Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tujuan pembangunan pada dasarnya adalah untuk mensejahterakan masyarakat


baik lahir maupun batin secara berkelanjutan, status gizi masyarakat yang baik
merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan kesehatan dan tidak
terpisahkan dari pembangunan nasional secara keseluruhan. Hal ini tercermin pada
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari umur harapan hidup, tingkat melek
huruf dan pendapatan perkapita. IPM yang rendah antara lain dipengaruhi oleh status gizi
dan kesehatan (Sudartini dkk, 2010).

Status gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia,
kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan
kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh (Sianturi,
2006).

Sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konferensi Tingkat


Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bnagsa (PBB) di New
York pada bulan September tahun 2000 dengan dasar hukum Resolusi Majelis Umum
Perserikatan Bangsa Bangsa nomor 55/2 tanggal 18 September 2000 yang kemudian
paradigma ini dikenal dengan nama Millenium Development Goals (MDGs)
(bps.go.id,2013).

Salah satu target pencapaian MDGs di bidang kesehatan yang harus dipenuhi oleh
pemerintah adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, dengan indikator
khususnya adalah penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita. Pada tahun 1989
angka prevalensi gizi kurang sebesar 31% dan gizi buruk 12,8% kemudian prevalensi
gizi kurang pada tahun 2010 menurun menjadi sebesar 17,9% dan gizi buruk 4,9%,
pemerintah harus menurunkan prevalensi gizi kurang pada tahun 2015 menjadi 15,0%
dan gizi buruk 3,5% (Wartapedia.com, 2011).

Didalam Undang-Undang kesehatan no 36 Tahun 2009 disebutkan bahwa


perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi melalui perbaikan pola
konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang dan dilakukan pada seluruh siklus
kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada
kelompok rawan seperti bayi dan balita, remaja perempuan, serta ibu hamil dan
menyusui.

Menteri kesehatan mengatakan, berbagai upaya perbaikan gizi masyarakat


melalui kegiatan mencakup peningkatan program ASI Eklsusif, upaya penanggulangan
gizi mikro serta tata laksana kasus gizi buruk dan gizi kurang.

B. TUJUAN

1
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran penurunan angka kurang gizi dengan perbaikan gizi
masyarakat melalui pemberian makanan tambahan bergizi seimbang.

2. Tujuan Khusus
a. Memperbaiki status gizi balita
b. Memberikan asupan makanan tambahan dengan gizi seimbang
c. Memperbaiki pola konsumsi Balita kurang gizi
d. Memberikan pendidikan gizi kepada keluarga
e. Memperbaiki status gizi balita

2
BAB II
SASARAN

DATA SASARAN BALITA 6-59 BULAN GIZI BURUK DAN GIZI KURANG PENERIMA PMT PEMULIHAN
(PMT-P) KEGIATAN PENANGGULANGAN BALITA GIZI BURUK TAHUN 2019
PEKERJAAN STATUS STATUS
NAMA NAMA ORANG STATUS GIZI
NO NAMA ANAK TGL LAHIR ORANG ALAMAT BB TB GIZI GIZI KET *)
POSYANDU TUA
TUA BB/U BB/TB TB/U
Fadlina Sukamaju
1 Delima 9a 30-06-2016 Harudin/Siti Buruh 10.6 88 BB Kurang Normal Pendek
Ramdani 02/09
Rafasya
2 Cempaka 4a 06-07-2017 Susum Suniati Buruh Tugu 01/04 9.3 80 BB Kurang Normal Pendek
Hafiz
Nadifa Alisya Pasir Pogor
3 Flamboyan 7 11-04-2018 Ali/Lista Sopir 7.6 71 BB Kurang Normal Pendek
Syavira 02/07
BB Sangat Sangat
4 Ibnu Hanafi Delima 2a 04-02-2018 Ujang/Lina Buruh Genteng 02/02 7.1 74 Pendek
Kurang Kurus
Neglasari Sangat
5 Arka Mawar 4 27-10-2016 Bambang/Anis Buruh 9.9 80.5 BB Kurang Normal
01/04 Pendek

3
BAB III
WAKTU PELAKSANAAN

PMT Pemulihan diberikan selama 90 hari, mulai bulan Juni sd Agustus 2019, dengan
PMT Pemulihan berupa susu. PMT mulai diberikan pada tanggal 12 Juni 2019 kepada Kader
Posyandu yang kemudian diberikan kepada ibu Balita setiap hari. Kader kemudian memantau
pelaksanaan PMT setiap hari apakah susu di habiskan atau tidak dan kendala yang dihadapi
oleh ibu balita.

Kader kemudian melaporkan kepada petugas Puskesmas setiap 30 hari sekali yang
kemudian akan di evaluasi oleh petugas mengenai kendala yang dihadapi apakah anak tidak
mau makan atau menu yang disajikan tidak disukai oleh Balita. Kemudian Petugas akan
melaporkan kepada Dinas kesehatan mengenai kendala yang dihadapi, sehingga jika ada menu
yang tidak disukai maka solusinya akan langsung diganti bentuk hidangan nya atau menunya
sesuai yang disukai oleh Balita.

PMT pemulihan ini diberikan sampai dengan hari ke 90 yaitu tanggal 12 Agustus 2019.
Selama 90 hari itu evaluasi oleh petugas dilakukan setiap 30 hari sekali dengan memantau
kenaikan berat badan dan jumlah hari makan PMT yang diberikan. Menu yang diberikan
kepada balita adalah sebagai berikut :

BAB IV
TAHAPAN KEGIATAN

A. PERSIAPAN

Sasaran pemberian PMT ini adalah wilayah kerja puskesmas Baros yaitu balita yang
berada di Kecamatan Baros. Jumlah Posyandu yang ada di wilayah ini adalah 49 Posyandu,
namun tidak semua Posyandu balitanya mendapatkan bantuan PMT Pemulihan, disesuaikan
dengan data status gizi balita di setiap Posyandu.

4
Berdasarkan status gizi balita maka diambil 5 balita dengan status gizi kurus untuk
mendapatkan PMT Pemulihan. Sebelum diberikan PMT Pemulihan dilakukan sosialisasi
kegiatan kepada lintas program dan lintas sektor di wilayah Puskesmas Baros.

Balita yang sudah ditentukan di validasi BB dan TB nya apakah masih sesuai dengan
kriteria sasaran untuk mendapatkan PMT Pemulihan. Sekaligus dilakukan pembinaan terhadap
kader pendamping.

B. PELAKSANAAN KEGIATAN

a). Penyelenggaraan PMT-P


PMT yang diberikan berupa makanan dengan menu gizi seimbang selama 90 hari
berturut-turut.

b). Pendampingan oleh petugas dan kader selama pelaksanaan PMT-P


Pendampingan oleh petugas Puskesmas dilakukan minimal 1 bulan sekali, petugas
memantau perkembangan BB dan kesehatan balita, serta kendala-kendala yang dihadapi oleh
keluarga saat memberikan makanan kepada balita serta memberikan konseling kepada
keluarga balita sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Pendampingan oleh kader posyandu dilakukan setiap hari selama pelaksanaan yaitu pada
saat memberikan makanan tambahan kepada balita. Kader memantau seberapa banyak asupan
PMT yang dikonsumsi oleh balita, kendala apa yang dialami oleh keluarga balita selama
pemberian PMT-P, bagaimana penerimaan balita terhadap PMT yang diberikan. Setiap balita
di dampingi dan di pantau oleh 1 orang kader, sehingga total kader yang terlibat berjumlah 5
orang.

C. PEMBINAAN DAN PEMANTAUAN

Pembinaan dan pemantauan dilakukan secara berkala oleh petugas puskesmas dan kader
posyandu. Indikator pemantauan berupa kenaikan berat badan balita setiap bulan, jumlah hari
makan anak, sisa makanan apabila tidak dihabiskan untuk setiap kali makan dan siklus menu

D. PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh kader Posyandu dan Petugas Puskesmas. Kader
melaporkan hasil pemantauan harian berupa ceklist jumlah hari makan PMT dan habis atau
tidaknya PMT yang diberikan kepada petugas Puskesmas.

Petugas Puskesmas mencatat dan melaporkan hasil pemantauan berat badan dan tinggi
badan setiap bulan kepada Dinas kesehatan, mengevaluasi kemampuan menghabiskan PMT
yang diberikan dan alasan apabila ada PMT yang diberikan tidak habis atau tidak dimakan.

Hasil pemantauan di buat tabel dan grafik sebagai berikut:

5
TABEL 1
PERKEMBANGAN BERAT BADAN BALITA YANG DIBERI PMT-PEMULIHAN
BULAN KE 1 DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2019

Nama BB TB Status Gizi Status BB


No Umur
Anak awal Awal BB/U BB/TB TB/U Naik Turun
Fadlina
1
Ramdani
Rafasya
2
Hafiz
Nadifa
3 Alisya
Syavira
4 Ibnu Hanafi
5 Arka

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang berstatus gizi BB/U sangat
kurang sebanyak 5 orang, balita dengan status gizi BB/TB kurus sebanyak 5 orang, balita
dengan status gizi TB/U sangat pendek 1 orang dan pendek 1 orang, status gizi pendek 1
orang dan status gizi normal sebanyak 2 orang.

TABEL 2
PERKEMBANGAN BERAT BADAN BALITA YANG DIBERI PMT-PEMULIHAN
BULAN KE 1 DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2016

TB Status Gizi Status BB


N Nama Um BB BB TB
Bln Trn /
o Anak ur awal Bln I Awal BB/U BB/TB TB/U Naik
I Ttp

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pemberian PMT-P selama
30 hari berat badan balita mengalami kenaikan yang cukup berarti. Anak balita dengan status
gizi BB/U sangat kurang status gizi nya masih ada yang belum meningkat walaupun berat
badannya naik namun ada 1 yang meningkat. Status gizi Balita berdasarkan BB/TB 2 orang
meningkat dari Kurus menjadi normal, sedangkan balita dengan status gizi TB/U sangat
pendek hanya 1 orang yang mengalami perubahan di karenakan status gizi Pendek/Sangat
Pendek berkaitan dengan keadaan Gizi dari masa lalu sampai sekarang sehingga agak sulit
untuk mengalami perubahan.

TABEL 3

6
PERKEMBANGAN BERAT BADAN BALITA YANG DIBERI PMT-PEMULIHAN
BULAN KE 2 DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2016

TB Status Gizi Status BB


N Nama BB BB TB
Umur Bln Trn /
o Anak Bln I Bln II Bln I BB/U BB/TB TB/U Naik
II Ttp

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pemberian PMT-P selama
60 hari berat badan balita kembali mengalami kenaikan dan Status gizi balita juga mengalami
peningkatan. Balita dengan status gizi Sangat Kurang meningkat menjadi gizi Kurang. Balita
dengan status gizi BB/TB juga mengalami perubahan status gizi. Sedangkan balita dengan
status gizi TB/U tidak mengalami perubahan.

TABEL 4
PERKEMBANGAN BERAT BADAN BALITA YANG DIBERI PMT-PEMULIHAN
BULAN KE 3 DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2016

BB BB TB Status Gizi Status BB


N Nama TB
Umur Bln Bln Bln BB/T Trn /
o Anak Bln II BB/U TB/U Naik
II III III B Ttp

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa setelah diberikan PMT-P selama 90 hari
ternyata masih ada balita dengan gizi kurang meskipun susu yang diberikan setiap hari
dihabiskan. Ada juga balita yang tidak menghabiskan susu nya, hal ini dikarenakan Balita
tersebut sakit atau bosan dan tidak suka dengan susu yang diberikan. Status Gizi balita
berdasarkan BB/U tidak ada balita yang mengalami kenaikan menjadi normal, sedangkan
BB/TB dan TB/U tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya.
TABEL 5
PEMANTAUAN JUMLAH HARI MAKAN BALITA
YANG DIBERI PMT-PEMULIHAN DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2016

Nama Jumlah Bln Bln Bln Bln Bln Bln


No JK KET
anak hari 1 (+) 1 (-) 2 (+) 2 (-) 3 (+) 3 (-)
1
2
Ket : (+) = Habis
7
(-) = Tidak Habis

Dari table diatas dapat dilihat bahwa dari 90 hari waktu yang ditentukan dalam
Pemberian Makanan Tambahan pemulihan 100 persen anak yang menghabiskan semua susu
nya. Hanya saja ada yang sanggup menghabiskan 200 ml / hari dan ada yang hanya sanggup
menghabiskan sebagian atau kurang dari 200 ml / hari.

Selain menggunakan check list habis atau tidaknya susu yang diberikan, pemantauan juga
dilakukan dengan menggunakan form penilaian yang berisi kesesuaian mulai dari
perencanaan sasaran dan petugas pemantauan serta pendampingan, pelaksanaan pemberian
PMT, keterlibatan petugas lintas sektor dan lintas program serta Pengamatan langsung kepada
sasaran berupa kenaikan berat badan dan keluhan dari keluarga sasaran.
GRAFIK 1
GRAFIK PERKEMBANGAN BERAT BADAN BALITA
YANG DI BERI PMT PEMULIHAN DI PUSKESMAS BAROS TAHUN 2016

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan pemberian PMT-P
selama 90 hari mampu menaikan berat badan balita dan status gizi balita walaupun ada
sebagian balita yang tidak menghabiskan makanan yang diberikan dikarenakan sakit atau
bosan/tidak suka dengan menu tersebut.

E. PEMBIAYAAN
Pemberiaan makanan tambahan ini di biayai oleh APBD I melalui Bantuan Gubernur,
pembiayaan kader pendampingan selama 90 hari berkisar Rp 5000 per hari untuk satu anak,
sehingga satu kader mendapatkan honor pendampingan untuk satu anak adalah sekitar
Rp. 450,000,-

8
BAB V
MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH

MASALAH
Dari hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa:
1. Masalah kurang gizi terjadi akibat kekurangan makanan yang kronis disertai
kurang pengetahuan, kemiskinan atau masalah dalam keluarga yang
mengakibatkan tidak mampu memberikan makanan dan asuhan yang memadai.
2. Balita yang diberi PMT pemulihan masih bisa naik berat badannya walaupun ada
PMT yang tidak dihabiskan, hal ini dikarenakan keluarga tersebut tidak hanya
bergantung pada PMT yang diberikan.
3. Ada kemungkinan balita yang sudah naik berat badannya akan kembali turun
setelah program PMT selesai.
4. Masih ada ibu balita/ keluarga yang hanya bergantung kepada makanan yang
diberikan dan bukan mencontoh sebagai hidangan di rumah.
5. Masih ada balita yang berbagi makanan PMT bersama balita lain di rumah
tersebut.

PEMECAHAN MASALAH
1. Pemberian PMT pemulihan 90 hari akan lebih bermakna jika ditunjang faktor-
faktor lain seperti pola hidup bersih dan sehat, pengetahuan ibu dan kondisi
ekonomi /ketersediaan pangan dalam keluarga, sehingga pemberian makanan
bergizi seimbang tetap dapat dilakukan di keluarga walaupun program PMT
pemulihan telah selesai.
2. Lebih intensif dalam memberikan penjelasan dan pendekatan kepada orangtua
balita tentang pentingnya makanan bergizi dalam keluarga.
3. Meningkatkan kerjasama lintas sektor, agar penanganan dapat di lakukan secara
menyeluruh.

BAB VI
9
KESIMPULAN

Dari kegiatan diatas dapat disimpulkan bahwa makanan yang tidak dihabiskan tidak
akan terlalu berpengaruh terhadap peningkatan berat badan jika di keluarga ibu balita
tidak hanya bergantung kepada makanan tambahan yang diberikan. Selain itu
pelaksanaan program pemberian PMT-Pemulihan harus didukung oleh semua semua
pihak termasuk lintas sektor dan lintas program karena masalah gizi bukan hanya
disebabkan oleh kurangnya asupan makanan atau penyakit yang diderita tapi juga
karena masalah ekonomi dan lingkungan yang kurang sehat.

Sukabumi, Desember 2016


Mengetahui
Kepala Puskesmas Baros Pelaksana

Drg Wita Darmawanti Yuanita,AMG


NIP 19740422 201001 2 002 NIP 19830518 200604 2 008

10