Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Orde secara harfiyah dapat diartikan zaman, atau masa. Secara kontekstual,
Orde lama biasanya diartikan sebagai zaman pemerintahan presiden Soekarno, yang
berlangsung sejak tahun 1945 hingga 1965. Setelah Indonesia merdeka,
penyelenggaraan pendidikan khususnya pendidikan agama mendapat perhatian serius
dari pemerintah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Usaha untuk itu dimulai
dengan memberikan bantuan terhadap lembaga tersebut sebagaimana yang dianjurkan
oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) pada tanggal 27 Desember
1945. Orde baru secara harfiyah adalah masa yang baru yang menggantikan masa
kekuasaan orde lama. Pada masa ini pemerintah dipimpin oleh Soeharto. Namun
secara politis orde baru diartikan suatu masa untuk mengembangkan negara Republik
Indonesia ke dalam sebuah tatanan yang sesuai dengan haluan negara sebagaimana
yang terdalam dalam Undang-Undang Dasar 1945, serta falsafah negara pancasila
secara murni dan konsekuenta falsafah negara pancasila secara murni dan konsekuen.
Pendidikan semakin mengalami perkembangan dari orde lama menuju orde baru
dengan memberikan kebijakan-kebijakan agar pendidikan di Indonesia semakin
berkembang baik dalam kualitas maupun kuantitas nya.

Dalam ketetapan MPRS nomor XXVII/MPRS/1966 bab II pasal 3 ,


dicantumkan bahwa tujuan pendidikan nasional Indonesia dimaksudkan untuk
membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang
dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945. Pendidikan berperan penting dalam
kehidupan manusia. Pendidikan mengajarkan pelatihan keterampilan, moral, dan
budaya. Penguasaan pengetahuan dan teknologi akan semakin membantu dalam
mengembangkan pendidikan, namun harus tetap diimbangi dengan menanamkan
nilai-nilai dasar moral, budaya dan kemanusiaan pada setiap individu, agar setiap
individu memiliki kualitas yang baik dan menjadi manusia ideal dalam menjalankan
kehidupan.

B. Rumusan Masalah

1
1. Bagaimana pendidikan pada masa orde lama?
2. Bagaimana pendidikan pendidikan pada masa orde baru?
C. Tujuan
1. Mengetahui pendidikan pada masa orde lama
2. Mengetahui pendidikan pada masa orde baru

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Masa Orde Lama (1959-1966)

Kondisi pendidikan di zaman Orde Lama, difokuskan antara tahun 1950-1966.


Sesudah Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, terbentuklah Republik Indonesia

2
Serikat. Di dalam RIS diatur mengenai pendidikan dan pengajaran. Di dalam UUD
RIS juga diatur mengenai pendidikan. 1

Kebijakan pendidikan nasional di era ini dimulai dari pasal 30 UUDS 1950 RI,
antara lain:

1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.

2. Memilih pengajaran yang akan diikuti, adalah bebas.

3. Mengajar adalah bebas, dengan tidak mengurangi pengawasan penguasa yang


dilakukan terhadap itu menurut peraturan undang-undang.

Menurut kupasan Prof. Dr. Supomo, ayat (1) pasal ini berasal dari rumusan
Pasal 31 ayat (1) UUD 45.Ayat (2) sama dengan bunyi Pasal 29 (2) dari konstitusi
RIS. Ayat (3) dari pasal ini rumusanya sama dengan Pasal 29 ayat (12) Konstitusi
RIS. 2

Salah satu hal yang menentukan Orde Lama berkaitan dengan kebijakan-
kebijakan pendidikanya adalah terciptanya atau terwujudnya Undang-Undang No. 4
tahun 1950 Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk
Seluruh Indonesia.

Pada bab II pasal 3 disana dijelaskan mengenai tujuan pendidikan dan


pengajaran nasional,"Tujuan Pendidikan dan pengajaran adalah membentuk manusia
susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang
kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air."

Kemudian, mengenai dasar pendidikan dan pengajaran nasional, dijelaskan


pada bab III pasal 4,"Pendidikan dan Pengajaraan berdasar atas asas-asas yang
bermaktub dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, dan
atas Kebudayaan Kebangsaan Indonesia."

Sementara, bahasa pengantar yang dipakai dalam proses belajar mengajar


adalah bahasa Indonesia. Ini diatur pada bab IV pasal 5, yaitu:

1
Muhammad Rifa’i, Sejarah Pendidikan Nasional Dari Masa Klasik Hingga Modern, Jogjakarta, 2011, hlm.
159.
2

3
1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah bahasa pengantar di
sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

2. Di Taman Kanak-Kanak dan tiga kelas yang terendah di sekolah rendah,


bahasa daerah boleh dipergunakan sebagai bahasa pengantar.

Lalu, berkaitan dengan jenis dan jenjang pendidikan dan pengajaran nasional,
diatur pada bab V pasal 6, yaitu sebagai berikut:

1. Menurut jenisnya, pendidikan dan pengajaranya dibagi atas:

a. Pendidikan dan pengajaran taman kanak-kanak.

b. Pendidikan dan pengajaran rendah.

c. Pendidikan dan pengajaran menengah.

d. Pendidikan dan pengajaran tinggi.

2. Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk


mereka yang memburuhkan.

Sementara itu, mengenai persoalan dana pendidikan diatur pada bab XIV, yaitu:

 Sekolah-sekolah rendah dan sekolah-sekolah luar biasa tidak


memunggut uang sekolah maupun uang alat-alat pelajaran(pasal 22).

 Di semua sekolah negeri, kecuali sekolah rendah dan sekolah luar


biasa, murid-murid membayar uang sekolah yang ditetapkan menurut
kemampuan orang tuanya (pasal 23).

 Untuk pendidikan pada beberapa sekolah menengah dan sekolah


kepandaian (keahlian), murid-murid membyar sejumlah uang
pengganti pemakaian alat-alat pengajaran.

 Murid-murid yang ternyata pandai, tetapi tidak mampu membayar uang


sekolah dan alat-alat pelajaraan, dapat dibebaskan dari pembayaraan
biaya itu. Aturan tentang pembebasan ini ditetapkan oleh Mentri
Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.3

3
Ibid, hlm 162

4
UU tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Peraturan
Pemerintah No. 65 tahun 1951 yang menyatakan bahwa provinsi mempunyai
wewenang dan menyelenggarakan sekolah dasar. Agar lebih banyak memberi
kesempatan belajar kepada masyarakat, pemerintah daerah memberikan subsidi
kepada sekolah dasar swasta, menyelenggarakan kursus-kursus untuk kemajuan
pengetahuan umum masyarakat, menyelengarakaan perputakaan rakyat, dan
mendirikan lembaga pendidikan guru sementara yang disebut Kursus Pengajar
Pengantar Kepada Kewajiban Belajar (KPKPKB). Di sini kita melihat bagaimana
pendidikan nasional yang digarap pemerintah mencoba memberdayakan potensi
daerah demi kesuksesan dan kelancaran program pendidikan itu sendiri.

Tujuan dan usaha pendidikan nasional pemerintahaan Orde Lama pada


awalnya adalah untuk menghilangkan buta huruf.untuk mencapai tujuan tersebut dia
dakan wajib belajar 6 tahun, pendidikan umum setingkat sekolah dasar, pendidikan
dasar digratiskan, pemberian beasiswa bagi yang cerdas tapi tak mampu secara
ekonomidan memberikan subsidi kepada organisasi swasta yang menyelenggarakan
pendidikan tersebut,kemudian menugaskan kementrian pendidikan untuk
mengadakan supervisi, bimbingan profesional, penentuan kurikulum, dan buku teks,
mengadakan supervisi terhadap sekolah-sekolah asing, dan mengatur hari libur.

Untuk melaksanakan peraturan ini, departemen pendidikan mendirikan kantor


daerah. Kantor daerah terebut ialah suatu badan daerah dengan seorang kepala.
Keanggotaanya tergantung kepala luas daerah, jumlah sekolah, dan kondisi
komunikasi,

Perkembangan politik saat itu yang memengaruhi jalanya kebijakan


pendidikan nasional adalah sejak 1959, Indonesia berada dibawah gelora
Manipol(Manifestasi Politik) –USDEK (UUD 1945, Sosialisme Indonesia,
Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia). Manipol-Usdek
telah menjadi "dewa" dalam kehidupan politik Indonesia dan menjadi "dewa" dalam
bidang kehidupan lainya, termasuk bidang pendidikan.

Istilah "sosialis" menjadi salah satu identitas pendidikan pada masa Orde
Lama. Melalui istilah tersebut, kita bisa melihat bagaimana pertarungan politik dan
ideologis saat itu dalam pemerintahan dan hal tersebut menjadikan pendidikan
nasional sangat dipengaruhi oleh warna pertarungan plitik dan ideologis pada saat itu,

5
yaitu antara kubu kiri-sosialis-komunis, Soekarno sebagai kepala negara dan
pemerintah, kekuatan militer, serta kekeuatan partai Islam, seperti NU-Masyumi. Kita
harus mengakui pendidikan saat ini, terutama 1960 menjadi keruh oleh nuansa politik
saat itu. Dan kebijakan pendidikan saat itu terkenal dengan sebutan Sapta Usaha Tama
dan Pancaha wardhana tentang dalam Intruksi menteri PP dan K Nomor 1 tahun 1959.

Usaha Sapta Tama berisi:

1. Penertiban aparatur dan usaha-usaha Kementrian PP dan K.

2. Menggiatkan kesenian dan olahraga.

3. Mengharapkan "usaha halaman".

4. Mengharuskan penabungan.

5. Mewajibkan usaha-usaha koperasi.

6. Mengadakan "kelas masyarakat".

7. Membentuk "regu kerja" di SLA dan universitas.

Kita simpulkan dari pendidikan di zaman Orde Lama dengan kepala


pemerintahanya Presiden Soekarno, yaitu:

1. Pendidikan pada masa Orde Lama ini dipengaruhi oleh kondisi politik saat
itu. Ketika itu, Indonesia setelah lepas dari penjajahan dan setelah berhasil
mempertahankan kemerdekaan dari ancama penjajahan kembali belanda
dengan perjanjian KMB, bangsa kita tengah belajar membangun sebuah
bangsa, belajar berdemokrasi. Maka, sebagaimana anak kecil yang sedang
belajar naik sepeda terjadi euforia. Kesalahan, dan itu terbukti bagaimana
tidak stabilnya pemerintahan saat dengan sistem palementernya, dengan
banyaknya partai yang kisruh sampai Presiden Soekarno menerbitkan
Dekrit Presiden 1959 untuk membubarkan parlemen dan kembali ke UUD
45 sebagai ganti UUDS 50 untuk menstabilkan londidi politik nasionalsaat
itu.

2. Berkaitan dengan institusionalnya. Perlembagaanya adalah pembaruan


pengantian kementrianya yang mengurusi pendidikan, yang dulunya

6
Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Dan institusi
mengalami banyak perombakan ini jelas menunjukan bagaimana situasi
politik pendidikan saat itu kurang stabil dan itu berakibat pada
implementasinya yang kurang efektif.4

B. Pendidikan Masa Orde Baru (1966- 1998)

Pendidikan sangat penting bagi manusia karena tidak hanya memberi pengetahuan,
namun juga mengajarkan sopan santun dalam tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan mengajarkan manusia agar menjadi individu dewasa yang mandiri, inovatif, dan
mampu merencanakan masa depan dengan cara mengambil keputusan yang baik dan tepat
dalam hidup.

Pada masa Orde Baru kepala pemerintahannya Soeharto. Pada masa ini rezim bisa
bertahan lebih lama dan stabil dibandingkan rezim orde lama dan rezim-rezim masa
reformasi saat ini. Bagaimana pengaruh rezim ini terhadap kemajuan pendidikan nasional,
pencapaian maupun prestasinya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Meskipun tetap juga
diberikan sebuah penilaian mengenai kebijakan-kebijakan pendidikan nasional pada
zamannya.

Permasalahan yang dihadapi pemerintah Orde Baru dalam bidang pendidikan


diantaranya adalah masalah pemerataan, peningkatan kualitas, efektifitas dan efensiensi, dan
relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Keempat permasalahan ini ditangani
dan diselesaikan dengan berbagai upaya yang dikenal dengan kebijakan pendidikan.

Kebijakan pendidikan tersebut adalah pertama, melanjutkan program pemberantasan


buta huruf, pada tahun 1972 dikembangkan lebih lanjut dengan memberikan keterampilan
tertentu; kedua, melaksanakan pendidikan masyarakat agar memiliki kemampuan mental,
spiritual, serta keterampilan; ketiga, mengenalkan pendidikan luar sekolah yang berorientasi
kepada hal-hal penting yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya
sebagai kebutuhan praktis; keempat, mengenalkan kegiatan inovasi pendidikan, misalnya
KKN, dibukanya sekolah dan universitas terbuka, wajib belajar; dan sebagainya; kelima,
pembinaan generasi muda melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah, Organisasi Mahasiswa

4
Ibid, hlm 190

7
Kampus, KOMITE Nasional Pemuda Indonesia, atau organisasi kepemudaan lainnya;
keenam, dilaksanaknnya program orang tua asuh mulai tahun 1984.5

Ketetapan MPRS nomor XXVII/MPRS/1966 bab II pasal 3, menyebutkan bahwa


tujuan pendidikan nasional Indonesia bertujuan untuk membentuk manusia Pancasila sejati
berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam pembukaan UUD1945. Manusia pancasila
yang sejati disini adalah manusia yang memiliki kualitas pendidikan, moral, dan keterampilan
yang baik sebagai warga Negara Indonesia. 6

Pada tahun 1971 presentase kemampuan penggunaan bahasa Indonesia baru mencapai
40,8%. Tahun 1980 mengalami kenaikan mencapai 61,4% dan pada tahun 1990 mencapai
80% bagi orang Indonesia yang berusia lebih dari 5 tahun. Hal ini menunjukan bahwa
manfaat pendidikan di Indonesia semakin mengalami kemajuan dalam perkembangan bahasa
Indonesia yang tidak hanya dilihat dari tingkat perkembangan melek huruf di Indonesia.
Peningkatan ini berpengaruh pada penggunaan bahasa Indonesia dalam surat kabar dan
majalah. Dan mungkin akan berpengaruh besar dalam televisi dan radio. Dengan ini maka
bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana penting untuk meningkatkan identitas nasional
diseluruh wilayah nusantara.7

Kemudian, kita akan bergerak menuju pendidikaan tahun 1990, yaitu Pelita V dn VI
sampai Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 20 Mei 1998, sebagai tanda peralihan
antara era Orde Baru menuju era Reformasi. Kita dapat memulainya dengan melihat pidato
pertanggungjawaban presiden pada 1 maret 1993 tentang pendidikan, generasi muda,
kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadaap Tuhan Yang Maha Esa, “Repelita V
ditentukan bahwa pembangunan pendidikan nasional akan dilaksanakan secara lebih terpadu
dan serasi sesuai dengan tuntutan pembangunan yang memerlukan berbagai jenis
keterampilan dan keahlian. Sehubungan dengan itu, berbagai jenis pendidikan kejuruan dan
keahlian termasuk politeknik terus diperluas dan ditingkatkan mutunya. Dalam hal itu
keterpaduan antara dunia pendidikan dan dunia usaha semakin diupayakan.

Maka dari itu, dalam Repelita V tersebut, prioritas pembangunan pendidikan


ditekankan pada pendidikan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan. Menekankan

5
As’ad Muzammil, Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan dari Orde Lama Sampai Orde Baru,
Jurnal Pendidikan, Vol. 2, No. 2, Desember 2016, hlm 194.
6
Ibid, hlm 193
7
Ibid, hlm 236

8
pentingnya perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan menengah dalam rangka
persiapan perluasan wajib belajar untuk jenjang pendidikan menengah tingkat pertama.
Karena pada jenjang itu merupakan usia yang tepat dalam pengenalan dunia luar kepada
anak, agar anak tidak salah langkah dalam pergaulan. Sehingga pada jenjang pendidikan
menengah pertama di tekankan sebagai program wajib belajar dan diupayakan agar setiap
anak berkesempatan untuk mengikuti kegiatan belajar pada jenjang ini.

Agar pendidikan mampu menghasilkan manusia yang berkualitas dan tetap berpegang
teguh pada kepribadian bangsa, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap diimbangi
dengan nilai-nilai dasar moral, budaya dan kemanusiaan. Apabila penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi tidak diimbangi dengan pendidikan moral maka tidak akan
menghasilkan manusia yang berkualitas, dikarenakan tidak seimbangnya potensi ilmu dan
moral yang dimiliki manusia tersebut. Manusia yang ideal adalah manusia yang berkualitas
yang bias menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap sosial yang baik,
dan budaya yang luhur. Alasannya karena kita tinggal dalam lingkungan yang menjunjung
tinggi sikap moral dan sosial.

Maka dari itu, pendidikan agama, pendidikan pancasila, termasuk pendidikan


Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), Pendidikan Moral Pancasila (PMP),
dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) semakin ditingkatkan di semua jenis dan
jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, baik negeri
maupun swasta. Perguruan swasta sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional terus
didorong untuk berperan sebagai mitra pemerintah dalam pendidikan.

Program-program pembangunan pendidikan dan pengembangan generasi muda


meliputi:8

1. Pembinaan pendidikan dasar,


2. Pembinaan pendidikan menengah tingkat pertama,
3. Pembinaan pendidikan menengah tingkat atas,
4. Pembinaan pendidikan tinggi,
5. Pembinaan tenaga kependidikan,
6. Pembinaan pendidikan masyarakat,
7. Pembinaan generasi muda.

Keseriusan pemerintah berkaitan dengan pendiddikan dasar, dapat kita cermati melalui
Inpres No. 1 tahun 1994 tentang pelaksanaan Wajib Belajar pendidikan Dasar. Intruksi ini

8
Ibid, hlm 237

9
ditujukan kepada Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Menteri Keuangan, yang
isinya antara lain sebagai berikut:

1. Melaksanakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di seluruh


Indonesia sebagai suatu gerakan nasional terhitung mulai tahun pelajaran
1994/1995 dengan menggunakan pedoman pelaksanaan wajib belajar pendidikan
dasar sebagaimana tercantum dalam lampiran instruksi presiden ini, dengan
koordinasi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Maka, perlu adanya reformasi di dalam kehidupan politik. Demikian pula dalam bidang
ekonomi dan hukum, sera sektor-sektor kehidupan lainnya yang keseluruhannya menurut
peningkatan keberdayaan rakyat. Rakyat yang cerdas adalah rakyat yang terbina oleh
pendidikan yang bermutu sehingga dia dapat memilih kehidupan politik sesuai dengan hati
nuraninya. Dia dapat berdiri sendiri di dalam kehidupan ekonomi nasional yang
menguntungkan rakyat kecil, dan pelaksanaan hukum yang berlaku untuk semua orang demi
kebaikan bersama dan bukan untuk segolongan kecil penguasa (Tilaar, 1998:26-28).

Apa yang dapat kita simpulkan dari pendidikan di zaman Orde Baru masa pemerintahan
Soeharto, meenurut penulis ada beberapa hal, yaitu:9

1. Pendidikan di zaman Orde Baru pada permulaannya berusaha membedakan


dirinya dengan pendidikan di Zaman Orde lama, yang terlihat bagaimana
tujuan pendidikannya menghilangkan beberapa kata sosialis, “Manipol
USDEK”, dan menambahkan kata Pancasila dengan sejati. Lebih jauh, Orde
Baru memangkas peranan partai politik dengan menggantinya dan
menonjolkan bidang ekonomi. Hal itu diwujudkan dengan kata
“pembangunan” sebagai mitos dan ideologinya, termasuk ikut memberikan
pengaruh bidang pendidikan, dengan memberikan pembangunan gedung-
gedung, sarana, dan prasarana pendidikan. Pembangunan saat itu
mendapatkan keberuntungan karena harga minyak saat itu tengah naik. Harga
minyak yang tinggi tersebut menjadikan proyek pembangunan pendidikan
dilaksanakan dengan cepat, salah satunya adalah pembangunan SD Inpres.
2. Kemudian, salah satu ciri pendidikan di zaman Orde Baru adalah bagaimana
bentuk dan implementasi atau kebijakan pendidikannya selalu dikaitkan

9
Ibid, hlm 256

10
dengan persoalan pembangunan dan ekonomi. Tidak heran jika jumlah dan
jenis pendidikan kejuruan, keahlian, dan keterampilan ditanamkan atau
dimasukkan dari sejak SD sampai perguruan tinggi. Intinya, lulusan
pendidikan di zaman Orde Baru dituntut untuk bisa kera.
3. Apa yang kemudian menjadi ciri pendidikan nasional pada zaman Orde Baru
adalah bagaimana stabilitas politik memberi pengaruh pada dunia pendidikan.
Hal itu dapat kita lihat dari institusi, lembaga, departemen, dan kementerian
yang mengurusi pendidikan relatif stabil, bahkan bisa dikataka sangat stabil,
yaitu hanya satu nama institusi tersebut, yang menggantikan nama institusi
Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Departemen ini tidak
pernah diganti selama masa pemerintahannya (1966-1998), 32 tahun. Coba
kita bandingkan dengan masa pemerintahan Orde Lama pimpinan Soekarno
(1945-1966), 21 tahun. Pada masa Orde Lama, terjadi perubahan empat kali.
Pertama, Kementerian Pengajaran, kedua Kementerian Pendidikan,
Pengajaran, dan Kebudayaan, ketiga menjadi Departemen Pendidikan,
Pengajaran, dan Kebudayaan, sementara yang keempat bukan saja berganti
namanya, melainkan juga terdapat tiga badan lembaga sendiri yang mengurusi
pendidikan, yaitu Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan,
Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, dan Departemen
Olahraga. Namun, stabilitas tersebut tidak menghasilkan sebuah pendidikan
nasional yang berkemanusiaan karena angka pengangguran, angka putus
sekolah, dan angka buta huruf masih tinggi.

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pada masa Orde Lama, Tujuan dan usaha pendidikan nasional pemerintahaan pada
awalnya adalah untuk menghilangkan buta huruf. Untuk mencapai tujuan tersebut
diadakan wajib belajar 6 tahun, pendidikan umum setingkat sekolah dasar,
pendidikan dasar digratiskan, pemberian beasiswa bagi yang cerdas tapi tak
mampu secara ekonomidan memberikan subsidi kepada organisasi swasta yang
menyelenggarakan pendidikan tersebut, kemudian menugaskan kementrian
pendidikan untuk mengadakan supervisi, bimbingan profesional, penentuan
kurikulum, dan buku teks, mengadakan supervisi terhadap sekolah-sekolah asing,
dan mengatur hari libur.
2. Pada masa pemerintah Orde Baru, Permasalahan yang dihadapi dalam bidang
pendidikan diantaranya adalah masalah pemerataan, peningkatan kualitas,
efektifitas dan efensiensi, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan
nasional. Keempat permasalahan ini ditangani dan diselesaikan dengan berbagai
upaya yang dikenal dengan kebijakan pendidikan. Salah satu ciri pendidikan di
zaman Orde Baru adalah bagaimana bentuk dan implementasi atau kebijakan
pendidikannya selalu dikaitkan dengan persoalan pembangunan dan ekonomi.

12
kemudian menjadi ciri pendidikan nasional pada zaman Orde Baru adalah
bagaimana stabilitas politik memberi pengaruh pada dunia pendidikan.

B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, kami berharap akan menambah wawasan
mengenai pendidikan pasa masa sebelum reformasi (Orde Lama dan Orde Baru).
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih belum sempurna dan untuk
menjadi sempurna kami sangat membutuhkan masukan dari pembaca atau pihak lain
untuk memberikan berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dan kesempurnaan
makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Rifa’i, Muhammad. 2011. Sejarah Pendidikan Nasional dari Masa Klasik Hingga Modern.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
As’ad Muzammil. 2016. Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan dari Orde Lama
Sampai Orde Baru. Jurnal Pendidikan. 2(2).

13