Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji serta syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala
limpah dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta
salam tak lupa kami curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
beserta keluarga, sahabatnya, dan para umatnya hingga akhir zaman.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugrahkan rahmat,
hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
yang berjudul “Trias Politika di Indonesia” ini dengan baik dan lancar.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pancasila. Dalam makalah ini membahas tentang sejarah Trias Politika,
pengertian Trias Politika, serta hak dan kewajiban lembaga Legistaltif,
Eksekutif, dan Yudikatif.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, kami mohon kritik dan saran pembaca. Dan kami memohon maaf
yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan cetak atau bahasa yang kurang
baku di dalam makalah ini.
Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak, terutama bagi para mahasiswa yang ingin menambah khazanah
pengetahuan mereka.

Jakarta, 12 Oktober 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam sebuah praktek ketatanegaraan tidak jarang terjadi pemusatan
kekuasaan pada satu tangan, sehingga terjadi pengelolaan sistem
pemerintahan yang dilakukan secara absolut atau otoriter, sebut saja misalnya
seperti dalam bentuk monarki dimana kekuasaan berada ditangan seorang
raja. Maka untuk menghindari hal terse but perlu adanya
pembagian/pemisahan kekuasaan, sehingga terjadi kontrol dan keseimbangan
diantara lembaga pemegang kekuasaan.
Dalam prinsip demokrasi ada yang namanya trias politika yaitu
pembagian kekuasaan didalam sebuah pemerintahan untuk mencapai sebuah
kestabilan Negara. Ketiga unsur tersebut adalah Legislatif selaku pembuat
UU, Eksekutif selaku pelaksana UU dan Yudikatif sebagai pengawas
pelaksanaan UU. Konsep yang dibangun Montesquieu itu sebenarnya sangat
bagus. Legislatif sebagai perwakilan rakyat membuat UU yang mana UU itu
hakikatnya adalah kemauan rakyat. Kemudian untuk melaksanakan kemauan
rakyat itu dibutuhkan sebuah panitia agar kemauan rakyat itu bisa berjalan.
Fungsi itulah yang yang dijalankaneksekutif atau yang biasa kita sebut
pemerintah meskipun penamaan pemerintah itu tidak terlalu tepat karena
berkesan yang memerintah, padahal pemerintah itu sebenarnya pelayan
rakyat. Untuk mengawasi apabila pelaksanaan kemauan rakyat
dibentuklah yudikatif. Jadi dengan demikian sesuai prinsip demokrasi
dimana vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) maka rakyat
benar-benar dimanja dengan trias politika ini

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Trias Politika ?
2. Bagaimana sejarah terlahirnya Trias Politika ?
3. Apa konsep-konsep Trias Politika?
4. Bagaimana hubungan antara Trias Politika dengan kehidupan Politik di
Indonesia
5. Apa pengertian dari Check and Balance ?
6. Apa tujuan dari Check and Balance ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami Trias Politika.
2. Untuk mengetahui konsep-konsep trias Politika.
3. Mengetahui hubungan Trias Politika dengan kehidupan politik di
Indonesia.
4. Untuk mengetahui dan memahami Check and Balance
BAB II
PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Trias Politica


Pemisahan kekuasaan juga disebut dengan istilah trias politica adalah
sebuah ide bahwa sebuah pemerintahan berdaulat harus dipisahkan antara
dua atau lebih kesatuan kuat yang bebas, yang bertujuan mencegah satu
orang atau kelompok mendapatkan kuasa yang terlalu banyak. Pemisahan
kekuasaan juga merupakan suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan-
kekuasaan itu sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama, untuk
mencegah penyalahugunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa.

1.2. Sejarah Trias Politica


Doktrin ini pertama kali dikenalkan oleh John Locke (1632-1704) dan
Montesquie (1689-1755) yang ditafsirkan menjadi “pemisahan kekuasaan”.
Pemikiran John Locke mengenai Trias Politica ada di dalam Magnum Opus
(karya besar) yang ia tulis dan berjudul Two Treatises of Government yang
terbit tahun 1690. Dalam karyanya tersebut, Locke menyebut bahwa fitrah
dasar manusia adalah “bekerja (mengubah alam dengan keringat sendiri)” dan
“memiliki milik (property).” Oleh sebab itu, negara yang baik harus dapat
melindungi manusia yang bekerja dan juga melindungi milik setiap orang yang
diperoleh berdasarkan hasil pekerjaannya tersebut. Dalam masa ketika Locke
hidup, milik setiap orang, utamanya bangsawan, berada dalam posisi rentan
ketika diperhadapkan dengan raja. Seringkali raja secara sewenang-wenang
melakukan akuisisi atas milik para bangsawan dengan dalih beraneka ragam.
Sebab itu, tidak mengherankan kalangan bangsawan kadang melakukan
perang dengan raja akibat persengkataan milik ini, misalnya peternakan,
tanah, maupun kastil. Negara ada dengan tujuan utama melindungi milik
pribadi dari serangan individu lain, demikian tujuan negara versi Locke.
Untuk memenuhi tujuan tersebut, perlu adanya kekuasaan terpisah,
kekuasaan yang tidak melulu di tangan seorang raja/ratu. Menurut Locke,
kekuasaan yang harus dipisah tersebut adalah Legislatif, Eksekutif dan
Federatif, Baron Secondat de Montesquieu atau yang sering disebut
Montesqueieu mengajukan pemikiran politiknya setelah membaca karya John
Locke. Buah pemikirannya termuat di dalam magnum opusnya, Spirits of the
Laws, yang terbit tahun 1748. Sehubungan dengan konsep pemisahan
kekuasaan, Montesquieu menulis sebagai berikut: “Dalam tiap pemerintahan
ada tiga macam kekuasaan: kekuasaan legislatif; kekuasaan eksekutif,
mengenai hal-hal yang berkenan dengan dengan hukum antara bangsa; dan
kekuasan yudikatif yang mengenai hal-hal yang bergantung pada hukum sipil.
Dengan demikian, konsep Trias Politika yang banyak diacu oleh negara-
negara di dunia saat ini adalah Konsep yang berasal dari pemikir Perancis ini.
Namun, konsep ini terus mengalami persaingan dengan konsep-konsep
kekuasaan lain semisal Kekuasaan Dinasti (Arab Saudi), Wilayatul Faqih
(Iran), Diktatur Proletariat (Korea Utara, Cina, Kuba).
Di negara berkembang seperti Indonesia, teori Trias Politica diterapkan
setelah mengalami modifikasi tertentu agar sesuai dengan konteks sosio-
politik Indonesia. Kalau dalam konsep asli Trias Politica menghendaki
pemisahan kekuasaan (separation of powers), Indonesia memodifikasinya
menjadi pembagian kekuasaan (division of powers) tanpa menghilangkan
esensi-esensi dasar teori itu seperti perlunya control terhadap kekuasaan
eksekutif dan lain-lain.

1.3. Konsep Trias Politica


Konsep Trias Politica atau pembagian kekuasaan menjadi tiga pertama
kali dikemukakan oleh John Locke dalam karyanya Treatis of Civil Government
(1690) dan kemudian oleh Baron Montesquieu dalam karyanya L’esprit des
Lois (1748). Konsep ini adalah yang hingga kini masih berjalan di berbagai
negara di dunia. Konsep dasarnya adalah, kekuasaan di suatu negara tidak
boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus
terpisah di lembaga-lembaga negara yang berbeda.
Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan
kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda :

1. Lembaga Eksekutif
Kekuasaan Eksekutif biasanya di pegang oleh badan Eksekutif. Di
Negara-negara demokratis badan eksekutif biasanya terdiri atas kepala
Negara seperti raja atau presiden, beserta menteri-menterinya. Badan
eksekutif dalam arti luas juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer.
Dalam naskah ini istilah badan eksekutuif dipakai dalam arti sempitnya.
Wewenang badan eksekutif:
a. Administratif, yakni kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan
peraturan perundangan lainya dan menyelenggarakan administrasi
Negara.
b. Legislative, Menurut teori-teori yang berlaku tugas utama lembaga
legislatif terletak di bidang perundang-undangan atau membuat peraturan,
untuk itu lembaga legislatif diberi hak inisiatif, hak untuk mengadakan
amandemen terhadap rancangan undang-undang yang disusun
pemerintah
c. Keamanan, artinya kekuasaan untuk mengatur polisi dan angkatan
bersenjata, menyelenggarkan perang, pertahanan Negara, serta kemanan
dalam negeri.
d. Yudikatif, memberi grasi, amnesti, dan sebagainya.
e. Diplomatik, yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan hubungan
diplomatic dengan Negara lain.
Trias politika yang dipakai Indonesia saat sekarang ini adalah
pemisahan kekuasaan. Salah satu buktinya dalam hal membentuk undang-
undang. Sebelum perubahan undang-undang dibentuk oleh presiden, namun
setelah perubahan undang-undang dibentuk oleh DPR. Undang-undang
diubah satu kali dalam empat tahap. Saat ini presiden dapat mengajukan
rancangan undang-undang.
DPR selain memegang kekuasaan membentuk undang-undang, dalam
melakukan pengawasan memiliki:
1. Hak angket yaitu menanyakan kepada presiden mengenai hal-
hal yang mengganggu kepentingan nasional;
2. Hak Interperelasi yaitu untuk melakukan penyelidikan.
Dalam menjalankan fungsi eksekutif, presiden dibantu oleh wakil
presiden beserta mentri-mentri. Presiden sebagai kepala negara, memiliki
kewenangan untuk:
1. Mengangkat duta dan konsul;
2. Menempatkan duta negara lain;
3. Pemberian grasi dan rehabilitasi;
4. Pemberian amnesty dan abolisi;
5. Member gelar dan tanda jasa.

Dalam Sistem presidensil di Indonesia setelah amandemen Undang-


Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 lebih mempertegas
sistem presidensial Indonesia yaitu dengan adanya kepastian mengenai masa
jabatan presiden, Presiden selain sebagai kepala negara juga sebagai kepala
pemerintahan, adanya mekanisme saling mengawasi dan mengimbangi
(check and balances), adanya mekanisme impeachment/ pemakzulan.
Presiden berhak mengajukan Rancangan Undang-undang kepada DPR
dan juga berwenang menjalankan Undang-undang melalui Peraturan
Pemerintah (PP) yang dibuat oleh presiden untuk melaksanakan undang-
undang, jadi suatu UU tanpa PP belum bisa dilaksanakan. Sedangkan Perpu
dibuat dalam hal ikhwal kegentingan Negara.

Beberapa macam badan Eksekutif:


a. Sistem Parlemen
Dalam system ini badan eksekutif dan badan legislative bergantung satu
sama lain. Kabinet, sebagai bagian dari badan eksekutif yang bertanggung
jawab, diharap mencerminkan kekuatan-kekuatan politik dalam badan
legislative yang mendukungnya, dan mati hidupnya cabinet bergantung pada
dukungan dalm badan legislative (asas tanggung jawab menteri). Cabinet
semacam ini dinamakan cabinet parlementer. Sifat serta bobot ketergantungan
ini berbeda dari satu Negara dangan Negara lain, akan tetapi umumnya dicoba
untuk mencapai semacam keseimbangan antara badan eksekutif dan badan
legislative.[2]
b. Sistem presidensial
Dalam system ini kelangsungan hidup badan eksekutif tidak tergantung
pada badan legislative, dan badan eksekutif mempunyai masa jabatan
tertentu. Kebebasan badan eksekutif terhadap badan legislative
mengakibatkan kedudukan badan eksekutif lebih kuat dalam menghadapi
badan legislative. Lagi pula menteri-menteri dalam cabinet presidnsial dapat
dipilih menurut kebijaksanaan presiden sendiri tanpa menghiraukan tuntutan-
tuntutan partai politik. Dengan demikian pilihan presiden dapat didasarkan atas
keahlian serta faktoa-faktor lain yanf dianggap penting. System ni terdapat di
Amerika Serikat, Pakistan dalm masa Demokrasi Dasar (1958-1969), dan
Indonesia di bawah UUD 1945.[3]

2. Badan Legislatif
Badan Legslatif atau Legislature mencerminkan salah satu fungsi
badan itu, yaitu legislate, atau membuat Undang-Undang. Nama lain yang
sering dipakai ialah Assembly yang mengutamakan unsur “berkumpul” (untuk
membicarakan masalah-masalah public). Nama lain lagiialah Parliament,
suatu istilah yang menekankan unsur “bicara (parler) dan merundingkan.
Sebutan lain mengutamakan representasi atau keterwakilan anggota-
anggotanya dan dinamkan People’s Representative Body atau Dewan
Perwailan Rakyat. Akan tetapi apapun perbedaan dalam namanya dapat
dipastikan bahwa badan ini merupakan symbol dari rakyat yang berdaulat.
Menurut teori yang berlaku, rakyatlah yang berdaulat; rakyat yang
berdaulat ini mempunyai suatu “kehendak”. Keputusan-keputusan yang
diambil oleh badan ini merupakan suara yang authentic dari general will itu.
Karena itu keputusan-keputusannya, baik yang bersifat kebijakan maupun
Unang-undang, mengikat seluruh masyarakat.[4]
Fungsi Badan Legislatif:
a. Menentukan kebijakan (polity) dan membuat undang-undang. Untuk itu
badan legislative diberi hak untuk inisiatif, hak untuk mengadakan
amandemen terhadap rancangan undang-undang yang disusun oleh
pemerintah, dan terutama di bidang budget atau anggaran.
b. Mengontrol badan eksekutif dalam arti menjaga agar semua tindakan
badan eksekutif sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan.
Untuk menyelenggarakan tugas ini, badan perwakilam rakrat diberi hak-hak
control khusus.[5]
Lembaga legislatif di Indonesia terdiri dari MPR (Majelis
Permusyawaratan Rakyat), DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan DPD
(Dewan Perwakilan Daerah), ketiganya memiliki tugas, dan wewenang yang
berbeda satu sama lainnya, namun dalam lembaga legislatif atau lembaga
perwakilan rakyat memiliki fungsi utama yakni:
1. Fungsi Legislasi
Menurut teori-teori yang berlaku tugas utama lembaga legislatif
terletak di bidang perundang-undangan atau membuat peraturan,
untuk itu lembaga legislatif diberi hak inisiatif, hak untuk
mengadakan amandemen terhadap rancangan undang-undang
yang disusun pemerintah
2. Fungsi Pengawasan
Tidak hanya dibidang legislasi, fungsi kontrol lembaga legislatif di
bidang pengawasan dan kontrol terhadap lembaga eksekutif
(pemerintah). Pengawasan dilakukan lembaga legislatif melalui hak
– hak kontrol yang khusus, seperti hak bertanya (interpelasi),
maupun hak angket.
3. Fungsi Anggaran
Lembaga legislatif berhak menetapkan anggaran pendapatan
dan belanja negara melalui DPR bersama presiden dengan melihat
pertimbangan DPD

3. Badan Yudikatif
Kekuasaan Yudikatif adalah kekuasaan peradilan di mana kekuasaan ini
menjaga undang-undang, peraturan-peraturan dan ketentuan hukum lainnya
benar-benar ditaati, yaitu dengan menjatuhkan sanksi terhadap setiap
pelanggaran hukum/undang-undang. Selain ituYudikatif juga bertugas untuk
memberikan keputusan dengan adil sengeketa-sengketa sipil yangdiajukan ke
pengadilan untuk diputuskan[6]
Dari pembicaraan tentang Trias Politika dalam Negara-negara demokratis
telah kita ketahu bahwa dalam artinya yang asli dan murni, doktrin itu diartikan
sebagai pemisahan kekuasaan yang mutlak diantara ketiga cabang
kekuasaan(legislative, eksekutif, yudikatif), baik mengenai fungsi serta
tugasnya maupun mengenai organ yang menjalankan fungsi tersebut. Akan
tetapi dari perkembangannya telah kita ketahui bahwa doktrin pemisahan
kekuasaan yang mutlak dan murni tersebut tidak mungkin dipraktekan dizaman
modern karena tugas Negara dalam abad ini sudah demikian kompleksnya,
sehingga doktrin itu diartikan hanya sebagai pembagian kekuasaan , artinya
hanya fungsi pokoknya yang dipisahkan, sedangkan selebihnya ketiga cabang
kekuasaan itu terjalain satu sama lain.
Kekuasaan Yudikatif merupakan kekuasaan kehakiman, dimana sudah
banyak mengalami perubahan sejak masa reformasi, dengan di
amandemennya UUD 1945, di dalam kekuasaan yudikatif terdapat tiga
lembaga yaitu:
1. Mahkamah Konstitusi (MK)
Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan:
a) Mengadili pada tingkat pertama dan terakhir (Final and
Binding) yang putusannya bersifat final untuk: menguji UU
terhadap UUD 1945 (Judicial Review); memutus sengketa
kewenangan lembaga negara; memutus pembubaran
partai politik; memutus perselisihan tentang pemilihan
umum;
b) Memberikan putusan pemakzulan (impeachment)
presiden dan/atau wakil presiden atas permintaan DPR
karena melakukan pelanggaran berupa pengkhinatan
terhadap negara, korupsi, penyuapan, dan tindak pidana
berat, atau perbuatan tercela.
2. Mahkamah Agung (MA)
MA memiliki kewenagan menyelengarakan kekuasaan peradilan
yang berada dilingkungan peradilan umum, militer, agama, dan tata
usaha negara; mengadili pada tingkat kasasi; dan MA berwenang
menguji peraturan perundang-undangan dibawah UU terhadap UU.
3. Komisi Yudisial (KY)
Adalah suatu lembaga baru yang bebas dan mandiri yang
berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan
berwenang dalam rangka menegakan kehormatan dan perilaku
hakim.
1. Kebebasan Badan Yudikatif
Dalam doktrin Trias Politika, baik yang diartikan sebagai pemisahan
kekuasaan maupun sebagai pembagian kekuasaan, khusus untuk cabang
kekuasaan yudikatif, prinsip yang tetap dipegang ialah bahwa dalam tiap
Negara hokum badan yudikatif haruslah bebas ikut campur tangan badan
eksekutif. Ini dimaksudkan agar badan yudikatif itulah dapat diharapkan
bahwakeputusan yang diambil oleh badan yudikatif dalam suatu perkara tidak
akan memihak, berat sebelah, dan semata-mata berpedoman pada normo-
norma hokum dan keadilan serta hati nurani hakim itu sendiri dengan tidak
usah takut bahwa kedudukannya terancam.

2. Kekuasaan Badan Yudikatif


Dalam system hukum yang berlaku di Indonesia, khususnya system Hukum
Perdata, hingga kini masih terdapat dualisme, yaitu:
a. System hukum adat, suatu tata hokum yang bercorak asli Indonesia dan
umumnya tidak tertulis.
b. System hukum Eropa Barat (Belanda) yang bercorak kode-kode Prancis
zaman Napoleon yang dipengaruhi oleh badan hokum Romawi.
Asas kebebasan badan yudikatif juga dikenal di Indonesia. Hal itu terdapat
dalam penjelasan pasal 24 dan 25 UUD 45 mengenai kekuasaan kehakiman
yang menyatakan:”kekuasaan kehakiman ialah kekuasaaan yang merdeka,
artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu
harus diadakan jaminan dalm undang-undang tentang kedudukan para
hakim”.[7]

1.4. Prinsip Check and Balance


Upaya pengawasan dan keseimbangan antara badan-badan yang
mengatur Trias Politica memiliki prinsip-prinsip dengan berbagai macam
variasi, misalnya:
a. The four branches: legislatif, eksekutif, yudikatif, dan media. Di sini
media di gunakan sebagai bagian kekuatan demokrasi keempat karena media
memiliki kemampuan kontrol, dan memberikan informasi.
b. Di Amerika Serikat, tingkat negara bagian menganut Trias Politica
sedangkat tingkat negara adalah badan yudikatif.
c. Di Korea Selatan, dewan lokal tidak boleh intervensid)
Sementara itu, di Indonesia, Trias Politica tidak di tetapkan secara
keseluruhan. Legislatif di isi dengan DPR, eksekutif di isi dengan jabatan
presiden, dan yudikatif oleh mahkamah konstitusi dan mahkamah agung.

1.5 Contoh Negara yang Menerapkan Check and Balance


Di Amerika Serikat sebagai kiblat konsep checks and balances system,
dalam hal pelaksanaan fungsi kontrol kekuasaan Eksekutif terhadap Legislatif,
Presiden diberi kewenangan untuk memveto rancangan undang- undang yang
telah diterima oleh Congress (semacam MPR), akan tetapi veto tersebut dapat
dibatalkan oleh Congressdengan dukungan 2/3 suara dari House of
Representative (semacam DPR) dan Senate(semacam lembaga utusan
negara bagian).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Trias politika adalah suatu faham kekuasaan yang digulirkan
filsuf, konsep tersebut untuk pertama kali dikemukakan oleh John
Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1684-1755) yang terdiri
dari 3 bagian, yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif.
2. Di era modern ini, dapat terlihat bahwa teori pemisahan
kekuasaan yang diungkapkan oleh Montesquieu lah yang
diterima. Pasalnya, Montesquieu tidak menggunggulkan posisi
satu lembaga. Ketiga lembaga negara yang menjalankan fungsi
yang berbeda, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif bekerja
secara terpisah dan melakukan kontrol satu dan lainnya
dengan check and balance.
3. Lembaga legislatif diharapkan dapat menghasilkan hukum dan
kebijakan yang sesuai dengan rakyat. Lembaga legislatif dengan
klaim wakil rakyat akan mengkoreksi kebijakan pemerintah.
Lembaga eksekutif akan memperhatikan rakyat sepenuhnya,
karena jika tidak, rakyat tidak akan memilih mereka.lembaga
yudikatif pun diharapkan mandiri dan independen untuk
mengadili pelanggaran hukum yang terjadi.
4. Tetapi dalam penerapannya di Indonesia tidak berjalan seuai
dengan yang diharapkan, karena system KKN yang mendarah
daging di Indonesia sehingga diharuskannya menambah
lembaga untuk mengontrol keadaan tersebut.

B. Saran
Pembagian kekuasaan merupakan hal yang bermanfaat bagi
jalannya pemerintahan yang lebih efektif dan lebih adil. Walaupun
pemisahan kekuasaan secara absolut sulit untuk dijalankan, pemerintah
harus tetap bekerja keras untuk menjalankan pemisahan kekuasaan
yang ada. Indonesia harus menjalankan pemerintahan yang bersih. Hal
itu merupakan upaya pemerintah dalam menjamin tegaknya hak rakyat
dalam sebuah negara. Untuk mengawasi ketiga lembaga yang
berfungsi secara terpisah tersebut, maka pemerintahan harus giat
melaksanakan check and balances sehingga fungsi dan tujuan utama
dari negara untuk memakmurkan rakyatnya dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedia Bebas Wikipedia
(https://id.wikipedia.org/wiki/Montesquieu, diakses pada 12 Oktober 2019
pukul 19.01 )
Trias Politica
(http://euforia-arisam.blogspot.com/2010/08/trias-politica.html?m=1, diakses
pada 12 Oktober 2019 pukul 16.01 )
Miriam Budiardjo,Dasar-Dasar Ilmu Politik,(Jakarta:PT Gramedia Pustaka
Utama,2008), (hlm.295-297, hlm.303, hlm.315)
Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan 1,(Jakarta:Anugrah Pres,
2007), hlm.113
Suhelmi, Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta : Gramedia, hlm.302