Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHASAN
4.2. Protektiva Demulsensia
Hasil Pengamatan Penggunaan Protektiva Demulsensia
Tabel 1. Pemberian Asam sulfat tanpa penambahan Gom Arab
Bahan Hasil Pengamatan Keterangan
H2SO4 1/75 N +++ Bereaksi nyeri, waktu 1 detik
H2SO4 1/50 N ++ Bereaksi nyeri, waktu 3 detik
H2SO4 1/10N + Bereaksi nyeri, waktu 7 detik

Tabel 2. Pemberian Asam Sulfat dengan penambahan Gom Arab


Bahan Hasil Pengamatan Keterangan
H2SO4 1/75 N + Gom Arab 10% ++ Bereaksi nyeri, 2 detik
H2SO4 1/50 N + Gom Arab 10% - Tidak bereaksi
H2SO4 1/10N + Gom Arab 10% - Tidak Bereaksi

Protektiva merupakan salah satu senyawa kimia yang bekerja secara lokal selain
iritansia dan depilator. Protektiva berlawanan dengan senyawa iritansia. Apabila senyawa
iritansia merusak jaringan, maka protektiva melindungi kulit dan atau mukosa terhadap daya
kerja iritansia baik secara kimiawi maupun yang berupa sinar.

Berdasarkan cara kerjanya, protektiva dibagi menjadi protektiva demulsensia,


emoliensia, astrigensia, dan adsorbensia. Demulsensia merupakan senyawa yang dapat
memberikan perlindungan mukosa dan kulit, emoliensia merupakan senyawa yang dapat
melindungi kulit, astrigensia dapat mempresipitasi sel sedangkan adsorbensia bekerja dengan
cara pengikatan pada permukaan molekul.

Pada praktikum kali ini, digunakan katak spesies Fejervarya cancrivora untuk
mengamati daya kerja protektiva demulsensia. Pertama-tama dilakukan terlebih dahulu
pengamatan terhadap reaksi katak ketika diberi larutan iritansia, yaitu larutan asam sulfat
dengan berbagai konsentrasi sebagai kontrol pembanding dengan katak yang diberikan larutan
protektiva. Asam sulfat merupakan asam kuat yang termasuk ke dalam senyawa iritansia yang
kuat. Pada praktikum kali ini, kaki katak direndam dalam petri dish yang di dalamnya terdapat
larutan asam sulfat.

Kulit dapat berhubungan dengan beberapa agen toksik. Kulit memiliki membran yang
tidak permeabel yang memisahkan tubuh makhluk hidup dengan lingkungannya.
Bagaimanapun, beberapa zat kimia dapat diserap oleh kulit dalam jumlah-jumlah yang cukup
untuk menghasilkan efek-efek sistemik. Supaya toksikan diserap melalui kulit, zat kimia itu
harus menembus sel-sel epidermis, sel-sel kelenjar keringat, atau kelenjar-kelenjar sebacea,
atau masuk melalui follikel-follikel rambut. Meskipun jalan folikel membolehkan masuknya
sejumlah kecil toksikan dengan segera, kebanyakan zat kimia menembus sel-sel epidermis,
yang menyusun daerah permukaan yang besar dari kulit. Salah satu zat kimia yang dapat
diabsorpsi melalui kulit adalah larutan asam sulfat.

Fase pertama penyerapan larutan asam sulfat melalui kulit adalah difusi toksikan
melalui epidermis, dan dalam daerah ini beradanya rintangan yang membatasi kecepatan
penyerapan toksikan-toksikan melalui kulit. Secara lebih khusus rintangan itu adalah stratum
Corneum-membran multiselluler, kohesif dan tipis yang terdiri dari lapisan permukaan yang
mati dari kulit. Proses yang rumit ini secara garis besar meliputi dehidrasi dan polimerisasi dari
bahan-bahan intraseluler yang akhirnya menghasilkan satu lapisan sel yang kering, yang secara
biologis inaktif, dan berisi keratin. Dalam peristiwa keratinisasi ini, dinding-dinding sel
menebal dua kali dikarenakan penglihatan atau pendepositoan bahan-bahan yang tahan secara
kimia. (Mansyur,2002)

Ketika kaki katak menyentuh larutan asam sulfat maka akan terlihat reaksi katak berupa
mengangkat kakinya untuk menghindari sumber rasa nyeri. Reaksi katak yang mengangkat
kakinya untuk menghindari sumber rasa nyeri berbeda-beda kecepatannya sesuai konsentrasi
asam sulfat di dalam petri dish. Semakin besar konsentrasi asam sulfat, semakin cepat katak
mengangkat kakinya.

Asam sulfat dapat mengiritasi jaringan dan bersifat korosif. Mekanisme toksisitas asam
kuat seperti asam sulfat adalah dengan menghasilkan nekrosis koagulasi karena efeknya
terhadap protein. Ketika disentuhkan ke dalam larutan asam sulfat, terlihat vasodilatasi
pembuluh darah pada kaki katak. Asam sulfat merupakan cairan tidak berwarna dan amat
korosif, Bereaksi hebat dengan air dan mengeluarkan panas (eksotermis). Umumnya asam kuat
bersifat merusak, sifat ini disebabkan oleh sifat ion negatifnya yang mudah berikatan dengan
ion positif dari suatu logam. Asam sulfat dapat mengakibatkan kerusakan jaringan ketika
kontak dengan kulit dan mukosa. Mukosa atau kulit akan terasa terbakar sehingga katak
merasakan sakit.
Vasodilatasi pada kaki katak

Selanjutnya dilakukan perlakuan kedua, yaitu merendam kaki katak dengan larutan
asam sulfat yang telah ditetesi oleh gom arab 10%. Larutan Gom Arab merupakan salah satu
contoh dari senyawa protektiva dengan daya kerja sebagai demulsensia. Demulsensia
merupakan senyawa kimia yang merupakan cairan koloid dengan air.

Gom arab pada dasarnya merupakan serangkaian satuan-satuan D-galaktosa, L-


arabinosa, asam D-galakturonat dan L-ramnosa. Gom arab mempunyai gugus arabinogalactan
protein (AGP) dan glikoprotein (GP) yang berperan sebagai agen pengemulsi, pengikat,
penstabil dan pelindung. Gom arab berasal dari tanaman akasia.

Gom arab ini berfungsi sebagai pelindung kulit dan mukosa dari daya kerja iritansia,
dalam hal ini adalah asam sulfat. Gom arab merupakan bahan pengental emulsi yang efektif
karena kemampuannya melindungi koloid. Ia bekerja sebagai agen pengikat serta pelindung.
Gom arab digunakan karena sifatnya membentuk film yang dapat membungkus partikel.

Pada perendaman dengan menggunakan larutan asam sulfat 1/75 N yang ditambah
dengan larutan gom arab, reaksi katak mengangkat kakinya dengan masih teramati. Hal ini
terjadi karena belum terjadi reaksi perlindungan dari larutan gom arab. Larutan Gom Arab
membutuhkan waktu untuk bekerja. Ketika dilakukan perendaman dengan konsentrasi asam
sulfat lainnya yang telah diberi penambahan larutan gom arab, katak tidak mengangkat
kakinya. Hal ini menunjukkan bahwa larutan gom arab sudah bekerja sebagai protektiva.