Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Marilah sama - sama kita panjatkan Segala Puji Syukur kehadhirat Allah SWT, yang
senantiasa melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya,
yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini. Untuk kali ini, saya membuat sebuah
makalah yang berjudul “PENCAK SILAT”. Dalam rangka memenuhi Tugas PENJASKES di
SMA N 1 Kalabahi. Sebelum itu saya ucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada Guru
pembimbing yang telah memotivasi saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Terakhir saya menyadari betul bahwa dalam penulisan dan penyelesaiaan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruksif sangat saya harapkan untuk
kesempurnaan di masa mendatang. Semoga makalah saya yang sederhana ini mampu memberi
mamfaat yang besar bagi kita semua. Amin....

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................. i
Daftar isi...................................................................................................................... ii

BAB I
Pendahuluan................................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang...................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................................................. 1
1.3. Tujuan.................................................................................................................... 1

BAB II
Pembahasan................................................................................................................. 2
2.1. Pengertian Pencak Silat...................................................................................... 2
2.1.1. Jenis dan aliran Pencak Silat……………………………………………… 2
2.1.2. Perguruan dan Pendekar Pencak Silat……………………………….….... 3
2.2. Sejarah Pencak Silat.......................................................................................... 5
2.3. Perkembangan dan penyebaran Pencak Silat..................................................... 6
2.4. Tantangan terhadap Pencak Silat……………………………………………... 8

BAB III
Penutup....................................................................................................................... 9
3.1. Kesimpulan........................................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebutuhan paling dasar manusia adalah keamanan dan kesejahteraan. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, manusia menciptakan dan mengembangkan berbagai cara dan sarana.
Diantara ciptaan manusia yang menyangkut kebutuhan keamanan, adalah cara dan sarana fisik
untuk menghadapi dan mengatasi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan fisik, di
antaranya adalah apa yang disebut "jurus" dan senjata.
"Jurus" adalah teknik gerak fisikal berpola yang efektif untuk membela diri maupun menyerang
tanpa maupun dengan menggunakan senjata. Bentuk awalnya sangat sederhana dan merupakan
tiruan dari gerak-gerik binatang yang disesuaikan dengan anatomi manusia. Kemudian terus
dikembangkan, sejalan dengan perkembangan budaya manusia. Demikian pula senjata yang
digunakan.
Di dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraannya, manusia juga telah menciptakan berbagai cara
dan sarana di antaranya dengan pengembangan "jurus" ke dalam bentuk seni dan olahraga yang
dapat memberikan kesejahteraan batin dan lahir. Salah satu pengembangan seni jurus tersebut
adalah pencak silat.
Di bawah ini secara singkat akan diuraikan beberapa hal sekitar Pencak Silat yang meliputi:
sejarah, falsafah, jenis, aliran, perguruan dan pendekar Pencak silat, penelitian dan penulisan
tentang Pencak Silat, pengembangan dan penyebaran Pencak Silat serta tantangan terhadap
Pencak Silat. Keseluruhan uraian akan disimpulkan secara umum.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat kami merumuskan beberapa masalah, diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Apa itu pencak silat?
2. Bagaimana sejarah pencak silat?
3. Bagaimana perkembangan dan penyebaran pencak silat?
4. Apa yang menjadi tantangan terhadap perkembangan pencak silat?
1.3. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka kami dapat mengambil tujuan sebagai berikut : sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian pencak silat.
2. Untuk mengetahui sejarah pencak silat.
3. Untuk mengetahui perkembangan dan penyebaran pencak silat.
4. Untuk mengetahui tantangan yang terdapat dalam perkembangan pencak silat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pencak silat
Pencak Silat adalah kata majemuk. Pencak dan Silat mempunyai pengertian yang sama
dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat pribumi Asia Tenggara (Asteng), yakni
kelompok masyarakat etnis yang merupakan penduduk asli negara-negara di kawasan Asteng
(Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura,
Thailand dan Vietnam).
Kata Pencak biasa digunakan oleh masyarakat pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan kata
Silat biasa digunakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia lainnya maupun di Malaysia,
Singapura, Brunei Darussalam serta di Thailand (bagian Selatan) dan Filipina.
Penggabungan kata Pencak dan Silat menjadi kata majemuk untuk pertama kalinya dilakukan
pada waktu dibentuk suatu organisasi persatuan dari perguruan Pencak dan perguruan Silat di
Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia, disingkat IPSI pada tahun 1948 di
Surakarta.
Sejak saat itu Pencak Silat menjadi istilah resmi di Indonesia. Perguruan-perguruan yang
mengajarkan Pencak dan Silat asal Indonesia di berbagai negara kemudian juga menggunakan
istilah Pencak Silat.
Di dunia internasional Pencak Silat menjadi istilah resmi sejak dibentuknya Organisasi Federatif
Internasional yang diberi nama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa, disingkat PERSILAT, di
Jakarta pada. tahun 1980. Walaupun demikian, karena kebiasaan, kata Pencak dan Silat masih
digunakan secara terpisah.

2.1.1. Jenis dan aliran Pencak Silat


Berdasarkan pada 4 aspek yang terdapat pada substansinya, wujud fisikal dan visual atau praktek
pelaksanaan Pencak Silat dapat dikategorikan dalam 4 jenis. Praktek pelaksanaan dari masing-
masing jenis Pencak Silat itu mempunyai tujuan tersendiri dan berdasarkan pada tujuan tersebut
akan lebih menekankan pada salah satu aspek tertentu dengan tidak meniadakan aspek-aspek
yang lain.
Keempat jenis Pencak Silat tersebut adalah :
1. Pencak Silat Mental-Spiritual atau Pencak Silat Pengendalian Diri (karena wujud fisikal
dan visual mental-spiritual adalah pengendalian diri), yang praktek pelaksanaannya bertujuan
untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri dan karena itu lebih menekankan pada aspek
mental-spiritual.
2. Pencak Silat Beladiri, yang praktek pelaksanaannya bertujuan untuk pembelaan diri secara
efektif dan karena itu lebih nenekankan pada aspek beladiri
3. Pencak Silat Seni, yang praktek pelaksanaannya bertujuan untuk mempertunjukkan
keindahan gerak dan karena itu lebih menekankan pada aspek seni.
4. Pencak Silat Olahraqa, yang praktek pelaksanaannya bertujuan untuk memperoleh
kesegaran jasmani dan prestasi keolahragaan dan karena itu lebih menekankan pada aspek
olahraga.
Aspek-aspek yang tidak menjadi fokus masih tetap terlihat dengan kadar yang berbeda, ada yang
jelas dan ada yang samar-samar. Karena itu, masing-masing jenis Pencak Silat itu tetap
mempunyai 4 aspek sebagai satu kesatuan dan kebulatan. Masing-masing memiliki nilai-nilai
etis (mental-spiritual), teknis (beladiri), estetis (seni) dan sportif (olahraga) sebagai satu
kesatuan.
Praktek pelaksanaan "jurus" dari masing-masing jenis Pencak Silat dilakukan dengan gaya yang
bermacam-macam. Gaya unik dengan ciri-cirinya yang menonjol dan mudah dibedakan dari
gaya lainnya, disebut "aliran" Pencak Silat. Bagaimana pun wujud keunikan suatu gaya (aliran),
nilai-nilai keempat aspek Pencak Silat, yakni etis, teknis, estetis dan sportif sebagai satu kesatuan
tetap ada dan terlihat. Jika tidak, ia tidak mempunyai nilai sebagai aliran Pencak Silat.
Membedakan aliran-aliran Pencak Silat tidak mudah dan hanya dapat dilakukan oleh mereka
yang ahli dan betul-betul memahami berbagai "jurus" Pencak Silat. Perbedaan aliran hanya
menyangkut segi praktek fisikal dan tidak menyangkut segi mental-spiritual dan falsafah.
Dalam dunia Pencak Silat, aliran bukanlah faham atau mazhab. Karena itu jenis dan aliran
Pencak Silat apapun tetap dijiwai falsafah budi pekerti luhur dan mempunyai aspek mental-
spiritual sebagai aspek pengendalian diri.
Pada jenis Pencak Silat Beladiri, terdapat aliran yang menggunakan "tenaga supernatural" dalam
gaya pelaksanaan "jurus"nya. Tenaga supranatural yang disebut "tenaga dalam", "tenaga dasar"
atau "tenaga tambahan" ini merupakan penguat "jurus" atau kekebalan badan. Adanya aliran
yang menggunakan "tenaga supernatural" telah memperkaya Pencak Silat.
2.1.2. Perguruan dan pendekar Pencak Silat
Pengertian perguruan Pencak Silat sering dikacaukan dengan aliran Pencak Silat. Perguruan
Pencak Silat adalah lembaga pendidikan tempat berguru Pencak Silat. Berguru mempunyai
konotasi belajar secara intensif yang prosesnya diikuti, dibimbing dan diawasi secara langsung
dan tuntas oleh sang guru, sehingga orang yang berguru diketahui dengan jelas perkembangan
kemampuannya, terutama kemampuan pengendalian dirinya atau budi pekertinya. Sang guru
tidak akan mendidik, meningkatkan atau memperluas pendidikannya kepada seseorang yang
mentalitasnya (kemampuan pengendalian diri atau budi pekertinya) dinilai tidak atau kurang
memadai. Dalam kaitan itu, di waktu yang lalu tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi murid
atau anggota perguruan Pencak Silat. Ujian- ujian berat yang menyangkut sikap mental harus
ditempuh lebih dulu dan lulus. Ditinjau dari segi jenis Pencak Silat yang diajarkan, maka
terdapat 4 kategori perguruan Pencak Silat, yakni :
1. Perguruan Pencak Silat Mental-Spiritual, yang menekankan pendidikannya secara intensif
pada aspek mental-spiritual Pencak Silat dengan tujuan untuk membentuk kemampuan
pengendalian diri yang tinggi kepada murid atau anggotanya.
2. Perguruan Pencak Silat Beladiri, yang menekankan pendidikannya pada aspek beladiri
Pencak Silat dengan tujuan untuk membentuk kemahiran teknik beladiri yang tinggi tanpa atau
dengan menggunakan berbagai macam senjata kepada murid atau anggotanya.
3. Perguruan Pencak Silat Seni, yang menekankan pendidikannya pada aspek. seni Pencak
Silat dengan tujuan untuk membentuk keterampilan mempertunjukkan keindahan gerak Pencak
Silat kepada murid atau anggotanya, tanpa atau dengan iringan musik tradisional serta tanpa atau
dengan menggunakan senjata, sesuai dengan ketentuan "wiraga" (teknik gerak), "wirama" (irama
gerak yang selaras, serasi dan seimbang) dan "wirasa" (pelembutan dan penghalusan teknik dan
irama gerak melalui kreativitas dan improvisasi yang dilandasi rasa penghayatan).
4. Perguruan Pencak Silat Olahraga, yang menekankan pendidikannya pada aspek
olahraga Pencak Silat dengan tujuan untuk membentuk kemampuan mempraktekkan teknik-
teknik Pencak Silat yang bernilai olahraga bagi kepentingan memelihara kesegaran jasmani atau
pertandingan. Bagi kepentingan pertandingan, pendidikan disesuaikan dengan peraturan
pertandingan yang berlaku.
Perguruan Pencak Silat Beladiri merupakan perguruan yang terbanyak, diantaranya ada yang
mengajarkan "tenaga supernatural". Sejak tahun 1970-an, banyak perguruan Pencak Silat
Beladiri yang mengajarkan Pencak Silat Olahraga untuk kepentingan pertandingan dengan tujuan
agar murid atau anggotanya dapat mengikuti kejuaraan Pencak Silat Olahraga, karena hanya
jenis Pencak Silat ini yang dipertandingkan. Pencak Silat Beladiri dan Pencak Silat Seni tidak
dipertandingkan tetapi dilombakan dalam bentuk pertunjukan dan peragaan. Ditinjau dari segi
tuntutan perkembangan jaman, perguruan Pencak Silat dapat dikategorikan dalam 3 kelompok,
yakni:
1. Perguruan Pencak Silat tradisional, dengan ciri-cirinya yang menonjol antara lain:
· Pucuk pimpinan perguruan bersifat turun-temurun.
· Penerimaan calon murid melalui ujian seleksi dan masa percobaan yang ketat.
· Metoda pendidikan bersifat monologis.
· Pelanggaran terhadap disiplin perguruan dikenai sanksi pemecatan sebagai anggota.
· Tidak mengenal atribut-atribut maupun bentuk-bentuk tertulis yang menyangkut
perguruan dan pendidikannya.
· Tidak memungut iuran atau sumbangan dari anggotanya.
· Kegiatan perguruan dibiayai oleh pimpinan.
2. Perguruan Pencak Silat. modern, dengan ciri-ciri utamanya antara lain :
· Pimpinan dan pengurus perguruan dipilih dari antara kader-kader perguruan yang
dipandang handal sebagai calon.
· Bersifat terbuka dan bebas dalam penerimaan calon murid.
· Tidak mengadakan masa percobaan tetapi masa pendidikan sebagai pemula.
· Metoda pendidikan bersifat dialogis dan analitis.
· Disiplin perguruan ditegakkan melalui penyadaran dengan argumen rasional.
· Mempunyai atribut-atribut dan bentuk-bentuk tertulis yang menyangkut perguruan dan
pendidikannya.
· Memungut iuran dan sumbangan dari anggotanya sebagai sumber dana untuk membiayai
kegiatan perguruan.
3. Perguruan Pencak Silat: peralihan (transisional), dengan ciri-ciri pokoknya antara lain:
· Pucuk pimpinan turun-temurun tetapi anggota pengurus perguruan dipilih dari antara
kader-kader perguruan yang handal sebagai calon.
· Penerimaan calon murid melalui seleksi dan yang diterima diberi Status sebagai anggota
sementara.
· Metoda pendidikan bersifat dialogis terbatas dalam arti tidak menyangkut hal-hal yang
prinsipiil.
· Disiplin perguruan ditegakkan melalui wejangan-wejangan.
· Mempunyai atribut-atribut dan bentuk-bentuk tulisan yang menyangkut perguruan dan
pendidikannya secara terbatas.
· Tidak memungut iuran tetapi tidak menolak sumbangan dari anggotanya.
· Kegiatan perguruan dibiayai oleh pimpinan dan dari dana sumbangan.
Di Indonesia terdapat 10 perguruan Pencak Silat yang disebut perguruan historis. Kesepuluh
perguruan tersebut adalah :
Setia Hati (SH), Setia Hati Terate (SHT), Perisai Diri (PD), Perisai Putih, Phasadja
Mataram, PERPI Harimurti, Tapak Suci, Persatuan Pencak Seluruh Indonesia (PPSI),
Nusantara dan Putra Betawi.
Yang termasuk perguruan besar di Indonesia antara lain: Merpati Putih, Bangau Putih, Satria
Muda Indonesia dan Kateda Indonesia.
Pimpinan perguruan Pencak Silat pada umumnya berkualifikasi pendekar, yakni suatu status
tertinggi yang berkaitan dengan kemampuan pengamalan ajaran falsafah Pencak Silat secara
konsisten dan konsekuen yang patut ditauladani sekaligus berkaitan juga dengan kemahiran
dalam praktek pelaksanaan Pencak Silat menurut kaidahnya. Di lingkungan perguruan modern,
istilah pendekar telah digunakan sebagai gelar untuk tingkat penguasaan kemahiran Pencak Silat,
diantaranya ada yang sifatnya berjenjang.
2.2. Sejarah Pencak Silat
Masyarakat pribumi Asia tenggara pada umumnya merupakan masyarakat agraris yang
hubungan sosialnya dilaksanakan dengan sistem peguyuban. Warga masyarakat yang demikian
mempunyai dasar pandangan dan kebijaksanaan hidup yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
serta kaidah-kaidah agama dan moral masyarakat. Dengan dasar itulah sistem paguyuban yang
diperlukan bagi kehidupan agrarisnya dapat dilaksanakan dan ditegakkan.
Dalam perkembangan sosial dan budayanya, masyarakat pribumi Asia tenggara telah menyerap
pengaruh luar yang selaras dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah agama maupun moral yang
dijunjung tinggi. Berkaitan dengan itu,falsafah dari luar yang selaras dengan nilai-nilai dan
kaidah-kaidah tersebut,telah diserap dan digunakan untuk mengemas pandangan dan
kebijaksanaan hidup masyarakat pribumi Asia tenggara.
Dengan demikian jatidiri Pencak Silat ditentukan oleh tiga hal pokok sebagai satu kesatuan yakni
:
1. Budaya masyarakat pribumi Asia tenggara sebagai sumber dan coraknya.
2. Falsafah budi pekerti luhur sebagai jiwa dan sumber motivasi penggunaannya.
3. Substansi Pencak Silat itu sendiri yang mempunyai aspek mental spiritual (pengendalian
diri), beladiri, seni dan olahraga sebagai satu kesatuan.
Pencak Silat dengan jatidiri yang demikian baru ada sekitar abad ke-4 Masehi, yakni setelah
adanya kerajaan-kerajaan yang merupakan pusat pengembangan budaya di kawasan hidup
masyarakat pribumi Asteng. Pada jaman kerajaan ini, mula-mula Hindu,kemudian Budha dan
terakhir Islam, Pencak Silat dikembangkan dan menyebar luas.
Pada waktu sebagian besar kawasan hidup masyarakat pribumi Asteng berada di bawah
kekuasaan penjajah asing dari Eropa Barat, pendidikan Pencak Silat yang dipandang
menanamkan jiwa nasionalis, telah dibatasi dan kemudian dilarang.
Tetapi kegiatan pendidikan Pencak Silat berjalan terus secara tertutup. Pada jaman pendudukan
Jepang, Pemerintah yang berkuasa memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk
mengembangkan budayanya agar mendapat dukungan dalam perangnya melawan sekutu. Pada
jaman ini, pendidikan Pencak Silat dilaksanakan seperti semula dan lebih meluas. Setelah
kawasan hidup masyarakat pribumi Asteng bebas dari kekuasaan asing dan lahir negara-negara
yang merdeka dikawasan tersebut, perkembangan dan penyebaran Pencak Silat semakin pesat.
Lebih-lebih setelah dibentuknya organisasi nasional Pencak Silat di sebagian dari negara-negara
tersebut, yakni : Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
(PESAKA), Persekutuan Silat Singapura (PERSISI), Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei
Darussalam (PERSIB), Pencak Silat Association of Thailand (PSAT) dan Philippine Pencak Silat
Association (PHILSILAT).
Di luar negara sumbernya, Pencak Silat juga berkembang dan menyebar, lebih-lebih etelah
dibentuknya Persekutuan Pencak Antarabangsa ( PERSILAT )

2.3. Perkembangan dan penyebaran Pencak Silat


Pengembangan dan penyebaran Pencak Silat dilakukan oleh perguruan-perguruan Pencak Silat.
Setelah Perang Dunia ke-2, kegiatan perguruan-perguruan tersebut di Indonesia, Singapura,
Malaysia dan Brunei Darussalam dikordinasikan oleh organisasi nasional Pencak Silat, yakni
IPSI yang dibentuk pada tahun 1948, PERSISI yang dibentuk pada tahun 1976, PESAKA yang
dibentuk pada tahun 1983 dan PERSIB yang dibentuk pada tahun 1987. Organisasi nasional
Pencak Silat juga dibentuk di negara- negara lain. Untuk mengarahkan dan mengkordinasikan
upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat secara internasional, pada tanggal 11 Maret
1980 di Jakarta dibentuk Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT). Menurut
konstitusinya, PERSILAT mempunyai 3 macam anggota, yakni :
1. Anggota Pendiri, yang terdiri dari IPSI, PESAKA, PERSISI dan PERSIB.
2. Anggota Gabungan, yang terdiri dari organisasi nasional Pencak Silat lainnya yang telah
diakui oleh suatu badan tingkat nasional yang berwenang menangani masalah Pencak Silat di
negara yang bersangkutan dan telah diterima menjadi anggota PERSILAT.
3. Anggota Bersekutu, yang terdiri dari organisasi Pencak Silat yang belum diakui oleh
badan tingkat nasional yang berwenang menangani masalah Pencak Silat tetapi dinilai oleh
PERSILAT dapat mewakili negaranya dan telah diterima menjadi anggota PERSILAT.
Pengembangan dan penyebaran Pencak Silat diusahakan untuk dapat dilaksanakan secara
simultan, meliputi segi fisik dan non-fisik (mental- Spiritual dan falsafah). Tetapi hal ini belum
sepenuhnya terlaksana. Yang sudah terlaksana baru Pencak Silat olahraga. Ini pun segi non-
fisiknya belum mantap.
Upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat Olahraga dilaksanakan antara lain dengan
menyelenggarakan kejuaraan-kejuaraan. Di Indonesia setiap tahun diadakan kejuaraan nasional
Pencak Silat untuk pesilat dewasa dan remaja secara berselang- seling, kecuali apabila dalam
tahun yang bersangkutan diadakan PON (Pekan Olahraga Nasional) di mana Pencak Silat
Olahraga juga diikutsertakan. Sejak tahun 1987, Pencak Silat Olahraga juga diikutsertakan dalam
SEA Games. Dalam tahun- di mana Pencak Silat Olahraga ikutserta dalam SEA Games, IPSI
juga tidak menyelenggarakan kejuaraan nasional. Setiap kejuaraan nasional selalu dimulai dari
kejuaraan tingkat kecamatan. Upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat Seni
dilaksanakan dengan menyelenggarakan festival atau lomba. Di Indonesia IPSI baru
melaksanakannya secara nasional pada tahun 1982. Untuk mengefisienkan penyelenggaraan,
festival atau lomba tersebut diintergrasikan dengan kejuaraan Pencak Silat Olahraga. Lomba
Pencak Silat Beladiri sedang diusahakan untuk juga dapat diselenggarakan, yang akan
diintegrasikan juga dengan kejuaraan Pencak Silat Olahraga. Pada setiap kesempatan kejuaraan
nasional Pencak Silat Olahraga, di Indonesia selalu diadakan pertemuan dan pernbicaraan dalam
rangka peningkatan upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat. Pembicaraan serupa
dalam tingkat kebijaksanaan, dilakukan dalam Munas (Musyawarah Nasional) yang diadakan
setiap 4 tahun sekali. Upaya lainnya yang telah dan akan dilakukan adalah Penataran Pelatih dan
Wasit-Juri, penyempurnaan peraturan pertandingan, merumuskan standar nasional Pencak Silat
Olahraga, kriteria penilaian lomba Pencak Silat Seni dan Pencak Silat Beladiri serta metoda
pendidikan dan latihan Pencak Silat. Kejuaraan Pencak Silat Olahraga yang berskala
internasional telah 6 kali dilaksanakan. Yang pertama dan kedua di Jakarta pada tahun 1982 dan
1984, yang ketiga di Wina pada tahun 1986, yang keempat di Kuala Lumpur pada tahun 1987,
yang kelima di Singapura pada tahun 1988 dan yang keenam di Den Haag pada tahun
1990...**** Pada kesempatan itu juga dilaksanakan festival dan lomba Pencak Silat Seni dan
pertemuan. Seminar Intemasional tentang Pencak Silat pernah diadakan, yakni pada kesempatan
kejuaraan Internasional yang ke-IV di Kuala Lumpur. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan
informasi- informasi sekitar Pencak Silat di berbagai negara, antara lain tentang pengembangan
dan penyebarannya.
Pencak Silat sekarang ini terdapat dan berkembang di 20 negara, yakni di Indonesia, Malaysia,
Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, Austria, Jerman , Belgia, Denmark, Swiss, Perancis,
Yugoslavia, Spanyol, Inggris, Turki, Amerika Serikat, Suriname, Thailand, Filipina dan
Australia.
Di beberapa negara lain sedang dirintis pengembangannya, antara lain di Myanmar, Kamboja,
Laos dan Vietnam. Negara-negara ini berkeinginan untuk mengikuti pertandingan Pencak Silat
Olahraga dalam SEA Games, diantaranya ada yang meminta bantuan pelatih dari Indonesia.
2.4. Tantangan terhadap Pencak Silat
Pencak Silat yang "terdapat di luar negara sumbernya belum seluruhnya berkualifikasi sebagai
Pencak Silat, dalam arti memenuhi kriteria jatidirinya maupun kaidah pelaksanaannya yang
bernilai etis, teknis, estetis dan olahraga sebagai satu kesatuan. Di antara peminat Pencak Silat di
luar negara sumbernya, ada yang berkecenderungan mempelajari Pencak Silat hanya segi
fisikalnya saja dan kurang berminat mengetahui apalagi menghayati nilai-nilai falsafahnya yang
menjiwainya dan nilai-nilai budaya yang mendasari maupun mewarnainya. Selama ini
penyebaran pengetahuan tentang jatidiri Pencak Silat dan kaidah Pencak Silat sebagai aturan
dasar dalam praktek pelaksanaan Pencak Silat yang bernilai etis, teknis, estetis dan olahraga
sebagai satu kesatuan memang belum pernah dilakukan secara khusus. Usaha kearah itu sedang
dirintis oleh IPSI, yanq juga akan dilakukan melalui PERSILAT. Sesuatu yang bernama Pencak
Silat tetapi ujud prakteknya tidak menurut kaidah Pencak Silat (yang dijiwai nilai-nilai jatidiri
Pencak Silat), dengan sendirinya tidak bernilai Pencak Silat menurut pengertian yang
sebenarnya. Hal ini pada gilirannya akan menjatuhkan citra Pencak Silat. Disinilah letak
tantangannya. Tantangan yang kedua berkaitan dengan mutu pertandingan Pencak Silat Olahraga
yang masih belum memadai, bahkan kadang-kadang diwarnai oleh kericuhan , Kritik tajam
mengenai hal ini sering terdengar. Hal itu akan dapat, bahkan mungkin telah menjatuhkan Citra
Pencak Silat. Faktor penyebab yang utama adalah karena kurang dihayati dan dilaksanakannya
kaidah Pencak Silat oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pertandingan. Penghayatan kaidah
Pencak Silat harus dilandasi dengan pemahaman jatidiri Pencak Silat serta nilai- nilai-nilainya.
Selain itu, tujuan pertandingan juga belum dihayati. Diantara tujuan tersebut adalah
mengembangkan dan memasyarakatkan Pencak Silat, mempererat persaudaraan dan persatuan
serta meningkatkan citra Pencak Silat: dan menarik simpati (minat) masyarakat (nasional dan
internasional) terhadap Pencak Silat. Tujuan tersebut harus menjadi motivasi dasar pihak-pihak
yang terlibat dalam per-tandingan dalam melaksanakan fungsi dan peranannya. Gagasan Ketua
Umum PB IPSI di dalam meningkatkan mutu pertandingan Pencak Silat: Olahraga adalah
dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatih IPSI yang berasal dari perguruan-perguruan
yang kemudian dikembalikan ke perguruan-perguruan untuk melatih anggotanya,-terutama
mereka yang akan diikutsertakan dalam kejuaraan. Hanya pesilat yang telah mendapat latihan
dari pelatih IPSI inilah yang boleh mengikuti kejuaraan yang diselenggarakan oleh IPSI.
Nantinya gagasan ini akan di internasionalkan melalui PERSILAT. Gagasan lainnya adalah
penciptaan Pertandingan Sistem Baru (PSB), yang sekarang ini sedang diujicoba. Di samping
tantangan yang bersifat umum, masih terdapat tantangan yang bersifat khusus dalam kaitan
dengan pengembangan dan penyebaran Pencak Silat secara utuh maupun pemeliharaan dan
peningkatan citra Pencak Silat.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari keseluruhan uraian yang telah dikemukakan, dapat ditarik kesimpulan umum sebagai
berikut :
1. Pencak Silat berasal dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat pribumi Asia
tenggara serta memiliki jatidiri tersendiri.
2. Berdasarkan pada nilai-nilai falsafahnya, Pencak Silat pada hakikatnya adalah substansi
dan sarana pendidikan rohani dan jasmani untuk membentuk manusia utuh yang berkualitas
tinggi baik mental maupun fisikal.
3. Tantangan-tantangan yang dapat menjatuhkan citra Pencak Silat perlu diatasi dengan
penyebaran pengetahuan tentang jatidiri Pencak Silat, falsafah Pencak Silat dan kaidah Pencak
Silat serta meningkatkan jumlah pelatih Pencak Silat yang handal dan profesional.
3.2 Saran

Sebagai generasi muda, kita seharsunya mempelajari dan memahami pencak silat karena pencak
silat merupakan kebudayaan nasional yang menjadi identitas bangsa Indonesia.