Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

TUMOR MAMMAE

Disusun Oleh :
Gea Anugrah Adinda
1765050356

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PERIODE 22 JULI 2019 – 28 SEPTEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Tumor mammae adalah benjolan tidak normal akibat pertumbuhan sel
yang terjadi secara terus menerus dapat diartikan sebagai pembengkakan,
yang dapat disebabkan baik oleh neoplasma maupun oleh radang, atau
perdarahan. Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae adalah benigna.1
Pada usia muda, sebagian besar (80-90%) benjolan di payudara adalah jinak
dan biasanya disertai keluhan. Diantara berbagai jenis tumor jinak payudara,
yang tersering adalah kista dan fibroadenoma.2
Hal – hal yang harus ditanyakan kepada penderita adalah letak, sejak
kapan muncul dan kecepatan pertumbuhannya. Perlu juga ditanya apakah ada
nyeri atau tidak, keluar cairan dari puting, perubahan bentuk dan besar
payudara, hubunganya dengan haid, perubahan pada kulit dan retraksi puting
susu.2
Faktor risiko yang perlu diketahui antara lain riwayat keluarga yang
terkena kanker payudara dan atau kanker ovarium, riwayat obstetri dan
ginekologi, terapi hormonal (termasuk kontrasepsi hormonal), riwayat
operasi/aspirasi benjolan di payudara sebelumnya. Sampai kini pemeriksaan fi
sik payudara belum mempunyai standar, walaupun demikian pemeriksaan
yang baik mempunyai nilai prediktif positif sampai 73% dan nilai prediktif
negatif sampai 87%.2
Penggunaan mammografi, ultrasonography (USG), dan Magnetic
Resonance Imaging (MRI) dapat membantu dalam menegakkan diagnosis lesi
benigna maupun malignan pada mayoritas dari pasien.
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : Nn. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 24
Pekerjaan : Karyawati
Bangsa : WNI
Suku : Betawi
Agama : Islam
Alamat : Kp Cibarengkok RT 01/02
Ruangan : Asoka
Tgl. MRS : 13 September 2019

ANAMNESIS
Anamnesis

Auto anamnesis dilakukan di Asoka pada tanggal 13 September 2019, pukul


09:30 WIB

Keluhan Utama : Terdapat benjolan pada payudara sebelah kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan di payudara sebelah kanan.
Benjolan sudah dirasakan 1 bulan terakhir. Pasien mulai menyadari terdapat
benjolan ketika pasien sedang mandi. Pasien mengatakan terkadang terasa
nyeri hilang timbul dengan waktu yang tidak tentu. Pasien sebelumnya sudah
ke klinik perusahaan pasien bekerja namun dirujuk ke poli bedah umum
RSKM. Pasien tidak memiliki keluhan lainnya. Riwayat menstruasi tidak
teratur. Sebelummya pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama dan
dikeluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang serupa.

Riwavat Masa Lampau :


a. Riwayat Penyakit Dahulu :
 Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
 Hipertensi disangkal, diabetes melitus disangkal, alergi disangkal
b. Trauma Terdahulu : Disangkal
c. Riwayat OperASI : Disangkal
d. Sistem :
 Neurologi : disangkal
 Kardiovaskular : disangkal
 Gastrointestinal : disangkal
 Genitourinari : disangkal
 Muskuloskeletal : disangkal
e. Riwayat Gizi : Gizi cukup
f. Riwayat Psikatri : disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Tampak sakit ringan
Kesadaran: Composmentis
Vital Sign : TD : 110/70 mmHg
RR : 20 x/menit
N : 84 x/menit
tº : 36,6ºC
Status generalis:
Kulit :
Petekie (-) Purpura (-)
Kepala:
Mata : Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), jejas (-/-), pupil
3mm/3mm (isokor), RCL (+/+), RTCL (+/+)
Telinga : Fistula (-/-), benjolan (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), polip (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas (-/-)
Mulut : Sianosis (-), pucat (-), jejas (-/-), mukosa bibir lembab

Leher:
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah bening (KGB), nyeri tekan (-),
deviasi trakea (-)

Thoraks:
Cor:
I: ictus cordis tidak tampak
P: ictus cordis teraba normal di ICS V MCL Sinistra
P: batas jantung ICS IV Parasternal dekstra sampai ICS V MCL sinistra
A: S1S2 tunggal, extrasistol (-), gallop (-), murmur (-)

Pulmo:
I: Simetris, tidak ada retraksi, tidak ada ketertinggalan gerak
P: Fremitus raba normal
P: Sonor / Sonor
A: Vesikuler +/+, Ronkhi -/- Wheezing -/-
Abdomen:
I: flat, DC (-), DS (-)
A: bising usus (+) normal
P: tympani
P: soepel, nyeri (-)

Ekstremitas:
Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -
Status Lokalis:
Regio Mammae Dekstra:
Inspeksi: terdapat benjolan diatas areola mamae, pus (-), darah(-)
Palpasi: ditemukan adanya massa berbatas tegas diatas areola mammae dextra,
permukaannya berbenjol-benjol, mobile, konsistensi padat kenyal,tepi rata,
ukuran sekitar 2x2 cm, nyeri tekan (-)

Hasil Laboratorium (12 September 2019):


Hematologi
Hb : 13 gr/dl (13,0-16,0 gr/dL)
Lekosit : 8,0 x 109 /L (4,5 - 13,0 x 109/L)
Hematokrit : 38,1 % (37-49 %)
Trombosit : 282 x 109 /L (150-450 x 109/L)
M. Pendarahan : 2,3 menit
M. Pembekuan : 13,3 menit
Faal Hati
SGOT : 19 u/L (10-35 u/L)
SGPT : 16 u/L (9-43 u/L)
Faal Ginjal
Serum Kreatinin : 1,16 mg/dL (0,6-1,3 mg/dl)
Ureum : 35 mg/dL (6-20 mg/dl)
GDS : 102 mg/dL (<170 mg/dL)

ASSESMENT : Tumor Mammae Dextra


DIAGNOSIS BANDING
● Karsinoma Mammae
● Hiperplasia kistik kelenjar mammae

PEMERIKSAAN PENUNJANG
● Pemeriksaan Laboratorium
● Mamografi : untuk membedakan lesi pada payudara tergolong jinak atau
ganas
● USG

PLANNING
● Pro Eksisi Biopsi
● IVFD RL 500 cc /6 jam
● Paracetamol drip 500 mg
● Ceftriaxone inj. 2 gram
● Puasa

PROGNOSIS
Ad vitam : Ad Bonam
Ad functionam : Ad Bonam
Ad sanationam : Ad Bonam
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi

Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Batas payudara yang normal
terletak antara iga 2 di superior dan iga 6 di inferior, serta antara taut sternokostal di
medial dan line aksilaris anterior di lateral. Pada bagian lateral atasnya, jaringan ini
keluar daru bulatannya ke arah aksila; disebut penonjolan Spence atau ekor payudara.
Dua pertiga bagian atas mamma terletak di atas otot pektoralis mayor, sedangkan
sepertiga bawahnya terletak di atas otot seratus anterior, otot oblikus eksternus
abdominis dan otot rektus abdominis. Setiap payudara terdiri dari 12-20 lobulus
kelenjar, masing-masing mempunyai saluran bernama duktus laktiferus yang akan
bermuara ke papilla mamma. Diantara kelenjar susu dan fascia pectoralis terdapat
jaringan lemak. Diantara lobulus, terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum
Cooper yang memberi kerangka untuk payudara.3

Gambar 2.1 Potongan sagital mammae dan dinding dada sebelah depan
Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang a. Perforantes anterior dan a.
mammaria interna, a. Torakalis lateralis yang bercabang dari a. Aksilaris. Payudara
sisi superior dipersarafi oleh n. Clavicula yang berasal dari cabang ke 3 dan 4 pleksus
servikal. Payudara sisi medial dipersarafi oleh cabang cutaneus anterior dari n.
Intercostalis 2-7. Papilla mammae dipersarafi oleh cabang kutaneus lateral dari
nervus intekostalis 4, sedangkan cabang kutaneus lateral dari n. Interkostalislain
mempersarafi areola dan mammae sisi lateral.
Terdapat enam kelenjar limfatik yakni limfatik vena aksilaris, mammaria eksterna,
skapular, sentral, subklavikular dan interpektoral. Sekitar 75% aliran limfatik
payudara menyalir ke kelompok limfatik aksila, sebagian lagi ke kelenjar parasternal
(mammaria interna), terutama dari bagian sentral dan medial dan ke kelenjar
interpektoralis(Rotter’s group). Pada aksila terdapat 50 buah kelenjar getah bening
yang berada di sepanjang vena dan arteri brachialis. Saluran limf dari seluruh
payudara menyalir ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, dan kelenjar
aksila bagian dalam.3

Gambar 2.2. Kelenjar getah bening aksila dan payudara


II. Jenis – Jenis Tumor Jinak Mammae
a. Kista

Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular. Kista payudara
sering ditemukan pada praktek sehari – hari , terbanyak pada usia 40 tahunan sampai
peri-menopause. Besarnya berubah sesuai dengan siklus haid.2 Kista payudara ini
tampaknya berasal dari dekstruksi dan dilatasi lobulus dan duktus terminalis
payudara. Kista dapat tunggal atau multiple, unilateral atau bilateral, dan biasanya
terasa nyeri bila dipalpasi. Kista teraba sebagai massa yang berbatas jelas, mobile,
dan berisi cairan. Massa kista dapat dipastikan dengan aspirasi dan USG. Kista
biasanya berisi cairan keruh dan debris. Cairan kista tampak hemoragik atau kista
yang rekuren harus diperiksa sistologinya. Pembedahan membuang kista dilakukan
jika aspirat kista mencurigakan atau kista rekuren walaupun telah diaspirasi.3

Gambar 2.3 Kista Payudara

b. Fibroadenoma

Fibroadenoma mammae (FAM) sering ditemukan pada usia yang lebih muda,
antara 20-40 tahun, dengan usia median 30 tahun. FAM terjadi akibat proliferasi
abnormal jaringan periduktus ke dalam lobulus; dengan demikian sering ditemukan di
kuadran lateral atas karena di bagian ini distribusi kelenjar paling banyak. Baik
estrogen, progesteron, kehamilan, maupun laktasi dapat merangsang pertumbuhan
FAM.2
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol, dengan simpai licin,
bebas digerakan, dan konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan
sekitarnya.3
Biasanya tidak nyeri, tetapi kadang ada yang nyeri. Kadang fibroadenoma tumbuh
multiple. Pada masa remaja, fibroadenoma dapat sangat cepat bertumbuh, kadang ada
yang tumbuh banyak dan berpotensi kambuh saat ransangan esterogen meninggi.
FAM harus di eksisi karena tumor jinak ini akan terus membesar.3

Gambar 2.4 Fibroadenoma

c. Perubahan fibrokistik

Sering ditemukan pada usia antara 20-30 tahun. Secara pemeriksaan fisik sulit
dibedakan dengan FAM atau kista payudara. Walaupun demikian, hampir selalu
nyeri. Sifat nyeri cukup signifikan, yakni berfluktuasi sesuai siklus haid, bilateral,
tidak terlokalisir, dan menyebar ke bahu atau aksila bahkan dapat menyebar ke
lengan.2 Biopsi dapat dilakukan bila pasien merasa takut akan kelainan ini.
Pemeriksaan patologis kelainan fibrokistik dapat memiliki lima belas macam
gambaran antara lain adenosis, fibrosis stroma, kista multiple yang disertai fibrosis.
Pada mammografi, jaringan payudara hanya tampak memadat tanpa adanya kelainan
lain. Jika pasien memiliki riwayat keluarga penderita kanker payudara ditambah
adanya gambaran hiperplasia yang atipik pada hasil biopsi maka potensi keganasan
perlu diwaspadai.3

d. Tumor filoides

Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes adalah tumor


fibroepitelial yang ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan
komponen epitel. Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat
menyusup secara lokal dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan
dapat ditemukan dalam ukuran yang besar. Tumor ini terdapat pada semua usia, tapi
kebanyakan pada usia sekitar 30 tahun. Penanggulangannya adalah eksisi luas. Jika
tumor sudah besar maka perlu dilakukan mastektomi simpel, bila tumor ternyata
ganas, harus dilakukan mastektomi radikal walaupun mungkin bermetastase secara
hematogen seperti sarkoma.3

e. Galaktokel

Galaktokel adalah kista retensi berisi air susu. Biasanya berbatas jelas dan mobile
biasanya timbul 6-10 bulan setelah berhenti menyusui, letaknya ditengah dalam
payudara atau dibawah puting. Tatalaksananya adalah aspirasi jarum untuk
mengeluarkan sekret susu dan pembedahan baru dilakukan jika kista terlalu kental
untuk bisa diaspirasi atau jika terjadi infeksi dalam galaktokel tersebut.3
f. Papiloma intraduktus

Lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75% tumbuh di bawah areola
mamma ini memberikan gejala berupa sekresi cairan berdarah dari puting susu.
Papilloma intraduktal adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan disertai tangkai
yang tumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan glandular dan jaringan
fibrovaskular.3

Gambar 2.4 Papiloma intraduktus

g. Duktus ektasia

Duktus ektasia merupakan kelainan jinak akibat kerusakan elastin dinding duktus
payudara, diikuti infiltrasi sel radang dan hasil akhirnya adalah dilatasi dan
pemendekan duktus. Tampak klinisnya adalah keluar cairan keruh dari puting dan
adanya terabanya massa berupa duktus yang membesar. Mammografi dan usg tidak
menunjukan kelainan yang jelas. Hal ini membedakan duktus ektasia dengan
keganasan.3

Gambar 2.5 Duktus ektasia


III. Pemeriksaan Klinis

Anamnesis penderita kelianan payudara harus meliputi tiwayat reproduksi dan


ginekologi. Pada inspeksi pasien diminta duduk tegak dan berbaring kemudian
inspeksi dilakukan terhadap bentuk kedua payudara, warna kulit, lekukan, retraksi
papil, adanya kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus dan benjolan. Cekungan kulit
(dimpling) akan terlihat lebih jelas jika pasien diminta untuk mengangkat lengannya
lurus keatas.
Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring dengan bantal tipis di
punggung sehingga payudara terbentang rata. Palpasi dilakukan dengan ruas pertama
jari telunjung, tengah dan manis yang digerakan perlahan-perlahan tanpa tekanan
pada setiap kuadran payudara dengan alur melingkar atau zig-zag. Penilan pada
hakikatnya sama dengan penilaian tumor di tempat lain. Pada sikap duduk, benjolan
yang tak teraba ketika penderita berbaring kadang lebih mudah ditemukan. Perabaan
aksila pun lebih mudah dilakukan pada posisi duduk. Palpasi juga dilakukan guna
menentukan apakah benjolan melekat ke kulit atau dinding dada.
Dengan memijat halus puting susu, dapat diketahui adanya pengeluaran cairan,
berupa darah atau bukan.3
Gambar 2.6 Pemeriksaan SADARI (Periksa Payudara Sendiri)

Gambar 2.7 Tanda Kelainan Payudara


IV. Pemeriksaan Lanjutan
Semua benjolan di payudara harus di uji dengan triple test yang terdiri dari
pemeriksaan fisik, mamografi dan biopsi. Karena fasilitias mamografi tidak ada di
semua daerah dan USG relatif lebih mudah maka sebagai alternatif dapat digunakan
USG.2

a. Mammografi
Mamografi adalah pemeriksaan radiologi khusus menggunakan sinar – X dosis
rendah untuk mendeteksi kelainan pada payudara, bahkan sebelum adanya gejala
yang terlihat pada payudara seperti benjolan yang dapat dirasakan. Mamografi
bertujuan mengenal secara dini keganasan pada payudara. Mamografi berperan pada
payudara yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan
fibroglandular yang relatif lebih sedikit dan biasanya ditemukan pada wanita dewasa
diatas umur 40 tahun, karena pada umur tersebut kemungkinan terjadinya keganasan
payudara meningkat.4
Pada mamografi , lesi yang mencurigakan ganas menunjukkan salah satu atau
beberapa gambaran sebagai berikut: lesi asimetris, kalsifi kasi pleomorfik, tepi
ireguler atau ber-spikula, terdapat peningkatan densitas dibandingkan sekitarnya.2
Untuk tumor jinak, mamografi memberikan tanda:
1) Lesi dengan densitas meningkat, batas tegas, licin dan teratur
2) Adanya halo
3) Kadang – kadang tampak perkapuran yang kasar dan umumnya dapat dihitung

Nilai ketepatan diagnostik dengan mamografi sangat bergantung pada beberapa


faktor, yakni mammogram yang berkualitas baik, dan pembacaan oleh ahli radiologi
yang berpengalaman. Nilai diagnostik mamografi untuk tumor ganas berkisar 80-94%
dan untuk tumor jinak 90-93%. Namun jika mamografi dipakai bersama dengan
ultrasonografi dipakai bersama maka nilai ketetapan diagnostik sebesar 97%.4
Gambar 2.8 Mamografi Payudara Normal, Tumor Jinak dan Kanker

b. USG
Ultrasonografi sangat berguna untuk membedakan lesi solid dan kistik setelah
ditemukan kelainan pada mamografi. USG berperan pada payudara yang padat yang
biasanya ditemui pada wanita muda, dimana jenis ini sulit dinilai pada mamografi.
Pembesaran kelenjar aksiler yang dapat merubah pengobatan dan prognosis penderita
juga dapat dikenali dengan pemeriksaan USG, terutama pembesaran kelenjar aksiler
yang sulit teraba secara klinis.2,4

Tanda tumor jinak:

1) Lesi dengan batas tegas, licin dan teratur


2) Sruktur echo internal :
a. Tak ada (sonolusen), misalnya kista
b. Lemah sampai menengah tetapi homogen, misalnya pada fibroadenoma
3) Batas echo anterior lesi dan posterior lesi bervariasi dari kuat atau menengah
4) Lateral acoustic shadow dari lesi dapat bilateral atau unilateral (tedpole sign)

Nilai ketetapan USG untuk lesi kistik adalah 98-100%, sedangkan untuk lesi solid
seperti fibroadenoma adalah 75-85%. Sedangkan untuk mengenal tumor ganas nilai
ketepatan diagnostik USG masih dibawah mamografi yaitu hanya 62-78%.
Sedangkan kombinasi keduanya menaikan nilai tersebut menjadi 97%.2,4
c. Biopsi
Setiap ada kecurigaan pada pemeriksaan fisik dan mamogram, biopsi harus selalu
dilakukan. Jenis biopsi dapat dilakukan yaitu biopsi jarum halus (fine needle
aspiration biopsy,FNAB), core biopsy (jarum besar), dan biopsi bedah. FNAB
mengevaluasi sistologi, sedangkan biopsi jarum besar dan biopsi bedah
memungkinkan analisis arsitektur jaringan payudara sehingga ahli patologi dapat
menentukan apakah tumor bersifat invasif atau tidak.
Teknin FNAB yakni dengan jarum halus sejumlah kecil jaringan dari tumor
diaspirasi keluar lalu diperiksa di bawah mikroskop. Spesimen FNAB kadang tidak
dapat menentukan grade tumor dan kadang tidak memberi diagnosis yang jelas
sehingga membutuhkan biopsi lainya.
Biopsi terbuka dilakukan bila pada mamografi terlihat adanya kelainan yang
mengarah ke tumor maligna atau hasil FNAB meragukan. Biopsi eksisional adalah
mengangkat seluruh massa tumor dan menyertakan sedikit jaringan sehat di sekitar
massa tumor dan biopsi insisional hanya mengambil sebagian massa tumor untuk
kemudian dilakukan pemeriksaan PA.3

Gambar 2.9 Pemeriksaan Core Biopsy Needle


V. Tatalaksana

Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. . Namun terapi ini sudah tidak
dilakukan karena simple aspiration sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan
menjadi lembek dan tidak teraba tetapi masih bisa dideteksi dengan mammografi.
Walau bagaimanapun, bukti klinis perlu bahwa tidak terdapat massa setelah
dilakukan aspirasi.
Terdapat dua cardinal rules bagi menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni :
(1) massa menghilang secara keseluruhan setelah diaspirasi.
(2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah.

Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi, ultrasonografi, needle biopsy dan eksisi
direkomendasikan. Terdapat dua indikasi untuk dilakukan eksisi pada kista. Indikasi
pertama adalah sekiranya cairan aspirasi mengandungi darah (selagi tidak disebabkan
oleh trauma dari jarum), kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang sangat
jarang ditemukan. Indikasi kedua adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi
karena aspirasi yang tidak adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum
dilakukan eksisi. Apabila kista masih terus membesar, eksisi direkomendasikan.
Teknik yang digunakan untuk aspirasi kista mammae yang dapat dipalpasi sama
dengan teknik yang digunakan untuk pemeriksaan sitologi FNA. Permukaan kulit
dibersihkan dengan alkohol. Biasanya digunakan jarum 21-gauge dan juga syringe 20
ml. Kista di fiksasi menggunakan ibu jari dan jari telunjuk atau jari telunjuk dan jari
tengah. Syringe dipegang oleh tangan yang lain dan kista dipalpasi sehingga sudah
tidak teraba. Volume dari cairan kista biasanya 5 ml sampai 10 ml tetapi dapat
mencapai 75 ml atau lebih. Cairan dari kista biasanya berwarna coklat, kuning atau
kehijauan. Sekiranya didapatkan cairan sedemikian, pemeriksaan sitologi tidak
diperlukan. Apabila ditemukan cairan kista bercampur darah, 2 ml dari cairan diambil
untuk pemeriksaan sitologi.5
Fibroadenoma disarankan untuk dilakukan eksisi supaya tidak berlanjut menjadi
fibroadenoma yang multipel walaupun ) tumor ini akan berhenti tumbuh atau bahkan
mengecil dengan sendirinya tanpa terapi apapun.5
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan dengan seksama
untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan fisik
didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian
atas-luar payudara tanpa ada benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan
mammogram dan pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya.
Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya
diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang
keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa kelenjar, maka
kemungkinan benjolan tersebut jinak.
Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan pengangkatan tumor disertai
2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan tumor
filoides yang ganas dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi
(pengambilan jaringan payudara). Mastektomi sebaiknya dihindari apabila
memungkinkan. Apabila pemeriksaan patologi memberikan hasil tumor filodes
ganas, maka re-eksisi komplit dari seluruh area harus dilakukan agar tidak ada sel
keganasan yang tersisa.
Penatalaksanaan galaktokel sama seperti kista lainnya, biasanya tanpa melakukan
tindakan apapun. Apabila diagnosis masih diragukan atau galaktokel menimbulkan
rasa tidak nyaman, maka dapat dilakukan drainase dengan aspirasi jarum halus.
Duktus yang abnormal dapat diangkat melalui pembedahan dengan cara insisi
pada tepi areola.
Terapi untuk papilloma intraduktus adalah dengan mengangkat papilloma serta
bagian duktus dimana papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan
melakukan insisi pada tepi sekeliling areola.
DAFTAR PUSTAKA

1. Cohen S.M, Aft R.L, and Eberlein T.J. 2002. Breast Surgery. In: Doherty G.M
et all, ed. The Washington Manual of Surgery. Third edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins. p 40.
2. Fadjari, H. 2012. Pendekatan Diagnosis Benjolan di Payudara. Jakarta.
3. De jong, Syamsuhadi. Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. 2010.
4. Rasad, S. 2005. Radiologi diagnostik. Badan Penerbit FK UI.Jakarta
5. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB,
et al. 2010. Schwartz’s principle of surgery tenth edition. McGraw-Hill
Company. New York.