Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

ANEMIA MELENA

DISUSUN OLEH

WAHYU HONIMAH

PEMBIMBING

Dr.KHOLID UBED SP.PD

Dr.TRIA DEWI RATNASARI

PROGAM INTERNSHIP

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

RS IBNU SINA BOJONEGORO, JAWA TIMUR

PERIODE FEBRUARI 2019 – FEBRUARI 2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala kemudahan dan berkat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dalam Program Internship di RS Ibnu
Sina Bojonegoro dengan judul “ Anemia dan Melena ”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Kholid Ubed
SP.PD dan dr.Tria Dewi Ratnasari selaku pembimbing atas pengarahannya selama penulis
belajar dalam program internship dibidang ilmu penyakit dalam.
Semoga referat ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan para pembaca.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan dan masih perlu banyak
perbaikan, oleh karena itu kritik dan saran diharapkan dari pembaca.

Bojonegoro,1 Oktober 2019


BAB I

PENGKAJIAN KASUS

DATA DASAR PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Ny. T
Umur : 70 thn
Jenis Kelamin : perempuan
Agama : islam
Alamat : ds.bulu 12/2 sugihwaras,bojonegoro
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SD
Status pernikahan : menikah
Suku : jawa
Asuransi :-
Tanggal masuk RS: 22 Agustus 2019
Ruang perawatan : Merapi
No. RM : 132449
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara auto dan alloanamnesis yang dilakukan di bangsal
merapi RS Ibnu Sina Bojonegoro pada tanggal 22 Agustus 2019 pukul 14.00 WIB

A. Keluhan Utama
Seorang pasien kiriman dari IGD RS ibnu sina Bojonegoro, diantar oleh
keluarga pada tanggal 22 Agustus 2019 pukul 06.15 WIB dengan keluhan
lemas dua hari SMRS.

B. Keluhan Tambahan
Nyeri ulu hati satu bulan SMRS, nyeri disertai rasa panas, BAB hitam 2
hari SMRS, banyak, mencret (-), mual muntah satu kali isi makanan satu hari
SMRS, nafsu makan mulai turun 3 hari SMRS.

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang badan terasa lemas. Lemas mulai dirasakan sejak dua hari
dan semakin memberat satu hari SMRS sehingga pasien dilarikan ke rumah
sakit.Sebelumnya pasien tidak pernah sakit berat , tidak ada keluhan, dan dalam
keadaan sehat. Selain badan terasa lemas pasien juga mengeluh nyeri perut
terutama nyeri ulu hati yang terasa perih, satu bulan SMRS semakin memberat,
BAB hitam 2 hari, banyak disertai mual muntah satu kali isi makanan,serta nafsu
makan menurun tiga hari SMRS.

D. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit jantung (-), penyakit paru (-), penyakit ginjal (-),
penyakit liver (-), riwayat hipertensi (-), DM (-), kolesterol (-), alergi (-),asma (-)
.
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit jantung (-), penyakit paru (-), penyakit ginjal (-),
hipertensi (-), riwayat asma (-), riwayat alergi (-), keganasan (-).

F. Riwayat Kehidupan Pribadi dan Sosial Ekonomi


Pasien mengakui mempunyai kebiasaan sering telat makan, makan tidak
teratur, suka makan-makanan yang asam dan pedas, kadang jika badan pegal
suka minum jamu-jamuan. Riwayat minum obat-obatan penghilang nyeri atau
obat-obatan warung disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK ( Tanggal 22 Agustus 2019, pukul 14.00 WIB)


A. Keadaan Umum
Kesadaran : compos mentis
Kesan sakit : tampak sakit
Kesan Gizi : kurang
Sianosis :-
Ikterik :-
Dehidrasi :-
Ascites :-
Edema :-
Habitus :-
Mobilitas :pasif
Umur sesuai taksiran : sesuai umur
Cara berjalan :-
Cara berbaring/duduk : -
Sikap penderita : cukup kooperatif
Kondisi mental :-

B. Tanda Vital
Tekanan darah : 128/95 mmhg
Nadi : 76x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,8
Antropometri :-

C. Status Generalis
KEPALA : Normosefali, ubun-ubun besar sudah menutup

RAMBUT : Rambut hitam, lurus, lebat, distribusi merata dan tidak mudah dicabut
WAJAH : Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka atau jaringan parut
MATA :

Visus : tidak dilakukan Ptosis : -/-


Sklera ikterik : -/- Lagofthalmus : -/-
Konjungtiva anemis : +/+ Cekung : -/-
Exophthalmus : -/- Kornea jernih : +/+
Enophtalmus : -/- Strabismus : -/-
kornea jernih : +/+ Nistagmus : -/-
lensa jernih : +/+ Pupil : bulat, isokor
Refleks cahaya : langsung +/+ , tidak langsung +/+
TELINGA :
Bentuk : normotia Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/- Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : lapang Membran timpani: sulit dinilai
Serumen : -/- Refleks cahaya: sulit dinilai
Cairan : -/- Ruam merah : -/-
HIDUNG :
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : -/- Deviasi septum :-
Mukosa hiperemis : -/-
BIBIR : mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-), pucat (+)
MULUT : trismus (-), oral hygiene cukup baik, halitosis (-), gigi tidak diperiksa,
mukosa pipi berwarna merah muda, arcus palatum simetris dengan mukosa palatum
berwarna merah muda
LIDAH : tidak dilakukan
TENGGOROKAN : tidak dilakukan
LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak tampak dan
tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea tampak dan teraba di tengah
THORAKS :
 Jantung
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-) , gallop (-)
 Paru
Inspeksi : bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada pernafasan
yang tertinggal, pernafasan thorako-abdominal , pembesaran KGB aksila -/-, bagian dada
terdapat ruam (-).
Palpasi : gerak napas simetris kanan dan kiri, vocal fremitus sama kuat kanan dan
kiri.
Perkusi : sonor dikedua lapang paru.
Auskultasi : suara nafas vesikuler +/+, regular, ronkhi -/-, wheezing -/-
ABDOMEN :
 Inspeksi : perut datar, warna kulit sawo matang, ruam merah (-), kulit keriput (-),
umbilicus normal, gerak dinding perut saat pernapasan simetris, gerakan peristaltik (-)
 Auskultasi : bising usus (+)
 Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut, shifting dullness (-)
 Palpasi : supel, nyeri tekan (+) pada epigastrium,turgor kulit baik, hepar tidak teraba
membesar, lien tidak teraba membesar.
GENITALIA : tidak dilakukan
KELENJAR GETAH BENING:
Preaurikuler : tidak dilakukan
Postaurikuler : tidak dilakukan
Submandibula : tidak dilakukan
Supraclavicula : tidak dilakukan
Axilla : tidak dilakukan
Inguinal : tidak dilakukan
EKSTREMITAS :
Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, posisi tangan dan kaki, serta sikap
badan, tidak terdapat keterbatasan gerak sendi, akral hangat pada keempat ekstremitas,
sianosis (-), edema (-), capillary refill time < 2 detik.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Laboratorium (22 Agustus 2019)


Darah Rutin Kimia klinik
- Hb: 3,9 (N: 12-18) - SGOT: 9 (N:6-30)
- Hematokrit: 14,7 (N: 36-54) - SGPT: 6 (N: 7-32)
- Leukosit: 6800 - Alkali Fosfatase: 99 (N: 60-
- Trombosit: 587000 258)
- BUN: 11 (N: 8-23)
- Serum Kreatinin: 0,9 (N: 0,6-
0,9)
- Asam Urat: 5,9 (N: 2,4-5,7)
- Glukosa sewaktu: 131 (N:
100-170)
- Kolesterol Total: 144 (N:
<200)
- Kolesterol HDL: 26 (N: >45)
- Kolesterol LDL: 79 (N:
<150)
- Trigliserida: 193 (N: <200)

V. DIAGNOSIS
Anemia + Melena et causa susp. Gastritis erosif+dyspepsia

VI. TATALAKSANA AWAL (dari IGD tanggal 22 Agustus 2019 )


- IVFD NaCl 20 tpm
- Injeksi pantoprazole 2x1
- Injeksi Antrain 2x1
- Transfusi PRC 2 kolf per hari (hingga Hb 10 )
- Injeksi Lasix pre transfuse 1 amp
- Injeksi asam traneksamat 3x1
- Sucralfat syrup 3 x cth I

VII. FOLLOW UP
Tanggal S O A P
22/8/19 Nyeri ulu Kesadaran CMC, Anemia - Infus NaCl 20 tpm
hati+teras GCS 15 +Melena
- Injeksi pantoprazole 2x1
a perih TD: 113/61 Nd: et.c susp.
,blm BAB 89 RR: 24 T: 36 Gastritis - Injeksi Antrain 2x1
hari ini PF : erosif
- Transfusi PRC 2 kolf
-Konjungtiva +dyspepsia
anemis syndrom - Injeksi Lasix pre transfuse
Thorak:
- Injeksi asam traneksamat
vesicular, rh-/-,
wh-/-. Bunyi 3x1
jantung regular,
- Sucralfat syrup 3 x cth I
s1&s2.
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+), NT
epigastrium

LAB:
Hb: 3,9 (N: 12-
18)
Hematokrit: 14,7
(N: 36-54)

23/8/19 Nyeri Kesadaran CMC, dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm


syndrom
perut (-) GCS 15, TD: - Injeksi pantoprazole 2x1
perbaikan
99/56, HR 80x, +Anemia - Injeksi Antrain 2x1
Lemas(+)
+Melena
RR 20x, T: 36C - Injeksi Lasix pre transfuse
BAB et.c susp.
Gastritis - Injeksi asam traneksamat
Hitam Konjungtiva
erosif
3x1
(+)1X anemis
- Sucralfat syrup 3 x cth
Thorak:
Sulit tidur. vesicular, rh-/-, - Transfusi PRC ke 3,4
wh-/-. Bunyi
jantung dbn.

Abdomen:
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+), NT (-)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat

24/8/19 Nyeri Kesadaran CMC, dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm


syndrom
perut (-) GCS 15, TD: - Injeksi pantoprazole 2x1
perbaikan
119/74, HR 78x, +Anemia - Injeksi Antrain 2x1
Lemas(+)
+Melena
RR 20x, T: 36C - Injeksi Lasix pre transfuse
BAB et.c susp.
Gastritis - Injeksi asam traneksamat
Hitam 1x Konjungtiva
erosif
3x1
tapi anemis
- Sucralfat syrup 3 x cth I
sedikit (+) Thorak:
- Alganax 0,5mg 1x1
vesicular, rh-/-,
Sulit tidur (malam)
wh-/-. Bunyi
- Transfusi PRC ke 4
jantung dbn.
- Ca glukonas ½ amp post
Abdomen: transfuse
Abdomen: - PRC ke 5
distensi (-), - Lab DL
supel, timpani,
BU (+)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat

Hb: 7,7 (N: 12-


18)
Hematokrit: 25,6
(N: 36-54)
Leukosit: 7700
Trombosit:
424000

25/8/19 BAB Kesadaran CMC, dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm


Hitam (+) syndrom
GCS 15, TD: - Injeksi pantoprazole 2x1
2x. Makan perbaikan
dan 132/80, HR 73x, +Anemia - Injeksi Antrain 2x1
minum +Melena
RR 20x, T: - Injeksi Lasix pre transfuse
biasa. et.c susp.
36,8C Gastritis - Injeksi asam traneksamat
erosif
3x1
Konjungtiva
- Sucralfat syrup 3 x cth I
anemis
- Alganax 0,5mg 1x1
Thorak:
(malam)
vesicular, rh-/-,
- PRC ke 6
wh-/-. Bunyi
- Cek DL post transfusi
jantung dbn.
PRC ke 6
Abdomen:
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat
26/8/19 BAB Kesadaran CMC, dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm
syndrom
Hitam (+), GCS 15, TD: - Injeksi pantoprazole 2x1
perbaikan
cair 1x. 138/77, HR 89x, +Anemia - Injeksi Antrain 2x1
+Melena
Makan RR 20x, T: - Injeksi asam traneksamat
et.c susp.
dan 36,8C Gastritis 3x1
erosif
minum - Sucralfat syrup 3 x cth I
Konjungtiva
biasa. - Alganax 0,5mg 1x1
anemis
(malam)
Lemas (+) Thorak:
- Extra: dexametason ½
vesicular, rh-/-,
ampul + decadryl 1cc
wh-/-. Bunyi
jantung dbn.

Abdomen:
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat

Lab:

Hb: 9,3 (N: 12-


18)
Hematokrit: 29,6
(N: 36-54)
Leukosit: 7300
Trombosit:
351000
27/8/19 BAB Kesadaran CMC, dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm
syndrom
hitam (-), GCS 15, TD: - Injeksi pantoprazole 2x1
+Anemia
makan 132/78, HR 68x, +Melena - Injeksi Antrain 2x1
et.c susp.
minum RR 20x, T: 36C - Injeksi asam traneksamat
Gastritis
biasa, erosif 3x1
Konjungtiva
perbaikan
lemas (-) - Sucralfat syrup 3 x cth I
anemis -/-
- Alganax 0,5mg 1x1
Thorak:
(malam)
vesicular, rh-/-,
wh-/-. Bunyi
jantung dbn.

Abdomen:
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat

/Kesadaran dyspepsia - Infus NaCl 20 tpm


syndrom
CMC, GCS 15, - Injeksi pantoprazole 2x1
+Anemia
TD: 143/87, HR +Melena - Injeksi Antrain 2x1
et.c susp.
70x, RR 20x, T: - Injeksi asam traneksamat
Gastritis
36C erosif 3x1
perbaikan
- Sucralfat syrup 3 x cth I
Konjungtiva
- Alganax 0,5mg 1x1
anemis -/-
(malam)
Thorak:
vesicular, rh-/-,
wh-/-. Bunyi
jantung dbn.

Abdomen:
Abdomen:
distensi (-),
supel, timpani,
BU (+)

Ekstremitas:
edema (-), akral
hangat

29/8/19 Ps.merasa DBN dyspepsia - pantoprazole 2x1


syndrom
sudah - asam traneksamat 3x1
+Anemia
enakan +Melena - Sucralfat syrup 3 x cth I
et.c susp.
- Alganax 0,5mg 1x1
Gastritis
erosif (malam)
perbaikan
Pasien pulang

VIII. PROGNOSIS
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad functionam : dubia ad bonam
BAB II

PEMBAHASAN

Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien perempuan berusia 70 tahun. Pasien masuk ke

RS Ibnu Sina dengan diagnosis Anemia dan Melena.

Diagnosis klinis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Berdasarkan

anamnesis, didapatkan keluhan berupa lemas sejak 1 hari sebelum masuk Rumah sakit, nyeri ulu

hati sejak ±1 bulan yang hilang timbul, dan BAB hitam. Pada pemeriksaan lab ditemukan

penurunan HB (3,9) dan Hematokrit (14,7). Berdasarkan klinis pasien dan hasil lab maka pasien

didiagnosis dengan Melena dan Anemia.

Berdasarkan literature Melena biasanya akibat dari perdarahan saluran cerna bagian

atas, meskipun demikian perdarahan dari usus halus ataupun kolon bagian kanan juga dapat

menimbulkan melena. Berdasarkan anamnesis pasien diketahui memiliki gangguan lambung ±1

bulan. Dapat dicurigai masalah pada lambung sebagai penyebab perdarahan saluran cerna bagian

atas mengingat 25-30% penyebab tersering adalah gastritis erosive.1

Penatalaksanaan pada pasien diberikan IVFD NaCl 20 tpm, Injeksi pantoprazole 2x1,

Injeksi Antrain 2x1, Transfusi PRC 2 kolf per hari hingga Hb 10, Injeksi Lasix pre transfusi,

Injeksi asam traneksamat 3x1, Sucralfat syrup 3 x cth I. Penggunaan IVFD NaCl berguna untuk

menstabilkan hemodinamik pasien. Penggunaan penghambar pompa proton berupa pantoprazole

sesuai literatur untuk penyebab non varises.2 Penggunaan PPI dapat mengurangi produksi asam

lambung dan diharapkan mencegah kerusakan lebih lanjut. Antrain sebagai oains untuk

mengurangi gejala nyeri ulu hati yang diderita pasien.


Pada pasien terjadi penurunan kadar Hb sehingga diperlukan transfusi darah untuk

menaikkan nilai Hb. Pada pasien telah diberikan 6 kali transfusi yang menaikkan kadar Hb dari

3,9 pada awal rawatan menjadi 9,3 pada hari sebelum pasien pulang. Berdasarkan literatur, salah

satu target yang dapat digunakan adalah untuk menaikkan hematocrit 20-25%.2 Pada pasien

Hematokrit telah naik dari 14,7% menjadi 29,6%.

Penggunaan asam traneksamat di sini adalah untuk membantu mengurangi dan

menghentikan perdarahan yang ada pada saluran cerna bagian atas. Sedangkan sukralfat adalah

sebagai sitoprotektor. Penggunaan sukralfat sudah sesuai dengan literatur.2 Sukralfat bermanfaat

mengatasi jejas mukosa lambung dengan meningkatkan kadar faktor pertumbuhan fibroblas dan

memicu kenaikan prostaglandin di mukosa yang kemudian merangsang penyembuhan lesi di

mukosa.3
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Melena yaitu buang air besar berwarna hitam ter yang berasal dari saluran cerna bagian
atas. Yang dimaksud dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna di atas (proksimal)
dari ligamentum Treitz, mulai dari jejenum proksimal, duodenum, gaster dan esofagus.1

B. EPIDEMIOLOGI
Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) merupakan keadaan gawat darurat yang
sering dijumpai di tiap rumah sakit diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Perdarahan dapat
terjadi antara lain karena pecahnya varises esofagus ,gastritis erosif atau ulkus peptikum.
Delapan puluh persen dari angka kematian akibat perdarahan SCBA di bagian Ilmu Penyakit
Dalam FKUI/RSCM berasal dari pecahnya varises esofagus akibat penyakit sirosis hati dan
hepatoma. Berdasarkan laporan di SMF Penyakit Dalam RSU dr. Sutomo Surabaya, dari 1673
kasus perdarahan SCBA, penyebab terbanyak adalah 76,9% pecahnya varises esofagus, 19,2%
gastritis erosif, 1,0% tukak peptikum, 0,6% kanker lambung dan 2,6% karena sebab-sebab lain.
Laporan dari RS Pemerintah di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta urutan 3 penyebab terbanyak
perdarahan SCBA sama dengan di RSU dr. Sutomo.3 Sedangkan laporan dari RS Pemerintah di
Ujung Pandang menyebutkan tukak peptikum menempati urutan pertama penyebab SCBA.
Laporan kasus di RS Swasta yakni RS Darmo Surabaya perdarahan karena tukak peptikum
51,2%, gastritis erosif 11,7%, varises esofagus 10,9%, keganasan 9,8%, esofagitis 5,3%, sindrom
Mallori-Weiss 1,4%, tidak diketahui 7%, dan penyebab-penyebab lain 2,7%. Di negara barat
tukak peptikum menempati urutan pertama penyebab perdarahan SCBA dengan frekuensi sekitar
50%.2

C.DIAGOSIS
Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat bermanifestasi sebagai hematemesis, melena
atau keduanya. Dalam anamnesis yang perlu ditekankan adalah : 1). Sejak kapan terjadinya
perdarahan dan berapa perkiraan darah yang keluar, 2). Riwayat perdarahan sebelumnya, 3).
Riwayat perdarahan dalam keluarga, 4). Ada tidaknya perdarahan di bagian tubuh lain, 5).
Riwayat penggunaan obat-obatan NSAIDs dan anti koagulan, 6). Kebiasaan minum alkohol, 7).
Mencari kemungkinan adanya penyakit hati kronik, demam berdarah, demam tifoid, gagal ginjal
kronik, diabetes melitus, hipertensi, alergi obat-obatan, 8). Riwayat transfusi sebelumnya.
Pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan penyebab perdarahan, seperti sirosis, anemia, akral
dingin dan sebagainya. Status hemodinamik saat masuk ditentukan dan dipantau karena hal ini
akan mempengaruhi prognosis. Untuk keperluan klinik, maka harus dibedakan apakah
perdarahan berasal dari varises esofagus dan non-varises, karena antara keduanya terdapat
ketidaksamaan dalam pengelolaan dan prognosisnya. Untuk membedakan apakah perdarahan
yang terjadi berasal dari saluran cerna bagian atas atau bawah dapat dilakukan cara praktis yaitu
sebagai berikut 3 :

Perbedaan Perdarahan SCBA Perdarahan SCBB


Manifestasi klinis pada Hematemesis dan/ melena hematoskezia
umumnya
Aspirasi nasogastrik Berdarah Jernih
Rasio (BUN/Kreatinin) Meningkat >35 <35
Auskultasi usus Hiperaktif Normal

D.SARAN DIAGNOSTIK

Sarana diagnostik yang biasa digunakan pada kasus perdarahan saluran cerna ialah
endoskopi gastrointestinal, radiografi dengan barium, radionuklid, dan angiografi. Pada semua
pasien dengan tanda-tanda perdarahan saluran cerna bagian atas atau yang asal perdarahannya
masih meragukan pemeriksaan endoskopi SCBA merupakan prosedur pilihan. Dengan
pemeriksan ini sebagian besar kasus diagnosis penyebab perdarahan bisa ditegakkan. Selain itu
dengan endoskopi bisa juga dilakukan upaya terapeutik. Bila perdarahan masih tetap berlanjut
atau asal perdarahan sulit dididentifikasi perlu pertimbangan pemeriksaan dengan radionuklid
atau angiografi yang sekaligus bisa digunakan untuk menghentikan perdarahan. Tujuan
pemeriksaan endoskopi selain menemukan penyebab serta asal perdarahan, juga untuk
menentukan aktivitas perdarahan. Forest membuat klasifikasi perdarahan tukak peptikum atas
dasar temuan endoskopi yang bernmanfaat untuk menentukan tindakan selanjutnya.3
Tabel . klasifikasi aktivitas perdarahan tukak peptik menurut Forest
Aktivitas Perdarahan Kriteria Endoskopi
Forest 1a: perdarahan aktif Perdarahan arteri menyembur
Forest 1b : perdarahan aktif Perdarahan merembas
Forest 1c : perdarahan berhenti dan masih Gumpalan darah pada dasar tukak atau
terdapat sisa-sisa perdarahan terlihat pembuluh darah
Forest 1d : perdarahan berhenti tanpa sisa- Lesi tanpa tanda sisa perdarahan
sisa perdarahan

Terapi endoskopi dibagi atas modalitas, yaitu terapi topikal, terapi mekanik,terapi injeksi,
dan terapi termal. Pada terapi mekanik digunakan hemoklip untuk menjepit tempat perdarahan
atau melalui kabel elektrokauter. Teknik pengikatan dengan rubber band banyak digunakan
dalam proses pengikatan varises.2

E. PENATALAKSAAN
Langkah resusitasi berupa pemasangan jalur intravena dengan cairan fisiologis, bila perlu
transfusi PRC, darah lengkap (whole blood) dan FFP. Tindakan yang paling sederhana untuk
menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas adalah bilas lambung dengan air es melalui
pipa nasogastrik. Pemasangan pipa nasogastrik dikerjakan melalui lubang hidung pasien,
kemudian dilakukan aspirasi isi lambung. Bila pada aspirasi terdapat darah, selanjutnya
dilakukan bilas lambung dengan air es sampai isi lambung tampak bersih dari darah atau tampak
lebih jernih warnanya. Tindakan tersebut disebut gastric spooling. Ada 5 manfaat dari tindakan
ini, yaitu :
1. Tindakan diagnostik dan pemantauan apakah perdarahan masih berlangsung terus atau tidak.
2. Menghentikan perdarahan (efek vasokontriksi dari es)
3. Memudahkan pemberian obat-obatan oral ke dalam lambung.
4. Membersihkan darah dari lambung untuk mencegah koma hepatik.
5. Persiapan endoskopi.
Bilas lambung juga dapat dilakukan dengan menggunakan air suhu kamar. Berdasarkan
percobaan pada hewan, kumbah lambung dengan air es kurang menguntungkan, waktu
perdarahan jadi memanjang, perfusi dinding lambung menurun, dan bisa timbul ulserasi pada
mukosa lambung. Pada perdarahan saluran cerna ini dianggap terdapat gangguan hemostasis
berupa defisiensi kompleks protrombin sehingga diberikan vitamin K parenteral dan bila diduga
terdapat fibrinolisis sekunder dapat diberikan asam traneksamat parenteral. Produksi asam
lambung yang meningkat karena stress fisik maupun psikis ditekan dengan pemberian antasida
dan antagonis reseptor H2 (ranitidine, famotidine, atau roksatidine). Antasid diharapkan
bermanfaat untuk menekan asam lambung yang sudah berada di lambung sedangkan antagonis
reseptor H2 untuk menekan produksi asam lambung. Selain itu dengan pertimbangan bahwa
proses koagulasi atau pembentukan fibrin akan terganggu oleh suasana asam, maka diberikan
antisekresi asam lambung, mulai dari antagonis reseptor H2 sampai penghambat pompa proton
(omeprazole, lansoprazole, pantoprazole). Di samping itu terdapat obat-obatan yang bersifat
meningkatkan defense mukosa (sukralfat) yang dapat dipakai sebagai regimen alternatif.
Pemberian obat yang bersifat vasoaktif akan mengurangi aliran darah splanknikus sehingga
diharapkan proses perdarahan berkurang atau berhenti. Dapat dipakai vasopresin, somatostatin,
atau okreotid. Vasopresin bekerja sebagai vasokonstriktor pembuluh splanknik, sedangkan
somatostatin dan okreotid melalui efek menghambat sekresi asam lambung dan pepsin,
menurunkan aliran darah di lambung, dan merangsang sekresi mukus lambung.2 Pemasangan
Sengstaken-Blakemore tube (SB tube) dapat dikerjakan pada kasus yang diduga terdapat varises
esofagus. SB tube terdiri dari 2 balon (lambung dan esopfagus). Balon lambung berfungsi
sebagai jangkar agar SB tube tidak keluar saat balon esofagus dikembangkan. Balon esofagus
tersebut secara mekanik menekan langsung pembuluh darah varises yang robek dan berdarah.
Balon SB tube memiliki 3 lumen, yaitu untuk balon lambung, balon esofagus, dn untuk
memasukkan obat-obatan atau makann ke dalam lambung atau untuk membilas lambung dengan
air es. Komplikasi yang dapat terjadi adalah pneumonia aspirasi, kerusakan esofagus, dan
obstruksi jalan napas.3
DAFTAR PUSTAKA

1. Panduan Praktis Klinik Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat


Pertama. (2017).2end ed.Jakarta : Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, pp 87-88.
2. Penatalaksanaa di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Dalam Panduan Praktis Klinis
(2016).3rd.ed.Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam.
3. Surdea-Blaga T, Bancila I, Dobru D, Drug V, Fratila O, Goldis A, et al. Mucosal
protektif coumpounds in the treatment of gastroesophageal reflux disease. A position
paper based on evidence of the Romanian society of neurogastroenterology. J
Gastrointest Liver Dis. 2016;25(4):537-46.