Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

SIMULASI PERSILANGAN DIHIBRIDA

Kelompok 2
Anggota :

Juharoh Indri Lestari 4401417053


Sani Sulistiani 4401417044
Salsabila Khoirunnida 4401417099

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
1. Tanggal Praktikum : Selasa, 10 September 2019

2. Tujuan Praktikum :

a. Menunjukkan adanya prinsip berpasangan secara bebas


b. Membuktikan perbandingan fenotip F2 = 9 : 3 : 3 : 3
c. Dapat menggunakan uji Chi-Square (Khi-kuadrat) dalam analisis
genetika Mendel

3. Landasan Teori
Materi hereditas, mempelajari transmisi ciri dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Studi ilmiah tentang hereditas yang merupakan salah satu materi
genetika, dimulai pada tahun 1860-an, ketika seorang biarawan Augustinian
bernama Gregor Mendel menyimpulkan prinsip dasarnya dengan menumbuhkan
kacang polong (Simon, Janedan Jean.2013:146) dalam (Zural 2017). Dalam
hereditas, induk meneruskan kepada keturunan gen-gen diskret yang dipertahankan
identitas dari generasi ke generasi. (Zural, 2017).
Ide akan mekanisme pewarisan gen mulanya dikemukakan oleh seseorang
Pendeta yang dikenal sebagai "Bapak Genetika Modern" bernama Gregor Johann
Mendel. Mendel terinspirasi oleh kedua Profesornya di Universitas Olomouc (yaitu
Friedrich Franz & Johann Karl Nestler) dan rekan-rekannya di biara (misalnya,
Franz Diebl) untuk mempelajari variasi tanaman, dan ia melakukan penelitian di
biara kebun percobaan yang awalnya ditanam oleh NAPP pada tahun 1830. Antara
1856 dan 1863, Mendel membudidayakan dan menguji beberapa 29.000 tanaman
pea (Pisum sativum). Studi ini menunjukkan bahwa satu dari empat tanaman
kacang memiliki ras resesif alel, dua dari empat orang hibrida dan satu dari empat
ras yang dominan. Percobaan tersebut membawanya untuk membuat dua
generalisasi, yang Hukum Segregasi dan Hukum Assortment Independen, yang
kemudian lebih dikenal sebagai Hukum Mendel Warisan atau Hukum Pewarisan
Mendel. (Akbar, 2015).
Penyebaran gen dapat terjadi jika ada persilangan atau perkawinan antar
individu dalam suatu populasi. Berdasarkan jumlah sifat yang disilangkan, terdapat
dua macam persilangan yaitu persilangan monohibrid dan persilangan dihibrid.
Persilangan monohibrid merupakan persilangan dengan satu sifat beda sedangkan
persilangan dihibrid merupakan persilangan dengan dua sifat beda. Persilangan
dihibrid ini lebih rumit dibandingkan dengan persilangan monohibrid karena pada
persilangan dihibrid melibatkan dua lokus (Widyanto, 2013).
Persilangan Dihibrid adalah perkawinan antara dua individu dari spesies
yang sama yang memiliki dua sifat berbeda. Persilangan Dihibrid sangat
berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent assortment of
genes” atau pengelompokan gen secara bebas. Hukum ini berlaku ketika
pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub
ketika meiosis. Hukum Mendel II disebut juga hukum asortasi. Sama halnya dengan
monohibrid, dihibrid pun mengenal sifat dominan dan intermediet, Contoh
persilangan dihibrid misalnya dalam persilangan tanaman biji/kacang ercis. Dimana
sifat biji pertama berbentuk bulat dan berwarna kuning, dan kedua sifat tersebut
dominan terhadap sifat lainnya. Sedangkan pada biji kedua berbentuk kisut dan
berwarna hijau (Akbar, 2015)
Prinsip asortasi secara bebas dalam genetika mengasumsikan bahwa gen
yang berbeda mengikuti dalam pola analisis pewarisan berada pada kromosom yang
berbeda. Mendel mempelajari tujuh sifat dalam kacang polong: setiap sifat sekarang
diketahui berada pada kromosom yang terpisah. (Karya Mendel ditemukan kembali
oleh Bateson [3] ketika penelitiannya memberikan rasio progeni yang tidak dapat
ditafsirkan oleh Bateson. Sementara karya Mendel mengkonfirmasi rasio
bermacam-macam independen, itu adalah karya Morgan yang akhirnya
memberikan penjelasan untuk penyimpangan dari rasio dihibrid). Dengan
menyelesaikan empat titik persilangan, kita dapat menentukan dua hal penting: 1.
Urutan gen pada kromosom. 2. Jarak (dalam unit peta) antara setiap pasangan gen.
Temuan jarak peta (mis., Jarak antara dua gen) yang berhasil juga dapat membantu
untuk menemukan probabilitas rekombinasi. (Gogoi, 2016).
Sulit untuk melebih-lebihkan dampak penelitian Mendel pada sejarah
genetika; memang, penelitiannya dalam genetika telah dikreditkan sebagai salah
satu kemajuan eksperimental besar dalam biologi (Fisher, 1965). Sebelum publikasi
hasil penelitiannya tentang hibridisasi eksperimental pada tanaman, konsep
pewarisan 'unit' fisik (kemudian disebut gen) diterima, dan para ilmuwan telah
melaporkan banyak eksperimen hibridisasi pada hewan dan tumbuhan. Namun
tidak ada yang menetapkan prinsip-prinsip pewarisan yang dapat digunakan sebagai
teori universal untuk menjelaskan bagaimana sifat-sifat pada keturunan dapat
diprediksi dari sifat-sifat pada orang tua. Mendel memberikan aturan eksplisit
tentang bagaimana genotipe keturunan dapat diprediksi dari genotipe orang tua
mereka, dan ia juga membentuk model bagaimana genotipe terkait dengan sifat-
sifat. (Lange, 2011).
Keberhasilan program pemuliaan tanaman sangat tergantung oleh
tersedianya keragaman genetik dan nilai duga heritabilitas. Semakin tinggi
keragaman genetik yang dimiliki akan semakin besar peluang keberhasilan bagi
program pemuliaan tanaman. Heritabilitas adalah parameter genetik yang
digunakan untuk mengukur kemampuan suatu genotipe pada populasi tanaman
dalam mewariskan karakter yang dimilikinya atau merupakan suatu pendugaan
yang mengukur sejauh mana keragaman penampilan suatu genotipe dalam populasi
terutama yang disebabkan oleh peranan faktor genetik. Heritabilitas juga
menentukan kemajuan seleksi. Makin besar nilai heritabilitas, makin besar
kemajuan seleksi yang diraihnya dan makin cepat varietas unggul dilepas.
Sebaliknya, makin rendah nilai heritabilitas arti sempit, makin kecil kemajuan
seleksi diperoleh dan semakin lama varietas unggul baru diperoleh (Aryana, 2010).
Keragaman genetik suatu populasi tergantung pada apakah populasi tersebut
merupakan generasi bersegregasi dari suatu persilangan, pada generasi ke berapa,
dan bagaimana latar belakang genetiknya (Pinaria, 1995 dalam Syukur et al., 2010).
Pada populasi F2 hasil persilangan, terjadi segregasi sehingga akan menyebabkan
keragaman. Keragaman genetik populasi F2 akan menjadi luas bila kedua tetua
yang digunakan memiliki sifat yang berbeda.
Wiles dan Hardagon mengembangkan pemahaman untuk pola pewarisan
yang diamati pada lalat buah. Karena ukurannya yang kecil, siklus hidupnya yang
pendek, kelimpahan variabilitas genetik, dan relatif murahnya, Drosophila
melanogaster, lalat buah, akan digunakan sebagai model organisme. Lalat dihibrid
menunjukkan fenotip tipe liar untuk kedua sifat tersebut; Namun, genotipe lalat ini
heterozigot baik untuk mutasi mata sepia dan mutasi apterus. Karena
heterozigositas lalat, genotipe generasi F1 adalah Ss untuk warna mata dan Aa
untuk mutasi apterous. Generasi induk lalat dihibrid terdiri dari satu lalat homozigot
dominan baik untuk warna mata maupun kehadiran sayap (SSAA), dan lalat lainnya
resesif homozigot untuk kedua gen (ssaa). Jika pola pewarisan mengikuti hipotesis
Mendel yang menunjukkan segregasi dan bermacam-macam independen, generasi
F2 untuk persilangan monohibrid (Ss x Ss) akan menunjukkan rasio fenotipik tipe
liar 3: 1 dari wild-type atau mata merah ke mata sepia. Di sisi lain, rasio fenotipik
yang dihasilkan dari persilangan dihibrid (SsAa x SsAa) akan menjadi 9: 3: 3:1
bermata merah dan bersayap, bermata merah dan tidak bersayap, bermata dan
bersayap, bermata sepi dan tanpa sayap, masing-masing . (Wiles, 2013)
Brownlee menggunakan beberapa model gen untuk mempelajari distribusi
sifat yang dihasilkan dan korelasi yang dihasilkan antara kerabat. Untuk lokus
tertentu, ia memodelkan mode aditif dan dominasi aksi gen. Segregasi pada setiap
gen individu mengikuti aturan Mendel. Yang penting, dia tidak memodelkan faktor
lingkungan atau residual, sehingga semua variasi dan kemiripan antar kerabat
adalah genetik. Brownlee menunjukkan bahwa dengan hanya sedikit lokus
independen, distribusi 'fenotipe' yang dihasilkan menjadi normal, seperti yang
diamati oleh Pearson dan Lee dengan data nyata tentang ketinggian manusia. Ini
adalah hasil yang penting, karena menunjukkan bahwa, pada prinsipnya, warisan
Mendel dapat konsisten dengan distribusi yang diamati dari sifat-sifat kuantitatif.
Dia juga menunjukkan bahwa di bawah model tambahan, korelasi 'fenotipik' yang
diamati antara kerabat tingkat pertama dan kedua adalah satu setengah dan
seperempat, mirip dengan apa yang diamati untuk tinggi badan. Brownlee secara
efektif memodelkan korelasi antara nilai genetik aditif kerabat ('nilai pemuliaan'),
yang memang merupakan faktor satu-setengah. Tetapi korelasi fenotipik antara
kerabat tergantung pada heritabilitas, proporsi variasi fenotipik yang disebabkan
oleh faktor genetik tambahan. Kemiripan fenotipik antara kerabat dekat juga dapat
disebabkan oleh faktor lingkungan bersama. Untuk tinggi manusia, heritabilitasnya
tinggi, sekitar 80%, dan ada juga bukti untuk kovarians kecil antara anggota
keluarga karena lingkungan bersama . Korelasi yang dihasilkan dari kerabat tingkat
pertama hampir setengah tetapi itu hanya kebetulan. Namun demikian, Brownlee
menunjukkan bahwa untuk suatu sifat dengan heritabilitas satu, distribusinya dapat
terlihat normal, seperti yang diamati untuk data nyata, dan kemiripan antara kerabat
dapat dekat dengan apa yang diamati untuk beberapa sifat, dan keduanya dari
mendalilkan hanya beberapa gen yang berpisah sesuai teori Mendel. (Visscher,
2013).
Menurut Suryo 2008 (dalam Oktarina 2013), uji kecocokan warna polong
menggunakan metode ChiKuadrat untuk melihat besarnya nilai perbandingan data
percobaan yang diperoleh dari persilangan yang telah dilakukan dengan hasil yang
diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Nilai Chi-Kuadrat (X2) diperoleh
dengan rumus :
(𝐹𝑜−𝐹ℎ)²
X2 = 𝐹ℎ

Dimana Fo adalah Frekuensi yang diobservasi / diperoleh melalui


pengamatan di lapang (observed) dan Fh adalah Frekuensi yang diharapkan
(expected). Semakin kecil nilai X2 menunjukan bahwa data yang diamati semakin
tipis perbedaannya dengan yang diharapkan. Sebaliknya semakin besar X2
menunjukan semakin besar pula penyimpangannya. Batas penyimpangan yang
diterima atau besar peluang terjadinya nilai penyimpangan yang dapat diterima
hanya satu kali dalam 20 percobaan (peluang 1/20 = 0,05) maka pada P = 0,05
adalah atau ditolaknya data percobaan, selain itu data juga dapat dianalisis melalui
distribusi tipe kelahiran, rataan jumlah anak per kelahiran, bobot lahir, dan bobot
sapih serta melalui analisis statistik berupa rataan sifat, koefisien varians, analisis
ragam dan keunggulan relatif (Hamzah. 2009).
4. Metode
a. Alat Bahan
Kancing genetika 4 macam warna masing-masing berjumlah 48 buah
b. Cara Kerja
1) Diambil 4 macam warna kancing, masing-masing 48 buah. Ditentukan
simbol gen dan sifat yang diwakili oleh setiap warna kancing.
2) Dipisahkan tiap-tiap warna menjadi dua bagian yang sama, satu bagian
sebagai gamet janta n, dan satu bagian yang lain sebagai gamet betina.
3) Dikancingkan/ditangkupkan dua kancing menjadi satu dengan
kombinaasi warna yang berbeda-beda sesuai macam gamet yang
dihasilkan.
4) Gamet jantan dan betina ditempatkan dalam kantong yang berbeda
kemudian diambil satu persatu tangkupan kancing dari setiap kantong,
dipertemukan dan dicatat dalam tabel.

5. Hasil dan Pembahasan


1) Hasil
 Hasil Kegiatan
a. data kelompok
Fenotip Talis 𝐹𝜊 𝐹ℎ Ι𝐹𝜊 − 𝐹ℎΙ Ι𝐹𝜊 − 𝐹ℎΙ² ǀ(𝐹𝜊 − 𝐹ℎ)²ǀ
𝐹ℎ
Manis-kuning IIIII IIIII 24 27 3 9 0,33
(Putih-kuning) IIIII IIII
Manis-hijau IIIII IIIII 12 9 3 9 1
(Putih-hijau) II
Masam-kuning IIIII IIIII 10 9 1 1 0,11
(Hitam-kuning)
Masam-hijau II 2 3 1 1 0,33
(Hitam-hijau)
Jumlah X² hitung 1,77
 Uji Chi-Square
Df = n - 1
=4-1
=3
X² tabel , α 0,05
H𝜊 = Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori
Hi = Ada perbedaan
Jika X² hitung < X² tabel, maka H𝜊 diterima
Jika X² hitung > X² tabel, maka H𝜊 ditolak
X² hitung = 1,77
X² tabel = 7,82
1,77 < 7,82
X² hitung < X² tabel, maka H𝜊 diterima
Jadi, tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori
b. Data Kelas
Kelompok Dominan Dominan Resesif Resesif
(M_K_) Resesif Dominan (mmkk)
(M_kk) (mmK_)
1 28 8 8 4
2 24 12 10 2
3 29 8 8 3
4 25 12 9 2
5 23 11 11 3
6 28 9 10 1
7 27 10 8 3
8 28 11 7 2
Jumlah 212 1 71 20
Perbandingan 216 72 72 24
Data perbandingan fenotip
Fenotip 𝐹𝜊 𝐹ℎ Ι𝐹𝜊 Ι𝐹𝜊
− 𝐹ℎΙ − 𝐹ℎΙ² ǀ(𝐹𝜊 − 𝐹ℎ)²ǀ
𝐹ℎ
Dominan 212 216 4 8 0,037

Dominan 71 72 1 1 0,014
Resesif
Resesif 71 72 1 1 0,014
Dominan
Resesif 20 24 4 16 0,8

X² hitung 0,865

 Uji Chi-Square
Df = n - 1
=4-1
=3
X² tabel , α 0,05
H𝜊 = Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori
Hi = Ada perbedaan
Jika X² hitung < X² tabel, maka H𝜊 diterima
Jika X² hitung > X² tabel, maka H𝜊 ditolak

X² hitung = 0,865
X² tabel = 7,82
0,865 < 7,82
X² hitung < X² tabel, maka H𝜊 diterima
Jadi , tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori
2) Pembahasan

Pada praktikum kali ini (kedua), kami melakukan simulasi persilangan


dihibrida dengan bantuan 4 kancing beda warna masing-masing 48 buah, dimana
setiap warna kancing mewakili sifat gen yang berbeda. Dengan ketentuan 4 warna
kancing (putih = jeruk manis, hitam = jeruk masam, kuning = jeruk kulit kuning,
hijau= jeruk kulit hijau). Berikut persilangan yang kami lakukan

Persilangan dihibrida
M = Dominan (misal: jeruk manis)
M = jeruk masam
K = jeruk kulit kuning
K = jeruk kulit hijau

P1 MMKK X mmkk
G1 MK mk


F1 MmKk
(jeruk manis , kulit kuning)

P2 MmKk X MmKk
MK MK
G2 Mk Mk
mK mk
mk mk
F2
O MK Mk mK mk
O+
MK MMKK MMKk MmKK MmKk
Mk MMKk MMKk MmKk Mmkk
mK MmKK MmKk mmKK mmKk
mk MmKk Mmkk mmKk mmkk

Jadi dari praktikum ini membuktikan bahwa pada persilangan dihibrid juga
terjadi proses segregasi bebas atau pemisahan gen yang sealel dimana yang awalnya
induk jeruk manis kuning (MK) dengan induk jeruk masam hijau (mk) dihasilkan
F1 jeruk manis kuning (MmKk). Dari pemisahan gel yang sealel ini mengakibatkan
terjadinya pemasangan secara acak dengan dibuktikan F1 disilangkan dengan
sesamanya, diperoleh hasil 24 jeruk manis kuning ( M_K_), 12 jeruk manis hijau
(M_kk), 10 jeruk masam kuning (mmK_), dan 2 jeruk masam hijau (mmkk),
dengan rasio fenotip 24 : 12 : 10 : 2 atau 12 : 6 : 5 : 2. Dari hasil yang didapatkan
menunjukkan adanya hukum berpasangan secara bebas acak, meskipun angka rasio
fenotip praktikum tidak sama persis dengan rasio fenotip teori (Mendel) yaitu 9 : 3
: 3 : 1, hal ini dapat dikarenakan pengambilan kedua gamet secara bebas dan acak
(tidak disengaja) yang ditempatkan dalam kedua kantung. Meskipun begitu, rasio
yang didapat dari praktikum tidak berbeda jauh atau cukup mendekati dari rasio
teori sehingga sudah cukup membuktikan jika perkawinan dihibrid rasionya 9 : 3 :
3 : 1.

Setelah itu, supaya benar-benar yakin dengan data yang kami dapat kami
melakukan uji chi square (chi kuadrat) yang dapat digunakan untuk menguji apakah
data yang diperoleh dari suatu percobaan itu sesuai dengan ratio yang diharapkan
atau tidak. Karena pada setiap percobaan biasanya hampir selalu terjadi
penyimpangan. Penyimpangan yang kecil relatif lebih dapat diterima. Untuk
pencarian seberapa besar penyimpangan itu dapat diterima dan seberapa sering
terjadinya atau berapa besar peluang terjadinya, dapat dicari dengan uji X2.
Berdasarkan perhitungan Chi Square data kelompok kami dihasilkan X2
tabel = 7,82, X2 hitung = 1,77. X2 hitung < X2 tabel, maka H0 diterima. Jadi, tidak
ada perbedaan antara praktikum dan teori (dengan Df = 3 dan  = 0,05). Sehingga
dapat disimpulkan jika simulasi persilangan dihibrid yang kami lakukan sesuai
dengan hukum Mendel II. Dan untuk data kelas yang terdiri dari 8 kelompok, semua
kelompok tidak ada yang memiliki perbandingan yang sama satu sama lain, tapi
perbandingan dari semua kelompok tidak berbeda jauh atau mendekati dengan
teori. Hal ini dikarenakan saat dimasukkan dalam kantung kancing kurang
homogen. Namun ketika sudah direrata dan diuji dengan uji Chi Square hasil yang
didapatkan sama dengan teori.

6. Kesimpulan

1. Prinsip berpasangan secara bebas terbukti, karena hasil yang keluar adalah hasil
yang acak dan bebas (tidak sengaja)

2. Perbandingan Mendel pada F2 persilangan dihibrida yaitu perbandingan fenotip


9:3:3:1

3. hasil yang didapat untuk data kelompok dan data kelas yaitu X2 hitung < X2
tabel, sehimgga H0 diterima, yang artinya tidak ada perbedaan antara praktikum
dan teori
Daftar pustaka
Akbar, Rinaldi Taufik.2015. Implementasi Sistem Hereditas Menggunakan Metode
Persilangan Hukum Mendel Untuk Identifikasi Pewarisan Warna Kulit
Manusia.Vol 1 (1):1-13.
Aryana, I. G. P. M. 2010. Uji Keseragaman, Heritabilitas, dan Kemajuan Genetik
Galur Padi Beras Merah Hasil Seleksi Silang Balik di Lingkungan Gogo.
Jurnal Agroekoteknologi. 3(1): 12-19.

Cahyono, Fransisca. 2010. Kombinatorial Dalam Hukum Pewarisan Mendel.


Jurnal Probabilitas dan Statistik. Vol. 1 : 1-6.

Gogoi, Jugal, Tazid Ali.2016. A Mathematical Model for Solving Four Point Test
Cross in Genetic. International Journal of Computer Applications (0975 –
8887) Vol.153(5)

Hamzah, et al. 2009. Sistem Perkawinan Bakau Bandul (Rhizophora mucronata


Lamk) Berdasarkan Analisi Isozim. Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam. Vol 6 No : 2

Laird-Lange.2011.”Principles of Inheritance: Mendel’s Law’s and Genetic


Models”. Springer Science and Busines Media.Vol XIV (2):15-30.

Oktarisna, Frizal Amy. 2013. Pewarisan Sifat Warna Polong pada Hasil
Persilangan Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Varietas Introduksi
dengan Varietas Lokal. Jurnal Produksi Tanaman.Vol.1(2):81-89.

Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti, K. Nida. 2010. Pendugaan Komponen


Ragam, Heritabilitas, dan Korelasi untuk Menentukan Kriteria Seleksi
Cabai (Capsicum annum L.) Populasi F5. Jurnal Hortikultura. Indonesia.
1(3): 74-80.

Visscher,Peter.2013.”Commentary: Height and Mendel’s Theory:The Long and


The Short of it”. International Journal of Epidemiology.Vol 42:944-945.
Wijayanto.2013. “Penerapan Model Persamaan Diferensi dalam Penentuan
Probabilitas Genotip Keturunan dengan Dua Sifat Beda”. Jurnal ILMU
DASAR. Vol.14(2):79-84 .

Wiles, Spencer,Kristian M. Hargado.2013. Inheritance Patterns in Monohybrid and


Dihybrid Crosses for sepia eye color and apterous (wingless) Mutations in
Drosophila melanogaster. Journal of Sciences.Vol. II:1-5

Zural, Mimin Mardhiah.2017. Curriculum Needs Analysis in The Development of


Heredity Teaching Media St MAN 2 Padang. Prosiding Seminar Nasional
Biologi Edukasi
LAMPIRAN
 Jawaban Permasalahan
1. Hukum mendel II memiliki prinsip berpasangan secara bebas dimana ini
bisa dilihat dari warna kancing yang berbeda, dan setiap warna kancing
memiliki simbol gen dan sifat, sehingga warna kancing tersebut bisa
dipasangkan dengan warna kancing lain secara bebas.
2. Persilangan dihibrida
M = Dominan (misal: jeruk manis) K = jeruk kulit kuning
m = jeruk masam k = jeruk kulit hijau
P1 MMKK X mmkk
G1 MK mk


F1 MmKk
(jeruk manis , kulit kuning)

P2 MmKk X MmKk
MK MK
G2 Mk Mk
mK mk
mk mk

F2
O MK Mk mK mk
O+
MK MMKK MMKk MmKK MmKk
Mk MMKk MMKk MmKk Mmkk
mK MmKK MmKk mmKK mmKk
mk MmKk Mmkk mmKk mmkk
3. Perbandingan fenotip yang kelompok kami peroleh yaitu 24 : 12 : 10 : 2
atau 12 : 6 : 5 : 1
4.
Kelompok Dominan Dominan Resesif Resesif
Resesif Dominan
1 28 8 8 4
2 24 12 10 2
3 29 8 8 3
4 25 12 9 2
5 23 11 11 3
6 28 9 10 1
7 27 10 8 3
8 28 11 7 2

Hasil yang diperoleh kelompok kami (2) tidak jauh berbeda secara
signifikan dengan kelompok lain.

5. Uji Chi square


Df = n-1
= 4-1
=3
 = 0,05

X2 tabel = 7,82
X2 hitung = 1,77
X2 hitung < X2 tabel, maka H0 diterima.
Jadi, tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori
6. - Dalam praktikum ini memasangkan kancing dengan berbagai warna yang
berbeda menunjukkan prinsip berpasangan secara bebas.
- Perbandingan fenotip F2 9 : 3 : 3 : 1
 Jawaban pertanyaan
1. isi hukum Mendel II menyatakan bahwa pasangan gen-gen yang berpisah
saat pembentukan gamet akan berkelompok dengan pecahan gen yang lain
secara bebas.
2. Tidak, karena pada monohibrid hanya terdiri dari satu sifat beda, sehingga
gen yang berpisah tidak dapat berpasangan secara bebas dengan pecahan
gen yang lain.
3. hasil yang kami peroleh tidak terlalu sesuai dengan rasio fenotip yang ada
pada teori (Mendel II) yaiti 9 : 3 : 3 : 1, tetapi saat sudah dianalisis
menggunakan uji Square didapatkan bahwa H0 diterima, jadi dapat
disimpulkan percobaan yang kami lakukan tidak berbeda dengan teori yang
ada.
 Dokumentasi

Pengambilan kancing dari kantong gamet


betina dan gamet jantan

Kancing dengan dua sifat beda yang telah


disilangkan

Anda mungkin juga menyukai