak dapat
berubah tanda jika diinversikan melalui pusat simetri. Jika Ψ(x,y,z) = Ψ(-x,-y,-z), fungsi
gelombangnya mempunyai paritas genap dan diberi tanda dengan subskrip ɡ untuk ‘ɡerade’
(Bahasa Jerman berarti genap). Jika Ψ(x,y,z) = -Ψ(-x,-y,-z) fungsi gelombangnya mempunyai
kesamaan ganjil dan diberi tanda subskrip u untuk ‘unɡerade’ (Jerman berarti ganjil). Ini
merupakan asal mula dari Ψɡ dan Ψu.

Gambar 5. Ion molekul hidrogen (a). densitas probabilitas Ψɡ2 untuk fungsi gelombang genap
sepanjang garis yang melalui dua inti. (b) Densitas probabilitas Ψu2 untuk fungsi
gelombang ganjil. Dalam dua bagian, garis putus-putus merupakan setengah
densitas elektron untuk dua atom hidrogen yang terpisah. Densitas probabilitas di
luar inti di sebelah kiri dan kanan pada dasarnya diharapkan untuk pemisahan
atom hidrogen.

10
Densitas probabilitas elektron sepanjang garis dari dua inti diberikan untuk Ψɡ dan
Ψu dalam Gambar 5, dibandingkan dengan densitas probabilitas yang diharapkan untuk dua
atom hidrogen yang terpisah pada tingkat 1s. Kuadrat fungsi gelombang :

1
Ψɡ2 = 2(1+𝑆) [(1sA)2 + 2(1sA)(1sB) + (1sB)2] …………………………………. (29)

1
Ψu2 = 2(1−𝑆) [(1sA)2 - 2(1sA)(1sB) + (1sB)2] ………………………………… (30)

menunjukkan bahwa densitas elektron naik antara inti dengan Ψɡ2 dan turun dengan Ψu2.
Kenyataannya, Ψu densitas elektron adalah nol pada bidang yang memotong garis antara
proton yaitu simpul yang berada dipertengahan diantara proton.

Hal ini merupakan penambahan densitas elektron antara proton dengan Ψɡ2 yang
bertanggung jawab untuk ikatan. Karena orbital ini simetri disekeliling aksis antar inti, maka
dinyatakan sebagai orbital sigma dan karena genap (ɡerade) dan disusun oleh dua orbital 1s
maka dinyatakan 𝜎ɡ 1s.

Untuk fungsi gelombang molekul Ψu dengan segera terdisosiasi sehingga orbital


molekular ini dinyatakan sebagai orbital anti bonding. Orbital anti bonding ini simetris di
sekitar aksis antar inti dan dinyatakan sebagai orbital 𝜎u 1s. energi untuk Ψu jelaslah lebih
tinggi dari Ψɡ, sehingga HAB harus negatif.

Harga Eɡ dihitung dari persamaan 24 dengan melakukan integrasi untuk harga E(R)
yang berbeda dan betul-betul menunjukkan harga minimum, sehingga ini merupakan teori
orbital molekular yang sangat sederhana yang dapat menghitung ikatan dalam H2+.
Bagaimanapun, diperoleh hasil Re = 0,123 nm (aktual = 0,106 nm) dan De = 1,77 eV (aktual
= 2,793 eV). Perhitungannya dapat dikembangkan dengan penambahan lebih lanjut term
untuk fungsi gelombang dan dengan menggunakan metode variasi untuk mengevaluasi lebih
lanjt parameter yang dapat disesuaikan.

Untuk membahas tingkat eksitasi berikut ini, perlu perlu diperhatikan cara dalam
mana orbital atom selain daripada 1s dapat digabungkan satu sama lain. Cara dalam mana
atom bergabung jika atom-atom dibawa bersama-sama, diilustrasikan secara skematis pada
Gambar 6.

11
Selagi atom berdekatan satu sama lain (R→0) terbentuk kesatuan atom. Dalam kasus
H2+, kesatuan atom mempunyai inti dengan muatan +2 dan elektron tunggal sehingga ini
adalah He+. Selagi (R→0) dua puncak Ψɡ bergabung untuk membentuk tingkat 1s dari He+.
Karena kita dapat memvisualisasi transisi kontinyu dari H (1s) dalam atom terpisah terbatas
sampai He+ (1s) dalam batas kesatuan atom, dua tingkat ini dikatakan terkorelasi. Selagi
(R→0) dua puncak Ψu bergabung membentuk tingkat 2p dari He+. Alasan bahwa H(1s)
dalam batas pemisah atom yang berkorelasi dengan H+(2p) adalah bahwa Ψu mempunyai
bidang simpul antara dua inti. Oleh karena itu fungsi gelombang untuk kesatuan atom harus
mempunyai bidang simpul yang melalui inti. Hal ini bersesuaian dengan orbital 2p dari H e+
yang aksisnya terorientasi kea rah ikatan H-H.

Untuk kedua fungsi gelombang Ψɡ dan Ψu, momentum sudut di sekitar aksis z adalah
nol. Secara umum untuk elektron dalam molekul diatomik, momentum sudut aksialnya
adalah:

Lz = ±𝜆ħ …………………………………………………………………… .. (31)

dimana λ bersesuaian dengan harga absolute m₁ untuk suatu atom. Adalah lazim
menggunakan bilangan kuantum momentum sudut aksial untuk mengklasifikasikan tingkat
elektron dari molekul diatomik, seperti s, p, d, f, … yang digunakan untuk
mengklasifikasikan orbital atom dengan l = 0, 1, 2, 3, …

Dalam kasus ini, simbul huruf Yunani digunakan sebagai berikut :

λ 0 1 2 3

Orbital σ π δ ϕ

Orbital molekular diberi label dengan menggunakan bilangan kuantum ini. Dalam
pendekatan kesatuan atom, simbul orbital atom yang bersesuaian diberi pertama kali
kemudian λ untuk orbital H2+, Ψɡ→1s𝜎ɡ dan Ψu→2p𝜎u dari sudut pandang kesatuan atom.
Dalam pendekatan pemisahan atom, harga λ diberikan pertama kali kemudian orbital atom
yang bersesuaian, jadi Ψɡ→𝜎ɡ 1s dan Ψu→𝜎u 1s. dalam membahas molekul, orbital setiap
spesies diberi nomor sederhana untuk kenaikan energi, jadi Ψɡ→1𝜎ɡ dan Ψu→1𝜎u. Simbol
untuk orbital dengan energi yang lebih tinggi ditunjukkan dalam Gambar 6. Keadaan dasar
untuk H2+ adalah satu-satunya dimana densitas elektron dalam daerah antar inti cukup besar
untuk menghasilkan molekul yang sangat stabil.

12
Gambar 6. Kombinasi orbital pada pemisahan atom yang membentuk orbital molekul
diatomik dan kesatuan atom yang bersesuaian. Garis putus-putus mengelilingi
daerah dimana densitas elektron adalah signifikan. Kurva solid dan garis
menyatakan permukaan simpul.

13
Diagram korelasi untuk H2+ ditunjukkan dalam Gambar 7. Perhatikan bahwa orbital
2𝜎ɡ dapat dibentuk dari baik level 2s maupun 2pdari H + H+.

Gambar 7. Diagram korelasi untuk level energi H2+ . Skala energinya adalah skematik.
Perhatikan bahwa garis untuk orbital ikatan miring ke kanan atas dan garis untuk
orbital anti ikatan miring ke kanan bawah.

14
Gambar 8 menunjukkan kurva energi potensial untuk keadaan dasar H2+ dan satu seri
tingkat tereksitasi. Energi ini dapat dihitung dengan derajat akurasi yang diinginkan.

Gambar 8. Tingkat dasar dan tereksitasi H2+. Energi diukur relatif untuk melengkapi proton
dan satu elektron yang terpisah.

4. Deskripsi Orbital Molekul dari Molekul Hidrogen

Dalam memulai dari H2+ ke H2 kita menggunakan pendekatan yang sama dengan
memulai dari atom hidrogen atom ke atom helium. Yaitu, kita mengasumsikan bahwa setiap
elektron dapat ditentukan untuk suatu orbital sehingga fungsi gelombang elektroniknya untuk
molekul adalah produk dari dua fungsi gelombang untuk dua elektron.

Ψmo = Ψi(1) Ψj(2) ……………………………………………………………. (32)

dimana i dan j menandakan perbedaan orbital, 1 dan 2 menandakan kedua elektron. Sesuai
dengan prinsip Pauli, dua elektron dengan spin berlawanan dapat ditentukan untuk orbital
ruang tertentu (spatial orbital), sehingga sebagai pendekatan pertama kali akan

15
mengasumsikan bahwa pada tingkat dasar molekul hidrogen, dua elektronnya ditempatkan
dalam orbital 1σg yang membentuk H2+ . Jadikonfigurasi elektron H2 akan digambarkan
sebagai (1σg)2 , seperti kita menggambarkan konfigurasi elektron untuk He yaitu (1s)2.
Elektron dengan spin berlawanan dengan menunjuk satu untuk spin orbital 1σgα dan yang
lain spin orbital 1𝜎ɡ𝛽. Dengan menggunakan persamaan 27 dan 32 mengarah pada :

ΨMO[(lσg)2] = lσg(1)lσg(2)𝛼 1 𝛽(2)

[1𝑠𝐴 (1) + 1𝑠𝐵 (1)] [1𝑠𝐴 (2) + 1𝑠𝐵 (2)] 𝛼 1 𝛽(2)


= 2 ( 1 + 𝑆𝐴𝐵 )
…………… (33)

Orbital molekul ini masih tidak memuaskan dari sudut pandang prinsip Pauli sebab tidak anti
simetri berkenaan dengan pertukaran elektron. Seperti dalam kasus He, defisiensi ini dapat
diperbaiki dengan mengganti 𝛼 1 𝛽(2) dengan besaran [𝛼 1 𝛽 2 − 𝛼 2 𝛽(1)]√2.
Bagaimanapun tidak akan diikuti hal ini sebab fungsi spin yang digunakan tidak
mempengaruhi harga E(R) yang diperoleh dari persamaan Schrӧdinger dengan menggunakan
ΨMO.

Gambar 9. Koordinat dalam molekul hidrogen. Dua proton dinyatakan sebagai A dan B

Dengan menggunakan pendekatan Born-Oppenheimer, Hamiltonian elektronik


molekul hidrogen adalah :

ћ2 𝑒² 1 1 1 1 1
Ĥel = ─ 2𝑚 (∇12 + ∇22 ) + −𝑟 −𝑟 −𝑟 −𝑟 − 𝑟₁₂ …………….. (34)
4𝜋𝐸˳ 𝐴1 𝐴2 𝐵1 𝐵2

dimana koordinatnya didefinisikan dalam Gambar 9. Seperti dalam kasus H₂+, energi
elektronik Eel dapat dihitung dari persamaan 11 dan energi termasuk gaya tolak antar inti
dihitung dengan menggunakan persamaan 12.

Jika E(R) dihitung sebagai fungsi R menggunakan ψMO [(1𝜎ɡ)2], maka dijumpai
bahwa Re = 0,084 nm (eksperimental = 0,074 nm) dan De = 2,65 eV (eks = 4,75 eV).

16
Kesalahan besar pada perhitungan energi sebagian disebabkan oleh pendekatan yang meliputi
pendekatan LCAO dan penggunaan orbital satu elektron. Fungsi gelombang ini mempunyai
defisiensi (kekurangan) serius lainnya dalam mana hal itu menggambarkan situasi dimana H2
tampaknya terdisosiasi menjadi dua atom netral atau menjadi H- dan H+, bagaimanapun
tingkat dasar selalu terdisosiasi menjadi dua atom netral. Oleh karena itu kita harus melihat
pendekatan yang lain.

5. Deskripsi Ikatan Valensi Molekul Hidrogen

Metoda ini merupakan basis untuk perlakuan mekanika kuantum pertama. Dalam
tahun 1927 Heitler dan London mengembangkan pendekatan yang menggunakan fungsi dua
elektron untuk menyatakan ikatan pasangan elektron. Konstruksi fungsi gelombang ikatan
valensi untuk H2 dimulai dengan observasi bahwa untuk R→∞ fungsi gelombangnya harus
mendekati bentuk 1sA(1) 1sB(2), karena molekul terdisosiasi menjadi dua atom 1s H yang
terpisah. Kuadrat fungsi gelombang ψ merupakan fungsi densitas probabilitas sistem dan
sama dengan produk dua densitas probabilitas [1sA(1) 2] dan [1sB(2)2]. Jadi probabilitas untuk
menemukan elektron (1) pada volume tertentu dan elektron (2) pada volume spesifik lainnya
adalah sama dengan produk dua probabilitas.

Selagi dua atom dibawa bersama-sama lebih dekat, sistemnya dapat secara kontinyu
digambarkan oleh fungsi gelombang ini, kecuali elektronnya tidak dapat dibedakan. Tidak
dapat dibedakannya elektron ini diperhitungkan dengan menggunakannya sebagai fungsi
gelombang, jumlah dua fungsi gelombang ;

ψVB = 1sA(1)1sB(2) + 1sA(2)1sB(1) …………………………………………….. (35)

dimana VB = valence bond.

Fungsi gelombang ini merupakan basis perlakukan Heitler-London (1927) yang memberikan
harga teoritis yang masuk akal untuk pertama kali bagi energi disiosiasi H2. Bentuk ini tidak
memuaskan untuk fungsi gelombang H2 sebab tidak melibatkan spin. Tahap-tahap dalam
konstruksi fungsi ikatan valensi (VB) anti simetri untuk H2 sangat mirip dengan pembahasan
tingkat eksitasi pertama atom He. Hal ini mengarah pada fungsi gelombang anti simetri
berikut:

Singlet:

17
1
ψ1 = 21/2 [ 1sA(1)1sB(2) + 1sA(2)1sB(1) ] [ α(1)β(2) ─ α (2) β(1) ] ………….. (36)

Triplet:

1
ψ2 = 21/2 [ 1sA(1)1sB(2) – 1sA(2)1sB(1) ]α(1)α(2) …………………………… (37)
1
ψ3 = 21/2 [ 1sA(1)1sB(2) – 1sA(2)1sB(1) ]β(1)β(2) …………………………... (38)

1
ψ4 = 21/2 [ 1sA(1)1sB(2) – 1sA(2)1sB(1) ][ α(1)β(2)+α(2)β(1) ] ………………. (39)

Karena bagian ruang ψ1 merupakan jumlah dua kontribusi, maka densitas


elektronnya bertambah besar di antara inti, dibandingkan dengan dihitung untuk ψ2, ψ3, atau
ψ4. Perhitungan perkiraan energi dengan operator Hamilton untuk H2 diperoleh Re = 0,087
nm (eksp: 0,074 nm) dan De = 3,14 ev (eksp: 4,75 eV). Jadi ψ1 menghasilkan harga De
menjadi lebih akurat tetapi harga Re kurang akurat dibanding dengan fungsi gelomang
molekul sederhana (persamaan 33). ψ1 tidak dapat difaktorkan menjadi orbital satu elektron
seperti yang bisa untuk ψMO[(𝜎g)2], bahkan jika hal ini memberikan fungsi gelombang yang
lebih benar dalam batas R→ ∞.

6. Kalkulasi Akurat pada Molekul Hidrogen

Tahap berikut adalah memperhatikan ψVB dan ψMO untuk mengidentifikasi


kelemahannya dan menambahkan term dengan koefisien variabel untuk mengoreksi
kekurangannya. Jika kita mengalikan bagian ruang sebelah luar dari ψMO kita memperoleh:

1
ψMO = [1sA(1)1sA(2) + 1sB(1)1sB(2) + 1SA(1)1SB(2) + 1sA(2)1sB(1)] … (40)
2 (1+𝑆𝐴𝐵 )

Term pertama menggambarkan tingkat HA-HB+ dan term kedua menggambarkan tingkat
HA+HB-. kita telah mengidentifikasikan sebagai permasalahan sebelumnya, sebab ψMO
menggambarkan tingkat keadaan R = ∞ yaitu 50% H+ dan H- dan 50% H + H. permasalahan
ini dapat direduksi dengan memperkenalkan koefisien variabel c1 dan c2 dalam :

ψ = c1(R) ψkovalen + c2ψionik ………………………………………………….. (41)

dimana

18
ψkovalen = 1sA(1)1sB(2) + 1sA(2)1sB(1) ………………………………………… (42)

ψionik = 1sA(1)1sA(2) + 1sB(1)1sB(2) ………………………………………….. (43)


Dengan menggunakan metoda variasi, harga c1 dan c2 dapat ditentukan pada setiap harga R.

Ikatan valensi fungsi gelombang sederhana mempunyai kelemahan yaitu harganya


yang kecil ketika elektron dekat dengan satu sama lain. Jadi ini dapat diperbaiki dengan
menambahkan term ionik. Ini juga mengarah pada persamaan 41. karena persamaan 41
menghasilkan Re = 0,0749 nm (eks = 0,074139 nm) dan De = 4,00 eV (eks = 4,7483 eV),
pencatuman satu parameter variasi mengarah pada perbaikan yang layak.

Dari sudut pandang orbital molekular, persamaan 41 dapat ditulis dalam bentuk
ekuivalen :

ψ = c3(R) ψMO[(1𝜎g)2] + c4(R) ψMO[(1𝜎u)2] …………………………………… (44)

Konfigurasi campuran ini, dalam kasus ini (1𝜎g)2 dan (1𝜎u)2 adalah suatu contoh interaksi
konfigurasi. Dengan menggunakan komputer, lebih banyak konfigurasi dapat dimasukkan.
Dengan menggunakan 100 term fungsi gelombang Kolos dan Wolniewicz memperoleh D o =
36.117,8 cm-1. Harga teoritis jarak antar inti H2 adalah 0,074140 nm dibandingkan dengan
harga eksperimental pengukuran spektroskopi 0,074139 nm.

Molekul Hidrogen mempunyai jumlah tak terbatas tingkat elektron tereksitas. Kurva
energi potensial beberapa diantaranya ditunjukkan dalam Gambar 10. Energi dari beberapa
tingkat tereksitasi dinyatakan oleh formula Rydberg, sehingga dinyatakan sebagai tingkat
Rydberg. Karena H2+ mempunyai tingkat dasar yang stabil maka akan mempunyai orbit
elektron pada jarak tertentu. Pada tingkat Rydberg, orbit elektron mengitari muatan positif
ini.

Ikatan antar dua atom Hidrogen merupakan perkecualian dalam hal mana sumber
utama energi tolakan disebabkan gaya tolak elektrostatik proton. Untuk ikatan kovalen tidak
melibatkan atom Hidrogen, setiap inti dilindungi oleh elektron bagian dalam.

19
Gambar 10. Kurva energi potensial untuk tingkat dasar dan tereksitasi dari H2.

Gaya tolak muncul bila bagian tengah elektron dalam hal ini, mulai terjadi interpenetrasi. Jika
ditambahkan elektron ketiga pada ikatan maka menghasilkan H2-, harus ditambahkan orbital
anti bonding, seperti disyaratkan oleh prinsip ekslusi Pauli. Karena orbital anti bonding
mempunyai energi yang jauh lebih tinggi, ini mengarah pada energi tinggi untuk H2- dan
ketidakstabilan untuk H2 + e-.

7. Konfigurasi Elektron Molekul Diatomik Homonuklir

Pendekatan orbital molekular mempunyai keuntungan bahwa molekul dapat


digambarkan dalam term deretan orbital, masing-masing megandung dua elektron dengan
spin berlawanan. Setiap elektron digambarkan oleh satu fungsi gelombang elektron. Orbital
ini dinamai setelah tingkat molekul H2+. Seperti kita lihat pada sub bab 3, orbital ini
diklasifikasikan menurut bilangan kuantum λ untuk rotasi fungsi gelombang disekitar aksis
antar inti.

20
Diagram korelasi untuk molekul diatomik homonuklir secara umum lebih rumit
daripada untuk H2+ dan H2 (Gambar 8), sebab level energi dengan lebih dari satu elektron
bergantung pada bilangan kuantum momentum sudut l dan juga bilangan kuantum utama n,
sebagai contoh tingkat 2s dan 2p mempunyai energi yang berbeda. Diagram korelasi untuk
molekul diatomik homonuklir diberikan pada Gambar 11 Garis antara level dalam kesatuan
atom dan dalam pemisahan atom digambarkan sedemikian rupa sehingga momentum sudut (l
dan λ) dan paritas (g dan u) tetap tidak berubah. Orbital dihubungkan sesuai dengan kenaikan
energi.

Struktur elektronik molekul diatomik homonuklir berturut-turut diperoleh dengan


diagram korelasi dengan menggunakan prinsip Aufbau, yaitu elektron ditambahkan pada
orbital berpasangan, sesuai kenaikan energi.

Tabel 2. Tingkat Dasar Molekul Diatomik Homonuklir dan Ion

De
Molecule Number of Configuration Bond Re/nm eV kJ mol-1
Elektrons Order
H2+ 1 (1𝜎g) 1/2 0.106 0 2.793 269.483
2
H2 2 (1𝜎g) 1 0.074 12 4.7483 458.135
He2+ 3 (1𝜎g)2(1𝜎u) 1/2 0.108 0 2.5 238
2 2
He2 4 (1𝜎g) (1𝜎u) 0 ___ ___ ___
Li2 6 [He2] (2𝜎g)2 1 0.267 3 1.14 110.0
2 2
Be2 8 [He2] (2𝜎g) (2𝜎u) 0 ___ ___ ___
B2 10 [Be2](1πu) 2
1 0.158 9 ̴ 3.0 ̴ 290
C2 12 [Be2](1πu)4 2 0.124 2 6.36 613.8
+
N2 13 [Be2](1πu) (3𝜎g)
4
2 1/2 0.111 6 8.86 854.8
N2 14 [Be2](1πu)4(3𝜎g)2 3 0.109 4 9.902 955.42
O2 +
15 [N2] (1πg) 2 1/2 0.112 27 6.77 653.1
O2 16 [N2] (1πg) 2
2 0.120 74 5.213 502.9
F2 18 [N2] (1πg) 4
1 0.143 5 1.34 118.8
Ne2 20 [N2] (1πg) (3𝜎u)
4 2
0 ___ ___ ___

21
Gambar 11. Diagram Korelasi untuk Molekul Diatomik Homonuklir. Skala Energi adalah
Skematis, tetapi Garis Putus-putus Menunjukkan Urutan yang Benar untuk
Pengisian dari Molekul yang Dimaksud.

Perhatikan bahwa urutan energi orbital bervariasi terhadap R. Dua elektron dapat
ditempatkan pada level 𝜎 dan empat elektron pada level π atau δ (karena Lz = +λħ membuat
degenerasi orbital dua kali lipat). Konfigurasi elektron tingkat dasar dari molekul diatomik
homonuklir deret pertama tabel periodik dimuat pada Tabel 2. Dalam molekul dengan banyak
elektron, elektron bagian dalam cenderung terkonsentrasi disekitar inti dan mengambil bagian
yang kecil dalam pembentukan ikatan. Kenyataannya bahwa konfigurasi yang tercantum
dalam tabel tidaklah berarti bahwa molekul terseut stabil. Orbital yang cenderung menambah

22
densitas elektron antar atom dinyatakan sebagai orbital ikatan. Orbital ikatan adalah 1𝜎g,
2𝜎g, 1πu, 3𝜎g, … Orbital dengan bidang simpul antar inti adalah orbital anti ikatan. Jadi 1𝜎u,
2𝜎u, 1πg, dan 3𝜎u adalah orbital anti ikatan. Perhatikan bahwa orbital molekul diatomik
homonuklir adalah berpasangan, satu ikatan dan satu anti ikatan. Kekuatan ikatan dari
elektron dalam orbital ikatan biasanya agak kurang dibandingkan dengan kekuatan anti ikatan
elektron dalam orbital anti ikatan.

Adalah bermanfaat mendefinisikan orde ikatan yang secara kasar sebanding dengan
kekuatan ikatan. Orde ikatan sama dengan jumlah pasangan elektron ikatan dikurangi dengan
jumlah pasangan elektron anti ikatan. Orde ikatan 1, 2, dan 3 bersesuaian dengan apa yang
biasanya kita sebut sebagai ikatan tunggal, double, dan triple.

He2+ [elek; konfigurasi: 3; (1𝜎g)2(1𝜎u)]

Elektron ketiga pada ion molekular ini adalah orbital anti ikatan. Tetapi terdapat
ikatan netto ( bersih, net bonding) sebab terdapat dua elektron pada orbital ikatan. Ion ini
teramati pada bunga api listrik.

He2 [elek; konfigurasi: 4; (1𝜎g)2(1𝜎u)2]

Menurut teori orbital molekul sederhana, satu pasang elektron akan menempati orbital
1𝜎g dan satu pasang akan menempati 1𝜎u. Karena baik orbital ikatan maupun orbital anti
ikatan telah terisi, maka tidak ada penurunan energi seperti dibandingkan dengan dua atom
Helium terisolasi, dan molekul stabil He2 tidak terbentuk.

Li2. [elek; konfigurasi: 6; (He2)(2𝜎g)2]

Pasangan elektron tambahan diluar He2 menuju orbital 2𝜎g. Jadi terdapat ikatan
tunggal antara dua inti. Uap logam lithium terutama sekali adalah monoatom sebab ikatan Li2
adalah sangat lemah.

Be2. [elek; konfigurasi: 8; (He2)(2𝜎g)2(2𝜎u)2]

Pasangan elektron tambahan di luar Li2 menuju orbital anti ikatan 2𝜎u. Jadi seperti
dalam kasus He2, tidak ada stabilisasi netto seperti dibandingkan dengan atom Be terisolasi.

23
B2. [elek; konfiguasi: 10; (Be2)(1πu)2]

Menurut Gambar 11, pasangan elektron tambahan di luar Be2 menuju orbital 1πu
terbentuk ikatan tunggal dan molekul diatomik stabil. Pengukuran spektroskopi menunjukan
bahwa tingkat dasar adalah triplet, sehingga dua elektron sebelah luar berbeda orbital 1πu
nya. Jika terdapat beberapa orbital dengan energi yang sama, maka aturan Hund
mengharuskan elektron menyebar sendiri diantara beberapa orbital. Karen terdapat dua
elektron tak berpasangan maka tingkat dasarnya adalah triplet.

C2. [elek; konfigurasi: 12; (Be2)(1πu)4]

Dua elektron tambahan di luar B2 mengisi dua setengan vakan orbital ikatan 1πu. Jadi
C2 mempunyai empat elektron pada orbital ikatan yang tidak diimbangi oleh elektron yang
bersesuaian dengan orbital anti ikatan. Karena C2 mempunyai orde ikatan 2, dibandingkan 1
untuk B2, maka kita dapat berharap C2 mempunyai ikatan yang lebih kuat dan jarak antar inti
yang lebih kecil diandingkan dengan B2.

Walaupun C2 ada dalam gas temperatus tinggi yang kaya dengan karbon tetapi juga
terdapat spesies lain (C3, C4, ...) dan karbon membentuk jaringan pada tingkat padatan
(diamond dan grafit) daripada terkondensasi menjadi C2. Kedua fenomena ini disebabkan
oleh kenyataan bahwa energi 1πu dan 3𝜎g begitu dekat dimana molekul C2 dengan mudah
meningkat pada konfigurasi eksitasi [Be2](1πu)3(3𝜎g). Elektron tak berpasangan dalam
molekul ini dapat membentuk ikatan dengan karbon berikutnya dan memperoleh energi yang
cukup untuk mengimbangi energi eksitasi.

N2. [elek; konfigurasi: 14; [Be2](1πu)4(3𝜎g)2].

Pasangan elektron tambahan di luar C2 mengisi orbital ikatan 3𝜎g. Jadi N2 mempunyai
tingkat dasar singlet dan ikatan triplet. Disebabkan oleh ikatan yang kuat ini untuk
membentuk molekul diatomik, maka gas nitrat terkondensasi membentuk kristal molekular.
Tingkat eksitasi pertama N2 adalah 6,2 eV di atas tingkat dasar.

O2. [elek; konfigurasi : 16 : [N2](1𝜋𝑔)2]

Menurut teori orbital molekul sederhana, pasangan elektron tambahan di luar N2


menuju orbital 1𝜋𝑔. Karena terdapat dua degenerasi orbital 1𝜋𝑔, maka dua elektron dapat
menuju baik orbital yang sama atau yang berbeda. Jika menuju orbital yang sama akan
terbentuk tingkat singlet dan jika menuju orbital yang berbeda akan terbentuk tingkat
24
triplet. Seperti dalam kasus atom dimana aturan Hund meramalkan bahwa tingkat
triplet akan mempunyai energi yang lebih rendah, dalam O2 elektron menuju orbital
yang berbeda dan mempunyai spin paralel. Oleh karena itu, tingkat dasar O2
mempunyai spin satu yang bersifat paramagnetik. Ramalan ini merupakan satu-satunya
keberhasilan awal teori MO.

F2. [elek; konfigurasi : 18 : [N2](1𝜋𝑔)4]

Dua elektron tambahan diluar O2 mengisi orbital 1𝜋𝑔 sehingga tingkat dasarnya
adalah singlet. Karena pasangan elektron dalam dua orbital anti bonding 1𝜋𝑔
menghapus/mengkansel ikatan disebabkan dua pasangan elektron dalam orbital ikatan,
maka ikatannya lebih lemah dari pada O2, dan jarak antar inti lebih besar.

Ne2. [elek; konfigurasi: 20 : [N2](1π𝑔)4(3𝜎u)2].

Orbital 3𝜎u akan terisi sehingga pengaruh anti ikatan mengkansel pengaruh ikatan dan
tidak ada molekul stabil yang terbentuk.

Gambar 12 menunjukkan bentuk diagram untuk densitas elektron dari molekul


diatomik stabil untuk H2 sampai F2. Densitas elektron ini dihitung dengan metode Hartree-
Fock.

Diagram korelasi dapat dibuat untuk molekul diatomik heteronuklir tetapi harus
diperhatikan kenyataan bahwa level energi dalam dua atom dapat sangat berbeda. Untuk
orbital atom dalam dua atom yang terlibat dalam ikatan, mereka harus mempunyai kesamaan
𝜎, 𝜋, … sifat-sifat dan energi yang tidak terlalu berbeda. Elektron dalam molekul diatomik
heteronuklir cenderung terlokalisasi di sekitar satu inti daripada inti lainnya, sehingga
molekul cenderung mempunyai momen dipol. Dalam kasus ekstrim terbentuk molekul lonik.
Perbedaan afinitas atom yang berbeda dalam molekul untuk elektron dibahas dalam term
elektronegativitas.

Fungsi gelombang untuk molekul poliatom bergantung pada semua jarak ikatan dan
sudut ikatan. Untuk menghitung konfigurasi kesetimbangan, perlu menghitung fungsi
gelombang untuk kisaran jarak dan sudut ikatan.

25
Gambar 12. Densitas Elektron untuk Molekul Diatomik Kovalen. Densitas Muatan Diplot
dalam Elektron Perkubik bohr. Kontur Garis yang Berdekatan Berbeda dengan
Faktor 2. Kontur Garis paling dalam untuk Setiap Diagram adalah 1 Elektron
(bohr)-3, kecuali untuk H2, 0,25 elektron (bohr)-3. Kontur Garis paling luar
adalah 6,1x10-5 Elektron (bohr)-3 dalam Semua Kasus. Satu bohr = 5,29x10-11m.

Terdapat dua tipe perhitungan mekanika kuantum, ‘ab initio’ dan semi empiris.
Dalam perhitungan ‘ab initio’ digunakan Hamiltonian terkoreksi dan penyelesaiannya dicari
tanpa data eksperimental. Dalam perhitungan semi empiris digunakan pendekatan
Hamiltonian dan paramter dapat diatur agar sesuai dengan pemasukan data eksperimental.

8. Struktur Elektronik Molekul Poliatom : Metoda Ikatan Valensi

Struktur elektronik molekul poliatom dapat juga digambarkan dengan metoda orbital
molekular LCAO (Linear Combination of Atomic Orbital = KLOA), tetapi dengan metoda

26
ini energi elektronik akan bergantung pada sudut dan jarak antar inti. Oleh karena itu, dengan
menemukan kesetimbangan geometrinya dan dengan meminimalkan energi (dihitung dengan
metoda variasi) berkenaan dengan semua koordinaty merupakan proses yang sulit dan
memakan waktu. Perhitungan seperti ini lebih bersifat rutin daripada dengan adanya
komputerenergi yang lebih bermanfaat. Ketepatan perhitungan bergantung pada jumlah
orbital atom yang digunakan. Jika digunakan sejumlah besar orbital atom atau sekelompok
orbital dasar, maka jarak antar inti dan sudut ikatan molekul kecil (kurang dari ~ 6 atom)
dapat dihitung setepat pengukuran (jaraknya beberapa pikometer dan sudut ikatan sampai
derajat dua). Bagaimanapun, energi biasanya tidak dapat dihitung cukup akurat untuk dapat
digunakan dalam perhitungan thermodinamika.

Karena energi ikatan kimia merupakan perbedaan diantara sejumlah besar energi
(orde energi orbital 1s pada atom hidrogen ~ 1300 kJmol-1) maka kita harus menghitung
energi yang besar ini seakurat mungkin untuk memperoleh akurasi sifat kimia dalam
perbedaan energinya.

Oleh karena itu adalah penting untuk memperoleh cara sederhana untuk memikirkan
ikatan kimia dan struktur molekul yang, walaupun tidak akurat, memberikan gambaran
kualitatif dengan sedikit pekerjaan numeric/angka-angka. Metoda ini diperkenalkan oleh
Heitler dan London untuk H2 seiring munculnya mekanika kuantum, yang disebut dengan
Metoda Ikatan Valensi. Metoda ini dipaparkan dalam gambaran kualitatif dalam sub bab ini.

Metoda ikatan valensi didasarkan atas ide bahwa ikatan kimia akan terbentuk jika
terjadi overlap yang baik dari orbital-orbital atom dari atom-atom yang terlibat. Jika ide
orbital hibrida ditambahkan dalam kasus ini, maka akan diperoleh penjelasan mengenai sudut
ikatan dalam molekul sederhana. Orbital hibrida merupakan kombinasi linear orbital atom
pada atom tunggal dengan sudut tertentu yang berhubungan diantara mereka. Ide ini akan
diilustrasikan dengan mengambil contoh molekul BeH2, BH3, CH4, NH3, dan H2O.

Sudut ikatan H ─ Be ─ H adalah 180°. Konfigurasi elektron tingkat dasar atom


Berellium adalah 1s2 2s2. Untuk menyatakan hubungan langsung ikatan BeH2 dan fakta
bahwa mereka equivqlen, dua orbital hibrida Berillium terbentuk oleh kombinasi linear
orbital 2s dan satu orbital 2p, tetapi untuk ini diperoleh energi yang lebih dari cukup jika
terbentuk senyawa kimia stabil dengan dua ikatan.

Terbentuk dengan cara ini dua orbital sp, yaitu :

27
ψsp(i) = 2-1/2 (2s + 2px) ………………………………………………………. (45)

ψsp(ii) = 2-1/2 (2s - 2px) ………………………………………………………. (46)

dimana orbital-orbital ini telah ternormalisasi dengan cara seperti biasa. Ada dua orbital
hibrida sebab digunakan dua orbital Berellium. Jika orbital s terhibridisasi dengan orbital p x
positif di salah satu sisi inti dan negative di sisi lainnya. Simpul (node) dalam fungsi jejari
untuk orbital 2s, di bagian dalam orbital harganya negatif dan di sebelah luar orbital harganya
positif , dapat diabaikan karena permukaan simpul ( nodal surface) sangat dekat dengan inti
dan kontribusi daerah ini terhadap ikatan adalah kecil. Dalam ψsp(i) amplitudonya cenderung
mengkansel (menghapus) satu sisi dari inti dan menambah bagian yang lain seperti
ditunjukkan dalam Gambar…. Orbital ψsp(ii) adalah equivalen tetapi mengarah pa da arah
yang berlawanan. Cuping orbital ini mengembang luas sejauh aksis x daripada orbital-orbital
2s dan 2p sehingga mengakibatkan lebih overlap dengan orbital 1s dengan dua atom hidrogen
dalam BeH2.

Dua ikatan Be ─ H digambarkan dengan mengkombinasikan orbital 1sA dan 1sB


untuk dua proton dengan orbital hibrida ini untuk memperoleh dua orbital ikatan.

ψ = c11sA + c2 ψsp(i) ………………………………………………………. (47)

ψ′ = c1′1sB + c2′ ψsp(ii) .............................................................................. (48)

Menurut teori ikatan valensi BeH2 distablisasi oleh overlap oleh dua orbital sp Berillium dan
dua orbital 1s hidrogen. Elektron 1s2 Berillium tidak terlibat.

Gambar 13 Dua orbital hibrida sp terbentuk dari orbital s dan orbital p. Satu
hibrida ditunjukkan dengan garis solid dan yang lainnya dengan garis
putus-putus.

28
Tiga ikatan B ─ H dalam BH3 terletak dalam bidang dengan sudut H ─ B ─ H
adalah 120° . Atom Boron mempunyai konfigurasi 1s2 2s2 2p. Ketiga orbital hibrida Boron
berikut, dikonstruksi untuk menghitung tiga ikatan equivalen dalam BH3.

1 2
ψsp2(i) = √3
2s + 3
2pz ………………………………………………….. (49a)

1 1 1
ψsp2(ii) = √3
2s -
√6
2pz +
√2
2px ……………………………………….. (49b)

1 1 1
ψsp2(iii) = √3
2s -
√6
2pz -
√2
2px ……………………………………….. (49c)

Fungsi gelombang ini telah ternormalisasi dan orthogonal. Dengan mensubstitusikan


pernyataan untuk bagian angular (sudut) dari orbital pz dan px, terlihat bahwa orbital sp2
terletak pada bidang dengan cuping terarah yang dipisahkan dengan sudut 120°, seperti
ditunjukkan dalam Gambar 14.

Atom karbon mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p2 dan empat elektron
valensi digunakan untuk membentuk orbital hibrida sp3.

1
ψsp3(i) = √4
( 2s + 2px + 2py + 2pz )…………………………………….. (50a)

1
ψsp3(ii) = √4
( 2s - 2px - 2py + 2pz )……………………………….…….. (50b)

1
ψsp3(iii) = √4
( 2s + 2px - 2py - 2pz )……………………………………… (50c)

1
ψsp3(iv) = √4
( 2s - 2px + 2py - 2pz )……………………………..……… (50d)

29
Gambar 14 Tiga orbital hibrida sp2 terbentuk dari orbital s dan dua orbital p.

Gambar 15 Arah empat hibrida sp3 terbentuk dari orbital s dan tiga orbital p.

Orbital ortonormal ini terletak dalam arah yang ditunjukkan dalam Gambar 15 yang
sesuai dengan struktur tetrahedral metana, dan dengan geometri alkana.

Jika kita sampai pada NH3, kita harus memperkenalkan ide pasangan elektron sunyi.
Kita menggunakan konfigurasi 2s2 2px′ 2py′ 2pz′ pada N untuk membentuk empat hibrida sp3
sama halnya dalam karbon. Sekarang kita harus menaruh dua elektron valensi dari N pada
satu orbital ini, dengan menyisakan tiga yang ada untuk ikatan dengan hidrogen. Hal ini
mengarah pada struktur tetrahedral NH3 (sudut ikatan 109°) dengan satu puncak tetrahedron
mengandung pasangan elektron sunyi, ditunjukkan dalam Gambar….. (Secara eksperimental

30
teramati sudut ikatannya 107°). Pasangan elektron sunyi ini tersedia untuk berikatan dengan,
sebagai contoh, proton H+ untuk membentuk NH4+.

Molekul air dapat diperlakukan dengan cara yang sama, kecuali bahwa sekarang
kita mempunyai dua pasangan elektron sunyi, seperti ditunjukkan dalam Gambar……Hal ini
meramalkan bahwa sudut ikatan dalam H2O adalah sudut tetrahedral 109° dibandingkan
secara eksperimental sudut ikatan diamati besarnya 104°. Perbedaan kecil ini dapat
diperhitungkan dengan menambahkan beberapa term pada fungsi gelombang. Pasangan
elektron sunyi pada H2O tersedia untuk berikatan dengan atom lain. Teristimewa, interaksi
antara atom hidrogen terhadap molekul air lainnya dan pasangan elektron sunyi menaikkan
ikatan hidrogen dan sifat-sifat tidak lazim dari H2O.

Gambar 16 (a) Pasangan elektron sunyi NH3


(b) Pasangan elektron sunyi H2O

Contoh 1.

Kita ingin mengkonstruksi orbital hibrida (tersusun oleh orbital 2px, 2py, 2pz, dan 2s) yang
terletak pada arah tertentu dalam ruang. Kita gunakan contoh sederhana, kita akan
mengkonstruksi dua orbital equivqlen dalam bidang xy, kita hanya perlu memperhatikan arah
sepanjang garis membentuk sudut χ dengan aksis x dan yang lain terletak sepanjang garis
membentuk sudut ─ χ dengan aksis x. Karena mereka terletak pada bidang xy, maka kita

31
hanya perlu memperhatikan orbital 2px, 2py, dan 2s. Pertama kali kita membentuk kombinasi
linear orbital p yang terletak pada arah tertentu.

ϕ(1) = (cos χ) ϕ2py + (sinχ) ϕ2px

ϕ(2) = (cos χ) ϕ2px ─ (sinχ) ϕ2py

Perhatikan bahwa orbital ini tidak orthogonal kecuali kalau 2χ = 90°.

∫ dν ϕ(1) ϕ(2) = cos2χ ─ sin2χ = cos2χ ……………………………………… (51)

Sekarang kita dapat membentuk kombinasi linear ϕ(1) , ϕ(2) dan ϕ2s yang orthogonal dengan
menggunakan persamaan berikut (perhatikan bahwa koefisiennya sama sehingga orbitalnya
equivalen):

ΦI = c1 ϕ2s + c2 ϕ(1) ΦII = c1 ϕ2s + c2 ϕ(2)

Untuk memperoleh c1 dan c2, dan ΦI dan ΦII ternormalisasi dan orthogonal :

Normalisasi : c12 + c22 = 1 …………………………………….…… (52)

Ortogonalitas : c12 + c22 cos2χ = 0 ……………………………………. (53)

Jadi :

cos 2 𝜒
c22 = ……………………………………………………………….. (54a)
cos 2𝜒−1

1
c12 = ……………………………………………………………….. (54b)
1− cos 2𝜒

Dalam Gambar 17, c12 (kontribusi 2s) dan c22 (kontribusi 2p) diplot versus 2χ (Perhatikan
bahwa 2χ ˃ 90°. Kenapa?). Orbital orthogonal ketiga terhadap keduanya ini dapat
dikonstruksi yang mengarah sepanjang aksis negative x.

ΦIII = d1 ϕ2s ─ d2 ϕ2px

Dengan d12 + d22 = 1 untuk normalisasi dan d1c1 = ─ d2c2 cos 2χ untuk ortogonalitas.
Setelah mengkuadratkan persamaan terakhir dan menggunakan hasilnya untuk c12 dan c22 kita
memperoleh :

1+cos 2𝜒
d12 = ……………………………………………………………….. (55a)
1 ─ cos 2𝜒

32
2 cos 2𝜒
d22 = ………………………………………………………………. (55b)
cos 2𝜒 ─ 1

Hal ini diplot dalam Gambar 17. Perhatikan bahwa ΦIII equivalen dengan ΦI dan ΦII (yaitu
d12 = c12 ) hanya jika 2χ = 120°. Untuk nilai χ, ΦI, ΦII, dan ΦIII ini adalah orbital hibrida sp2
dari Persamaan 49.

Gambar 17 Kontribusi 2s (c12) dan 2p (c22) terhadap orbital hibrida sebagai fungsi
sudut χ.

Gambar 18 Kontribusi 2s (d12) dan 2p (d22) terhadap orbital hibrida ke tiga sebagai
fungsi sudut χ.

33
9. Teori Orbital Molekular HÜCKEL
Molekul dengan sistem ikatan π seperti benzena tidak dapat digambarkan secara baik
dengan teori ikatan valensi. Struktur elektroniknya dapat digambarkan secara sederhana,
tetapi perkiraan metoda orbital molekularnya dikembangkan oleh Hȕckel tahun 1930. Dua
tipe ikatan yang terlibat diilustrasikan dalam Gambar 19a untuk etilena (C2H4). Etilena
merupakan molekul planar (bidang), dan ikatan antara atom karbon dan hidrogen dalam
bidang adalah orbital hibrida sp2 dari karbon dan orbital 1s hidrogen. Ini membentuk
kerangka ikatan σ seperti ditunjukkan dalam Gambar ….a. Orbital 2pz dari atom karbon yang
tidak terlibat dalam kerangka ikatan σ akan overlap di sisi luar membentuk sistem π, seperti
ditunjukkan dalam Gambar 19b. Gambar sederhana ini menjelaskan sudut ikatan dalam
etilena dan struktur planarnya.

Gambar 19 Ikatan dalam etilena.


(a) Dalam bidang inti : pembentukan ikatan σantara atom karbon 1 dan
2 menggunakan orbital sp2.
(b) Tegak lurus bidang inti : pembentukan ikatan π antara orbital-
orbital p

Teori orbital molekul Hȕckel adalah berkenaan dengan sistem elektron π yang
bertanggung jawab terhadap sifat khusus dari hidrokarbon terkonjugasi dan aromatik. Fungsi
gelombang terdelokasi, orbital π , dari etilena dinyatakan oleh :

ψ = c1 ϕ1 + c2 ϕ2 …………………………………………………………….. (56)

34
dimana ϕ1 dan ϕ2 adalah orbital 2pz dari dua atom karbon. Hubungan determinan sekularnya
adalah :

H11 ─ ES11 H12 ─ ES12


= 0 …………………………………… (57)
H21 ─ ES21 H22 ─ ES22

dimana Hij = ∫ ϕi* H ϕj dv dan Sij = ∫ ϕi* ϕj dv

Dalam teori orbital molekul Hȕckel, persamaan secular disederhanakan dengan


membuat asumsi berikut :

1. Integral overlap Sij diset sama dengan nol kecuali kalau i = j, jika Sii = 1.
2. Semua elemen diagonal dalam persamaan sekular diasumsikan sama; jadi,
integral Coulomb Hii semua diset sama dengan α.
3. Integral resonansi Hij diset sama dengan nol, kecuali untuk atom-atom
berdekatan diset sama dengan β.

Dengan asumsi ini, persamaan sekular untuk elektron π dalam etilena menjadi :

α−E β
= 0 ……………………………………………………….. (58)
β α−E

Dalam teori Hȕckel , integral Coulomb α dan integral resonansi β dipandang sebagai
parameter empiris untuk dievaluasi dari data eksperimen molekul. Jadi dalam teori Hȕckel
tidak perlu menentukannya dengan operator Hamilton.

Persamaan 58 dengan cepat dapat diselesaikan untuk memperoleh harga energi


dengan menggunakan formula/rumus kuadrat untuk memperoleh E = α ± β. Jadi, terdapat
orbital ikatan dan anti ikatan, seperti ditunjukkan dalam Gambar…… Integral resonansi
berharga negative, sehingga energi dari level terendah adalah α + β. Orbital ikatan ditempati
oleh pasangan elektron, sehingga energi elektronik π dari etilena adalah 2α + 2β.

35
Gambar 20. Orbital molekul Hȕckel untuk etilena. Inti karbon dinyatakan dengan
titik, dan bidang simpul orbital molekul dinyatakan dengan garis
putus-putus.

Fungsi gelombang orbital ikatan dan anti ikatan diperoleh dengan kembali pada
pasangan persamaan aljabar linear yang menyusun persamaan sekular :

c1 (α ─ E) + c2 β = 0 ………………………………………………………..…(59)

c1 β + c2 (α ─ E) = 0 ………………………………………………………... (60)

Substitusi E = α + β ke salah satu persamaan menghasilkan c1 = c2 sehingga fungsi


gelombang untul orbital ikatan adalah :

ψ1 = 2−1/2 (ϕ1 + ϕ2) …………………………………………………………. (61)

Orbital ikatan ditunjukkan dalam Gambar 21 sepanjang sisi level energi.

Substitusi E = α ─ β ke persamaan 56 dan 57 menghasilkan c1 = ─ c2, sehingga fungsi


gelombang orbital anti ikatan adalah :

Ψ2 = 2−1/2 (ϕ1 ─ ϕ2) …………………………………………………………..


(62)

Orbital anti ikatan juga ditunjukka dalam Gambar 20. Perhatikan kemiripannya dengan
orbital LCAO dari H2+.

36
Energi elektronik π dari molekul planar 1,3-butadiena (CH2=CHCH=CH2) dengan
cepat dapat dihitung dengan menggunakan teori Hȕckel. Persamaan determinan sekularnya
adalah :

α─E β 0 0
β α─E β 0
= 0 ………………………………………... (63)
0 β α─E β
0 0 β α─E

Jika β difaktorkan dari setiap kolom dan (α─β)/β diganti dengan x akan diperoleh :

x 1 0 0
1 x 1 0
= 0 …………………………………………………………… (64)
0 1 x 1
0 0 1 x

atau x4 ─ 3x2 + 1 = 0 sehingga x = ± 0,618 , ± 1,618 . Jadi untuk 1,1-butadiena terdapat


empat level energi yang mungkin, dua ikatan dan dua anti ikatan, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 21.

E1 = α + 1,618β

E2 = α + 0,618β

E3 = α ─ 0,618β

E4 = α ─ 1,618β ……………………………………………………………. (65)

37
Gambar 21. Orbital Molekul Hȕckel untuk 1,3-butadiena. Inti Karbon Dinyatakan
oleh Titik, dan Bidang Simpul Orbital Molekul Dinyatakan dengan
Garis Putus-putus.

Empat elektron π menempati dua orbital ikatan sehingga energi elektron π adalah :

E = 2 (α + 1,618β) + 2 (α + 0,618β)

= 4α + 4,472β ………………………………………………………..…… (66)

Keempat orbital molekul Hȕckel untuk 1,3-butadiena adalah :

ψ1 = 0,372 ϕ1 + 0,602 ϕ2 + 0,602 ϕ3 + 0,372 ϕ4

ψ2 = 0,602 ϕ1 + 0,372 ϕ2 ─ 0,372 ϕ3 ─ 0,602 ϕ4

ψ3 = 0,602 ϕ1 ─ 0,372 ϕ2 ─ 0,372 ϕ3 + 0,602 ϕ4

38
ψ4 = 0,372 ϕ1 ─ 0,602 ϕ2 + 0,602 ϕ3 ─ 0,372 ϕ4……………………………… (67)

Keempat orbital molekul ini ditunjukkan dalam Gambar 21. Perhatikan bahwa orbital π
meluas sampai seluruh panjang molekul.

Determinan sekular Hȕckel untuk benzena adalah :

α─E β 0 0 0 β
β α─E β 0 0 0
0 β α─E β 0 0
= 0 ………………………… (68)
0 0 β α─E β 0
0 0 0 β α─E β
β 0 0 0 β α─E

Keenam akarnya adalah :

E1 = α + 2β

E2 = E3 = α + β

E4 = E5 = α ─ β

E6 = α ─ 2β …………………………………………………………………... (69)

Karena benzena mempunyai enam elektron π , maka pasangan elektron menuju ke tiga orbital
terendah (yaitu dengan tanda plus dalam Ei). Jadi, energi elektronik π dalam benzena adalah
:

E π = 2 (α + 2β) + 4 (α + β)

= 6α + 8β …………………………………………………………………. (70)

Persamaan untuk keenam orbital molekul Hȕckel untuk benzena tidak diberikan disini, tetapi
densitas elektron yang bersesuaian ditunjukkan dalam Gambar 22. Perhatikan bahwa energi
elektron π dalam C6H6 lebih negatif dari tiga kali harganya C2H4, dan hal ini menunjukkan
bahwa C6H6 bukanlah tiga ikatan double. Perbedaannya disebut dengan energi konjugasi.

Teori Hȕckel merupakan contoh metoda orbital molekul semi empiris. Kita telah
menggunakan Hamiltonian sederhana (dengan mengabaikan banyak term) untuk menentukan
orbital dan energinya. Sekarang kita dapat menggunakan kuantitas eksperimental untuk
mencocokkan α dan β untuk etilena. Kemudian kita menggunakan nilai/harganya untuk
membuat prediksi untuk butadiene, benzena dan seterusnya. Metoda ini tidak memberikan

39
hasil kuantitatif, tetapi member kita pengetahuan kualitatif tentang sistem yang lebih besar
untuk mana metoda perhitungannya yang lebih intensif adalah sangat mahal atau memakan
waktu, dan ini member pengertian ke dalam tingkat elektronik tereksitasi dari molekul
dengan elektron π terkonjugasi.

Gambar 22. Orbital Molekul Hȕckel untuk Benzena. Inti Karbon Dinyatakan
dengan Titik, dan Bidang Simpul Tegak Lurus Bidang Molekul
Dinyatakan dengan Garis Putus-putus.

Contoh 2.

Hitunglah energi orbital molekul Hȕckel dari radikal planar (yaitu 1 elektron tak
berpasangan) CH2CHCH2.

Persamaan determinan sekularnya adalah :

40
α─E β 0
β α─E β = 0
0 β α─E

atau

x 1 0
α ─E
1 x 1 = 0 dengan x = β
0 1 x

Hasilnya :

x3 ─ 2x = 0

Dengan akar-akar x = 0, ─ √2 , + √2, sehingga

E1 = α + √2 β

E2 = α

E3 = α ─ √2 β

Orbital yang bersesuaian dengan E2 disebut orbital ‘non bonding’ karena energinya tidak
berubah dari harga α = Hii, yang mana merupakan energi orbital atom 2p dalam sistem ini.

41
BAB III

PENUTUP

Interaksi orbital dapat diklasifikasikan dalam enam bentuk yaitu : Bentuk (1) adalah
sebuah interaksi antara orbital kosong tanpa electron yang memberikan bilangan okupasi nol
dan tidak menghasilkan pembentukan ikatan. Sebagai contoh adalah interaksi antara orbital
kosong 2s dari sebuah pasangan atom He. Bentuk (2) adalah sebuah interaksi antara sebuah
orbital kosong dengan sebuah electron yang tidak berpasangan dan dalam kasus ini sebuah
electron dalam orbital ikatan akan menghasilkan sebuah ikatan electron tunggal dengan orde
ikatan sebesar ½. Sebuah contoh nyata dari tipe ini adalah produksi ion H+ dar H. Bentuk (3)
adalah sebuah interaksi antara dua electron tidak berpasangan yang akan memberikan sebuah
ikatan pasangan electron (kovalen) dengan orde ikatan satu sebagaimana dapat dilihat dari
contoh tipikal yaitu H + H → H2. Sebuah ikatan pasangan electron juga dapat dihasilkan
melalui bentuk (4), yaitu sebuah interaksi antara orbital kosong dan sebuah pasangan electron
dan contohnya adalah H+ + H- → H2 dengan catatan bahwa H- ada karena afinitas electron
dari atom H adalah positif. Bentuk (5) terdiri dari sebuah interaksi antara sebuah electron
yang tidak berpasangan dan sebuah electron berpasangan akan memberikan sebuah electron
dalam orbital anti ikatan selain orbital ikatan dan dengan demikian orde ikatan akan menjadi
(2 – 1)/2 = ½ sama dengan ikatan satu electron. Contoh tipikaal jenis ini adalah He+ + He →
He2+. Energi disosiasi dan panjang ikatan dari He2+ sangat mirip dengan H2 disebabkan oleh
orde ikatannya yang bernilai ½ untuk keduanya. Terakhir adalah bentuk (6) yang
mengandung interaksi antara pasangan-pasangan electron dan dalam kasus ini, karakter
ikatan dari pasangan electron berikatan akan dihilangkan oleh karakter anti ikatan dari
pasangan electron dalam orbital anti ikatan dan akan menyebabkan tidak terbentuknya ikatan.

42
DAFTAR PUSTAKA

R.A. Alberty, Physical Chemistry, 6th edition,John Wiley & Sons,Inc., 1983

R.S. Berry, S.A. Rice, and J. Rose, Physical Chemistry, Wiley, New York, 1980

C.A. Coulson, The Shape and Structure of Molecules, Clarendon Press, Oxford, 1973

M.W. Hanna, Quantum Mechanics in Chemistry, Benjamin/Cummings Publ. Co., Menlo


Park, Cal. 1981

I.N. Levine, Quantum Chemistry, Allyn and Bacon, Boston, 1974

43