Anda di halaman 1dari 11

Jurnal BK UNESA.

Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

STUDI KASUS DINAMIKA PSIKOLOGIS KONFLIK INTERPERSONAL SISWA


MERUJUK TEORI SEGITIGA ABC KONFLIK GALTUNG DAN KECENDERUNGAN
PENYELESAIANNYA PADA SISWA KELAS XII JURUSAN MULTIMEDIA (MM) DI
SMK MAHARDHIKA SURABAYA

STUDY OF PSYCHOLOGICAL DYNAMICS INTERPERSONAL CONFLICT


REFERENCE FROM GALTUNG ABC TRIANGLE CONFLICT AND RESOLUTION
CONFLICT METHOD BY THE DEPARTMENT OF MULTIMEDIA CLASS XII SMK
MAHARDHIKA SURABAYA
Refia Juniarti Hendrastin
Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,
email: rephiajuniarti@gmail.com

Budi Purwoko, S.Pd., M.Pd.


Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya
email: budiwoko@gmail.com

ABSTRAK

Fenomena maraknya konflik yang terjadi pada pelajar menjadi latar belakang dari penelitian ini.
Berdasarkan data dari hasil angket studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa seluruh siswa dari
kelas XII MM SMK Mahardhika Surabaya yang berjumlah 177 siswa pernah mengalami konflik
interpersonal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dinamika psikologis siswa
ketika menghadapi konflik interpersonal dengan pihak lawan yang ditinjau dari ketiga aspek dalam
teori segitiga ABC konflik Galtung dan cara penyelesaiannya. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan menggunakan teknik studi kasus. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari
reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data yang hasilnya dijabarkan dalam bentuk deskriptif.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Subyek
dalam penelitian ini adalah 6 siswa dari jumlah keseluruhan siswa kelas XII MM yaitu 177 siswa
dengan masing-masing konflik yang berbeda konteks. Dengan berbedanya konteks permasalahan,
siswa yang mengalami konflik tersebut memiliki sikap dan perilaku yang berbeda-beda dalam
menghadapi konflik. Sesuai dengan teori segitiga ABC konflik Galtung yang terdapat tiga aspek yaitu
kontradiksi, sikap, dan perilaku menimbulkan pengaruh siswa terhadap cara penyelesaian konflik
interpersonal yang dialaminya. Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “Setiap
siswa memiliki gambaran dinamika psikologis yang berbeda-beda ketika menghadapi konflik. Selain
itu, dari dinamika psikologis tersebut menimbulkan pengaruh terhadap cara siswa dalam
menyelesaikan konflik yang dialami”.

Kata Kunci: dinamika psikologis, teori segitiga ABC konflik Galtung, cara penyelesaian konflik
interpersonal.

ABSTRACT

The glow of phenomenon conflict in the students is the background from this research. The results
from the preliminary study question showed that all students of class XII Mutimedia SMK Mahardhika
Surabaya totaling 177 have experienced interpersonal conflict. The purpose of this research is to find
out the description of psychological dynamics interpersonal conflict reference from the ABC triangle
conflict Galtung’s theory when the students was facing an interpersonal conflict and make a
resolution conflict method. This research is qualitative research with case study technique. Data
collection method used deep interview and observation. The data analysis consists of data reduction,
data presentation, drawing conclusion and verification which results are outlined in the descriptive
form. While the method of data validity or credibility used member check. The subjects in this
research is 6 students from totaling 177 students of class XII MM they have a different coflict. With
their own conflict, they had differences an attitude and behavior. It’s agree with the three aspects

364
Studi Kasus Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa Merujuk
Teori Segitiga Abc Konflik Galtung
from theory of ABC Triangle from Galtung contradiction, attitudes, and behavior will posses the
students to solution the conflict. Thus, every students have their own psychological dinamycs of
interpersonal conflict. Furthermore, from that psychological dynamics will governed of students to
solution their conflict.

Keywords : psychological dynamics, Galtung ABC triangle conflict theory, interpersonal conflict
resolution method.

PENDAHULUAN Konflik yang akhir-akhir ini yang sering


Manusia sebagai makhluk sosial selalu terjadi adalah konflik sosial. Indonesia yang
berhubungan dengan orang lain dalam hal apa pun. memiliki ragam agama, suku, dan kebudayaan
Sebagai makhluk sosial, artinya bahwa secara dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing
kodrati sejak dilahirkan manusia tidak dapat hidup justru memiliki konflik yang berujung pada
sendirian, melainkan memerlukan pertolongan kekerasan hingga kematian. Berdasarkan data yang
orang lain di lingkungannya. Manusia sebagai dimiliki Kemendagri, jumlah konflik sosial yang
makhluk sosial, tidak dapat hidup secara individu, telah terjadi di Indonesia pada 2010 sebanyak 93
melainkan selalu berkeinginan untuk tinggal kasus. Kemudian menurun pada 2011 menjadi 77
bersama sekaligus menjalin hubungan dengan kasus. Namun kemudian meningkat pada 2012
individu-individu lainnya dan saling memerlukan menjadi 128 kasus, dan pada tahun 2013 hingga
satu dengan yang lainnya (Soeranto, 2011). Namun awal bulan September sebanyak 53 peristiwa
dari hubungan tersebut tidak selalu antar satu konflik (Afrido, 2013). Konflik yang paling banyak
dengan yang lainnya memiliki pendapat yang tidak terjadi adalah karena adanya perbedaan etnis, ras,
sama. Perbedaan atau pertentangan sering ada dalam agama, dan kebudayaan. Beberapa daerah konflik
masyarakat mengingat adanya perbedaan dan yang pernah terjadi di Indonesia, di antaranya: Poso,
keunikan masing-masing individu. Pertentangan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, dan
yang terjadi tersebut disebut dengan konflik. Maluku Utara.
Menurut Galtung (dalam Nursalim & Tidak kalah banyak dan pentingnya juga
Purwoko, 2009), konflik merupakan penyebab dengan konflik sosial, konflik pada tingkat sekolah
niscaya bagi kekerasan, karena dibalik setiap atau pelajar yang pada umunya dialami pada masa
kekerasan merupakan penyebab dari konflik yang remaja. Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan
belum terselesaikan. Budaya kekerasan berfokus yang bersifat peralihan dan tidak mantap. Menurut
pada anggapan bahwa konflik sebagai perusak atau Stanley Hall (dalam Santrock, 2002), menganggap
penghancur. Konflik dianggap sebagai pergulatan bahwa masa remaja sebagai masa topan-badai dan
yang baik dan jahat, kemenangan dan kekalahan, stres (storm and stres), karena mereka telah
keuntungan dan kerugian. Johan Galtung (http://id. memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib
scribd.com/doc/65634253/Teori-Konflik, diakses sendiri. Hal ini terbukti dengan adanya kasus
pada 18 Februari 2013), juga memberikan pendapat tawuran antara siswa SMK Budi Murni dan SMK
bahwa konflik memiliki dua pengertian, yang Pelayaran. Konflik ini dipicu karena adanya aksi
pertama konflik sebagai benturan fisik dan verbal saling ledek sehingga menyebabkan pertikaian
dimana akan muncul penghancuran. Dan pengertian (http://www. megapolitan.kompas.com, diakses
yang kedua, konflik diasumsikan sebagai pada tanggal 31 Januari 2014). Hal serupa juga
sekumpulan permasalahan yang menghasilkan ditemukan di SMA 90 Jakarta, Jakarta Selatan.
penyelesaian yang merupakan penciptaan baru. Mengenai kasus penganiayaan yang dilakukan oleh
Seiring berjalannya waktu telah terjadi siswa kelas 3 SMA terhadap kelas 1 SMA dengan
modernisasi dalam pola pikir masyarakat, sehingga cara push up, membuka baju, dan ditampar
membuat masyarakat berfikir lebih rasional dan (http://www.detik news.com, diakses pada tanggal
kritis dalam menanggapi setiap permasalahan yang 31 Januari 2014). Bullying atau penganiayaan yang
ada. Hal ini mengakibatkan perbedaan pola pikir terjadi dapat dipastikan karena adanya konflik
setiap orang. Perbedaan tersebut sering interpersonal. Berdasarkan dua kasus di atas dapat
mengakibatkan konflik antar sesama. Dizaman disimpulkan bahwa konflik yang terjadi di SMA
modernisasi sekarang ini, konflik merupakan bagian diselesaikan dengan cara penganiayaan dan
yang akan selalu melekat dan muncul dari perkelahian.
kehidupan masyarakat. Dirumah, lingkungan kerja, Komisi Nasional Perlindungan Anak
atau pergaulan sehari-hari maupun diranah (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran
pendidikan pun terdapat konflik khususnya antarpelajar sepanjang tahun 2013 terjadi sebanyak
dikalangan pelajar. Namun saat ini manusia selalu 255 kasus tawuran. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi
mengidentikan konflik sebagai hal buruk yang daripada kasus tawuran pelajar pada 2012, yakni
selalu menimbulkan kekerasan sehingga banyak 147 kasus. Kasus tawuran tersebut dilakukan siswa,
orang yang menghindari. baik di tingkat SMP dan SMA. Dari seluruh kasus

365
Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

tawuran yang terjadi pada 2013 tercatat 20 anak interpersonal. Dan dari hasil angket tersebut
meninggal dunia, sedangkan ratusan lainnya didapatkan hasil bahwa dari jumlah siswa kelas XI
mengalami luka berat dan luka ringan (Munthe, MM sebanyak 177 siswa, semuanya pernah
2013). mengalami konflik interpersonal (untuk lebih
Berdasarkan beberapa fenomena di atas jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 5).
dapat diketahui bahwa konflik itu beragam atau Berdasarkan data inilah peneliti menentukan lokasi
bermacam-macam. Macam-macam konflik tersebut, penelitian.
antara lain: konflik intrapersonal, konflik Dalam perihal konflik, pada tahun 1960 studi
interpersonal, konflik intragroup, konflik perdamaian di Norwegia Galtung membuat konsep
intergroup, konflik antarorganisasi, dan konflik teori konflik dengan membuat Segitiga konflik ABC
antarnegara (dalam Walgito, 2007). Konflik Galtung yang menggambarkan aspek-aspek kunci
interpersonal adalah suatu situasi interpersonal dalam berlangsunnya konflik. Johan Galtung
dimana tindakan-tindakan atau tujuan dari (http://en.wikipedia.org/wiki/JohanGaltung, diakses
seseorang terganggu atau terhambat/terhalangi oleh pada tanggal 7 Mei 2013) adalah seorang sosiolog
orang lain, yang biasanya terjadi akibat dan ahli matematika dari Norwegia yang
pertentangan kepentingan (interest) atau menemukan prinsip mengenai studi konflik dan
ketidaksepakatan pendapat (Dayakisni & Hudaniah, Konflik interpersonal yang terjadi berawal dari
2009: 163). Contoh konflik interpersonal yang adanya pertentangan baik pandangan, tindakan,
terjadi pada siswa, antara lain: konflik dengan maupun komunikasi yang berujung dengan
teman, konflik dengan lawan jenis, konflik dengan kesalahpahaman. Adapun cara siswa dalam
guru, konflik dengan orang tua, konflik dengan merespon atau menyelesaikan konflik. Sebagian
sanak keluarga, dan konflik dengan selainnya. dari mereka ada yang hanya membiarkan saja,
Berdasarkan pengalaman pada saat PPL II menggosip dibelakang, atau dengan menantang
yang dilakukan pada bulan Juli-September 2012 di sehingga muncul percekcokan mulut antar dua kubu
SMAN 17 Surabaya, terindentifikasi adanya hingga memunculkan pertengkaran. Dari pihak
beberapa siswa yang yang memiliki konflik sekolah, umumnya menggunakan cara tradisional
interpersonal dengan teman sebayanya, pacar, yaitu dengan memberikan hukuman (punishment).
bahkan tidak jarang pula yang memiliki konflik Menurut Johson (dalam Nursalim & Purwoko,
dengan orang tuanya. Menurut siswa yang 2009) banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa
mengalami konflik dengan temannya, konflik pemberian hukuman (punishment based) tidak dapat
tersebut muncul dikarenakan adanya perbedaan memecahkan konflik interpersonal pada siswa
pendapat dan adanya sikap yang tidak dengan hasil positif yang ditunjukkan oleh
menyenangkan dari temannya. Sehingga yang peningkatan perilaku positif dari siswa.
awalnya dapat diselesaikan dengan musyawarah Dalam teori konflik yang dibawa Galtung
atau baik-baik menjadi saling membicarakan atau (2000) terdapat aspek-aspek kunci dalam konflik,
saling mengejek dibelakang dan berdampak pada meliputi Attitude (sikap), Behavior (perilaku), dan
hubungan mereka yang semakin tidak baik. Contradiction (kontradiksi) serta dirumuskan
Sedangkan yang memiliki konflik pada orang tua, menjadi : Conflict (konflik) = Attitude (sikap) +
konflik muncul dikarenakan orang tua yang selalu Behavior (perilaku) + Contradiction (kontradiksi).
menuntut agar permintaan orang tua selalu dituruti Dari rumusan tersebut Galtung menjelaskan bahwa
tanpa melihat perasaan atau keinginan si anak. konflik terjadi berdasarkan tiga aspek kunci, yaitu A
Peneliti juga melakukan wawancara dengan yang diambil sebagai istilah dari aspek Attitude
guru BK pada tanggal 18 Februari 2013 di SMK (sikap) menggambarkan perasaan dan cara berpikir
Mahardhika Surabaya sebagai tempat penelitian seseorang dalam konflik. Lalu B diambil dari istilah
yang dipilih oleh peneliti. Dari hasil wawancara aspek Behavior (perilaku) menggambarkan ekspresi
tersebut didapatkan data bahwa dalam kurun waktu atau perilaku seseorang ketika konflik berlangsung.
satu bulan terdapat sekitar 4 (empat) hingga 6 Dan C yang diambil sebagai istilah dari aspek
(enam) siswa SMK Mahardhika yang diketahui Contradiction (kontradiksi) yaitu pertentangan
memiliki konflik interpersonal. Guru BK tajam yang muncul. Ketiga aspek tersebut saling
menuturkan bahwa banyak siswa dari kelas XI dan berpengaruh pada saat terjadinya konflik dan
XII memiliki konflik interpersonal antar geng siswa, menimbulkan bagaimana kecenderungan seseorang
antar guru dengan siswa, dan antar siswa dengan mecari solusi atau menyelesaikan konflik.
orang tuanya. Hal tersebut juga ada yang Dari teori Galtung, peneliti melihat bahwa
memunculkan pertengkaran. Menurut Guru BK teori ini sesuai untuk melihat dinamika psikologis
konflik dipicu oleh adanya sifat pada siswa yang siswa ketika menghadapi konflik interpersonal. Hal
selalu merasa pandangannya benar dan sikap tersebut dikarenakan dari ketiga komponen atau
menentang serta pergaulan yang kurang baik. aspek dalam konflik dapat melihat lebih dalam dari
Setelah peneliti mendapatkan informasi dari Guru segi psikologis yang dalam penelitian ini disebut
BK, peneliti melakukan studi pendahuluan dengan dinamika psikologis bagaimana seseorang ketika
menyebarkan angket studi pendahuluan konflik mengalami konflik. Selain itu, dari rangkaian aspek

366
Studi Kasus Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa Merujuk
Teori Segitiga Abc Konflik Galtung

dalam dinamika psikologis tersebut mempengaruhi atau solusi siswa dalam memberi solusi konflik
siswa dalam penyelesaian konflik yang dialami. interpersonal berdasarkan dinamika psikologis.

Berdasarkan data-data tersebut menunjukkan Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa


bahwa penelitian ini penting dilakukan karena Merujuk Teori Segitiga ABC Konflik Galtung
banyaknya kasus konflik interpersonal pada siswa Menurut Johnson & Johnson (dalam
namun belum ada penanganan atau penyelesaian Dayakisni, 2009), James A.F. Stoner & Charles
yang tepat baik dari guru BK atu siswa yang Wankel (dalam Lagarense, 2012) dan Walgito
mengalami konflik interpersonal. Selain itu, belum (2007) didapatkan suatu kesimpulan bahwa konflik
banyak yang melakukan penelitian mengenai interpersonal adalah suatu kondisi dimana terdapat
dinamika psikologis dalam konflik interpersonal ini. dua orang atau lebih yang memiliki perbedaan
Peneliti ingin mengungkap gambaran dinamika pendapat atau tujuan dan saling bertentangan
psikologis siswa dalam menghadapi konflik sehingga dapat menghambat pencapaian tujuan
interpersonal yang nantinya berpengaruh pada cara dengan adanya perilaku yang antagonis.
penyelesaian yang dilakukan siswa. Selain itu, Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
pentingnya penelitian ini adalah banyaknya guru dinamika diartikan sebagai gerak atau kekuatan
BK yang tidak melihat bagaimana dinamika secara terus menerus yang dimiliki sekumpulan
psikologis siswa ketika menangani kasus konflik orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan
interpersonal pada siswa. Selama ini, guru BK perubahan dalam tata hidup masyarakat tersebut.
hanya melihat sebab-akibatnya saja dan dengan cara Menurut Santoso (dalam Rusmana, 2009), dinamika
penanganan memberi hukuman dan memberi adalah adanya interaksi dan interdependensi antara
nasehat kepada siswa yang memiliki konflik anggota kelompok yang satu dengan anggota
interpersonal. kelompok secara keseluruhan. Dari pengertian di
Penelitian ini menggambarkan dinamika atas dapat disimpulkan bahwa dinamika adalah
psikologis individu dan kecenderungan seseorang gerakan dan interaksi yang dimiliki seseorang atau
dalam menangani konflik interpersonal. Terdapat suatu kelompok.
dua pengelompokan kecenderungan persepsi Sedangkan psikologis berasal dari kata
seseorang yang membentuk sikap dan tingkah laku dasar psikologi. Psikologi merupakan suatu ilmu
merespon konflik yang sedang terjadi yaitu persepsi yang berkaitan dengan kondisi jiwa seseorang.
kompetitif dan persepsi kooperatif. Persepsi Menurut Simamora (http://www.carapedia.com/
kompetitif melahirkan sikap menentang dengan pengertianpsikologis.html, diakses pada tanggal 29
respon konflik mengalahkan yang lain (paradigm Februari 2013 ), Psikologis merupakan faktor yang
menang-kalah). Sedangkan persepsi kooperatif berasal dari dalam individu seseorang dan unsur-
melahirkan sikap kerjasama dengan respon konflik unsur psikologis ini meliputi motivasi, persepsi,
kompromi maupun kolaborasi (paradigma menang- kepribadian, memori, emosi, kepercayaan, dan
menang). Sehingga dari persepsi tersebut dapat sikap. Menurut Nursalim & Purwoko (2009),
melahirkan solusi yang berbentuk respon konflik dinamika psikologis adalah proses dan suasana
konstruktif atau destruktif. Respon konflik kejiwaan internal individu dalam menghadapi dan
konstruktif tertuju pada persepsi yang kompetitif mensolusi konflik yang dicerminkan oleh
dan cenderung menyelesaikan konflik dengan cara pandangan atau persepsi, sikap dan emosi, serta
musyawarah bersama. Sebaliknya, respon konflik perilakunya.
destruktif tertuju pada persepsi kooperatif dimana Dalam setiap peristiwa atau permasalahan
individu menyelesaikan konflik dengan cara yang sedang dialami oleh individu selalu faktanya
bertengkar atau menggunakan kekerasan. selalu berhubungan dengan kondisi dinamika
Dari beberapa latar belakang tersebutlah psikologis individu tersebut. Hal tersebut
peneliti mengharapkan bahwa dengan adanya dikarenakan dalam dinamika psikologis ini terdapat
penelitian ini, guru BK maupun siswa dapat melihat gerakan kejiwaan individu yang pada intinya
konflik bukan hanya secara sebelah mata atau dari mencakup beberapa aspek, yaitu sikap, persepsi,
faktor sebab-akibat saja. Namun guru BK maupun dan perilaku. Dari aspek-aspek tersebut maka
siswa yang mengalami konflik interpersonal juga nantinya individu tersebut menunjukkan bagaimana
melihat dari segi psikologis. Sehingga dari ia akan menilai dan menyelesaikan
penelitian diharapkan penanganan maupun solusi permasalahannya. Dari penjabaran di atas dapat
yang diambil dapat sesuai dan membuahkan hasil disimpulkan bahwa dinamika psikologis adalah
yang baik pada semua pihak dilihat dari segi proses yang terjadi dalam kejiwaan individu ketika
psikologis. menghadapi dan menyelesaikan konflik, mencakup
Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan persepsi, sikap dan perilaku.
dinamika psikologis siswa dalam konflik Johan Galtung menginterpretasikan konflik
interpersonal yang dialaminya dilihat dari 3 aspek, pada tiga komponen, yaitu A (attitude), B
yaitu : kontradiksi, sikap, dan perilaku. Dan (behavior), dan C (contradiction) (dalam Czyz,
Menjabarkan kecenderungan cara penanganan siswa 2006). Terdapat rumusan dalam berlangsungnya

367
Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

konflik, yaitu: C (conflict) = A (attitudes) + B berkaitan dengan pihak konflik lain atau
(behavior) + C (contradiction). Galtung membuat kelompok lain.
teori ini menjadi sebuah model segitiga ABC yang c. Behavior (perilaku) diartikan sebagai ekspresi
diambil dari ketiga komponen konflik. Urutan dari ketika konflik terjadi baik secara verbal atau
ketiga komponen konflik tersebut dimulai dari fisik (dalam Czyz, 2006). Munculnya perilaku
adanya kontradiksi, sehingga urutannya adalah ketika konflik interpersonal berlangsung
sebagai berikut: C→ Comtradiction dipengaruhi oleh adanya persepsi dan sikap
(kontradiksi/pertentangan), A→ Attitude (sikap), seperti yang dijabarkan pada poin pertama.
dan B→ Behavior (perilaku) (dalam Webel and
Galtung, 2007). Kecenderungan Penyelesaian Konflik
Model segitiga ABC konflik ini pada Interpersonal
awalnya dimaksudkan untuk diterapkan pada situasi Menurut Moberg (dalam Dayakisni, 2009) dan
perang, di mana ada yang berbeda dan bertentangan Johnson & Johnson (dalam Purwoko, 2009) dapat
pihak. Namun, Galtung (dalam Czyz, 2006) disimpulkan bahwa definisi cara penyelesaian
memiliki pemikiran bahwa model ini juga dapat konflik interpersonal dalam penelitian ini adalah
digunakan untuk mengatasi konflik-konflik lain, sikap dan tindakan seseorang dalam mengatasi
seperti kekerasan keluarga, diskriminasi, konflik interpersonal yang dialaminya.
pelanggaran hak asasi manusia, dan konflik di Menurut pendapat dari Megginson, Mosley,
sekolah. Poeitri (dalam Purwoko, 2009), Thoha (2001), dan
Secara umum, metode yang digunakan Walgito (2007) dapat disimpulkan bahwa
dalam menangani konflik bersifat merusak atau kecenderungan penyelesaian konflik digolongkan
kekerasan. Namun, dengan adanya pemikiran orang menjadi tiga strategi dasar, yaitu
banyak yang menganggap bahwa setiap konflik 1) Paradigma lose-lose (kalah-kalah), dengan cara
selalu berakibat kekerasan, Galtung mencetuskan menghindar, kompromi, memanfaatkan pihak
sebuah teori yang dapat menjelaskan mengenai ketiga diluar konflik, dan menggunakan dasar
bagaimana konflik itu berlangsung. peraturan yang ada untuk menyelesaikan
Berikut gambar segitiga konflik ABC konflik.
Galtung. 2) Paradigma win-lose (menang-kalah), dengan
cara mengalahkan pihak lain atau kompetitif
A) Attitudes dan penyesuaian diri sehingga muncul
pertengkaran dan dendam.
3) Paradigma win-win (menang-menang), dengan
cara berkolaborasi dan bermusyawarah untuk
menyelesaikan konflik.

METODE
Berdasarkan topik dan tujuan penelitian,
B) Behavior C) Contradiction maka penelitian ini menggunakan pendekatan
(Johan Galtung, dalam Czyz, kualitatif dalam bentuk deskriptif dan menggunakan
2006) teknik studi kasus. Metode penelitian kualitatif
Galtung (dalam Webel and Galtung, 2007) dirasa yang paling tepat karena peneliti ingin
berpendapat bahwa urutan terjadinya konflik yaitu: meneliti bagaimana keadaan obyek secara alamiah
C→A→B, konflik dimulai secara obyektif dari dua sesuai kasus atau permasalahan yang diangkat oleh
pihak, mengambil bagian dalam pelaku konflik, peneliti, dalam hal ini adalah dinamika psikologis
kehidupan sikap, dan menemukan sesuatu dari luar, konflik interpersonal siswa dan kecenderungan
ekspresi perilaku, baik secara lisan atau fisik, penyelesaiannya. Selain itu, data yang diperoleh
kekerasan, atau tidak dengan kekerasan. Tetapi disajikan dalam bentuk uraian penjelasan berupa
tidak menuntut kemungkinan urutan ABC yang lain kata-kata.
juga dapat digunakan dan bersifat empiris. Hal Pengambilan subyek penelitian atau dapat
tersebut dikarenakan ketiga komponen saling disebut informan pada penelitian ini dilakukan
berperngaruh satu sama lain. dengan cara key person, yaitu peneliti telah
Berikut penjabaran ketiga unsur dalam segitiga memahami informasi awal tentang obyek penelitian
konflik ABC Galtung : maupun informan penelitian dan membutuhkan key
a. Contradiction (kontradiksi) adalah pertentangan person untuk melakukan wawancara (Bungin,
tajam yang muncul pada konflik. Kontradiksi 2008:77). Terdapat dua tokoh dalam penggunaan
merupakan akar dari munculnya konflik. cara key person ini, yaitu tokoh formal dan
b. Attitude (sikap) adalah cara pihak konflik dalam informal. Tokoh formal adalah subyek atau
merasakan dan berpikir terhadap konflik yang informan utama sedangkan tokoh informal adalah
subyek pendukung. Dalam penelitian ini, peneliti

368
Studi Kasus Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa Merujuk
Teori Segitiga Abc Konflik Galtung

tidak menggunakan tokoh informal dikarenakan empat remaja putri jenjang sekolah menengah di
berdasarkan fokus penelitian dan tujuan penelitian kota Surabaya dan kepada informan pendukung
hanya melihat dari sisi pelaku utama saja atau tokoh yaitu tiga orang konselor sekolah yang berbeda
formal. sekolah, satu orang calo atau penyalur. Terdapat
Peneliti memperoleh informasi awal dari juga informasi dari Instansi Lain
hasil angket studi pendahuluan konflik interpersonal (Narasumber) yang berasal dari Kepolisian Resort
siswa bahwa seluruh siswa kelas XII-MM pernah Kota Surabaya, sesuai dengan format wawancara
atau sedang memiliki konflik interpersonal. yang telah di buat sebelumnya. Hal tersebut
Awalnya, peneliti membagikan angket studi bertujuan untuk memperoleh informasi yang
pendahuluan konflik interpersonal terdahulu kepada berkaitan dengan proses perdagangan manusia yang
seluruh siswa kelas XII-MM SMK Mahardhika terjadi di kota Surabaya. Proses wawancara
yang merupakan area kelompok untuk penentuan dilakukan secara langsung kepada masing-masing
subyek penelitian dan nantinya akan dipilih informan utama maupun informan pendukung.
beberapa siswa untuk dijadikan subyek penelitian Dalam penyajian data dan pembahasan
sesuai dengan tujuan dan ketentuan penelitian. akan digunakan beberapa kode, berikut tabel
Beberapa siswa yang memiliki skor tertinggi pada mengenai penggunaan kode tersebut:
hasil angket studi pendahuluan konflik interpersonal
akan ditinjau ulang dengan konselor sebelum Tabel 1
ditentukan sebagai subyek penelitian. Peninjauan Keterangan tentang Penggunaan Kode
ulang dengan konselor dimaksud agar orang NO. KODE KETERANGAN
tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita 1. Melati Informan Melati
harapkan dan dapat memudahkan peneliti
menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti. 2. Mawar Infroman Mawar
Subyek penelitian juga dipilih berdasarkan pihak 3. Anggrek Informan Anggrek
lawan yang berbeda, yaitu siswa yang berkonflik 4. Flamboyan Informan Flamboyan
dengan guru, orang tua, pacar, teman, sahabat, atau 5. Melon Informan Melon
sanak saudara. 6. Apel Informan Apel
Berdasarkan jenis variabel yang penulis 7. FM 1 Fokus Masalah 1
kemukakan maka teknik pengumpulan data yang 8. FM 2 Fokus Masalah 2
digunakan dalam penelitian ini adalah metode Fokus Masalah 1
9. FM 1 C
wawancara mendalam dan observasi. Peneliti juga Contradiction
menggunakan teknik Member Check, dalam uji Fokus Masalah 1
keabsahan datanya,yaitu proses pengecekan data FM 1 C W Contradiction
10.
yang diperoleh oleh peneliti kepada pemberi data Melati Berdasarkan Wawancara
atau subyek penelitian. Tujuannya disini adalah dengan Melati
untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh Fokus Masalah 1
sesuai dengan apa yang diberikan oleh subyek FM 1 C W Contradiction
penelitian atau pemberi data. Peneliti melakukan 11.
Mawar Berdasarkan Wawancara
skoring dalam mengetahui kesesuaian data yang dengan Mawar
diperoleh. Setiap aspek yang dilakukan pengecekan Fokus Masalah 1
memiliki interval yaitu apabila sesuai skornya FM 1 C W Contradiction
adalah 3, apabila kurang sesuai skor adalah 2, dan 12.
Anggrek Berdasarkan Wawancara
apabila tidak sesuai skornya adalah 1. dengan Anggrek
Fokus Masalah 1
FM 1 C W Contradiction
HASIL DAN PEMBAHASAN 13.
Flamboyan Berdasarkan Wawancara
Proses penelitian dilakukan dengan dengan Flamboyan
menggunakan metode wawancara, observasi dan Fokus Masalah 1
dokumentasi. Proses penelitian ini telah dianggap FM 1 C W Contradiction
selesai karena data yang diperoleh sudah jenuh. Hal 14.
Melon Berdasarkan Wawancara
ini di buktikan dengan data yang sama, yang dengan Melon
merupakan hasil penelitian berdasar metode yang Fokus Masalah 1
telah disebutkan tadi. Dalam rangka melaksanakan FM 1 C W Contradiction
uji kredibilitas, peneliti melakukan uji triangulasi 15.
Apel Berdasarkan Wawancara
dengan cara memeriksa kesesuaian data atau dengan Apel
informasi antara hasil observasi, dokumentasi dan Fokus Masalah 1 Attitude
wawancara. FM 1 A W
16. Berdasarkan Wawancara
Proses wawancara dilakukan dengan Melati
dengan Melati
memberikan pertanyaan kepada informan utama FM 1 A W Fokus Masalah 1 Attitude
yakni korban perdagangan manusia yang berjumlah 17.
Mawar Berdasarkan Wawancara

369
Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

dengan Mawar Fokus Masalah 2 Subyek


29. FM 2 SP 2
Penelitian 2 (Mawar)
Fokus Masalah 1 Attitude Fokus Masalah 2 Subyek
FM 1 A W 30. FM 2 SP 3
18. Berdasarkan Wawancara Penelitian 3 (Anggrek)
Anggrek
dengan Anggrek Fokus Masalah 2 Subyek
Fokus Masalah 1 Attitude 31. FM 2 SP 4
FM 1 A W Penelitian 4 (Flamboyan)
19. Berdasarkan Wawancara Fokus Masalah 2 Subyek
Flamboyan 32. FM 2 SP 5
dengan Flamboyan Penelitian 5 (Melon)
Fokus Masalah 1 Attitude Fokus Masalah 2 Subyek
FM 1 A W 33. FM 2 SP 6
20. Berdasarkan Wawancara Penelitian 6 (Apel)
Melon
dengan Melon Kecenderungan
Fokus Masalah 1 Attitude 34. KPK
FM 1 A W Penyelesaian Konflik
21. Berdasarkan Wawancara Kecenderungan
Apel KPK
dengan Apel 35. Penyelesaian Konflik
Fokus Masalah 1 Melati
22. FM 1 B Melati
Behavior Kecenderungan
Fokus Masalah 1 Attitude KPK
FM 1 B W 36. Penyelesaian Konflik
23. Berdasarkan Wawancara Mawar
Melati Mawar
dengan Melati Kecenderungan
Fokus Masalah 1 KPK
FM 1 B O 37. Penyelesaian Konflik
24. Behavior Berdasarkan Anggrek
Melati Anggrek
Hasil Observasi Melati Kecenderungan
Fokus Masalah 1 KPK
38. Penyelesaian Konflik
FM 1 B W Behavior Berdasarkan Flamboyan
25. Flamboyan
Mawar Wawancara dengan Kecenderungan
Mawar KPK
39. Penyelesaian Konflik
Fokus Masalah 1 Melon
FM 1 B O Melon
26. Behavior Berdasarkan Kecenderungan
Mawar
Hasil Observasi Mawar 40. KPK Apel Penyelesaian Konflik
Fokus Masalah 1 Apel
FM 1 B W Behavior Berdasarkan
27.
Anggrek Wawancara dengan Analisis data yang digunakan dalam
Anggrek penelitian ini adalah analisis data model Miles
Fokus Masalah 1 dan Huberman. Reduksi data dilakukan ketika
FM 1 B O
28. Behavior Berdasarkan dilapangan, data yang direduksi adalah data dari
Anggrek
Hasil Observasi Anggrek awal penelitian ketika dilapangan. Setelah data
Fokus Masalah 1 di reduksi, maka langkah selanjutnya adalah
FM 1 B W Behavior Berdasarkan penyajian data. Kemudian langkah yang terakhir
29.
Flamboyan Wawancara dengan setelah data di sajikan adalah penarikan
Flamboyan kesimpulan.
Fokus Masalah 1 Selain itu, dilakukan pula observasi untuk
FM 1 B O Behavior Berdasarkan memperoleh informasi lain yang mendukung
30.
Flamboyan Hasil Observasi maupun mengembangkan data yang telah
Flamboyan diperoleh. Observasi dilakukan dengan meminta
Fokus Masalah 1 bantuan konselor sekolah dengan menggunakan
FM 1 B W Behavior Berdasarkan pedoman Daftar Chek List.
31.
Melon Wawancara dengan
Melon PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Fokus Masalah 1
FM 1 B O Berdasarkan penyajian data dengan
32. Behavior Berdasarkan
Melon menggunakan beberapa kode di atas dari masing-
Hasil Observasi Melon
masing fokus masalah dapat diketahui dinamika
Fokus Masalah 1
FM 1 B W psikologis siswa ketika menghadapi konflik
33. Behavior Berdasarkan
Apel interpersonal dan kecenderungan cara memberi
Wawancara dengan Apel
solusinya. Untuk melihat dinamika psikologis
Fokus Masalah 1 siswa menggunakan teori segitiga ABC Galtung
FM 1 B O
34. Behavior Berdasarkan yang didalamnya terdapt tiga aspek, yaitu
Apel
Hasil Observasi Apel Contradiction (kontradiksi), Attitude (Sikap), dan
Fokus Masalah 2 Subyek Behavior (Perilaku). Dari ketiga aspek tersebut
28. FM 2 SP 1
Penelitian 1 (Melati) peneliti dapat mengetahui poin-poin seperti faktor

370
Studi Kasus Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa Merujuk
Teori Segitiga Abc Konflik Galtung

penyebab, pihak yang terlibat, persepsi selama tidak menyenangkan namun perlu untuk
konflik berlangsung, perilaku yang muncul, dan diselesaikan. Hal tersebut dikarenakan
lain sebagainya. Selain itu, peneliti dapat mempengaruhi ketenangan pikiran dan
mengetahui rangkaian dari ketiga aspek dalam aktivitasnya sehari-hari.
mempengaruhi cara menyelesaikan konflik. Para subyek penelitian cenderung
Berikut adalah pembahasan data hasil penelitian melihat pihak lawan dari segi perlakuan
yang sudah diperoleh selama peneliti mengadakan serta kedudukan pihak lawan. Secara
penelitian : keseluruhan menganggap bahwa pihak
1. FM 1 lawan merupakan orang yang memulai
Berdasarkan hasil penelitian, dapat terjadinya konflik sehingga mereka
diketahui dinamika psikologis yang melihat menilai bahwa posisi mereka tidak
dari ketiga aspek teori Segitiga ABC Konflik bersalah dalam konfliknya. Adapun
Galtung, yaitu Contradiction, Attitude, dan pemikiran negatif dan perasaan negatif
Behavior. Berikut penjelasan dari masing- terhadap pihak lawan pada setiap subyek
masing aspek. penelitian, seperti pihak lawan yang ingin
a. Contradiction (kontradiksi) menang sendiri, marah pada pihak lawan,
Hasil penelitian dari keenam subyek dan merasa tidak adil. Dikarenakan pada
penelitian membuahkan hasil bahwa setiap konflik terdapat perbedaan antara
Contradiction menjelaskan lebih dalam kedua belah pihak. Penilaian atau
mengenai terjadinya konflik dengan pandangan yang negatif tidak akan
beberapa indikator, yaitu bentuk konflik, terkena pada pihak lain disekitar pihak
faktor penyebab, pihak yang terlibat, lawan apabila tidak terdapat provokasi.
waktu terjadinya konflik, alur terjadinya
konflik, solusi yang dilakukan selama ini, c. Behavior (Perilaku)
hingga dampak yang muncul pada subyek Berdasarkan data yang didapat
penelitian. Masing-masing konflik dari keenam subyek penelitian, perilaku
interpersonal memiliki pertentangan masing-masing subyek berbeda-beda. Hal
tujuan, pendapat, serta faktor penyebab tersebut bergantung dengan persepsi
yang berbeda. Tidak semua konflik yaitu cara menilai atau memandang serta
terdapat pihak lain yang terlibat di perasaan terhadap konflik dan juga dari
dalamnya. Jika terdapat pihak terlibat perilaku pihak lawan. Jika subyek
adapun yang bersifat membantu dalam menilai dan merasakan secara negatif
penyelesaian konflik namun juga ada seperti menjadi tidak tenang, marah,
yang semakin membuat konflik menjadi menilai konflik adalah hal yang rumit,
memanas. Secara keseluruhan terdapat merasa lelah dengan adanya konflik maka
dampak yang muncul pada salah satu akan cenderung muncul perilaku yang
pihak dalam konflik yaitu subyek negatif pula. Perilaku yang negatif
penelitian, diantaranya menjadi murung, tersebut misalnya : melakukan kekerasan
pendiam, sakit-sakitan, serta emosi yang fisik, saling mengumpat, tidak mau
labil. Dampak tersebut muncul berkomunikasi dengan pihak lawan. Hal
bergantung dengan cara subyek tersebut akan memperburuk hubungan
penelitian menilai dan merasakan diantara kedua belah pihak dan konflik
konfliknya. Adapun dampak pada kedua tidak dapat terselesaikan.
belah pihak yang berkonflik, yaitu
hubungan menjadi lebih akrab dan 2. FM 2
harmonis atau hubungan yang menjadi Rangkaian ketiga aspek teori Segitiga
rusak dan tidak terarah. ABC konflik Galtung mempengaruhi cara
subyek penelitian untuk menyelesaikan
b. Attitude konfliknya. Terdapat subyek penelitian yang
Berdasarkan data yang didapat dari menghadapi konflik dan menyelesaikannya
keenam subyek penelitian, Attitude bersama pihak lawan secara kolaboratif dan
(sikap) mendeskripsikan secara mendapat kesepakatan bersama. Namun
mendalam persepsi yang terdiri dari tidak menuntut kemungkinan juga
penilaian atau pandangan serta perasaan dikarenakan dari pihak lawan yang tidak bisa
subyek penelitian mengenai konflik dan diajak berkolaborasi sehingga konflik
pihak yang terlibat di dalamnya dan akhirnya dibiarkan dan tidak memiliki arah
memunculkan sikap kompetitif atau sikap penyelesaian yang jelas.
kolaboratif. Secara keseluruhan para Dari 6 (enam) subyek penelitian 3
subyek penelitian memandang bahwa (tiga) diantaranya memiliki pola
konflik interpersonal adalah hal yang dinamika psikologis konflik interpersonal

371
Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

A→B→C, lalu dua subyek penelitian Rangkaian Tiga Aspek Dinamika Psikologis Siswa
selanjutnya memiliki pola B→A→C, dan Mempengaruhi Kecenderungan Penyelesaian
sisanya memiliki pola B→A→C. Setiap Konflik
individu memiliki awal permasalahan
atau terjadinya konflik yang berbeda Keterangan :
sehingga pola dinamika psikologisnya Alur rangkaian tiga aspek dinamika
pun berbeda. Dan dari ketiga aspek psikologis konflik saling berpengaruh satu
tersebut akan tampak kecenderungan sama lain. Contradiction dapat dipengaruhi
strategi penyelesaian konflik yang oleh adanya sikap dan perilaku, juga
digunakan oleh masing-masing subyek sebaliknya perilaku juga dapat munsul jika
penelitian. Sehingga dapat dirumuskan : terdapat pertentangan atau contradiction
dan sikap. (kontradiksi) yaitu konflik atau
apabila C (conflict)→C(-) + A(-) + B(-) = pertentangan yang muncul, lalu mucul
KPK (-), Attitude (Sikap) yaitu perasaan serta
sedangkan, pemikiran terhadap konflik maupun pihak
apabila C (conflict)→C(+) + A(+) + B(+) = yang ada didalamnya, dan dari perasaan
KPK(+). serta pemikiran yang ada maka akan
muncul Behavior (Perilaku) yaitu perilaku
Keterangan : pada saat konflik berlangsung terhadap
1. Apabila dalam konflik memiliki C pihak lawan serta pihak lain yang terlibat
(Contradiction) negatif, A jika ada. Ketiga aspek tersebut selanjutnya
(Attitude) yang negatif dan B akan menghasilkan atau memperlihatkan
(Behavior) yang negatif juga maka bagaimana KPK (Kecenderungan
akan menghasilkan KPK Penyelesaian Konflik) dengan
(Kecenderungan Penyelesaian menggunakan ketiga strategi penyelesaian
Konflik) yang negatif, seperti konflik yang dipilih atau dilakukan. Strategi
menghindar, melakukan adu fisik, penyelesaian konflik terbagi menjadi tiga
adu mulut, dan penyesuaian diri. kategori, yaitu win → win, win → lose, atau
2. Apabila dalam konflik memiliki C lose → lose.
(Contradiction) positif, A
(Attitude) yang positif dan B SIMPULAN
(Behavior) yang positif juga maka Berdasarkan penelitian yang telah
akan menghasilkan KPK dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan
(Kecenderungan Penyelesaian bahwa :
Konflik) yang positif, seperti 1. Setiap siswa memiliki dinamika psikologis
mengajak berdiskusi pihak lawan konflik interpersonal yang berbeda-beda.
sehingga menemukan solusi Gambaran dinamika psikologis merupakan
terbaik. tindakan atau kejadian nyata yang terjadi
pada subyek penelitian. Gambaran pertama
Berikut bagan yang menggambarkan yang dilihat dari dinamika psikologis para
rangkaian ketiga aspek teori Segitiga ABC subyek penelitian adalah Contradiction
Konflik Galtung mempengaruhi cara (kontradiksi). Dari aspek yang pertama ini
penyelesaian konflik. menggambarkan adanya pertentangan
tajam karena adanya perbedaan pandangan
dan tujuan dalam konflik. Setiap siswa
memiliki konteks konflik yang berbeda-
beda. Kemudian Attitude (sikap) yang
dipengaruhi adanya persepi positif atau
negatif dan memunculkan sikap melawan
(kompetitif) atau berkolaborasi
(kolaboratif), seperti : memiliki perasaan
bahwa konflik merupakan hal yang tidak
menyenangkan, marah pada pihak lawan,
lelah dengan adanya konflik, dan
memandang pihak lawan sebagai musuh.
Dan yang terakhir adalah Behavior
(perilaku) yaitu ekspresi perilaku dari
adanya persepsi atau pandangan serta
perasaan yang tampak dari subyek
Bagan 1 penelitian berupa kolaborasi dengan pihak

372
Studi Kasus Dinamika Psikologis Konflik Interpersonal Siswa Merujuk
Teori Segitiga Abc Konflik Galtung

lawan atau perlawanan, seperti : melakukan menggunakan metode lain, seperti


kekerasan fisik, saling mengumpat atau adu eksperimen atau pengembangan. Selain itu
mulut, dan tidak mau berkomunikasi peneliti lain juga dapat mengembangkan
dengan pihak lawan. instrumen yang ada.
2. Rangkaian ketiga aspek dinamika
psikologis konflik interpersonal yang
diambil dari teori Segitiga ABC Konflik
Galtung mempengaruhi cara penyelesaian
konflik dan membentuk satu pola dinamika DAFTAR PUSTAKA
psikologis konflik interpersonal dan Afrido, Rico. 2013. Kemendagri Klaim, Eskalasi
kecenderungan penyelesaiannya. Dari 6 Peristiwa Konflik Terus Meningkat.
(enam) subyek penelitian 3 (tiga) (Online). (http://nasional.sindonews.com/
diantaranya memiliki pola dinamika read/2013/09/09/15/780926/kemendagri-
psikologis konflik interpersonal A→B→C,
lalu dua subyek penelitian selanjutnya klaim-eskalasi-peristiwa-konflik-terus-
memiliki pola B→A→C, dan sisanya meningkat). Diakses pada 8 Januari 2014
memiliki pola B→A→C. Setiap individu
memiliki awal permasalahan atau Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
terjadinya konflik yang berbeda sehingga Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
pola dinamika psikologisnya pun berbeda. Rineka Cipta.
Dan dari ketiga aspek tersebut akan tampak
kecenderungan strategi penyelesaian Czyz, Magdalena Anna. 2006. Applying the ABC
konflik yang digunakan oleh masing- Conflict Triangle to the Protection of
masing subyek penelitian. Sehingga dapat Children’s Human Rights and the
dirumuskan apabila C (conflict)→C(-) + Fulfillment of their Basic Needs: A Case
A(-) + B(-) = KPK (-), sedangkan apabila Study Approach. Thesis. (Online).
C (conflict)→C(+) + A(+) + B(+) = (http://epu.ac.at/ fileadmin/downloads/
KPK(+). research C y .pdf). Diakses pada tanggal
20 Februari 2013
SARAN
Berdasarkan simpulan di atas adapun Dayakisni, Tri & Hudayana. 2009. Psikologi Sosial.
saran yang dapat diberikan adalah sebagai Malang: UMM.
berikut.
1. Bagi Konselor Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus
Sebagian besar konselor di sekolah Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.
hanya melihat siswa yang memiliki konflik Gramedia Pustaka Utama
dari segi sebab-akibat saja. Penelitian ini
dapat digunakan sebagai wawasan untuk Galtung, Johan. 2000. Conflict Transformation by
mengetahui lebih dalam bagaimana siswa Peaceful Means (The Transcend Method).
ketika memiliki konflik interpersonal dan (Online).
cara menghadapinya. Sehingga apabila (http://www.transcend.org/pctrcluj
terdapat siswa yang memiliki konflik, 2004/TRANSCEND manual.pdf). Diakses
konselor tidak hanya melihat konflik dari pada tanggal 30 April 2013..
sebab-akibatnya saja namun dapat melihat
lebih dalam dari segi dinamika psikologis Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian
siswa dan memberi masukan untuk Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
penyelesaian konflik yang sesuai. Selain
itu, perlunya memberikan materi mengenai Nursalim,M , Purwoko, B,____, Artikel : Kerangka
konflik kepada siswa sebagai pencegahan Proses Konflik dan Solusi Konflik Pada
dan mengingat hampir seluruh siswa Siswa SMA di Surabaya. Berdasarkan
memiliki konflik baik yang besar maupun Dinamika Psikologis. Surabaya: Unesa.
kecil. Sehingga siswa dapat lebih baik
dalam menanggapi suatu konflik yang akan Purwoko, Budi, dkk. 2007. Pemahaman Individu
terjadi. melalui Teknik Non - Tes. Surabaya: Unesa
University Press.
2. Bagi Peneliti lain
Peneliti lain dapat menggunakan Rusmana, Nandang. 2009. Konsep Dasar Dinamika
penelitian untuk dijadikan sebagai acuan Kelompok. Bandung: Universitas
dan dikembangkan untuk lebih mendalami Pendidikan Indonesia.
kasus konflik interpersonal siswa dengan

373
Jurnal BK UNESA. Volume 04 Nomor 02 Tahun 2014, 364 - 374

Santrock, John W. 2002. Life Span – Development


Edisi Kelima Jilid 2. Penerjemah:
Chussairi, Acmad. Jakarta : Erlangga.

Soetopo, H. Dan Supriyanto, A. 1999. Manajemen


Konflik. : Program Studi Manajemen
Pendidikan. Malang: Administrasi
Pendidikan FIP UM.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan


(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta.

Thoha, Miftah. 2001. Kepemimpinan dalam


Manajemen. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Tohirin. 2012. Memahami Metode Kualitatif dalam


BK. Jakarta: RajaGrafindo.

Wahyudi. 2011. Manajemen konflik dalam


organisasi. Bandung: Alfabeta.

Walgito, Bimo. 2007. Psikologi Kelompok.


Yogyakarta: Andi.

Webel, Charles dan Galtung, Johan. 2007.


Handbook of Peace and Conflict Studies.
(Online).
(http://en.bookfi.org/book/709558).
Diakses pada tanggal 10 Januari 2013.

Yin, Robert K. 2003. Studi Kasus (Desain Dan


Metode). Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada

-------------- . 2010. Teori Konflik. (Online).


(http://id. scribd.com/doc/65634253/Teori-
Konflik). Diakses pada 18 Februari 2013.

-------------- . 2011. Pengertian dan Definisi


Psikologis. (Online).
(http://www.carapedia.com/pengertian -
psikologis.html). Diakses pada tanggal 29
Februari 2013.

374

Anda mungkin juga menyukai