Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PEMBELAJARAN PKN SD

“PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KELAS RENDAH DAN KELAS


TINGGI”

Dosen : Obby Taufik Hidayat, M.Pd.

Disusun oleh Kelompok 7:


Novian Kurniadi (A510170168)
Berlian Ramadhan K N (A510170178)
Fias Kurnia R (A510170184)
Rizki Aziz (A510170203)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSTAS MUHAMMADIYAH SURKARTA
SURAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KELAS RENDAH DAN
KELAS TINGGI” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
pengetahuan serta wawasan kita. Kami juga menyadari bahwa didalam makalah ini
terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi per
perbaikan makalah.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Dan kami
mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan bagi pembaca.

Surakarta, 13 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2


BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
Latar Belakang ....................................................................................................................... 4
Rumusan Masalah .................................................................................................................. 5
Tujuan dan Manfaat ............................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 6
A. Model Pembelajaran PKn MI Kelas Rendah .................................................................. 6
1. Model pembelajaran dengan pendekatan induktif ...................................................... 6
2. Model pembelajaran dengan pendekatan deduktif ...................................................... 7
3. Model ekspositori ........................................................................................................ 7
4. Model pembelajaran Terpadu...................................................................................... 8
B. Model Pembelajaran PKn Tematis SD/MI Kelas Tinggi ............................................. 13
1. Model Pembelajaran Inkuiri ...................................................................................... 13
2. Model Contextual Learning (CTL) ........................................................................... 14
3. Model Belajar Kooperatif dan Kolaboratif ............................................................... 14
4. Model Generatif Learning ......................................................................................... 14
5. Model Diskusi Kelompok ......................................................................................... 15
6. Model Induktif........................................................................................................... 15
7. Model Pendekatan Proses.......................................................................................... 15
8. Model Numherd Heads Logether ( NHT ) ................................................................ 15
9. Model Bermain Peran................................................................................................ 15
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 16
Kesimpulan........................................................................................................................... 16
Saran ..................................................................................................................................... 16
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 17

3
BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembelajaran PKn merupakan salah satu mata pelajaran pokok di sekolah yang
bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan warga negara dalam dimensi spiritual,
rasional,emosional dan sosial, mengembangkan tanggung jawab sebagai warga negara, serta
mengembangkan anak didik berpartisipasi sebagai warga negara supaya menjadi warganegara
yang baik. Menurut (Dalam pembelajaran PKn, kemampuan menguasai metode pembelajaran
merupakan salah satu persyaratan utama yangharus dimiliki guru. Metode yang dipilih dalam
pembelajaran PKn harus disesuaikan dengan karakteristik tujuan pembelajaran PKn,
karakteristik materi pembelajaran PKn, situasi danlingkungan belajar siswa, tingkat
perkembangan dan kemampuan belajar siswa, waktu yangtersedia dan kebutuhan siswa itu
sendiri. Aspek-aspek di atas harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran menjadi suatu
sinergi sehingga pesan pembelajaran dapat ditangkap oleh siswa secara benar dan optimalserta
dapat diejawantahkan dalam perilaku sehari-hari.) untuk dapat mengupayakan terwujudnya hal
tersebut dengan cara melaksanakan proses pembelajaran yang tepat(Van Steenbrugge,
Remillard, Verschaffel, Valcke, & Desoete, 2015).
Dalam mata pelajaran PKn, tuntutan kurikulum bukan hanya didasarkan pada
ketuntasan belajar siswa secara kognitif, tetapi menuntut juga perubahan sikap dan perilaku
sebagai indikator keberhasilan aspek afektif. Hal ini membuat guru kebingungan dalam
membuat desain dan model pembelajaran yang tepat untuk anak usia Sekolah Dasar yang dapat
mengakomodir aspek kognitif dan afektif anak. Jadi dalam menyusun sebuah desain dan model
pembelajaran itu tidak selamanya sebuah desain dan model harus dilaksanakan seperti aslinya,
namun dengan sentuhan kreasi dan inovasi jadilah sebuah desain dan model menjadi lebih
kaya.

Dunia Pendidikan sekarang jauh lebih berkompeten dalam menjalani proses Pendidikan
yang jauh lebih efektif, sehingga peran seorang guru yang tidak hanya kreatif mampu
menunjang proses belajar mengajar yang memenuhi kriteria penilaian dan juga tujuan
pembelajaran agar tercapainya proses pendidikan yang menjadi dasar pengetahuan bagi calon
penerus bangsa ini. Untuk itu, seorang guru harus menguasai paling tidak pengelolaan kelas
dengan menggunakan model-model pembelajaran yang efektif dan tepat sesuai dengan
kemampuan dan karakter siswa, khususnya pada zaman milineal seperti sekarang ini. Berkaitan
dengan hal tersebut, maka pembelajaran model-model dalam pengajaran dikelas perlu
ditingkatkan, dengan begitu akan berpengaruh pada pengetahuan juga pemahaman siswa yang
menjadi tanggung jawab seorang guru.

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Hal ini menyebabkanadanya tuntutan kepada
setiap guru untukdapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana seharusnya mengajar. Dengan
kata lain, setiap guru dituntut untukmemiliki kompetensi mengajar. (Learning & Zheng,
2015)Guru akan memiliki kompetensi mengajar jika, guru paling tidak memiliki pemahaman
dan penerapan secara taktis berbagai metode belajar mengajar serta hubungannya dengan
belajar disampingkemampuan - kemampuan lain yang menunjang. Bertolak dan bermuara pada

4
kebutuhan sebagai guru, maka makalah ini di sajikan tentangberbagai metode belajar mengajar
agar mampu melaksanakan tugas utama guru yaitu mengajar.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka masalah “pengembangan model pembelajaran kelas rendah
dan kelas tinggi “ dapat di rumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengembangan model pembelajaran kelas rendah pkn di SD?
2. Bagaimana pengembangan model pembelajaran kelas tinggi pkn di SD?

Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui model pembelajaran kelas rendah pkn di SD
2. Untuk mengetahui model pembelajaran kelas tinggi pkn di SD

5
BAB II PEMBAHASAN

A. Model Pembelajaran PKn MI Kelas Rendah


Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang mengintegrasikan beberapa mata
pelajaran atau materi pokok yang terkait secara harmonis untuk memberikan pengalaman
belajar yang bermakna kepada siswa. Yang dipadukan di sini adalah materi atau bahan ajar
sebagai upaya agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Pengembangan materi
ini hendaknya disesuaikan dengan kedalaman dan keluasan materi pada kurikulum.

Materi dalam kurikulum dapat dikembangkan dengan memperhatikan tahap


perkembangan siswa, kesesuaian materi dengan lingkungan, atau kebutuhan lingkungan
setempat. Pengembangan materi ini dapat dilakukan antara lain dengan membuat jaringan
topik/tema, membuat bagan arus kegiatan, dan mengembangkan jaringan lintas
kurikulum(Bouffioux & Petit, 1976).

Dilihat dari cara memadukan konsep/materi, keterampilan, topik, dan unit tematiknya,
terdapat sepuluh model atau cara merencanakan pembelajaran terpadu yaitu 1) fragmented;
2) connected; 3) nested; 4) sequented; 5) shared; 6) webbing; 7) threated; 8) integrated; 9)
immersed; dan 10) networked (Fogarty & McTighe, 1993).Dari kesepuluh cara tersebut ada
beberapa cara atau model yang dapat dan sering digunakan dalam pembelajaran di Sekolah
dasar yaitu antara lain webbed, connected, dan integrated. Diantara ketiga model tersebut, yang
paling cocok diterapkan dalam pembelajaran di sekolah dasar kelas rendah adalah model
Webbed. Mengapa demikian? karena pada tahap ini siswa pada umumnya masih melihat
segala sesuatu sebagai satu keutuhan, perkembangan fisiknya tidak bisa dipisahkan dengan
perkembangan mental, sosial, dan emosional.(Wardani, Kriswandani, & Yunianta, 2018) Atas
dasar pertimbangan tersebut, maka pengembangan model pembelajaran yang akan diuraikan
di sini adalah model webbed. Sedangkan model connected dan integrated hanya akan dibahas
sepintas untuk membedakan dengan model webbed.

Berikut ini Beberapa model pembelajaran:

1. Model pembelajaran dengan pendekatan induktif


Pendekatan ini dikembangkan oleh pilosopis Perancis bernama Bacon yang
menghendaki penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit
sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta semakin mendukung hasil kesimpulan.
Pada abad pertengahan, system induktif ini disebut juga dogmatif, artinya langsung
mempercayai begitu saja tanpa berfikir rasional.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatat


induktif dije;askan sebagai berikut:

1) Guru memilih kpnsep, prinsip, aturan, yang akan disajikan dengan pendekatan
induktif.

6
2) Guru menyajikan conto-cotoh khusus, prinsip, aturan yang memungkinkan
siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh
3) Guru menyajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau
mengangkat perkiraan
4) Guru menyusun pernyataan mengenai sifat umum yang telah terbukti
berdasarkan langkah-langkah terdahulu
5) Menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh kemudian
disimpulkan dari contoh tersebut serta tindak lanjut.
Pembelajaran indiktif, menurut Maxmun (2003) dapat dikombinasi dengan
yang lain disesuiakan dengan materi yang akan disampaikan, tujuan serta
kondisi siswa.

2. Model pembelajaran dengan pendekatan deduktif


Model ini merupakan model dengan pendekatan yang mengutamakan penalaran dari
umum ke khusus. Hal ini berbeda dengan pendekatan induktif yang dari khusus ke
umum.
Langkah langkah yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan
deduktif dijelaskan sebagai berikut:

1) Guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan.


2) Guru menyajikan aturan, prinsip yang bersifat umum, lengkap dengan definisi
dan contoh-contohnya
3) Guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan
antara keadaan khusus dengab aturan prinsip umum yang didukung oleh media
yang cocok
4) Guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan
bahwa keadaan umum itu merupakan gambaran dari keadaan khusus

3. Model ekspositori
Model ini merupakan suatu model dengan pendekatan yang menekankan pada
interaksi guru dengan siswa. Dalam pendekatan ini terjadi komunikasi satu arah yaitu
dari guru kesiswa sehingga guru jauh lebih aktif dari pada siswa. Guru banyak
berbicara untuk menginformasikan bahan ajar kapada siswa, sementara siswa sebagai
objek. Siswa menerima apa yang diceramahkan guru dan sambil mendengarkan
penjelasannya siswa menulis apa yang diperintahkan guru, atau yang dianggap
penting. (Heckerman, 2008)Model pembelajaran ekspositori lebih tepat diterapkan
pada siswa kelas satu atau kelas rendah. Guru menggunakan system satu arah karena
anak kelas satu SD cenderung pasif. Mereka baru mampu menerima ceramah dari
guru saja tapi belum mampu memberi umpan balik, lebih-lebih jika guru sudah
mempersiapkan semuanya sehingga siswa sudah nyaman dan tertegun dengan
penjelasan gurunya.
Secar umum langkah-langkah pembelajaran ekspositori dapat dijelaskan sebagai

7
berikut:

1) Guru menyiapka materi dan perlengkapan lain yang akan disampaikan


2) Apersepsi dengan sedikit mengulangi pelajaran yang lalu
3) Setelah itu guru menyampaikan konsep-konsep materi
4) Guru yang kreatif akan menyiapkan perlengkapan yang mendukung seperti
gambar, kaset, dan yang lain disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
5) Guru mulai mengadakan pembelajaran, model ini yang aktif adalah guru
lebih-lebih untuk siswa SD kelas satu atau dua, anak masih malu-malu dan
takut sehingga pembelajaran tampak satu arah.
6) Guru menyimpulkan, menegaskan dan menyetel kaset yang sesuai dan
memberi tindak lanjut.

Adapun hal yang akan lebih kami tekankan yaitu mengenai model EKSPOSITORI.
Kelebihan dari model ekspositori:

a. Model pembelajaran ekspositori lebih tepat disajikan / diterapkan pada siswa


kelas satu atau kelas rendah
b. Model pembelajaran ekspositori jika dipadukan dengan teori belajar
Thorndike akan menambah semangat dan motivasi belajar siswa
c. Adanya pengulangan pelajaran yang telah lalu

Kekurangan dari model ekspositori

a. Hanya terjadi komunikasi satu arah


b. Guru banyak berbicara untuk menginformasikan bahan ajar kepada siswa,
sementara siswa hanya sebagai objek
c. Tampak tidak ada interaktif dari siswa

4. Model pembelajaran Terpadu


Model pembelajaran terpadu adalah suatu pembelajaran yang mengkaitkan tema-tema
yang senada atau over laping, kemudian dikemas menjadi tema yang akan dibahas
dalam suatu pembalajaran . (Gu, Lillicrap, Sutskever, & Levine, 2016)Ada sepuluh
macam pembelajaran terpadu namun di sini akan disajikan tiga macam model
pembelajaran.

1) Model webbed (jaring laba-laba) disini guru emilih tema yangsama atau hamper
samapadabidang studi yang berbeda Model “webbed” sering disebut jaring laba-
laba, adalah model pembelajaran yang dipergunakan untuk mengajarkan tema
tertentu yang berkecendrungan dapat disampaikan melalui beberapa mata pelajaran.
Tema dalam model ini dapat dijadikan pengikat kegiatan pembelajaran baik dalam
mata pelajaran tertentu maupun lintas mata pelajaran. Oleh karena itu, model ini
8
pada dasarnya merupakan bentuk perpaduan yang bertolak dari pendekatan tematis
inter atau antarmata pelajaran dalam mengintegrasikan bahan dan kegiatan
pembelajaran. Tema sebagai sentral dijadikan sebagai landas tumpu penyampaian
isi pembelajaran interdisipliner maupun antardisipliner. Memahami dan memilih
tema esensial yang memiliki keterkaitan materi yang dapat dipadukan. Sebenarnya
bagi guru sekolah dasar (terutama guru kelas) tidak akan banyak menemui kendala
karena sudah terbiasa mengajar berbagai mata pelajaran sehingga sudah paham
betul tentang butir-butir materi setiap mata pelajaran. Pemahaman kita tentang
butir-butir setiap mata pelajaran tentu saja akan memudahkan dalam membuat tema
yang bisa dipadukan dan dikaji dari beberapa mata pelajaran. Sekali lagi dalam
model webbed, tema dapat dijadikan sebagai pengikat pembelajaran dalam satu
mata pelajaran atau antarmata pelajaran. Model yang dikembangkan dalam
kurikulum 2006 adalah pembelajaran tematis antarmata pelajaran dengan
tumpuannya mata pelajaran bahasa Indonesia karena siswa kelas awal (khususnya
kelas 1) masih belajar membaca dan menulis. Pada kesempatan ini paduan
antarmata pelajaran akan mengambil tema yang berasal dari mata pelajaran PKPS
khususnya materi Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam kurikulum 2004
pembelajaran tematis dipergunakan untuk kelas I dan II, namun dalam kurikulum
2006 untuk kelas I, II, dan III. Setelah kita menetapkan mata pelajaran yang akan
dipadukan, kemudian pelajarilah kompetensi dasar dan indikator pada kelas dan
semester yang sama dari setiap mata pelajaran. Setelah itu buatlah tema untuk
mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester,
dan buatlah jaringan kompetensi dasar/ indikator yang menggambarkan hubungan
dengan tema. Contoh tema mata pelajaran atau materi PKn yang bisa dihubungkan
dengan mata pelajaran lain diantaranya hidup hemat, bangga bertanah air Indonesia,
hidup tertib/disiplin, dan kemajemukan. Seandainya kita mengambil tema ”bangga
bertanah air Indonesia”, Gambar/ matrik di atas menunjukkan contoh hubungan
tema dari mata pelajaran PKn dengan indikator-indikator mata pelajaran bahasa
Indonesia, matematika, IPA, Kertakes, dan PKn. Hal ini tidak berarti tema tersebut
tidak berhubungan dengan mata pelajaran lain seperti Agama, pengetahuan sosial
(materi geografi), dan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, kita sebagai guru kelas
dipersilakan untuk mengembangkan hubungan tema tersebut dengan jaringan
indikator mata pelajaran lainnya.

Dalam mengimplementasikan model pembelajaran tematik ini ada beberapa


tahapan kegiatan yang mesti dilakukan guru yaitu tahap perencanaan, Pelaksanaan,
dan Penilaian. Tahap perencanaan meliputi langkah-langkah perencanaan
pembelajaran terpadu sebagaimana telah diuraikan di atas atau kegiatan belajar 1
yaitu: menetapkan pembelajaran yang akan dipadukan, mempelajari kompetensi
dasar setiap mata pelajaran; membuat/memilih tema; membuat matrik atau bagan
hubungan kompetensi dasar
dengan tema/topik; membuat pemetaan pembelajarantematik dalam bentuk m
atrik atau jaringan tema; menyusun silabus, dan menyusun rencana pembelajaran
tematik.

9
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan guru dalam membelajarkan siswa
dengan menggunakan pendekatan, metode, dan pola pembelajaran tertentu yang
dapat dipilah menjadi kegiatan persiapan, pembukaan, kegiatan inti, dan penutup.
Tahap penilaian merupakan kegiatan guru untuk menilai proses dan hasil belajar
siswa yang meliputi prosedur, jenis, bentuk, dan alat penilaian. Kegiatan guru
dalam tahap pelaksanaan dan penilaian biasanya sudah dirumuskan secara rinci
dalam Rencana Pembelajaran dan silabus terlebih dahulu.

Dengan merujuk pada kurikulum 2004, banyak guru atau kelompok guru yang
mengembangkan tema-tema pembelajaran yang mengambil tema utamanya dari
mata pelajaran lain (bukan dari mata pelajaran PKn). Tema-tema antarmata
pelajaran yang dikembangkan untuk kelas 1 antara lain diri sendiri; keluarga;
lingkungan; pengalaman; kegemaran; dan kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

Sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran PKn dapat juga membuat tema
yang diambil dari konsep-konsep PKn seperti tertib/disiplin, hak dan kewajiban
anak, dan hidp hemat. Dapat juga tema yang sudah ada kemudian dimodifikasi dari
konsep- konsep PKn seperti tema ”lingkungan” dimodifikasi jadi ”rukun dalam
kemajemukan” (Bhinneka Tunggal Ika), tema ”keluarga” menjadi ”kasih sayang”,
dan sebagainya. Tema- tema PKn tersebut kemudian dipadukan dengan mata
pelajaran lain.

Selain dipadukan dengan mata pelajaran lain, Anda dapat membuat jaringan
laba- laba tersebut dalam intra mata pelajaran PKn. Misalnya tema hak dan
kewajiban anak dapat dilihat kewajiban terhadap diri sendiri, hak dan kewajiban di
rumah, di sekolah, dan lingkungan masyarakat. Tema disiplin bisa dilihat dari
disiplin diri sendiri, di rumah, sekolah, dan masyarakat. Tema kasih sayang
(kurikulum 2004) bisa dikembangkan melalui jaring laba-laba yang meliputi sikap
sayang terhadap diri sendiri (seperti mandi, makan, gosok giri), sayang terhadap
anggota keluarga ( ayah, ibu, kakak, adik,) sayang terhadap warga sekolah (guru,
teman) dan sayang terhadap masyarakat sekitar (teman, orang lebih tua).

Ketika mempelajari kegiatan belajar 1 modul ini, telah disinggung bahwa tema
dalam pembelajaran tematik memiliki peran antara lain memudahkan siswa
memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, dan guru dapat menghemat
waktu. Sebagai contoh mari kita lihat dalam kurikulum PKn (2006) kelas III
semester 1 terdapat dua standar kompetensi yang salah satunya dirumuskan dalam
kalimat “Melaksanakan norma yang berlaku di masyarakat”. Dari standar
kompetensi tersebut dirinci menjadi 3 kompetensi dasar yaitu:

a. mengenal aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar;


b. menyebutkan contoh aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat;
c. melaksanakan aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat

10
Ketiga kompetensi dasar tersebut dapat diikat dalam satu tema misalnya ”norma
masyarakat”. Dari tema tersebut kemudian dirumuskan anak tema, dan dari anak
tema dapat dibuat anak tema lagi. Persoalannya, bagaimana merumuskan anak
tema? dalam suatu norma selalu ada muatan langsung atau tidak langsung tentang
hak dan kewajiban individu dari norma tersebut. Misalnya aturan tidak boleh
merokok, maka ada kewajiban individu untuk tidak merokok dan sekaligus hak
individu menikmati udara bersih.

Selanjutnya dilihat dari ruang lingkupnya, muatan materi mata pelajaran PKn
meliputi antara lain kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, sehingga tema
di atas dapat dilihat dari bidang-bidang kehidupan tersebut.

Berdasarkan argumentasi tersebut, tema norma masyarakat bisa dibagi menjadi


anak tema norma dalam kehidupan politik, kehidupan sosial, kehidupan budaya,
dan kehidupan ekonomi. Masing-masing norma bidang kehidupan tersebut
meliputi hak dan kewajiban. Jika divisualkan dapat dirumuskan dalam jaringan
tema/topik di bawah ini.

Dari sub-sub tema hak dan kewajiban dari setiap bidang kehidupan dapat dirinci
menjadi sikap dan perbuatan. Misalnya kewajiban dalam bidang politik dalam
kehidupanmasyarakat yaitu menghargai pendapat orang lain, menerima perb
edaan pendapat, dan sebagainya. Hak bidang politik misalnya hak dihargai
pendapatnya, hak untuk menentukan pilihan dalam pemilihan ketua kelas atau
ketua kelompok diskusi. Demikian pula dalam bidang lain dapat dirinci seperti
dalam bidang politik. Dipersilakan untuk Anda mengembangkannya sesuai
dengan tingkat perkembangan anak.

Tema di atas merupakan upaya menanamkan sikap dan perilaku disiplin/tertib


siswa dalam kehidupan sehari-hari untuk menggiring siswa menjadi anggota
keluarga dan masyarakat, warga sekolah dan warga negara yang baik (Good
Citizenship). Pembentukan warga negara yang baik merupakan tujuan dari mata
pelajaran PKn. Langkah-langkah yang ditempuh:

a. Guru menyiapkan tema utama dan tema lain yang telah dipilih dari
beberapa standar kompetensi lintas mata pelajaran/bidang studi.
b. Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih.
c. Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih
luas.
d. Guru memilih konsep atau informasi yang dapat mendorong belajar
siswa dengan pertimbangan lain yang memang sesuai dengan prinsip-
prinsip pembelajaran terpadu.

11
2) Model terpadu connected

dalam model pembelajaran ini keterhubungan guru perlu memiliki keterampilan


untuk memilih tofik materi yang cenderung sama atau over laping dalam satu mata
pelajaran.Langkah yang ditempuh dalam pembelajaran ini:

a. Guru menentukan tema-tema yang dipilih dari silabus.


b. Guru mencari tema yang hampir sama/relefan dengan tema-tema yang lain.
c. Tema-tema tersebut diorganisasikan pada tema induk.
d. Guru menjelaskan materi yang terdiri dari beberapa tema diatas.
e. Guru mengadakan tanya jawab tentang materi yang diajarkan.
f. Dengan bimbingan guru siswa membuat kelompok kecil
g. Dengan bimbingan guru pada siswa di minta untuk mengerjakan tugas
kelompok dari guru.
h. Guru memberikan kesimpulan, penegasan,evaluasi secara tertulis dan
sebagai alat tindak lanjut guru menugaskan pada siswa untuk menyusun
portofolio dan dikumpulkan minggu depan.

Model connected (berhubungan) dilandasi anggapan bahwa butir-butir


pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Misalnya
butir-butir pembelajaran ideologi Pancasila, hukum, dan ketatanegaraan atau
materi tentang hak dan kewajiban, ketertiban, demokrasi dapat dipayungkan
pada mata pelajaran PKn. Dalam model ini guru perlu menata butir-butir
pembelajaran dan proses pembelajaran secara tematis, karena pembentukan
pemahaman, keterampilan dan pengalaman secara utuh tidak berlangsung
secara otomatis.

Berdasarkan uraian di atas, maka matrik 3 merupakan contoh model


connected dalam mata pelajaran PKn, selain juga merupakan model webbed.

3) Model terpadu integrated

Contoh mencoba model integrated dengan memilih tema seperti mengenal


pentingnya alam seperti dunia tumbuhan dan hewan. Mengenal pentingnya
lingkungan alam seperti halnya dunia tumbuhan dan hewan akan sangat bermakna
jika dikatkan dengan kehidupan anak sehari-hari, baik dirumah, sekolah, maupun
masyarakat.

12
Sejumlah tema (topik) pembelajaran dari mata pelajaran yang berbeda tetapi
esensinya sama dalam sebuah tema /topik tertentu. Model ini berangkat dari adanya
tumpang tindih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang dituntut dalam
pembelajaran sehingga perlu adanya pengintegrasian multi didiplin. Dalam model
ini butir-butir pembelajaran perlu ditata sedemikian rupa hingga dapat
dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai butir pembelajaran dari berbagai mata
pelajaran berbeda. Oleh karena itu perlu adanya tema sentral dalam pemecahan
suatu masalah yang dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu.

Langkah-langkah pembelajaran model terpadu integrated sebagai berikut:

a. Guru menentukan salah satu tema dari mata pelajaran yang akan dipadukan
dengan tema-tema pada mata pelajaran lain.
b. Guru mencari tema –tema dari mata pelajaran lain yang memiliki makna yang
sama
c. Geru memandukan tema-tema dari beberapa mata pelajaran yang dikemas
menjadi satu tema besar
d. Guru menyusun RPP yang terdiri dari gabungan konsep-konsep bebrapa mamta
pelajaran. Dalam pembelajaran terpadu guru perlu menentukan lebih banyak
indicator dari pada yang model lainnya.
e. Guru menentukan alokasi waktu karena untuk pembelajaran ini biasanya
memerlukan waktu lebih dari satu kali pertemuan.

B. Model Pembelajaran PKn Tematis SD/MI Kelas Tinggi

Terdapat beberapa model yang dapat di aplikasikan dalam pembelajaran PKn di SD/MI
pada kelas tinggi, yaitu :

1. Model Pembelajaran Inkuiri

Suatu model langkah-langkah pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru


untuk mengadakan inkuri dalam proses pembelajaran yakni sebagai berikut :

a. Merumuskan tujuan
b. Menyajikan kata-kata (istilah) yang perlu diketahui
c. Menyajikan ide-ide yang perlu dipelajari
d. Memecahkan masalah
e. Menerapkan kemampuan yang telah dikuasai

Model pembelajaran kedua disebut proses inkuiri menurut Welton & Mallan (1988)
memiliki langkah-langkah sebagai berikut [10]:

a. Menyadari adanya peristiwa yang kontroversial yang selanjutnya menjadi


masalah yang harus dipecahkan
b. Mengidentifikasi hipotesis (berupa penjelasan atau jawaban tentatif )

13
c. Menguji hipotesis sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh.

Menurut Armstrong (1996), model di atas dapat digunakan oleh guru untuk
pembelajaran inkuiri pada semua kelas di jenjang SD/MI. Meskipun demikian, tidak
tertutup kemungkinan untuk melakukan modifikasi disesuaikan dengan Standar Isi (SI)
atau Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar (SKKD) yang ada dalam kurikulum
formal (Intended Curriculum) bahkan yang penting lagi hendaknya disesuaikan dengan
karakteristik siswa dan lingkungan belajarnya, terutama sosial budaya setempat

Demikianlah sebuah model pembelajaran yang difokuskan pada suatu kompetensi.


Sesuaikan model inkuiri tersebut dengan kondisi, situasi dan tingkat perkembangan
para siswa di sekolah dasar. Tentu saja, model inkuiri untuk siswa sekolah dasar pada
kelas yang lebih rendah, langkah-langkah inkuiri akan lebih sederhana lagi.

2. Model Contextual Learning (CTL)

Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa
untuk memahami makna materi pelajaran yang di pelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, sehingga siswa
memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu
permasalahan ke permasalahan yang lainnya.

3. Model Belajar Kooperatif dan Kolaboratif

Belajar kooperatif adalah belajar dengan cara bekerja sama untuk mencapai tujuan
secara efektif dan efisien. Sedangkan belajar kolaboratif bekerja sama dengan orang
lain dalam proyek bersama sebagai aliansi strategis. Adapun ciri-ciri model ini antara
lain :

a. Belajar dalam satu kelompok dan memiliki ketergantungan dalam proses


belajar dan penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota
kelompok kerja sama.
b. Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang disepakati,
siswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.

Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menentukan tujuan bersama dalam
pembelajaran adalah peta konsep. Dalam pembuatan peta konsep dengan dilakukan
secara berkelompok dan setiap anggota kelompok mendapat satu bagian sub peta
konsep.

4. Model Generatif Learning

Pembelajaran ini memberi kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan sendiri


makna dari informasi yang diperolehnya.

14
5. Model Diskusi Kelompok

Model ini dimaksudkan untuk membangun kerjasama individu dalam kelompok,


kecakapan analisis, dan kepekaan sosial, serta tanggung jawab individu dalam
kelompok.

6. Model Induktif

Pendekatan induktif adalah pendekatan dengan jalan penyajian bahan ajar dimulai
dari contoh-contoh konkrit yang mudah dipahami siswa. Berdasarkan contoh-contoh
tersebut siswa dibimbing membuat kesimpulan.

7. Model Pendekatan Proses

Dalam pendekatan ini guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi,


sehingga siswa terlibat secara aktif dalam berbagai pengalaman. Atas bimbingan guru
siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai sendiri suatu kegiatan.
Siswa melakukan kegiatan percobaan, pengamatan, pengukuran, perhitungan, dan
membuat kesimpulan sendiri.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran yang


menggunakan pendekatan ini antara lain: (1) mengamati, mengklasifikasikan, serta
mengenal dan merumuskan masalah yang muncul. (2) mengumpulkan, menganalisis
dan menfasirkan data, dan (3) meramalkan gejala yang mungkin akan terjadi

8. Model Numherd Heads Logether ( NHT )

Model pembelajaran ini lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam


mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya
untuk dipresentasikan di depan kelas.

9. Model Bermain Peran

Bermain peran adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa dalam
menemukan jati dirinya dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan
masyarakat, dalam memecahkan masalahnya dengan bantuan kelompok. Diharapkan
dengan bermain peran siswa dapat menyadari adanya peran yang berbeda dengan
dirinya yaitu perilaku orang lain. Model ini dikembangkan oleh George shaffel.

15
BAB III PENUTUP

Kesimpulan
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang mengintegrasikan beberapa mata
pelajaran atau materi pokok yang terkait secara harmonis untuk memberikan pengalaman
belajar yang bermakna kepada siswa. Materi dalam kurikulum dapat dikembangkan dengan
memperhatikan tahap perkembangan siswa, kesesuaian materi dengan lingkungan, atau
kebutuhan lingkungan setempat.

Model Pembelajaran PKn MI Kelas Rendah ada 4 model antra lain: Model
pembelajaran dengan pendekatan induktif, Model pembelajaran dengan pendekatan deduktif,
Model ekspositori, dan Model pembelajaran Terpadu. Sedangkan Model Pembelajaran PKn
Tematis SD/MI Kelas Tinggi ada 9 antara lain: Model Pembelajaran Inkuiri, Model Contextual
Learning (CTL), Model Belajar Kooperatif dan Kolaboratif, Model Generatif Learning, Model
Diskusi Kelompok, Model Induktif, Model Pendekatan Proses, Model Numherd Heads
Logether ( NHT ), dan Model Bermain Peran.

Saran
Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini jauh dari kesempurnaan,maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua

16
Daftar Pustaka

Bouffioux, C., & Petit, R. (1976). CRYPTORCHIDIE ET CANCER TESTICULAIRE. Acta


Urologica Belgica.
Fogarty, R., & McTighe, J. (1993). Educating teachers for higher order thinking: The three-
story intellect. Theory Into Practice. https://doi.org/10.1080/00405849309543592
Gu, S., Lillicrap, T., Sutskever, U., & Levine, S. (2016). Continuous deep q-learning with
model-based acceleration. 33rd International Conference on Machine Learning, ICML
2016.
Heckerman, D. (2008). A tutorial on learning with Bayesian networks. Studies in
Computational Intelligence. https://doi.org/10.1007/978-3-540-85066-3_3
Learning, M., & Zheng, A. (2015). Evaluating Machine Learning Models\nA Beginner’s
Guide to Key Concepts and Pitfalls. In O’Reilly.
Van Steenbrugge, H., Remillard, J., Verschaffel, L., Valcke, M., & Desoete, A. (2015).
Teaching Fractions in Elementary School. The Elementary School Journal, 116(1), 49–
75. https://doi.org/10.1086/683111
Wardani, I. F. E., Kriswandani, & Yunianta, T. N. H. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran
(Clis Children Learning In Science) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Getasan Kabupaten Semarang. Jurnal
Mitra Pendidikan ( JMP Online ).

17