Anda di halaman 1dari 4

Pertumbuhan pasar batubara secara global

Permintaan/demand pasar global

Harga batu bara acuan (HBA) pada Juni 2019 merosot 11,73% menjadi US$ 71,92/ton
dari bulan sebelumnya US$ 81,48/ton. Penurunan ini merupakan yang 11 kalinya secara
beruntun sejak September 2018. HBA merupakan harga rata-rata indeks Indonesia Coal Index
(ICI), Newscastle Export Index (NEX), Globalcoal Newscastle Index (GCNC) dan Platt’s 500
pada bulan sebelumnya dengan kualitas 6322 kcal. Berkurangnya permintaan pasar terhadap
pasokan batu bara di pasar global dampak dari kebijakan pembatasan impor batu bara di
Tiongkok dan India menekan HBA ke level terendahnya dalam 33 bulan sejak November 2016.

Kenaikan HBA pada Agustus 2019 dibandingkan bulan sebelumnya salah satunya
dipengaruhi pasar energi global yang relatif membaik. Selain itu, permintaan (demand) batu bara
oleh Tiongkok dan Korea pun mengalami kenaikan. Selain itu, adanya gangguan pasokan batu
bara dari tambang di Australia menyebabkan indeks Global Coal dan Newcastle mengalami
penguatan pada Juli.

HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle
Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900 pada bulan
sebelumnya. Kualitasnya disetarakan pada kalori 6322 kcal per kg GAR, Total Moisture 8
persen, Total Sulphur 0,8 persen dan Ash 15 persen.

Harga komoditas batubara pada Bulan September harus kembali merosot 1,15% pada
perdagangan kemarin. Indikasi adanya profit taking dan penguatan dolar greenback terhadap
mayoritas mata uang Asia jadi pemicunya.

Harga batu bara acuan ICE Newcastle ditutup di harga US$ 68,8/ton. Sejak Senin (16/9)
harga batu bara cenderung turun 2,4%. Namun apabila dibandingkan dengan performa batu bara
bulanan, hingga 18 September kemarin harga batu bara naik 5% dari periode yang sama bulan
lalu.
Namun dari segi fundamental, permintaan batu bara masih bisa naik. Apalagi proyek
pembangkit listrik tenaga batu bara yang direncanakan China mencapai 226,2 gigawatt (GW),
terbesar di dunia. Bahkan kapasitas ini lebih dari dua kali lipat kapasitas pembangkit listrik di
manapun di India. Dilansir dari Reuters. Proyek-proyek terbaru China akan memiliki kapasitas
yang jauh lebih besar dibandingkan yang dimiliki Jerman pada 2018.

Harga komoditas batubara dunia saat ini

Harga komoditas batu bara harus kembali merosot 1,15% pada perdagangan kemarin.
Indikasi adanya profit taking dan penguatan dolar greenback terhadap mayoritas mata uang Asia
jadi pemicunya.

Harga batu bara acuan ICE Newcastle ditutup di harga US$ 68,8/ton. Sejak Senin (16/9)
harga batu bara cenderung turun 2,4%. Namun apabila dibandingkan dengan performa batu bara
bulanan, hingga 18 September kemarin harga batu bara naik 5% dari periode yang sama bulan
lalu.
Produksi batubara Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Sejak
tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia menjadi eksportir terdepan batubara
thermal. Porsi signifikan dari batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah
(antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram) yang
sebagian besar permintaannya berasal dari Cina dan India. Berdasarkan informasi yang
disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, cadangan batubara
Indonesia diperkirakan habis kira-kira dalam 83 tahun mendatang apabila tingkat produksi saat
ini diteruskan.

Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-9
dengan sekitar 2.2 persen dari total cadangan batubara global terbukti berdasarkan BP Statistical
Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia terdiri dari
batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang
dari 6100 cal/gram.

Ada banyak kantung cadangan batubara yang kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan batubara
terbesar di Indonesia adalah:

1. Sumatra Selatan

2. Kalimantan Selatan

3. Kalimantan Timur

Jumlah produksi batu bara Kaltim mengalami penurunan dari Juni 2018 yang mencapai
8.680.440.90 metrik ton (MT) menjadi 7.788.553,77 MT per Juni 2019. Penurunan ini
ditengarai akibat faktor eksternal yakni dampak perseteruan dagang antara Tiongkok dan
Amerika Serikat.

Untuk mengantisipasinya, Kaltim mencoba membidik negara lain sebagai tujuan ekspor
selain Tiongkok. Seperti India dan beberapa negara Asia Tenggara.
Menurut Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara Dinas ESDM Kaltim, Baihaqi Hazami,
tidak hanya jumlah produksi yang mengalami penurunan. Harga batu bara acuan (HBA) saat ini
juga tengah melandai dari 72,67 USD/ton pada Agustus 2019 menjadi 65,79 USD/ton pada
September 2019. Untuk HBA bersifat fluktuatif karena dipengaruhi kondisi dan permintaan
pasar internasional.

Dalam kasus perseteruan dagang antara Tiongkok dan Amerika, kata Baihaqi, Negeri
Tirai Bambu terpaksa menurunkan produksi barangnya karena pasar mereka terhambat di
Amerika.

Di sisi lain, turunnya harga batubara jelas berimbas pada harga dalam negeri. Perusahaan
pertambangan batu bara harus mengatur strategi apakah memproduksi dalam jumlah besar atau
menghemat produksinya. Sebab, HBA menggunakan acuan dolar Amerika Serikat atau USD.

Kebutuhan lokal batubara di Indonesia dan ekspor batubara Indonesia

Sejak awal tahun 1990an, ketika sektor pertambangan batubara dibuka kembali untuk
investasi luar negeri, Indonesia mengalami peningkatan produksi, ekspor dan penjualan batubara
dalam negeri. Namun penjualan domestik agak tidak signifikan karena konsumsi batubara dalam
negeri relatif sedikit di Indonesia. Toh dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan
penjualan batubara domestik yang pesat karena pemerintah Indonesia berkomitmen terhadap
program energi ambisiusnya (menyiratkan pembangunan berbagai pembangkit listrik, yang
sebagian besar menggunakan batubara sebagai sumber energi karena Indonesia memiliki cukup
banyak cadangan batubara). Selain itu, beberapa perusahaan pertambangan besar di Indonesia
(misalnya penambang batubara Adaro Energy) telah berekspansi ke sektor energi karena harga
komoditas yang rendah membuatnya tidak menarik untuk tetap fokus pada ekspor batubara,
sehingga menjadi perusahaan energi terintegrasi yang mengkonsumsi batubara mereka sendiri.

Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari total produksi
batubara, sisanya dijual di pasar domestik.