Anda di halaman 1dari 4
Halaman ini terselenggara atas kerja sama Republika dengan INSISTS Dewan Redaksi: Hamid Fahmy Zarkasyi, Adian
Halaman ini terselenggara
atas kerja sama
Republika dengan INSISTS
Dewan Redaksi:
Hamid Fahmy
Zarkasyi, Adian
Husaini, Adnin
Armas,
Syamsuddin Arif,
Nirwan Syafrin, Nuim
Hidayat, Henri Shalahuddin,
Budi Handrianto, Tiar Anwar
Bachtiar.
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA
WORDPRESS
23
KAMIS, 15 DESEMBER 2011
TOLERANSI
DANKERUKUNAN
“U
mat Islam di wilayah Jabo-
detabek tidak toleran!” Itu
salah satu kesimpulan yang
dimunculkan sebuah lem-
baga survei di Jakarta.
Lembaga yang mengusung
Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di
Timtim berkembang lebih cepat dibanding
wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat,
Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan
Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS,
1998).
jargon “Institute for Democracy and
Peace” ini, dalam buku terbitannya yang
berjudul Wajah Para ‘Pembela’ Islam,
menyimpulkan bahwa kelompok Islam
fundamentalis atau Islam radikal sering
mengganggu kebebasan beragama atau
berkeyakinan warga masyarakat lain.
Salah satu kriteria untuk mengukur
kadar toleransi suatu masyarakat adalah
kesediaan untuk menerima perpindahan
agama dan penerimaan terhadap pernika-
Tetap cantik
Dr Adian Husaini
Dosen Pascasarjana
Universitas Ibn Khaldun Bogor
han beda agama. Hasil survei kelompok ini
di
Jabotabek menunjukkan ada 84,13 per-
sen masyarakat tidak menyukai pernikah-
an beda agama. Lalu disimpulkan, “Dari
temuan survei ini terlihat bahwa untuk
perbedaan identitas dalam lingkup relasi
sebagai kemampuan dan kerelaan untuk
menerima segala bentuk perbedaan identi-
tas pihak lain secara penuh. Atas dasar itu,
kegagalan untuk dapat menerima perbe-
daan identitas secara utuh sama maknanya
dengan sikap intoleran.”
Orang yang dikategorikan tidak toleran
lalu diberi cap radikal, yang direkomenda-
sikan untuk dilakukan proses deradikali-
sasi terhadap mereka. “Dengan mengenali
organisasi-organisasi Islam radikal, diha-
rapkan sejumlah langkah dapat dilakukan
oleh negara untuk menghapus intoleransi
dan diskriminasi agama atau keyakinan.
Menegakkan hukum bagi para pelaku ke-
kerasan, intoleransi, dan diskriminasi serta
melakukan deradikalisasi pandangan, per-
ilaku, dan orientasi keagamaan melalui
kanal politik dan ekonomi adalah
rekomendasi utama penelitian ini.”
Toleransi: fakta dan opini
sosial yang lebih luas (berorganisasi, berte-
tangga, dan berteman) masyarakat Jabo-
detabek secara umum lebih memperlihat-
kan sikap toleran. Namun, dalam lingkup
relasi yang lebih personal dan menyangkut
keyakinan (anggota keluarga menikah
dengan pemeluk agama lain atau pindah
ke
agama lain) sikap mereka cenderung
Dalam soal
opini, umat
Islam diperin-
tahkan untuk
berhati-hati
dalam mene-
rima infor-
masi, khusus-
nya yang
berasal dari
orang-orang
fasik.
kurang toleran.”
Survei itu juga menunjukkan data bah-
wa orang yang beragama Islam menun-
jukkan penolakan yang lebih tinggi (82,6
persen) terhadap anggota keluarganya
yang berpindah agama. Sementara itu, di
kalangan pemeluk agama selain Islam ada
45,4 persen yang menyatakan dapat mene-
rima anggota keluarganya berpindah aga-
ma karena soal agama adalah urusan pri-
badi. Terhadap orang yang tidak beraga-
ma, hanya 25,2 persen responden yang
menyatakan dapat menerima, karena men-
ganggap agama hanyalah urusan pribadi.
Terhadap fenomena ini, disimpulkan,
“Singkatnya, secara umum tidak ada toler-
ansi atas orang-orang yang tidak beraga-
ma. Tidak beragama masih dianggap
sebagai sebuah tabu yang tidak dapat
ditoleransi di mata kaum urban
Jabodetabek.”
Sikap responden terhadap aliran Ahma-
diyah, hanya 28,7 persen yang berpendapat
Ahmadiyah memiliki hak untuk menganut
keyakinan mereka. Sedangkan 40,3 persen
menganggap Ahmadiyah sesat dan 45,4
persen menyatakan sebaiknya Ahmadiyah
dibubarkan oleh pemerintah.
Terhadap data tersebut, ditariklah se-
buah kesimpulan: “Temuan ini mengindi-
kasikan adanya kecenderungan sikap ke-
agamaan yang intoleran pada masyarakat
Jabodetabek. Agar tidak mengakibatkan
kerancuan pemahaman, perlu digarisba-
wahi bahwa kecenderungan toleran untuk
beberapa hal, namun intoleran untuk se-
jumlah hal lain sebagaimana ditunjukkan
oleh temuan survei ini, tetap harus dinya-
takan sebagai ekspresi sikap intoleran. Hal
ini didasarkan atas pengertian toleransi
Ingat kasus Dr Marwa El-Sherbini?
Muslimah Jerman asal Mesir ini pada 1 Juli
2009 dibunuh dengan sangat sadis oleh
seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden
Jerman. Dr Marwa saat itu sedang hamil
tiga bulan. Ia dihujani tusukan pisau se-
banyak 18 kali dan meninggal di ruang
sidang. Dr Marwa hadir di sidang pengadi-
lan mengadukan seorang pemuda Jerman
bernama Alex W, yang menjulukinya se-
bagai teroris karena ia mengenakan jilbab.
Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah
berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah
asal Mesir itu. Di persidangan itulah, Alex
justru membunuh Dr Marwa dengan bia-
dab. Suami Marwa yang berusaha membela
istrinya justru terkena tembakan petugas.
Entah mengapa, peristiwa besar itu
tidak menjadi isu nasional di Indonesia
juga di dunia internasional. Tampaknya,
kasus itu bukan komoditas berita yang
menarik dan laku dijual oleh media inter-
nasional. Juga tidak terdengar gegap
gempita tanggapan pejabat tinggi Indo-
nesia yang mengecam keras peristiwa
tersebut.
Bandingkan dengan kasus terlukanya
seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing
Bekasi akibat bentrokan dengan massa
Muslim. Meskipun terjadi di pelosok
kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu
AS Hilary Clinton sampai ikut berkomen-
tar. Situs berita www.reformata.com, pada
20 September 2010 menurunkan berita
“Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.
Menyusul kasus Ciketing tersebut,
International Crisis Group (ICG), dalam
situsnya, www.crisisgroup.org, juga
membuat gambaran buruk terhadap
kondisi toleransi beragama di Indonesia:
“Religious tolerance in Indonesia has come
under increasing strain in recent years,
particularly where hardline Islamists and
Christian evangelicals compete for the
same ground.”
Benarkah kerukunan umat beragama
hancur di Indonesia setelah kasus Ciketing
tersebut? Itu adalah citra yang sengaja
dibentuk oleh sebagian kalangan untuk
memberikan gambaran yang tidak propor-
sional tentang kondisi kerukunan umat
beragama di Indonesia. Padahal, kasus
Ciketing adalah satu kasus yang muncul
dari kondisi kerukunan umat beragama
yang secara umum berjalan dengan baik.
Situs kompas.com, Sabtu, 25 September
2010, menyiarkan satu artikel berjudul
“Robohnya Kerukunan Beragama”. Ditulis
dalam artikel tersebut: “Penganiayaan ter-
hadap pengurus Gereja Huria Kristen
Batak Protestan, Asia Lumban Toruan,
tidak hanya menimbulkan luka fisik tetapi
juga luka pada bangunan kerukunan
beragama di Indonesia. Negara yang
dibangun di atas fondasi perbedaan—
mengambil bentuk kalimat klasik
Majapahit ‘Bhinneka Tunggal Ika’—ter-
nyata begitu rapuh. Perbedaan tidak lagi
menjadi perekat persatuan, tetapi penye-
bab gesekan sosial di masyarakat. Inilah
masalah yang dihadapi Indonesia keki-
nian.”
Itulah sejumlah contoh penggambaran
yang tidak proporsional terhadap gam-
baran kehiduan beragama di Indonesia.
Satu kasus diangkat untuk kemudian
dipotret secara khusus, menutupi gam-
baran kerukunan agama yang sebenarnya.
Opini yang sengaja hendak dicipta adalah
bahwa “Kerukunan umat Beragama di
Indonesia sudah roboh, sudah hancur, dan
bahwa kaum Muslim sebagai mayoritas
tidak punya rasa toleransi terhadap kaum
minoritas.”
Benarkah demikian? Tentu saja opini
harus didudukkan sebagai opini. Opini
adalah upaya pembentukan citra melalui
penampilan sebagian fakta. Tidak
mungkin seluruh fakta dan dimensinya
ditampilkan di media massa. Padahal,
antara opini dan fakta bisa sangat
berbeda. Kekuatan media sangat berperan
dalam pembentukan opini. Berikut ini
sebuah contoh bagaimana kontrasnya
perbedaan antara fakta dan opini.
Di era 1990-an, dunia dihebohkan oleh
suatu opini adanya Islamisasi di Timor
Timur yang ketika itu sangat rajin
diangkat oleh Uskup Belo ke luar negeri.
Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di
masa integrasi Timtim dengan Indonesia
adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi!
Hasil penelitian Prof Bilver Singh dari
Singapore National University menun-
jukkan, pada 1972 orang Katolik Timtim
hanya berjumlah 187.540 dari jumlah pen-
duduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Pada
1994, jumlah orang Katolik menjadi
722.789 dari 783.086 jumlah penduduk
(92,3 persen). Pada 1994, umat Islam di
Timtim hanya 3,1 persen. Jadi, dalam
tempo 22 tahun di bawah Indonesia,
jumlah orang Katolik Timtim meningkat
356,3%. Padahal, Portugis saja selama 450
tahun menjajah Timtim hanya mampu
mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.
Melihat pertambahan penduduk Katolik
yang sangat fantastis itu, Thomas Michel,
sekretaris eksekutif Federasi Konferensi
para Uskup Asia yang berpusat di
Kasus-kasus konflik yang terjadi di
Indonesia, baik antar maupun intern umat
beragama, seyogianya tetap dilihat sebagai
kasus. Kasus-kasus seperti itu terjadi di
mana-mana; di negara-negara Barat, di
dunia Islam, dan di berbagai belahan
dunia lainnya. Kasus-kasus itu memang
mencoreng wajah kerukunan umat beraga-
ma, tetapi kasus-kasus itu sampai saat ini
tidak menghancurkan gambar besar
kerukunan umat beragama itu sendiri. Di
keseharian, masing-masing umat beraga-
ma di Indonesia secara umum masih bebas
menjalankan agamanya masing-masing.
Bahkan saat terjadi konflik yang hebat
antara komunitas Muslim dan Kristen di
Maluku, konflik itu tidak menjalar di
wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Ini
menunjukkan bahwa masyarakat
Indonesia pada umumnya memiliki daya
resistensi yang tinggi untuk memelihara
kerukunan umat beragama.
Kaum Muslim di Indonesia terbiasa
melihat orang-orang non-Muslim men-
duduki jabatan-jabatan strategis dalam
kenegaraan, sesuatu yang tidak dinikmati
kaum Muslim di AS atau banyak negara
Eropa. Kaum Muslim bisa melihat semarak
natal yang luar biasa di media massa dan
pusat-pusat perbelanjaan. Di tengah-
tengah isu robohnya kerukunan beragama,
kaum non-Muslim di Indonesia juga bebas
memiliki tanah seluas-luasnya di
Jabodetabek, tanpa ada diskriminasi.
Walhasil, secara umum wajah kerukun-
an umat beragama di Indonesia tetap
cantik. Kasus-kasus yang muncul bisa
diibaratkan laksana jerawat yang muncul
di wajah yang cantik. Pandanglah wajah
yang cantik itu secara keseluruhan, jangan
hanya memandangi dan membesar-
besarkan jerawat yang muncul. Tentu saja,
jerawat itu mengganggu dan jika tidak
diobati bisa menimbulkan infeksi yang
dapat merusak wajah cantik secara keselu-
ruhan. Upaya sejumlah pihak untuk
menonjol-nonjolkan kasus dengan
menutup wajah kerukunan umat beragama
yang harmonis justru bisa menjadi sumber
masalah kerukunan umat beragama yang
baru.
Dalam soal opini, umat Islam diperin-
tahkan untuk berhati-hati dalam meneri-
ma informasi, khususnya yang berasal dari
orang-orang fasik. “Wahai orang-orang
yang beriman, jika datang kepada kamu
orang fasik yang membawa berita,
lakukanlah penelitian (tabayyun) agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum dengan tidak menge-
tahui (fakta yang sebenarnya) sehingga
jadilah kamu menyesal atas perbuatanmu
itu.” (QS al-Hujurat: 6). ■
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 24 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 Tasamuh : Dulu dan Kini Fathurrahman
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 24 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 Tasamuh : Dulu dan Kini Fathurrahman

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA

24 KAMIS, 15 DESEMBER 2011

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 24 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 Tasamuh : Dulu dan Kini Fathurrahman Akmal

Tasamuh: Dulu dan Kini

24 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 Tasamuh : Dulu dan Kini Fathurrahman Akmal Wakil Ketua Majelis Tabligh

Fathurrahman Akmal

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

B aik secara konsep maupun aplikasi dalam sejarah, Islam mengajarkan toleran- si yang luhur atas dasar tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Alquran me- ngajarkan: “Tidak ada

paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesung- guhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang takkan putus. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah: 256). “Dan janganlah kamu memaki sembahan-semba- han yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahu- an.” (QS al-An’am: 108). Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masya- rakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Terhadap hak-hak non-Muslim dzimmi, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menzalimi non-Muslim yang terikat perjanjian dengan Islam, menghinakannya, membebaninya di luar batas kemampuannya, atau mengambil hartanya tanpa kerelaannya, maka akulah lawannya pada hari kiamat kelak.” (HR Abu Dawud). “Barang siapa membunuh sesorang dari ahli dzimmah, ia takkan mendapatkan wangi surga, padahal wanginya bisa dida- patkan dari jarak perjalanan selama 70 tahun.” (HR Nasa’i). Sikap toleran dan ketegasan dalam prinsip-prinsip Islam pernah ditunjukkan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang kini memasuki usianya ke-102 tahun. Afiliasi dan keberpihakannya kepada Islam sangat- lah jelas. Dalam konteks hubungan antaragama dan umat beragama, beliau bukanlah pengusung paham pluralisme ataupun sekularisme. Bahkan, menurut Alwi Shihab, Muhammadiyah didirikan justru sebagai respons terhadap praktik keaga-

maan yang menyimpang, gerakan Kristenisasi, dan gerakan Freemason yang mengusung slogan kebebasan dengan jar- gonnya: liberty, egality, dan fraternity. (Alwi Shihab: 1998). Tidak dinafikan, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang berpikiran maju, terbuka, dan toleran. Hal tersebut membuat Dokter Soetomo, seorang elite priyayi Jawa, dan salah seorang pemimpin Budi Utomo kepincut dengan Muhammadiyah dan berse- dia menjadi advisor Hooft Bestuur Muhammadiyah masa itu. Beliau juga sering berdialog pemuka agama Kristen. Di antaranya, Pastur van Lith, Pastur van Driesse, dan Domine Bekker. Keterbukaan beliau memang luar biasa, namun perlu dicatat secara adil sikap tegas KH Ahmad Dahlan dalam berakidah. Dalam dialognya bersama KH Ahmad Dahlan, Domine Bekker selalu berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya dan akhirnya pendiri Muhammadiyah ini me- ngajukan tantangan kepada pemuka Kristen untuk keluar dari agama masing-masing, lalu mencari dan menyelidiki agama masing- masing. Demikian pula dialog terbuka Kyai Dahlan dengan seorang pemuka gereja, Dr Lamberton yang akhirnya berujar, “Maaf, saya tetap berpegang kepada agama yang dipeluk oleh nenek mojang saya karena ini menjadi kewajiban saya. (Yusron Asrofi:

Kyai Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Kepemimpinannya, 2005). Pada 1969, tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Azhar Basyir MA menyampaikan kuliah tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta. Secara tulus, Kiai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut. Ketika itu, Kiai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul “Mengapa Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid yang murni?” Kata Sang Kiai, “Karena Muhammadijah yakin benar-benar dan ini adalah keyakinan seluruh umat Islam bahwa tauhid jang murni adalah ajaran Allah sendiri. Segala ajaran jang bertendensi menanamkan keper-

cayaan ‘Tuhan berbilang’ bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan ‘Tuhan berbilang’ itu menying- gung keesaan Tuhan jang mutlak, maka keyakinan ‘Tuhan berbilang’ itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang selain Allah mempunjai sifat ketuhanan disebut syirik. Syirik adalah perbuatan dosa terbesar jang tidak diampuni Allah.” Sikap toleran, keterbukaan, dan keteguhan iman KH Ahmad Dahlan dan KH Ahmad Azhar Basyir terbaca di atas seharusnya menjadi referensi keteladanan yang autentik dalam merumuskan sikap to- leransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya pimpinan dan warga Persyarikatan Muhammadiyah. Segala hal yang potensial meruntuhkan bangunan akidah dan iman seorang Muslim mesti disikapi secara tegas, adil, dan beradab. Ketegasan sikap secara beradab dalam menjaga akidah umat Islam tidak perlu dirisaukan, apalagi disalahpahami sebagai sikap eksklusif yang akan melahirkan radikalisme keagamaan. Tentang ucapan “Selamat hari Natal” dan hukum mengikuti perayaan Natal bersama, umpamanya, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mener- bitkan fatwa yang persis sama dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia. Di antara kandungan fatwa tersebut ialah “Umat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan umat agama-agama dalam masalah-masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukkan agama dengan akidah dan peribadatan agama lain, seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak, dan Isa al-Masih itu anaknya. Orang yang meyakininya diny- atakan kafir dan musyrik. Islam menga- jarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT, serta untuk mendahu- lukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan. Dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di

atas. Karena itu, mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram. Demikian pula mengucapkan selamat Natal merupakan bagian langsung dari perkara syubhat yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. (Fatwa-Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003, hal 209-210). Di antara keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang termuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah, No 01/2010- 2015 Syawal 1431/September 2010, hal 238, dinyatakan sebagai berikut:

“Muhammadiyah menerima pluralitas agama, tetapi menolak pluralisme yang men- garah pada sinkretisme, sintesisme, dan rela- tivisme. Karena itu, umat Islam diajak untuk memahami kemajemukan agama dan keber- agamaan dengan mengembangkan tradisi toleransi dan koeksistensi (hidup berdampingan secara damai). Dengan tetap meyakini kebenaran agamanya masing- masing, setiap individu bangsa hendaknya menghindari segala bentuk pemaksaan kehendak, ancaman, dan penyiaran agama yang menimbulkan konflik antarpemeluk agama. Pemerintah diharapkan memelihara dan meningkatkan kehidupan beragama yang sehat untuk memperkuat kemaje- mukan dan persatuan bangsa. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Pedoman Hidup Islami (PHI) bagi warga Muhammadiyah menun- tunkan bahwa Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama, seperti dengan tetangga atau anggota masyarakat lainnya, masing-masing dengan memelihara hak dan kehormatan, baik dengan sesama Muslim maupun dengan non-Muslim, dalam hubun- gan ketetanggaan. Dalam bertetangga dengan yang berlainan agama juga diajarkan untuk bersikap baik dan adil, mereka berhak mem- peroleh hak-hak dan kehormatan sebagai tetangga, memberi makanan yang halal, dan boleh pula menerima makanan dari mereka berupa makanan yang halal dan memelihara toleransi sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan agama Islam. Wallahu a’lam bis- shawab.

Hamka tentang Toleransi Beragama

a’lam bis- shawab. ■ Hamka tentang Toleransi Beragama Akmal Syafril Peneliti INSISTS H aji Abdul Malik

Akmal Syafril

Peneliti INSISTS

H aji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka, bisa menjadi teladan dalam kisah toleransi beraga-

ma. Dalam rubrik khasnya, Dari Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat, Hamka banyak memberikan catatan seputar kerukunan antarumat beragama di Indonesia. (Lihat kumpulan tulisan Hamka dalam buku Dari Hati ke Hati, Jakarta:

Pustaka Panjimas, 2002). Salah satu peristiwa yang mendapat catatan serius darinya adalah pengalaman KH S S Djam’an, seorang ulama Jakarta yang ditangkap aparat karena tuduhan telah menyebarkan propaganda anti-Pancasila.

Kisahnya bermula saat Kyai Djam’an memimpin pengajian dengan mengupas tafsir Surah al-Kahfi ayat ke-4 dan 5 yang menyebutkan ancaman neraka bagi orang- orang yang berkata bahwa Allah mempu- nyai anak. Tidak berapa lama setelah penga- jian usai, rumahnya dikepung oleh segenap pemuda Kristen. Seorang pendeta berkun- jung, kemudian mereka pun berdialog. Kyai Djam’an bersikeras bahwa memang yang disampaikannya itu adalah hal pokok dalam ajaran Islam. Dialog yang tenang dan diakhiri dengan bersalam-salaman itu kemudian justru berlanjut dengan pemang- gilan Sang Kyai ke kantor polisi. Dalam kasus serupa lainnya, Hamka pun menceritakan tentang pengaduan seorang mubalig yang menjelaskan makna Surah al- Ikhlash dalam sebuah perayaan Maulid Nabi SAW di sebuah SMA di Tanjung Priok. Karena ada bagian dalam surah itu yang memastikan bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, maka guru- guru Kristen di sekolah itu protes dan keberatan dengan penyampaian tablig terse- but. Pada 30 November 1967, Pemerintah RI menggagas diadakannya Musyawarah Antar Agama. Dalam musyawarah itu, para pemuka agama-agama yang diakui secara resmi di Indonesia hadir. Pemerintah sendiri telah menyampaikan dua poin usulan kepada forum musyawarah tersebut. Pertama, agar dibentuk sebuah Badan Kontak Antar Agama. Kedua, agar diadakan suatu piagam yang ditandatangani bersama yang menyatakan bahwa pemeluk suatu agama jangan dijadikan sasaran prop- aganda oleh agama yang lain. Poin usulan pertama telah diterima secara bulat. Hanya saja, usulan yang kedua justru ditolak mentah-mentah. Tambunan SH menyampaikan, pendirian umat Kristiani bahwa menyebarkan Perkabaran Injil kepada orang yang belum Kristen adalah ‘Titah Ilahi’ yang wajib dijunjung tinggi. Pendapat ini mendapat sanggahan tegas dari Moh Natsir yang menekankan bahwa jika pendirian semacam itu hendak dipertahankan maka kekacauan akan timbul dan Negara Kesatuan Republik

Indonesia akan hancur. Meski demikian, pihak Kristen tidak menarik kembali pen- dapatnya. Musyawarah Antar Agama diny- atakan gagal oleh banyak pihak, namun Hamka menganggapnya berhasil karena telah mengungkap apa-apa yang selama ini belum terungkapkan secara gamblang, yaitu semangat misi pemurtadan kaum Muslim. Pada 1968, umat Musim berhari raya Idul Fitri dua kali, yaitu pada 1 Januari dan 21 Desember 1968. Dekatnya tanggal Hari Raya Idul Fitri dengan Natal kemudian menginspirasikan sebagian kepala jawatan dan menteri untuk mengeluarkan perintah agar perayaan halal bihalal digabungkan dengan Natal menjadi ‘Lebaran-Natal’. Sebagian pejabat mengatakan bahwa demi

kesaktian Pancasila, ‘Lebaran-Natal’ ini dapat membantu kita memahami makna tol- eransi. Buya Hamka menolak dengan keras toler- ansi yang semacam itu. Perayaan ‘Lebaran- Natal’ tidak ubahnya sebuah pemaksaan kepada umat beragama agar ikut menden- garkan kajian-kajian keagamaan yang bertentangan dengan pokok-pokok keaga- maannya sendiri. Bagi Hamka, yang semacam ini adalah toleransi paksaan dan memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pan- dangan sinkretisme.

Batas Toleransi Dalam soal keimanan, Buya Hamka mengambil posisi yang jelas dan tidak seten- gah-setengah. Terhadap aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam, Hamka pun memberikan respons yang tegas. Dalam buku Pelajaran Agama Islam, misalnya, Hamka membahas secara panjang lebar aliran Baha’iyah dan Ahmadiyah. Kesimpulan tegas yang ditariknya adalah bahwa setiap orang yang mengaku sebagai nabi setelah Rasulullah SAW adalah seorang pendusta, sedangkan yang mengikutinya juga termasuk orang-orang yang mendus- takan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, baik para nabi palsu tersebut maupun para pengikutnya tidak lagi bisa dinyatakan sebagai umat Muhammad SAW. Namun, menurut ulama yang belum lama dianugerahi gelar Pahlawan Nasional ini, menganjurkan agar umat Islam bersikap baik kepada para pemeluk aliran sesat. Dalam hal ini, Hamka menuturkan, “Sungguhpun demikian, sebagai umat Islam yang mengakui adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan bergaul juga dengan mereka sebaik-baiknya sebagaimana kita bergaul dengan umat Budha, umat Kristen, dan Yahudi.” Pergaulan yang dimaksud adalah sikap toleran yang jauh dari kemu- nafikan dan tanpa mengabaikan sikap tegas dengan memperlakukan para penganut aliran-aliran tersebut sebagaimana kita memperlakukan umat beragama lainnya di luar Islam. Meskipun begitu, tetap ada rambu-rambu dalam toleransi. Dalam hal pernikahan, mis-

alnya, Islam tidak membolehkan laki-laki non-Muslim menikahi perempuan Muslimah. (QS al-Baqarah [2]:221 dan QS al-Mumtahanah [60]:10). Sejumlah ulama fiqih berpendapat bahwa laki-laki Muslim tak boleh menikahi perempuan non-Muslim Ahlul Kitab jika imannya lemah. Toleransi beragama yang mesti dikem- bangkan adalah yang dilandasi oleh kesadaran penuh akan perbedaan funda- mental di antara setiap agama dan bukan- nya dengan berpura-pura tidak melihat perbedaan-perbedaan itu, apalagi dengan berusaha melenyapkannya. Kesadaran akan

perbedaan itu akan melahirkan sikap saling menghormati dan tidak saling mencampuri. Ketika menjelaskan tafsir ayat kesembi- lan dalam Surah al-Mumtahanah pada Tafsir Al Azhar, Hamka mengkritik keras ucapan sebagian orang yang mengatakan, “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja karena sama-sama baik tujuannya.” Terhadap orang-orang semacam ini, Hamka menegaskan pendiriannya: “Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia me- ngatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Ka- rena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.”

sesuai dengan kenyataannya. Ka- rena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.” ■

WORDPRESS

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA WORDPRESS ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan, dan
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA WORDPRESS ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan, dan
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA WORDPRESS
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA
WORDPRESS

ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan, dan lain sebagainya karena hal itu termasuk meno- long orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam. “Dan, tolong- menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelang- garan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS al-Ma’idah [5]: 2).

Doa lintas agama Doa bersama lintas agama dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam rahmatan lil-‘alamin. Padahal, karakter rahmatan lil-‘alamin sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimak- lumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (mukhkhul ‘ibadah) yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan. Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseo- rang berharap agar Allah segera mengab- ulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat, dan melakukan kebajikan-keba- jikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh yang dekat kepada Allah. Hal ini seba- gaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama fuqaha dalam bab shalat istisqa’ (mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih. Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha tentang hukum menghadirkan kaum non-Muslim untuk doa bersama dalam

shalat istisqa’. Pertama, menurut mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), tidak dianjurkan dan makruh menghadirkan non-Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqa’. Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara terse- but dengan inisiatif sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak berhak dilarang. Kedua, menurut mazhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non- Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat istisqa’, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa istisqa’ ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pen- dapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan men- datangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang- orang yang yang jauh dari kebenaran. Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al- Waqi’iyyah Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan bahwa “Doa Bersama Antar Umat Beragama” hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya, yaitu Kitab Mughnil Muhtaj, Juz I hal 232: “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” (Lebih jauh, lihat:

Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926- 2004), penerbit: Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet ke-3, 2007, hal 532-534). (Wallahu a’lam).

25 KAMIS, 15 DESEMBER 2011

( Wallahu a’lam) . ■ 25 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 Muhammad Idrus Ramli Pengurus Lajnah Ta’lif

Muhammad Idrus Ramli

Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur

Ramli Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur Asep Sobari Peneliti INSISTS Rahmatan Lil-‘Alamin dan

Asep Sobari

Peneliti INSISTS

Rahmatan Lil-‘Alamin dan Toleransi

U mat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil-‘alamin sebab istilah itu telah dinyatakan oleh Alquran. Istilah rahmatan lil-‘alamin dipetik dari salah satu ayat Alquran, “Ma maa

arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Dalam ayat itu, “rahmatan lil-‘alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Artinya, Allah SWT tidaklah menjadikan Nabi SAW sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau men- jadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah SWT kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi SAW, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sa- habat Nabi SAW, pakar dalam Ilmu Tafsir menyatakan, “Orang yang beriman kepada Nabi SAW, maka akan memperoleh rahmat Allah SWT dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi SAW, maka akan dise- lamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti diubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.” Demikian penafsiran yang dinilai paling kuat oleh al- Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya, al-Durr al-Mantsur. Penafsiran di atas diperkuat dengan ha- dis shahih yang menegaskan bahwa rah- matan lil-‘alamin telah menjadi karakteris- tik Nabi SAW dalam dakwahnya. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi SAW menjawab, “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim). Penafsiran di atas memberikan gam- baran, bahwa karakter rahmatan lil-‘alamin memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi SAW. Dalam kitab-kitab tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna rahmatan lil-‘alamin dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan komunitas non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa rahmatan lil-‘alamin sangat erat kai- tannya dengan kerasulan Nabi SAW, yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya. Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan lil- ‘alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama lain, menjaga keamanan tempat ibadah agama lain dan acara ritual agama lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan itu adalah “Islam rahmatan

lil-‘alamin”. Kegiatan- kegiatan semacam itu justru me- ngaburkan makna rahmatan lil-‘alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam. Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai rahmatan lil-‘alamin, Nabi SAW diutus juga bertugas sebagai basyiiran wa nadziiran lil- ‘aalamiin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh alam). “Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (Alquran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS al-Furqan [25]:

1). “Dan, Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruh- nya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’ [34] : 28). Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-‘alamin, juga bertang- gung jawab menyebarkan misi basyiran wa nadziran lil-‘alamin. Islam tidak melarang umatnya berinter- aksi dengan komunitas agama lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik. Karena itu, para ulama fuqaha dari berbagai mazhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah sunnah kepada non-Muslim yang bukan kafir harbi. Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non-Muslim. Para ulama fuqaha juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua, dan anak- anak yang non-Muslim. Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggung jawab menerapkan basyiran wa nadziran lil-‘alamin, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non-Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka. Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat

Toleransi Nabi SAWkepada Yahudi

J auh sebelum berbagai bangsa mengenal toleransi, pada awal abad ke-7 Masehi, Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh toleransi beragama di Madinah.

Termasuk terhadap kaum Yahudi. Di tengah kondisi Madinah yang cukup akomodatif, Nabi SAW menetapkan perangkat-perangkat dasar untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah. Maka lahirlah Shahifah al-Madinah atau Piagam Ma- dinah yang menurut Dr M Hamidullah merupa- kan konstitusi negara tertulis yang pertama di dunia (the first written constitution in the world). Piagam Madinah menjelaskan bentuk ne- gara, mengatur hubungan antarkelompok ma- syarakat, hak dan kewajibannya kepada negara, kehidupan beragama, asas peradilan dan sum- ber hukum, dan lain sebagainya. Selain menge- jawantahkan konsep kenegaraan baru berupa al-ummah al-muslimah (umat muslim), isu ke- majemukan juga menjadi sorotan utama Piagam Madinah. Terkait kaum Yahudi, berdasarkan su- sunan Dr Hamidullah, dari 47 pasal Piagam Ma- dinah, terdapat sekitar 24 pasal yang menyebut kaum Yuhudi. Pasal-pasal tersebut mencakup beragam isu, di antaranya, status kewargane- garaan, kebebasan beragama, tanggung jawab bersama dalam bidang sosial, ekonomi dan ke- amanan, kebebasan berpendapat, dan keadilan. Berdasarkan teks Piagam Madinah yang diri- wayatkan Ibnu Ishaq dalam as-Sirah an-Naba-

wiyyah, jilid dua hal 94-96, Nabi SAW menyata- kan, “Wa inna yahuda bani `auf ummatun ma`al mu’minin (sesungguhnya Yahudi Bani `Auf adalah satu umat bersama kaum Muk- min).” Dengan pengakuan ini, otomatis kaum Yahudi memperoleh hak-hak selayaknya warga negara. Salah satu yang terpenting adalah hak kebebasan beragama, “Lil yahudi dinuhum wa lil muslimin dinuhum, mawalihim wa anfusuhum

(kaum Yahudi menjalankan agamanya sendiri, sebagaimana kaum Muslim juga menjalankan agamanya sendiri. Ini berlaku bagi orang-orang

yang terikat hubungan dengan Yahudi dan diri Yahudi sendiri).” Dengan adanya jaminan konstitusi terhadap kebebasan
yang terikat hubungan dengan Yahudi dan diri
Yahudi sendiri).”
Dengan adanya jaminan konstitusi terhadap
kebebasan beragama ini, kaum Yahudi di
Madinah dapat menjalankan kegiatan keaga-
maan dengan tenang di lingkungannya. Begitu
juga dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah
agama Yahudi yang disebut Bayt al-Midras
beraktivitas sebagaimana biasa, bahkan
semakin giat dari sebelumnya karena terpacu
dengan kehadiran Islam di Madinah. Ibnu Ishaq
menyebutkan, Rasulullah SAW pernah berkun-
jung dan masuk ke sekolah Yahudi untuk berdia-
log dengan para Ahbar (pemuka Yahudi). Begitu
juga Abu Bakar RA, dikabarkan pernah masuk
ke dalam Midras dan “mendapati banyak sekali
orang di sana.” (Jilid dua hal 129 dan 134).
Terkait dengan keamanan kota Madinah,
kaum Muslim dan Yahudi harus bahu-membahu
mewujudkannya. Kaum Muslim tidak akan mem-
biarkan Yahudi diserang musuh dari luar dan
begitu juga sebaliknya. Dalam teks Piagam
Madinah, Nabi SAW menyatakan, “Wa inna bay-
nahum an-nashr `ala man dahama Yatsrib
menikahi wanita Yahudi dan daging hewan sem-
belihan Yahudi halal dimakan oleh Muslim.
Dalam muamalat, jual beli dan pelbagai ben-
tuk transaksi lainnya yang tidak bertentangan
dengan syariat Islam, kaum Muslim juga dibo-
lehkan melakukannya dengan Yahudi. Faktanya,
setelah kedatangan Nabi SAW ke Madinah,
kaum Muslim tetap melakukan transaksi di
pasar Yahudi. Abdurraman bin `Auf, seorang
sahabat terkemuka, memulai peruntungannya di
hari-hari pertama keberadaannya di Madinah
dengan berdagang di pasar Bani Qainuqa`, milik
Yahudi (Shahih al-Bukhari, no 3780). Ali bin Abu
Thalib, menantu Nabi SAW, sebagian persiapan
walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani
Qainuqa` (Shahih Muslim, no 5242). Bahkan,
Nabi SAW menggadaikan baju perangnya den-
gan 30 Sha` gandum kepada seorang Yahudi
Bani Zhafar bernama Abu Syahm (Ibnu Hajar,
Fathul Bari, Jilid tujuh hal 461).
(kaum Muslim dan kaum Yahudi saling meno-
long dalam mempertahankan Madinah dari
serangan pihak luar).” Karena itu, baik Muslim
maupun Yahudi sama-sama berkewajiban
menanggung beban biaya perang untuk mem-
pertahankan Madinah dari serangan musuh,
“wa innal yahuda yunfiqun ma`al mu’minin ma
damu muharabin (sesunguhnya kaum Yahudi
dan kaum Mukmin sama-sama menanggung
biaya perang bila diserang musuh).”
Dari penjelasan sebagian pasal Piagam Ma-
dinah yang menyangkut kaum Yahudi, tampak
sejak awal Rasulullah SAW menghendaki terban-
gunnya tatanan kehidupan masyarakat yang har-
monis di Madinah. Pendekatan persuasif ini
tampak semakin jelas, ketika Nabi SAW menye-
but kaum Yahudi (bersama Nasrani) sebagai Ahl
al-Kitab. Dengan sebutan ini, maka dampaknya,
antara lain, lelaki Muslim masih dibolehkan
Batas toleransi Nabi
Jaminan konstitusi dan pendekatan-pende-
katan persuasif yang dilakukan Nabi SAW me-
nunjukkan toleransi yang tinggi kepada kaum
Ya hudi. Tapi, seiring perjalanan waktu, kaum
Yahudi melihat masyarakat Muslim sebagai an-
caman bahkan musuh. Sejumlah individu Yahudi
membuat kericuhan dan menyebarkan permu-
suhan. Fanhash, seorang Ahbar (Rabbi) Ya hudi,
menghina Allah dan Alquran di hadapan Abu
Bakar (Ibnu Ishaq, Jilid dua hal 134); Ka`ab bin
al-Asyraf, pemuka Bani Nadhir, merusak kios-
kios di pasar baru milik kaum Muslim (as-Sam-
hudi, Wafa al-Wafa, Jilid satu hal 539); Sallam
bin Misykam, pemuka Bani Nadhir, sempat
menjamu Abu Sufyan di rumahnya dalam pe-
rang Sawiq dan memberi informasi penting ten-
tang kaum Muslim (Ibnu Ishaq, Jilid tiga hal 4).
Sikap permusuhan yang digalang para pemu-
ka agama dan tokoh masyarakat Yahudi ini
semakin dipertajam oleh para penyair. `Ashma
binti Marwan, Abu `Afak, dan Ka`ab bin al-

Asyraf adalah penyair-penyair terkemuka Yahudi yang hampir tidak pernah berhenti mengguna- kan kekuatan lisannya untuk melontarkan bait- bait yang menghina Islam dan sosok Nabi SAW. Nabi SAW menghadapi para penyair ini den- gan sikap tegas karena mereka orang-orang berpengaruh di masyarakat. Nabi SAW memerin- tahkan mereka dihukum mati. Terlebih Ka`ab bin al-Asyraf yang menyampaikan simpatinya secara langsung dan terbuka kepada Quraisy setelah kekalahan mereka di Badar. Bahkan, ia terus mengobarkan dendam agar segera bangk- it dan menyiapkan perang besar melawan Madinah. (Prof Dr Muhammad bin Faris, an- Naby wa Yahud al-Madinah, hal 101-120)’ Permusuhan Yahudi semakin meluas dan dilakukan berkelompok. Kasus pelecehan ter- hadap seorang Muslimah di pasar Bani Qainuqa` berujung pada terbunuhnya pemuda Muslim yang membelanya, Bani Qainuqa` meng- galang solidaritas dan menantang secara terbu- ka, “Hai Muhammad, jangan lekas bangga hanya karena berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka itu hanyalah orang-orang liar yang tidak pandai berperang. Demi Allah, jika kami yang engkau perangi, maka engkau akan merasakan kehebatan kami. Engkau tidak akan pernah merasakan lawan sekuat kami!” (Ibnu Ishaq, Jilid dua hal 129). Dalam kondisi seperti itu, Nabi SAW pun bersikap tegas. Tantangan Bani Qainuqa’ dijawab dengan tegas. Mereka diperangi. Yahudi Bani Quraizhah melakukan pengkhi- anatan terhadap negara. Klan terakhir Yahudi ini berkhianat dengan mendukung pasukan musuh (Ahzab) dalam perang Khandaq. Menghadapi permusuhan kolektif ini, Nabi SAW tidak punya pilihan selain menghukum mereka secara kolek- tif. Bani Qainuqa` dan Bani Nadhir diusir dari Madinah. Sedang Bani Quraizhah, semua lelakinya yang sanggup berperang dieksekusi. Itulah toleransi Nabi Muhammad SAW terhadap Yahudi. Wallahu a’lam bil-sahawab.

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 26 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 DR AHMAD ALIM Berkat Nadzar Sang
JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 26 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 DR AHMAD ALIM Berkat Nadzar Sang

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA

26 KAMIS, 15 DESEMBER 2011

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA 26 KAMIS, 15 DESEMBER 2011 DR AHMAD ALIM Berkat Nadzar Sang Ibu

DR AHMAD ALIM

Berkat Nadzar Sang Ibu

T anggal 10 Desember 2011, bisa dikatakan hari yang sangat istimewa bagi Dr. Ahmad Alim. Anak kampung ini berhasil lulus mempertahankan disertasi doktornya dan menjadi

seorang doktor termuda serta tercepat di

Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dengan predikat cum laude Salah satu pengujinya yaitu Prof DrAhmad Tafsir, pakar pendidikan dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung memuji disertasi dan keilmuannya. “UIKA kini memiliki pakar tentang Ibn Jauzi,” kata Prof Ahmad Tafsir. Pada sidang terbuka tersebut, Ahmad Alim mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pendidikan Jiwa Ibnu Jauzi dan Relevansinya terhadap Pendidikan Jiwa Manusia Modern”. Ia menjawab semua per- tanyaan para penguji dengan tangkas dan

lancer. Tim penguji disertasi terdiri atas Prof Dr Didin Hafidhuddin, Dr Adian Husaini, dan Dr Endin Mujahidin. Melalui disertasi ini, Dr Alim menawarkan solusi Pendidikan Jiwa berdasarkan konsep yang disusun oleh seorang ulama besar bernama Ibn Jauzi. Memang, untuk menyelesaikan diser- tasinya, Alim harus bekerja keras. Dia melakukan penelitian di berbagai perpus- takaan, termasuk di Universitas Islam Madinah dan Universitas Ummul Qura Mekkah. “Saya sudah mengecek, belum ada yang menulis masalah ini,” papar Alim. Dr Ahmad Alim, sehari-hari lebih akrab dipanggil Ustadz Alim. Maklum, sembari menyelesaikan program doktoralnya, ia juga dipercaya oleh Prof Dr Didin Hafidhuddin menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albaab Bogor – sebuah pesantren yang didirikan oleh Mohammad Natsir, tahun

1987.

Ahmad Alim selama ini sudah dikenal “haus ilmu”. Sejarah pendidikannya tidak terlepas dari nadzar sang ibunya sendiri, yang merupakan seorang perempuan yang buta huruf. Sang Ibu adalah seorang anak yatim piatu sejak kecil. Kakak-kakaknya diambil dan diasuh orang, sedang ia sendiri tidak. Perempuan itu hidup terlantar dalam keadaan miskin. Karena tidak ada biaya, ia keluar sekolah ketika kelas dua SD. Semenjak itu, ia mencari uang sendiri dengan berjualan daun pisang serta ikut menanam padi di sawah. Ayah Alim pun bukan orang yang berpendidikan. Sama seperti ibunya yang tidak lulus sekolah dasar. Hal inilah yang – menurut Alim — kadang membuatnya heran, mengapa ia diberi nama Ahmad Alim yang artinya “pujian kepada Allah hamba yang berilmu”. Padahal kedua orang tuanya itu tidak bisa bahasa Arab. Ketika ditanyakan tentang hal itu, sang ayah berkata, “ nama itu pemberian dari seorang Kyai yang merespon nadzar Ibumu”.

Diwakafkan Sang Ibu Ahmad Alim lahir di Rembang, 28 Februari 1982. Saat kecil, Alim sering sakit-sakitan. Bahkan, kabarnya, ia baru bisa berjalan setelah 21 bulan. Padahal bayi normal biasanya sudah bisa berjalan umur 9-10 bulan. Ibu Alim sangat sedih. Saat

itulah Sang Ibu berdoa, “Ya Allah, Jika anak saya ini tetap hidup dan bisa berjalan, anak ini saya wakafkan untuk sekolah bahkan setinggi-tingginya yang tidak ada

di kampung ini.”

Alasan yang mendorong mengapa sang ibu sangat perhatian pada pendidikan adalah kakek Alim yang merupakan pejuang dan guru ngaji di zaman Belanda. Jadi sang ibu sempat protes mengapa anak- anak seorang guru ngaji tapi sekolahnya tidak ada yang tuntas. Ini memang wajar karena kakek dan neneknya wafat sejak ibu Ahmad Alim masih bayi. Tetapi justru karena itu, sang ibu berjuang agar anak- anaknya kelak bisa sekolah setinggi- tingginya. Itulah yang memotivasi Ahmad Alim

untuk terus bersekolah. Bahkan sejak kecil

ia

di

bersekolah di madrasah ibtidaiyah. Begitu juga saat bersekolah di SMP, ia juga merangkap bersekolah di Madrasah Tsanawiyah di sebuah pesantren. Begitu pula ketika di ia bersekolah di tingkat SMA, ia juga merangkap menimba ilmu di Madrasah Aliyah di sebuah Pesantren di Pati, Jawa Tengah. Setelah itu ia melan- jutkan pendidikan tingkat D1, D2, D3, S1, S2 dan sampai S3. Alim menyelesaikan jenjang S-1 di LIPIA Jakarta dan S-2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menurut Ahmad Alim, ia mempunyai kebiasaan, ketika dulu masih bersekolah dan menghadapi ujian, ia meminta doa dari sang ibu. Keesokannya Sang Ibu pun lang- sung berpuasa dan shalat tahajud ketika malam untuk mendo’akan kesuksesan anaknya. Walau pun sang ibu tidak memo- dali materi, tetapi selalu memberikan doa. Ketika berangkat sekolah sang ibu selalu berwasiat, “Ibu tidak bisa memberi kamu biaya, tidak bisa memberi biaya kamu makan. Ibu hanya membekali kamu dengan basmalah. Dengan basmalah kamu bisa makan dan kamu bisa hidup dan membi- ayai kuliah.” Dengan bekal tersebut ternyata Ahmad Alim tidak pernah kelaparan dan tidak merasa kekurangan. Bahkan untuk biaya sekolah pun, Ahmad Alim selalu mendapat beasiswa. “Kalau pun tidak mendapat bea- siswa ada saja rizki dan kemudahan dari jalan yang tidak diperkirakan sebelum- nya,” ungkapnya. Ada kisah, seorang pegawai di sebuah perusahaan yang nge-fans terhadap Ahmad Alim. Orang tersebut mengaku pengikut fanatik satu organisasi Islam. Ia mengaku sedih, karena yang aktif di masjidnya kebanyakan pengikut organisasi lain. Pegawai itu kemudian merasa bersyukur

terbiasa sekolah double. Saat bersekolah

Sekolah Dasar di pagi hari, sore hari dia

karena kehadiran Alim mampu merangkul berbagai kelompok. Di tengah penulisan tesis S-2, tiba-tiba si pegawai melunasi seluruh biaya pendidikan Ahmad Alim. Bagitu pula saat Ahmad Alim hendak berangkat ke Madinah untuk penelitian disertasi. Ada seorang pejabat sebuah perusahaan Negara yang sadar bahwa hidup mencari uang terus ternyata tidak pernah mengeyangkan hatinya. Akhirnya ia mengaji dan kemudian merasakan ketena- ngan. Ia belajar pada bahasa Arab pada

Ahmad Alim mulai “dari nol” sampai bisa menerjemahkan Alquran 30 juz. Saat Ahmad Alim berangkat ke Madinah untuk melakukan penelitian, orang itu mengusa- hakan semua biayanya. “Rizki itu dari Allah,” kata Ahmad Alim, yang kini sehari- hari menjadi Imam di Masjid al-Hijri II, Universitas Ibn Khaldun Bogor. (Diwawancara dan ditulis oleh Irfan Habibie, santri PPMS Ulil Albab; alumnus Teknik Kimia ITB)

santri PPMS Ulil Albab; alumnus Teknik Kimia ITB) ■ Misykat Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur INSISTS
santri PPMS Ulil Albab; alumnus Teknik Kimia ITB) ■ Misykat Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur INSISTS
Misykat
Misykat
PPMS Ulil Albab; alumnus Teknik Kimia ITB) ■ Misykat Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur INSISTS J
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur INSISTS J ika barometer toleransi abad 20 ini dide- teksi
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur INSISTS J ika barometer toleransi abad 20 ini dide- teksi

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Direktur INSISTS

J ika barometer toleransi abad 20 ini dide- teksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terbu- ruk. Pada akhir tahun 1987, saya sem-

pat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tem- bok raksasa itu menyimpan tempat suci

utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid

al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan), dan Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah).

Di zaman modern, tempat ini adalah daerah

konflik yang paling menegangkan di dunia. Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu, banyak perisiwa menegangkan. Saya menyak- sikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah ser- apah, nyaris saling bunuh. Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia

teriak I come here to kill Muslims. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al- Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa! Namun, jika deteksi toleransi itu dial- ihkan abad ke-7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi ko-

ta ini. Jika kita menelurusi lorong via doloro-

sa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis di depan

gereja yang diyakini sebagai makam Yesus.

Di situ semua sekte berhak melakukan

Toleransi

kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik di masa lalu”. Tapi, khay- alan itu ternyata salah. Fakta sejarah mem- buktikan masjid itu justru simbol toleransi. Sejarahnya, umat Islam di bawah pimp- inan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada Februari 638. Mungkin kare- na terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota. Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi, ia menolak dan berkata, “Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka hanya karena saya pernah shalat di situ. ”Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Di tempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan sha- lat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapan pun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar. Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Di bawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka. Pia- gam itu di antaranya berisi: Umar amir al-

mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan se- hat dari semua penganut agama. Gereja me- reka tidak akan diduduki, dirusak atau diram- pas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya dan seterusnya. Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikut- nya, Sophorinus juga menyatakan jaminan- nya, “Kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru di kota dan pinggiran kota kami; .… Kami juga akan menerima musafir Muslim ke rumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam … kami tidak akan menggunakan ucapan sela- mat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam.” (lihat al- Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar ibn al-Khattab Trans Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p 191). Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun, Umar meminta ini diha- pus dan Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon, Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan syna- gog yang penuh dengan sampah. Itulah toler-

ansi Umar. Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari satu khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terja- di perselisihan antarsekte di gereja Holy Sepulchre, tentara Islam diminta berjaga- jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari sha- lat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya, mereka shalat di mana Umar dulu shalat. Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada 1193, memban- gun masjid permanen. Jadi, masjid Umar ini- lah saksi toleransi Islam di Jerussalem. Namun, kini Jerussalem yang damai ting- gal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liber- alisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toler- ansi. Toleransi kini ditambah maknanya men- jadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi, “ini salah” kata Muham- mad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama, “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen.” Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham plu- ralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya, toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.