Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum Puskesmas merupakan satuan organisasi yang memberikan kewenangan
kemandirian oleh dinas kesehatan untuk melaksanakan satuan tugas operasional
pembangunan di wilayah kerja. Menurut peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, pada pasal 4 disebutkan
bahwasannya Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung
terwujudnya kecamatan sehat.
Adapun fungsi puskesmas sebagaimana tertuang pada pasal 5 Permenkes RI No. 75 tahun
2014 meliputi :
1. Penyelenggaraan UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) tingkat pertama di wilayah
kerjanya
2. Penyelenggaraan UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) tingkat pertama di wilayah
kerjanya.

Selain dua fungsi yang terdapat pada pasal 5, selanjutnya pasal 8 menyebutkan bahwa
puskesmas juga dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.
Puskesmas sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama
memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya
kesehatan. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan nasional diselenggarakan
berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama di Puskesmas Cikande meliputi :
a. Rawat Jalan
b. Pelayanan gawat darurat
c. Rawat Inap
d. PONED
e. Laboratorium
f. Rujukan
B. Tujuan Pedoman
Pedoman pelayanan klinis bertujuan untuk menjadi acuan bagi seluruh aktifitas
pelayanan klinis yang dilaksanakan di Puskesmas Cikande , sehingga pada akhirnya
pelayanan klinis dapat meningkatkan kepuasan pelanggan yang pada akhirnya dapat
mendukung pencapaian standar pelayanan minimal (SPM).
C. Sasaran Pedoman
Sasaran pedoman pelayanan klinis adalah seluruh pelayanan klinis yang ada di
Puskesmas Cikande mulai dari pendaftaran pasien, pemeriksaan pasien (poli umum, poli
gigi, poli KIA, poli MTBS, poli LKB, UGD), pemeriksaan penunjang (Laboratorium),
pelayanan Farmasi, konsultasi (kinik PTM, klinik Jiwa, klinik Gizi, klinik PHBS, klinik
Sanitasi, klinik TB Paru, klinik HIV, klinik IMS, klinik Kusta), PONED, dan rawat inap.
D. Ruang Lingkup Pedoman
Ruang lingkup pelayanan klinis di Puskesmas meliputi :
1. Pendaftaran pasien
Sebelum mendapatkan pelayanan pemeriksaan atau konsultasi kesehatan, pasien terlebih
dahulu mendaftarkan diri di bagian pendaftaran untuk dicatatkan data identitasnya dan
dibuatkan rekam mediknya. Selanjutnya pasien akan diarahkan ke poli yang dituju.
2. Pemeriksaan pasien
Pemeriksaan pasien dilakukan di poliklinik sesuai dengan keluhan dan kondisi pasien.
Pemeriksaan dilakukan di poli umum, poli gigi, poli KIA, atau ruang tindakan terbatas
(UGD).
3. Pemeriksaan penunjang
Apabila dianggap perlu maka dokter yang memeriksa kondisi pasien dapat merujuk
pasien ke unit penunjang (laboratorium) untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang
yang sesuai demi mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai kondisi pasien.
4. Pelayanan kefarmasian
Apabila pasien sudah selesai diperiksa membutuhkan obat, maka pasien akan diberi resep
yang akan dibawa kebagian farmasi untuk mendapatkan obat sesuai dengan yang tertera
dalam resep.
5. Konsultasi pasien
Pasien yang membutuhkan penjelasan mengenai kondisi kesehatan yang lebih rinci akan
dirujuk ke unit terkait, misalnya konsultasi kinik PTM, klinik Jiwa, klinik Gizi, klinik
PHBS, klinik Sanitasi, klinik TB Paru, klinik HIV, klinik IMS, klinik Kusta.
6. Rawat Inap
Apabila dari hasil pemeriksaan dokter menyatakan pasien memerlukan perawatan lebih
lanjut maka pasien akan dirujuk ke unit rawat inap.
E. Batasan Operasional
1. Rawat jalan adalah pelayanan medis yang diberikan kepada pasien untuk tujuan
engamatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi dan pelayanan kesehatan lainnya tanpa
mengharuskan rawat inap.
2. Pelayanan gawat darurat adalah pelayanan kesehatan yang harus diberikan secepatnya
untuk mencegah terjadinya kematian, keparahan dan kecacatan sesuai dengan
kemampuan puskesmas.
3. Pasien rawat jalan
Adalan pasien puskesmas yang setelah mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kondisinya dapat pulang ke rumah.
4. Pemeriksaan penunjang
Adalah pemeriksaan tambahan terhadap pemeriksaan kesehatan yang dilakukan dokter
untuk mendapatkan kepastian diagnosa dan ketepatan terapi terhadap pasien.
5. Konsultasi
Adalah upaya memberikan pengertian dan pengetahuan kepada pasien mengenai hal-hal
yang harus diketahui berhubungan dengan kondisi kesehatannya.
6. Pelayanan rawat inap adalah pelayanan yang diberikan pada pasien yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan perawatan di rumah karena memerlukan pengawasan,
pengobatan dan perawatan lebih lanjut sesuai kewenangan dan kemampuan puskesmas.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Berikut ini tenaga kesehatan pada pelayanan klinis yang ada di Puskesmas Cikande :
NO JABATAN KUALIFIKASI JUMLAH
1 Dokter Umum S1 Kedokteran dengan profesi 3
2 Dokter Gigi S1 Kedokteran Gigi 1
3 Apoteker S1 Apoteker 1
4 Perawat S1 Keperawatan 2
D III Keperawatan 13
5 Bidan D IV Kebidanan 7
D III Kebidanan 16
6 Perawat Gigi D III Keperawatan Gigi 1
Petugas 1
7 Laboratorium D III Analis Kesehatan
Sekolah Menengah Analis Kesehatan 1
(SMAK)
8 Petugas Farmasi D III Farmasi 1
9 Nutrision S1 Nutrisionist 1
10 Sanitarian S1 Kesling 1
11 Perekam Medis SMA 3
12 Promkes S1 Promkes 2
Tabel 1.Klasifikasitenagakesehatanpuskesmascikande

B. Distribusi Ketenagaan
Puskesmas Cikande memiliki puskesmas pembantu ( Pustu Situ Terate dan Pustu
Gembor Udik), pelayanan dalam gedung dilakukan di puskesmas Induk. Kegiatan luar
gedung yang dijadwalkan secara rutin adalah kegiatan puskesmas keliling.
1. Dokter Umum
Setiaphari bertugas di rawat jalan, UGD dan PONED, sedangkan untuk pelayanan
di rawat inap, seperti visite dan konsul diatur dengan jadwal visite dan jadwal konsul.
Jumlah dokter ada 3 (tiga) yang masing-masing tugasnya diatur dengan jadwal. Bila ada
pertemuan yang menyangkut upaya klinis yang menjadi tugas keseharian dokter atau
yang berkaitan dengan tugas integritasinya, maka tugas dipelayanan akan digantikan
sementara oleh dokter yang lain.
Doktermelaksanakantugasnyasesuaidengan SOP LayananKlinissebagaiberikut:
Tabel 2. 144 penyakitpelayananklinis
2. Dokter Gigi
Setiap hari bertugas di poli Gigi . Jumlah dokter gigi ada 1 (satu) yang
menemapati ruangan dental unit.
Doktergigimelaksanakantugasnyasesuaidengan SOP LayananKlinissebagaiberikut
:

DAFTAR NAMA PENYAKIT GIGI YANG DAPAT DITANGANI DI LAYANAN


PRIMER
No NamaPenyakit
1 Kariesdini / karies email tanpakavitas
2 Karies email / karies dentin / kariessememtum/ akar
3 Kariesterhenti / arrested caries
4 Demineralisasipermukaanhalus / aproksimal
5 Frakturmahkotagigi yang tidakmerusakpulpa
6 Dentin hipersensitif
7 Atrisi, Abrasi, Erosi
8 Kariesmencapaipulpa vital gigisulung
9 Periodontitis kronisdengankehilanganjaringan periodontal
ringan-sedang
10 Ginggivitisakibatplak microbial
11 Primary herpetic gingivostomatitis
12 Oral Hygiene buruk
13 Stomatitis aftosa
14 Angular cheilitis
15 Pulpitis reversible
16 Nekrotispulpa / gangrene pulpa ( akartunggal, akarjamak
yang lurusdengansudutpandangkerjake orifice
tidakterhalang)

17 Nekrotispulpa / gangrene pulpagigitinggalakar


(gigisisasudahtidakmendukunguntukdilakukantumpatan)
18 Pulpitis Irreversible ( akartunggal, akarjamak yang
lurusdenganpanjangkerjapada orifice tidakterhalang)
19 Iritasipulpagigitetapmuda
20 Hyperemia pulpagigitetapmuda
21 Nyeriorifisial
22 Persistensigigisulung
23 Akargigitertinggal / Facial fenestrasi / ulkus decubitus
24 Absesperiapikal
25 Abses periodontal

3. Bidan
Setiap hari melakukan pelayanan di ruangan KIA, Jumlah Bidan di ruang KIA ada
3 (tiga), masing-masing bidan mempunyai spesifikasi ketugasan yang berbeda, misalnya
sebagai koordinator KIA, penanggung jawab kesehatan anak atau penanggung jawab
pelayanan KB (Keluarga Berencana). Sedangkan untuk persalinan ada 1 (satu) bidan
penanggung jawab yang bertugas setiap hari (pada jam kerja) dibantu 1 (satu) bidan yang
bertugas diatur dengan jadwal. Jika ada undangan pertemuan untuk bidan maka yang
ditugaskan adalah disesuaikan dengan ketugasannya. Untuk melakukan kegiatan luar
gedung, misalnya kunjungan ibu hamil risiko tinggi, maka bidan akan menyesuaikan
dengan kondisi pelayanan yang ada dipuskesmas.
Bidanmelaksanakantugasnyasesuai SOPsebagaiberikut :

DAFTAR SOP ASUHAN KEBIDANAN DI PELAYANAN PRIMER


No SOP AsuhanKebidanan
1 Antenatal / kehamilan normal
2 BBLR /BeratBadanLahirRendah
3 Hiperemesis
4 KehamilanResikoTinggi ( Resti )
5 KehamilanEktopik ( KET )
6 MetodeKangguru
7 Manual Plasenta
8 Mastitis
9 PemeriksaanNifas
10 Perawatan BBLR
11 Ruptur Perineum tingkat ½
12 PersalinanSungsang
13 PraRujukan
14 PlasentaPrevia
15 Vaccum
16 Abortus
17 Anemia DefisiensiBesiPadaKehamilan
18 PenangananKetubanPecahDini ( KPD )
19 PenangananAsfixia
20 Pre Elkampsia
21 RetensioPlasenta

4. Perawat
Setiap hari bertugas di poli umum, UGD, dan rawat inap. Ada 3 jenis pelayanan
dalam gedung yang dilakukan perawat yaitu di poli umum, UGD dan ruang perawatan
(rawat inap).
Jumlah perawat yang bertugas di poli umum ada 2 (dua) orang, di UGD ada 1
(satu) orang dan ada 2 (dua) orang di ruang perawatan setiap hari (jam kerja).
Sedangkan untuk pelayanan diluar jam kerja (UGD dan ruang perawatan) diatur
dengan jadwal. Setiap perawatan mempunyai tugas integrasi atau tugas lain yang
diberikan kepala puskesmas, misalnya penanggung jawab TB, penanggung jawab PHN
dan lain-lain. Sehingga jika ada undangan yang menyangkut ketugasannya perawat yang
bersangkutan akan didisposisi mengikuti kegiatan tersebut. Untuk kegiatan puskesmas
keliling ada 1 (satu) perawat yang bertugas.
Perawatmelaksanakantugasnyasesuai SOP sebagaiberikut :

DAFTAR SOP ASUHAN KEPERAWATAN DI LAYANAN PRIMER


No SOP AsuhanKeperawatan
1 Mengukurtinggibadan
2 Mencucitangan
3 Menimbang BB
4 Menghitungnadi
5 PemeriksaanFisik
6 Mengukursuhutubuh
7 Penanganankejangdemam
8 PemberianOksigen
9 Observasipenderitagawat
10 PenangananSyokAnafilaktik
11 PengukuranTekananDarah
12 MenghitungPernafasan
13 AsuhanKeperawatan
14 Melakukan Anamnesis
15 Penangan Luka Bakar
16 Pemeriksaan Rumple Leed
17 Ekstraksi Kuku
18 InsisiAbses
19 MenghitungJumlahNadidanPernafasan
20 Menjahit Luka
21 PemasanganInfus
22 PemberianInjeksi Intra Muskular
23 PemasanganKateter
24 PemberianSuntikan Intra Cutan
25 PemberianSuntikan Intra Vena
26 PemberianSuntikan Sub Cutan
27 Perawatan Luka
28 PenangananCederaKepala
29 Triase
30 Sirkumsisi
31 PrinsipPemberianObat
32 MemberikanObatPada Mata
33 MemberikanObatTetesTelinga
34 PemberianObat Per Rectal
35 Irigasi Mata
36 IrigasiTelinga
37 MenyuapiPasien
38 MenolongPasien BAK
39 MenolongPasien BAB
40 MengambilSampelDarah
41 MengambilsampelUrin
42 Memindahkanpasiendaribrangkarketempattidur
43 Memindahkanpasiendaritempattidurkekursiroda
44 MelakukanUjiTorniquet
45 MemasangBidai
46 MembersihkanLendirdengan suction
47 PenangananFraktur
48 PenangananSyokHipovolemi
49 MenerimaPasienBaru
50 InformasiKepadaPasien
51 MendampingiDokterVisite
52 MenghitungTetesanInfus
53 Mengambil Benda Asing Di Hidung
54 Mengambil Benda Asing Di Telinga
55 PemulanganPasienMeninggal
56 PenangananResusitasiJantungParu
57 PenangananAsma
58 Tindakan Nebulizer
59 PembuatanVisum (PasienHidup)
60 Pembuatanvisum (pasienmeninggal)
61 Pemasangan neck coller
62 PemasanganBidai
63 Pemasangan NGT
64 MembersihkanLendirDengan Suction
65 AnestesiLokal
66 MengangkatJahitan
67 Memecahkan Bullae Luka Bakar
68 Penanganan Luka TusukPaku
69 MelepasKateter
70 Skin Test
71 MengangkatJahitan
72 MelepasInfus
73 PasienPulangAtasPermintaanSendiri (APS)
74 PasienPulangSembuh
75 MenyiapkanPasienUntukPemeriksaanLaboratorium
76 SerahterimaPergantian Shift
77 MengaturPosisiTidurSelangSeling
78 MengukurSuhuBayi
79 MemberikanPenyuluhanSecara Individual
80 MemberikanObatPadaKulit

5. Perawat Gigi
Setiap hari bertugas di poli gigi bersama dokter gigi. Jumlah perawat gigi ada 1
(satu) yang memiliki tugas integrasi atau tugas lain, seperti penanggung jawab UKS.
6. Petugas Laboratorium
Setiap hari bertugas di ruang laboratorium. Jumlah petugas laboratorium ada 1
(satu) D III Analis Kesehatan dan ada 1 (satu) SMAK (Sekolah Menengah Analis
Kesehatan) yang masing-masing memiliki tugas integrasi
7. Petugas Farmasi
Setiap hari bertugas dipelayanan farmasi. Jumlah petugas farmasi ada 1 (satu) S1
Apoteker, ada 1 (satu) D III farmasi dan dibantu oleh 1 (satu) orang SMA yang masing-
masing memiliki tugas integrasi, jika petugas farmasi ada undangan pertemuan maka
pelayanan farmasi dilayani oleh D III farmasi dan SMA.
8. Nutrisionist
Setiap hari bertugas di poli Gizi. Jumlah Nutrisionis ada 1 (satu) dengan
spesifikasi gizi klinik dan gizi masyarakat.

No. SOP AsuhanGizi


1 Pemberiannutrisipasienrawatinap
2 Pemesananmakanan
3 AsuhanGizi
4 Pemilihanmakanan
5 Pemberianedukasibilakeluargamenyediakanmakanan
6 Penyiapanpengolahanmakanan
7 Penyimpananmakanandanbahanmakanan
8 Prosedurdistribusimakanan
9 Asuhangizidenganresikonutrisi
10 Komunikasidankoordinasipemberiannutrisi
11 Monitoring danevaluasigizi
12

9. Sanitarian
Bertugas setiap hari, jumlah sanitarian ada 1 (satu) orang.
10. Petugas Pendaftaran
Setiap hari bertugas di ruang pendaftaran, Jumlah petugas pendaftaran ada 4
orang, 1 orang tenaga IT sebagai koordinator dan 3 orang petugas yang sudah dilatih.

C. Jadwal Kegiatan
Pelayanan dilaksanakan stiap hari sesuai jam kerja. Sedangkan untuk pelayanan di UGD,
PONED, dan rawat inap, puskesmas membuka pelayanan 24 jam.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
1. DenahRuangPendaftaran dan Farmasi

2. Denah Ruang Perkantoran dan Vaksin


3. Denah Ruang UGD Umum

4. Denah Ruang TB Paru


5. Denah Ruang Poli Rawat Jalan Sebelum di Rehab

B. Standar Fasilitas
1. Fasilitas dan sarana
Ruang pelayanan pasien pada umumnya berlokasi di lantai satu gedung
puskesmas (lantai bawah) sehingga memudahkan bagi pasien untuk mengakses. Ruang
pendaftaran berada paling depan disebelah pintu masuk puskesmas berupa ruangan
dengan loket pendaftaran. Ruang pendaftaran dilengkapi AC, 1 meja administrasi, 2
meja kerja dengan seperangkat komputer, pengeras suara dan rak penyimpanan family
folder.
Poli umum merupakan ruangan dengan 1 ruang pemeriksaan dokter, termasuk di
dalamnya terdapat bed/tempat tidur pasien. Ruangan ini memiliki wastafel sebagai
sarana cuci tangan bagi petugas. Selain itu ruangan ini memiliki seperangkat komputer
sebagai bagian dari sistem informasi puskesmas yang terhubung dengan server untuk
memasukkan data pasien pada sistem informasi puskesmas.
Ruang UGD terdiri dari ruangan dengan 3 (tiga) bed/tempat tidur yang dibedakan
berdasarkan triase dengan 1 ruang tindakan. Ruang UGD dilengkapi dengan AC, troli
tindakan, sterilisator, wastafel, lemari obat, lampu tindakan, dan meja administrasi
dengan seperangkat komputer.
Disebelah ruang UGD terdapat ruang PONED, ruang PONED terdiri dari 4 ruang,
1 ruang UGD persalinan, 1 ruang persalinan dan 2 ruang nifas dengan 2 bed dan 4 bok
bayi. Ruang PONED dilengkapi AC, troli tindakan, sterilisator, dan lemari obat.
Ruang KIA terhubung langsung dengan ruang KB/Imunisasi, ketiganya saling
terkait, sehingga memudahkan pemberian pelayanan KIA, seperti pemeriksaan ibu
hamil, pelayanan KB< pemeriksaan calon pengantin serta pemberian imunisasi pada
balita. Ruangan KIA juga ber-AC, dilengkapi dengan meja administrasi, bed
pemeriksaan, bed ginekologi, wastafel, lemari peralatan dan perangkat komputer
pendukung sistem informasi puskesmas.
Ruang pelayanan Gigi terdiri dari 1 ruang pemeriksaan oleh 1 dokter gigi, 1
perawat gigi dan 1 tenaga administrasi. Ruangan ini ber-AC, dilengkapi peralatan yang
sudah memadai seperti dental unit, lemari alat dan meja administrasi, termasuk
seperangkat komputer yang terhubung dengan serve.
Ruang konsultasi Gizi memiliki ruang tersendiri sehingga memberikan privasi
kepada pasien untuk dapat berkonsultasi kepada petugasdengan nyaman. Selain itu
petugas juga lebih mudah dan nyaman ketika menyusun program maupun menyusun
laporan karena memiliki ruangan tersendiri yang akan menunjang kinerjanya. Ruang ini
terdiri dari meja kerja untuk konsultasi, timbangan,LILA, buku register dan seperangkat
alat bantu peraga.
Ruang laboratorium terdiri dari 3 ruangan, 1 ruang penerimaan/administrasi
pasien dilengkapi dengan meja kerja dan kursi, 1 ruangan sampling darah dilengkapi
dengan kursi sampling, 1 ruangan dilengkapi dengan meja kerja komputer, 1 ruangan
pewarnaan BTA dilengkapi dengan Hexause, meja pewarnaan dan kursi, 1 ruangan
kimia darah dan hematologi ber-AC dilengkapi dengan lemari alat dan reagent, lemari es
2 pintu, wastafel, peralatan dan mesin pemeriksaan laboratorium, dan 1 ruangan tempat
penyimpanan alat dan bahan laboratorium.
Ruang farmasi terdiri dari 2 ruangan, yaitu ruang untuk pelayanan obat (Apotek)
dan ruangan untuk penyimpanan obat (Gudang obat). Ruang pelayanan obat (Apotek)
dilengkapi dengan lemari obat, meja administrasi dengan seperangkat komputer,
timbangan, alat laminating, rak obat, lemari arsip, pengeras suara, kipas angin, AC, apar.
Ruang peracik dilengkapi dengan meja peracik, alat meracik, wastafel, blender obat,
dispenser air mineral, exhause fan, kipas angin, sedangkan ruang penyimpanan obat
(Gudang obat) ada 2 gudang A dan gudang B ruangan gudang ber-AC dilengkapi dengan
lemari obat, rak penyimpanan obat, palet, lemari es, lemari narkotika, meja administrasi
dengan seperangkat komputer, apar. Ruang konseling dilengkapi meja,
kjfuetjzjdsbgymmgjjknvursi dengan seperangkat komputer,lemari arsip, leaflet untuk
konseling, buku farmakofe dan buku ISO.
Ruang perawatan terdiri dari 3 ruangan, yaitu 1 ruangan untuk nurse station yang
dilengkapi dengan meja kerja, lemari obat, dan lemari linen, 1 ruangan perawatan untuk
pasien laki-laki yang dilengkapi dengan 2 tempat tidur beserta lemari, dan kamar mandi
pasien, 1 ruangan untuk pasien perempuan yang dilengkapi dengan 5 tempat tidur dan
lemari, dan 1 ruangan anak dilengkapi dengan 4 tempat tidur, wastafel dan lemari.
2. Peralatan
Poli Umum 1. Tensimeter
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Hammer
5. Senter
6. Diagnostik set
7. Timbangan
8. Pengukur tinggi badan
9. Timer
10. Lemari arsip
11. Box fail
12. Lampu Rontgn
13. Meja kerja
14. Kursi
15. Buku register
Poli KIA 1. Tensimeter
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Stetoskop laennec
5. Dopler
6. Partus set
7. KB set
8. Spuit
9. Pita pengukur
10. Bed periksa
11. Senter
12. Tinggi badan
13. Timbangan
14. Register pasien
15. Kohor Ibu
16. Kohor bayi
17. Kohor KB
Poli MTBS 1. Buku MTBS
2. Tensimeter
3. Stetoskop
4. Termometer
5. Tinggi badan
6. Timbangan
7. Timer
8. Senter
Poli Gigi 1. Dental unit
2. Tensimeter
3. Sterilisator
4. Ultra sonic scaler
5. Light curing
6. Stetoskop
7. Micromotor
8. Pincet
9. Sonde
10. Kaca mulut
11. Exavator
12. Plastic instrumen
13. Spatel
14. Spatel plastik
15. Scaler manual
16. Gunting verban
17. Handle scalpel
18. Korentang
19. Tang molar atas kiri
20. Tang molar atas kanan
21. Tang pre molar atas
22. Tang radix atas belakang
23. Tang mahkota atas depan
24. Tang radix atas depan
25. Tang molar bawah
26. Tang pre molar bawah

Ruang Laboratorium 1. Mikroskop


2. Alat Hematologi Analyzer
3. Alat fotometer 5010
4. Alat urine analyzer
5. Rotator
6. Centrifuge
7. Lampu spirtus
8. Spuit / jarum suntik
9. Tabung
10. Objek glass
11. Deck glass
12. Box fiksasi
13. Rak pengecatan
14. Rak pengering slide
15. Alat Nesco Cholesterol
16. Alat UA Sure asam urat
17. Alat Gluco-DR
18. Alat Easytouch Hb
19. Mikropipet
20. Blue tip
21. Yellow tip

Ruang Farmasi 1. Blender obat


2. Lamnator
3. Plastik obat
4. Kalkulator
5. Mesin puyer
6. Kertas puyer
7. Kulkas obat/vaksin
8. Lemari obat
9. Palet
10. Label obat
11. Sendok obat
12. Copy resep
13. Rak obat
14. Komputer+printer

Ruang UGD 1. Tensimeter


2. Stetoskop
3. Termometer
4. Hammer
5. Senter
6. Diagnostik set
7. Timbangan
8. Pengukur tinggi badan
9. Alat THT
10. CFR
11. Tensi digital
12. Nebulezer
13. Tabung O2
14. Solesen
15. Oksigen konsentrat
16. Register
17. Status pasien
18. Family folder
19. Lemari obat
20. Lemari Arsip

Ruang perawatan 1. Bed


2. Tensimeter
3. Stetoskop
4. Termometer
5. Hammer
6. Senter
Ruang PONED 1. Tensimeter
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Stetoskop laennec
5. Doppler
6. KB set
7. Partus set
8. Kulkas
9. Spuit
10. Pita pengukur
11. Tabung O2
12. Ambubag
13. Resusitasi bayi
14. Vacum set
15. Cipep
16. Suction
17. Bed gnekolog
18. Bed partus
19. Timbangan bayi
20. Timbangan dewasa
Pedaftaran 1. Meja
2. Kursi
3. Buku register
4. Rak status
5. Pengeras suara
6. Komputer+printer
7. Nomor antrian
8. Lemari folder
9. Kartu status
10. Alat tulis
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Poli Umum

1. Petugas penanggung jawab


a. Dokter
2. Perangkat kerja
a. Tensimeter
b. Stetoskop
c. Termometer
d. Hammer
e. Senter
f. Diagnostik set
g. Timbangan
h. Pengukur tinggi badan
i. Timer
j. Lemari arsip
k. Box fail
l. Lampu Rontgn
m. Meja kerja
n. Kursi
o. Buku register
3. Tatalaksana
a. Petugas melakukan pemanggilan pasien
b. Petugas melakukan anamnese untuk mengetahui keluhan dan kondisi pasien lebih
lanjut dan memeriksa tanda vital pasien, kemudian mencatatannya direkam medis.
Pasien dipersilahkan menuju meja dokter.
c. Dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien dan mencatatkannya direkam medis.
Bila dokter merasa pasien perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, maka dokter
akan membuat surat rujukan baik internal atau eksternal dan memberikannya kepada
pasien. Bila tidak, maka pasien mendapatkan resep sesuai kondisi penyakitnya.

B. Poli Gigi

1. Petugas penanggung jawab


a. Dokter gigi
b. Perawat gigi
2. Perangkat kerja
a. Dental unit
b. Tensimeter
c. Sterilisator
d. Ultra sonic scaler
e. Light curing
f. Stetoskop
g. Micromotor
h. Pincet
i. Sonde
j. Kaca mulut
k. Exavator
l. Plastic instrumen
m. Spatel
n. Spatel plastik
o. Scaler manual
p. Gunting verban
q. Handle scalpel
r. Korentang
s. Tang molar atas kiri
t. Tang molar atas kanan
u. Tang pre molar atas
v. Tang radix atas belakang
w. Tang mahkota atas depan
x. Tang radix atas depan
y. Tang molar bawahTang pre molar bawah
3. Tatalaksana
a. Petugas melakukan pemanggilan pasien
b. Petugas melakukan anamnese dan pemeriksaan tanda vital pasien dan
mencatatkannya direkam medis. Pasien disiapkan dikursi gigi untuk diperiksa dokter.
c. Dokter memeriksa kondisi kesehatan mulut pasien dan mencatatkannya
direkaaammm medis. Bila pasien memerlukan tindakan perawatan gigi, maka
dokter gigi akan melakukan tindakan. Bila tidak dan pasien membutuhkan obat,
maka dokter akan menuliskan resep untuk pengambilan obat di farmasi.
C. Poli KIA
1. Petugas penanggung jawab
a.
2. Perangkat kerja
b.
3. Tatalaksana
c.
D. Poli MTBS
1. Petugas penanggung jawab
a. Dokter
b. Bidan
c. Perawat
2. Perangkat kerja
a. Buku MTBS
b. Tensimeter
c. Stetoskop
d. Termometer
e. Tinggi badan
f. Timbangan
g. Timer
h. Senter

3. Tatalaksana
a. Petugas memanggil pasien
b. Petugas akan melakukan anamnese dan pemeriksaan tanda vital serta
mencatatkannya direkam medis
c. Pasien dipersilahkan naik ke bed untuk dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan
akan dicatat direkam medis.
d. Bila memerlukan pemeriksaan penunjang yang lain, pasien akan dirujuk internal.
Bila memerlukan imunisasi akan diberi imunisasi.
e. Bila sudah selesai diberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan
f. Pasien bayi yang akan imunisasi akan diperiksa dulu apakah cukup sehat untuk
mendapatkan imunisasi hari ini
g. Bila kondisi bayi sehat, maka bayi akan diberi jenis imunisasi sesuai jadwalnya.
Untuk jenis imunisasi yang dapat menimbulkan demam, kepada orang tuanbayi akan
diberi resep pengambilan obat penurun panas
E. Laboratorium
1. Petugas penanggung jawab
a. Analis kesehatan
2. Perangkat kerja
a. Centrifuge
b. Mikroskop
c. Alat pelindung diri
d. Hematologi analyzer
e. Fotometer 5010
f. Rotator
g. Urinalisa analyzer
h. Nesco
i. UA Sure
j. Easytouch
k. Gluco DR
l. Spuit
3. Tatalaksana
a. Petugas memanggil pasien sesuai dengan nomor urutnya dan menerima surat
permintaan laboratorium yang dibawa dari perujuk.
b. Petugas menyiapkan peralatan dan bahan reagen yang sesuai dengan pemeriksaan
yang akan dilakukan.
c. Petugas menerima spesimen yang akan diperiksa, atau petugas sendiri yang
melakukan pengambilan spesimen dari pasien.
d. Petugas mempersilahkan pasien menunggu di luar sementara petugas melakukan
pmeriksaan terhadap spesimen.
e. Bila hasil pemeriksaan sudah keluar, petugas memanggil pasien dan menyerahkan
hasil pemeriksaan laboratorium untuk diserahkan ke unit perujuk.
F. Farmasi
1. Petugas penanggung jawab
a. Apoteker
b. Asisten Apoteker
2. Perangkat kerja
a. Alat tulis
b. Blender obat
c. Lamnator
d. Plastik obat
e. Kalkulator
f. Mesin puyer
g. Kertas puyer
h. Kulkas obat/vaksin
i. Lemari obat
j. Palet
k. Label obat
l. Sendok obat
m. Copy resep
n. Rak obat
o. Komputer+printer
3. Tatalaksana
a. Pasien meletakkan lembar resep di keranjang yang telah disediakan dan menunggu
obat disiapkan
b. Petugas mengambil lembar resep dan membacanya untuk memastikan resep dapat
dibaca dengan jelas dan obat-obat yang tertulis di dalam lembar resep tersedia
c. Apabila ada keraguan atau kekurang jelasan, maka petugas akan menanyakan
kepada petugas yang menulis resep
d. Petugas kemudian menyiapkan obat yang tertera di resep dan memasukkannya ke
dalam bungkus plastik, menuliskan informasi penggunaan obat di bungkusnya dan
kemudian menyerahkannya kepada pasien
e. Sambil menyerahkan obat, petugas juga menyampaikan informasi yang perlu
diketahui pasien atau keluarganya sehubungan dengan penggunaan obat.
BAB V
LOGISTIK

Untuk menunjang terselenggaranya pelayanan klinis yang bermutu, maka perlu didukung
oleh penyediaan logistik yang memadai dan optimal, melalui perencanaan yang baik dan
berdasarkan kebutuhan masyarakat dan usulan pemegang program yang sudah berdasarkan hasil
pemetaan masalah. Ketersediaan logistik harus dijamin kecukupannya dan pemeliharaan yang
sudah dianggarkan dan dijadwalkan. Pengadaan alat dan bahan dalam pelaksaan upaya klinis
Puskesmas diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Ada 6 sasaran keselamatan pasien, yaitu :


1. Identifikasi pasien secara benar
Indikator melakukan identifikasi pasien secara benar adalah :
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, seperti nama pasien dan
alamat, tidak termasuk nomor dan lokasi kamar.
b. Pasien diindentifikasi sebelum melakukan pemberian obat atau produk lainnya.
c. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah, dan specimen lain untuk keperluan
pemeriksaan.
d. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan perawatan atau prosedur lainnya.

2. Prosedur dalam identifikasi pasien


Ada 2 identitas yaitu menggunakan NAMA dan ALAMAT yang disesuaikan
dengan tanda pengenal resmi. Pengecualian prosedur identifikasi dapat dilakukan pada
kondisi kegawatdaruratan pasien di UGD.
Beberapa hal yang dapat dilakukan petugas adalah :
a. Petugas meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir
sebelum melakukan prosedur, dengan pertanyaan terbuka, contoh : “ Nama
pasien siapa?” “Tolong sebutkan tanggal lahir bapak.”
b. Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama, identitas pasien dapat
ditanyakan kepada penunggu/pengantar pasien.

3. Meningkatkan komunikasi efektif


Cara komunikasi yang efektif di puskesmas :
a. Menggunakan teknik SBAR (Situation – Backround – Assessment – Recomendation)
dalam melaporkan kondisi pasien untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar
pemberi layanan.
1) Situation : Kondisi terkini yang terjadi pada pasien.
2) Background : Informasi penting apa yang berhubungan dengan kondisi pasien
terkini
3) Assessment : Hasil pengkajian kondisi pasien terkini
4) Recommendation : Apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah pasien
saat ini

b. Komunikasi Verbal (Write down/tulis, Read back/baca kembali)


1) Intruksi/laporan hasil tes secara verbal dan telepon ditulis oleh penerima
intruksi/laporan.
2) Intruksi/laporan hasil tes secara verbal dan telepon dibacakan kembali oleh
penerima instruksi/laporan.
3) Instruksi/laporan yang dibacakan tersebut, dikonfirmasikan oleh individu
pemberi instruksi/laporan.
4) Untuk Istilah yang sulit atau obat-obatan kategori LASA (Look Alike Sound
Alike) diminta penerimaan pesan mengeja kata tersebut perhurup, misalnya :
UBRETID
S Situasi
Saya menelepon tentang (Nama pasien, umur, dan lokasi)
..........
Masalah yang ingin disampaikan .........
Tanda-tanda vital :

B Background/latar belakang
Status mental pasien :
Kulit ..........
Alat bantu .........
A Assessment/penilaian
Sampaikan masalah yang sedang terjadi dan katakan
penilaian anda
R Rekomendasi
Apakah (katakan apa yang ingin disarankan)
Apakah diperlukan pemeriksaan tambahan?

4. Meningskatkan keselamatan penggunaan obat yang perlu diwaspadai (High Alert)


Obat-obatan yang perlu diwaspadai adalah :
a. Elektrolit pekat : KCL, MgSO4, Natrium Bikarbonat, NaCl 0,3%
b. NORM (Nama Obat Rupa ucapan Mirip)/LASA (Look Alike Sound Alike) yaitu
obat-obat yang terlihat mirip dan kedengerannya mirip.
1) Pengelolaan obat yang perlu diwaspadai :
a. Penyimpanan di lokasi khusus dengan akses terbatas dan diberi penandaan
yang jelas berupa stiker berwarna merah bertuliskan “High Alert”
b. NaCl 0,3% dan KCL tidak boleh disimpan di ruang perawatan kecuali di
unit perawatan intensif (ICU).
b) Ruang perawatan yang boleh menyimpan elektrolit pekat harus
memastikan bahwa elektrolit pekat disimpan di lokasi dengan akses
terbatas bagi petugas yang diberi wewenang.
c) Obat diberi penanda yang jelas berupa stiker berwarna merah bertuliskan
“High Alert” dan khusus untuk elektrolit pekat, harus ditempelkan stiker
yang dituliskan “Elektrolit pekat, harus diencerkan sebelum diberikan”
d) Pisahkan atau beri jarak penyimpanan obat dengan kategori LASA.
e) Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien
tanpa pengawasan.
f) Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat
menerima/memberi istruksi
c. Obat-obatan yang memerlukan kewaspadaan tinggi :
1) Elektrolit Pekat
a) KCL 7,46%
b) Meylon 8,4%
c) MgSO4
d) NaCl 3%
2) Golongan Opioid
a) Fentanil
b) Morfin Sulfat
c) Petidin HCL
d) Sufentanil
3) Antikoagulan
a) Heparin
b) Enoksaparin Natrium
4) Trombolitik
a) Streptokinase
5) Antiaritmia
a) Lidokain
b) Amiodaron
6) Insulin
7) Obat Hipoglikemia Oral
8) Obat Agonis Adrenergik
a) Efinefrin
b) Norefineefrin
9) Anestetik Umum
a) Propofol
b) Ketamin
10) Kemoterapi
11) Obat Kontras
12) Pelemas Otot
a) Suksinilkolin
b) Rokuronium
c) Vekuronium
13) Larutan Kardioplegia
14) Sound Alike Look Alike Drugs

5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan


Indikator usaha menurunkan infeksi :
a. Menggunakan panduan hand hygiene terbaru yang diakui umum.
b. Mengimplementasikan program kebersihan tangan yang efektif.
Semua petugas di puskesmas melakukan kebersihan tangan pada 5 MOMEN yang
telah ditentukan, yakni :
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Sesudah kontak dengan pasien
c. Sebelum tindakan asepsis
d. Seseudah terkena cairan tubuh pasien
e. Sesudah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
Ada 2 cara cuci tangan yaitu :
a. HANDWASH – dengan air mengalir, waktunya : 40-60 detik
b. HANDSCRUB – dengan gel berbasis alkohol, waktunya : 20-30 detik
Alat Pelindung Diri
Alat yang digunakan untuk melindungi petugas dari pajanan darah, cairan tubuh,
ekskreta, dan selaput lendir pasien seperti sarung tangan, masker, tutup kepala, kacamata
pelindung, apron/jas dan sepatu pelindung.
6. Pengurangan risiko cedera akibat pasien jatuh
Indikator usaha menurunkan risiko cedera karena jatuh :
a. Semua pasien baru dinilai risiko jatuhnya dan penilaian diulang jika diindikasikan
oleh perubahan kondisi pasien atau pengobatan, dan lainnya.
b. Hasil pengukuran dimonitor dan ditindak lanjuti sesuai derajat resiko jatuh pasien
guna mencegah pasien jatuh serta akibat tak terduga lainnya.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka


tuntutan pengelolaan program keselamatan kerja di puskesmas semakin tinggi, karena Sumber
Daya Manusia (SDM) puskesmas, pengunjung/pengantar pasien, pasien dan masyarakat sekitar
puskesmas ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik
sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi saran dan
prasarana yang ada di puskesmas yang tidak memenuhi standar.

Puskesmas sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik


tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan
teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan
pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya.

Dalam undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, khususnya pasal 165 : “
Pengelolaan tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya
pencegahan. Peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja “. Berdasarkan pasal di
atas maka pengelola tempat kerja di puskesmas mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para
tenaga kerjanya.

Salah satunya adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja.
Puskesmas harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien, penyediaan
layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya di puskesmas.

Program keselamatan kerja di puskesmas merupakan salah satu upaya untuk


meningkatkan mutu pelayanan puskesmas, khususnya dalam hal kesehatan dan keselamatan bagi
SDM puskesmas, pasien, pengunjung/pengantar pasien, masyarakat sekitar.

1. Tujuan umum
Terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat dan produktif untuk SDM puskesmas,
aman dan sehat bagi pasien, pengunjung/pengantar pasien, masyarakat dan lingkungan
sekitar sehingga proses pelayanan puskesmas berjalan baik dan lancar.
2. Tujuan Khusus
a. Terlindunginya pekerja dan mencegah terjadinya PAK (Penyakit Akibat Kerja) dan KAK
(Kecelakaan Akibat Kerja).
b. Peningkatan mutu, citra dan produktivitas puskesmas.

Alat Keselamatan Kerja


1. Pemadam kebakaran (hidrant)
2. Jas
3. Peralatan pembersih
4. Obat-obatan
5. Kapas
6. Plaster pembalut
Aturan umum dalam tata tertib keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk memudahkan
pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja,
2. Pakailah jas (dokter, dokter gigi, analis) saat bekerja,
3. Harus mengetahui cara pemakaian alat darurat seperti pemadam kebakaran, eye shower,
respirator, dan alat keselamatan kerja yang lainnya.
4. Buanglah sampah pada tempatnya,
5. Lakukan latihan keselamatan kerja secara periodik,
6. Dilarang merokok.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu (quality control) dalam manajemen mutu merupakan suatu sistem kegiatan
teknis yang bersifat rutin yang dirancang untuk mengukur dan menilai mutu produk atau jasa
yang diberikan kepada pelanggan. Pengendalian mutu pada pelayanan klinis diperlukan agar
produk layanan klinis terjaga kualitasnya sehingga memuaskan masyarakat sebagai pelanggan.
Ishikawa (1995) menyatakan bahwa pengendalian mutu adalah pelaksanaan langkah-
langkah yang telah direncanakan secara terkendali agar semuanya berlangsung sebagaimana
mestinya, sehingga mutu produk yang direncanakan dapat tercapai dan terjamin. Dalam
pengertian Ishikawa tersirat pula bahwa pengendalian mutu itu dilakukan dengan orientasi pada
kepuasan konsumen. Dalam bahasa layanan kesehatan keseluruhan proses yang diselenggarakan
oleh puskesmas ditujukan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen.
BAB IX
PENUTUP

Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di


wilayah kabupaten/kota adalah dinas kesehatan kabupaten/kota. Sedangkan Puskesmas
bertanggung jawab hanya untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya. Tujuan pembangunan kesehatan
yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan
kesehatan nasional. Yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas, agar terwujud derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya.