Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Derajat kesehatan suatu negara ditentukan oleh beberapa indikator,
salah satu indikator tersebut adalah Angka Kematian Ibu (AKI). AKI
menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 adalah
228 per100.000 kelahiran hidup, sedangkan target MDGs pada tahun 2015,
AKI dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes,
2011).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan 60 – 70%,
infeksi nifas 20 – 30% dan kematian akibat abortus dan partus lama 10 –
20% (Manuaba, 2007). AKI di Jawa Timur juga tergolong masih tinggi yaitu
mencapai 114,42/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih berada di
atas target nasional yakni sebesar 102/100.000 kelahiran hidup (Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2013). Jumlah AKI melahirkan di
Kabupaten Nganjuk terbilang tinggi, sekitar 114 kematian per 100.000
kelahiran hidup, atau setidaknya ada 18 kasus kematian ibu melahirkan
selama kurun waktu 2012 dan 2013 (Dinas Kesehatan Kab. Nganjuk, 2013).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan 60 - 70%, preeklampsi
eklampsi 10 - 20%, infeksi nifas 20 -30% (Manuba, 2002).
Masa nifas disebut juga masa post partum adalah masa atau waktu
sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar dari rahim sampai enam minggu
berikutnya, serta pulihnya kembali organ-organ kandungan (Suherni, 2009).
Salah satu diantara macam infeksi pada ibu nifas adalah infeksi payudara.
Dengan jumlah angka kejadian sekitar 30 -40% (WHO, 2008). Infeksi ini
terjadi akibat kurang perawatan sewaktu hamil dan kurangnya perhatian
tenaga medis tentang perawatan payudara yang dapat berakibat mastitis.
2

Mastitis adalah infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada


primipara yang infeksi terjadi melalui luka pada putting susu. Biasanya
muncul gejala pada ibu demam, payudara bengkak, kemerahan dan terasa
nyeri (Wiknjosastro, 2006). Apabila mastitis tidak segera diobati akan
menyebabkan abses payudara yang bisa pecah kepermukaan kulit dan bisa
menimbulkan borok yang besar, maka luka pada putting payudara harus
segera diobati karena dapat menghambat produksi ASI (Suherni, 2009).
Peran yang sangat penting yaitu untuk bayi bisa memberi kekebalan tubuh,
serta sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan dan peran untuk ibu
bisa mencegah terjadinya infeksi payudara (Atiningsih, 2003).
Menurut Varney (2007), penanganan mastitis dilakukan dengan
seseringnya menyusui dan mengosongkan payudara, memakai bra dengan
penyangga tetapi tidak terlalu sempit, jangan menggunakan bra dengan
kawat di bawahnya, perhatian yang cermat untuk mencuci tangan dan
merawat payudara, pengompresan dengan air hangat pada area yang efektif
pada saat menyusui untuk memfasilitasi aliran susu.
Mengingat pentingnya pemberian ASI, maka perlu adanya perhatian
dalam proses laktasi agar terlaksana dengan benar. Sehubungan dengan hal
tersebut telah ditetapkan dengan Kepmenkes RI. No.
450/MENKES/IV/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara
eksklusif pada bayi Indonesia (Eny, 2004).
Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di BPS Ny. Diah
Rejoso Nganjuk pada bulan Januari - Desember 2013, jumlah ibu nifas 127
orang dengan jumlah ibu nifas normal 84 orang (66%), ibu nifas dengan
mastitis 27 orang (21%) dan ibu nifas dengan bendungan ASI 16 orang
(13%). Mengingat angka kejadian ibu nifas dengan mastitis masih cukup
tinggi dan dan apabila mastitis tidak segera ditangani akan terjadi abses
payudara, maka penulis ingin mengetahui penanganan mastitis, dengan
3

mengambil judul “Asuhan Kebidanan pada Ny. “A” P1A0 post partum hari
ketujuh dengan mastitis di BPS Ny. Diah Rejoso Nganjuk”

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas
dengan mastitis dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan
menurut manajemen Varney.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada kasus ibu nifas dengan
mastitis, maka mahasiswa mampu :
1. Melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada kasus Ny. “A”
P1A0 post partum hari ketujuh dengan mastitis.
2. Menginterpretasikan data dasar yang meliputi diagnosa, masalah,
kebutuhan yang dapat terjadi pada kasus Ny. “A” P1A0 post partum
hari ketujuh dengan mastitis.
3. Mengindentifikasi diagnosa potensial yang dapat terjadi pada kasus
Ny. “A” P1A0 post partum hari ketujuh dengan mastitis.
4. Merencanakan antisipasi/tindakan segera pada kasus Ny. “A” P1A0
post partum hari ketujuh dengan mastitis.
5. Merencanakan asuhan kebidanan dengan kondisi pada kasus Ny. “A”
P1A0 post partum hari ketujuh dengan mastitis.
6. Melaksanakan asuhan kebidanan yang telah diberikan pada kasus Ny.
“A” P1A0 post partum hari ketujuh dengan mastitis.
7. Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada kasus Ny. “A” P1A0 post
partum hari ketujuh dengan mastitis.
4

1.3 Manfaat Penulisan


1.3.1 Bagi Profesi
Meningkatkan wawasan bagi profesi atau tenaga kesehatan lainnya
dalam menangani kasus ibu nifas dengan mastitis sesuai dengan standar
asuhan kebidanan menurut manajemen Varney.
1.3.2 Bagi BPS
Meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kebidanan dalam
memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis.
1.3.3 Bagi Peneliti
1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan penulis dalam
melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis.
2. Untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman secara langsung
dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis.

1.4 Sistematika Penulisan


Asuhan kebidanan ini tersusun atas :
BAB I Pendahuluan
Bab ini meliputi latar belakang, tujuan, manfaat, dan istematika
penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan tentang landasan teori medis terdiri dari:
1. Konsep nifas yaitu pengertian nifas, periode nifas, tujuan
asuhan masa nifas, perubahan fisiologis masa nifas, kebutuhan
dasar pasca persalinan, tanda bahaya pada masa nifas.
2. Konsep mastitis terdiri dari pengertian mastitis, etiologi
mastitis, patofisiologi mastitis, klasifikasi mastitis, tanda dan
gejala, komplikasi, penatalaksanaan, pencegahan.
3. Manajemen asuhan kebidanan yang meliputi manajemen 7
langkah Varney yang meliputi pengkajian data, interpretasi
5

data, diagnos potensial, antisipasi, perencanaan, pelaksanaan


dan evaluasi.
BAB III Tinjauan Kasus
Bab ini berisi tinjauan kasus yang meliputi pengkajian, interpretasi
data, diagnosa potensial, tindakan segera, intervensi, implementasi
dan evaluasi.
BAB IV Pembahasan
Menguraikan kesenjangan antara teori dan praktek dari 7 langkah
Varney yang meliputi pengkajian data, interpretasi data, diagnos
potensial, antisipasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB V Penutup
Dalam bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran untuk
menjawab tujuan penulisan dan menyatakan inti dari pembahasan,
sedangkan saran dirumuskan untuk menanggapi kesenjangan.
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Nifas


2.1.1 Pengertian Nifas
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah
masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan placenta keluar lepas dari rahim
sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-
organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan
seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni,
2008). Masa nifas adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saleha, 2009).
2.1.2 Tahapan Masa Nifas
Menurut Suherni (2008), tahapan masa nifas (post partum atau
puerperium) adalah :
1. Puerperium dini masa kepulihan, yakni saat ibu dibolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
2. Puerperium Intermedial, masa kepulihan menyeluruh dari organorgan
genital, kira-kira antara 6 – 8 minggu.
3. Remote Peurperium, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan
mempunyai komplikasi.
Tahap masa nifas menurut Winkjosastro (2007), meliputi :
1. Periode immediete postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini
sering terjadi banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri.
Oleh karena itu bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan
kontraksi uterus, pengeluaran lokia, tekanan darah dan suhu.
7

2. Periode early postpartum (24 jam – 1 minggu)


Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal
tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk tidak demam, ibu cukup
mendapatkan makanan dan cairan, ibu dapat menyusui dengan baik.
3. Periode late postpartum (1 minggu – 5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan
sehari-hari serta konseling KB.
2.1.3 Fisiologi Nifas
1. Uterus
Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal
ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plascenta
site) sehingga jaringan perlekatan plasenta dan dinding uterus
mengalami nekrosis dan lepas (Suherni, 2009).
2. Bekas Implantasi
Bagian implantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan
menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah persalinan. Penonjolan
tersebut, dengan diameter + 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu
bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu diameternya
menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 mm
(Wiknjosastro, 2006).
3. Luka-luka perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama
dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum
umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat (Suherni, 2009).
4. After pains
After pains adalah rasa sakit yang mencengkeram (kram) pada
abdomen bagian bawah yang sering dijumpai pada hari ke-7 hingga ke-
10 postnatal (Suherni, 2009).
8

5. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea
mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme
berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina
normal (Pusdiknakes, 2003). Menurut Suherni (2008), macam-macam
lochea antara lain:
a. Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban. Sel-sel desidua,
venix caseosa atas palit atau semacam noda dan sel epite yang
menyelimuti, lanugo dan meconium atas getah kelenjar usus dan air
ketuban, berwarna hijau kehitaman, selama 2 hari pasca persalinan.
b. Lochia Sanguinolenta
Warnanya merah kuning berisi darah dan lendir. Ini terjadi pada hari
ke 3 – 7 pasca persalinan.
c. Lochia Serosa
Berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ke 7 –
14 pasca persalinan.
d. Lochea Alba
Lochea Alba adalah cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2
minggu.
e. Lochea purulenta
Lochea purulenta ini karena terjadi infeksi, keluar cairan seperti
nanah berbau busuk.
f. Lochiotosis
Lochiotosis adalah lochia tidak lancar keluarnya.
6. Servik
Perubahan-perubahan yang terdapat serviks ialah servik agak
menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang
dapat mengadakan kontraksi, sedangkan servik tidak berkotraksi,
9

sehingga seolah-olah pada perbatasan korpus dan servik terbentuk


semacam cincin (Wiknjosastro, 2005).
7. Ligamen-ligamen
Ligamen facia dan diafragma pelvis serta facia yang meregang
sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur
mengecil kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotondum
menjadi kendor yang mengakibatkan uterus jatuh ke belakang
(Wiknjosastro, 2006).
2.1.4 Perubahan Sistem Tubuh Lainnya
Menurut Suherni (2009), perubahan sistem tubuh lainnya, yaitu
1. Perubahan pada sistem pencernaan
Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini umumnya
disebabkan karena makanan pada dan kurangnya makanan berserat
selama persalinan. Di samping itu rasa takut untuk buang air besar,
sehubungan dengan jahitan pada perineum.
2. Perubahan Perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu
tergantung pada:
a. Keadaan atau status sebelum persalinan,
b. Lamanya partus kalau dilalui.
c. Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan.
Di samping itu dari hasil pemeriksaan sistocopic (sistoskopik) segera
setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hyperemia
dinding vesica urinaria, akan tetapi sering terjadi
ektravasari.
3. Laktasi
Proses ini dikenal dengan istilah inisiasi menyusu dini, dimana
ASI baru akan keluar setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta
mengandung hormon penghambat prolaktin (hormon plasenta) yang
10

menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta lepas, hormon


plasenta tersebut tidak diproduksi lagi, sehingga susu pun keluar.
Umumnya ASI keluar 2 – 3 hari setelah melahirkan (Saleha, 2009).
Perawatan dan hal-hal yang terjadi selama nifas adalah :
a. Genetalia interna dan eksterna alat-alat genitalia interna dan eksterna
akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil
yang disebut involusi.
b. Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C dari
keadaan normal tapi tidak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama
melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari
380 C mungkin ada infeksi.
c. Keadaan serviks, uterus dan adneksia bila ada perdarahan biasanya
karena involusi uteri, dapat diberikan tablet ergometrin dan tirah
baring untuk menghentikan perdarahan.
d. Miksi harus secepatnya dilakukan sendiri. Bila kandung kemih
penuh dan tidak bisa miksi sendiri, dilakukan kateterisasi. Bila perlu
dipasang dower catheter atau indwelling catheter untuk
mengistirahatkan otot-otot kandung kencing.
e. Defekasi harus ada dalam 3 hari pascapersalinan. Bila terjadi
obstipasi dan timbul koprotase hingga skibala tertimbun di rektum,
mungkin terjadi febris. Lakukan klisma atau berikan laksan peroral.
f. Perawatan Payudara
Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting
susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui
bayinya, kemudian dilanjutkan pada masa nifas.
g. Perawatan vulva atau vulva hygiene
Setiap penderita ada masa nifas harus dilakukan vulva hygiene
dengan tujuan mencegah terjadinya infeksi pada daerah vulva dan
perineum meliputi dalam uterus. Untuk perawatan daerah kelamin
11

dengan sabun dan air pastikan bahwa klien membersihkan daerah


vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian
membersihkan sekitar anus (Saifuddin, 2002).
2.1.5 Penatalaksanaan
Menurut Wiknjosastro (2007), penatalaksanaan nifas antara lain :
1. Pasien pasca partum harus cukup istirahat
2. Delapan jam pertama pasca partum wanita tersebut harus tidur
terlentang dan siapkan tisu basah untuk mencegah terjadinya
perdarahan pasca persalinan.
3. Defekasi harus sudah dalam 3 hari persalinan
4. Puting susu harus diperhatikan kebersihannya
5. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, protein
cairan, serta banyak buah-buahan.

2.2 Konsep Mastitis


2.2.1 Pengertian Mastitis
Mastitis adalah peradangan pada payudara terutama pada
primigravida, infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi
mungkin juga melalui peredaran darah (Wiknjosastro, 2005). Mastitis
adalah radang pada payudara yang disebabkan payudara bengkak yang
tidak disusukan adekuat (Bahiyatun, 2008).
2.2.2 Patofisiologi
Pada awalnya bermula dari kuman penyebab mastitis yaitu puting
susu yang luka atau lecet dan kuman tersebut berkelanjutan menjalar ke
duktulus-duktulus dan sinus sehingga mengakibatkan radang pada mamae.
Radang duktulus-duktulus menjadi edematus dan akibatnya air susu
tersebut terbendung (Ambarwati, 2008).
12

2.2.3 Penyebab Mastitis


Penyebab terjadinya mastitis menurut Saleha (2009) adalah sebagai
berikut :
1. Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat akhirnya terjadi
mastitis.
2. Putting susu lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya
payudara bengkak.
3. Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmetal engorgement, jika tidak
disusui dengan adekuat, maka bisa terjadi mastitis.
4. Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat dan anemia akan mudah
terkena infeksi.
2.2.4 Tanda dan Gejala
Menurut Bahiyatun (2008), tanda mastitis adalah bengkak, nyeri
seluruh payudara atau nyeri local, kemerahan pada seluruh payudara atau
hanya lokal, payudara keras dan berbenjol-benjol, panas badan dan rasa
sakit umum.
2.2.5 Komplikasi Mastitis
Bila penanganan mastitis karena terjadinya infeksi pada payudara
tidak sempurna, maka infeksi akan makin berat sehingga terjadi abses
dengan tanda payudara berwarna merah mengkilat dari sebelumnya saat
baru terjadi radang, ibu merasa lebih sakit, benjolan lebih lunak karena
berisi nanah (Suherni, 2009).
2.2.6 Penatalaksanaan Mastitis
Menurut Varney (2007), penatalaksanaa mastitis adalah sebagai
berikut:
1. Seringnya menyusui dan mengosongkan payudara untuk mencegah
statis.
2. Memakai bra dengan penyangga tetapi tidak terlalu sempit, jangan
menggunakan bra dengan kawat di bawahnya.
13

3. Perhatian yang cermat untuk mencuci tangan dan merawat payudara.


4. Pengompresan dengan air hangat pada area yang efektif pada saat
menyusui untuk memfasilitasi aliran susu.
5. Meningkatkan pemasukan cairan
6. Istirahat, satu atau dua kali di tempat tidur.
7. Membantu kebutuhan prioritas ibu untuk mengurangi stress dan
kelelahan dalam kehidupannya.
8. Antibiotik, penisilin jenis penicillinase resisten atau cephalosporin.
Erythromicin dapat digunakan jika wanita alergi terhadap penisilin.
9. Diberi dukungan pada ibu.
2.2.7 Pencegahan Mastitis
Menurut Bahiyatun (2008), pencegahan mastitis meliputi:
1. Perawatan payudara pascanatal secara teratur untuk menghindari
terjadinya statis aliran Air Susu Ibu (ASI).
2. Posisi menyusui yang diubah-ubah.
3. Menggunakan bra/BH yang menyangga dan membuka bra tersebut
ketika terlalu menekan payudara.
4. Susukan dengan adekuat.

2.3 Manajemen Asuhan Kebidanan


2.3.1 Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan keterampilan dalam rangka / tahapan
yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien
(Varney, 2007).
14

2.3.2 Manajemen Kebidanan


Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana
setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan
pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah
tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang diaplikasikan dalam
situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan lagi menjadi
langkah-langkah yang lebih rinci bisa berubah sesuai dengan kebutuhan
pasien. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian
Adalah langkah pengumpulan semua informasi yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Langkah ini menentukan proses interpretasi data tahap selanjutnya,
sehingga harus komprehensif. Hasil pemeriksaan menggambarkan
kondisi atau masukan klien yang sebenarnya atau valid (Varney, 2007).
a. Data Subyektif
Adalah data yang didapat dari klien sebagai suatu pendapat terhadap
suatu situasi data kejadian. Data tersebut tidak dapat ditentukan oleh
perawat secara independen tetapi melalui suatu interaksi atau
komunikasi (Nursalam, 2009).
1) Biodata
Identitas untuk mengetahui status klien secara lengkap sehingga
sesuai dengan sasaran (Nursalam, 2009). Adapun data subyektif
Menjurut Retna (2008), meliputi atas :
a) Nama : Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan
sehari - hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan.
b) Umur : Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko
seperti kurang dari 20 tahun, alat - alat reprodiksi belum
matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur
15

lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan


dalam masa nifas.
c) Agama : Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk
membingbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
d) Pendidikan : Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya,
sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan
pendidikannya.
e) Pekerjaan : Untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut.
f) Alamat : Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah
bila diperlukan.
2) Keluhan Utama
Untuk mengetahui apa yang dirasakan pasien tersebut bisa
memperberat keadaan klien atau tidak misal pada kasus mastitis
ibu mengatakan payudara terasa nyeri, berat, dan badan terasa
panas, dingin (Retna, 2008).
3) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya
dengan masa nifas dan bayinya (Retna, 2008).
b) Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
hipertensi, asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas
(Retna, 2008).
16

c) Riwayat kesehatan keluarga


d) Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan
pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang
menyertainya (Retna, 2008).
4) Riwayat Perkawinan
Perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah, syah atau
tidak, karena bila tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan
psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses nifas (Retna,
2008).
5) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah ibu sebelum hamil pernah
menggunakan KB atau tidak, jika pernah lamanya berapa tahun,
dan jenis kontrasepsi yang digunakan (Varney, 2004).
6) Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui tanggal haid normal terakhir, uraian haid
terakhir dan pengalaman haid sebelumnya (Wiknjosastro, 2005).
7) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
Disajikan dalam bentuk tabel yang berisi tentang berapa kali ibu
hamil, umur kehamilan selama hamil, tanggal lahir bayi, jenis
persalinan, tempat persalinan, penolong persalinan dan penyulit.
Keadaan anak dan nifas yang lalu berisi mengenai jenis kelamin
putra putri ibu, berat badan waktu lahir, panjang badan waktu
lahir, keadaan anak sekarang, riwayat laktasi, perdarahan dan
lamanya ibu nifas (Essawibawa, 2011).
8) Riwayat Persalinan Ini
Tempat persalinan, penolong, jenis persalinan, komplikasi,
perineum, perdarahan, lama persalinan, keadaan bayi.
17

9) Pola Kebiasaan
a) Nutrisi dan cairan
Nutrisi, dikaji tentang nafsu makan, jenis makanan yang
dikonsumsi sehari-hari harus bermutu, bergizi tinggi, cukup
kalori, dan tinggi protein, porsi makan, dan ada pantangan atau
tidak, bagi ibu nifas dengan mastitis 500 – 1800 kalori, minum
3liter/hari, 2 liter didapat dari air minum dan 1 liter didapat
dari kuah sayur dan tambahan minum vitamin A, Untuk
mempercepat pemulihan mastitis dan meningkatkan kualitas
dan kuantitas ASI (Bahiyatun, 2008).
b) Eliminasi
BAB harus ada dalam 3 hari postpartum. BAK harus dilakukan
dalam 6 jam post partum. (Sarwono, 2005).
c) Pola istirahat
Istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
(Saiffudin, 2002). Bagi ibu nifas dengan matitis diperlukan
istirahat, 1 dan 2 kali dalam 2 jam/hari ditempat tidur untuk
mempercepat pemulihan kondisi ibu (Varney, 2007).
d) Personal hygiene
Digunakan untuk mengetahui tingkat kebersihan pasien.
Kebersihan perorangan sangat penting supaya tidak terjadi
infeksi kulit pada ibu nifas dengan mastitis diperlukan menjaga
kebersihan pada daerah payudara dan mengganti bra 2 kali
sehari (Mufdlilah, 2009).
e. Keadaan Psikologis
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya.
Wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama
masa nifas sementara yang menyesuaikan diri menjadi seorang
ibu (Ambarwati & Wulandari, 2008).
18

Keadaan mental ibu nifas dengan mastitis adalah cemas, sulit


tidur, merasa bersalah, mudah tersinggung, pikiran negatif
terhadap bayinya (Manuaba, 2007).
f. Sosial Budaya
Terdiri dari bagaimana dukungan keluarga, status rumah
tinggal, pantangan makanan, kebiasaan adat istiadat yang
dilakukan (Wiknjosastro, 2006).
g. Penggunaan Obat-obatan / Rokok
Dikaji apakah ibu perokok dan pemakai obat-obatan selama
hamil atau tidak (Wiknjosastro, 2006).
b. Data Obyektif
Data obyektif merupakan data yang dapat diobservasi dan dapat
diukur termasuk informasi yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan diagnostik (Nursalam, 2009).
1) Pemeriksaan Fisik
Menggambarkan keadaan umum klien baik yang mencangkup
kesadaran, tekanan darah normal, nadi, suhu dan pernapasan
dalam keadaan normal.
2) Pemeriksaan Sistematis
a) Inspeksi
Inspeksi merupakan proses observasi yang dilaksanakan secara
sistematik. Inspeksi dilakukan dengan menggunakan indera
penglihatan, pendengaran dan penciuman (Nursalam, 2008).
b) Palpasi
Adalah teknik pemeriksaan menggunakan indera peraba.
Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif (Nursalam,
2009).
19

3) Data Penunjang
Data yang mendukung pemeriksaan yang tidak dapat diketahui
dengan pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan laboratorium dan
rontgen. Pada ibu nifas dengan mastitis tidak dilakukan
pemeriksaan laboratorium/rontgen (Wiknjosastro, 2005).
2. Interpretasi Data
Interpretasi data (data dari hasil pengkajian) mencakup diagnosa
masalah dan kebutuhan. Data dasar yang sudah dikumpulkan,
diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosa dan masalah
spesifik (Varney, 2007).
Berdasarkan tanda dan gejala serta hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan maka dapat ditentukan :
Diagnosa Kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan dalam lingkup
praktek kebidanan (Varney, 2004).
Diagnosa : Ny. X P..., A..., umur ...., nifas hari ke..., dengan mastitis.
Data Dasar :
a. Dasar Subyektif
Payudara ibu terasa nyeri, berat dan badan terasa panas-dingin
(Wiknjosastro, 2006).
b. Data Obyektif
1) Keadaan ibu cukup (Nursalam, 2009).
2) Pemeriksaan vital sign :
a) Tekanan darah : Normal (Wiknjosastro, 2002).
b) Nadi : Dengan mastitis nadi bisa naik menjadi 90- 110 x/menit
( varney, 2004).
c) Suhu : Dengan mastitis suhu bisa naik menjadi 39,50 C
(Wheelerr, 2004).
20

d) Respirasi : Dengan mastitis respirasi bisa naik lebih dari


30x/menit (Saifuddin, 2002).
3) Pemeriksaan payudara :
a) Inspeksi : Payudara membesar, memerah dan gambaran di
permukaan kulit bertambah dan ada luka atau lecet pada puting
susu (Retna, 2008).
b) Palpasi : Payudara kencang, terasa lebih padat, keras dan
terdapat gumpalan yang cukup besar dan ASI sudah keluar
(Varney, 2007).
c. Masalah
Hal-hal yang berkaitan dari sudut padang klien dengan keadaan yang
diamati apakah menimbulkan masalah atau tidak. Masalah bagi ibu
nifas dengan mastitis adalah ibu merasa cemas, sulit tidur, merasa
bersalah, mudah tersinggung,dan pikiran negatif terhadap bayinya
(Varney, 2007).
d. Kebutuhan
Memberikan dukungan, informasi dan suport mental (Varney, 2007).
3. Antisipasi Masalah Potensial
Diagnosa potensial adalah suatu pernyataan yang timbul
berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah
ini mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi bila bersiap-siap bila diagnosa atau masalah
potensial ini benar-benar terjadi (Varney, 2007). Diagnosa potensial
yang sering terjadi pada ibu nifas dengan mastitis adalah terjadi abses
payudara (Varney, 2007).
21

4. Identifikasi Kebutuhan Segera


Antisipasi masalah mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Beberapa data mungkin mengidentifikasi situasi
yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan
keselamatan jiwa bayi. Pada langkah ini dilaksanakan tindakan
antisipasi pada ibu nifas dengan mastitis dengan melibatkan seorang
dokter serta memberikan antibiotik, pinisilin jenis Penicillinase resisten
atau cephatosporin. Erythromicin dapat digunakan jika wanita alergi
terhadap pinisilin (Varney, 2007).
5. Intervensi
Pada langkah ini seorang bidan merumuskan rencana tindakan
yang sebelumnya telah didiskusikan dengan pasien dan kemudian
membuat kesepakatan bersama. Sebelum melaksanakannya semua
keputusan dilakukan berdasarkan pengetahuan dan prosedur yang telah
di tetapkan dengan pertimbangan apakah itu perlu.
Perencanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis
menurut Varney (2007), tindakan yang diambil sebagai berikut :
a. Anjurkan ibu menyusui dan mengosongkan payudara untuk
mencegah statis.
b. Anjurkan ibu memakai bra dengan penyangga tetapi tidak terlalu
sempit, jangan menggunakan bra dengan kawat dibawahnya.
c. Anjurkan ibu mencuci tangan dan merawat payudara.
d. Anjurkan ibu mengompres dengan air hangat pada area yang efektif
pada saat menyusui untuk memfasilitasi aliran susu.
e. Anjurkan ibu meningkatkan memasukan cairan.
f. Anjurkan ibu untuk istirahat, satu atau dua kali ditempat tidur.
g. Bantu kebutuhan prioritas ibu untuk mengurangi stress dan kelelahan
dalam kehidupannya.
22

h. Beri terapi antibiotik, penisillin, jenis penicillinase resisten atau


cephalosporin. Erythromicin dapat digunakan jika wanita alergi
terhadap penisilin.
i. Beri dukungan pada ibu
6. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan dari asuhan yang telah
direncanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini direncanakan
seluruhnya oleh bidan atau sebagaimana lagi oleh klien atau anggota
tim kesehatan lainnya. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi
dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi,
maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya rencana asuhan
bersama yang menyeluruh (Varney, 2007). Pelaksanaan asuhan
kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis sesuai dengan perencanaan
yang telah dibuat.
7. Evaluasi
Merupakan langkah terakhir untuk menilai keektifan dari rencana
asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan
bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
masalah dan diagnosa (Varney, 2007). Evaluasi pada Ibu nifas dengan
mastitis, yaitu
a. Keadaan umum baik
b. Tanda-tanda vital normal
c. ASI sudah keluar
d. Tidak terjadi abses
e. Ibu sudah merasa nyaman dan tidak cemas
23

Dalam evaluasi menggunakan format SOAP, menurut Varney


(2007), yaitu :
S : Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien
melalui anamnesa.
O : Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien,
hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam
data fokus untuk mendukung assesment.
A : Asessment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi
data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi, yang meliputi:
1. Diagnosa atau masalah
2. Antisipasi diagnosa atau masalah potencial
3. Perlu tindakan segera olah bidan atau dokter, konsultasi atau
kolaborasi atau rujukan.
P : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan dan evaluasi
perencanaan berdasarkan assessment (Varney, 2007).
24

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
Tanggal Pengkajian : 6 November 2014 Jam : 11.00 WIB
A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama Klien : Ny “A” Nama suami : Tn”P”
Umur : 26 tahun Umur : 26 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMK Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Pegawai
Alamat : Ds. Jintel Alamat : Ds. Jintel
Rejoso-Nganjuk Rejoso-Nganjuk
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan payudara sebelah kanan terasa panas nyeri, bengkak,
lecet, berat dan panas dingin sejak 3 hari yang lalu dan
ibu mengatakan tidak menggunakan BH yang menyangga.
3. Riwayat Laktasi
Ibu mengatakan belum pernah menyusui karena ini adalah anak
pertamanya. Ibu menyusui bayinya selama 4 hari tanpa ada keluhan,
pada hari ke 5 ibu mengatakan payudara sakit dan pada hari ke 6,7
ibu memberikan ASI dengan dot (ASI pompa), karena ibu merasa
cemas untuk menyusui bayinya.
4. Riwayat Menstruasi
a. Menarche : Ibu mengatakan haid pertama umur 14
tahun.
b. Siklus : Ibu mengatakan siklus haidnya ± 28 har
c. Lama : Ibu mengatakan lama haidnya ±7 hari

24
25

d. Banyaknya : Ibu mengatakan dalam sehari ganti


pembalut 3 kali.
e. Teratur/tidak teratur : Ibu mengatakan haidnya teratur.
f. Sifat darah : Ibu mengatakan sifat darah haidnya encer
warna merah ada gumpalan
g. Dismenorhoe : Ibu mengatakan kadang-kadang merasa
nyeri perut saat haid.
5. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah memakai alat kontrasepsi
apapun.
6. Riwayat Perkawinan
Syah kawin 1 kali
Kawin umur 24 tahun dengan suami 24 tahun
Lamanya 2 tahun dan memiliki 1 anak
7. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
No Tgl/Bln/Th UK Tempat Jenis Penolong Penyulit Anak Nifas
persalinan Persalinan Persalinan kehamilan JK BB PB Kead ASI

Sekarang

8. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan sekarang tidak sedang menderita penyakit
apapun seperti flu, demam dan batuk.
b. Riwayat penyakit sistemik
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit jantung, ginjal,
asma/TBC, hepatitis, DM, hipertensi, dan epilepsi serta penyakit
sistemik lain seperti penyakit kelamin diantaranya bacterial
vaginosis, trikomonas, dan candidiasis.
26

c. Riwayat penyakit keluarga


Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita
penyakit menular seperti TBC, hepatitis, HIV/AIDS, kandiloma
akuminata, dan penyakit menurun seperti jantung, hipertensi, dan
Diabetes Melitus.
d. Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan tidak ada riwayat keturunan kembar dalam
keluarga.
e. Riwayat operasi
Ibu mengatakan tidak pernah mendapat operasi yang berhubungan
dengan kandungan.
9. Riwayat Persalinan Ini
a. Tempat persalinan : RB Mulia Kasih Boyolali
b. Penolong : Bidan
c. Tanggal/jam persalinan : 31 Oktober 2014 pukul 21.00 WIB
d. Jenis persalinan : Spontan
e. Komplikasi/kelainan dalam persalinan : tidak ada
f. Placenta
1) Ukuran : + 600 gram
panjang tali pusat : + 45 cm
2) Insersi tali pusat : Sentralis
3) Kelainan : Tidak ada kelainan
g. Perineum
1) Ruptur/tidak : Tidak ada ruptur
2) Dijahit/tidak : Tidak dijahit
h. Perdarahan
Kala I : -
Kala II : + 200 ml,
27

Kala III : + 100 ml,


Kala IV : + 50 ml.
i) Tindakan lain : Tidak ada.
j) Lama persalinan : 11 jam 15 menit,
Kala I :10 jam.
Kala II : 1 jam.
Kala III : 15 menit.
k) Keadaan bayi
BB : 2900 gram.
PB : 44 cm.
Apgar score : 8-9-10.
Cacat bawaan : Tidak ada.
10. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum nifas : ibu mengatakan makan 2-3 x/hari, porsi sedang, 1
piring nasi dengan sayur (½ mangkuk ), lauk
pauk (1 potong tempe), dan buah (1 pisang),
minum air putih + 8 gelas/hari.
Selama nifas : ibu mengatakan makan 2-3 x/hari, porsi sedang, 1
piring nasi dengan sayur (1 mangkuk), lauk pauk
(2 potong tahu, tempe), dan buah (1 pisang),
minum air putih + 8 gelas/hari dan 1 gelas susu.
b. Eliminasi
Sebelum nifas : ibu mengatakan BAB 1 x/hari, warna coklat
hitam, lunak. Ibu mengatakan BAK 5-7x sehari,
warna kuning jernih, berbau khas.
Selama nifas : ibu mengatakan BAB selama nifas 3 x 7/ hari
warna coklat hitam, lunak. Ibu mengatakan BAK
4-6 x sehari, warna kuning jernih, berbau khas.
28

c. Istirahat
Sebelum nifas : ibu mengatakan tidur siang + 2 jam, tidur malam
8 jam.
Selama nifas : ibu mengatakan tidur siang 1 jam, tidur malam +
7 jam.
d. Personal Hygiene
Sebelum nifas : ibu mengatakan mandi 2 x sehari, gosok gigi 3 x
sehari, keramas 3 x seminggu.
Selama nifas : ibu mengatakan mandi 2 x sehari, gosok gigi 3 x
sehari, keramas 2 x dan 3 x ganti pembalut.
e. Keadaan Psikologis
1) Ibu mengatakan sangat senang atas kelahiran anaknya.
2) Ibu mengatakan khawatir tentang keadaan payudaranya.
f. Riwayat Sosial Budaya
1) Dukungan keluarga
Ibu mengatakan keluarganya mendukung kelahiran bayinya.
2) Keluarga lain yang tinggal serumah
Ibu mengatakan masih tinggal bersama orang tua.
3) Pantangan makanan
Ibu mengatakan selama nifas tidak ada pantangan makanan
apapun.
4) Kebiasaan adat istiadat
Ibu mengatakan tidak ada acara apapun selama nifas.
g. Penggunaan Obat-obatan atau Rokok
Ibu mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obatan, tidak minum
jamu dan suami merokok. Ibu mengatakan mengkonsumsi obat
dari bidan.
29

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : cukup
b. Kesadaran : composmentis
c. TTV : TD : 120/80 mmHg N : 100 x/mnt
R : 24 x/mnt S : 39,5 ºC
d. TB : 155 cm
e. BB : 55 kg
f. LILA : 26 cm
2. Pemeriksaan Sistematis
a. Inspeksi
Rambut : bentuk kepala bulat, rambut hitam lurus, tidak ada
ketombe, tidak bercabang, tidak rontok.
Wajah : simetris, tidak oedema, pucat, tidak ada cloasma.
Mata : simetris, sclera putih, konjungtiva pucat.
Hidung : simetris, tidak ada secret, tidak ada polip.
Telinga : simetris kanan dan kiri, tidak terlihat serumen,
bentuk normal.
Mulut : bibir lembab, tidak ada stomatitis, gigi bersih tidak
ada caries.
Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar limfe,
pembesaran kelenjar thyroid maupun pelebaran
vena jugularis.
Payudara : payudara kanan terlihat membesar, memerah dan
terdapat luka atau lecet pada putting susu.
Abdomen : normal, line nigra, striae albican, tidak ada luka
bekas operasi.
30

Vulva vagina: tidak ada kemerahan, pengeluaran lochea rubra,


tidak berbau, nampak pengeluaran prongkolan
darah, luka jahitan perineum sudah kering.
Ekstremitas : bentuk normal, tidak ada varises, tidak oedema,
kuku tangan dan kaki bersih.
b. Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar gondok, tidak
teraba pembesaran kelenjar limfe.
Dada : Tidak simetris, payudara kiri membesar dalam
keadaan normal, sedangkan payudara sebelah
kanan ada pembekakan dan kemerahan, dan ada
nyeri tekan, tidak ada benjolan. Areola : bersih,
hyperpigmentasi. Putting susu : Menonjol dan lecet
sebelah kanan. Kolostrum/ASI : Sudah keluar,
berwarna kuning, jumlah± 50 – 100 ml.
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan.

3.2 Interpretasi Data Dasar


A. Diagnosa Kebidanan
Ny. “A” P1A0 umur 26 tahun post partum hari ketujuh dengan mastitis.
Dasar :
1. Data Subyektif :
a. Ibu mengatakan bersalin pada tanggal 31 Oktober 2014, jam
21.00 WIB.
b. Ibu mengatakan payudara sebelah kanan terasa nyeri, bengkak,
lecet, berat dan terasa panas dingin.
c. Ibu mengatakan khawatir tentang keadaanya.
31

2. Data Obyektif :
a. Keadaan umum : cukup
Kesadaran : composmentis
b. TTV : TD : 120/80 mmHg N : 100 x/menit
R : 24x/menit. S : 39,5°C
c. TFU : Pertengahan sympisis dan pusat kontraksi keras
d. Lochea : Serosa.
e. Pemeriksaan payudara
1) Inspeksi : Payudara kanan terlihat membengkak, memerah dan
terdapat luka pada puting susu/ lecet.
2) Palpasi : Payudara kanan teraba kencang,terasa lebih padat dan
ASI sudah keluar.
B. Masalah
1. Nyeri pada payudara sebelah kanan.
2. Khawatir tentang keadaan payudaranya.
3. Ibu khawatir tidak bisa menyusui bayinya pada payudara sebelah
kanan.

3.3 Antisipasi Masalah Potensial


Abses Payudara.

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera


1. Perawatan payudara.
2. Kompres air hangat dan dingin pada payudara.
3. Kolaborasi dokter untuk pemberian terapi
32

3.5 Intervensi
Tanggal : 6 November 2014 Jam : 11.30 WIB
Diagnosa : Ny. “A” P1A0 umur 26 tahun post partum hari ketujuh dengan
mastitis.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 x 30 menit:
1. Ibu dapat mengerti dan memahami penjelasan dari bidan.
2. Nyeri payudara sebelah kanan berkurang.
3. Ibu tidak cemas lagi akan kondisi payudaranya.
Intervensi
1. Lakukan pendekatan therapeutik pada ibu dan keluarga.
R/ : Hubungan baik antara petugas kesehatan dan klien memungkinkan
klien lebih kooperatif terhadap tindakan yang diberikan.
2. Beritahu ibu hasil pemeriksaan TTV.
R/ : Untuk mengetahui kondisi ibu.
3. Jelaskan pada ibu tentang penyebab mastitis dan cara mengatasinya.
R/ : Bila ibu tahu penyebab mastitis dan cara mengatsinya maka tidak
terjadi infeksi.
4. Lakukan kompres hangat dan dingin pada payudara yang bengkak.
R/ : Untuk mengurangi nyeri dan mencegah infeksi.
5. Beri penyuluhan tentang cara menyusui bayi yang benar.
R/ : Menyusui bayi dengan teknik yang benar dapat menghindarkan dari
masalah mastitis.
6. Anjurkan pada ibu agar menggunakan BH yang menyokong payudara.
R/ : BH penyokong sangat efektif membantu ibu dalam menjaga bentuk
payudara.
7. Anjurkan ibu mengkonsumsi gizi seimbang dan minum air putih yang
banyak.
33

R/ : Untuk menambah tenaga dan menghasilkan ASI yang berkualitas


serta membantu mempercepat proses penyembuhan mastitis/ pasca
salin.
8. Beri terapi oral :
Amoxillin : 500 mg 3 x 1/hari
Paracetamol : 500 mg 3 x 1/hari
CTM : 500 mg 3 x 1/hari
Antacid : 500 mg 3 x 1/hari
Dexametason : 500 mg 3 x 1/hari
R/ : Untuk mengurangi nyeri, bengkak dan mempercepat proses
kesembuhan mastitis.
9. Beritahu ibu besok melakukan kunjungan ulang.
R/ : Untuk memantau perkembangan penyakit ibu.

3.6 Implementasi
Tanggal : 6 November 2014 Jam : 11.45 WIB
Diagnosa : Ny. “A” P1A0 umur 26 tahun post partum hari ketujuh dengan
mastitis.
Implementasi:
1. Melakukan pendekatan dengan klien dengan cara :
a. Mendengarkan secara aktif keluhan pasien.
b. Menanggapi keluhan dan pertanyaan pasien.
2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan TTV:
TD : 120/80 mmHg N : 100 x/menit
R : 24/menit. S : 39,5°C
3. Menjelaskan ibu tentang penyebab mastitis dan cara mengatasinya.
4. Melakukan kompres hangat sebelum menyusui dan kompres dingin
setelah menyusui.
34

5. Memberikan penyuluhan tentang cara menyusui yang benar dengan


memposisikan senyaman mungkin pada saat mengisap putting dan
areola masuk mulut bayi.
6. Menganjurkan pada ibu agar menggunakan BH yang menyokong
payudara agar payudaratetap sehat
7. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan
bervariasi terdiri dari nasi, sayuran hijau (bayam, daun ketela, kacang
panjang, sawi), lauk nabati (tahu, tempe), lauk hewani (ikan, daging).
Minum cukup 8 – 10 gelas/hari dan tidak usah pantang.
8. Memberikan terapi oral :
Amoxillin500 mg 3 x 1/hari
Paracetamol500 mg 3 x 1/hari
CTM 500 mg 3 x 1/hari
Antacid 500 mg 3 x 1/hari
Dexametason 500 mg 3 x 1/hari
9. Memberitahu ibu besok untuk melakukan kunjungan ulang.

3.7 Evaluasi
Tanggal : 6 November 2014 Jam : 12.15 WIB
Diagnosa : Ny. “A” P1A0 umur 26 tahun post partum hari ke tujuh dengan
mastitis.
S : Ibu mengatakan sudah mengerti tentang penjelasan yang diberikan
bidan dan bisa menjawab bila diberi pertanyaan.
O : Cemas ibu berkurang.
A : Tujuan tercapai.
P : Minum obat secara teratur.
Besok kontrol lagi.
35

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini penulis akan membahas antara teori dan praktek di
lapangan asuhan kebidanan pada Ny. “A” P1A0 umur 26 tahun post partum hari
ketujuh dengan mastitis di BPS Ny. Diah Rejoso Nganjuk dengan menggunakan 7
langkah Varney yang meliputi :
4.1 Pengkajian
Menurut Bahiyatun (2008), tanda mastitis adalah bengkak, nyeri
seluruh payudara atau nyeri lokal, kemerahan pada seluruh payudara atau
hanya lokal, payudara keras dan berbenjol-benjol, panas badan dan rasa sakit
umum dan biasanya ada peningkatan suhu tubuh 39,5°C, respirasi 30/menit,
tekanandarah 120/80 mmHg dan nadi 100 x/menit, ada luka lecet pada
puting susu kanan.
Pengkajian merupakan langkah awal untuk menilai keadaan pasien Ny.
“A” P1 A0 umur 26 tahun post partum hari ketujuh dengan mastitis. Data
subyektif Ibu mengatakan bersalin pada tanggal 31 Oktober 2014, jam 21.00
WIB, Ibu mengatakan payudara sebelah kanan terasa sakit, bengkak,
kemerahan dan badan terasa panas dingin. Ibu mengatakan khawatir tentang
keadaanya. Data Obyektif : Suhu : 39,5°C, Nadi: 100 x/menit, R : 24
x/menit, tekanan darah 120/80 mmHg dan pemeriksaan payudara yaitu pada
saat dilakukan inspeksi: Payudara kanan terlihat membengkak, memerah dan
terdapat luka pada putting susu/ lecet, pada palpasi didapatkan payudara
teraba kencang, terasa lebih padat dan ASI sudah keluar. Sehingga pada
langkah pengkajian ada kesenjangan antara teori dan praktek yaitu menurut
teori ada peningatan respirasi 30 x/menit sedangkan pada kasus respirasinya
24 x/menit.

35
36

4.2 Interpretasi Data Dasar


Menurut Varney, 2007, hal-hal yang berkaitan dari sudut padang klien
dengan keadaan yang diamati apakah menimbulkan masalah atau tidak.
Masalah bagi ibu nifas dengan mastitis adalah ibu marasa cemas, sulit tidur,
merasa bersalah, mudah tersinggung,dan pikiran negatif terhadap bayinya.
Kebutuhan Memberikan dukungan, informasi dan suport mental (Varney,
2007).
Interpretasi data didapatkan Ny. “A” P1 A0 umur 26 tahun post partum
hari ketujuh dengan mastitis didapatkan pada palpasi ibu mengatakan
payudara sebelah kanan terasa sakit, bengkak, kemerahan dan badan terasa
panas dingin. Cemas karena payudara kanan tampak merah dan bengkak.
Ibu khawatir tidak bisa menyusui bayinya. Kebutuhan beri informasi tentang
penyebab dari nyeri pada payudara, berikan dukungan moril dari keluarga
dan tenaga medis agar ibu tidak cemas. Sehingga dalam langkah interpretasi
tidak ada kesenjangan antara teori dan pada kasus di lahan praktek.

4.3 Antisipasi Masalah Potensial


Menurut Varney (2004), diagnosa potensial yang sering terjadi pada
ibu nifas dengan mastitis adalah terjadi abses payudara. Pada kasus ini
penanganan yang intensif terhadap ibu dan diagnosa potensial tidak muncul.
Pada langkah ini tidak ditemukan diagnosa potensial yaitu abses payudara.
Sehingga dapat disimpulkan antara teori dan praktek tidak ada kesenjangan.

4.4 Identifikasi Kebutuhan Segera


Tindakan antisipasi pada ibu nifas dengan mastitis dengan melibatkan
seorang dokter serta memberikan antibiotik, pinisilin jenis Penicillinase
resisten atau cephatosporin. Erythromicin dapat digunakan jika wanita alergi
terhadap pinisilin (Varney, 2004). Sedangkan dalam kasus antisipasi yang
dilakukan yaitu : kolaborasi dengan dokter yaitu pemberian terapi :
37

Amoxilin 500 mg 3 x 1/hari, Paracetamol 500 mg 3 x 1/hari, CTM 500 mg 3


x 1/hari, Antacid 500 mg 3 x 1/hari, Dexametoson 500 mg 3 x 1/hari.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan
antara teori dan kasus.

4.5 Intervensi
Perencanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan mastitis menurut
Varney (2004), sebagai berikut : anjurkan ibu menyusui dan mengosongkan
payudara untuk mencegah statis, anjurkan ibu memakai BH dengan
penyangga tetapi tidak terlalu sempit, jangan menggunakan bra dengan
kawat dibawahnya, anjurkan ibu mencuci tangan dan merawat payudara,
anjurkan ibu mengompres dengan air hangat pada area yang efektif pada
saat menyusui untuk memfasilitasi aliran susu, anjurkan ibu meningkatkan
memasukan cairan, anjurkan ibu untuk istirahat, satu atau dua kali ditempat
tidur, bantu kebutuhan prioritas ibu untuk mengurangi stress dan kelelahan
dalam kehidupannya, beri terapi antibiotik, penisillin, jenis penicillinase
resisten atau cephalosporin. erythromicin dapat digunakan jika wanita alergi
terhadap penisilin, Beri dukungan pada ibu.
Pada kasus perencanaan yang diberikan Ny. “A” P1 A0 umur 26 tahun
post partum hari ketujuh dengan mastitis yaitu Beritahu hasil pemeriksaan,
Observasi keadaan puting susu dan mammae, lakukan kompres air hangat
sebelum menyusui dan kompres air dingin setelah disusukan, anjurkan,
anjurkan pada ibu agar sebelum menyusui bayinya untuk membersihkan
payudara terutama bagian putting dan aerola, anjurkan pada ibu agar tetap
menyusui bayinya, anjurkan pada ibu agar menggunakan BH yang
menyangga payudara, Beri terapi oral Amoxillin : 500 mg 3 x 1/hari,
Paracetamol 500 mg 3 x 1/hari, CTM 500 mg 3x1/hari, Antacid 500 mg 3 x
1/hari, Dexametason 500 mg 3 x 1/hari. Sehingga dalam langkah ini tidak
ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek di lahan.
38

4.6 Implementasi
Pelaksanaan yang telah direncanakan secara efisien dan aman.
Perencanaan ini direncanakan seluruhnya telah dilaksanakan oleh bidan atau
sebagaimana lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Sehingga
dalam langkah pelaksanaan telah sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

4.7 Evaluasi
Asuhan kebidanan yang diberikan pasien Ny. “A” P1 A0 umur 26
tahun post partum hari ketujuh dengan mastitis dapat sembuh dan pulih. Ibu
mau menyusui bayinya, ibu merasa senang dan nyaman dengan keadaannya,
tidak terjadi abses. Sehingga dapat disimpulkan pada evaluasi antara teori
dan kasus tidak terdapat kesenjangan.
39

BAB V
PENUTUP

Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny. P P1 A0 umur 26 tahun post


partum hari ketujuh dengan mastitis di BPS Ny. Diah Desa Rejoso Nganjuk
dengan menggunakan 7 langkah Varney maka dapat disimpulkan, sebagai berikut:
5.1 Kesimpulan
1. Pengkajian Ny. P P1 A0 umur 26 tahun masa nifas dengan mastitis. Data
subyektif Ibu mengatakan bersalin pada tanggal 31 Oktober 2014 jam
21.00 WIB, Ibu mengatakan payudara sebelah kanan terasa sakit,
bengkak, kemerahan dan badan terasa panas dingin. Ibu mengatakan
khawatir tentang keadaanya. Data Obyektif : Suhu : 39,5°C, Nadi: 100
x/menit, R: 24 x/menit, TD: 120/80mmHg, pemeriksaan payudara yaitu
pada saat dilakukan inspeksi: Payudara kanan membengkak, memerah
dan terdapat luka pada puting susu/ lecet, pada palpasi didapatkan
payudara teraba kencang, terasa lebih padat dan ASI sudah keluar.
Sehingga pada langkah pengkajian ada kesenjangan antara teori dan
praktek yaitu menurut teori ada peningatan respirasi 30 x/menit
sedangkan pada kasus respirasinya 24 x/menit.
2. Interpretasi Data didapatkan Ny. “A” P1 A0 umur 26 tahun post partum
hari ketujuh dengan mastitis pada palpasi payudara kanan hangat,
payudara kanan terlihat kemerahan, pada putting susu kanan terdapat
luka lecet, pada payudara kanan terdapat pembengkakan yang tidak rata.
Sehingga dalam langkah interpretasi tidak ada kesenjangan antara teori
dan pada kasus di lahan praktek.
3. Diagnosa potensial pada langkah ini tidak ditemukan diagnosa potensial
yaitu abses payudara. Karena penanganan yang intensif terhadap ibu
sehingga potensial tidak muncul.

39
40

4. Antisipasi dalam praktek antisipasi, kolaborasi dengan dokter yaitu


pemberian terapi : Amoxilin 500 mg 3 x 1/hari, Paracetamol 500 mg 3 x
1/hari, CTM 500 mg 3 x 1/hari, Antacid 500 mg 3 x 1/hari,
Dexametoson 500 mg 3 x 1/hari. Sehingga tidak ada kesenjangan antara
teori dan praktek.
5. Perencanaan pada kasus perencanaan yang diberikan Ny. “A” P1 A0
umur 26 tahun post partum hari ketujuh dengan mastitis yaitu beritahu
hasil pemeriksaan, observasi keadaan puting susu dan mammae, lakukan
kompres air hangat sebelum menyusui dan kompres air dingin setelah
disusukan, anjurkan pada ibu agar sebelum menyusui bayinya untuk
membersihkan payudara terutama bagian putting dan aerola, anjurkan
pada ibu agar tetap menyusui bayinya, anjurkan pada ibu agar
menggunakan BH yang menyokong payudara, Beri terapi oral Amoxillin
: 500 mg 3 x 1/hari, Paracetamol 500 mg 3 x 1/hari, CTM 500 mg
3x1/hari, Antacid 500 mg 3 x 1/hari, Dexametason 500 mg 3 x 1/hari.
Sehingga dalam langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori
dan praktek di lahan.
6. Pelaksanaan telah sesuai dengan perencanaan yang dibuat.
7. Evaluasi kebidanan yang diberikan pasien Ny. “A” P1 A0 umur 26 tahun
post partum hari ketujuh dengan mastitis dapat sembuh dan pulih. Ibu
merasa senang dan nyaman dengan keadaannya, tidak terjadi abses.

5.2 Saran
1. Bagi BPS
Diharapkan lebih meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan khususnya
pada ibu nifas dengan cara melakukan kunjungan rumah ibu nifas.
41

2. Bidan Profesi
Lebih memberi wawasan bagi profesi atau tenaga kesehatan lainnya
dalam menangani kasus ibu nifas dengan mastitis sesuai dengan standar
asuhan kebidanan khususnya pada ibu nifas dengan mastitis yaitu
dengan memberikan penyuluhan tentang perawatan payudara dan tehnik
menyusui yang benar pada ibu nifas.
3. Bagi Pasien dan Keluarga
a. Hendaknya ibu nifas memberikan ASI Eksklusif dan menyusui
bayinya dengan teratur.
b. Keluarga diharapkan untuk tetap memberikan dukungan moril pada
agar ibu nifas menjaga kebersihan payudaras sehingga tidak terjadi
infeksi.
42

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny Retno & Wulandari, Diah. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas.
Yogyakarta : Mitra Cendikia.

Apriliani W. 2008. Asuhan Kebidanan pada Ibu nifas Ny. K dengan Mastitis di
BPS Darsih Sragen. Karya Tulis Ilmiah. Tidak Dipublikasikan.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :


Rineka Cipta.

Bahiyatun.2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC.

Depkes RI, 2003. Kebidanan Post Partum. Pusdiknakes, JHPIEGO.

Depkes RI, 2007. AKI Di Indonesia : http://wmhs.info/archive/data-aki-


diindonesia-terbaru-menurut-sdki. Tanggal akses 2 November 2014.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2013. Angka Kematian Ibu.

Depkes Kesehatan Kab. Nganjuk. 2013. Angka Kematian ibu di Nganjuk.

Hidayat, A.A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Tekhnik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika.

Menkes RI.2007. Kepmenkes : 369/SK/III/2007.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Surabaya : Salemba Medika.

Retna, E. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendikia Press. Yogyakarta.

Saifuddin A.B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal


Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saleha, S. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba.

Sarwono, P. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

Setyawati, T. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Dengan Mastitis di BPS.

Suherni, dk.2009. Perawatan masa nifas. Edisi 3. yogyakarta : Fitra Maya.

Varney. H, 2007, Varney Midwivery. (Terjemah) Bandung :Sekeola Publisher.

Wheeler. 2004. Buku Saku Asuhan Pranatal dan Pascapartum. Jakarta : EGC.
43

Wiknjosastro. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

Yuliana I. 2010. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Dengan Mastitis di BPS Ulin Dwi
Asih Sragen. Karya Tulis Imiah. Tidak Dipublikasikan.