Anda di halaman 1dari 4

Untuk apa kita hidup jika tuhan tidak menciptakan kita?

Sekitar dua minggu lalu saya mendapatkan sebuah kesempatan yang luar biasa. Sebuah gereja Kristen
yang cukup besar di dekat rumah saya mengadakan sebuah kelas pendalaman iman bermodel diskusi
dengan tema “Gereja dan Tantangan Ateisme.” Saya diizinkan untuk ikut dan berbagi pandangan saya
soal berbagai isu dari sudut pandang ateisme dan juga mengenai ateisme itu sendiri.

Sesaat setelah saya berbagi, seorang peserta diskusi mengangkat tangannya dengan penuh emosi dan
suara lantang menyuarakan pendapatnya:

“Saya ingin apa yang disampaikan di forum ini berimbang. Memang benar bahwa saat ini ateisme
dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena–fenomena yang terjadi di
dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan
kita sendiri.

Para ateis tidak mampu menjawab untuk apa kita hidup dan kenapa kita bisa ada di dunia ini, karena
itulah sehebat apa pun argumen ateis di berbagai hal, saya masih memegang iman saya karena Kristus
mampu menjawab pertanyaan paling mendasar itu!”

Setelah itu, ia mengambil tasnya dengan alasan ada urusan lain dan meninggalkan diskusi menyisakan
peserta lain yang terhening. Sayang sebetulnya karena ia tidak sempat mendengarkan paparan saya
mengenai hal ini, karena itu ada baiknya saya tuliskan saja di blog ini, mudah–mudahan suatu saat beliau
membacanya dan siapa tahu juga bisa berguna untuk yang lain.

Disclaimer: Penjelasan saya di bawah ini membutuhkan sedikit pengetahuan soal evolusi makhluk hidup
dan big bang. Tidak mengerti juga tidak apa–apa sih, tapi kalau ada yang kurang dimengerti soal hal–hal
tersebut dan mau bertanya, jangan di post yang ini, banyak post lain yang sudah membahas hal–hal
tersebut atau bisa sekalian di page Facebook Anda Bertanya Ateis Menjawab
(http://facebook.com/ateis.menjawab2)

Arti hidup kita di hadapan semesta


Baiklah, saya akan memulai memberikan gambaran soal topik ini dengan menampilkan sebuah kutipan
yang cukup terkenal dari Joe Rogan:

Ya, secara obyektif, saya dan Anda hanyalah seorang manusia, primata yang bisa berbicara di sebuah
planet bernama Bumi yang melayang mengitari sebuah bintang bernama matahari di sebuah sisi galaksi
bima sakti yang terus terlempar menjauh dari pusat alam semesta dengan kecepatan luar biasa
semenjak terjadinya big bang.

Atau kalau bicara angka, Anda dan saya hanyalah 2 dari 7 milyar anggota spesies manusia yang masih
hidup, dan manusia hanyalah 1 dari hampir 9 juta spesies yang sudah didaftar ada di bumi, sementara
bumi hanyalah 1 dari 8 planet yang mengitari matahari, dan matahari hanyalah 1 dari 300 sextilliun
(milyar trilyun) bintang yang ada di alam semesta ini.

Singkatnya:

Saya dan Anda ini sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat
sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat (…) kecil dan tidak
berarti jika dilihat dari skala alam semesta kita ini.

Saking kecilnya kadang membayangkannya pun membuat saya merinding, betapa tidak ada artinya saya
bagi alam semesta. Saya ada atau pun tidak, tidak ada pengaruhnya bagi sextiliunan bintang lain di alam
semesta ini.

Maka terkadang saya harus mengakui bahwa agama dalam hal ini bisa sangat menenangkan pikiran.
Agama menimpa sosok alam semesta maha besar yang mati, dingin, dan tidak pedulian pada saya dan
Anda yang kecil ini dengan sosok yang lebih besar lagi, dan sosok tersebut bukan hanya peduli terhadap
ada atau tidaknya kita. Sosok tersebut bahkan peduli terhadap setiap hal kecil yang kita lakukan,
kebaikan kecil kita menyumbang untuk pengemis, kebohongan–kebohongan kecil kita, bahkan dengan
siapa Anda tidur malam ini.
Ya, agama menggambarkan bahwa Tuhan, yang lebih besar daripada alam semesta ini peduli terhadap
semua printilan hidup kita, di saat sebetulnya keseluruhan hidup kita sendiri tidak ada artinya sama
sekali bagi alam semesta yang sedemikian besar ini, dan hal ini sangat sangat sangat sangat
menenangkan sekali bagi pengimannya.

Tuhan dan Tujuan

Ketika agama memberikan arti pada eksistensi pengimannya, maka arti itu tidak sebatas pada kepedulian
Tuhan saja. Sesuatu akan berarti jika ada gunanya, ada tujuannya, dan itulah yang agama berikan.

The Purpose Driven Life, by RIck Warren

Dengan adanya Tuhan melalui agama, Anda punya arti, Anda punya tujuan hidup, Anda tahu untuk apa
hidup di dunia ini.

Sedangkan apa yang Anda punya tanpa adanya Tuhan? Mungkin secarik puisi dari seorang sahabat saya
ketika ia menjalani masa-masa awal menjadi ateis ini bisa cukup menggambarkan:

Kita hanyalah seonggok daging dan tulang yang bergerak dalam rutinitas setiap harinya.

Berbekal kanvas kosong

Atau dengan kata lain,

Berbekal kebebasan.

Ya, kita punya kebebasan.

Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri siapakah kita.

Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri apa tujuan hidup kita.

Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri apa gunanya kita ada


Lupakan alam semesta yang besar dan tidak akan peduli terhadap eksistensi kita.

Kita mungkin tidak berarti bagi rasi bintang sagitarius.

Kita mungkin tidak berarti bagi planet mars

Bahkan kita mungkin tidak berarti bagi Puerto Rico

Tapi kita berarti bagi orang–orang yang mencintai kita

Kita berarti bagi orang–orang yang bahagia mendapatkan waktu hidup kita

Kita berarti bagi orang–orang yang membaik hidupnya karena pekerjaan kita

Kita semua berarti

Kita sungguh berarti bagi wajah-wajah pertama yang terlintas ketika kita mengingat paragraf ini

Ya itu secara sosial dan interpersonal sih, kalau secara biologis tujuan hidup Anda adalah bertahan hidup,
berkembang biak, dan menjaga keturunan Anda karena itulah perintah dasar gen di dalam tubuh kita,
dan itulah yang membuat kita menjadi seperti ini. Kenapa gen itu bisa ada di manusia bisa panjang
ceritanya secara evolutionary principle, semoga kapan–kapan ada yang bahas detailnya di blog ini.