Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ………..........................................................................................…1

KATA PENGATAR...............................................................................................2

BAB I LATAR BELAKANG................................................................................3

BAB II ANALISA MASALAH........................................................................….5

BAB III KESIMPULAN......................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.........……………..........…...............................…………14

1
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr.Wb

Puji syukur penulis aturkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat,
nikmat, taufik, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini
tepat waktu.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses pengerjaan tugas ini. Adapun tugas ini membahas tentang
masalah HIV dan AIDS pada anak dan remaja serta penanggulangan nya di
Indonesia, disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah manajemen
homecare dan HIV AIDS.

Seperti halnya kata pepatah, “Tak Ada Gading Yang Tak Retak”. Meskipun
dalam penulisan tugas ini penulis telah mengoptimalkan kemampuan yang penulis
miliki, tentunya masih banyak kekurangan-kekurangan didalamnya. Untuk itu
penulis mohon maaf.

Akhir kata, semoga penyusunan dan penulisan tugas ini memberikan


manfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Wassalammualaikum Wr.Wb

Tangerang Selatan, September 2019

Penulis

2
BAB I

LATAR BELAKANG

1. Latar Belakang

Laporan Epidemi HIV Global UNAIDS 2012 menunjukkan bahwa jumlah


penderita HIVdi dunia mencapai 34 juta orang. Sekitar 50% di antaranya adalah
perempuan dan 2,1 juta anak berusia kurang dari 15 tahun. Di wilayah Asia
Selatan dan Tenggara terdapat sekitar 4 juta orang dengan HIV dan AIDS. (
Kemenkes RI 2011 )

Menurut Laporan Kemajuan Program HIV dan AIDS WHO/SEARO 2011, di


wilayah Asia Tenggara terdapat sekitar 1,3 juta orang (37%) perempuan terinfeksi
HIV. Jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin
meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan
hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya mereka menularkan pada pasangan
seksualnya yang lain. Data estimasi UNAIDS/WHO (2009) juga memperkirakan
22.000 anak di wilayah Asia-Pasifik terinfeksi HIV dan tanpa pengobatan,
setengah dari anak yang terinfeksi tersebut meninggal sebelum ulang tahun kedua.
Sampai dengan tahun 2013, kasus HIV dan AIDS di Indonesia telah tersebar di
368 dari 497 kabupaten/kota (72 %) di seluruh propinsi. Jumlah kasus HIV baru
setiap tahunnya mencapai sekitar 20.000 kasus. Pada tahun 2013 tercatat 29.037
kasus baru, dengan 26.527 (90,9%) berada pada usia reproduksi (15-49 tahun) dan
12.279 orang di antaranya adalah perempuan.( Kemenkes RI 2011 )

Kasus AIDS baru pada kelompok ibu rumah tangga sebesar 429 (15%), yang
bila hamil berpotensi menularkan infeksi HIV ke bayinya. Lebih dari 90% bayi
terinfeksi HIV tertular dari ibu HIV positif. Penularan tersebut dapat terjadi pada
masa kehamilan, saat persalinan dan selama menyusui. Pencegahan penularan HIV
dari ibu ke anak (PPIA) atau Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission
(PMTCT) merupakan intervensi yang sangat efektif untuk mencegah penularan
tersebut. Upaya ini diintegrasikan dengan upaya eliminasi sifilis kongenital, karena
sifilis meningkatkan risiko penularan HIV di samping mengakibatkan berbagai

3
gangguan kesehatan pada ibu dan juga ditularkan kepada bayi seperti pada infeksi
HIV. ( Kemenkes RI 2011 )

4
BAB II

ANALISA MASALAH

Anak adalah seseorang yang berumur kurang dari 18 tahun dan remaja
adalah seseorang yang berumur 10-18 tahun. Jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV
juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2011, jumlah ibu hamil dengan HIV
sebanyak 534 orang yang kemudian meningkat menjadi 1.182 orang pada bulan
Januari-Juni 2014. Sementara itu jumlah bayi dengan HIV juga meningkat, yaitu
sebanyak 71 bayi pada tahun 2011 menjadi 86 bayi pada bulan Januari-Juni 2014.(
Kemenkes RI, 2011 )

Dengan meningkatnya jumlah ibu hamil ini tidak dapat di pungkirin bahwa
penularan HIV pada bayi secara otomatis akan meningkat. Perjalanan penyakit
infeksi HIV pada anak dan remaja sering menimbulkan ancaman terhadap
masalah fisik dan mental. Adanya HIV meningkatkan risiko gangguan mental
sehingga kondisi kesehatan mental penderita lebih buruk dibandingkan anak dan
remaja yang tidak mengalami HIV. Gangguan mental yang dapat terjadi seperti
depresi, kecemasan, masalah sekolah, gangguan regulasi emosi, persepsi yang
buruk terhadap diri sendiri, menarik diri dari lingkungan pergaulan ataupun
perilaku menghindar. Dilaporkan tingkat depresi pada anak dan remaja dengan
HIV di Afrika mencapai lebih dari 60%. ( Skovdal, 2012 )
Perubahan kondisi fisik akibat AIDS pada orang tua atau pelaku rawat dapat
mampengaruhi perkembangan motorik dan kemampuan adaptif anak. Seorang
anak dengan HIV dan salah satu orang tuanya meninggal karena HIV akan
memiliki tingkat kecemasan yang lebih berat. Selain tingginya faktor risiko
terjadinya masalah psikologis pada anak dan remaja dengan HIV, terdapat juga
faktor yang dinilai dapat menjadi faktor pelindung seperti adanya fungsi keluarga
yang baik, tingkat pemahaman dan pengetahuan anak terhadap kondisinya, serta
usia saat pertama mengetahui status HIV pada dirinya dan orang tuanya.
Pada anak dan remaja pengidap HIV ada beberapa masalah baik fisik
maupun mental yang harus di tanggung oleh anak. Masalah fisik yang harus di

5
alami oleh anak dengan HIV mulai dari bayi misalnya berat badan tidak
bertambah,gangguan perkembang, kandidiasis oral berulang,kejang, raum
kemerahan.( klikdokter, 2019)
Sedangkan masalah mental yang harus di hadapi anak dengan HIV
sangatlah banyak dan cukup komplek, Kondisi HIV yang dialami remaja,
membuat remaja rentan mengalami perilaku berisiko, yang kemudian juga dapat
mampengaruhi penyebaran penyakit. Usia remaja ditandai dengan terjadinya
pubertas yaitu perkembangan atau maturitas seksual. Infeksi HIV secara perinatal
dapat mengganggu maturitas seksual yang pada akhirnya dapat menimbulkan
distress secara psikologis. Selain itu, adanya infeksi HIV sejak di dalam
kandungan, dapat menimbulkan kegagalan pertumbuhan. Akibat gagal tumbuh
anak merasa ada yang salah dan berbeda pada dirinya dibanding teman-temannya,
sehingga dapat muncul rasa minder. (Williams 2013 )
Infeksi HIV juga memiliki dampak terhadap perkembangan kognitif anak
dan remaja, terutama pada kemampuan berbahasa ekspresif dan reseptif, daya
ingat, kemampuan mengolah informasi, visuospasial, fungsi eksekutif, dan
kemampuan mengambil keputusan. (Sherr, 2014)
Bahkan ada beberapa anak berhenti sekolah karena kondisi fisik yang sering
menurun, sehingga sering tidak bisa menghadiri kelas. Masalah kesulitan belajar
dan fungsi kognitif pada anak. Adanya HIV pada orang tua sering menimbulkan
distress pada anak. Ketiadaan ataupun kondisi orang tua yang juga sakit dapat
mengganggu pemberian perawatan terhadap anak. Orang tua sering harus
berhadapan dengan kondisi HIV dirinya sendiri, sehinga dapat mengurangi
kualitas dan kuantitas perhatiannya terhadap anak. Anak juga sering dituntut
untuk mengambil alih peran orang tua untuk merawat adik atau sebaliknya
merawat orang tua, dan melakukan pekerjaan rumah tangga untuk menggantikan
fungsi orang tua. Adanya rasa berduka terkait dengan kematian dari orantua nya
juga memiliki dampak negatif terhadap kesehatan mental anak.
Kematian orang tua dapat menimbulkan depresi, tingginya angka
kecelakaan, menurunkan kinerja di sekolah, kecemasan, dan rasa pesimis
terhadap masa depan. Dengan kompleknya masalah yang harus di hadapi oleh

6
anak dengan HIV dan AIDS pemerintah membuat program pencegahan dan
penanggulangan HIV dan AIDS untuk ibu dan anak. Upaya pencegahan
penularan HIV dari ibu ke anak telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004,
khususnya di daerah dengan tingkat epidemi HIV tinggi. PPIA merupakan bagian
dari upaya pengendalian HIV-AIDS dan IMS lainnya melalui pelayanan KIA.
Pada saat itu, upaya yang dilakukan terfokus pada penyusunan pedoman nasional,
penyusunan modul pelatihan, pelatihan PPIA, pembentukan jejaring pelayanan
dan memulai pembenahan sistem pencatatan dan pelaporan. Pada waktu itu
pemeriksaan HIV pada ibu hamil hanya dilakukan pada ibu dengan perilaku
berisiko. Sebagai akibat dari adanya stigma dan perilaku diskriminatif di
lingkungan kesehatan pada awal upaya PPIA, serta kurangnya perhatian dan
dukungan dari pengelola program, maka pengembangan program berjalan lambat.
Hingga akhir tahun 2011 baru terdapat 94 layanan PPIA (Kemenkes, 2011), yang
baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah ibu hamil yang memerlukan
layanan PPIA. Untuk perluasan jangkauan dan akses layanan bagi masyarakat,
Program PPIA juga dilaksanakan oleh beberapa lembaga masyarakat.
Peningkatan akses program dan pelayanan PPIA selanjutnya ditingkatkan untuk
mengendalikan penularan HIV dari ibu ke anak, seiring dengan semakin banyak
ditemukan ibu hamil dengan HIV. pada tahun 2013 Kementerian Kesehatan
mengeluarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan No 001/GK/2013 tentang
Layanan PPIA yang disertai dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) PPIA
2013-2017. Dengan terbitnya surat edarantersebut,kegiatan PPIA diintegrasikan
ke dalam pelayanan KIA, KB dan konseling remaja. Surat edaran tersebut
selanjutnya diperkuat oleh Peraturan Menteri Kesehatan No 51/2013 tentang
Pedoman PPIA dan Peraturan Menteri Kesehatan No 21/2013 tentang
Penanggulangan HIV dan AIDS. Berdasarkan surat edaran tersebut, semua ibu
hamil di daerah epidemi meluas dan terkonsentrasi dalam pelayanan antenatal
wajib mendapatkan tes HIV yang inklusif dalam pemeriksaan laboratorium
rutin, bersama tes lainnya, sejak kunjungan pertama sampai menjelang persalinan.
Untuk daerah epidemi rendah, tes HIV diprioritaskan untuk ibu hamil dengan
IMS dan tuberkulosis (TB). ( kemenkes RI, 2011 )

7
Adapun upaya yang di lakukan pemerintah untuk menanggulangi masalah
ini adalah sebagai berikut :
1. Prong 1 : Pencegahan Penularan HIV pada Perempuan Usia Reproduksi
Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV
pada bayi adalah dengan mencegah perempuan usia reproduksi tertular HIV.
Komponen ini dapat juga dinamakan pencegahan primer. Pendekatan
pencegahan primer bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi
secara dini, bahkan sebelum terjadinya hubungan seksual. Hal ini berarti
mencegah perempuan muda pada usia reproduksi, ibu hamil dan pasangannya
untuk tidak terinfeksi HIV. Dengan demikian, penularan HIV dari ibu ke bayi
dijamin bisa dicegah. Untuk menghindari penularan HIV, dikenal konsep
“ABCDE” sebagai berikut.
1. A (Abstinence): artinya Absen seks atau tidak melakukan hubungan
seks bagi yang belum menikah.
2. B (Be faithful): artinya Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks
(tidak berganti-ganti pasangan).
3. C (Condom): artinya Cegah penularan HIV melalui hubungan seksual
dengan menggunakan kondom.
4. D (Drug No): artinya Dilarang menggunakan narkoba.
5. E (Education): artinya pemberian Edukasi dan informasi yang benar
mengenai HIV, cara penularan, pencegahan dan pengobatannya.
Kegiatan yang dapat dilakukan untuk pencegahan primer antara lain sebagai
berikut :
1. KIE tentang HIV-AIDS dan kesehatan reproduksi, baik secara individu
atau kelompok dengan sasaran khusus perempuan usia reproduksi dan
pasangannya.
2. Dukungan psikologis kepada perempuan usia reproduksi yang
mempunyai perilaku atau pekerjaan berisiko dan rentan untuk tertular
HIV (misalnya penerima donor darah, pasangan dengan
perilaku/pekerjaan berisiko) agar bersedia melakukan tes HIV.
3. Dukungan sosial dan perawatan bila hasil tes positif.

8
2. Prong 2: Mencegah Kehamilan Tidak Direncanakan pada Perempuan dengan
HIV
Perempuan dengan HIV dan pasangannya perlu merencanakan dengan seksama
sebelum memutuskan untuk ingin punya anak. Perempuan dengan HIV
memerlukan kondisi khusus yang aman untuk hamil, bersalin, nifas dan
menyusui, yaitu aman untuk ibu terhadap komplikasi kehamilan akibat keadaan
daya tahan tubuh yang rendah; dan aman untuk bayi terhadap penularan HIV
selama kehamilan, proses persalinan dan masa laktasi. Perempuan dengan HIV
masih dapat melanjutkan kehidupannya, bersosialisasi dan bekerja seperti biasa
bila mendapatkan pengobatan dan perawatan yang teratur. Mereka juga bisa
memiliki anak yang bebas dari HIV bila kehamilannya direncanakan dengan
baik. Untuk itu, perempuan dengan HIV dan pasangannya perlu memanfaatkan
layanan yang menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi guna mencegah
kehamilan yang tidak direncanakan.
Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan akses ODHA ke layanan KB yang menyediakan informasi dan
sarana pelayanan kontrasepsi yang aman dan efektif.
2. Memberikan konseling dan pelayanan KB berkualitas tentang perencanaan
kehamilan dan pemilihan metoda kontrasepsi yang sesuai, kehidupan seksual
yang aman dan penanganan efek samping KB.
3. Menyediakan alat dan obat kontrasepsi yang sesuai untuk perempuan dengan
HIV.
4. Memberikan dukungan psikologis, sosial, medis dan keperawatan

3. Prong 3: Mencegah Penularan HIV dan Sifilis dari Ibu ke Bayi


Pada ibu hamil dengan HIV yang tidak mendapatkan upaya pencegahan
penularan kepada janin atau bayinya, maka risiko penularan berkisar antara
20-50%. Bila dilakukan upaya pencegahan, maka risiko penularan dapat
diturunkan menjadi kurang dari 2%. Dengan pengobatan ARV yang teratur dan
perawatan yang baik, ibu hamil dengan HIV dapat melahirkan anak yang
terbebas dari HIV melalui persalinan pervaginam dan menyusui bayinya. Pada

9
ibu hamil dengan sifilis, pemberian terapi yang adekuat untuk sifilis pada ibu
dapat mencegah terjadinya sifilis kongenital pada bayinya.

Pencegahan penularan HIV dan sifilis pada ibu hamil yang terinfeksi HIV dan
sifilis ke janin/bayi yang dikandungnya mencakup langkah-langkah sebagai
berikut.

1. Layanan antenatal terpadu termasuk tes HIV dan sifilis.

2. Menegakkan diagnosis HIV dan/atau sifilis.

3. Pemberian terapi antiretroviral (untuk HIV) dan Benzatin Penisilin (untuk


sifilis) bagi ibu.

4. Konseling persalianan dan KB pasca persalianan.

5. Konseling menyusui dan pemberian makanan bagi bayi dan anak, serta KB.

6. Konseling pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak.

7. Persalinan yang aman dan pelayanan KB pasca persalinan.

8. Pemberian profilaksis ARV pada bayi.

9. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan keperawatan bagi ibu selama


hamil, bersalin dan bayinya.

Semua kegiatan di atas akan efektif jika dijalankan secara berkesinambungan.


Kombinasi kegiatan tersebut merupakan strategi yang paling efektif untuk
mengidentifikasi perempuan yang terinfeksi HIV dan sifilis serta mengurangi
risiko penularan dari ibu ke anak pada masa kehamilan, persalinan dan pasca
kelahiran.

4. Prong 4: Dukungan Psikologis, Sosial, Medis dan Perawatan

Ibu dengan HIV memerlukan dukungan psikososial agar dapat bergaul dan
bekerja mencari nafkah seperti biasa. Dukungan medis dan perawatan diperlukan

10
untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penurunan daya tahan tubuh.
Dukungan tersebut juga perlu diberikan kepada anak dan keluarganya.

a. Dukungan Psikososial

Pemberian dukungan psikologis dan sosial kepada ibu dengan HIV dan
keluarganya cukup penting, mengingat ibu dengan HIV maupun ODHA lainnya
menghadapi masalah psikososial, seperti stigma dan diskriminasi, depresi,
pengucilan dari lingkungan sosial dan keluarga, masalah dalam pekerjaan,
ekonomi dan pengasuhan anak.Dukungan psikososial dapat diberikan oleh
pasangan dan keluarga, kelompok dukungan sebaya, kader kesehatan, tokoh
agama dan masyarakat, tenaga kesehatan dan Pemerintah. Bentuk dukungan
psikososial dapat berupa empat macam, yaitu:

1. dukungan emosional, berupa empati dan kasih sayang;

2. dukungan penghargaan, berupa sikap dan dukungan positif;

3. dukungan instrumental, berupa dukungan untuk ekonomi keluarga;

4. dukungan informasi, berupa semua informasi terkait HIV-AIDS dan seluruh


layanan pendukung, termasuk informasi tentang kontak petugas
kesehatan/LSM/kelompok dukungan sebaya.

b. Dukungan medis dan perawatan

Tujuan dari dukungan ini untuk menjaga ibu dan bayi tetap sehat dengan
peningkatkan pola hidup sehat, kepatuhan pengobatan, pencegahan penyakit
oportunis dan pengamatan status kesehatan.

Dukungan bagi ibu meliputi:

11
1. pemeriksaan dan pemantauan kondisi kesehatan;

2. pengobatan dan pemantauan terapi ARV;

3. pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik;

4. konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan;

5. konseling dan dukungan asupan gizi;

6. layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat;

7. kunjungan rumah.

Dukungan bagi bayi/anak meliputi:

1. diagnosis HIV pada bayi dan anak;

2. pemberian kotrimoksazol profilaksis;

3. pemberian ARV pada bayi dengan HIV;

4. informasi dan edukasi pemberian makanan bayi/anak;

5. pemeliharaan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang anak;

6. pemberian imunisasi

Penyuluhan yang diberikan kepada anggota keluarga meliputi:

1. cara penularan HIV dan pencegahannya;

2. penggerakan dukungan masyarakat bagi keluarga.

BAB III

KESIMPULAN

Meningkat nya angka penderita HIV AIDS pada anak dan remaja di Indonesia. Dan
banyaka nya masalah yang di hadapi oleh anak baik itu masalah fisik seperti berat
badan tidak bertambah,gangguan perkembang, kandidiasis oral berulang,kejang,

12
raum kemerahan yang seharusnya masih mendapat perhatian dan perawatan khusus
dari orang tua, tetapi di sisi lain penularan HIV AIDS pada anak justrus di dapat
dari orangtua nya sendiri. Dengan kondisi orangtua yang sakit bahkan kematian
orangtua karena HIV AIDS menimbulkan gangguan mental tersendiri bagi anak
dan remaja. Salah satu ganggua yang harus dialami nya dalah depresi, minder,
cemas bahkan pesimis akan masa depan nya.

Untuk itu pemerintah melakukan suatu penanggulangan HIV dengan beberapa


program, salah satu nya ada dengan kegiatan pencegahan dan penanganan HIV
secara komprehensif dan berkesinambungan dalam empat komponen (prong)
sebagai berikut.

1. Prong 1: pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi.

2. Prong 2: pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan


dengan HIV.

3. Prong 3: pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu hamil (dengan HIV dan
sifilis) kepada janin/bayi yang dikandungnya.

4. Prong 4: dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV
beserta anak dan keluarganya

13
BAB IV

DAFTRA PUSTAKA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional penanganan Infeksi


menular seksual. Direktoral jenderal pengendalian dan penyehatan lingkungan :
Jakarta : 2011

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Pedoman manajemen program pencegahan penularan HIV dan Sifilis
dari ibu. Jakarta : 2015

Skovdal M. Pathologising Healthy Children? A Review of Literature Exploring


The Mental Health of HIV-affected Children in Sub-Saharan Africa. Transcultural
Psychiatry. 2012;49(3-4):461-91.

Williams PL et al. PubertalOnset in Children with Perinatal HIV Infection in The


Era of Combination Antiretroviral Areatment. AIDS.2013;27(12):1959-70.

https://www.google.com/amp/s/m.klikdokter.com/amp/3360499/gejala-hiv-pada-b
ay-dan-anak. diakses tanggal 13-10-2019 jam 19.20 wib.

Sherr L, Cluver LD, Betancourt TS, Kellerman SE, Richter LM, Desmond C.
Evidence of Impact: Health, Psychological and Social Effects of Adult HIV on
Children. AIDS.2014;28(3):251-9

14