Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Penyakit Malaria

2.1.1. Pengertian
Malaria adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh parasit jenis protozoa
dari genus plasmodium yang secara alamiah ditularkan lewat gigitan nyamuk anopheles
betina (Koes Irianto, 2014).
Malaria adalah penyakit yang yang bersifat akut maupun kronis, disebabkan oleh
protozoa genus Plasmodium ditandai dengan demam, anemia, splenomegali (Mansjoer Arif,
2000).
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup
dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan
melalui gigitan nyamuk anopheles betina (Gebrak Malaria, 2006).
2.1.2. Etiologi
 Jenis Parasit
Penyakit malaria disebabkan oleh Protozoa genus Plasmodium. Terdapat empat spesies yang
menyerang manusia yaitu :
 Plasmodium falciparum menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana
maligna/malaria tropika/malaria pernisiosa.
 Plasmodium vivax menyebabkan malaria vivax atau malaria tertiana benigna.
 Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale atau malaria tertiana benigna ovale.
 Plasmodium malariae menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana.
Selain empat spesies Plasmodium diatas, manusia juga bisa terinfeksi oleh Plasmodium
knowlesi, yang merupakan plasmodium zoonosis yang sumber infeksinya adalah kera.
Penyebab terbanyak di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.
Untuk Plasmodium falciparum menyebabkan suatu komplikasi yang berbahaya, sehingga
disebut juga dengan malaria berat. Malariae juga mengakibatkan hospes perantara, yaitu
manusia maupun vertebrata lainnya dan hospes definitif, yaitu nyamuk Anopheles betina
(Mansjoer Arif, 2000).

2.1.3. Patogenesis
a. Demam
Mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan
bermacam-macam antigen. Antigen ini akan merangsang sel-sel makrofag,
monosit atau limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, antara lain
TNF (Tumor Necrosis Factor). TNF ini akan membawa aliran darah ke
hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam.
Proses skizogoni pada ke empat plasmodium memerlukan waktu yang berbeda-
beda. Plasmodium Falciparum memerlukan waktu 36-48 jam, Plasmodium
Vivax/Ovale 48 Jam, dan Plasmodium Malariae 72 jam. Demam pada
Plasmodium Falciparum dapat terjadi setiap hari, Plasmodium Vivax/Ovale
selang waktu 1 hari, dan Plasmodium Malariae demam timbul selang waktu 2
hari.
b. Anemia
Terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak
terinfeksi. Plasmodium Falciparum menginfeksi semua jenis sel darah merah,
sehingga anemia dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis.
c. Splenomegali
Limpa merupakan organ retikuloendothelial, dimana Plasmodium dihancurkan
oleh sel-sel makrofag dan limfosit. Penambahan sel-sel radang ini akan
menyebabkan limpa membesar.
d. Malaria Berat
Akibat Plasmodium Falciparum mempunyai patogenesis yang khusus. Eritrosit
akan terinfeksi Plasmodium Falciparum akan mengalami proses sekuestrasi alat
dalam tubuh. Selain itu pada permukaan eritrosit yang terinfeksi akan
membentuk knob yang berisi berbagai antigen Plasmodium Falciparum.
Pada saat terjadi proses sitoadherensi, knob tersebut akan berikatan dengan
reseptor sel endotel kapiler. Akibat dari proses ini terjadilah obstruksi
(penyumbatan) dalam pembuluh darah kapiler yang menyebabkan iskemia
jaringan. Terjadi sumbatan ini juga didukung oleh proses terbentuknya
“rosette” yaitu bergerombolnya sel darah merah yang berparasit dengan sel
darah lainnya.
Pada proses sitoaderensi ini juga terjadi proses imunologik yaitu terbentuknya
mediator-mediator antara lain sitokin (TNF, Interleukin) dimana mediator
tersebut mempunyai peranan dalam gangguan fungsi pada jaringan tertentu
(Gebrak Malaria, 2006).
2.1.4. Tanda dan Gejala
a. Masa Inkubasi
Masa inkubasi pada masing-masing plasmodium dapat dideteksi dengan berbeda
temperatur antara satu dengan yang lainnya, seperti Plasmodium Vivax (48 jam)
berlangsung 13 hari, Plasmodium Ovale (48 jam) berlangsung 17 hari,
Plasmodium Malariae (tiap 72 jam) dalam 28 hari, dan Plasmodium Falciparum
(24 – 48 jam) berlangsung 12 hari. Pada Plasmodium Vivax sub-spesies
Plasmodium Vivax multinucleatum dijumpai di Cina Tengah mempunyai masa
inkubasi yang lebih panjang 312-323 hari dan sering relaps setelah infeksi primer.
Masa inkubasi pada inokulasi darah lebih pendek dari infeksi sprozoit. Penularan
melalui suntikan sub-kutan memberikan masaa inkubasi lebih panjang dibanding
intramuskuler, dan suntikan intravena masa inkubasi paling pendek. Pada strain
dari daerah dingin inkubasi lebih panjang. Inkubasi terpendek pernah dilaporkan
di Afrika yaitu 3 hari (Harijanto, 2000).
b. Keluhan-Keluhan Prodromal
Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan,
malaise, sakit kepala, nyeri tulang belakang, nyeri otot, anoreksia, perut tak enak,
diare ringan, malas minum, terjadi pada Plasmodium Vivax dan Ovale, sedangkan
pada Plasmodium Falciparum dan Malariae keluhan prodromal tidak jelas
bahkan gejala dapat mendadak (Harijanto, 2000)
c. Gejala-Gejala Klinik
Gejala kinik yang terjadinya “Trias Malaria” (Malaria proxysm) secara berurutan :
 Stadium Dingin
Stadium dingin dimulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin.
Nadi penderita cepat, tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat dan kebiruan,
kulit kering dan pucat, penderita mungkin muntah dan pada penderita
anak sering terjadi kejang. Periode ini berlangsung 15-1 jam (Harijanto,
2000).
 Stadium Demam
Penderita muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat, dan panas
badan tetap tinggi dapat sampai 41˚C atau lebih, penderita membuka
blanketnya, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retro-orbital, muntah-
muntah, dapat terjadinya shock (tekanan darah turun), kesadaran delirium
sampai terjadi kejang (anak). Stadium ini lebih lama dari fase dingin, yaitu
berlangsung 2 jam atau lebih diikuti dengan keadaan berkeringat
(Harijanto, 2000).
 Stadium Berkeringat
Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai
basah, temperatur turun, penderita merasa capek dan sering tertidur. Bila
penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan
seperti biasa (Harijanto, 2000)
Perlu diketahui bahwa trias malaria ini secara keseluruhan dapat
berlangsung 6-10 jam, lebih sering terjadi pada infeksi Plasmodium Vivax.
Pada Plasmodium Falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun
tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada Plasmodium
Falciparum, 36 jam pada Vivax dan Ovale, 60 jam pada Malariae.
2.1.5. Pencegahan Penyakit Malaria
Pencegahan ialah mengambil tindakan lebih dahulu sebelum terjadinya tingkat terjadinya
penyakit :
a. Pencegahan tingkat pertama (Primary prevention)
Sasaran pada orang sehat dengan usaha peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit khususnya terhadap penyakit.
b. Pencegahan tingkat kedua (Secondary prevention)
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit melalui diagnosa diri dan
pengobatan yang tepat.
c. Pencegahan tingkat ketiga
Sasaran pada penderita penyakit sampai beratnya penyakit atau menimbulkan
kematian melalui pengobatan dan perawatan.
Berdasarkan tingkat pencegahan penyakit diatas maka kegiatan yang dapat dilakukan
berupa:
1. Pemberantasan larva yang dapat dilakukan dengan:
a. Cara kerja dengan menggunakan larvasida.
b. Cara biologi pengaturan populasi vektor oleh musuh-musuh vektor didalam.
c. Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan pengubahan lingkungan dan
manipulasi lingkungan
2. Pemberantasan nyamuk dapat dilakukan dengan menurunkan jentik nyamuk, dan
menghindari gangguannya. Hal-hal yang dapat dilakukan yaitu :
a. Penggunaan screen.
b. Penggunaan bed net.
c. Menggunakan pakaian anti nyamuk.
d. Penggunaan re pellent.
e. Penggunaan deet.
f. Penggunaak obat nyamuk bakar.
3. Mengobati penderita malaria (secara kimiawi)
a. Pengobatan presumtif bagi penderita malaria.
b. Diagnosa dini dan pengobatan radikal bagi yang sudah sakit.
c. Pemberian obat – obatan malaria untuk tindakan pencegahan penyakit malaria.
d. Pengobatan presumtif untuk menekan gejala klinik.
e. Pemberian obat penyembuh.
f. Pemberian obat pembunuh gametosit.
Pengobatan secara umum dan supportif dilakukan selama serangan akut, penderita
harus beristirahat, kompres dingin untuk menurunkan demam, pemasukan cairan dan
mengatur keseimbangan garam dan obat penghilang sakit kepala dan rasa kurang
enak. Untuk penderita menahun yang non-reaktif dan lemah dengan anemia berat dan
hipotensi diberi transfusi, ekstra hati, zat besi, vitamin dan protein. Hal ini penting
yang berperan dalam penyuluhan kepada masyarakat tentang malaria dan
pencegahannya ( Harijanto, 2000 ).
2.1.6. Pengobatan
1. Malaria falciparum akut tanpa komplikasi
Malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin yang sudah menyebar dan
malaria falciparum yang resisten terhadap berbagai macam obat juga maka setidaknya
mengenal pola sensitifitas obat malaria di daerah tertentu. Bila pada suatu daerah
diketahui infeksi caampuran P. Falciparum dan P. Vivaks, memakai
sulfadoksin/pirimethamin dikombinasi dengan klorokuin. Perlu perhatian beberapa
obat yang merupakan kontra indikasi pada wanita hamil (primakuin dan tetrasiklin).
Daerah yang sensitif pada Klorokuin
 Berikan 10 mg/ kg selama 2 hari kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/kg
pada hari ke – 3.
Daerah yang resisten pada klorokuin

Diberikan kuinin saja, atau sulfadoksin/pirimethamin bisa dipergunakan untuk malaria


yang resisten klorokuin.

2. Malaria Vivax
Daerah yang sensitif pada Klorokuin
 Berikan 10 mg/ kg selama 2 hari kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/kg
pada hari ke – 3.
Daerah yang resisten pada klorokuin
 Berikan kuinin 10 mg.kg berat badan 2 kli sehari selama 5 hari atau,
 Berikan sulfadoksin 500 mg dan primethamin 2, 5 mg sebagai dosis
tunggal.
2.1.7. Perawatan
a. Rawat jalan, untuk penderita dengan gejala penyakit ringan (tanpa komplikasi),
dapat minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (terapi oral).
b. Rawat inap, untuk penderita dengan gejala penyakit berat atau dengan komplikasi:
ibu hamil, bayi dan anak-anak, penderita tidak dapat minum obat (muntah-
muntah). Juga padaa mereka yang memerlukan terapi parenteral dan pengawasan
intensif.
2.1.8. Komplikasi
Menurut Gebrak Malaria (2006) beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada
penderita malaria adalah :
a. Malaria otak
Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi (80%) bila
dibandingkan dengan penyakit malaria lainnya. Gejala klinisnya dimulai secara
lambat atau setelah gejala permulaan. Sakit kepala dan rasa ngantuk disusun dengan
gangguan kesadaran, kelainan saraf dan kejang-kejang bersifat fokal atau menyeluruh.
b. Anemia berat
Komplikasi ini ditandai dengan penurunan hematokrit secara mendadak (> 3 mg/dl).
Seringkali penyulit ini disertai dengan edema paru. Angka kematian mencapai 50%.
Gangguan ginjal diduga disebabkan adanya anoreksia, penurunan aliran darah ke
ginjal yang dikarenakan sumbatan kapiler, sebagai akibatnya terjadi penurunan filtrasi
pada glomelurus.

c. Edema paru
Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu hamil dan setalh melahirkan. Frekuensi
pernapasan meningkat. Merupakan komplikasi yang berat yang menyebabkan
kematian. Biasanya disebabkan oleh kelebihan cairan dan Adult Respiratory Distress
Syndrom (ADRS).
d. Hipoglikemia
Konsentrasi gula pada penderita turun.
BAB III

ASKEP TEORI PENYAKIT MALARIA


BAB IV

ASKEP NYATA PENYAKIT MALARIA PADA An. D. M Di RUANGAN


EMANUEL RUMAH SAKIT KARITAS WEETABULA

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

a. Biodata Klien

Nama

Umur

Jenis Kelamin

Agama

Alamat

Pendidikan

Pekerjaan

Diagnose Medis

Tgl MRS Jam

Tanggal Pengkajian

Nomor Register

Sumber Informasi

b. Riwayat Kesehatan

a) Keluhan utama

b) Riwayat penyakit sekarang

c) Riwayat penyakit dahulu

d) Riwayat penyakit keluarga


e) Genogram

f) Keadaan, penampilan dan kesan um um klien

c. Riwayat Keperawatan

a) Pola Penatalaksanaan Kesehatan-Persepsi Sehat

b) Pola Nutrisi-Metabolisme

c) Pola Eliminasi

d) Pola Aktivitas

e) Pola Istirahat-Tidur

f) Pola Kognitif-Perseptual

g) Pola Persepsi-Konsep Diri

h) Pola Peran-Hubungan

i) Pola Sexual-Reproduktif

j) Pola Koping-Toleransi Stress

k) Pola Nilai-Keyakinan

d. Pemeriksaan Fisik

a) Tanda-tanda Vital

b) Sistem Pernafasan

c) Sistem Peredaran Darah dan Sirkulasi

d) Sistem Persyarafan

e) Sistem Pencernaan

f) Sistem Perkemihan

g) Sistem Reproduksi
h) Sistem Endokrin

i) Sistem Muskuloskletal

j) Sistem Integum en

k) Sistem Panca Indera

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

C. PERENCANAAN/INTERVENSI KEPERAWATAN

D. PELAKSANAAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN