Anda di halaman 1dari 18

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
‘Analisis Kualitatif pewarna sintetis Rhodamin B dalam sampel Sukade,
Sirup dan Kerupuk Makaroni’

Disusun oleh :

AS’AD PO713251171060
KHAIRUNNISA. S PO713251171073

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR


JURUSAN FARMASI
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan
manusia, oleh karena itu makanan yang kita makan bukan hanya harus memenuhi
gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, akan tetapi juga harus aman dalam arti
tidak mengandung mikroorganisme dan bahan bahan kimia yang dapat
menyebabkan keracunan penyakit. Perusahaan makanan dan minuman kemasan di
Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Ditemukan makanan dan
minuman kemasan yang diproduksi hanya mementingkan aspek selera konsumen
tanpa memperdulikan aspek kesehatan (Yuliarti, 2007).
Zat warna menurut Witt (1876:70) merupakan gabungan zat organik tidak
jenuh, kromofor dan ausokrom. Zat organik tidak jenuh adalah molekul zat warna
yang berbentuk senyawa aromatik yang terdiri dari hidrokarbon aromatik, fenol
dan senyawa yang mengandung nitrogen. Kromofor adalah pembawa warna
sedangkan aukrosom adalah pengikat antara warna dengan serat.
Peningkatan mutu sumber daya manusia dan teknnologii saat ini menjadikan
zat warna kian berkembang dengan pesat. Keterbatasan zat warna alam membuat
industri tekstil menggunakan zat warna buatan (sintetik) sebagai pewarna bahan
tekstil karena zat warna sintetik lebih banyak memiliki warna , tahan luntur dan
mudah cara pemakaiannya ketimbang zat warna alami yang kian sulit diperoleh.
Zat pewarna pada makanan digolongkan menjadi dua kategori yaitu zat
warna alami dan zat warna sintetik. Zat warna alami merupakan zat warna yang
berasal dari tanaman atau buah-buahan. Zat warna alami cenderung menghasilkan
karakteristik warna yang lebih pudar dan kurang stabil bila dibandingkan zat
warna sintetik.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehata (Permenkes)
No.239/MenKes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamin B
termasuk salah satu zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk
pangan. Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan
sebagai pewarna tekstil. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 28 Tahun 2004,
Rhodamin B merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam
produk-produk pangan.
Rhodamin B dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit,
iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hati
akan tetapi sampai sekarang masih banyak produsen yang menggunakan
Rhodamin B dalam produk makanan dan minuman yang dihasilkannya.
Rhodamin B ditemukan dalam berbagai produk seperti: kerupuk.
Zat warna Rhodamin B walaupun telah dilarang penggunaanya ternyata
masih ada produsen yang sengaja menambahkan zat warna Rhodamin B untuk
produk kerupuk sebagai pewarna merah dengan alasan warnanya sangat bagus,
mudah didapat, dan murah harganya. Sebagian besar produk tersebut tidak
mencantumkan kode, label, merek, jenis atau data lainnya. Para pedagang kerupuk
menggunakan pewarna untuk memperbaiki warna merah makanan yang
berkurang (menjadi pudar) akibat penambahan bahan lain. Rhodamin B dapat
terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka
panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti kanker dan tumor pada organ
tubuh manusia. Ciri-ciri makanan yang menggunakan pewarna rhodamin B,
seperti:
 Warnanya mencolok
 Cerah mengilap
 Warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal)
 Ada sedikit rasa pahit
Berbagai peraturan pemerintah ditetapkan selain untuk melindungi konsumen
sekaligus juga merupakan informasi / petunjuk bagi pengusaha kecil industri akan
adanya bahan-bahan tambahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia
(Suprapti, 2005:10).
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya penelitian mengenai
keamanan pangan jajanan di sekitar Kampus POLTEKKES KEMENKES
MAKASSAR Jurusan FARMASi dari segi Rhodamin B.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah
1. Apakah makanan seperti Sukade, Sirup, dan kerupuk makaroni di sekitar
kampus Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Farmasi mengandung zat
pewarna sintetis Rhodamin B?

1.3 Tujuan Praktikum


Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan diatas maka tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bahan kimia zat pewarna Rhodamin
B yang terdapat didalam pelengkap makanan seperti Sukade, Sirup, dan kerupuk
makaroni di sekitar kampus Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Farmasi.

1.4 Manfaat Praktikum


Memberikan informasi pada mahasiswa dan instansi terkait tentang adanya
zat warna berbahaya yang masih digunakan sebagai zat pewarna makanan yaitu
Rhodamin B pada pelengkap makanan seperti Sukade, Sirup, dan kerupuk
makaroni.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang terpenting
dan juga merupakan faktor yang sangat esensial bagi pertumbuhan dan
perkembangan manusia. Tetapi betapapun menariknya penampilan, lezat rasanya
dan tinggi nilai gizinya, apabila tidak aman dikonsumsi, maka makanan tersebut
tidak ada nilainya sama sekali (Winarno dan Rahayu, 1994).
Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima menurut FAO
didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh
pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang
langsung dimakan dan dikonsumsi tanpa persiapan atau pengolahan lebih lanjut
(Judarwanto, 2007). Makanan jajanan (street food) sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik dari perkotaan maupun
pedesaan. Keunggulan dari makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat,
serta cita rasanya yang cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Meskipun
makanan jajanan memiliki keunggulan-keunggulan tersebut, ternyata makanan
jajanan juga beresiko terhadap kesehatan karena penanganannya sering tidak
higienis, yang memungkinkan makanan jajanan terkontaminasi oleh mikroba
beracun maupun penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak diizinkan.

2.2 Bahan Pewarna Makanan


Warna dari suatu produk makanan ataupun minuman merupakan salah
satu ciri yang sangat penting. Warna merupakan kriteria dasar untuk menentukan
kualitas makanan, antara lain warna juga dapat memberi petunjuk mengenai
perubahan kimia dalam makanan, seperti pencoklatan (deMan, 1997).
Bahan pewarna makanan kadang-kadang ditambahkan dalam makanan
untuk membantu mengenali identitas atau karakteristik dari suatu makanan; untuk
mempertegas warna alami dari makanan; untuk mengkoreksi variasi alami dalam
warna; untuk menjaga keseragaman warna dari batch ke batch, di mana variasi
tersebut biasa terjadi pada intensitas warna; dan memperbaiki penampilan
makanan yang mengalami perubahan warna alaminya selama proses pengolahan
maupun penyimpanan (Nollet, 2004). Adapun bahan pewarna yang diijinkan di
Indonesia dapat dilihat di Tabel 1.
Zat pewarna makanan sering kali menimbulkan masalah kesehatan,
terutama dalam penyalahgunaan pemakaiannya. Betapa tidak, zat warna untuk
tekstil dan kulit terkadang dipakai untuk mewarnai makanan (Donatus, 1990).
Zat pewarna dibagi menjadi dua kelompok yaitu certified color dan
uncertified color. Perbedaan antara certified dan uncertified color adalah certified
color merupakan zat pewarna sintetik yang terdiri dari dye dan lake, sedangkan
uncertified color adalah zat pewarna yang berasal dari bahan alami (Winarno,
2002).

2.2.1 Uncertified color additive ( zat pewarna tambahan alami)


Zat pewarna yang termasuk dalam uncertified color ini adalah zat pewarna
alami (ekstrak pigmen dari tumbuh-tumbuhan) dan zat pewarna mineral,
walaupun ada juga beberapa zat pewarna seperti ß-karoten dan kantaxantin yang
telah dapat dibuat secara sintetik. Untuk penggunaannya bebas sesuai prosedur
sertifikasi dan termasuk daftar yang tetap. Satu-satunya zat pewarna uncertified
yang penggunaannya masih bersifat sementara adalah Carbon Black (Winarno,
2002).

2.2.3 Certified color (zat pewarna sintetik)


Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, zat warna hasil
rekayasa teknologipun kian berkembang. Oleh karena itu berbagai zat warna
sintetik diciptakan untuk berbagai jenis keperluan misalnya untuk tekstil, kulit,
peralatan rumah tangga dan sebagainya (Djalil, dkk, 2005).
Tabel 1. Zat Pewarna bagi Makanan dan Minuman yang Diijinkan di
Indonesia (Winarno, 2002)
Warna Nama Nomor indeks
nama
I. Zat warna alam
Merah Alkanat 75520
Merah Cochineal red ( karmin ) 75470
Kuning Annato 75120
Kuning Karoten 75130
Kuning Kurkumin 75300
Kuning Safron 75100
Hijau Klorofil 75810
Biru Ultramarin 77007
Coklat Karamel -
Hitam Carbon black 77266
Hitam Besi oksida 77499
Putih Titanium dioksida 77891
II. Zat warna sintetik
Merah Carmoisine 14720
Merah Amaranth 16185
Merah Erythrosium 45430
Oranye Sunsetyellow FCF 15985
Kuning Tartrazine 19140
Kuning Quineline yellow 47005
Hijau Fast green FCF 42053
Biru Brilliant blue FCF 42090
Biru Indigocarmine ( indigotine ) 42090
Ungu Violet GB 42640

Ada dua macam yang tergolong certified color yaitu dye dan lake.
Keduanya adalah zat pewarna buatan. Zat pewarna yang termasuk golongan dye
telah melalui prosedur sertifikasi dan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh FDA.
Sedangkan zat pewarna lake yang hanya terdiri dari satu warna dasar, tidak
merupakan warna campuran juga harus mendapat sertifikat (Winarno, 2002).
1) Dye
Dye adalah zat pewarna yang umumnya bersifat larut dalam air dan
larutannya dapat mewarnai. Pelarut yang dapat digunakan selain air adalah
propilenglikol, gliserin, atau alkohol. Dye dapat juga diberikan dalam bentuk
kering apabila proses pengolahan produk tersebut ternyata menggunakan air. Dye
terdapat dalam bentuk bubuk, butiran, pasta, maupun cairan yang penggunaannya
tergantung dari kondisi bahan, kondisi proses, dan zat pewarnanya sendiri
(Winarno, 2002).
2) Lake
Zat pewarna ini merupakan gabungan dari zat warna (dye) dengan radikal
basa (Al atau Ca) yang dilapisi dengan hidrat alumina atau Al(OH)3. Lapisan
alumina atau Al(OH)3 ini tidak larut dalam air, sehingga lake ini tidak larut pada
hampir semua pelarut. Sesuai dengan sifatnya yang tidak larut dalam air, zat
pewarna ini digunakan untuk produk-produk yang tidak boleh terkena air. Lake
sering kali lebih baik digunakan untuk produk-produk yang mengandung lemak
dan minyak daripada dye, karena FD & C Dye tidak larut dalam lemak. (Winarno,
2002).

2.3 Rhodamin B
Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil
dan kertas. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam
larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat ini sangat berbahaya jika
terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat
berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi
pada saluran pencernaan dan bahaya kanker hati. Apabila tertelan dapat
menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan berwarna merah
atau merah muda. Rhodamin B bersifat karsinogenik sehingga dalam penggunaan
jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Uji toksisitas Rhodamin B telah
dilakukan terhadap mencit dan tikus dengan injeksi subkutan dan secara oral.
Rhodamin B dapat menyebabkan karsinogenik ketika diinjeksi subkutan yaitu
timbul sarcoma lokal, sedangkan secara UV-VIS didapatkan LD5089,5 mg/Kg
yang ditandai dengan gejala adanya pembesaran hati, ginjal dan limfa serta diikuti
perubahan anatomi berupa pembesaran organ pada tikus tersebut. (Index, 2006).

Struktur rhodamin B dapat ditunjukkan pada gambar 1. (Marmion, 1984).

Gambar 1. Struktur rhodamin B

2.4 Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan
yang memisahkan, yang terdiri dari bahan yang berbutir-butir (fase diam),
ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok.
Campuran yang dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal).
Setelah plat atau lapisan ditaruh di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan
pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan
kapiler (pengembangan) (Stahl, 1985).
Kromatografi lapis tipis (KLT) telah banyak digunakan pada analisis
pewarna sintetik. KLT merupakan metode pemisahan yang lebih mudah, lebih
cepat, dan memberikan resolusi yang lebih baik dibandingkan kromatografi
kertas. KLT tidak sebaik HPLC untuk pemisahan dan identifikasi, tetapi metode
ini relatif sederhana dan dapat digunakan untuk memisahkan campuran yang
kompleks. Meskipun demikian KLT tidak mahal dan dapat digunakan secara
mudah di industri makanan (Nollet, 2004). KLT pada hakekatnya melibatkan dua
fase: sifat fase diam atau sifat lapisan, dan sifat fase gerak atau campuran larutan
pengembang (Gritter, 1991).
2.4.1 Fase diam (larutan penjerap/ adsorben)
Semua prosedur kromatografi, kondisi optimum untuk suatu pemisahan
merupakan hasil kecocokan antara fase diam dan fase gerak. Pada KLT, fase diam
harus mudah didapat (Sudjadi, 1986). Dua sifat yang penting dari kolom yaitu
besar partikel dan homogenitas, karena adhesi terhadap penyokong sangat
tergantung pada kedua sifat tersebut. Besar partikel yang biasa digunakan adalah
1-25 mikron (Sastrohamidjojo, 1991).
Kolom yang umum digunakan yaitu silika gel, aluminium oksida,
kieselgur, selulosa dan turunannya, poliamida dan lain-lain (Stahl, 1985). Silika
gel merupakan fase diam yang paling sering digunakan untuk KLT (Sudjadi,
1986). Zat ini digunakan sebagai adsorben universal untuk kr

2.4.2 Fase gerak (pelarut pengembang)


Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa
pelarut. Ia bergerak di dalam fase diam, yaitu suatu lapisan berpori, karena ada
gaya kapiler. Yang digunakan hanyalah pelarut bertingkat mutu analitik dan bila
diperlukan, sistem pelarut multikomponen ini harus berupa campuran sesederhana
mungkin yang terdiri atas maksimal tiga komponen (Stahl, 1985).
Pada proses serapan, yang terjadi jika menggunakan silika gel, alumina
dan fase diam lainnya, pemilihan pelarut mengikuti aturan kromatografi kolom
serapan (Sudjadi, 1986). Memang agak sukar untuk menemukan sistem pelarut
yang cocok untuk pengembangan. Pemilihan sistem pelarut yang dipakai
didasarkan atas prinsip like dissolves like, tetapi akan lebih cepat dengan
mengambil pengalamanan para peneliti, yaitu dengan dasar pustaka yang sudah
ada (Adnan, 1997).
BAB 3
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Timbangan
- Penangas air
- Erlenmeyer 250 mL
- Gelas Kimia 250 mL
- Hot plate
- Gelas Kimia 50 mL
- Gelas Ukur 10 mL
- Gelas ukur 50 mL
- Corong Pisah
- Chamber
- Plat Silika Gel
- Pengaduk Kaca
- Pipet tetes
- Oven
- Corong gelas

3.1.2 Bahan
- Benang wol
- Asam Asetat 10%
- Etanol
- Akuades
- Amonia 10% dalam etanol 70%
- Amonia
- Dietil eter
- Kertas saring (kertas whatman no.42)
- n-butanol
- etil asetat
- Rhodamin B 1000 ppm

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Ekstraksi Sampel dan Pemurnian Sampel
Tahap ekstraksi dan pemurnian yang dilakukan dengan menggunakan dua
metode yaitu :
Prosedur 1, Prosedur ini berdasarkan penelitian dari Utami dan Suhendi tahun
2009 yang mengambil acuan dari Djalil dkk tahun 2005.
a. Sebanyak 10 gram sampel (yang diperkirakan mengandung rhodamin B)
dimasukkan kedalam erlenmeyar kemudian direndam dalam 20 mL larutan
ammonia 2% (yang dilarutkan dalam etanol 70%).
b. Larutan disaring filtratnya dengan menggunakan kertas saring whatman no.42.
c. Larutan dipindahkan kedalam gelas kimia kemudian dipanaskan diatas hot
plate.
d. Residu dari penguapan dilarutkan dalam 10 mL air yang mengandung asam
(larutan asam dibuat dengan mencampurkan 10 mL air dan 5 mL asam asetat
10%).
e. Benang wol dengan panjang 15 cm dimasukkan kedalam larutan asam dan
didihkan hingga 10 menit, pewarna akan mewarnai benang wol, kemudian
benang diangkat.
f. Benang wol dicuci dengan air.
g. Kemudian benang dimasukkan kedalam larutan basa yaitu 10 mL amonia 10%
(yang dilarutkan dalam etanol 70%) dan didihkan.
h. Benang wol akan melepaskan pewarna, pewarna akan masuk kedalam larutan
basa.
i. Larutan basa yang didapat selanjutnya akan digunakan sebagai cuplikanan
sampel pada analisis kromatografi lapis tipis.
3.2.2 Identifikasi sampel dengan KLT
Tahap identifikasi sampel. Identifikasi sampel menggunakan Kromatografi
Lapis Tipis. Sampel ditotolkan pada plat KLT dengan menggunakan pipa kapiler
pada jarak 1,5 cm dari bagian bawah plat, jarak antara noda adalah 2 cm.
kemudian dibiarkan beberapa saat hingga mengering. Plat KLT yang telah
mengandung cuplikan dimasukkan kedalam chamber yang lebih terdahulu telah
dijenuhkan dengan fase gerak berupa n-butanol : etil asetat : amonia (10:4:5)
(Putri, 2009). Dibiarkan hingga lempeng terelusi sempurna, kemudian plat KLT
diangkat dan dikeringkan. Diamati warna secara visual dan dibawah sinar UV,
jika secara visual noda berwarna merah jambu dan dibawah sinar UV 254 nm dan
366 nm berfluoresensi kuning atau orange , hal ini menunjukkan adanya rhodamin
B (Ditjen POM, 2001; Djalil dkk dalam Utami dan Suhendi, 2009 ; Putri, 2009).
BAB 4
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1 Hasil Diskusi


4.1.1 Uji Kualitatif dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis
TABEL PENGAMATAN

Sampel Warna Rf Nilai Rf


Rhodamin B
(Pink)

Sukade 0,76 0,82

Sirup 0,74 0,82

Keupuk 0,9 0,94


makaroni

4.2 Pembahasan
Praktikum yang dilakukan kali ini bertujuan untuk menganalisis Rhodamin B
yang diduga terkandung dalam sampel saos yang banyak beredar dipasaran.
Analisis yang dilakukan dalam percobaan kali ini yaitu analisis kualitatif dengan
metode kromatografi lapis tipis. Sampel yang digunakan adalah Sukade, Sirup dan
kerupuk makaroni yang banyak beredar di pasaran dengan harga yang relatif
murah. Analisis Rhodamin B dalam sampel ini dilakukan karena rhodamin B
dalam makanan perlu diawasi keberadaanya sebab rhodamin B merupakan
pewarna sintesis yang biasa digunakan pada industry tekstil bukan industry
makanan sehingga penggunaan rhodamin B dalam suatu sediaan dilarang karena
dapat menimbulkan dampak yang tidak diharapkan bagi kesehatan seperti
gangguan ginjal, hati dan kanker.
Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan
pada industri tekstil dan kertas. Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang
penggunaannya pada makanan. Hal tersebut telah dicantumkan oleh Menteri
Kesehatan (Permenkes) pada aturan No.239/Menkes/Per/V/85, namun walaupun
sudah dilarang, penggunaan Rhodamine B dalam makanan masih banyak terdapat
di lapangan bahkan dijual bebas dipasaran. Hal tersebut telah membuktikan
bahwa masih banyak permintaan dan penggunaan Rhodamin B di masyarakat
terutama sebagai bahan pewarna makanan. Rhodamin B yang dikonsumsi dalam
jumlah cukup besar dan berulang-ulang akan menyebabkan iritasi pada saluran
penapasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi pada pencernaan, keracunan,
gangguan fungsi hati dan kanker hati. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah
Rhodamin B ini masih banyak beredar dipasaran terutama pada jajanan.
Analisis pertama yang dilakukan adalah analisis kualitatif. Analisis kualitatif
yang dilakukan ini berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan rhodamin B
dalam sampel. Metode yang digunakan dalam analisis secara kualitatif adalah
metode Kromatografi Lapis Tipis yang merupakan salah satu teknik pemisahan
senyawa dengan prinsip adsorpsi dan koefisien partisi. KLT dilakukan karena
pengujian menggunakan metode ini mudah dilakukan dan murah. Prinsip
kromatografi lapis tipis yaitu perbedaan kepolaran ‘like dissolve like” dimana
pelarut yang bersifat polar akan berikatan dengan senyawa yang bersifat polar
juga dan sebaliknya, semakin dekat kepolaran antara senyawa dengan eluent
maka senyawa akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Tahap pertama yang dilakukan adalah preparasi larutan sampel. Preparasi
sampel dilakukan untuk memperoleh larutan rhodamin B dalam sampel sehingga
bisa dianalisis dengan KLT dimana sampel yang diuji harus berbentuk larutan.
Larutan 2% amonia dalam 70% etanol dipilih dalam percobaan kali ini sebab
ammonia merupakan pengikat sekaligus pelarut rhodamin B sehingga rhodamin B
akan terambil sempurna dalam sampel yang akan dianalisis. Larutan yang
dihasilkan kemudian dipekatkan dengan cara pemanasan. Larutan hasil
pemanasan tersebut kemudian ditambah dengan larutan asam (10 mL akuades dan
5 mL asam asetat 5%) dengan tujuan untuk menstabilkan rhodamin B agar tidak
berubah dari bentuk terionisasi menjadi bentuk netral.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan benang wol berukuran 15 cm dalam
larutan kemudian didihkan selama 10 menit. Penggunaan benang wol dalam
percobaan kali ini berfungsi untuk mengekstraksi rhodamin B dalam sampel yang
telah menerima perlakuan, dengan bantuan asam asetat yang sebelumnya telah
ditambahkan terlebih dahulu, sehingga dihasilkan warna benang wol yang
berubah dari putih menjadi merah terang. Selain itu fungsi digunakannya benang
wol adalah sebagai absorben warna saus sedangkan asam asetat glasial berfungsi
sebagai pemberi suasana asam dimana pada suasana ini rhodamin B akan tertarik
oleh asam dan selanjutnya akan terabsorbsi oleh benang wol.Hal ini menandakan
bahwa rhodamin B dalam larutan telah terikat pada benang wol. Namun, karena
sampel uji KLT harus berupa larutan maka rhodamin dalam sampel perlu
dilarutkan dengan menggunakan pelarutnya yaitu larutan 10% amonia dalam 70%
etanol.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Sukade yang banyak beredar dipasaran
5.2 Saran
Saran yang diberikan pada percobaan kali ini yaitu agar lebih
mempehitungkan kembali perbandingan eluen yang digunakan serta lebih
memperhatikan keselamatan kerja ketika bekerja dengan zat kimia berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. (1997). Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan Makanan.


Yogyakarta : Penerbit Andi.
Christian, Gary D. 1994. Analytical Chemistry, edisi kelima. New York : John
Wiley and Sons Inc.
Deman, J.M. 1997. Kimia Makanan. Bandung : Penerbit ITB.
Djalil, A.D., Hartanti, D., Rahayu, W.S., Prihatin, R., Hidayah, N. 2005.
Identfikasi Zat Warna Kuning Metanil (Metanil Yellow) dengan Metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) pada Berbagai Komposisi Larutan
Pengembang, Jurnal Farmasi. Purwokerto : Fakultas Farmasi UMP.
Gritter, R.J., J.M. Bobbit, and A.E. Schwarting. 1991. Pengantar Kromatografi,
Edisi 2, terjemahan Kasasih Padmawinata. Bandung : ITB.
Index, Merck. 2006. Chemistry Constant Companion, Now with a New Additon.
USA : Merck & CO.
Marmion, Daniel. 1984. Colorts For Food Drug and Cosmetika. United States of
Amerik : Jhon Willy and Sons Inc.
Mulja, M. dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya : Airlangga
University Press.
Nollet, 2004. Analisa Rhodamin B dan Metanil Yellow dalam Minuman Jajanan
Anak SD di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta Metode
Kromatografi Lapis Tipis, Skripsi. Surakarta : Universitas Muhamadiyah
Surakarta.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara kromatografi dan Mikroskopi,
diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung :
ITB.
Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta : Kanisius.
Winarno, F.G. dan Rahayu, T.S. 1994. Bahan Makanan Tambahan untuk
Makanan dan Kontaminan. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Winarno, F.G., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.