Anda di halaman 1dari 12

RADAR (RADIO DETECTION AND RANGING)

I. PENDAHULUAN

Radar ( Radar Detection And Ranging) adalah suatu system pendeteksi obyek yang menggunakan
gelombang elektromagnetik untuk identifikasi jarak (range),arah (direction), atau kecepatan
(speed) baik obyek bergerak maupun diam seperti pesawat terbang,kapal,kendaraan, dan
keadaan cuaca.

Gambar 1. Radar perang dunia Ke-II (www.radartutorial.eu)

Istilah Radar digunakan pertama kali oleh US Navy pada tahun 1940 sebagai akronim (Radio
Detection And Ranging). Radar aslinya disebut RDF(Range and Direction Finding ) di United
Kingdom, digunakan akronim sama sebagai Radio Direction Finding untuk menunjukan
kemampuan penentuan jarak (ranging capability) (Rustamaji et.al., 2012).
Gambar 2. Display secondary surveillance radar (Perangin-angin, 2010)

Jenis Radar
 Doppler Radar
Doppler radar merupakan jenis radar yang mengukur kecepatan radial dari sebuah objek yang
masuk ke dalam daerah tangkapan radar dengan menggunakan Efek Doppler. Hal ini dilakukan
dengan memancarkan sinyal microwave (gelombang mikro) ke objek lalu menangkap refleksinya,
dan kemudian dianalisis perubahannya. Doppler radar merupakan jenis radar yang sangat akurat
dalam mengukur kecepatan radial. Contoh Doppler radar adalah Weather Radar yang digunakan
untuk mendeteksi cuaca.
 Bistatic Radar
Bistatic radar merupakan suatu jenis sistem radar yang komponennya terdiri dari pemancar
sinyal (transmitter) dan penerima sinyal (receiver), dimana kedua komponen tersebut terpisah.
Kedua komponen itu dipisahkan oleh suatu jarak yang dapat dibandingkan dengan jarak
target/objek. Objek dapat dideteksi berdasarkan sinyal yang dipantulkan oleh objek tersebut ke
pusat antena. Contoh Bistatic radar adalah Passive radar. Passive radar adalah sistem radar yang
mendeteksi dan melacak objek dengan proses refleksi dari sumber non-kooperatif pencahayaan
di lingkungan, seperti penyiaran komersial dan sinyal komunikasi (Demin, 2013).
Panjang gelombang yang akan digunakan pada sistem radar bergantung pada aplikasi yang akan
dikerjakan. Radar menggunakan satu atau lebih jenis band dalam melakukan penginderaan jauh.
Band merupakan rentang panjang gelombang. Radar menggunakan spektrum gelombang
elektromagnetik pada rentang frekuensi 300 MHz hingga 30 GHz.
Berdasarkan bentuk gelombang
 Continuous Wave/CW (Gelombang Berkesinambungan), merupakan radar yang
menggunakan transmitter dan antena penerima (receive antenna) secara terpisah, di mana radar
ini terus menerus memancarkan gelombang elektromagnetik. Radar CW yang tidak termodulasi
dapat mengukur kecepatan radial target serta posisi sudut target secara akurat. Radar CW yang
tidak termodulasi biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan target dan menjadi
pemandu rudal (missile guidance).
 Pulsed Radars/PR (Radar Berdenyut), merupakan radar yang gelombang
elektromagnetiknya diputus secara berirama. Frekuensi denyut radar (Pulse Repetition
Frequency/PRF) dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu PRF high, PRF medium dan PRF low
(Kireina, 2011).

Sistem radar
Ada tiga komponen utama yang tersusun di dalam sistem radar, yaitu antena, transmitter
(pemancar sinyal) dan receiver (penerima sinyal) .
 Antena
Gambar 3. Antena radar (http://www.google.co.id)
Antena yang terletak pada radar merupakan suatu antena reflektor berbentuk piring parabola
yang menyebarkan energi elektromagnetik dari titik fokusnya dan dipantulkan melalui
permukaan yang berbentuk parabola. Antena radar memiliki du akutub (dwikutub). Input sinyal
yang masuk dijabarkan dalam bentuk phased-array (bertingkat atau bertahap). Ini merupakan
sebaran unsur-unsur objek yang tertangkap antena dan kemudian diteruskan ke pusat sistem
radar.
 Pemancar sinyal (transmitter)
Pada sistem radar, pemancar sinyal (transmitter) berfungsi untuk memancarkan gelombang
elektromagnetik melalui reflektor antena. Hal ini dilakukan agar sinyal objek yang berada
didaerah tangkapan radar dapat dikenali. Pada umumnya, transmitter memiliki bandwidth
dengan kapasitas yang besar. Transmitter juga memiliki tenaga yang cukup kuat, efisien, bisa
dipercaya, ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu berat, serta mudah dalam hal
perawatannya.
 Penerima sinyal (receiver)
Pada sistem radar, penerima sinyal (receiver) berfungsi sebagai penerima kembali pantulan
gelombang elektromagnetik dari sinyal objek yang tertangkap oleh radar melalui reflektor
antena. Pada umumnya, receiver memiliki kemampuan untuk menyaring sinyal yang diterimanya
agar sesuai dengan pendeteksian yang diinginkan, dapat memperkuat sinyal objek yang lemah
dan meneruskan sinyal objek tersebut ke pemroses data dan sinyal (signal and data processor),
dan kemudian menampilkan gambarnya di layar monitor (display).
Selain tiga komponen di atas, sistem radar juga terdiri dari beberapa komponen pendukung
lainnya, yaitu
 Waveguide, berfungsi sebagai penghubung antara antena dan transmitter.
 Duplexer, berfungsi sebagai tempat pertukaran atau peralihan antara antena dan
penerima atau pemancar sinyal ketika antena digunakan dalam kedua situati tersebut.
Software, merupakan suatu bagian elektronik yang berfungsi mengontrol kerja seluruh
perangkat dan antena ketika melakukan tugasnya masing-masing (Demin, 2013).

Gambar 4. Cara kerja Radar dengan aliran sinyal (www.radartutorial.eu).


II. BAKU MUTU UNTUK GELOMBANG RADAR
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/MEN/X/2011 Tahun
2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja adalah sebagai
berikut.
Tabel 1. Nilai Ambang Batas Radiasi Frekuensi Radio dan Gelombang Mikro Yang Diizinkan oleh
Permennakertrans No.13/MEN/ X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Tabel 2. Nilai Ambang Batas Radiasi Frekuensi Radio dan Gelombang Mikro Yang Diizinkan oleh
Permennakertrans No.13/MEN/ X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
dan Faktor Kimia di Tempat Kerja berdasarkan lama paparan.
Tabel 3. Nilai Ambang Batas Radiasi Frekuensi Radio dan Gelombang Mikro Yang Diizinkan oleh
Permennakertrans No.13/MEN/ X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
dan Faktor Kimia di Tempat Kerja berdasarkan kadar tertinggi pada bagian tubuh.

Tabel 4. Nilai Ambang Batas Radiasi Frekuensi Radio dan Gelombang Mikro Yang Diizinkan oleh
Permennakertrans No.13/MEN/ X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
dan Faktor Kimia di Tempat Kerja berdasarkan rentang frekuensi pada bagian tubuh.

III. MANFAAT GELOMBANG RADAR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


 Wifi Radar
Aplikasi wifi radar akan memberitahukan dengan notifikasi suara jika aplikasi ini mendeteksi
keberadaan dengan mendeteksi adanya sinyal Wifi yang ditangkap oleh ponsel .
 Cuaca
 Weather Radar, merupakan jenis radar cuaca yang memiliki kemampuan untuk
mendeteksi intensitas curah hujan dan cuaca buruk, misalnya badai.
 Wind Profiler, merupakan jenis radar cuaca yang berguna untuk mendeteksi
kecepatan dan arah angin dengan menggunakan gelombang suara (SODAR).
 Militer
 Airborne Early Warning (AEW), merupakan sebuah sistem radar yang berfungsi
untuk mendeteksi posisi dan keberadaan pesawat terbang lain. Sistem radar ini
biasanya dimanfaatkan untuk pertahanan dan penyerangan udara dalam dunia
militer.
 Radar pemandu peluru kendali, biasa digunakan oleh sejumlah pesawat tempur
untuk mencapai sasaran/target penembakan. Salah satu pesawat yang
menggunakan jenis radar ini adalah pesawat tempur Amerika Serikat F-14. Dengan
memasang radar ini pada peluru kendali udara (AIM-54 Phoenix), maka peluru
kendali yang ditembakkan ke udara itu (air-to-air missile) diharapkan dapat
mencapai sasarannya dengan tepat.
 Kepolisian
Radar biasa dimanfaatkan oleh kepolisian untuk mendeteksi kecepatan kendaraan bermotor saat
melaju di jalan. Radar yang biasa digunakan untuk masalah ini adalah radar gun yang berbentuk
seperti pistol dan microdigicam radar.
 Pelayaran
Dalam bidang pelayaran, radar digunakan untuk mengatur jalur perjalanan kapal agar
setiap kapal dapat berjalan dan berlalu lalang di jalurnya masing-masing dan tidak saling
bertabrakan, sekalipun dalam cuaca yang kurang baik, misalnya cuaca berkabut.
 Penerbangan
Dalam bidang penerbangan, penggunaan radar terlihat jelas pada pemakaian Air Traffic Control
(ATC). Air Traffic Control merupakan suatu kendali dalam pengaturan lalu lintas udara. Tugasnya
adalah untuk mengatur lalu lalang serta kelancaran lalu lintas udara bagi setiap pesawat terbang
yang akan lepas landas (take off), terbang di udara, maupun yang akan mendarat (landing). ATC
juga berfungsi untuk memberikan layanan bantuan informasi bagi pilot tentang cuaca, situasi
dan kondisi bandara yang dituju.
 Secondary Surveillance Radar (SSR)
o Radar ada beberapa macam dan yang umum digunakan di bandara udara adalah Primary
Surveillance Radar (PSR) dan Secondary Surveillance Radar (SSR). Kedua jenis radar baik
PSR maupun SSR mempunyai cara kerja berbeda. Pada PSR sifatnya aktif dan pesawat
yang ditargetkan sifatnya pasif. Karena PSR hanya menerima pantulan gelombang radio
dari refleksi pesawat tersebut (echo). Sedangkan pesawat itu sendiri tidak “tahu-menahu”
dengan kegiatan radar di bawah. Pada SSR, baik radar maupun pesawat kedua-duanya
aktif. Hal ini dapat dilakukan karena pesawat terbang telah dilengkapi dengan
transponder. Pesawat-pesawat yang tidak dilengkapi transponder tidak akan dapat dilihat
pada radar scope seperti identifikasi pesawat, ketinggiannya, dan lain-lain.Dengan radar
SSR, yang merupakan radar deteksi aktif dengan pesawat terpasang transponder,
informasi yang didapatkan lebih dari deteksi PSR, yaitu
o jarak pesawat
o posisi pesawat
o kode pesawat
o ketinggian pesawat
o kecepatan pesawat (Kireina, 2011).

Gambar 5. Cara kerja secondary surveillance radar (SSR)

IV. EFEK GELOMBANG RADAR

Efek gelombang radar terhadap manusia dapat dibedakan atas :


 Berdasarkan jenis sel yang terkena paparan radiasi. Sel dalam tubuh manusia terdiri dari
sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel telur pada perempuan dan sel sperma pada
laki-laki, sedangkan sel somatic adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis
sel, maka efek radiasi dapat dibedakan atas :
 Efek Genetik (non-somatik) atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh
keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi.
Efek Somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi. Waktu yang
dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi sehingga dapat dibedakan
atas :
o Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada individu
dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya
rambut), eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan penurunan jumlah sel darah.
Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi.
o Efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama
(bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.
 Berdasarkan dosis radiasi. Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi
radiasi), efek radiasi dibedakan atas efek stokastik dan efek deterministic (non-stokastik).
 Efek Stokastik adalah efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan
diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat paparan radiasi dengan
dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. Radiasi serendah apapun selalu
terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik pada tingkat
molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh sel tetapi mengubah
sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini mempunyai peluang untuk lolos dari
sistem pertahanan tubuh yang berusaha untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat
proses modifikasi atau transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek
stokastik terjadi tanpa ada dosis ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama.
Semakin besar dosis paparan, semakin besar peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat
keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami
perubahan adalah sel genetik, maka sifatsifat sel yang baru tersebut akan diwariskan kepada
turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah sel somatik maka
sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama, ditambah dengan pengaruh dari bahan-
bahan yang bersifat toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas atau
kanker. Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek stokastik a.l :
– Tidak mengenal dosis ambang
– Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
– Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
– Tidak ada penyembuhan spontan
Efek ini meliputi : kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit keturunan (efek genetik).
 Efek Deterministik (non-stokastik) adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi
menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi karena adanya
proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan yang terkena radiasi.
Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi pada seluruh tubuh maupun lokal.Efek
deterministik timbul bila dosis yang diterima di atas dosis ambang (threshold dose) dan
umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek deterministik
akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis ambang yang bervariasi
bergantung pada jenis efek. Pada dosis lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan
terjadinya efek deterministik dengan demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis ambang,
peluang terjadinya efek ini menjadi 100%. Adapun ciri-ciri efek non-stokastik, antara lain ;
– Mempunyai dosis ambang
– Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi
– Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan)
– Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis radiasi
Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas / kemandulan, katarak (efek somatik) Darai penjelasan di
atas dapat disimpulkan : Efek Genetik merupakan efek stokastik, sedangkan Efek Somatik dapat
berupa stokastik maupun deterministik (non-stokastik)(Eddy, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

 Demin. 2013. PRINSIP KERJA SISTEM RADAR


http://planetcopas.blogspot.co.id/2013/09/prinsip-kerja-sistem-radar.html) (diakses
pada tanggal 8 November 2015)
 Eddy. 2013. Efek samping dan Bahayanya Microwave bagi kesehatan.
http://www.tipscaraterbaik.com/efek-samping-dan-bahayanya-microwave-bagi-
kesehatan.html#sthash.AlAv2D6m.dpuf (diakses pada tanggal 8 November 2015)
 Kireina, 2011. Gelombang Radar. http://anggadewikireina.wordpress.com. (diakses pada
tanggal 8 November 2015)
 Perangin-angin, B.
2010.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18906/4/Chapter%20II.pdf (diakses
pada tanggal 8 November 2015)
 Rustamaji. Djaelani, Elan. 2012. RADAR JAMMING SUATU KONSEP RANCANG BANGUN .
ELECTRANS, VOL.11, NO.2.
 (http://www.google.co.id) (diakses pada tanggal 8 November 2015)
 http://law.budiharto.net/PDF/Kepmen%20Menaker%20no.%2051%20tahun%201999.p
df. (diakses pada tanggal 8 November 2015)
 http://www.radartutorial.eu/druck/Book1.pdf (diakses pada tanggal 8 November 2015)