Anda di halaman 1dari 21

BAB -7

RENCANA PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA

7.1. Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman

Berdasarkan UU No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman,


permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari
satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau perdesaan.

Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman kawasan


perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan perkotaan terdiri
dari pengembangan kawasan permukiman baru dan peningkatan kualitas permukiman
kumuh, sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari pengembangan
kawasan permukiman perdesaan, kawasan pusat pertumbuhan, serta desa tertinggal.
Adapun alur fungsi dan program pengembangan permukiman tergambar dalam gambar di
bawah ini.

7-1
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Gambar 7.1.
Alur Program Pengembangan Permukiman

Sumber: Dit. Pengembangan Permukiman, 2012

7.1.1. Kondisi Eksisting Pengembangan Kawasan Permukiman


Kondisi eksisting pengembangan permukiman hingga tahun 2012 pada tingkat nasional
mencakup 180 dokumen RP2KP, 108 dokumen RTBL KSK, untuk di perkotaan meliputi 500
kawasan kumuh di perkotaan yang tertangani, 385 unit RSH yang terbangun, 158 TB unit
Rusunawa terbangun. Sedangkan di perdesaan adalah 416 kawasan perdesaan potensial
yang terbangun infrastrukturnya, 29 kawasan rawan bencana di perdesaan yang terbangun
infrastrukturnya, 108 kawasan perbatasan dan pulau kecil di perdesaan yang terbangun
infrastrukturnya, 237 desa dengan komoditas unggulan yang tertangani infrastrukturnya,
dan 15.362 desa tertinggal yang tertangani infrastrukturnya.

Kondisi eksisting pengembangan permukiman terkait dengan capaian Kabupaten Bangka


Barat dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni. Terlebih dahulu perlu
diketahui peraturan perundangan di Kabupaten Bangka Barat (meliputi peraturan daerah,
peraturan gubernur, peraturan bupati, maupun peraturan lainya) yang mendukung seluruh

7-2
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

tahapan proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan pembangunan


permukiman.

Selain itu data yang dibutuhkan untuk kondisi eksisting adalah mengenai kawasan kumuh,
jumlah RSH terbangun, dan Rusunawa terbangun di perkotaan, maupun dukungan
infrastruktur dalam program-program perdesaan seperti RPKP, PISEW (RISE), PPIP, serta
kawasan potensial, rawan bencana, perbatasan, dan pulau terpencil. Data yang dibutuhkan
adalah data untuk kondisi eksisting lima tahun terakhir.

Dalam RTRW Kabupaten Bangka Barat tahun 2011-2031 disebutkan bahwa peruntukan
bagi kawasan permukiman adalah sekitar 7.881,11 ha untuk kawasan permukiman
perkotaan dan 1.917,40 ha untuk kawasan permukiman perdesaan. Sehingga jumlah total
untuk kawasan peruntukan permukiman di Kabupaten Bangka Barat adalah sekitar
9.798,51 ha. Jika dibandingkan dengan kondisi eksisiting perumahan dan permukiman yang
ada maka masih terdapat kawasan peruntukan permukiman yang masih kosong yaitu
sekitar 6.500,67 ha.

Lokasi perumahan kumuh dan permukiman kumuh di Kabupaten Bangka Barat meliputi
sejumlah 7 (tujuh) lokasi, di 4 (empat) kecamatan, dengan total sebesar 85,17 Ha. Adapun
lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Bangka Barat, dapat
dilihat pada tabel berikut.

Tabel 7.1.
Lokasi Perumahan kumuh dan permukiman kumuh di Kabupaten Bangka Barat
LUAS (Ha)
KELURAHAN/ NAMA
No KECAMATAN SK Kumuh Hasil Verifikasi
DESA KAWASAN
(2014) (2016)
1 Muntok Tanjung Teluk Rubiah 4,10 7,64
2 Muntok Tanjung Tanjung 8,23 9,97
3 Jebus Sinar Manik Kampung 6,36 1,94
4 Jebus Air Kuang Palembang - 4,84
5 Paritiga Puput Puput 20,57 32,06
6 Tempilang Benteng Kota 18,84
Benteng Kota 25,94
7 Tempilang Air Lintang 9,88
Total 65,20 85,17
Sumber : SK Bupati Bangka Barat Nomor 188.45/391/1.06.01/2014 dan
Hasil Verifikasi RP2KPKP 2016

7-3
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman pada tingkat nasional antara


lain:
 Permasalahan pengembangan permukiman, antara lain:
1. Masih luasnya kawasan kumuh sebagai permukiman tidak layak huni sehingga
dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, dan pelayanan infrastruktur
yang masih terbatas.
2. Masih terbatasnya prasarana sarana dasar pada daerah tertinggal, pulau kecil,
daerah terpencil, dan kawasan perbatasan.
3. Belum berkembangnya Kawasan Perdesaan Potensial.

 Tantangan pengembangan permukiman, antara lain:


1. Percepatan peningkatan pelayanan kepada masyarakat
2. Pencapaian target/sasaran pembangunan dalam Rencana Strategis Ditjen Cipta
Karya sektor Pengembangan Permukiman.
3. Pencapaian target MDG’s 2015, termasuk didalamnya pencapaian Program-
Program Pro Rakyat (Direktif Presiden)
4. Perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan bidang Cipta Karya
khususnya kegiatan Pengembangan Permukiman yang masih rendah
5. Memberikan pemahaman kepada pemerintah daerah bahwa pembangunan
infrastruktur permukiman yang saat ini sudah menjadi tugas pemerintah daerah
provinsi dan kabupaten/kota.
6. Penguatan Sinergi RP2KP/RTBL KSK dalam Penyusunan RPIJM bidang Cipta Karya
pada Kabupaten/Kota.

Sebagaimana isu strategis, di Kabupaten Bangka Barat pun terdapat permasalahan dan
tantangan pengembangan yang bersifat lokal dan spesifik. Penjabaran permasalahan dan
tantangan pengembangan permukiman yang bersifat lokal ini dijabarkan sebagai informasi
awal dalam perencanaan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan
tantangan pengembangan permukiman di Kabupaten Bangka Barat serta merumuskan
alternatif pemecahan dan rekomendasi dari permasalahan dan tantangan pengembangan
permukiman yang ada di wilayah Kabupaten Bangka Barat.

7-4
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

7.1.2. Sasaran Program Pengembangan Kawasan Permukiman


Sasaran Program Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 7.2.
Sasaran Program Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

1 Peraturan Pengembangan Kawasan Permukiman


Penyusunan dan Penyebarluasan NSPK
2 Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Kawasan Permukiman
Pendampingan Penyusunan NSPK
Penyusunan Kebijakan, Strategi, dan Rencana Pengembangan Kawasan
Permukiman
Pembinaan, Pengawasan, dan Kemitraan Penyelenggaraan Pengembangan
Kawasan Permukiman
3 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan
Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan
4 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan
5 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Khusus
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perbatasan
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Pulau-Pulau Kecil Terluar
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Rawan Bencana, Pasca
Bencana, dan Kawasan Tertentu
6 Infrastruktur Berbasis Masyarakat
Program Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman
7 Perintisan Inkubasi Kota Baru
Perintisan Inkubasi Kota Baru
Fasilitasi Kota dan Kawasan Perkotaan dalam Pemenuhan SPP dan
8
Pengembangan Kota Layak Huni
Fasilitasi Kota dan Kawasan Perkotaan dalam Pemenuhan SPP dan
Pengembangan Kota Layak Huni

7-5
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

7.2. Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai
bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan
lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik
bangunan gedung dan lingkungannya.
7.2.1 Kondisi Eksisting Penataan Bangunan dan Lingkungan
Untuk tahun 2012 capaian nasional dalam pelaksanaan program direktorat PBL adalah
dengan jumlah kelurahan/desa yang telah mendapatkan fasilitasi berupa peningkatan
kualitas infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan melalui program P2KP/PNPM
adalah sejumlah 10.925 kelurahan/desa. Untuk jumlah Kabupaten/Kota yang telah
menyusun Perda Bangunan Gedung (BG) hingga tahun 2012 adalah sebanyak 106
Kabupaten/Kota. Untuk RTBL yang sudah tersusun berupa Peraturan Bupati/Walikota
adalah sebanyak 2 Kabupaten/Kota, 9 Kabupaten/Kota dengan perjanjian bersama, dan 32
Kabupaten/Kota dengan kesepakatan bersama.
Berdasarkan Renstra Ditjen Cipta Karya 2010-2014, di samping kegiatan non-fisik dan
pemberdayaan, Direktorat PBL hingga tahun 2013 juga telah melakukan peningkatan
prasarana lingkungan permukiman di 1.240 kawasan serta penyelenggaraan bangunan
gedung dan fasilitasnya di 377 kabupaten/kota. Dalam RPIJM bidang Cipta Karya
pencapaian di Kabupaten/Kota perlu dijabarkan sebagai dasar dalam perencanaan.
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan dan
tantangan yang dihadapi, antara lain:
1. Penataan Lingkungan Permukiman:
 Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana sistem proteksi kebakaran;
 Belum siapnya landasan hukum dan landasan operasional berupa RTBL untuk lebih
melibatkan pemerintah daerah dan swasta dalampenyiapan infrastruktur guna
pengembangan lingkunganpermukiman;
 Menurunnya fungsi kawasan dan terjadi degradasi kawasankegiatan ekonomi utama
kota, kawasan tradisional bersejarah sertaheritage;
 Masih rendahnya dukungan pemda dalam pembangunanlingkungan permukiman
yang diindikasikan dengan masih kecilnya alokasi anggaran daerah untuk
peningkatan kualitas lingkungandalam rangka pemenuhan SPM.

7-6
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara:


 Masih adanya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan
efisien dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
 Masih kurangnya perda bangunan gedung untuk kota metropolitan, besar, sedang,
kecil di seluruh Indonesia;
 Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan denganpengelolaan dan
penyelenggaraan bangunan gedung(keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan
kemudahan);
 Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dankenyamanan Bangunan
Gedung termasuk pada daerah-daerahrawan bencana;
 Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidakberfungsi dan kurang
mendapat perhatian;
 Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung didaerah serta
rendahnya kualitas pelayanan publik dan perijinan;
 Banyaknya Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhipersyaratan
keselamatan, keamanan dan kenyamanan;
 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurangtertib dan efisien;
 Masih banyaknya aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik.

3. Penyelenggaraan Sistem Terpadu Ruang Terbuka Hijau:


 Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana lingkungan hijau/terbuka, sarana
olah raga.
4. Kapasitas Kelembagaan Daerah:
 Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalampembinaan
penyelenggaraan bangunan gedung termasukpengawasan;
 Masih adanya tuntutan reformasi peraturan perundang-undangandan peningkatan
pelaksanaan otonomi dan desentralisasi;
 Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaanbangunan gedung di
daerah dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan.

7-7
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

7.2.2 Sasaran Program Penataan Bangunan dan Lingkungan


Sasaran Program Sektor Penataan bangunan dan Lingkungan dapat dilihat pada tabel
berikut ini.

Tabel 7.3.
Sasaran Program Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

1 Peraturan Penataan Bangunan dan Lingkungan


Penyusunan RUU/RAPERMEN Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penyusunan Standar/Pedoman Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan
2 Pembinaan dan Pengawasan Bangunan Gedung
Pembinaan Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Pembinaan Pengelolaan Rumah Negara
Pembinaan Standardisasi dan Kelembagaan Bidang Bangunan Gedung serta
Penataan Bangunan dan Lingkungan
Pembinaan Penyelenggaraan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penyusunan Rencana, Analisa Teknis, dan Evaluasi Kinerja
Administrasi dan Penatausahaan Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan
3 Penyelenggaran Bangunan Gedung
Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau
Penyelenggaraan Rehabilitasi Bangunan Gedung Pusaka dan Istana
Penyelenggaraan Bangunan Gedung Mitigas Bencana
Penyelenggaraan Bangunan Gedung Fasilitas Pendukung Kebun Raya
4 Penyelenggaraan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penataan Bangunan Kawasan Prioritas Nasional
Penataan Bangunan Kawasan Rawan Bencana
Penataan Bangunan Kawasan Destinasi Wisata
5 Fasilitasi Pengembangan Kawasan Perkotaan
Fasilitasi Pengembangan Kota Hijau
Revitalisasi Kawasan Pusaka
Revitalisasi Kawasan Tradisional Bersejarah
Fasilitasi Pengembangan Kota Cerdas
Pengembangan Kawasan Perkotaan Strategis Nasional
6 Fasilitasi Ruang Terbuka Publik Revolusi Mental
Fasilitasi Pengembangan Ruang Terbuka Publik
Fasilitasi Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik

7-8
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan Pendukung Asian


7
Games
Penyelenggaraan Bangunan Gedung Pendukung Asian Games
Penyelenggaraan Penataan Kawasan Pendukung Asian Games
Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan Pos Lintas Batas
8
Negara
Penyelenggaraan Bangunan Gedung Pos Lintas Batas Negara
Penyelenggaraan Penataan Kawasan Pos Lintas Batas Negara

7.3. Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

7.3.1 Kondisi Eksisting Pengembangan SPAM


Secara umum kondisi SPAM eksisting di Kabupaten Bangka Barat yang teridentifikasi adalah
SPAM di Ibukota Kabupaten dengan jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM, SPAM IKK
dengan jaringan perpipaan baik yang dikelola oleh PDAM dan non PDAM/UPTD, SPAM
bukan jaringan perpipaan dan SPAM perdesaan.
Tabel 7.4.
Kapasitas Produksi PDAM Tirta Sejiran Setason Kabupaten Bangka Barat
Jenis Kapasitas Sumber Air
No. Instalasi Keterangan
Instalasi (liter/detik) Baku
1 IPA Menumbing Beton 20 MA. Menumbing Beroperasi
2 IPA Puput Beton 20 Kolong Menjelang Beroperasi
3 IPA Menjelang Beton 10 Kolong Menjelang Tidak Beroperasi
4 IPA Terabek Baja 20 Kolong Terabek Beroperasi
5 IPA Parittiga Baja 10 Kolong Sekar Biru Beroperasi
6 IPA Jebus Baja 10 Kolong Kerang Tidak Beroperasi
7 IPA Kelapa Beton 10 Kolong Kelapa Tidak Beroperasi
Kolong Benteng
8 IPA Tempilang Baja 20 Tidak Beroperasi
Kota
Jumlah/Total 120

7-9
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Permasalahan dan Tantangan Pengembangan SPAM


1. Permasalahan Pengembangan SPAM
Secara umum permasalahan pengembangan air minum adalah:
1) Peningkatan Cakupan dan Kualitas
a) Tingkat pertumbuhan cakupan pelayanan air minum system perpipaan belum
seimbang dengan tingkat perkembangan penduduk
b) Perkembangan SPAM non-perpipaan terlindungi masih memerlukan pembinaan.
c) Tingkat kehilangan air pada sistem perpipaan cukup besar dan tekanan air pada
jaringan distribusi umumnya masih rendah.
d) Pelayanan air minum melalui perpipaan masih terbatas dan harus membayar
lebih mahal.
e) Ketersediaan data yang akurat terhadap cakupan dan akses air minum
masyarakat belum memadai.
2) Pendanaan
a) Penyelenggaraan SPAM mengalami kesulitan dalam masalah pendanaan untuk
pengembangan, maupun operasional dan pemeliharaan.
b) Investasi untuk pengembangan SPAM selama ini lebih tergantung dari pinjaman
luar negeri.
c) Komitmen dan prioritas pendanaan dari pemerintah daerah dalam
pengembangan SPAM masih rendah.
3) Kelembagaan dan Perundang-Undangan
a) Lemahnya fungsi lembaga/dinas di daerah terkait penyelenggaraan SPAM.
b) Prinsip pengusahaan belum sepenuhnya diterapkan oleh penyelenggara SPAM
(PDAM).
c) Pemekaran wilayah di beberapa kabupaten/kota mendorong pemekaran badan
pengelola SPAM di daerah.
4) Air Baku
a) Kapasitas daya dukung air baku di berbagai lokasi semakin terbatas.
b) Kualitas sumber air baku semakin menurun.
c) Adanya peraturan perijinan penggunaan air baku di beberapa daerah yang tidak
selaras dengan peraturan yang lebih tinggi.
d) Belum mantapnya alokasi penggunaan air baku sehingga menimbulkan konflik
kepentingan di tingkat pengguna.

7 - 10
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

5) Peran Masyarakat
a) Air masih dipandang sebagai benda sosial meskipun pengolahan air baku
menjadi air minum memerlukan biaya relatif besar dan masih dianggap sebagai
urusan pemerintah.
b) Potensi yang ada pada masyarakat dan dunia usaha belum sepenuhnya
diberdayakan oleh Pemerintah.
c) Fungsi pembinaan belum sepenuhnya menyentuh masyarakat yang mencukupi
kebutuhannya sendiri.

Beberapa permasalahan SPAM yang dihadapi PDAM Kabupaten Bangka Barat meliputi:
1. Secara keseluruhan aktivitas manajemen O & P yang selama ini dilakukan dinilai masih
kurang aktif, terutama berkaitan dengan perencanaan zona distribusi, perawatan meter
air (baik wm pelanggan maupun wm transmisi dan distribusi) dan pemeliharaan IPA
eksisting. Upaya antisipasinya adalah secara rutin menyelenggarakan program
pelatihan SDM.
2. Tidak dilakukannya pengujian kualitas air baku (sesuai kebutuhan) menjadikan
pemakaian bahan kimia relatif tinggi. Dalam hal ini upaya pemeriksaan kualitas air
baku secara rutin sangat direkomendasikan.
3. Belum dilakukan pengolahan terhadap air buangan IPA (PP No. 16/2005). Untuk
mencegah terjadinya pencemaran air secara berkelanjutan serta untuk mengefisienkan
pemakaian alum, direkomendasikan untuk melakukan studi pengolahan buangan
lumpur IPA dan daur ulang alum dari konsultan.

2. Tantangan Pengembangan SPAM


Beberapa tantangan dalam pengembangan SPAM yang cukup besar ke depan, agar
dapat digambarkan, misalnya :
1) Tantangan Internal:
a) Tantangan dalam peningkatan cakupan kualitas air minum saat ini adalah
mempertimbangkan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki akses
air minum yang aman yang tercermin pada tingginya angka prevalensi penyakit
yang berkaitan dengan air. Tantangan lainnya dalam pengembangan SPAM
adalah adanya tuntutan PP 16/2005 untuk memenuhi kualitas air minum sesuai
kriteria yang telah disyaratkan.

7 - 11
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

b) Banyak potensi dalam hal pendanaan pengembangan SPAM yang belum


dioptimalkan. Sedangkan adanya tuntutan penerapan tarif dengan prinsip full
cost recovery merupakan tantangan besar dalam pengembangan SPAM.
c) Adanya tuntutan untuk penyelenggaraan SPAM yang professional merupakan
tantangan dalam pengembangan SPAM di masa depan.
d) Adanya tuntutan penjaminan pemenuhan standar pelayanan minimal
sebagaimana disebutkan dalam PP No. 16/2005 serta tuntutan kualitas air baku
untuk memenuhi standar yang diperlukan.
e) Adanya potensi masyarakat dan swasta dalam pengembangan SPAM yang
belum diberdayakan.
2) Tantangan Eksternal
a) Tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dengan pilar pembangunan
ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.
b) Tuntutan penerapan Good Governance melalui demokratisasi yang menuntut
pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
c) Komitmen terhadap kesepakatan Millennium Development Goals (MDGs) 2015
dan Protocol Kyoto dan Habitat, dimana pembangunan perkotaan harus
berimbang dengan pembangunan perdesaan.
d) Tuntutan peningkatan ekonomi dengan pemberdayaan potensilokal dan
masyarakat, serta peningkatan peran serta duniausaha, swasta
e) Kondisi keamanan dan hukum nasional yang belum mendukungiklim investasi
yang kompetitif.

Kebutuhan sistem penyediaan air minum terjadi karena adanya gap antara kondisi yang
ada saat ini dengan target yang akan dicapai pada kurun waktu tertentu. Kondisi pelayanan
air minum secara nasional sebesar 47, 71%, dilihat dari proporsi penduduk terhadap
sumber air minum terlindungi (akses aman) yang mencakup 49,82% di perkotaan dan
45,72% di perdesaan.

Sementara itu pelayanan jaringan air bersih yang dikembangkan meliputi pelayanan
sambungan langsung, sambungan halaman dan kran umum (hidran). Hingga akhir tahun
perencanaan diharapkan daerah ini telah terlayani air bersih sekitar 80-85 % penduduk
Kabupaten Bangka Barat dengan kebutuhan standar sekitar 90-130 l/hari/kapita, maka air
bersih yng dibutuhkan adalah sebesar 476 liter.

7 - 12
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Adapun rencana bentuk pelayanan pemenuhan air bersih untuk domestik dibedakan dalam
dua jenis pelayanan sesuai dengan tingkat sosial ekonomi wilayahnya, yaitu :
 Sambungan langsung adalah prosentase terbesar untuk pelayanan di wilayah yang
padat penduduknya seperti ibukota kabupaten atau ibukota kecamatan.
 Kran umum adalah prosentase terbesar untuk pelayanan yang dilakukan di wilayah
yang relative belum berkembang seperti wilayah perdesaan.

Sedangkan arahan rencana pengembangan pemenuhan kebutuhan SPAM di Kabupaten


Bangka Barat adalah:
1. Unit Produksi dan Air Baku
a. Penetapan wilayah/sumber air baku dan penyusunan regulasi dalam bentuk
peraturan Kepala Daerah yang mengatur pengamanan daerah catchment atau
daerah perlindungan sumber air baku.
b. Menetapkan neraca air untuk pemanfaatan sumber air baku air permukaan
c. Optimalisasi operasi sistem produksi dan air baku, sehngga kapasitas terpasang
sama dengan kapasitas produksi, program yang dilakukan :
 Perawatan dan optimalisasi unit bangunan sipil air baku (intake/sumur bor),
IPA dan mekanikal-elektrikal (pompa, genset, alat ukur meter induk) secara
rutin sesuai dengan SOP yang tepat
 Pemasangan meter induk pada unit produksi dan unit air baku sehingga
supply bisa diukur secara akurat
 Pembuatan SOP untuk pemeliharaan dan pengoperasian unit Produksi dan air
baku
 Pemanfaatan unit SPAM Menjelang sehingga dapat dikoneksikan dengan
sistem induk Muntok
 Untuk Unit Terabek pengoperasian difokuskan pada wilayah layanan yang
ditetapkan dengan memaksimalkan kapasitas produksi yang ada
 Penambahan kapasitas IPA dan Pembangunan IPA baru pada lokasi-lokasi
yang supply airnya sudah tidak mencukupi.
2. Unit Distribusi
a. Inventarisasi perpipaan distribusi, penggambaran ulang sehingga data pipa
distribusi (jenis, diameter, kondisi) bisa diketahui.

7 - 13
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

b. Melakukan kajian teknis terhadap sistem distribusi, sehingga permasalahan teknis


bisa diketahui dan penanggulangan masalah bisa dilakukan.
c. Perawatan dan optimalisasi unit distribusi (pip, reservoir, pompa) secara rutin
sesuai dengan SOP yang tepat.
d. Pemasangan meter induk pada unit distribusi utama (zonasi) sehingga supply bisa
diukur secara akurat.
e. Pembuatan SOP untuk pemeliharaan dan pengoperasian distrbusi
f. Penurunan kehilangan air, dengan melakukan survey dan investigasi kehilangan air
di sistem distribusi secara teratur.
g. Pemasangan pipa distribusi pada daerah-daerah yang potensi untuk penambahan
pelanggan.
3. Unit Pelanggan
a. Pembuatan SOP untuk sisitem pencatatan meter air dan pelatihannya untuk
pencatat meter air.
b. Perawatan, peneraan dan penggantian meter air pelanggan secara rutin.
c. Promosi dan pemasaran sambungan rumah untuk unit-unit yang masih memiliki
kapasitas sisa/iddle.
d. Peningkatan dan perbaikan sistem pelayanan PDAM kepada pelanggan, termasuk
dalam penanganan kerusakan/matinya air pada daerah pelayanan.

7.3.2 Sasaran Program Pengembangan SPAM


Sasaran Program Sektor Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 7.5.
Sasaran Program Sektor Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

1 Peraturan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum


Penyusunan Rancangan NSPK
2 Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan SPAM
Perencanaan dan Analisa Teknis Pengembangan SPAM
Pembinaan Pengembangan SPAM Perkotaan
Pembinaan Pengembangan SPAM Perdesaan
Pembinaan Pengembangan SPAM Khusus

7 - 14
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

Standardisasi dan Kelembagaan Bidang Air Minum


Administrasi dan Penatausahaan Bidang Air Minum
3 SPAM Terfasilitasi
Bantuan Program PDAM
Bantuan Program Non-PDAM
Pengembangan Jaringan di Kawasan Perkotaan Terfasilitasi
Pengembangan Jaringan di Kawasan Rawan Air Terfasilitasi
Pemanfaatan Idle SPAM Perkotaan
Pemanfaatan Idle SPAM di Kawasan Rawan Air
4 Pembangunan SPAM Kawasan Perkotaan
Pembangunan SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK)
Pembangunan SPAM Ibukota Pemekaran
Perluasan SPAM Perkotaan
Penurunan Kebocoran SPAM Perkotaan
5 SPAM Berbasis Masyarakat
Pamsimas
6 Pembangunan SPAM di Kawasan Khusus
Pembangunan SPAM di Kawasan Kumuh
Pembangunan SPAM di Kawasan Nelayan
Pembangunan SPAM di Kawasan Perbatasan
Pembangunan SPAM di Kawasan Pulau Terluar
Pembangunan SPAM di Kawasan Strategis
7 Pembangunan SPAM Regional
SPAM Regional
8 Pembangunan SPAM Kawasan Rawan Air
Pembangunan SPAM di Kawasan Rawan Air
9 Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Khusus
Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Kumuh
Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Nelayan
Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Perbatasan
Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Pulau Terluar
Pengembangan Jaringan Perpipaan di Kawasan Strategis

7 - 15
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

7.4. Sektor Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman

7.4.1 Kondisi Eksisting Penyehatan Lingkungan Permukiman


Berdasarkan kondisi eksisting sub sektor Air Limbah Domestik di Kabupaten Bangka Barat
maka disusun pentahapan pengembangan air limbah domestik Kabupaten Bangka Barat
sebagai berikut.

Gambar. 7.2.
Peta Zona dan tahapan pengembangan air limbah domestik

Pengembangan SPAL Komunal Terpusat (off site) berupa septik tank komunal dan SPAL
Komunal hanya diperuntukkan bagi kawasan perkotaan yang berdasarkan RTRW
Kabupaten Bangka Barat adalah Kecamatan Muntok. Hal ini didasarkan pada pertimbangan
kemampuan masyarakat di kawasan perdesaan yang sebagian besar merupakan
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sehingga akan lebih mudah apabila di kawasan
perdesaan dikembangkan pembangunan SPAL on site berupa tangki septik individual,
tangki septik komunal dan MCK serta mengurangi pembangunan tangki septik individual
berupa cubluk sebagai upaya mengurangi kebiasaan masyarakat melakukan BABS. Secara
lebih rinci tahapan pengembangan air limbah domestik dapat dilihat pada Tabel di bawah
ini.

7 - 16
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Tabel 7.6.
Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Bangka Barat

Cakupan Target Cakupan layanan (%)


No Sistem Layanan
Jangka Jangka Jangka
Eksisting (%)
Pendek Menengah Panjang
A Sistem On Site
Individual (tangki 62,40% 70% 85% 100%
septik)
Komunal ( MCK ++) 3,10% 5% 8% 10%
B Sistem Off Site
Skala Kota 0% 0% 5% 10%
Skala Wilayah 0% 0% 2% 5%
Sumber : SSK Kabupaten Bangka Barat 2012

Untuk Sub Sektor Persampahan Domestik dengan kondisi bahwa pelayanan persampahan
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat baru dapat memenuhi kebutuhan
sebagian kawasan perkotaan Muntok dengan kondisi 6,54% (32,66 m3/hr) sampah yang
terangkut ke TPA dengan daerah pelayanan antara lain Kelurahan Tanjung, Kel. Sungai
Baru dan Kel. Sungai Daeng dan 60% sampah dikelola mandiri oleh masyarakat (maka
disusun tahapan pengembangan persampahan domestik sebagai berikut:

Gambar 7.3.
Peta Zona dan tahapan pengembangan persampahan

7 - 17
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Secara lebih rinci tahapan pengembangan persampahan dapat dilihat pada Tabel di bawah
ini.
Tabel 7.7.
Tahapan Pengembangan Persampahan Kabupaten Bangka Barat

Target Cakupan layanan (%)


Cakupan Layanan
No Sistem
Eksisting (%) Jangka Jangka Jangka
Pendek Menengah Panjang
A Penanganan Langsung (Direct)
Kawasan Komersial 40% 30% 20% 5%
Kawasan Perumahan 50% 25% 10% 5%
B Penanganan Tidak Langsung 10% 45% 70% 90%
(Indirect)
Sumber : SSK Kabupaten Bangka Barat 2012

Untuk Sub Sektor Drainase Lingkungan maka disusun tahapan pengembangan drainase
lingkungan sebagai berikut:
Gambar 7.4.
Peta Zona dan Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan

7 - 18
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

Untuk melihat secara rinci dari kondisi drainase lingkungan Kabupaten Bangka Barat dan
tahapan pengembangan sanitasi drainase lingkungan Kabupaten Bangka Barat dapat dilihat
pada Tabel di bawah ini.

Tabel 7.8.
Tahapan Pengembangan Drainase Kabupaten Bangka Barat

Cakupan Target Cakupan layanan (%)


No Sistem Layanan
Eksisting (%) Jangka Jangka Jangka
Pendek Menengah Panjang
1 Drainase Tersier 60% 75% 85% 90%
2 Drainase Sekunder 35% 45% 70% 90%
3 Drainase Primer 20% 30% 65% 80%
Sumber : SSK Kabupaten Bangka Barat 2012

Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Air Limbah


1). Identifikasi Permasalahan Air Limbah
Setiap Kab/Kota wajib menguraikan besaran masalah yang dihadapi di Kab./Kota
masing-masing dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan sasaran yang
ingin dicapai, untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic need) dan kebutuhan
pengembangan (development need) yang ditinjau dari aspek teknis, keuangan dan
kelembagaan. Selain itu, dilakukan inventarisasi persoalan setiap masalah yang sudah
dirumuskan dengan mempertimbangkan tipologi serta parameter-parameter teknis
yang ada di kawasan tersebut.
Beberapa permasalahan dalam pengembangan air limbah di Kabupaten Bangka Barat,
antara lain:
1. Cakupan akses masyarakat khususnya masyarakat untuk menggunakan jamban
yang memenuhi syarat kesehatan masih sangat rendah;
2. Kelemabagaan yang menangani masalah sanitasi belum tertata dengan baik serta
belum dikuatkan dengan perda.
3. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memakai jamban yang memenuhi
syarat dengan ketersediaan air bersih yang cukup;
4. Belum adanya peraturan yang dibuat oleh pemerintah di daerah terkait
pengelolaan limbah cair baik skala rumah tangga maupun industri.

7 - 19
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

5. Pemerintah daerah belum menerapkan sistem instalasi pengolahan air limbah


(IPAL) dan instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT), khususnya di ibukota
kabupaten dan ibukota kecamatan.

2). Tantangan dan Peluang Pengembangan Sektor Air Limbah


Setiap Kab/Kota wajib menguraikan tantangan dan peluang sesuai karakteristik
Kab/Kota masing-masing terkait pembangunan sektor air limbah. Tantangan Sektor Air
Limbah meliputi tantangan internal dan tantangan eksternal. Tantangan internal
berhubungan dengan cakupan pelayanan air limbah, kejadian penyakit karena
buruknya pengelolaan air limbah, perlindungan sumber air baku, kualitas kelembagaan,
penggalian sumber dana serta pembagian porsi dana APBN dan APBD. Sedangkan
tantangan eksternal berkaitan dengan target RPJMN bebas pembuangan tinja secara
terbuka dan terlayaninya masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah.

Selain itu, Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan


Minimum menekankan tentang target pelayanan dasar bidang PU yang menjadi
tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Target pelayanan dasar yang ditetapkan
dalam Permen ini yaitu pada Pasal 5 ayat 2, dapat dilihat sebagai bagian dari beban
dan tanggungjawab kelembagaan yang menangani bidang ke PU an, khususnya untuk
sub bidang Cipta Karya yang dituangkan didalam dokumen RPIJM yang merupakan
tantangan tersendiri bagi pelayanan pengelolaan Air Limbah. Target pelayanan dasar
bidang Air Limbah sesuai dengan Peraturan Menteri PU Nomor14/PRT/M/2010 Tentang
Standar Pelayanan Minimum.

Peluang dalam pengelolaan air limbah adalah telah diaturnya kewajiban


penanggulangan pencemaran terhadap lingkungan dan perlindungan sumber air baku
dalam tataran undang-undang sampai dengan peraturan daerah. Peraturan
perundangan juga telah mengatur keterpaduan penanganan air limbah dengan
pengembangan sistem penyediaan air minum. Peluang yang lain adalah adanya
peningkatan kesadaran masyarakat dalam penyelenggaraan air limbah permukiman.

7 - 20
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
LAPORAN AKHIR
Ke-Ciptakaryaan, Kabupaten Bangka Barat

7.4.2 Sasaran Program Penyehatan Lingkungan Permukiman


Sasaran Program Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman dapat dilihat pada Tabel
berikut ini.
Tabel 7.9.
Sasaran Program Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman

No. Kegiatan/ Output/ Sub Output

1 Peraturan Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman


Penyusunan Rancangan Peraturan dan Standar Pedoman Kriteria Bidang
Pengembangan PLP
Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Penyehatan Lingkungan
2
Permukiman
Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Bidang Pengembangan PLP
Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Kemitraan dalam Bidang Pengembangan
PLP
Pengawasan dan Evaluasi Bidang Pengembangan PLP
3 Sistem Pengelolaan Air Limbah
Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Regional
Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota
Sistem Pengelolaan Air Limbah Setempat Skala Kota
Sistem Pengelolaan Air Limbah Skala Kawasan
Sistem Pengelolaan Air Limbah Berbasis Masyarakat
4 Sistem Pengelolaan Drainase
Sistem Pengelolaan Drainase Lingkungan Permukiman
Sistem Pengelolaan Drainase Berbasis Masyarakat
5 Sistem Penanganan Persampahan
Sistem Penanganan Persampahan Skala Regional
Sistem Penanganan Persampahan Skala Kota
Sistem Penanganan Persampahan Skala Kawasan
Sistem Penanganan Persampahan Berbasis Masyarakat

7 - 21