Anda di halaman 1dari 12

dr.Peter H.Y.Singal.

Anestesi FK UNHAS Makassar


Anestesi Lokal & Regional

ANESTESIA LOKAL& REGIONAL

SIFAT-SIFAT FISIKOKIMIAWI
1. Konsentrasi minimal anestesi lokal (analog MAC) dipengaruhi oleh :
 Ukuran, jenis dan mielinisasi saraf.
 pH (Asidosis menghambat blokade saraf).
 Frekwensi stimulasi saraf.
2. Potensiasinya. (Potency): Dipengaruhi kelarutan dalam lemak. Makin larut, makin poten.
3. Mula kerjanya (latency, onset time), dipengaruhi oleh:
 pKa menentukan berapa banyak yang diionisasi dan berapa banyak yang tidak
diionisasi. Makin tinggi pKa, maka makin kurang bentuk basa yang tidak terionisasi.
Karena hanya obat yang tidak terionisasi yang dapat penetrasi ke dalam membran
saraf, maka makin rendah pKa, makin cepat mula kerjanya.
 Alkalinisasi anestetika lokal.
 Konsentrasi anestetika lokal.
4. Masa/lama kerjanya (duration of effect).
 Ikatan dgn protein plasma, reseptor anestesi lokal adalah protein
 Kecepatan absorbsi
Sebanding dengan banyaknya vaskularisasi. Tingkat absorbsi : intravena > trakeal >
interkostal > kaudal > para servikal > epidural > pleksus brakialis > skiatik > subkutan.
 Banyaknya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.

STRUKTUR KIMIA
Golongan Ester - COO -
Ikatan ester relatif tidak stabil dan anestetik lokal ester dipecah secara hidrolisis dalam
larutan dan di dalam plasma oleh pseudokolinesterase setelah penyuntikan. Oleh karena itu
larutan tersebut memiliki masa kerja (shelf-life) yang relatif pendek dan sulit disterilisasi
karena tidak bisa dipanaskan. Karena dipecahkan di dalam plasma, maka secara relatif non-
toksik jika proses ini terjadi dengan cepat, seperti pada prokain dan kloroprokain.

Golongan Amide -NHCO -


Ikatan amide lebih stabil daripada ester, obat-obat ini dalam larutan tahan terhadap
sterilisasi panas dan perubahan pH (yang diperlukan pada saat penambahan epinefrin).
Golongan ini tidak dipecahkan di dalam plasma dan dimetabolisme di hati, sangat sedikit
atau bahkan tidak ada obat yang diekskresikan tanpa diubah.

CARA KERJA (MODE OF ACTION)


Obat bekerja pada reseptor spesifik pada natrium channel, mencegah peningkatan
permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada
selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf.

Dalam memilih obat anestetik lokal dengan konsentrasi yang sesuai, faktor-faktor yang
harus diperhatikan adalah :
1. Saraf spesifik yang akan diblok.
2. Mula kerja atau latency
3. Masa kerja (durasi) yang dibutuhkan.

1
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

ANESTESI LOKAL YANG IDEAL


1. Poten dan bersifat sementara (reversible).
2. Tak menimbulkan reaksi lokal, sistemik atau alergik.
3. Mula kerja cepat dengan durasi memuaskan.
4. Stabil dan dapat disterilkan.
5. Harga murah.

TOKSISITAS
Toksisitas sistemik dari obat-obat anestetik lokal
Intoksisikasi obat-obat anestetik lokal tergantung pada beberapa hal :
1. Konsentrasi obat.
2. Vaskularisasi di tempat suntikan.
3. Absorbsi obat.
4. Dosis.
5. Jenis obat yang digunakan. Obat-obat dengan toksisitas yang paling rendah adalah
prilokain, mepivakain, kloroprokain, dan prokain dibandingkan dengan obat-obat lainnya.
6. Kecepatan penyuntikan.
7. Penambahan epinefrin, maka puncak konsentrasi dapat diturunkan 20%-50% akan
mengurangi insiden intoksikasi, juga dapat memperpanjang masa kerja serta lapangan
operasi bersih.
8. Hipersensitivitas.
9. Usia.
10. Keadaan umum.
11. Berat badan.

Tanda-tanda dan Gejala-gejala Toksisitas


Gejala awal intoksikasi anestetik lokal adalah gejala SSP (CNS), sedang gangguan jantung
(miokard) akan muncul kemudian setelah konsentrasi dalam plasma semakin meningkat.

Sistem Saraf Pusat (SSP) :


1. Numbness of the mouth and tongue.
2. Lightheadedness.
3. Tinnitus
4. Visual disturbance.
5. Irrational behavior and speech.
6. Muscle twitching.
7. Unconsciousness.
8. Generalized convulsion.
9. Coma.
10. Apnoea.

Sistem kardiovaskular :
Intoksikasi kardiovaskular menyebabkan :
 Depresi / lambatnya konduksi otot jantung (otomatisasi miokard)
 Depresi / melemahnya otot jantung (kontraktilitas miokard)
 Vasodilatasi perifer.

2
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Gejala ini biasanya timbul jika dosis yang digunakan 2-4 kali dosis yang dapat
menimbulkan konvulsi (dosis sangat tinggi).Hipotensi, bradikardia dan kemudian henti
jantung dapat segera terjadi. Berbeda dengan Bupivacaine, gangguan konduksi miokard
sudah dapat terjadi walaupun konsentrasi dalam plasma masih relatif rendah. Gejala
ventrikular fibrilasi secara tiba-tiba telah dilaporkan setelah pemberian Bupivacaine secara
IV & celakanya biasanya resisten terhadap RKP.

Sistem pernapasan :
 Relaksasi otot polos bronkus.
 Henti nafas akibat paralise saraf frenikus, paralise interkostal atau depresi langsung
pusat pengaturan nafas.

Sistem muskolosletal :
Bersifat miotoksik (bupivacain > lidokain > prokain).Tambahan adrenalin beresiko kerusakan
saraf. Regresi dalam waktu 3 – 4 minggu.

Imunologi :
Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering karena merupakan derifat PABA.

Pencegahan Terhadap Toksisitas :


Intoksikasi anestetik lokal umumnya dapat dihindari jika pedoman sederhana dibawah ini
dapat diikuti :
1. Gunakan dosis anjuran (hafal dosis maksimal).
2. Aspirasi berulang-ulang setiap obat disuntikkan.
3. Gunakan test dose yang mengandung epinefrin.
4. Jika dibutuhkan obat dalam dosis besar atau jika obat diberikan secara IV, (misalnya
untuk anestesi regional IV) gunakan obat dengan toksisitas rendah, dan berikan secara
bertahap dan gunakan waktu yang lebih lama sampai mencapai dosis total.
5. Obat harus selalu disuntikkan secara perlahan-lahan (jangan lebih cepat dari 10
ml/menit) dan pertahankan kontak verbal dengan pasien, yang dapat melaporkan gejala-
gejala ringan sebelum seluruh dosis yang harus diberikan masuk. Hati-hati terhadap
pasien yang mulai bicara dan bertingkah irrasional. Hal ini mungkin merupakan gejala
awal dari intoksikasi SSP, namun hal ini kadang dikelirukan pada penderita histeria.

Pengobatan intoksikasi :
1. Berikan Oksigen, jika perlu dengan pernapasan buatan menggunakan bag dan mask.
2. Hentikan konvulsi jika berlanjut sampai 15-20 detik. Berikan antikonvulsan IV, misal
thiopental 100-150mg atau diazepam 5-20mg. Thiopental merupakan pilihan utama
karena efeknya lebih cepat, oleh karena itu seyogyanya sdh tersedia sblm penggunaan
anestetik lokal. Beberapa ahli lebih suka memberikan suksinilkolin 50-100 mg, yang akan
dengan cepat menghentikan konvulsi tetapi akan membutuhkan intubasi dan ventilasi
buatan sampai efeknya habis.
Gejala intoksikasi dapat hilang secepat munculnya, dan keputusan harus dibuat apakah
menunda pembedahan, mengulangi blok saraf, menggunakan teknik yang berbeda
(misalnya memberikan blok spinal sebagai ganti blok epidural) atau menggunakan anestesi
umum.

3
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Jika hipotensi dan tanda-tanda depresi miokard muncul, maka vasopressor dengan
aktivitas - dan - adrenergik harus diberikan, misalnya efedrin 15-30 mg IV. Jika henti
jantung terjadi, harus ditangani dengan emergency cardiopulmonary resuscitation termasuk
epinefrin 1 mg dan atropin 0,6 mg IV atau intrakardial. Pemberian epinefrin IV atau
intrakardial dapat mengundang fibrilasi ventrikel. Jika ini terjadi, harus ditangani dengan high
energy DC conversion ditambah bretylium 80 mg sebagai anti-aritmia.
Jika ada keraguan akan reaksi alergi, pasien harus diberi skin test yang mana, jika negatif,
tetap harus berhati-hati dengan dosis penuh. Hal ini hanya boleh dilakukan pada tempat
yang sudah diperlengkapi dengan perlengkapan dan obat-obat emergensi. Sehingga jika
alergi muncul, dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Sebaliknya dengan skin test yang
negatif tidak menjamin pemberian dosis penuh tidak terjadi reaksi.

KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN ANASTESI REGIONAL


Keuntungan anestesi regional :
1. Penderita tetap sadar (Bahaya aspirasi berkurang)
2. Relatif tidak diperlukan pengelolaan jalan napas
3. Bisa komunikasi dengan pasien
4. Tehnik Sederhana
5. Alat yang diperlukan minimal / murah
6. Relaksasi otot yang optimal
7. Perawatan pasca bedah berkurang
8. Tehnik tertentu ideal untuk penderita rawat jalan
9. Polusi obat anestesi inhalasi berkurang
10. Pengelolaan nyeri paska bedah baik
11. Relatif tidak mengganggu pernapasan /kardiovaskuler
12. Eliminasi stimuli nyeri afferent dari lokasi operasi mengurangi atau sangat menurunkan
perubahan metabolik danendokrin setelah operasi. Hal ini diaplikasikan utamanya pada
pembedahan abdomen bagian bawah, pembedahan perineal dan ekstremitas bawah.
Modifikasi reaksi stress pembedahan akan lebih berhasil jika anestesi lokal ini
dilanjutkan hingga 1-2 hari post operatif.
13. Kehilangan darah dapat dikurangi pada beberapa jenis operasi, contoh : prostatektomi,
operasi panggul dan operasi pelvis.
14. Trombo-embolisme post operatif menurun secara bermakna dengan beberapa teknik,
khususnya dengan blok epidural kontinyu yang meningkatkan aliran darah ekstremitas
bawah, menurunkan terjadinya koagulasi dan agregasi trombosit dan mencegah
infiltrasi limfosit pada endotel vaskular yang rusak (mempengaruhi ketiga komponen
dari trias Virchow).
15. Anestesi lokal atau regional lebih murah dan memungkinkan pasien pulang lebih awal
dibanding jika menggunakan anestesi umum.
Kekurangan anestesi regional :
1. Penderita takut selama operasi
2. Penderita takut obat sudah habis sedangkan operasi belum selesai
3. Operasi pada pasien yang sadar juga melibatkan kerjasama dari seluruh tim operasi.
4. Perlu persiapan waktu yang lama.
5. Tidak selalu efektif 100% (Sehingga pasien mungkin membutuhkan tambahan
analgesik, atau anestesi umum yang ringan)
6. Bisa Intoksikasi bila masuk pembuluh darah / dosis berlebihan.

4
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

7. Tidak praktis untuk beberapa bagian tubuh.


8. Beberapa pasien lebih memilih tidur saat operasi.
9. Latihan dan keterampilan dibutuhkan untuk hasil yang lebih baik.
10. Blok simpatis yang meluas mengakibatkan hipotensi yang dapat terjadi oleh blok spinal
atau epidural.
11. Terdapat sedikit kejadian namun jelas adanya kerusakan saraf yang lama.

ANESTESI LOKAL UNTUK REGIONAL


Kontra indikasi :
1. Absolut
a. Pasien menolak.
b. Infeksi pada tempat suntikan.
c. Hipovolemia berat, syok
d. Koagulopati atau mendapat terapi anti koagulan.
e. Tekanan intrakranial tinggi.
f. Fasilitas resusitasi mimim.
g. Kurang pengalaman.

2. Relatif
a. Infeksi sistemik (sepsis, bakteremia).
b. Infeksi sekitar tempat suntikan.
c. Kelainan neurologis.
d. Kelainan psikis.
e. Bedah lama.
f. Penyakit jantung.
g. Hipovolemia ringan.
h. Nyeri punggung kronis

Penyebaran dan lama kerja obat pada analgesia spinal


1. Penyebaran anestesi lokal, tergantung pada :
 Faktor utama : Berat jenis (barisitas), posisi pasien (kecuali isobarik), Dosis dan
volume anestesi lokal (kecuali isobarik).
 Faktor tambahan: Ketinggian suntikan, Kecepatan suntikan/barbotase, ukuran jarum,
keadaan fisik pasien, tekanan intra abdominal.
2. Lama kerja anastetik lokal, tergantung : Jenis anestesi lokal, besarnya dosis, ada
tidaknnya vasokonstriktor, besarnya penyebaran anestesi lokal.

Penyebaran obat pada anestesia epidural


1. Volume obat yang disuntikkan.
2. Usia pasien (tua minimal, 19 tahun maksimal).
3. Kecepatan suntikan.
4. Besarnya dosis.
5. Ketinggian tempat suntikan.
6. Posisi pasien.
7. Panjang kolumna vertebralis.

5
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Uji keberhasilan spinal / epidural :


1. Block simpatis : perubahan suhu, cold test,
2. Block sensorik : pin prick tes (uji tusuk jarum)
3. Block motorik : skala bromage.

Melipat lutut Melipat jari


0 Block tidak ada ++ ++
1 Block parsial + ++
2 Block hampir lengkap - +
3 Block lengkap - -

KOMPLIKASI
Komplikasi Regional Anastesia :
1. Komplikasi segera
a. Sensitivitas Reaksi Toksik
b. Hipotensi
Hipotensi biasanya berhubungan dengan penyebaran meluas blockade simpatis oleh
blok spinal atau epidural. Beberapa faktor yang bisa mencetuskan hipotensi berat
adalah:Hipovolemia,Pingsan akibat serangan vaso-vagal, Oklusi vena cava inferior
pada umur kehamilan tua atau pada keadaan adanya tumor abdomen.
c. Bradikadia.
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, akibat blok sampai Th2.
d. Hipoventilasi /kelumpuhan Pernapasan
Sering terjadi akibat blok epidural atau blok spinal yang tinggi atau hipoperfusi pusat
kendali nafas. Pasien akan mengeluh dispneu dan otot-otot interkostal akan tertarik ke
dalam saat inspirasi. Jika saraf frenikus mengalami paralisis (C3-C5), respirasi akan
menjadi sulit. Penatalaksanaannya adalah dengan alat bantu respirasi hingga
kelumpuhan menghilang.
e. Nyeri saat Injeksi
Nyeri akut pada daerah distribusi saraf yang diblok adalah keadaan serius yang dapat
mengindikasikan injeksi intraneural. Injeksi harus dihentikan segera karena dapat
terjadi kerusakan saraf. Tipe nyeri seperti ini harus dapat dibedakan dengan nyeri
tumpul yang terjadi akibat volume besar diinjeksikan ke area tertentu, seperti pada
blok pleksus brakhialis.

2. Komplikasi Intermediet
a. Kelumpuhan Motorik
Jika hal ini terjadi pada area yang dioperasi, paralisis otot ini sangat berguna. Meski
demikian, pada kasus anestesia epidural dan spinal, paralisis ekstremitas bawah
dapat menjadi masalah dimana beberapa pasien merasa tidak nyaman akan hal ini,
khususnya jika blok regional digunakan untuk memperlama penatalaksanaan nyeri,
contoh : pada ibu yang melahirkan dengan operasi. Sangat penting untuk meyakinkan
pasien dan pengggunaan obat dengan konsentrasi rendah pada injeksi tambahan
biasanya memungkinkan pergerakan ekstremitas bawah yang lebih aktif.

b. Paralisis otot-otot napas telah dijelaskan sebelumnya.

6
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

c. Retensi Urin
Saraf-saraf motorik parasimpatis kandung kemih berasal dari segmen spinal S2-S4,
sedangkan saraf sensorik simpatis memasuki medulla spinalis melalui T11-L2. Karena
itu, blok spinal dan epidural pada level ini dapat menyebabkan retensi urin dan
membutuhkan kateterisasi kandung kemih. Pasien tidak akan menyadari distensi pada
kandung kemihnya, harus dilakukan observasi baik produksi urinnya maupun palpasi
kandung kemih. Kateterisasi kadang-kadang condemned karena kemungkinan infeksi
urin dan bakteremia. Kateterisasi aseptik yang berulang kali diangggap lebih sedikit
menyebabkan infeksi dibanding drainase kontinyu, namun mayoritas pasien sedikit
atau tidak mendapatkan bahaya akibat kateterisasi.Beberapa operasi daerah pelvis
dan perineal membutuhkan pemasangan kateter bukan karena anestesinya. Antibiotik
profilaksis akan mencegah terjadinya infeksi.

3. Komplikasi Lambat / pasca tindakan :

1. Kerusakan Neurologik
Kerusakan neurologik yang dapat sembuh atau permanen adalah komplikasi yang
paling ditakutkan dalam anestesia regional.Terdapat beberapa kasus untuk kerusakan
ini. Tabel 5 memberi ringkasan komplikasi yang telah dilaporkan setelah blok epidural.

Penyebab utama masalah-masalah neurologic adalah :


a. Trauma saraf
Disamping kerusakan saraf yang disebabkan oleh jarum atau kateter yang memasuki
saraf, injeksi langsung anestetik lokal pada saraf secara fisik dapat merusak serabut
saraf & mengakibatkan neuropati.
b. Sindrom Arteri Spinalis Anterior
Sindrom ini menyebabkan paraplegia dan akibat dari oklusi atau tidak adekuatnya aliran
arteri Adamkiewicz, yang mensuplai sepertiga bawah medulla spinalis. Penyebab utama
aliran yang tidak adekuat adalah hipotensi yang terjadi bersama arteriosklerosis
Lokal.Bagian anterior medulla spinalis secara primer terlibat dan kehilangan fungsi
sensorik mungkin minimal.
c. Arakhnoiditis Adhesif
Ini mungkin terjadi setelah injeksi ruang epidural atau ruang subarakhnoid dengan larutan
yang mengiritasi atau yang telah terinfeksi.
d. Space-Occupying Lesion
Space-occupaying lesion dalam kanalis spinalis, seperti hematoma atau abses, dapat
menyebabkan paraplegia dan bisa jadi atau tidak berhubungan dengan injeksi anestetik
Lokal. Hematoma dapat terjadi akibat keadaan hiperkoagulasi, dan abses intraspinal
biasanya berhubungan infeksi yang terjadi pada darah.

2. Pneumothorax
Pneumothorax merupakan komplikasi blok saraf interkostal, anestesia lokal interpleural
dan blok pleksus brachial supraklavikular. Hal ini harus selalu diingat setelah melakukan
blok ini X-ray dada akan segera memastikan diagnosis ini. Penatalaksanaan bergantung
jumlah udara yang berada dalam ronggapleura dan adekuatnya fungsi respirasi.

7
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

3. Sakit kepala
Sakit kepala dapat terjadi setelah penusukan duramater saat melakukan anestesia spinal
atau karena ketidaksengajaan menusuk duramater saat melakukan blok epidural. Sakit
kepala ini terjadi karena menurunnya tekanan cairan serebrospinalis.
4. Infeksi : Meningitis, dll

Komplikasi Block Saraf Perifer :


1. Toksisitas sistemik
2. Cedera saraf perifer
3. Nyeri pada tempat injeksi
4. Hematom lokal.

BLOCK SARAF PERIFER


Blocks in the elbow region
Radial nerve Musculocutaneous nerve

sculocuta
Median nerve Median nerve

Local anaesthetics: 3 – 5 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75% per


injection
Needle: 24 G short bevel, unipolar.

Axillary Plexus Block

Indications: Operations in the arm (distal upper arm, lower arm, hand), (Continuous)
analgesia, Physiotherapy, Pain syndrome, Sympathicolysis.
Special contraindications: None
Local anaesthetics:
Initial:
30 – 50 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or 40 ml ropivacaine 0.75%
Continuous:
Ropivacaine 0.2 – 0.375% 6 ml/h (5 – 15 ml), max. 37.5 mg/h
Bolus (alternatively): 20 ml ropivacaine 0.2 – 0.375% (approx. every 6 hours)

8
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Needles: Single shot and/or continuous: Short-beveled needle through a plastic cannula
(e.g. 18 G, 45° bevel, Pajunk co. or B. Braun). A flexible catheter can well be inserted
through the 18 G cannula. The catheter is advanced 5 cm beyond the tip of the needle.
Alternatively: Single shot unipolar needle 22 G x 4 cm.

Block in the wrist region


Medial nerveUlnar nerve

Local anaesthetics: 3 – 5 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%


Needle: 22 or 24

Radial nerve

Local anaesthetics: 10 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%


Needle: 22 or 24 G.

Psoas Compartment Block

Indications: In combination with proximal sciatic nerve block, all types of leg surgery
(including endoprosthesis), Wound treatment in the ventral and lateral thigh regions, skin
grafts in the upper thigh, Physiotherapy, Pain therapy (e. g. postop. after hip or knee
surgery).
Special contraindications: Anticoagulation therapy, same recommendations as for patients
with neuroaxial block.
Side effects/complications: Spinal anaesthesia, epidural-like block due to spread to
theepidural space,hematoma.
Local anaesthetics:
Initial: 40 – 50 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or 30 ml ropivacaine 0.75%

9
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Continuous: 6 ml (5 – 15 ml) ropivacaine 0.2 – 0.375%, max. 37.5 mg/h or bolus


(alternatively): 20 ml ropivacaine 0.2 – 0.375% (approx. every 6 hours).

Needles:
E. g. 22 G, 12 cm needle Continuous: E. g. Plexolong B® 19.5 G, 12 cm (Pajunk co.), UP 18
G/22 G, 11 cm.
(B. Braun)
Continuous: The catheter is advanced 5 cm beyond the tip of the cannula, preferably in a
caudal direction.

Distal Posterior Sciatic Nerve Block

Indications:Anaesthesia for foot/ankle joint surgery, An `esthesia/analgesia distal of the


knee, Postoperative analgesia (foot/ankle joint), Analgesia/sympathicolysis (CRPS I or II)
achillodynia, diabetic gangrene, blood circulation disorders or leg ulcer
Special contraindications: Nonenerve block
Local anaesthetics:
Initial: 30 – 40 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or 30 ml ropivacaine 0.75%
Continuous: 6 ml/h (5 – 15 ml) ropivacaine 0.2 – 0.375%, max. 37.5 mg/h or bolus
(alternatively): 20 ml ropivacaine 0.2 – 0.375% (approx. every 6 hours)
Needles and catheters: Shortbevel, unipolar needle 22 G, 5 – 10 cm
Continuous: E. g. 19.5 G, 6 or 10 cm long, 20 G catheter (Plexolong set®, Pajunk co.).
The catheter is advanced 4 – 5 cm beyond the tip of the needle

Saphenous Nerve Block

Indications: Incomplete lumbar plexus or femoral nerve block (medial lower leg),
Combination with a distal sciatic block, when tourniquet below the knee is used
Special contraindications: None
Local anaesthetics:
5 – 10 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%
Needle: 24 G, 6 cm.

10
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

Common Peroneal Nerve Block

Indications: Incomplete anaesthesia following sciatic block, Diagnostic block & Pain therapy
Special contraindications: None
Local anaesthetics: 5 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or 5 ml ropivacaine 0.75%
Needle: unipolar 22 G, 5 cm.

Femoral Nerve Block

Local anaesthetics:
Initial: 30–40 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%
Continuous: 6 ml (5 – 15 ml) ropivacaine 0.2 – 0.375%, max. 37.5 mg/ml or bolus
(alternatively): 20 ml ropivacaine 0.2 – 0.375% (approx. every 6 hours).

Blocks for anaesthesia in the foot (Ankle Blocks)


A. Block Peroneal Nerve

Local anaesthetics: 5 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%


Needle: 24 G, 3 – 5 cmA

B. Block of the Deep Peroneal Nerve

Local anaesthetics: 5 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75%


Needle: 24 G, 3 – 5 cm.

11
dr.Peter H.Y.Singal. Anestesi FK UNHAS Makassar
Anestesi Lokal & Regional

C. Posterior Tibial Nerve

Indications:Incomplete plexus lumbosacral block, Foot surgery, Pain therapie, Diagnostic


blocks
Special contraindications: None. In case of neurological deficits,check diagnosis before
initiating the block
Local anaesthetics: 5 – 10 ml lidocaine 1% or mepivacaine 1% or ropivacaine 0.75% per
injection
Needles: 22 – 24 G, 4 – 6 cm.

12