Anda di halaman 1dari 3

Membela jonru

Melalui berbagai kecaman, saya pikir kita telah berlaku tidak adil kepada Kak Jonru. Ia dituduh tukang
fitnah, pendusta dan penyebar kebencian, padahal yang ia lakukan hanya sekadar berbagi, berbagi apa
yang ia anggap benar.

Di Indonesia kemerdekaan menyampaikan pendapat jelas dijamin, lalu apa salahnya jika Kak Jonru
berbagi pemikirannya? Wong ada kelompok yang jelas-jelas ingin makar mengganti ideologi negara dari
Pancasila menjadi khilafah saja dibiarkan kok. Sementara Kak Jonru, sekadar berbagi Informasi. Inget,
Gan, sharing is caring.

Beberapa waktu lalu, saya melihat pertikaian antara Kak Jonru dan Mas Sahal. Wah, ini jelas tidak
imbang. Bagaimana mungkin universalis macam Kak Jonru berdebat dengan santri liberal macam Mas
Sahal? Dari portofolionya saja sudah dapat kita lihat, Kak Jonru mampu berpikir dan mengkritisi segala
aspek kehidupan masyarakat, mulai dari politik, sosial budaya, ekonomi, energi sampai dengan kaidah
hukum fiqih dan syariat. Sedangkan Mas Sahal? Dia ngaji dan fokus ngomongin isu toleransi umat. Jelas
lebih unggul Kak Jonru dong.

Saya hanya ingin menyampaikan hal sederhana saja: kalian, orang-orang biasa, tidak akan mampu
memahami kebijaksanaan dan ketinggian ilmu dari Kak Jonru. Lihat saja, Mas Sahal salah paham ketika
Kak Jonru bilang bahwa Quraish Shihab itu sesat karena syiah. Yang sedang dilakukan Kak Jonru adalah
memperkenalkan kaidah silogisme baru. Ya benar, silogisme atau tata pemahaman logika yang baru.

Silogisme yang selama ini kita kenal adalah produk pemikiran filsafat Yunani kafir. Kak Jonru, sebagai
seorang muslim kaffah, perlu menemukan atau membuat silogisme baru. Kita sebut saja silogisme
tandingan. Lha piye? Bukankah Gubernur Jakarta saja ada tandingannya, mengapa silogisme tidak boleh
ada tandingan?

Silogisme baru bikinan kak Jonru adalah ilmu logika baru yang belum pernah ada di muka bumi. Jika
silogisme kebanyakan adalah semacam ini:

Premis 1: Kak Jonru adalah orang ganteng


Premis 2: Semua orang ganteng pasti pintar

Kesimpulan: Kak Jonru pasti pintar.

Dengan logika tandingan yang dibuat oleh Kak Jonru, maka silogismenya akan lain. Contohnya begini:

Premis 1: Quraish Shihab bukan syiah.

Premis 2: Syiah tidak sesat.

Kesimpulan: Kalau tidak sesat kok tidak mau jadi syiah?

Kak Jonru ingin menyampaikan bahwa kalau memang syiah tidak sesat, kenapa tidak mau disebut syiah?
Dengan silogisme biasa, logika ini memang salah, namun dengan silogisme tandingan bikinan kak Jonru,
hal ini bisa dipahami. Nah, kan? Bijak, kan?Inilah logika tandingan yang sulit dipahami otak bebal kalian,
wahai manusia-manusia biasa nan medioker.

Mas Sahal, yang sudah jauh-jauh kuliah S3 di luar negeri, masa silogisme kayak gini aja nggak bisa? Apa
perlu Kak Jonru bikin workshop logika? Cukup dengan investasi Rp. 200.000, Mas Sahal bisa mempelajari
silogisme tandingan ini dengan mudah. Harus cepat mendaftar, karena workshop jurnalistik Kak Jonru
yang terakhir sampai dihadiri sepuluh ribu orang.

Dan sekali lagi, Kak Jonru bukanlah tukang fitnah. Pemfitnah adalah orang yang sadar bahwa apa yang ia
katakan dusta, tapi mengatakannya sebagai kebenaran. Namun jika ia tidak tahu apa yang ia katakan, ya
bukan fitnah namanya, itu artinya bodoh. Masa logika kayak gini saja tidak paham?

Ketika Kak Jonru mengatakan bahwa hanya pada rezim Jokowi saja polisi masuk ke musala dengan
sepatu, dia tidak sedang memfitnah Jokowi. Lho kan ada tragedi Tanjung Priok? Lha yang masuk ke
musala Tanjung Priok dengan sepatu itu kan Babinsa, bukan polisi. Jadi secara teknis, Kak Jonru gak
bohong dong? Babinsa dan Polisi kan beda?

Lain waktu, Kak Jonru mengunggah foto pocong yang sedang tersenyum, beliau mengatakan itu adalah
foto rakyat Mesir yang berjuang, tapi ternyata bukan. Ya bukan fitnah namanya, tapi gak tahu. Masa kita
nyalahin orang yang gak tahu? Atau ketika kak Jonru bilang bahwa tidak ada Kementerian Agama di
pemerintahan Jokowi tapi nyatanya ada, ya ini bukan fitnah namanya. Hanya belum tahu saja, tidak usah
dibesar-besarkan.

Kali lain, Kak Jonru meneruskan berita dari kawannya: Jokowi naik Garuda dengan memboyong
paspampres, wartawan dan sebagainya, memakai pintu VVIP yang akibatnya membuat jadwal
penerbangan terganggu. Kalau ini ternyata kabar palsu ya bukan salah Kak Jonru, tapi salah temennya
Kak Jonru. Berita bohong kok ditulis, kan kasihan Kak Jonru jadi korban berita bohong. Bayangkan berapa
orang yang kemudian menjadi benci Kak Jonru karena kabar bohong itu. Di sini Kak Jonru adalah korban!

Saat Kak Jonru mengklaim menang debat dengan Mas Sahal, sudah pasti saya mendukung Kak Jonru.
Alasannya? Ya silogisme tandingan tadi. Kalau memang syiah tidak sesat, kenapa Mas Sahal tidak terima
Pak Quraish disebut syiah? Kak Jonru seolah-olah ingin mengajari Mas Sahal, “Kalau Muhammadiyah
tidak sesat, maka kalau Gus Mus yang orang NU itu saya bilang kader Muhammadiyah ya harusnya
bangga. Kan Muhammadiyah tidak sesat?” Meski dalam silogisme klasik ini adalah non-sequitur alias
logika yang remuk.

Butuh pemikiran bertahun-tahun dan menulis banyak buku laku untuk bisa membuat logika tandingan
semacam itu. Coba bayangkan, Prof Quraish Shihab yang sudah menulis lebih dari 50 buku dan beberapa
kitab tafsir Al-Quran yang diakui dunia saja tidak bisa bikin sistem logika tandingan. Berbekal kitab klasik
berjudul Cara Dahsyat jadi Penulis Hebat, Sekuler Lo Gue End dan Sembuh dan Sukses dengan Terapi
Menulis, Kak Jonru telah membuat pemikiran orisinal yang berbeda dari kebanyakan orang.

Tunggu apalagi? Dalam waktu dekat, saya berharap Mojok Institute akan mengadakan Workshop Berpikir
Logis Ala Jonru. Dengan investasi Rp. 500.000 per orang, saya kira workshop ini akan diminati puluhan
ribu pendukung Kak Jonru. Ini satu-satunya kesempatan emas agar kita bisa berpikir waras kritis dan unik
ala Kak Jonru.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Aduh, pusing pala Barbie.