Anda di halaman 1dari 8

DISOSIATIF FUGUE

Saniaty Tuankotta, Patmawati, H M Faisal Idrus

PENDAHULUAN

Dalam keadaan kesehatan mental, seseorang memiliki perasaan diri


(sense of self) yang utuh sebagai manusia dengan kepribadian dsar yang tunggal.
Secara umum gangguan disosiatif (dissociative disorders) bisa didefinisikan
sebagai adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (di bawah
kendali sadar) yang meliputi ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan peng-
nderaanan segera (awareness of identity and immediate sensations), serta kontrol
terhadap gerak tubuh. 1,2

Dalam penegakan diagnosis Gangguan Disosiatif harus ada gangguan


yang menyebabkan kegagalan mengoordinasikan identitas, memori persepsi
ataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi
sosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang. 2

Gangguan Disosiatif belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun


biasanya terjadi akibat trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan
organik yang dialami. Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak-anak namun
tidak khas dan belum bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan penyakitnya
gangguan disosiatif ini bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah
terjadi kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinya gejala gangguan
disosiatif. 2

Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi berupa : 2


1. Kepribadian yang Labil
2. Pelecehan seksual
3. Pelecehan fisik
4. Kekerasan rumah tangga ( ayah dan ibu cerai )
5. Lingkungan sosial yang sering memperlihatkan kekerasan.

1
DEFINISI

Fugue berasal dari bahasa latin fugure, yang berarti “melarikan diri”. Kata
fugitive (pelarian/buronan) memiliki asal kata yang sama. Fugue sama seperti
amnesia “dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif sebelumnya disebut fugue
psikogenik, si penderita melakukan perjalanan secara tiba-tiba dan tanpa diduga
sebelumnya dari rumah atau tempat kerjanya, ia tidak mampu mengingat kembali
informasi personal yang sudah-sudah, dan menjadi bingung akan identitasnya atau
mengasumsikan identitas yang baru. Bila orang dengan amnesia tampak berjalan-
jalan tanpa tujuan, orang dalam fugue bertindak lebih bertujuan. 1,3

Fugue didefinisikan sebagai mengambil identitas baru pada amnesia


identitas yang lama. Pasien dengan fugue disosiatif melakukan perjalanan
meninggalkan rumah atau situasi pekerjaan dan gagal mengingat aspek penting
dari identitasnya (nama, family, pekerjaan) termasuk berjalan-jalan atau berkelana
ke lingkungan yang baru. Beberapa pasien sering memakai identitas dan
pekerjaan baru tetapi tidak selalu. 4,5

Fugue merupakan suatu periode penurunan kesadaran dengan pelarian


secara fisik dari suatu keadaan yang menimbulkan banyak stress, tetapi dengan
mempertahankan kebiasaan dan ketrampilan. 6

Pada fugue orang itu tiba-tiba berubah kesadarannya dan dalam keadaan
ini identitasnya berubah, ia berbuat lain dari pada biasa, mungkin pergi ke tempat-
tempat yang jauh. Sesudahnya terdapat amnesia, ia lupa segala hal yang telah
terjadi sewaktu ia dalam keadaan fugue itu. 1,6

ETIOLOGI

Etiologi dari fugue disosiatif diduga psikologis. Faktor predisposisinya adalah: 1,4
1. Keinginan untuk menarik diri dari pengalaman yang menyakitkan secara
emosional.

2
2. gangguan mood dan gangguan kepribadian tertentu (seperti gangguan
ambang, histrionik, dan schizoid)
3. Berbagai stresor dan faktor pribadi, seperti finansial, perkawinan,
pekerjaan, atau peperangan,
4. Depresi,
5. Usaha bunuh diri,
6. Riwayat penyalahgunaan alkohol berat.

EPIDEMIOLOGI

Data epidemiologis tentang gangguan disositif ini terbatas, namun


demikian diperkirakan terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki dan
lebih sering pada dewasa muda dibandingkan dewasa yang lebih tua. Karena
gangguan biasanya berhubungan dengan peristiwa yang menakutkan dan
traumatik. Fugue disosiatif jarang terjadi. Gangguan ini sering timbul selama
peperangan, setelah bencana alam, dan sebagai akibat dari keadaan krisis
personal dengan konflik internal yang tinggi . 1,4

GAMBARAN KLINIS

Pasien jalan-jalan dengan tujuan tertentu, biasanya jauh dari rumah.


Selama periode ini mereka mengalami amnesia komplit (Seseorang melupakan
seluruh kehidupannya-siapa dirinya, pekerjaannya, tempat tinggalnya, dan
informasi pribadi lainnya. Tapi tetap bisa mempertahankan kebiasaan, selera dan
ketrampilan mereka) tentang kehidupannya yang lalu dan sesuatu yang
berhubungan dengan lalu, tetapi mereka pada umumnya tidak menyadari bahwa
mereka lupa tentang sesuatu. Setelah pasien kembali ke diri aslinya ia dapat
mengingat waktu sebelum onset fugue, tetapi mereka tetap amnesia (lupa) selama
periode fuguenya. Pasien dengan fugue disosiatif tidak berperilaku yang tidak
wajar atau memperlihatkan adanya ingatan tertentu dari kejadian yang
traumatik.3,4,5

3
DIAGNOSIS

Kriteria diagnostik menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders edisi keempat): 1,4
1. Gangguan yang predominan adalah terjadinya perjalanan mendadak yang
tidak diharapkan berupa meninggalkan rumah, tempat, pekerjaan dan ia
tidak mampu mengingat masa lalunya.
2. Kebingungan tentang identitas personal atau perkiraan dari identitas baru
(sebagian atau utuh).
3. Gangguan tidak terjadi secara khusus selama perjalanan gangguan
identitas dan tidak disebabkan efek fisiologis langsung dari penggunaan
zat (misalnya penyalahgunaan zat, pengobatan) atau kondisi medik umum
(misalnya epilepsi lobus temporalis.
4. Gejala yang menyebabkan distress yang bermakna atau hendaya dalam
bidang sosial, pekerjaan atau fungsi area yang penting.

Diagnosis pasti fugue disosiatif berdasarkan PPDGJ III (Pedoman Penggolongan


dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ketiga): 7
1. Ciri-ciri amnesia disosiatif (F44.0) yaitu hilangnya daya ingat, biasanya
mengenai kejadian penting yang baru terjadi. (selective), yang bukan
disebabkan oleh gangguan mental organik dan terlalu luas untuk dapat
dijelaskan atas dasar kelupaan yang umum terjadi atau atas dasar
kelelahan.
2. Melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang umum dilakukannya
sehari-hari.
3. Kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada (makan, mandi, dan
sebagainya) dan melakukan interaksi sosial sederhana dengan orang-orang
yang belum dikenalnya (misalnya membeli karcis atau bensin,
menanyakan arah, memesan makanan.

4
PENATALAKSANAAN

1. Psikofarmakoterapi
Wawancara psikiatrik saja atau wawancara psikiatrik yang diawali
dengan pemberian obat, mungkin dapat mengungkapkan adanya
stressor psikologik yang memicu (mempresipitasi) timbulnya episode
fugue. Pemberian barbiturate intravena jangka pendek atau menengah
seperti thiopental (pentothal) dan sodium amobarbital serta
benzodiazepine dapat membantu pasien untuk memulihkan ingatannya
yang terlupakan. 1,4
Efek utama barbiturate adalah depresi SSP. Semua tingkat depresi
dapat dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, dan koma. Efek hipnotik
meningkatkan total lama tidur dan mempengaruhi tingkatan tidur yang
bergantung kepada dosis. 8
Benzodiazepine tidak mampu menghasilkan tingkat depresi saraf
sekuat golongan barbiturate. Kerja benzodiazepine terutama
merupakan interaksinya dengan reseptor penghambat neurotransmitter
yang diaktifkan oleh Asam Gamma Amino Butirat (GABA). Reseptor
GABA merupakan protein yang terikat pada membrane dan dibedakan
dalam dua bagian besar subtipe, yaitu reseptor GABAA dan reseptor
GABAB. Benzodiazepine bekerja pada reseptor GABAA yang berperan
pada sebagian besar neurotransmitter di SSP. 1,8
2. Psikoterapi
Setelah pasien dapat mengingat memori yang hilang dilakukan
psikoterapi untuk memasukkan ingatan tersebut dalam kesadaran
mereka. Psikoterapi untuk fugue disosiatif adalah psikoterapi
supportif - ekspresif. 1,4

Tujuan dari psikoterapi suportif adalah:6


a. Menguatkan daya tahan mental yang ada.
b. Mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik untuk
memepertahankan kontrol diri.
c. Mengembalikan keseimbangan adaptif ( dapat menyesuaikan diri).

5
Cara psikoterapi suportif antara lain:
a. Ventilasi
Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi hati
dan keluhan sehingga pasien merasa lega.6
b. Konseling
Memberi pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar
pasien memahami kondisi dirinya.6
c. Hipnoterapi (narkoterapi )
Dilakukan dengan pemberian obat yang diatas (barbiturate IV
jangka pendek atau menengah serta barbiturat), dan dalam keadaan
setengah tidur pasien diwawancarai, konflik dianalisa, lalu
disintesa. Hipnoterapi juga dapat dilakukan untuk relaksasi. 4,6

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Fugue disosiatif merupakan suatu keadaan amnesia disosiatif, ditambah


dengan berperpergian diluar rentang kebiasaan berpergian keseharinnya.
Walaupun terdapat amnesia periode fugue, perilaku individu pada saat itu dapat
tampak sangat normal bagi orang lain yg melihatnya. Biasanya, fugue disosiatif
terjadi dalam waktu yang pendek, dari beberapa jam sampai beberapa hari. Sangat
jarang terjadi dalam dalam beberapa bulan tahun. Umumnya, pemulihan fugue
disosiatif (pulihnya memori dan identitas lama ) terjadi spontan, cepat dan jarang
terjadi kekambuhan. 1,4,9

KESIMPULAN

Disosiatif fugue merupakan gangguan di mana individu melupakan


informasi personal yang penting dan membentuk identitas baru, juga pindah ke
tempat baru. Individu tidak hanya mengalami amnesia secara total, namun juga
tiba-tiba pindah (melarikan diri) dari rumah dan pekerjaan, serta membentuk
identitas baru. Biasanya terjadi setelah seseorang mengalami beberapa stress yang
berat (konflik dengan pasangan, kehilangan pekerjaan, penderitaan karena

6
bencana alam). Identitas baru sering berkaitan dengan nama, rumah, pekerjaan
bahkan karakteristik personalitas yang baru. Di kehidupan yang baru, individu
bisa sukses walaupun tidak mampu untuk mengingat masa lalu. Recovery
biasanya lengkap dan individu biasanya tidak ingat apa yang terjadi selama
fugue.1,2,5
Penanganan dari fugue disosiatif dilakukan dengan cara wawancara
psikiatrik, wawancara dengan bantuan obat dapat membantu mengungkapkan
tentang stressor psikologis yang mencetuskan episode fugue. Psikoterapi
umumnya diindikasikan untuk membantu pasien dapat menerima stressor dan
menyelesaikan dengan cara yang lebih sehat. Pengobatan terpilih adalah
psikoterapi psikodinamik suportif-ekspresif. 1,4

7
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Benjamin J Sadock. Sinopsis Psikiatri jilid 2. Jakarta: Penerbit


Binarupa Aksara; 2010. Hal. 109-100.
2. Hartati, Niken. Gangguan Disosiatif dan Somatoform. 2008. [Cited on
november8,2008]. Available from URL: http: // catatankuliahsiopie.
wordpress. com/2008/11/08/gangguan-disosiatif-dan-somatoform/
3. Pshycological theory and article. 2011. [Cited on january23,2011].
Available from URL: http: //ypsychology.
blogspot.com/2011/01/gangguan-disosiatif. html
4. W S, Noorhana. Gangguan Disosiatif. Sylvia D. Elvira, editor. Dalam:
Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Penerbit FK UI; 2010. Hal. 286-281.

5. Kaplan HI, Benjamin J Sadock. Sinopsis Psikiatri jilid 1. Jakarta: Penerbit


Binarupa Aksara; 2010. Hal. 478.
6. Maramis, WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Penerbit
Airlangga University Press; 2005. Hal. 103,265, 491-485.
7. Maslim Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
dari PPDGJ III. Jakarta: Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya; 2001. Hal. 82-81.
8. Wiria Sari MS. Hipnotik-Sedatif dan Alkohol. Sulistia, Gunawan, editor.
Dalam: Buku Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Penerbit FK UI; 2007. Hal.
160-139.
9. Available from URL: http://books. google. co. id/books? Id = PUr-
clupC5oC&pg=PA72&dq=fugue+disosiatif&hl=id#v=onepage&q=fugue
%20disosiatif&f=false