Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru

(alveoli) yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus,

jamur dan bakteri. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam,

sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak dan sesak nafas(1).

Pneumonia merupakan penyakit infeksi terbesar penyebab utama

kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Pneumonia merupakan penyebab

dari 15% Balita di tahun 2015. Penyakit ini menyumbang 16% dari seluruh

kematian anak dibawah 5 tahun, penyebab kematian pada 920.136 Balita,

atau 2.500 kematian per hari, dan 2 anak Balita meninggal setiap menit pada

tahun 2015(2).

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pneumonia

merupakan penyebab kematian kedua tertinggi setelah diare, hal ini

menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia naik dari 1,6% pada tahun 2013

menjadi 2% dari populasi Balita yang ada di indonesa pada tahun 2018,

sehingga menjadi masalah kesehatan masyarakat utama yang berkontribusi

terhadap tingginya angka kematian Balita di Indonesia (3).

Perkiraan kasus pneumonia pada Balita di suatu wilayah sebesar 10%

dari jumlah Balita di wilayah tersebut. Perkiraan Balita penderita pneumonia

di Sulawesi Tenggara pada tahun 2017 sebesar 26.272 Balita, sementara

Balita penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani baru mencapai


2

3.051 kasus atau sekitar 11,61% dari perkiraan penderita angka ini masih

jauh di bawah target nasional sebesar 80% (4).

Berdasarkan profil kesehatan Konawe Selatan pada tahun 2017,

terdapat sebesar 700 kasus pneumonia. Penderita pneumonia di Konawe

Selatan tertinggi berada di wilayah Puskesmas Tinanggea dengan jumlah

penderita 238 (33,38%) penderita(5).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ariana dkk kejadian

pneumonia disebebkan oleh beberapa faktor risiko, salah satunya yaitu

status gizi dengan kejadian pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Pedan

Balita berstatus gizi kurang berisiko 2,786 kali untuk mengalami kejadian

pneumonia(6).

Penelitian yang dilakukan oleh Payntet Stuart dkk di Philipina

didapatkan hasil bahwa asumsi menurut peneliti dapat disimpulkan bahwa

status gizi dengan kejadian pneumonia pada Balita merupakan faktor risiko

terjadinya pneumonia di karenakan status gizi yang kurang menyebabkan

daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terkena infeksi. Infeksi sendiri

akan menyebabkan Balita tidak nafsu makan dan mengakibatkan

kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, Balita lebih mudah terserang

pneumonia karena lebih mudah terserang infeksi karena daya tahan tubuh

berkurang(7).

Penelitian lain juga menunjukkan ada hubungan antara paparan asap

rokok dengan pneumonia yang dilakukan di desa Pucung Rejo Kabupaten

Magelang dengan responden berjumlah 42 didapatkan hasil bahwa


3

penumonia berat semua terjadi pada Balita yang mendapatkan paparan asap

rokok yaitu sebanyak 2 Balita. Pneumonia terjadi pada semua Balita yang

mendapatkan paparan asap rokok yaitu sebanyak 3 Balita dan kejadian tidak

ISPA sebagian besar terjadi pada Balita yang tidak mendapatkan paparan

asap rokok. Semua Balita yang mengalami pneumonia berat dan pneumonia

didapati bahwa Balita tersebut mendapatkan paparan asap rokok dari orang

tua yang merokok di dalam rumah(8).

Hingga saat ini kejadian pneumonia pada balita di Indonesia masih

menjadi masalah besar sebagai salah satu penyebab kematian anak Balita.

Disamping itu, masalah status gizi yang kurang sebagai salah satu faktor

risiko pneumonia pada anak Balita juga memperihatinkan karena masih sulit

untuk ditangani. Bertitik tolak pada hal tersebut, maka peneliti mengajukan

penelitian dengan topik “Faktor risiko kejadian Pneumonia pada anak Balita

di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan”.

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang diatas maka penelitian merumuskan

masalah dalam penelitian ini yaitu :

1. Apakah status gizi merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada

Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe

Selatan?

2. Apakah paparan asap rokok merupakan faktor risiko kejadian

pneumonia pada anak Balita di wilayah kerja Puskesmas Tiananggea

Kabupaten Konawe Selatan?


4

3. Faktor apakah yang paling berisiko dengan kejadian pneumonia pada

anak Balita di wilayah kerja Puskesmas Tiananggea Kabupaten Konawe

Selatan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

a. Tujuan Umum

Mengetahui faktor risiko kejadian Pneumonia pada anak Balita

di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan.

b. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi faktor risiko status gizi dengan kejadian

pneumonia pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Kabupaten Konawe Selatan.

b. Mengidentifikasi faktor risiko paparan asap rokok dengan kejadian

pneumonia pada balita diwilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Kabupaten Konawe Selatan.

c. Mengidentifikasi faktor yang paling berisiko terkena pneumonia

pada anak Balita di wilayah kerja Puskesmas Tiananggea kabupaten

Konawe Selatan?
5

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan

Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan Puskesmas agar

dapat meningkatkan upaya-upaya untuk penanggulangan pneumonia

pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea.

2. Bagi peneliti lain

Penelitian ini dapat digunakan sebagai data rujukan bagi

penelitian yang akan datang sehubungan dengan kejadian Pneumonia

pada anak, khususnya penelitian yang berhubungan status gizi dan

paparan asap rokok dengan kejadian Pneumonia pada anak Balita.

3. Bagi masyarakat

Sebagai masukan kepada masyarakat agar dapat lebih

memahami akan bahaya dari keberadaan anggota keluarga yang

merokok bagi anak.


6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pneumonia

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkin paru,

distal dari bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan

konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.

Pneumonia berulang (rekuren) adalah pneumonia dengan 2 episode

atau lebih yang terjadi dalam periode satu tahun. Pneumonia rekuren

terjadi pada 7,7-9% anak yang mengalami pneumonia. Pneumonia

berulang ini selain disebabkan oleh mikroorganisme, juga dapat

disebabkan oleh sistem imunitas atau kekebalan tubuh Balita

yang lemah(9).

2. Epidemiologi Pneumonia

Pneumonia pada anak merupakan infeksi saluran pernapasan

yang serius. Kejadian pneumonia pada anak secara fundamental

berbeda dengan kejadian pneumonia pada orang dewasa.

Pneumonia pada anak merupakan pembunuh utama Balita di

negara-negara berkembang. Pneumonia menyumbang 21%

kematian pada Balita di negara-negara berkembang. Tingkat

kematian Balita di negara berkembang berkisar antara 60-100 per

1000 kelahiran hidup, dan seperlima dari kematian ini disebabkan

oleh pneumonia. Setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 1,9 juta


7

Balita didunia meninggal dunia akibat pneumonia. Setengah dari

kematian Balita tersebut terjadi di Afrika. Sedangkan di Amerika

dan Eropa yang merupakan negara maju, angka kejadian

pneumonia masih tinggi, diperkirakan setiap tahunnya 30-45 kasus

per 1000 anak pada umur kurang dari 5 tahun (Balita) (10).

3. Etiologi Pneumonia

Penyakit saluran napas akut dapat terjadi di semua bagian paru

dari bagian tengah ke hidung lalu ke bagian paru. Pneumonia

merupakan bagian dari pernapasan bagian bawah dan yang sering

mengalami infeksi terutama bagian paru. Anatomi bagian paru

terdiri dari saluran (bronkhi) yang kemudian dibagi 2 (dua) menjadi

saluran yang lebih kecil (bronkhioles) dan akan berakhir di bagian

kantung yang kecil (alveoli) (11). Alveoli ini akan terisi oksigen

yang memberikan tambahan ke darah dan karbondioksida

dibersihkan. Ketika seorang anak menderita pneumonia, didalam

alveoli terisi pus dan cairan, sehingga menganggu pertukaran gas di

alveoli, hal ini mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan

dalam bernapas. Salah satu infeksi saluran napas akut sedang adalah

batuk pilek. Pada beberapa anak denga penyaki infeks ini dapat

berkembang menjadi pneumonia yang sering kali disertai oleh

penyakit diare atau malaria (11).

Pasien yang dirawat dengan pneumonia didapat di masyarakat,

bakteri patogen yang sering ditemukan adalah streptococcus


8

pneumoniae, haemophylus influenzae, chlamydia pneumoniae,

legionella pneumoniae, dan mycoplasma pneumoniae. Sedangkan

baksil enterik gram-negatif dan Pseudomonas aeruginosa yaitu

mikroorganisme yang menyebabkan pneumonia nosokomial (11).

4. Gejala dan tanda klinis pneumonia

Gejala dan tanda klinis pneumonia bervariasi tergantung

kuman penyebab, usia pasien, status imunologis pasien dan beratnya

penyakit. Manisfestasi klinis bisa berat yaitu sesak, sianosis dan

dapat juga gejalanya tidak terlihat jelas seperti neonatus. Gejala dan

tanda pneumonia dapat dibedakan menjadi gejala umum infeksi

(non spesifik), gejala pulmonal, pleural dan ekstrapulmonal. Gejala

non spesifik meliputi demam, menggigil, sefalgia dan gelisah.

Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan gastrointestinal

seperti muntah, kembung, diare atau sakit perut (12).

Gejala klinis pneumonia pada Balita meliputi demam, dingin,

batuk produktif atau kering, malaise, nteri pleural, terkadang

dyspnea dan hemoptisis dan sel darah putih berubah (>

10.000/mm3 atau < 6.000/mm3) (13).

Patokan penghitungan frekuensi nafas pada Balita dengan

pneumonia bervariasi tergantung kelompok umur. Dikategorikan

nafas cepat apabila pada anak usia 2 bulan – 12 bulan frekuensi

pernafasan sebanyak ≥ 50 kali per menit. Pada anak usia 12 bulan –

5 tahun frekuensi pernafasn sebanyak ≥ 40 kali per menit.


9

Penghitungan frekuensi nafas cepat dilakukan dalam satu menit

penuh pada waktu anak dalam keadaan tenang. Nafas sesak

ditentukan dengan melihat adanya cekungan dinding dada bagian

bawah waktu menarik nafas (adanya retraksi epigastrium atau

retraksi subkosta), sianosis dideteksi dengan melihat warna

kebiruan di sekitar mulut atau puncak hidung anak (13).

5. Penyebab pneumonia

Penyebab pneumonia terbagi dalam 2 kategori yaitu :

a. Pneumonia primer

1) Bakteri

2) Fungus

3) Inhalasi atau aspirasi patogen

4) Mikrobakteri

5) Protozoa

6) Riketsia

7) Virus

b. Pneumonia sekunder

1) Penyebaran hematogen bakteri dari fokus yang jauh

2) Kerusakan awal pada paru-paru akibat zat kimiawi

berbahaya

3) Superinfeksi (14).

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan

penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama


10

dalam spektrum etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan.

Spektrum mikroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil

(< 20 hari) meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram negatif

seperti E. Coli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang

lebih besar (3 minggu – 3 bulan) dan anak Balita (4 bulan – 5

tahun), pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus

pneumoniae, Haemophillus influenza tipe B, dan Staphylococcus

aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain

bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma

pneumoniae (15).

6. Patofisiologi

Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja,

dari bayi sampai usia lanjut. Pecandu alkohol, pasien pasca operasi,

orang-orang dengan gangguan penyakit pernapasan, sedang

terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya adalah yang

paling berisiko. Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup

normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh

menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi,

bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak

organ paru-paru. Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu

mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan

peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksin-toksin

yang dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat


11

secara langsung merusak sel-sel sistem pernapasan bawah.

Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun dan peradangan

yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari

lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari

lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru

kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan

cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri

pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab

pneumonia (16).

7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan

pemeriksaan fisik yang sesuai dengan gejala dan tanda yang

diuraikan sebelumnya, disertai pemeriksaan penunjang. Diagnosis

etiologi dibuat berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi atau serologi.

Berdasarkan pedoman diagnosis dan tatalaksana pneumonia yang

diajukan oleh WHO, pneumonia dibedakan atas :

a. Pneumonia sangat berat : bila ada sianosis dan tidak sanggup

minum, harus dirawat di Rumah sakit dan diberi antibiotik.

b. Pneumonia berat : bila ada retraksi, tanpa sianosis dan masih

sanggup minum, harus dirawat di rumah sakit dan diberi

antibiotik.

1) Pneumonia : bila tidak ada retraksi tapi napas cepat yaitu:

a) >60x/menit pada bayi < 2 bulan


12

b) >50x/menit pada anak 2 bulan – 1 tahun

c) >40x/menit pada anak 1 – 5 tahun

2) Bukan pneumonia : hanya batuk tanpa tanda dan gejala

seperti di atas, tidak perlu dirawat tidak perlu antibiotik (2).

8. Faktor Determinan Pneumonia pada Balita

Determinan pneumonia pada Balita adalah faktor Host (umur,

status gizi, jenis kelamin, pemberian vitamin A, status imunisasi,

pemberian ASI), faktor Agent (Streptococcus pneumoniae, Hemophilus

influenzae dan Staphylococcus aureus), faktor lingkungan sosial

(pekerjaan orang tua dan pendidikan ibu), faktor lingkungan fisik

(polusi udara dalam ruangan dan kepadatan hunian) (17).

a. Faktor Host

1) Umur

Faktor umur merupakan salah satu faktor risiko kematian

pada Balita yang sedang menderita pneumonia. Semakin tua

usia Balita yang sedang menderita pneumonia maka akan

semakin kecil risiko meninggal akibat pneumonia dibandingkan

Balita yang berusia muda. Umur merupakan faktor risiko yang

berhubungan dengan kejadian pneumonia. Risiko untuk terkena

pneumonia lebih besar pada anak umur dibawah 2 tahun

dibandingkan yang lebih tua, hal ini dikarenakan status

kerentanan anak di bawah 2 tahun belum sempurna dan lumen

saluran napas yang masih sempit (17).


13

Faktor umur dapat mengarahkan kemungkinan penyebab

atau etiologi pneumonia.

a) Group B Strepptococcus dan gram negatif bakteri enterik

merupakan penyebab yang paling umum pada neonatal

(bayi berumur 0-28 hari) dan merupakan transmisi vertikal

dari ibu sewaktu persalinan.

b) Pneumonia pada bayi berumur 3 minggu sampai 3 bulan

yang paling sering adalah bakteri, biasanya bakteri

Streptococcus Pneumoniae

c) Balita usia 4 bulan sampai 5 tahun, virus merupakan

penyebab tersering dari pneumonia, yaitu respiratory

syncytial virus (17).

2) Jenis Kelamin

Meskipun secara fisik pria cenderung lebih kuat

dibandingkan wanita. Namun wanita sejak bayi hingga dewasa

memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan laki-laki, baik itu

daya tahan akan rasa sakit dan daya tahan terhadap penyakit.

Anak laki-laki lebih rentan terhadap berbagai jenis penyakit dan

cacat dibandingkan wanita. Selain itu, secara neurologis anak

perempuan lebih matang dibandingkan anak laki-laki sejak lahir

hingga masa remaja, dan pertumbuhan fisiknya pun lebih cepat.

Wanita cenderung hidup lebih lama dari pada pria (18).


14

Menurut pedoman program pemberantasan penyakit ispa

untuk penanggulangan pneumonia pada Balita (2002), anak laki-

laki memiliki risiko lebih besar untuk terkena pneumonia

dibandingkan dengan anak perempuan (19).

3) Status Gizi

a) Definisi Status Gizi

Menurut Supariasa dkk bahwa status gizi adalah

ekspresi dari keseimbangan dalam bentuk variabel-variabel

tertentu. Status gizi juga merupakan akibat dari

keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan

penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik

akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh (22).

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi

seseorang adalah :

a) Produk pangan

b) Pembagian makanan atau pangan

c) Akseptabilitas (daya terima)

d) Prasangka buruk pada bahan makanan tertentu

e) Pantangan pada makanan tertentu

f) Kesukaan terhadap jenis makanan tertentu

g) Keterbatasan ekonomi

h) Kebiasaan makan

i) Selera makan
15

j) Sanitasi makanan (penyiapan, penyajian, penyimpanan)

k) Pengetahuan gizi

b) Penilaian Status Gizi (PSG)

PSG adalah interprestasi dari data yang didapatkan

dengan menggunakan berbagai metode untuk

mengidentifikasi populasi atau individu yang berisiko atau

dengan status gizi buruk. Metode dalam PSG dibagi kedalam

tiga kelompok. Kelompok pertama, metode secara langsung

yang terdiri dari penilaian dengan tanda klinis, tes

laboratorium, metode biofisik dan antropometri. Kelompok

kedua, penilaian dengan melihat statistik kesehatan yang

biasa disebut dengan PSG tidak lansung karena tidak menilai

individu secara langsung. Kelompok terakhir, penilaian

dengan melihat variabel ekologi (23).

Tabel 2.2 Klasifikasi Status Gizi Balita Berdasarkan WHO-NCHS


Indeks Status Gizi Ambang Batas
Berat badan menurut Gizi lebih ≥ - 2 SD s/d 2 SD
umur (BB/U) Gizi baik < - 2 SD s/d ≥ - 3 SD
Gizi kurang < - 3 SD
Gizi buruk > 2 SD
Tinggi badan menurut Normal ≥ - 2 SD
umur (TB/U) Pendek ≥ - 3 SD s/d < - 2 SD
Berat badan menurut Normal ≥ - 2 SD s/d + 2 SD
tinggi badan (BB/TB) Kurus ≥ - 3 SD s/d < - 2 SD
Kurus sekali < - 3 SD
Gemuk > 2 SD
Sumber: (24)
16

4) Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif

ASI Ekslusif adalah pemberian ASI secara ekslusif kepada bayi

yaitu bayi hanya di berikan ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti

susu formula, madu, bahkan air putih dan tanpa tambahan makanan

padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Jangka

waktu bayi diberikan ASI berusia 0 – 6 bulan (20).

a. Manfaat pemberian ASI bagi bayi dan ibu

(1) Sebagai nutrtisi terbaik dan sumber kekebalan tubuh

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan

komposisi yang seimbang karena disesuaikan dengan

kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya.

(2) Melindungi bayi dari infeksi

ASI mengandung berbagai antibodi terhadap penyakit

yang disebabkan bakteri, virus, jamur dan parasit yang

menyerang manusia

(3) Menghindari bayi dari alergi

Bayi yang diberikan susu sapi terlalu dini mungkin akan

menderita lebih banyak masalah alergi, misalnya asma dan

alergi. Sementara ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin

yang dapat menyebabkan alergi pada bayi (20).


17

b. Faktor Lingkungan Sosial

1) Pekerjaan orang tua

Penghasilan keluarga adalah pendapatan keluarga dari

hasil pekerjaan utama maupun tambahan. Tingkat penghasilan

yang rendah menyebabkan orang tua sulit menyediakan fasilitas

perumahan yang baik, perawatan kesehatan dan gizi anak yang

memadai. Rendahnya kualitas gizi anak menyebabkan daya

tahan tubuh berkurang dan mudah terkena penyakit infeksi

termasuk penyakit pneumonia (25) .

2) Pendidikan ibu

Tingkat pendidikan ibu yang rendah juga merupakan

faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kematian ISPA

terutama Pneumonia. Tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh

terhadap tindakan perawatan oleh ibu kepada anak yang

menderita ISPA. Pengetahuan ibu untuk mengatasi pneumonia

tidak tepat ketika bayi atau Balita menderita pneumonia akan

mempunyai risiko meninggal karena pneumonia sebesar 4,9

kali jika dibandingkan dengan ibu yang mempunyai

pengetahuan yang tepat (25).

c. Faktor Lingkungan Fisik

1) Paparan asap rokok

Insiden pneumonia pada anak kelompok umur kurang

dari lima tahun mempunyai hubungan bermakna dengan kedua


18

orang tuanya yang mempunyai kebiasaan merokok. Anak dari

perokok aktif yang merokok dalam rumah akan menderita sakit

infeksi pernafasan lebih sering dibandingkan dengan anak dari

keluarga bukan perokok (26).

Paparan asap rokok adalah suatu penyebab utama

penyakit pneumonia dan peningkatan risiko infeksi paru-paru

pada orang dewasa dan anak-anak. Asap rokok mengandung

sekitar 3.000 bahan kimia beracun, 43 di antaranya bersifat

karsinogen (penyebab kanker). Pengaruh asap rokok pada

perokok pasif tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.

Berbagai penelitian membuktikan asap rokok yang ditebarkan

orang lain, imbasnya bisa menyebabkan berbagai penyakit,

terutama pada bayi dan anak-anak. Mulai dari aneka gangguan

pernapasan pada bayi, infeksi paru dan telinga, gangguan

pertumbuhan hingga mengalami kolik (26).

2) Kepadatan hunian

Hunian di daerah perkotaan kepadatan merupakan

salah satu masalah yang dialami penduduk Kota. Hal ini

disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan penduduk Kota dan

mahalnya harga tanah di perkotaan. Salah satu kaitan

kepadatan hunian dan kesehatan adalah karena rumah yang

sempit dan banyak penghuninya, maka penghuni mudah

terserang penyakit dan orang yang sakit dapat menularkan


19

penyakit pada anggota keluarga lainnya. Perumahan yang

sempit dan padat akan menyebabkan anak sering terinfeksi oleh

kuman yang berasal dari tempat kotor dan akhirnya terkena

berbagai penyakit menular (26).

B. Kerangka teori

Adapun kerangka teori dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Faktor determinan

Faktor Host Faktor Agent

Umur < 2 tahun


Jenis kelamin Belum sempurnanya Streptococcus
sistem kekebalan tubuh pneumoniae,
Status imunisasi
Pemberian ASI ekslusif Hemophilus
Pemberian vitamin A influenzae dan
Lambatnya kematangan staphylococcus
status gizi sel aureus.
Penurunan sistem
Faktor lingkungan fisik kekebalan tubuh Kerentanan sistem
paparan asap rokok pernafasan terhadap
Kepadatan hunian Risiko tinggi penularan penyakit
penyakit

Faktor lingkungan sosial


Radikal bebas/racun.
Pekerjaan orang tua Kejadian
Pendidikan ibu pneumonia
pada Balita

Sumber: Rasyid dan Yuwono (18,26)


Gambar 2.1 Kerangka Teori
20

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

A. Kerangka konsep
Kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Kasus
Status Gizi

Pneumonia

Paparan Asap Rokok

Kontrol

Status Gizi
Bukan
Pneumonia

Paparan Asap Rokok

Gambar 3.1 : Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian menggambarkan bahwa status keluarga

perokok dapat mempengaruhi penyakit Infeksi Pneumonia pada Balita.


21

B. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif


Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Variabel Definisi Kriteria Objektif Alat ukur skala
penelitian Operasional
Status gizi status gizi pada 1. Kurus sekali : 1. Timbangan Ordinal
Balita anak umur 6 bulan < - 3 SD berat badan
sampai 5 tahun 2. Kurus : 2. Mikrotoice
yang ditentukan 3. Dokumentasi
≥ - 3 SD s/d < - 2 SD
berdasarkan data
antropometri 3. Normal :
berupa berat badan ≥ - 2 SD s/d + 2 SD
terhadap umur 4. Gemuk : 2 SD (24)
dengan
berpedoman pada
standar NCHS –
WHO yang
disajikan dalam
versi skor simpang
baku (standar
deviation score=z),
indek BB/TB
Paparan Keadaan tingkatan 1. Terpapar jika Kuesioner Nominal
asap rokok paparan asap rokok responden menjawab
yang diukur dengan ya ≥ 1 pertanyaan
banyaknya jumlah terkait
batang rokok yang 2. Tidak terpapar jika
dihabiskan anggota responden menjawab
keluarga di rumah ya < 1
per hari dalam satu (26)
ruangan atau dalam
jarak dekat
Kejadian Kejadian 1. Kasus apabila Lembar ceklist Nominal
pneumona Pneumonia penderita didiagnosa
merupakan infeksi pneumonia secara
saluran pernafasan klinis
atas pada Balita 2. Kontrol apabila tidak
usia 0-5 tahun yang menderita pneumonia
ditandai dengan tetapi memiliki
batuk pilek, riwayat pneumonia
demam, sakit (18)
telinga (ototis
media) dan radang
tenggorokan
(faringitis)
22

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep di atas maka didapatkan hipotesis

sebagai berikut :

1. Status gizi merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada Balita di

wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan

2. Paparan asap rokok merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada

Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe

Selatan

3. Status gizi merupakan faktor proteksi terkena penyakit pneumonia pada

Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe

Selatan

4. Paparan asap rokok merupakan faktor yang paling berisiko terkena

pneumonia pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Kabupaten Konawe Selatan


23

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Rancangan bangun penelitian ini adalah case control study yaitu

kelompok subyek kontrol dari individu yang sejauh mungkin sama

kondisinya dengan subyek kasus. Kasus kontrol merupakan rancangan

penelitian yang mempelajari hubungan antara pemapar dan penyakit

dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol

berdasarkan status keterpaparannya (27).

Penelitian kasus-kontrol dilakukan dengan pendekatan

retrospective, artinya bahwa efek atau penyakit sebagai variabel terikat

diidentifikasi terlebih dahulu baru kemudian faktor risiko sebagai variabel

bebas dipelajari secara retrospective. Dengan kata lain, efek baik berupa

penyakit ataupun status kesehatan tertentu, diidentifikasi pada masa kini

sedangkan faktor risiko atau kausa diidentifikasi adanya pada masa lalu.

Adapun gambar rancangan case control study yaitu: (28).


24

Faktor risiko (+)

Pneumonia
Populasi

Faktor risiko (-)


Matching
- Usia Sampel
Faktor risiko (+)

Bukan
Pneumonia
Faktor risiko (-)

Sumber : Efny Y (28).


Gambar 4.1. Rancangan Case Control Study

B. Lokasi dan waktu penelitian


1. Lokasi

Penelitian telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas

Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan.

2. Waktu penelitian

Waktu penelitian dimulai tanggal 07 Juli sampai dengan 11 Juli

2019.

C. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi adalah semua Balita di wilayah kerja Puskesmas

Tinanggea. Populasi meliputi :

a) Populasi target yaitu Balita yang menderita Pneumonia.

b) Semua orang tua yang memiliki anak usia 0-59 bulan.


25

2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah Balita di wilayah kerja Puskesmas

Tiananggea. Sampel terdiri dari:

a) Sampel kasus yaitu Balita yang menderita pneumonia di wilayah

Puskesmas Tianggea.

b) Sampel kontrol yaitu Balita yang tidak menderita Pneumonia tetapi

memiliki riwayat pneumonia.

a) Besar sampel

Sampel kasus adalah Balita yang mengalami pneumonia,

sampel kasus dihitung menggunakan rumus Kelsey et al (1996),

sebagai berikut :

( Z/2  Z1- ) 2 pqr  1


n
r ( p1  p2 ) 2
Dan n2 : r n1

Dimana

n1 : Jumlah kasus

n2 : Jumlah kontrol

Z/2 : Standar normal deviasi untuk two-tailed test

r : Ratio kontrol terhadap kasus

P1 : Proporsi kasus dengan paparan dan q1 = 1- p1

P2 : Proporsi kontrol dengan paparan dan q2 = 1- p2


26

Selannjutnya, dengan memanfaatkan software OpenEpi untuk

kalkulasi besar sampel, sesuai dengan ketentuan berikut:

Two-sided confidence level (1 – alpha) 95

Power 1

Rasio kontrol terhadap kasus 20

Proporsi hipotetik untuk kontrol terpapar 20

Proporsi hipotetik untuk kasus terpapar 50

Least extreme odds ratio yang dideteksi 4.00

Didapatkan jumlah kasus = 40 dan jumlah kontrol = 40.

Sehingga total sampel yang dibutuhkan adalah 80 sampel.

b) Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini

adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan

kriteria yang dibuat oleh peneliti sendiri yang sebelumnya sudah

diketahui karakteristik dari sampel tersebut, dimaksudkan untuk

mempermudah dalam pengambilan sampel penelitian adapun

kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Kriteria inklusi dan eksklusi

a. Kriteria inklusi:

1. Anak dengan usia 0-59 bulan (Balita) di wilayah kerja

Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan

2. Orang tua yang bersedia menjadi responden


27

b. Kriteria eksklusi

1. Orang tua yang tidak bersedia menjadi responden

D. Pengumpulan data

1. Data primer

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung oleh

peneliti. Data primer dalam penelitian ini diuraikan sebagai

berikut:

a) Data identitas responden meliputi pendidikan, pekerjaan

diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner.

b) Data umur diperoleh dari wawancara langsung kepada orang

tua Balita.

c) Data status gizi dikumpulkan dengan metode dokumentasi

KIA tentang BB dan TB

d) Data paparan asap rokok dikumpulkan menggunakan metode

kuesioner.

2. Data sekunder

Data sekunder yaitu data kejadian pneumonia pada anak

Balita yang diperoleh dari hasil diagnosa dokter yang tertera pada

buku catan medik pasien, data profil, ketenagaan, sarana prasarana

dan lain-lain yang diperoleh dari hasil dokumentasi di wilayah

kerja Puskesmas Tinanggea Tahun 2019.


28

3. Mekanisme pengumpulan data

a) Pengukuran tinggi badan di Puskesmas Tinanggea:

(1) Pengukuran panjang badan pada Balita tidak dilakukan

menggunakan lenght board

(2) Pengukuran tinggi badan pada Balita menggunakan

microtoise dengan posisi anak beridiri tergak lurus

dibawah microtoise membelakangi dinding. Posisi kepala

berada dibawah alat geset microtoise.

(3) Sepatu/alas kaki dilepas dan hiasan rambut juga tidak

dilepaskan.

(4) Posisi kepala tegak, serta kedua lutut dan tumit rapat

b) Pengukuran berat badan di Puskesmas Tinanggea:

(1) Untuk mengukur timbangan Balita digunakan

timbangan bayi dan dacin yang belum bisa berdiri

tegak

(2) Untuk mengukur timbangan Balita yang bisa berdiri

tegak digunakan timbangan badan

(3) Membuka jaket dan alas kaki anak saat melakukan

penimbangan

(4) Meletakkan anak dibagian tengah timbangan dengan

posisi tegak

c) Umur dikelompokkan menggunakan bulan penuh


29

E. Instrumen penelitian

1) Lembar ceklist yaitu alat pengumpul data dengan dokumen untuk

mencatat data yang dibutuhkan dalam penelitian. Data yang diambil

diperoleh dengan alat dokumentasi dalam penelitian ini berupa

daftar anak yang menderita pneumonia usia 0-59 bulan (5 tahun)

yang berobat ke Puskesmas Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan

2) Kuesioner yang diisi oleh orang tua anak pasien Pneumonia.

Kuesioner sebelumnya dilakukan uji validitas dan reabilitas dengan

menggunakan metode re-test sehingga kuesioner dapat digunakan

sebagai alat ukur yang valid dan reabel.

F. Pengolahan Dan Analisis Data

1. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer

menggunakan software microsoft excel dan software product

statistic solution (SPSS). Adapun tahapan pengolahan data yang

dilakukan adalah :

1. Pengkodean (coding) adalah mengklasifikasikan jawaban dari

para responden kedalam kategori berdasarkan kode yang

diberikan yaitu 0= bukan pneumonia dan 1= pneumonia.

2. Pengeditan (editing) adalah memeriksa kembali semua data

yang terkumpul untuk mengetahui kelengkapan, kesalahan dan

tidak konsisten dalam pengisian.


30

3. Proses (processing) adalah memasukan data yang sudah

terkumpul dan siap untuk diolah dengan menggunakan analisis

deskriptif maupun analisis statistic.

4. Pembersihan (cleaning) data adalah melakukan pembersihan

dan pengecekan kembali data masuk. Kegiatan ini perlu

dilakukan untuk mengetahui apakah ada kesalahan ketika

memasukan data.

2. Analisis data

a) Uji validitas

Validitas atau kesahihan menunjukkan sejauh mana

suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur. Suatu

instrument penelitian dikatakan valid, bila nilai signifikan ≤ α

atau koefisien korelasi product moment > r-tabel (α ; n-2), n =

jumlah sampel. Rumus yang digunakan untuk uji validitas

konstruk dengan teknik korelasi product moment, yaitu: (29)

r xy = N ∑XY – (∑X) (∑Y)


√{N ∑X2 – (∑X)2} {N ∑Y2 – (∑Y)2}

Keterangan :

x =Skor dari tes pertama (instrumen A)

y =Skor dari tes kedua (instrumen B)

Berdasarkan uji validitas di dapatkan hasil yang valid

dengan r-hitung lebih besar dari r-tabel.


31

b) Uji reliabilitas

Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil

pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali

atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat

pengukur yang sama pula. Teknik pengukuran reliabilitas

tergantung dari skala yang digunakan, untuk skala 1-3, 1-5 dan 1-7

maka digunakan teknik Alpha Cronbach yang digunakan untuk

menentukan apakah instrument penelitian reabel atau tidak.

Kriteria suatu instrument penelitian dikatakan reabel apabila

koefisien reliabilitas (r > 0,6). Rumus uji reliabilitas yaitu: (29)

1- (∑ 2σb )
2
r11 k
r11 =
k-1 -- σt
Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrument

k = Banyaknya butir pertanyaan

∑σb2 = Banyaknya Butir Pertanyaan

Σt 2 = Varians Total

Berdasarkan uji reabilitas didapatkan hasil yang reliabel

dengan Alpha Cronbach sebesar 0,161. Jadi angka tersebut lebih

besar dari nilai Alpha Cronbach.

c) Analisis univariate

Analisis data numerik diawali dengan uji normalitas

menggunakan QQ plot. Jika data terdistribusi normal, analisis data

akan dilakukan dengan menghitung mean ± SD dan jika median ±


32

IQR untuk data yang tidak terdistribusi normal, analisis data

kategori menggunakan analisis proporsi/persentase.

d) Analisis bivariate

Analisis bivariate untuk mengetahui faktor risiko antara

variabel bebas terhadap variabel terikat menggunakan uji odds

ratio, estimasi confident interval (CI) ditetapkan pada tingkat

kepercayaan 95 % dengan interprestasi :

a. Jika OR > 1, merupakan faktor risiko terjadinya kasus

b. Jika OR = 1, merupakan bukan faktor risiko terjadinya kasus

c. Jika OR < 1, merupakan faktor risiko proteksi atau perlindungan

terjadinya kasus

Rumus : Batas atas (upper limit), UL = OR x e+f

Batas bawah (lower limit), LL = OR x e-f

e) Analisis multivariate

Regresi logistik akan digunakan untuk mengetahui secara

simultan faktor risiko kejadian pneumonia pada Balita. Ko-

Variabel potensial yaitu usia akan dikontrolkan dalam analisis

regresi logistik.
33

G. Etika penelitian

Penerapan etika dalam melakukan penelitian ini adalah dengan

mengajukan permohonan izin kepada kepala Puskesmas Tinanggea

Kabupaten Konawe Selatan sebagai tempat penelitian. Etika penelitian

menurut Kemenkes RI , meliputi: (30)

1. Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for

persons)

Prinsip ini merupakan bentuk penghormatan terhadap

martabat manusia sebagai pribadi yang memiliki kebebasan

berkehendak atau memilih dan sekaligus bertanggung jawab

secara pribadi terhadap keputusannya sendiri.

2. Prinsip berbuat baik (beneficence) dan tidak merugikan (non-

maleficence)

Prinsip berbuat baik menyangkut kewajiban membantu

orang lain dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan

kerugian minimal. Prinsip tidak merugikan menyatakan bahwa

jika orang tidak dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat, maka

minimal tidak merugikan orang lain.

3. Prinsip keadilan (justice)

Prinsip etik keadilan mengacu pada kewajiban untuk

memperlakukan setiap orang sama dengan moral yang benar dan

layak dalam memperoleh haknya. Prinsi etik keadilan terutama

menyangkut keadilan distributif yang mempersyaratkan


34

pembagian seimbang dalam hal beban dan manfaat yang

diperoleh subjek dari keikutsertaan dalam penelitian.

4. Persetujuan menjadi responden informed consent

Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang

memenuhi kriteria inklusi, bila responden menolak, peneliti tidak

memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.

H. Alur penelitian

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti terlebih dahulu

mencari berbagai teori pendukung atas permasalahan yang diangkat

dalam penelitian ini. Setelah teori pendukung ditemukan, kemudian

peneliti merumuskan beberapa pertanyaan penelitian dalam bentuk

rumusan masalah. Di dalam rumusan masalah ini berisi hal-hal yang

menjadi fokus peneliti dalam mencari serta menganalisis data. Setalah

pengumpulan data dan analisis data selesai dilakukan, maka tahap

terakhir dalam penelitian ini adalah membuat kesimpulan. Kesimpulan

yang diperoleh haruslah merupakan jawaban dari rumusan masalah dan

merupakan pemecahan masalah. Alur penalaran untuk berbagai jenis

penelitian sebetulnya sama, yaitu seperti tergambar dalam bagan

berikut:
35

Permasalahan Permasalahan

Rumusan masalah

Pengumpulan data

Analisis data

Kesimpulan

Saran

Gambar 4.2 Alur Penelitian

Selain alur pemikiran di atas, peneliti juga melakukan beberapa

tahap penelitian sebagai berikut:

a. Peneliti melakukan kajian teori yang relevan dari beberapa referensi

b. Untuk menguji hipotesis yang telah dibuat peneliti memilih

metode/pendekatan/desain penelitian yang sesuai.

c. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pendekatan

kuantitatif

d. Menentukan dan menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini

digunakan sebagai alat pengumpul data yang berbentuk angka


36

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran umum lokasi penelitian

1. Luas wilayah

Puskesmas Tinanggea terletak di Kecamatan Tinanggea Kabupaten

Konawe Selatan, sekitar 9 km dari ibu kota Kabupaten serta memiliki

kondisi geografis daerah daratan rendah dan daerah pesisir dengan

batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Lalembu

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Palangga dan

Kecamatan Palangga Selatan

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Tiworo

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bombana

Luas wilayah kerja Puskesmas Tinanggea sekitar 345,74 Km2.

Dari luas daratan kecamatan Tinanggea terdiri dari 2 kelurahan dan

22 Desa.

2. Ketenagaan

Ketenagaaan Puskesmas Tinanggea dapat dilihat pada Tabel 5.1 :

Tabel 5.1 Distribusi Ketenagaan Kesehatan Puskesmas


Tinanggea
Status Kepegawaian
No Jenis Ketenagaan Jumlah
PNS Kontrak Sukarela
1 Dokter Umum 1 - - 1
2 Dokter Gigi 1 - - 1
3 S1 Keperawatan 9 - 2 11
4 S1 Kesmas 7 - 1 8
5 S1 Farmasi - 2 - 2
37

Status Kepegawaian
No Jenis Ketenagaan Jumlah
PNS Kontrak Sukarela
6 D IV Kebidanan 1 - - 1
7 D IV Gizi 1 - - 1
8 D III Kebidanan 19 - 11 30
9 D III Keperawatan - 2 8 10
10 D III Gizi - 1 2 3
11 D III Kesling 1 - - 1
12 D III Analisis - 2 - 2
13 D III Perawat Gigi - 1 - 1
14 Perawat (SPK) 3 - - 3
15 Administrasi - - 1 1
Jumlah 43 8 25 76
Sumber: Profil Puskesmas Tinanggea (31)

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden yang diteliti meliputi umur, berat badan,

tinggi badan, jenis kelamin dan pendidikan dengan jumlah responden

yang diteliti pada penelitian ini sebanyak 80 responden.

Tabel 5.2 Karakteristik responden dan sampel penelitian


Variabel Total Kasus Kontrol
populasi (n=40) (n=40)
(n=80)
Karakteristik Responden
Umur (tahun) 33,2±4,5 32,3±5,2 33,5±4,5
Pendidikan SD, n (%) 37(46,3) 18(45) 19(47,5)
Pendidikan SMP , n (%) 25(31,3) 12(30) 13(32,5)
Pendidikan SMA , n (%) 17(21,2) 9(22,5) 8(20)
Perguruan tinggi , n (%) 1(1,2) 1(2,5) 0
Karakteristik Sampel
Umur (bulan) 17,0 17,0 15,5
(11,0-31,3) (12,0-36,0) (10,3-26,3)
Berat badan (kg) 9,4±2,4 9,6±2,6 9,1±2,2
Tinggi badan (cm) 76,0±14,7 78,4±16,1 73,6±12,9
Jenis kelamin laki-laki, n (%) 48(60,0) 24(60,0) 24(60,0)
Jenis kelamin perempuan, n (%) 32(40,0) 16(40) 16(40)
Sumber : Data primer terolah, 2019
38

Ket: Variabel dalam tabel ditampilkan dalam mean ± SD untuk data


yang terdistrubusi normal, median Interquartile Range (IQR) untuk
data yang tidak terdistribusi normal, persentase untuk data
kategorik.

Berdasarkan Tabel 5.2 variabel responden untuk umur responden

terdistribusi normal menunjukkan nilai mean 33,2 dan IQR 4,5 ,

sedangkan untuk variabel pendidikan yang paling tertinggi menunjukkan

pendidikan SD sebanyak 37 orang (46,2%) dan pendidikan yang paling

terendah menunjukkan perguruan tinggi sebanyak 1 orang (1,2%) untuk

variabel umur sampel juga tidak terdistribusi normal dengan nilai median

17,0 dan IQR 11,0-31,3 sedangkan untuk berat badan tinggi badan sampel

terdistribusi normal dengan nilai mean 9,4±2,4 dan tinggi badan

76,0±14,7, sebagian besar responden (60,0%) berjenis kelamin laki-laki.

2. Analisis Bivariat

a. Faktor risiko antara status gizi dengan kejadian pneumonia

Faktor risiko status gizi dengan kejadian pneumonia dapat

dilihat pada Tabel 5.3 berikut:

Tabel 5.3 Faktor risiko status gizi dengan kejadian pneumonia


pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea
Variabel Kejadian pneumonia
Status Gizi p
Jumlah OR
Value
Kasus Kontrol
(n) (%) (n) (%) (n) (%)
Kurus sekali 9 22,5 3 7,5 12 15
Kurus 4 10 6 15 10 12,5
0,091 0,286
Normal 17 42,5 18 45 35 43,8
Gemuk 10 25 13 32,5 23 28,8
Total 40 100 40 100 80 100
Sumber: Data Primer Terolah, 2019
39

Berdasarkan Tabel 5.3 menunjukkan penelitian ini kelompok

kasus untuk status gizi normal sebanyak 42,5% dan untuk kelompok

kontrol 45%, disimpulkan bahwa ada tidak ada hubungan antara status

gizi dengan kejadian pneumonia di wilayah kerja Puskesmas

Tinanggea dengan nilai (p-value=0,091, OR=0,286)

b. Faktor risiko antara paparan asap rokok dengan kejadian

pneumonia

Faktor riskok paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.4 Faktor risiko paparan asap rokok dengan kejadian


pneumonia di Puskesmas Tinanggea pada Balita
diwilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Variabel Kejadian pneumonia p


Jumlah
Paparan Asap Value OR
rokok Kasus Kontrol
(n) (%) (n) (%) (n) (%)
Terpapar 18 45 16 40
46 57,5
Tidak 22 55 24 60 0,411 1,408
34 42,5
Terpapar
Jumlah 40 100 40 100 80 100
Sumber: Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.4 menunjukkan penelitian ini kelompok

kasus Balita pneumonia yang terpapar sebanyak 18 orang (45%)

sedangkan Balita tidak terpapar sebanyak 22 orang (55%) dan

kelompok kontrol Balita dengan yang terpapar sebanyak 16 orang

(40%) dan tidak terpapar sebanyak 24 orang (60%). Disimpulkan

bahwa tidak ada hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian
40

pneumonia pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea dengan

nilai (p-value=0,411, OR=1,408 ).

3. Analisis Multivariat

Tabel 5.5 Analisis regresi logistik hubungan status gizi dan


paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia pada
Balita diwilayah kerja Puskesmas Tinanggea
Variabel P OR Confidence interval
Independen Value Batas bawah Batas atas
Status Giziǂ 0,101 0,286 0.064 1.274
Paparan Asap Rokok 0,471 1,408 0.555 3.573
Sumber: Data primer terolah, 2019
ǂ
perbandingan antara status gizi normal dan gizi buruk

Berdasarkan Tabel 5.5 diketahui bahwa secara simultan, status

gizi dan paparan asap rokok menunjukkan efek yang tidak signifikan

terhadap kejadian pneumonia pada Balita usia 0-59 bulan di wilayah

kerja Puskesmas Tinanggea. Secara detail, Balita dengan status gizi baik

memiliki faktor proteksi sebesar (OR= 0,71,4) 71% terhadap kejadian

pneumonia dibandingkan Balita bergizi buruk (OR=0,286, CI=0,064-

1,274). Sementara itu Balita yang terpapar asap rokok memiliki risiko

(OR= 40,8) 41% menderita pneumonia dibandingkan Balita yang tidak

terpapar asap rokok (OR=1,408, CI=0,555-3,573).

C. Pembahasan Penelitian

1. Faktor risiko status gizi terhadap kejadian pneumonia pada

Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat

status gizi Balita dengan kejadian pneumonia Balita merupakan faktor

risiko. Hasil penelitian ini di dukung oleh Hadisuwarno bahwa salah


41

satu faktor host yang berperan dalam kejadian pneumonia adalah

status gizi. Status gizi kurang <-2 SD meningkatkan risiko pneumonia

sebesar 3.44 kali (32).

Penelitian menunjukkan variabel status gizi dengan kategori

kurus sekali terdapat balita yang tidak terkena pneumonia, hal ini

karena Balita dengan status gizi kurus disebabkan berat badan lahir

Balita yang rendah. Sedangkan untuk Balita yang tidak terkena

pneumonia disebabkan tidak ada perbaikan jalan serta rumah yang

jauh dari lokasi perusahaan Industri. Penelitian ini serupa dengan

penelitian lain bahwa Balita dengan berat badan lahir yang rendah dan

kondisi lingkungan yang baik tidak mempengaruhi kejadian

pneumonia pada Balita (32,33). Sementara itu, menurut penelitian

Hartati menyatakan bahwa lingkungan yang baik seperti tidak tertular

percikan droplet penderita batuk, tidak adanya populasi industri

sehingga tidak meningkatkan kejadian pneumonia pada Balita (34).

Sementara itu, penderita pneumonia dengan status gizi gemuk

dapat disebabkan nafsu makan yang tinggi serta keluarga Balita yang

masih merokok pada saat mengendong anaknya. Hal ini sejalan

dengan teori yang dikemukakan Sunyataningkamto bahwa Balita

dengan anggota keluarga yang merokok di sekitar Balita berisiko

terkena pneumonia(35).
42

2. Faktor risiko paparan asap rokok terhadap kejadian pneumonia

pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Tinanggea

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh paparan

asap rokok dengan kejadian pneumonia pada balita. Adapun penelitian

Resipno yang menunjukkan bahwa ada pengaruh antara merokok

dengan kejadian pneumonia (38). Hasil penelitian ini didukung oleh

teori yang menyatakan bahwa asap samping rokok mempunyai efek

toksik lebih buruk daripada asap utama terutama dalam menimbulkan

iritasi mukosa saluran napas dan meningkatkan kecenderungan untuk

terkena pneumonia (39).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dalam variabel

paparan asap rokok dengan kategori terpapar masih ada yang tidak

terkena pneumonia, hal ini terjadi karena kekebalan tubuh Balita yang

baik sehingga Balita tidak terkena pneumonia. Hasil penelitian ini

didukung oleh teori yang menyatakan bahwa Balita yang memiliki

kekebalan tubuh yang baik tidak berisiko terkena pneumonia pada

Balita (39).

Sementara itu, variabel paparan asap rokok dengan kategori

tidak terpapar terdapat Balita yang terkena pneumonia, hal ini

dikarenakan adanya perbaikan jalan yang dilakukan di wilayah

Tinanggea, sehingga Balita terkena Pneumonia. Hal ini didukung oleh

teori yang menyatakan bahwa polusi udara merupakan bahan kajian

penting karena manusia tidak dapat menghindar dari hirup yang ada di
43

lingkungan seperti partikel debu, gas dan uap (39). Penelitian ini

sejalan dengan penelitian Lestari yang menyatakan bahwa faktor

lingkungan berperan penting terhadap kejadian pneumonia pada Balita

(40).

Pneumonia bukan hanya disebabkan oleh satu faktor risiko saja

melainkan ada faktor risiko lain, seperti tidak mendapat imunisasi,

tidak mendapat ASI yang adekuat atau tidak mendapat ASI eksklusif,

malnutrisi, faktor lingkungan seperti tertular dari percikan droplet

penderita yang batuk, tingginya pajanan terhadap polusi udara (polusi

industri dan asap rokok serta polusi ruangan) dan lingkungan

perumahan yang padat juga meningkatkan Balita untuk terserang

pneumonia (41).

3. Faktor Risiko yang paling berpengaruh dengan kejadian

Pneumonia pada Balita di wilayah Kerja Puskesmas Tinanggea.

Penelitian ini mengemukakan bahwa paparan asap rokok pada

Balita merupakan faktor yang paling berisiko dengan kejadian

pneumonia. Pneumonia disebabkan karena anggota keluarga yang

merokok sehingga Balita terpapar asap rokok. Asap rokok tidak hanya

menjadi penyebab langsung kejadian pneumonia, tetapi menjadi faktor

tidak langsung yang diantaranya dapat melemahkan daya tahan tubuh

Balita.

Asap rokok mengandung partikel hidrokarbon polisiklik, nikotin

dan karbon monoksida yang dapat menyebabkan kerusakan epitel


44

bersilia sehingga memperbesar risiko Balita terkena pneumonia.

Paparan asap rokok penyebab utama penyakit pneumonia dan

peningkatan risiko infeksi paru-paru pada orang dewasa dan anak-

anak. Pengaruh asap rokok pada perokok pasif tiga kali lebih buruk

daripada debu batu bara. Iritasi pada saluran pernafasan yang

disebabkan karena paparan asap rokok dan bahan toksik lain akan

menimbulkan peradangan pada saluran nafas sehingga terjadi deposit

sel radang neutrofit maupun makrofag. Asap rokok menyebabkan

berbagai dampak negatif (42).

Pneumonia disebabkan karena paparan asap rokok yang berada

di sekitaran Balita. Asap rokok tidak hanya menjadi penyebab

langsung kejadian pneumonia, tetapi menjadi faktor tidak langsung

yang diantaranya dapat melemahkan daya tahan tubuh Balita. Asap

rokok dapat menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri,

oleh karena itu paparan asap rokok berisiko terkena pneumonia pada

Balita. Paparan asap rokok juga diketahui dapat merusak ketahanan

paru seperti kemampuan pembersihkan mukosiliaris, paparan asap

rokok terbukti meupakan faktor risiko terkena pneumonia pada balita

(36,37,38).

Penelitian sebelumnya membuktikan asap rokok yang

ditebarkan orang lain, imbasnya bisa menyebabkan berbagai penyakit,

terutama pada bayi dan anak anak. Mulai dari aneka gangguan

pernapasan pada bayi, infeksi paru dan telinga, gangguan


45

pertumbuhan, sampai kolik . Balita mempunyai risiko yang lebih

besar karena paru-paru Balita lebih kecil dibanding orang dewasa,

sistem kekebalan tubuh mereka belum sempurna dan racun yang

berasal dari asap rokok juga dapat menempel di badan baju, rambut

dan tangan akibatnya lebih mudah tekena pneumonia. Paparan asap

rokok bisa meningkatkan risiko terjadinya berbagai gangguan

kesehatan dan penyakit. Balita yang terpapar asap rokok berisiko lebih

tinggi mengalami iritasi mata, infeksi telinga, pneumonia dan

kematian anak yang mendadak(38,39,42).

D. Keterbatasan penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama

berapa hari ini, terdapat beberapa keterbatasan dan hambatan dalam

penelitian ini yaitu :

a. Terdapat bias informasi yang disampaikan oleh responden, yaitu

keterbatasan daya ingat respondent dalam mengingat-ingat peristiwa

yang terjadi di masa lalu pada saat terjadi kasus pneumonia

b. Sampel yang rewel saat pengukuran antropometri mampu

menyulitkan pengukuran berat badan dan tinggi badan.

c. Ukuran sampel yang kecil sehingga banyak variabel dalam populasi

yang tidak terwakili menyebabkan standar deviasi yang lebar.


46

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Status gizi merupakan faktor risiko proteksi 71% terhadap kejadian

pneumonia pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Tinanggea

2. Paparan asap rokok merupakan faktor risiko proteksi 41% terhadap

kejadian pneumonia pada balita di wilayah Kerja Puskesmas

Tinanggea

3. Paparan asap rokok merupakann yang paling berisiko terhadap

kejadian pneumonia pada Balita di wilayah Kerja Puskesmas

Tinanggea sebanyak 41%.

B. Saran

1. Bagi petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Tinanggea.

Petugas kesehatan di Puskesmas yaitu bidan, perawat dan

dokter maupun kader kesehatan diharapkan dapat memberikan

penyuluhan kesehatan pada kegiatan Posyandu tentang pencegahan

pneumonia yaitu menghindari kontak dengan penderita pneumonia,

tidak merokok di dalam rumah, mengkonsumsi makanan yang

bergizi dan seimbang sehingga Balita dapat terhindar dari penyakit

infeksi. Agar bidan berperan aktif dalam penyebarluasan informasi

kepada masyarakat mengenai status gizi Balita dengan memberikan

penyuluhan tentang pola gizi seimbang dan juga bidan dapat

memberikan makanan tambahan biskuit bagi Balita dengan status


47

gizi kurang setiap bulannya maupun makanan tambahan bagi Balita

lainnya pada saat kegiatan Posyandu.

2. Bagi masyarakat

Khususnya para orang tua untuk tidak merokok di dalam

ruangan atau berdekatan dengan Balita, dan untuk memperbaiki

pola perilaku sehat dan menjaga rumahnya agar menjadi sehat.

3. Bagi peneliti lain

Untuk peneliti lain agar menambahkan sampel variabel

sehingga mendapatkan hubungan yang signifikan.


48

DAFTAR PUSTAKA

1. Scott JAG. The global epidemiology of childhood pneumonia 20 years


on. Bulletin of the World Health Organization. 2008.

2. WHO. Pneumonia Fact Sheet. World Health Organization (WHO).


2016.

3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian


Kesehatan RI. Penyakit Tidak Menular. In: Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013. 2013.

4. Dinkes Sultra. Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara tahun 2017.

5. Profil kesehatan Kabupaten Konawe Selatan. 2017. 20–21 .

6. Ariana S. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Pneumonia pada


Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pedan Klaten. Ilmu Kesehat. 2015;

7. Paynter S, Ware RS, Lucero MG, Tallo V, Nohynek H, Simões EAF, et


al. Poor Growth and Pneumonia Seasonality in Infants in the
Philippines: Cohort and Time Series Studies. PLoS One. 2013;

8. Kusuma N, Sri W, Sukini T. Hubungan antara paparan asap rokok


dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Balita di
Desa Pucung Rejo Kabupaten Magelang tahun 2014. J Kebidanan.
2015;

9. Dahlan z. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keempat-Jilid II.


Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.; 2006.

10. Onyango D, Kikuvi G, Amukoye E, Omolo J. Risk factors of severe


pneumonia among children aged 2-59 months in western Kenya: A case
control study. Pan Afr Med J. 2012;

11. Matthew E. Levison H. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Harrison.


Harrison. 2007;

12. Armando.G SJRK. Disorder of the Respiratory Tract in Children:


“Bacterial Pneumoniasi”, Sixth Ed ition. WB. aunders Company
Philadelphia, London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo.; 2010.

13. Chowdhury MRA, Azad KAK, Hossain MZ, Sardar MH, Siddiqui MR,
Saad S, et al. Microbial aspect of aspiration pneumonia in patients with
49

altered consciousness admitted in Dhaka Medical College Hospital,


Bangladesh. J Dhaka Med Coll. 2015;

14. Williams lippincott. Memahami Berbagai Macam Penyakit. PT.indeks;


2011. 462 p.

15. Saydam G. Memahami Berbagai Penyakit , Pernapasan dan Gangguan


Pencernaan. CV.Alfabeta; 2011.

16. Kemenkes. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) ATAU Integrated


Management Of Childhood Illness(IMCI). Direktorat Bina Kesehatan
Anak. 2011.

17. Anwar A, Dharmayanti I. Pneumonia pada Anak Balita di Indonesia.


Kesmas Natl Public Heal J. 2016;

18. Rasyid Z. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian


Pneumonia Anak Balita di RSUD Bangkinang Kabupaten Kampar
Factors Associated With Occurenceof Childhood Pneumonia In
Bangkinang Hospital Kampar Regency. J Kesehat Komunitas. 2013;

19. Baroya N, Aryani MP, Ariyanto Y. The Implementation of Acute


Respiratory Infection (ARI) Controlling Programme and the Coverage
of Pneumonia among Under-Five Children. Unnes J Public Heal. 2018;

20. Sunarti. Asuhan kehamilan. Penerbit in media; 2013. 9–10 p.

21. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Dep Kesehat RI. 2005;

22. Suiraoka IP, Supariasa IDN. Media Pendidikan Kesehatan. Graha Ilmu.
2012.

23. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.


Gizi dan Kesehatan Masyarakat. RajaGrafindo Persada. 2014.

24. WHO GMGRS. WHO child growth standards: length/height-for-age,


weight-for-age, weight-for-length, weight-for-height and body mass
index-for-age: Methods and development. World Health Organization.
2006.

25. Sari EF, Rumende CM, Harimurti K. Faktor–Faktor yang Berhubungan


dengan Diagnosis Pneumonia pada Pasien Usia Lanjut. J Penyakit
Dalam Indones. 2018;

26. Yuwono TA. Faktor- Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang


Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Anak Balita di
50

Wilayah Kerja Puskesmas Kawunganten Kabupaten Cilacap. Univ


DIponegoro. 2014;

27. Arikunto. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta 2010;

28. Efni Y, Machmud R, Pertiwi D. Faktor Risiko yang Berhubungan


dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Kelurahan Air Tawar Barat
Padang. J Kesehat Andalas. 2016;

29. Syofian Siregar. Statistika parametrik untuk penelitian kuantitatif. Bumi


aksara. 2013;

30. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 39


Tahun 2016 Tentang Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan
Keluarga. Kemenkes RI. 2016.

31. Profil puskesmas Tinanggea 2018/2019

32. Hadisuwarno. 2013 Hubungan status gizi dengan kejadian pneumonia di


Kecematan lampung . Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta

33. Nurjazuli. (2010). Http://www Jurnal Hubungan Status Gizi Dengan


Kejadian Pneumonia Pada Balita.

34. Hartati(2016). Http://www, Journal Hubungan Status Gizi Dengan


Kejadian Pada Balita.

35 Sunyataningkamto, A. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan.


Jakarta: CV. Trans Info

36. Nining, Dkk. (2014). Http://www Jurnal Kesehatan Masyarakat


Nasional Vol.8. No.8.

37. Victoria CG, Fuchs SC, Flores JA, Fonseca W. Risk factors for
pneumonia among children in a Brazilian metropolitan area. AAP.
1994;93:1–10.

38. Kartasasmita C.B. 2011, Morbiditas Dan Faktor Resiko Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Cikutra Suatu Daerah Urban di
Kotamadya Bandung, Majalah Kesehatan Bandung.

39. Rusepno, 2008. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Perilaku


Pencegahan ISPA pada Bayi Puskesmas Kecematan Segedong. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
51

40. Susi Hartati. Analisis Faktor Risiko Yang Berhubungan dengan


Kejadian Pneumonia pada Anak Balita Di RSUD Pasar Rebo . Jakarta :
FK UI ; 2011

41. Nurjazuli, Widyaningtyas, Retno. Faktor Risiko Dominan Kejadian


Pnumonia Pada Balita (Dominant risk factors on the occurrence of
pneumonia on children under five years).

42. Sulaiman, M 2014 , Faktor Risiko Asap Rokok dengan Kejadian


Pneumonia pada Balita di Kelurahan Nan Tigo Kota Padang. Jurnal
Kesehatan Avvicenna. Vol XIV no.7