Anda di halaman 1dari 2

KONSEP KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR'AN (STUDI TAFSIR

QUR'AN SURAT AN-NISA AYAT 34)

A. Latar Belakang
Persoalan seputar perempuan menjadi pemimpin, terutama di wilayah publik,
hingga saat ini masih terus diperdebatkan. Dalam konteks kepemimpinan publik terkait
dengan pemimpin negara, kasus relevan diangkat dalam perpolitikan di Indonesia adalah
Megawati untuk menjadi presiden di negara ini. Pro-kontra pun muncul terutama dari
pendukung dan lawan politik. Baik yang mendukung maupun yang menentang
kepemimpinan perempuan di wilayah publik, keduanya sama-sama menggunakan
argumen teologis sebagai pembenar.
Q.S. al-Nisa (4): 34, dari segi historis turunnya ayat dan konteks kalimat,
sesungguhnya dapat dipahami secara jelas bahwa ayat tersebut berbicara tentang
kepemimpinan laki-laki di ranah domestik atau rumah tangga. Secara historis, ayat
tersebut menjelaskan tentang penyelesaian problem nusyuz yang dilakukan isteri atas
suami. Sedang dalam konteks kalimat, terdapat dua indikasi kuat yang menunjukkan
bahwa ayat tersebut berbicara kepemimpinan dalam konteks rumah tangga yakni
kewajiban suami untuk memberi nafkah pada isteri dan panduan al-Qur’an bagi suami
dalam mengatasi sikap isteri yang nusyuz. Beberapa indikator tersebut menunjukkan
secara kuat bahwa yang dimaksud dengan kata ‘al-rijal’ dan ‘al-nisa’ dalam ayat tersebut
adalah suami dan isteri.
Ayat tersebut dalam tafsir klasik dan pertengahan dijadikan justifikasi untuk
menggambarkan superioritas laki-laki dan perempuan. Para ulama tersebut antara lain ibn
Kasir, al- Qurtubi, Ibn Jarir al- Tabari, dan lain-lain. Ulama-ulama tersbut menafsirkan al-
Rijal arti laki-laki. Kata al-Rijal merupakan bentuk plural dari kata al- rajul. Lawannya
adalah al- nisa’, adalah bentuk plural dari kata mara’ah, yang berarti wanita. Menurut Ibn
‘Asyur mengemukakan bahwa kata al- rijal tidak digunakan dalam bahasa Arab dan
bahasa Alquran dalam arti suami. Berbeda dengan kata al- Nisa atau imara’ah yang
digunakan untuk makna istri.
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata qowwamina.
Sebagaian ulama menafsirkan dengan makna pemimpin, dan sebagian lagi menafsirkan
dengan makna pelindung. Tafsir Departement Agama Republik Indonesia menafsirkan
lafad ini dengan makna pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah. Sedangkan
Ibnu Asyur menafsirkan lafadz tersebut dengan makna pelindung, yang mengartikan
kedudukan wanita dan laki-laki sama.
Ayat tersebut sering dijadikan alasan bahwa perempuan tidak boleh menjadi
pemimpin. Lantas, apa argumen yang dikemukakan ulama berkenaan dengan
kepemimpinan laki-laki atas perempuan? Bagaimana ulama terutama mufassir memahami
Q.S. al-Nisa (4): 34 ? Apakah perempuan dapat menjadi pemimpin baik di wilayah
domestik maupun publik?

B. Metode Penelitian
Untuk memperoleh wacana tentang menyusui dalam Alquran dapat pula
menggunakan metode-metode penelitian sebagai berikut:
1. Deskriptif, adalah bersifat menggambarkan, menguraikan sesuatu hal menurut apa
adanya atau karangan yang melukiskan sesuatu. Pendiskripsian ini digunakan oleh
penulis dalam memaparkan hasil data-data yang diperoleh dari literatur kepustakaan.
2. Tahlili adalah metode penafsiran Alquran yang dilakukan dengan cara menjelaskan
ayat-ayat Alquran dalam berbagai aspek, serta menjelaskan maksud yang terkandung
di dalamnya sehingga kegiatan mufassir hanya menjelaskan ayat demi ayat, surat
demi surat, makna lafal tertentu, susunan kalimat, persesuaian kalimat satu dengan
kalimat lain, asbabun nuzul, nasikh mansukh, yang berkenaan dengan ayat yang
ditafsirkan.