Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PILOT PLANT
Semester Ganjil Tahun Ajaran 2019/2020

Modul Praktikum : Reaktor Tangki Berpengaduk


Dosen Pembimbing : Rony Pasonang Sihombing,S.T.,M.eng

Tanggal Praktikum : 07 Oktober 2019


Pengumpulan Laporan : 14 Oktober 2019
Disusun Oleh:

Kelompok IX & X

Nanda Hasri Dwirizky (171411087)


Nisya Qonitta Zahra (171411088)
Rianny Puspa Rismayani (171411089)
Royfa Fenandita Finadzir (171411091)
Awaludin Fitroh (RPL D4)

Kelas : 3C/D3- Teknik Kimia

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reaktor merupakan komponen utama yang digunakan untuk


mengonversikan reaktan menjadi produk dalam suatu industri kimia atau
dalam kata lain, reactor merupakan jantung sebuah industri kimia. Salah
satu jenis reactor yaitu reactor tangki berpengaduk atau stirred tank reactor.

Reactor tangki berpengaduk merupakan salah satu unit operasi yang


banyak digunakan dalam proses industri kimia, biokimia, farmasi, polimer,
petrokimia, proses mineralisasi, metalurgi, dan berbagai proses lainnya.
Dalam proses industri kimia tangki berpengaduk sering digunakna untuk
mendispersikan gas ke dalam cairan, pencampuran cair-cair, maupun
mendispersikanm padatan ke dalam cairan.

Komponen utama dalam reactor tangki berpengaduk adalah tangki


dan pengaduk (impeller). Pengadukan berfungsi untuk nmemperoleh
distribusi partikel yang baik dan meningkatkan laju transfer massa. Namun
pada praktikum ini, dilakukan pengamtan pada perpindahan panas dalam
reactor tangki berpengaduk dengan jaket pemanas. Perpindahan panas akan
berpindah dari jaket pemanas ke fluida yang ada di dalam tangki. Hasil dan
pengamatan akan diperoleh efisiensi perpindahan panas yang terjadi di
dalam reactor tangki berpengaduk dengan jaket pemanas

1.2 Tujuan Praktikum

Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu

1. Memahami fungsi alat reaktor tangki berpengaduk dengan sistem


pemanasi air bertekanan
2. Memahami proses perpindhaan panas di dalam tangki berpengaduk
berjaket yang tergolong kelompok proses unsteady state
3. Menghitung perpindahan panas pada tangki dengan memberikan
variasi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reaktor Tangki Berpengaduk

Reaktor sebagai tempat berlangsungnya suatu reaksi kimia, sering


dinyatakan sebagai pusat suatu proses kimia. Berbagai jenis reaktor dapat
dibedakan atas dasar bentuk reaktor yang digunakan, proses yang berlangsung,
atau kondisi operasinya. Continuous stirred tank
reactor (CSTR) merupakan salah satu jenis reaktor, umumnya berbentuk bejana
dan bekerja secara kontinu (alir), dan banyak digunakan untuk reaksi-reaksi
homogen fase cair tanpa katalis maupun dengan katalis, serta reaksi yang terjadi
di dalamnya berlangsung secara isotermal. (Sumarni, 2009).

Reaktor yang berlangsung pada fase cair umumnya dilaksanakan di


dalam sutau reaktor tangki berpengaduk dan prosesnya berlangsung secara
isotermal. Pada kondisi isotermal atau suhu tetap, suhu umpan sama dengan suhu
larutan di dalam reaktor maupun suhu larutan keluar reaktor. Untuk
mempertahankan kondisi tersebut umumnya reaktor dilengkapi dengan
pendingin (reaksi eksotermis)atau pemanas (reaksi endotermis) berupa jaket
yang mengelilingi reaktor.

Komponen utama dalam reaktor tangki berpengaduk adalah tangki dan


penggaduk. Pada umumnya reaktor ini juga dilengkapi dengan saluran masuk
dan keluar, sekat, dan komponen lain untuk kinerja khusus yang sesuai dengan
penggunaanya seperti, jaket, tutup, thermometer, pemanas dan pendingin
(Kundari, 2009).
Gambar 2.1 Tangki berjaket dan berpengaduk

Faktor faktor yang mempengaruhi desain tangki berpengaduk adalah


sebagai berikut (Walas, 1990 dalam RTG, 2018) :
a. Sekat (baffle)
Sekat diperlukan untuk memecah vortex pada pengadukan yang memiliki
bilangan reynold yang tinggi. Baffle memiliki lebar seperduabelas diameter
tangki (Dt/12). Empat sekat dengan jarak yang sama merupakan sekat standar
yang sering digunakan.
b. Jenis Impeller
Imperller diklasifikasikan menjadi jenis aliran axial dan radial. Untuk
menentukan jenis yang akan digunakan, harus didefenisikan properties bahan
terlebih dahulu
c. Ukuran Impeller
Untuk menetukan jenis impeller dan kondisi operasi ditentukan oleh bilangan
reynold, Froude, dan bilangan daya. Rasio diameter impeller dan diameter tangki
berada pada rentang d/D =0,3 – 0,6.
d. Kecepatan pengadukan
Motor pengaduk komersil dan speed reducers memiliki kecepatan standar yaitu:
37, 45, 56, 68, 84, 100, 125, 155, 190, dan 320 rpm. Daya yang diperlukan tidak
terlalu besar dan dapat disesuaikan untuk menggerakkan impeller.
e. Lokasi impeller
Ilmuan memiliki pendapat berbeda mengenai faktor ini. Pendapat pertama
mengatakan impeller diletakkan 1/6 dari tinggi cairan dari atas dasar. Lokasi
impeller 1/3 dari diameter dari dasar tangki mungkin lebih baik.

Pengadukan dalam Stirred Tank Reactor berfungsi untuk memperoleh


distribusi partikel yang baik dan meningkatkan laju transfer massa. Distribusi
partikel sangat dipengaruhi desain impeller, kecepatan pengadukan, bentuk
tangki, dan sifat fisika bahan. Performa impeller yang baik dipengaruhi faktor
desain seperti diameter dan lebar impeller, jarak impeller dari dasar tangki,
jumlah blade, dan kemiringan blade.

Salah satu jenis impeller adalah propeller. Propeller dirancang


berdasarkan marine propeller dan digunakan pada aliran turbulen yang
maksimum. Propeler merupakan impeler aliran aksial berkecepatan tinggi untuk
zat cair berviskositas rendah. Propeler kecil biasanya berputar pada kecepatan
motor penuh, yaitu 1150 atau 1750 putaran/menit, sedang propeler besar
berputar pada 400-800 putaran/menit.

Gambar 2.2 Impeller Propeller

Arus yang meninggalkan propeler mengalir melalui zat cair menurut arah
tertentu sampai dibelokkan oleh lantai atau dinding bejana. Jenis yang paling
banyak dipakai adalah propeler kapal berdaun tiga, sedang propeler berdaun
empat, bergigi, atau dengan rancang lain digunakan untuk tujuan-tujuan khusus.
Beberapa jenis propeller dilengkapi dengan pemotong dan blade yang belubang
untuk memotong maupun memecah cairan. Selain itu, kadang dua atau lebih
propeler dipasang pada satu poros, biasanya dengan arah putaran yang sama.
Namun bisa juga dipasang dengan arah yang berlawanan, atau secara tolak/tarik
sehingga menciptakan zone fluida yang sangat turbulen di antara kedua propeler
tersebut.

Dengan adanya impeller, akan terjadi homogenisasi pada fluida di dalam


reaktor dan proses perpindahan panas merata di seluruh bagian, sehingga suhu
fluida di setiap titik akan sama besarnya. Efisiensi pemanasan juga akan lebih
tinggi dibanding dengan reaktor berjaket tanpa pengaduk.

2.2 Perpindahan Panas

Perpindahan panas dan energi pada proses tangki berpengaduk berjaket


pada praktikum ini terjadi sangat berbeda dengan proses perpindahan panas yang
sering dijumpai. Hal ini disebabkan karena proses yang terjadi adalah proses tak
tetap (unsteady state). Jadi koefisien perpindahan (U) todak dapat digunakan
dalam persamaan Fourier yang hanya bisa digunakan bila tangki beroperasi
secara sinambung/steady state. Dalam semua kasus, laju total perpindahan panas
dapat diekspresikan dalam bentuk daya gerak penurunan temperatur dan
hambatan.

Persamaan Fourier

𝑸 = 𝑼 × 𝑨 × (𝑻𝟏 − 𝑻𝟐 )

Dimana :

Q = Laju perpindahan panas

U = Koefisien keseluruhan perpindahan panas

A = Luas permukaan yang dilalui panas

T1 = Temperatur pada titik 1

T2 = Temperatur pada titik 2

Untuk reaktor berjaket atau berkoil, koefisien perpindahan kalor


keseluruhan Overal Heat Transfer Coefficient dapat dihitung sebagai berikut:
1 1 𝛿 1 1
= + + +
𝑈 𝛼 𝜆 𝛼𝑠 𝛼𝑓

Dimana:

𝛼 = koefisien perpindahan kalor proses

𝛼𝑠 = koefisien perpindahan kalor pada sisi servis

𝛼𝑓 = resistensi klerak pada sisi servis didapat dari tabel 2.1 dan 2.2

Tabel 2.1 Koefisien keseluruhan untuk jacketed glass lined steel vessels

Duty U (W/m2K)
Distilasi/evaporasi 350
Heating 310
Cooling 200
Cooling (chilled) 100

Tabel 2.2 Koefisien keseluruhan untuk jacketed carbon & stainless steel
vessels

Duty U (W/m2K)
Heating 400
Cooling 350
Cooling (chilled) 150

Sedangkan koefisien keseluruhan untuk tangki berkoil antara 400 s.d. 600
W/m2K.
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan :

1. Termocouple Display ( PCT 10+ Thermocouple)


2. Air baku ± 75 liter
3. Tachometer
4. Tangki berpengaduk/ Unit stirred reactor

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Skema

Gambar 3.1 Alat Reaksi Kimia Reaktor Tangki Berpengaduk


3.2.2 Cara Kerja
a. Start Up
Mulai

Memutar saklar utama merah

Memutar saklar instrument hitam ke posisi ON

Selesai

b. Persiapan
Mulai

Membuka katup air baku V5

Memastikan valve V2 dan V5

Selesai

c. Pengaliran air dingin ke dalam sistem pemanas

Mulai

Membuka katup air baku V1 1 putaran

Menyalakan pompa sirkulasi P1

Membuka katup manual steam/kukus V4 anatar 1-2 putaran

Selesai
d. Pengisisan tangki dengan reactor dengan bahan

Mulai

Memasukkan reaktan ke dalam tangki

Menyalakan motor pengaduk dan mengatur RPM

Mengukur RPM menggunakan Tachometer

Selesai

3.3 Keselamatan Kerja


1. Gunakan jas lab dengan baik, kacamata pelindung, helm pelindung
kepala, sepatu keselamatan dan sarung tangan tahan panas
2. Berhati-hati saat mengoperasikan pralatan
3. Perhatikan pada saat membuka valve atau menyentuh aliran pipa kukus
untuk selalu menggunakan sarung tangan tahan panas

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Praktikum
 Kecepatan Agitator Proses Pemanasan = 100,3 rpm
 Kecepatan Agitator Proses Pendinginan = 100,3 rpm
4.1.1. Nilai Kalor (Q) dan Koefisien Perpindahan Panas (U)
Tabel 4.1 Nilai Kalor (Q) dan Koefisien Perpindahan Panas (U)

Proses Proses
Pemanasan Pendinginan
Reaktan Reaktan
Nilai Kalor (kJ) 17702,23 -5927,26
Nilai Koefisien
Perpindahan Panas 967,97 301,55
Overall (kJ/m2.0C)

4.1.2. Nilai Koefisien Perpindahan Panas per Satuan Waktu


Tabel 4.2 Nilai Koefisien Perpindahan Panas per Satuan Waktu

t U1 U2
(menit) (kJ/m2.menit) (kJ/m2.menit)

10 45,357 2,610
20 27,416 5,266
30 16,368 3,986
40 2,709 5,350
50 11,206 3,236
60 0,811 0,182
 Keterangan
U1 = Koefisien Perpindahan Panas Proses Pemanasan
U2 = Koefisien Perpindahan Panas Proses Pendinginan
4.1.3. Grafik
a) Proses Pemanasan

Temperatur Air Di Dalam Jaket vs Waktu


90
80
70
60
Suhu (0C)

50
40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Suhu Air Panas Masuk Jaket Suhu Air Panas Keluar Jaket

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Temperatur Air Di Dalam Jaket Terhadap


Waktu
Temperatur Reaktan vs Waktu
80
70
60

Suhu (0C) 50
40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Temperatur Reaktan Terhadap Waktu

Tekanan Pompa vs Waktu


3.5
3
2.5
Tekanan (bar)

2
1.5
1
0.5
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Tekanan Pompa Suction Tekanan Pompa Discharge

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Tekanan Pompa Terhadap Waktu


Penurunan Tekanan vs Waktu
0.92

0.9

0.88
Tekanan (bar)
0.86

0.84

0.82

0.8

0.78
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Penurunan Tekanan Terhadap Waktu

b) Proses Pendinginan

Temperatur Air di Dalam Jaket vs Waktu


90
80
70
60
(0C)

50
Suhu

40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Suhu Air Panas Masuk Jaket Suhu Air Panas Keluar Jaket

Gambar 4.5 Grafik Hubungan Temperatur Air Di Dalam Jaket


Terhadap Waktu
Temperatur Reaktan vs Waktu
80
70
60
50
Suhu (0C)
40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Gambar 4.6 Grafik Hubungan Temperatur Reaktan Terhadap Waktu

Kurva Tekanan Pompa vs Waktu


3.5
3
2.5
Tekanan (bar)

2
1.5
1
0.5
0
-0.5 0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Tekanan Pompa Suction Tekanan Pompa Discharge

Gambar 4.7 Grafik Hubungan Tekanan Pompa Terhadap Waktu


Penurunan Tekanan vs Waktu
0.9
0.8
0.7

Tekanan (bar)
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)

Gambar 4.8 Grafik Hubungan Penurunan Tekanan Terhadap Waktu

4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk mengetahui proses
perpindahan panas dengan menggunakan reactor tangki berpengaduk (stirred tank
reactor). Reaktor tangki berpengaduk yang digunakan terdiri dari tangki yang
dilengkapi agitator atau pengaduk yang berfungsi untuk memperluas kontak
permukaan air sehingga meningkatkan heat transfer ke cairan. Selain itu reactor
juga dilengkapi oleh jaket sehingga air panas atau air dingin dapat dialirkan
(dipindahkan) serta sebagai media pemanas yang dihasilkan dari steam.

Pada praktikum ini dilakukan 2 proses yaitu pemanasan dan pendinginan.


Pemanasan terjadi karena adanya perpindahan kalor dari air panas bertekanan ke
dalam reactor secara konduksi yang kemudian kalor diserap oleh reaktan dari proses
pemanasan di dinding reaktor secara konveksi. Sedangkan proses pendinginan
dilakukan dengan mematikan steam sehingga kalor akan berpindah dari dalam
reactor ke luar reactor (jaket) dan terjadi penurunan suhu reaktan.

Sebelum proses operasi dimulai, dilakukan pengecekkan terhadap jalur pipa


dan valve agar sesuai dengan prosedur yang diberikan. Hal ini bertujuan agar
mencegah terjadinya kebocoran dan kerusakan pada alat. Kemudian memastikan
sistem pendingin berjalan agar tidak terjadi overheated pada alat. Adapun
parameter-paramater yang harus diamati pada praktikum ini adalah suhu air di
dalam reactor, suhu air masuk dan keluar jaket, tekanan steam, tekanan suction dan
discharge pompa serta kecepatan pengaduk setiap 10 menit sekali. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh perpindahan panas terhadap waktu serta menentukan
nilai kalor dan koefisien perpindahan panas overall (U) yang mewakili koefisien
perpindahan panas konduksi dan konveksi.

1) Proses Pemanasan

Air dingin akan mengalir ke jaket yang kemudian diberi (di injeksi) steam
bertekanan sehingga menjadi air panas bertekanan. Air panas bertekanan inilah
yang berfungsi sebagai media pemanas reaktan. Proses ini berjalan selama 60 menit
dengan suhu awal reaktan adalah 28,8 °C dan suhu akhir reaktan adalah 79,6 °C.
Berdasarkan grafik yang diperoleh pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 diketahui
bahwa seiring berjalannya waktu maka temperature air masuk jaket dan keluar jaket
serta suhu reaktan di dalam reaktor cenderung terus meningkat. Ini menunjukkan
bahwa proses perpindahan panas antara reaktan dengan air panas bertekanan di
dalam jaket berlangsung dengan baik. Perpindahan panas ini terjadi secara konduksi
karena tidak disertai dengan perpindahan fluida.

Pengaruh tekanan terhadap perpindahan panas dapat dilihat dari Tabel 1


(Lampiran), kenaikan tekanan pompa berbanding lurus dengan kenaikan suhu
reaktan di dalam reactor. Nilai kalor (Q) yang diperoleh pada pemanasan ini adalah
sebesar 17702,23 kJ, artinya sebanyak 17702,23 kJ kalor diberikan dari ais panas
bertekenan dalam jaket ke reaktan untuk meningkatkan suhu reaktan dalam reactor.
Adapun nilai koefisien perpindahan panas overall (U) yang diperoleh adalah
sebesar 967,97 kJ/m2.0C. Nilai koefisien perpindahan panas overall (U) terhadap
waktu yang diperoleh nilainya fluktuatif naik-turun.

2) Proses Pendinginan

Proses pendinginan dilakukan dengan mematikan steam dan tetap


mengalirkan air dingin. Suhu reaktan awal proses ini adalah 69,6 °C dan suhu akhir
reaktan adalah 54,7 °C. Proses ini berlangsung selama 60 menit. Berdasarkan grafik
yang diperoleh pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 diketahui bahwa seiring
berjalannya waktu maka temperature air masuk jaket dan keluar jaket serta suhu
reaktan di dalam reaktor cenderung terus menurun. Ini menunjukkan bahwa proses
perpindahan panas dari reaktan ke dalam jaket berlangsung dengan baik. Namun
pada menit ke 50 dan menit 60 tekanan pompa meningkat drastic sehingga
penurunan suhu tidak terlalu jauh yaitu

Pengaruh tekanan terhadap perpindahan panas dapat dilihat dari Tabel 2


(Lampiran), penurunan tekanan pompa berbanding lurus dengan penurunan suhu
reaktan di dalam reactor. Nilai kalor (Q) yang diperoleh pada pendinginan ini
adalah sebesar -5927,26 kJ, artinya sebanyak -5927,26 kJ kalor diberikan dari ais
panas bertekenan dalam jaket ke reaktan untuk meningkatkan suhu reaktan dalam
reactor. Adapun nilai koefisien perpindahan panas overall (U) yang diperoleh
adalah sebesar 301,55 kJ/m2.0C. Nilai koefisien perpindahan panas overall (U)
terhadap waktu yang diperoleh nilainya fluktuatif naik-turun.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Reaktor tangki berpengaduk (Stirred Tank Reactor) dapat digunakan


sebagai pemanasan dan pendinginan yang dilengkapi dengan jaket sebagai
media pemanas yang berisi air panas bertekanan..
2. Pemanasan terjadi karena adanya perpindahan kalor dari jaket ke dinding
reactor secara konduksi kemudian berpindah dari dinding reactor ke reaktan
dalam reactor secara konveksi. Sedangkan pendinginan terjadi karena kalor
berpindah dari reaktan ke jaket
3. Nilai kalor pada proses pemanasan (Q1) dan koefisien perpindahan panas
overall (U) yang diperoleh berturut-turut adalah 17702,23 kJ dan 967,97
kJ/m2.0C. Sedangkan pada proses pendinginan nilai kalor dan koefisian
perpindahan panas berturut-turut adalah -5927,26 kJ dan 301,55 kJ/m2.0C.
DAFTAR PUSTAKA

Kundari, Noor Anis, dkk. 2009. Evaluasi Unjuk Kerja Reaktor Alir Tangki
Berpengaduk Menggunakan Perunut Radioisotop. Jurnal Teknologi. Batan.

RTG, Rahmad P. 2018 Pengaruh Jenis Impeller Terhadap Reaksi Saponifikasi Sabun
Sair Dalam Reaktor Tangki Berpengaduk. Sumatera Utara: USU.

Shoelarta, Surya. 2017. Petunjuk Praktikum Laboratorium Pilot Plant: Reaktor


Tangki Berpengaduk. Bandung: POLBAN.

Sumarni, Ani Purwanti. 2009. Pemanfaatan Metoda Newton-Raphson Dalam


Perancangan Reaktor Alir Tangki Berpengaduk. Jurnal Teknologi. Batan.
LAMPIRAN

1. Data Pengamatan
Tabel 1. Data Pengamatan Perpindahaan Panas Dari Luar Ke Dalam
Temperatur Temperatur Tekanan Tekanan
Temperatur
Air Panas Reaktan Suction Discharge
Waktu Air Panas ∆P
Keluar dalam (bar) (bar)
(Menit) Masuk Jaket Pompa
0 Jaket (0C) Reaktor
( C) (T1) P1 P2
(T2) (0C)
0 28,8 25,4 24 1 1,9 0,9
10 64,1 60,2 37,5 1,2 2 0,8
20 69,2 69,5 49,9 1,5 2,4 0,9
30 76,1 75,2 59,3 1,8 2,7 0,9
40 77,5 77,4 61 1,9 2,8 0,9
50 78,6 79,2 68 2 2,9 0,9
60 79,6 80,3 68,5 1,8 2,7 0,9

Tabel 2. Data Pengamatan Perpindahaan Panas Dari Dalam Ke Luar

Tekanan Tekanan
Temperatur Suction Discharge
Temperatur Temperatur
Reaktan
Waktu Air Panas Air Panas (bar) (bar) ∆P
dalam
(Menit) Masuk Jaket Keluar Pompa
Reaktor
(0C) Jaket (0C)
(0C) P1 P2

0 79,1 80,6 69,6 1,7 2,2 0,5

10 43,9 74,1 69 0 0,8 0,8


20 42,6 56 66,6 0 0,8 0,8
30 39,3 43,7 63,8 0 0,8 0,8
40 35,4 36,9 58,8 0 0,8 0,8
50 30,9 35,1 55 2 2,8 0,8
60 24,5 34 54,7 2 2,8 0,8
2. Perhitungan nilai kalor (Q)
Rumus yang digunakan:
Q = m. Cp. ∆T
Dimana,

Q = jumlah kalor (kJ)


m = massa air (kg) = volume air (L) x densitas air (0,997 kg/L)

Cp = 4,2 kJ/kg.°C

ΔT = Treaktan akhir – Treaktan awal (°C)

a) Proses Pemanasan Reaktan

Q1 = m. Cp. ∆T1

Q1 = (95 × 0,997). (4,2) 𝑘𝐽⁄𝑘𝑔. ℃ . (68,5 − 24)℃

𝐐𝟏 = 17702,23 𝒌𝑱

b) Proses Pendinginan Reaktan

Q2 = m. Cp. ∆T2

Q2 = (95 × 0,997). (4,2) 𝑘𝐽⁄𝑘𝑔. ℃ . (54,7 – 69,6)℃

𝐐𝟐 = −5927,26 𝒌𝑱

3. Perhitungan nilai koefisien perpindahan panas overall (U)


Setelah mendapatkan nilai Q, maka U dpat dihitung dengan rumus
berikut:
Q
Q = U. A. ∆T U =
A .∆ T

Dimana,:

Q = jumlah kalor (kJ)


U = koefisien perpindahan panas overall (kJ/m2.°C)

A = luas penampang reaktor (m2)

ΔT = Tdalam jaket akhir – Tdalam jaket awal (°C)

 Luas penampang reaktor:


D = 0,677 m
𝐀 = 𝛑𝐫𝟐 = 𝛑(𝟎, 𝟑𝟑𝟖𝟓)𝟐 = 𝟎, 𝟑𝟔 𝐦𝟐

a) Proses Pemanasan

17702,23 𝑘𝐽
𝑈1 =
0,36 (𝑚2) 𝑥 50,8 (0𝐶)

𝐔1 = 𝟗6𝟕,97 𝒌𝑱⁄𝒎𝟐. ℃

b) Proses Pendinginan

−5927,26 𝑘𝐽
𝑈2 =
0,36 (𝑚2)𝑥 − 54,6 (0𝐶)

U2 = 301,55 𝒌𝑱⁄𝒎𝟐. ℃

4. Perhitungan U (per satuan waktu)

Untuk mengetahui nilai U lebih spesifik (per satuan waktu) dapat


menggunakan rumus berikut:
m .C p T s −T t−0
t = ln ( )
U .A Ts −T

sehingga,
m .C p T s −T t−0
U = ln ( )
t .A T s −T

Dimana,:

U = koefisien perpindahan panas overall (kJ/m2.menit)


m = massa air (kg)
= volume air (L) x densitas air (0,997 kg/L)
Cp = 4,2 kJ/kg.°C
t = menit tertentu
Ts = temperatur air masuk jaket pada t tertentu (°C)

T = temperatur reaktan pada t tertentu (°C)

Tt-0 = temperatur reaktan pada sebelum t tertentu (°C)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan program Ms. Excell

Tabel 3. Hasil Perhitungan U per satuan waktu pada saat perpindahan panas
dari luar ke dalam

t Ts Tt-0 T m Cp A U
(menit) (°C) (°C) (°C) (kg) (kJ/kg.°C) (m2) (kJ/m2.menit)

10 64,1 24 37,5 94,715 4,2 0,36 45,357


20 69,2 37,5 49,9 94,715 4,2 0,36 27,416
30 76,1 49,9 59,3 94,715 4,2 0,36 16,368
40 77,5 59,3 61 94,715 4,2 0,36 2,709
50 78,6 61 68 94,715 4,2 0,36 11,206
60 79,6 68 68,5 94,715 4,2 0,36 0,811

Tabel 4. Hasil Perhitungan U per satuan waktu pada saat perpindahan panas dari
dalam ke luar
t Ts Tt-0 T m Cp A U
(menit) (°C) (°C) (°C) (kg) (kJ/kg.°C) (m2) 2
(kJ/m .menit)

10 43,9 69,6 69 94,715 4,2 0,36 2,610


20 42,6 69 66,6 94,715 4,2 0,36 5,266
30 39,3 66,6 63,8 94,715 4,2 0,36 3,986
40 35,4 63,8 58,8 94,715 4,2 0,36 5,350
50 30,9 58,8 55 94,715 4,2 0,36 3,236
60 24,5 55 54,7 94,715 4,2 0,36 0,182